Jam dinding di ruang makan menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh malam.
Rania masih duduk di kursinya sejak satu jam lalu. Lampu gantung berwarna kuning keemasan menerangi meja makan yang dipenuhi lauk kesukaan suaminya—sup iga, sambal bawang, dan ayam goreng yang tadi sore ia masak sendiri.
Semuanya sudah dingin. Sama seperti hatinya.
Suara mobil memasuki halaman rumah membuat tubuh Rania menegang. Ia refleks berdiri, membenarkan cardigan tipis yang membalut tubuhnya. Ada rasa lega yang selalu datang setiap Harsa pulang, meski akhir-akhir ini lelaki itu lebih sering membawa lelah dibanding hangat.
Pintu rumah terbuka.
Harsa masuk dengan langkah berat. Kemejanya masih melekat rapi di tubuh tinggi tegapnya. Wajah tampannya terlihat lelah, tapi tetap dingin seperti biasa.
Rania tersenyum kecil. “Mas akhirnya pulang juga.”
Harsa hanya mengangguk singkat sambil melepas jam tangan. “Belum tidur?”
“Aku nungguin Mas makan.”
Tatapan Harsa beralih sekilas ke meja makan, lalu kembali pada ponselnya yang sejak tadi menyala.
“Wulan tadi demam,” katanya tiba-tiba.
Senyum Rania memudar perlahan.
“Oh.”
“Anaknya juga rewel seharian. Mungkin masih trauma sejak ditinggal ayahnya.”
Rania diam. Lagi-lagi Wulan. Sudah hampir setahun terakhir, nama itu selalu hadir di antara mereka seperti orang ketiga yang tak terlihat.
Wulan, istri mendiang adik Harsa.
Sejak adiknya mengalami kecelekaan tahun lalu, Harsa berubah. Lelaki itu jadi lebih pendiam, lebih emosional, dan terlalu melibatkan diri dalam kehidupan Wulan dan anaknya. Awalnya Rania memahami. Ia ikut berduka. Ia ikut membantu. Tapi lama-lama, perhatian Harsa terasa tidak lagi wajar.
“Mas makan dulu aja,” ucap Rania pelan. “Aku hangatkan lagi makanannya.”
“Nggak usah. Aku udah makan di sana.”
Kalimat itu seperti tamparan kecil yang mendarat tepat di dadanya. Rania menunduk pelan.
“Oh… yaudah.”
Harsa bahkan tidak sadar raut wajah istrinya berubah kecewa. Lelaki itu masih sibuk mengetik sesuatu di ponselnya. Kemungkinan besar membalas pesan Wulan lagi.
Rania menarik napas panjang sebelum akhirnya duduk kembali.
“Aku masak dari tadi sore,” katanya lirih, lebih seperti bicara pada dirinya sendiri.
“Apa?” tanya Harsa singkat.
“Nggak.”
Hening. Rumah besar itu tiba-tiba terasa begitu asing. Dulu, Harsa selalu pulang cepat setiap tanggal ini. Mereka akan makan malam bersama, lalu lelaki itu biasanya memberi hadiah kecil meski hanya bunga atau kue sederhana.
Tapi malam ini, tidak ada ucapan. Tidak ada pelukan. Bahkan Harsa tidak ingat hari ini.
Rania menatap lilin kecil di samping kue yang sudah hampir meleleh seluruhnya. Tiga tahun pernikahan mereka. Dan suaminya lupa.
“Mas sibuk banget akhir-akhir ini,” ucap Rania akhirnya.
Harsa menghela napas pendek. “Aku capek, Rania.”
“Aku cuma ngomong.”
“Nada bicaramu kayak nyalahin aku.”
Rania tersenyum hambar. “Aku salah kalau kangen suami sendiri?”
Harsa meletakkan ponselnya sedikit keras di meja. “Aku lagi bantu keluarga adikku.”
“Aku tahu.”
“Kalau tahu, harusnya kamu ngerti.”
Kalimat itu membuat dada Rania terasa sesak.
Harusnya kamu ngerti. Selalu itu. Selalu Rania yang diminta mengerti. Mengerti kalau suaminya pulang larut. Mengerti kalau perhatian Harsa sekarang terbagi. Mengerti kalau suaminya lebih sering berada di rumah perempuan lain dibanding di rumahnya sendiri.
Padahal Rania juga butuh dimengerti.
“Aku ngerti, Mas,” katanya pelan. “Tapi aku juga istri Mas.”
“Aku nggak pernah ninggalin kewajibanku sebagai suami.”
Rania tertawa kecil. Hambar. “Kewajiban?”
Tatapan Harsa langsung berubah tajam. “Maksud kamu apa bicara begitu?”
Rania menatap lelaki di depannya lama sekali. Ada sesuatu yang berubah dari Harsa sekarang. Sorot matanya tak lagi sehangat dulu.
“Mas sadar nggak sih…” suara Rania mulai bergetar, “akhir-akhir ini semua tentang Wulan.”
Harsa mendecakkan lidah pelan. “Kamu mulai lagi.”
“Aku cuma ngomong kenyataan.”
“Wulan itu istri almarhum adikku!”
“Aku tahu!” Rania meninggikan suara untuk pertama kalinya malam itu. “Tapi Mas terlalu ikut campur!”
Harsa berdiri mendadak. “Aku cuma bantu mereka!”
“Setiap hari?” mata Rania mulai berkaca-kaca. “Setiap saat? Bahkan di hari ulang tahun pernikahan kita pun Mas tetap pilih ada di sana!”
Untuk pertama kalinya sejak pulang, Harsa tampak tersadar.
“Ulang tahun pernikahan?”
Rania tertawa lirih, tapi air matanya jatuh. “Nah, kan? Mas lupa.”
Rahang Harsa mengeras. “Aku lagi banyak pikiran.”
“Dan aku selalu ada di urutan terakhir pikiran Mas.”
“Jangan drama Rania!”
Kalimat itu langsung menghancurkan sesuatu di hati Rania. Drama? Jadi selama ini rasa sakitnya hanya dianggap drama?
“Aku capek, Mas…” bisiknya lirih.
Harsa mengusap wajah kasar. “Aku nggak mau ribut malam-malam.”
“Tapi aku mau didengerin!” Suara Rania pecah begitu saja.
“Aku suami kamu!” bentak Harsa tiba-tiba. “Jangan pernah ngomong seolah aku laki-laki nggak bertanggung jawab!”
Rania menatap nanar ke arah suaminya. Lalu untuk pertama kali, kalimat itu keluar begitu saja dari bibirnya.
“Kalau Mas begitu khawatir sama Wulan…” napasnya bergetar, “…kenapa nggak sekalian tinggal sama dia?”
“Apa maksud ucapan kamu?”
“Aku capek terus kalah sama dia!”
Brak!
Harsa memukul meja keras sampai gelas di atasnya bergetar.
“Jaga ucapanmu, Rania!”
Tubuh Rania refleks gemetar. Selama menikah, Harsa memang keras, tapi lelaki itu tidak pernah membentaknya seperti ini.
“Aku nggak pernah mikirin Wulan kayak yang kamu tuduhkan!”
“Tapi Mas lebih perhatian sama dia dibanding aku!”
“Karena dia sendirian!”
“Aku juga sendirian Mas!” pekik Rania tanpa sadar. “Walaupun punya suami!”
Kalimat itu membuat ruangan mendadak sunyi. Dada Harsa naik turun menahan emosi. Sementara Rania mulai merasa kepalanya berdenyut hebat. Pandangan matanya perlahan kabur. Rasa nyeri itu datang lagi. Lebih sakit dari biasanya.
Rania memegang tepi meja pelan. Ada cairan mengalir dari hidungnya, darah.
Panik, Rania cepat membalikkan badan sebelum Harsa melihat. Ia mengusap darah itu dengan tangan gemetar.
“Rania?”
“Aku capek,” katanya buru-buru sambil membuang tisu penuh darah ke saku cardigan. “Aku mau tidur.”
Tanpa menunggu jawaban, Rania berjalan cepat menuju kamar. Harsa hanya berdiri diam di ruang makan dengan rahang masih mengeras. Lelaki itu tidak tahu, bahwa tubuh istrinya perlahan sedang hancur. Dan waktu yang mereka miliki mungkin tidak sebanyak yang ia kira.
“Kamu mulai membangkang Rania. Aku nggak suka itu,” gumam Harsa.
Rania terbangun saat jam digital di samping tempat tidur menunjukkan pukul 03.07 dini hari. Ruangan kamar masih gelap, hanya diterangi cahaya redup dari lampu tidur di sudut ruangan. Hujan turun pelan di luar sana, meninggalkan suara rintik yang samar di balik jendela kaca.
Rania mengerjap pelan. Dadanya terasa sesak lagi malam ini. Tangannya refleks meraba sisi tempat tidur di sebelahnya.
Kosong.
Rania langsung membuka mata lebih lebar.
“Mas Harsa?” panggilnya lirih.
Tidak ada jawaban. Namun beberapa detik kemudian, terdengar suara gemercik air dari kamar mandi. Rania mengembuskan napas pelan. Mungkin suaminya sedang mandi.
Ia kembali merebahkan tubuhnya, berusaha memejamkan mata lagi. Tapi entah kenapa, perasaannya tidak tenang.
Sudah beberapa minggu terakhir Harsa sering terbangun tengah malam. Kadang keluar kamar diam-diam, kadang duduk sendirian di ruang kerja sampai pagi. Dan setiap kali Rania bertanya, lelaki itu selalu menjawab singkat.
Banyak pikiran.
Rania memiringkan tubuhnya pelan. Saat itulah matanya menangkap cahaya kecil dari ponsel Harsa yang tergeletak di nakas. Layar ponsel itu menyala.
Ada pesan masuk.
Awalnya Rania tidak berniat melihat. Ia bukan tipe istri yang suka memeriksa ponsel suami. Selama tiga tahun menikah, ia selalu percaya pada Harsa.
Namun malam ini, entah kenapa hatinya terasa tidak nyaman. Tangannya bergerak pelan mengambil ponsel itu.
Notifikasi pesan masih terbuka di layar. Nama pengirimnya membuat napas Rania tercekat.
Wulan.
Jantungnya langsung berdegup lebih cepat. Dan isi pesannya…
[Terima kasih sudah datang malam-malam. Aku benar-benar nggak tahu harus minta tolong ke siapa selain kamu, Mas]
Tubuh Rania membeku. Mas Harsa datang malam-malam?
Matanya bergerak turun membaca pesan sebelumnya.
[Mas, maaf ganggu jam segini. Anakku tiba-tiba demam tinggi dan terus nangis nyari ayahnya. Bisakah kamu datang?]
Pesan itu dikirim pukul 01.12 dini hari. Rania menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Jadi, saat dirinya tertidur lelap di kamar ini, Harsa diam-diam pergi menemui Wulan tengah malam. Demi perempuan itu.
Rania menunduk pelan. Tenggorokannya terasa sakit tiba-tiba.
Lucu ya…
Suaminya sendiri bahkan jarang memeluknya akhir-akhir ini, tapi masih selalu datang kapan pun perempuan lain membutuhkan. Meski perempuan itu adalah istri mendiang adiknya sendiri.
Rania memejamkan mata kuat-kuat. Ia tahu dirinya seharusnya mengerti.
Wulan memang sendiri sekarang. Wulan kehilangan suami. Dan Wulan punya anak kecil yang masih butuh figur ayah.
Semua orang selalu bilang begitu. Termasuk Harsa.
Tapi bagaimana dengan dirinya Siapa yang peduli kalau Rania juga kehilangan suaminya perlahan?
Air mata mulai memenuhi pelupuk matanya. Cepat-cepat ia menghapusnya sebelum jatuh.
Klek!
Pintu kamar mandi terbuka. Rania buru-buru meletakkan ponsel itu kembali tepat sebelum Harsa keluar.
Lelaki itu tampak segar setelah mandi. Kaos hitam tipis melekat di tubuh tegapnya, sementara rambut basahnya diusap kasar memakai handuk.
Harsa terlihat terkejut melihat Rania sudah bangun. “Kok belum tidur?”
Rania menatapnya beberapa detik. Tatapan yang membuat Harsa sedikit mengernyit.
“Mas dari mana?”
Harsa diam sepersekian detik terlalu lama. Lalu menjawab santai, “Olahraga.”
Rania hampir tertawa mendengarnya. Olahraga? Jam tiga pagi?
“Olahraga?” ulangnya pelan.
“Iya.”
“Malam-malam begini?”
Harsa melempar handuk ke sofa kecil dekat jendela. “Aku nggak bisa tidur.”
Jawabannya terdengar biasa. Terlalu biasa. Seolah pergi diam-diam tengah malam demi perempuan lain adalah hal normal.
Rania menatap wajah suaminya lama sekali. Mencari rasa bersalah di sana. Tapi tidak ada.
Harsa malah terlihat kesal karena ditanyai.
“Kenapa lihat aku kayak gitu?”
Rania tersenyum kecil. Senyum yang lebih mirip menahan hancur.
“Nggak apa-apa.”
“Kalau ada yang mau ngomong, ngomong aja.” Nada bicara Harsa mulai dingin.
Selalu begitu.
Belakangan ini, sedikit saja Rania bertanya, lelaki itu langsung emosi.
“Aku cuma heran aja,” kata Rania pelan. “Mas rajin banget olahraga sekarang.”
Harsa menghela napas kasar.
“Kamu mau nuduh apa?”
Rania tercekat. Padahal ia bahkan belum mengatakan apa-apa. Tapi Harsa sudah langsung marah. Hatinya terasa makin sakit.
“Aku nggak nuduh.”
“Rania, aku capek.” Harsa mulai meninggikan suara. “Jangan bikin masalah jam segini.”
Kalimat itu membuat dada Rania seperti diremas. Lagi-lagi dirinya yang dianggap sumber masalah.
Padahal yang ia inginkan cuma sedikit perhatian.
“Aku cuma tanya, Mas.”
“Dan nada kamu nyebelin.”
Air mata Rania hampir jatuh lagi. Ia menunduk cepat sebelum Harsa melihat. Dulu lelaki itu tidak seperti ini. Dulu Harsa akan menariknya ke pelukan kalau ia terlihat sedih. Dulu Harsa selalu mencium keningnya sebelum tidur.
Dulu…
Sebelum Wulan hadir terlalu jauh di kehidupan mereka.
“Mas sering ke sana?” tanya Rania lirih.
Harsa langsung menatap tajam.
“Kemana maksud kamu?”
“Rumah Wulan.”
“Aku cuma bantu mereka.”
“Jam satu malam?”
Hening.
Rahang Harsa mulai mengeras.
“Sudah kubilang, jangan mulai lagi.”
“Aku nggak mulai apa-apa…” suara Rania bergetar. “Aku cuma pengen tahu kenapa akhir-akhir ini Mas selalu ada buat dia, tapi nggak pernah ada buat aku.”
“Karena Wulan butuh bantuan!”
“Aku juga butuh suamiku…” Kalimat itu keluar begitu pelan.
Tapi cukup membuat suasana mendadak sunyi.
Untuk sesaat, Harsa terlihat kehilangan kata-kata. Namun hanya sesaat.
“Jangan egois, Rania.”
Deg.
Hati Rania benar-benar terasa runtuh kali ini.
Egois? Jadi meminta perhatian suami sendiri sekarang dianggap egois?
“Aku egois?” bisiknya lirih.
Harsa mengusap wajah frustrasi.
“Aku udah kehilangan adik aku. Jangan bikin aku harus mikirin hal nggak penting juga. Semua yang aku lakukan demi Gavin!”
Hal nggak penting?
Rania menatap kosong ke arah suaminya. Ternyata, dirinya sudah menjadi hal tidak penting dalam hidup Harsa.
Air mata akhirnya jatuh juga. Namun Harsa bahkan tidak mendekat. Tidak memeluk, tidak meminta maaf.
Lelaki itu hanya menghela napas panjang seolah lelah menghadapi dirinya. Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Rania sadar. Suaminya mungkin masih tinggal satu rumah dengannya. Tapi hati Harsa sudah lama pergi entah ke mana.
“Aku mau tidur!” Harsa berbaring membelakangi Rania.
Sementara Rania, hanya menahan isak tangis sebelum turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.
Keesokan paginya, rumah itu kembali terlihat normal. Seolah tidak pernah ada pertengkaran. Seolah semalam Rania tidak menangis diam-diam sampai tertidur dengan dada sesak.
Dan seolah Harsa tidak pulang tengah malam dari rumah perempuan lain.
Pagi itu, Rania berdiri di dapur sejak pukul lima. Rambut panjangnya diikat asal, sementara tangannya sibuk menyiapkan sarapan.
Ia membuat nasi goreng seafood kesukaan Harsa. Telur setengah matang dan kopi hitam tanpa gula. Semua yang dihafalnya di luar kepala selama tiga tahun menjadi istri lelaki itu.
Meski hatinya sakit, tubuhnya tetap otomatis memperlakukan Harsa seperti pusat dunianya.
Ironis. Kadang cinta memang sebodoh itu.
Suara langkah kaki turun dari lantai atas membuat Rania buru-buru mematikan kompor. Ia langsung tersenyum kecil saat melihat Harsa muncul dengan seragam dinas yang belum sepenuhnya rapi.
Pagi ini lelaki itu kembali tampak dingin dan berwibawa. Sulit dipercaya kalau pria yang terlihat sempurna itu mampu membuat hati istrinya remuk perlahan.
“Pagi, Mas,” sapa Rania lembut.
Harsa mengangguk singkat. “Pagi.”
Tidak ada ciuman kening. Tidak ada pelukan pagi seperti dulu. Harsa bahkan langsung duduk sambil membuka ponselnya.
Rania pura-pura tidak kecewa. Ia menuangkan kopi ke cangkir favorit suaminya lalu membawanya ke meja makan.
“Aku bikinin sarapan favorit Mas.”
“Ya.” Jawaban singkat itu kembali menusuk hati Rania, tapi ia tetap tersenyum.
“Makan dulu ya. Nanti masuk angin kalau berangkat kerja belum makan.”
Harsa akhirnya menoleh sebentar. “Aku nggak sarapan di rumah.”
Gerakan tangan Rania langsung berhenti. “Kenapa?”
“Aku mau antar Gavin ke sekolah.”
Deg!
Nama itu lagi. Gavin. Anak Wulan. Keponakan yang sekarang lebih sering bersama Harsa dibanding dirinya sendiri.
“Sekalian sarapan di sana,” lanjut Harsa santai sambil membalas pesan di ponselnya. “Kalau makan di sini nanti telat.”
Rania terdiam. Matanya perlahan beralih ke meja makan yang sudah ia siapkan sejak tadi subuh.
Masih hangat. Masih utuh. Dan lagi-lagi tidak akan disentuh.
“Cuma sebentar kok, Mas,” katanya pelan, nyaris memohon tanpa sadar. “Lima menit aja.”
“Aku buru-buru.”
“Mas belum makan dari tadi malam…”
“Aku bilang aku nggak sempat, Rania.” Nada suara Harsa mulai berubah.
Rania langsung diam. Ia tahu. Kalau Harsa sudah bicara seperti itu, artinya lelaki itu mulai kesal. Dan Rania sudah terlalu lelah untuk bertengkar pagi-pagi.
“Oh… iya.” Ia tersenyum kecil. Senyum yang dipaksakan.
Harsa berdiri sambil merapikan jam tangannya. Rania buru-buru mendekat.
“Dasi Mas miring.” tangannya terangkat pelan membenarkan dasi suaminya. Jemarinya sedikit gemetar saat menyentuh kerah seragam Harsa.
Dulu momen kecil seperti ini selalu membuat Harsa memeluk pinggangnya. Kadang lelaki itu sengaja mengacak dasinya hanya supaya Rania mendekat.
Tapi sekarang, Harsa hanya diam sambil sibuk membaca pesan di ponselnya. Rania tahu siapa pengirimnya bahkan tanpa perlu melihat.
“Mas hati-hati di jalan ya,” katanya lirih.
“Hmm.” Harsa mengambil kunci mobil. Lalu pergi begitu saja.
Pintu rumah tertutup pelan, dan bersamaan dengan itu, sesuatu di dalam dada Rania terasa ikut runtuh.
Rumah besar itu kembali sunyi. Sangat sunyi.
Rania berdiri mematung beberapa detik di depan meja makan sebelum akhirnya perlahan duduk di kursi. Tatapannya jatuh pada dua piring sarapan yang masih mengepulkan sedikit uap. Air matanya langsung menggenang.
Lagi. Selalu begini. Ia memasak dengan penuh hati. Menunggu dengan penuh harap. Dan berakhir makan sendirian.
Rania tertawa kecil. Tawanya terdengar menyedihkan.
“Sebegitu nggak pentingnya aku sekarang buat kamu, ya, Mas…?” bisiknya lirih.
Air mata akhirnya jatuh satu per satu. Ia cepat mengusapnya, tapi semakin dihapus justru semakin banyak yang keluar.
Dadanya sakit sekali. Bukan karena marah. Tapi karena sadar… Harsa benar-benar berubah. Dan yang paling menyakitkan, perubahan itu terjadi perlahan sampai Rania bahkan tidak sadar kapan tepatnya ia mulai kehilangan suaminya.
Tangannya bergerak pelan mengambil piring di depan Harsa. Nasi goreng itu masih utuh. Belum disentuh sama sekali. Padahal tadi pagi ia memasaknya sambil tersenyum, berharap mereka bisa sarapan bersama seperti dulu.
Rania menunduk. Setetes air mata jatuh tepat di atas nasi goreng itu. Hingga akhirnya ia menangis tanpa suara di meja makan.
Bahu kecilnya bergetar pelan. Sunyi rumah itu terasa semakin menyesakkan. Tak ada yang melihat bagaimana seorang perempuan perlahan hancur karena merasa tidak lagi dicintai suaminya sendiri.
Drrt! Drrt!
Ponsel Rania bergetar di atas meja. Dengan mata masih basah, ia mengambil benda itu pelan.
Nama Jonathan muncul di layar.
Jemari Rania langsung menegang. Jonathan adalah dokter sekaligus sahabat lama yang selama ini menangani penyakitnya.
Dengan napas berat, Rania membuka pesan itu.
[Rania, jangan lupa hari ini jadwal kontrol kamu. Aku harap kamu datang. Kondisimu kemarin nggak bagus]
Rania menatap pesan itu lama sekali. Dadanya kembali terasa sesak. Ia hampir lupa. Hari ini jadwal pemeriksaannya.
Pelan-pelan tangannya menyentuh hidungnya sendiri. Semalam darah itu keluar lagi. Dan akhir-akhir ini kepalanya semakin sering sakit. Tubuhnya juga mulai mudah lelah.
Rania memejamkan mata. Air matanya jatuh. Lucunya, di saat dirinya sedang berjuang mempertahankan hidup, suaminya bahkan terlalu sibuk memperhatikan perempuan lain sampai tidak sadar istrinya perlahan sekarat.
Ponselnya kembali bergetar. Pesan kedua dari Jonathan masuk.
[Apa kamu pergi sendiri lagi? Harsa masih belum tahu soal penyakitmu? Mau sampai kapan kamu menyembunyikan semua ini darinya?]
Rania menggigit bibir kuat-kuat.
Lalu dengan tangan gemetar, ia mengetik balasan singkat.
[Jangan bilang siapa-siapa, Jo. Aku belum siap]
Setelah membalas pesan Jonathan, Rania mematikan layar ponselnya. Ia menatap meja makan beberapa saat lagi sebelum akhirnya berdiri perlahan.
Kakinya terasa lemas. Entah karena semalaman menangis… atau karena tubuhnya memang semakin memburuk.
Begitu masuk kamar, Rania menutup pintu lalu bersandar beberapa detik di sana. Matanya memandang ranjang yang tadi malam terasa begitu dingin.
Biasanya, perempuan lain mungkin akan marah besar jika suaminya diam-diam pergi menemui wanita lain tengah malam.
Tapi Rania justru terlalu lelah untuk marah. Yang ia rasakan sekarang hanya sedih. Sedih karena cintanya perlahan tidak lagi dianggap penting.
Rania membuka lemari lalu mengambil cardigan krem panjang untuk menutupi tubuhnya yang makin kurus. Wajahnya juga terlihat pucat pagi ini, bahkan concealer tipis pun tak mampu menyamarkan lingkar gelap di bawah matanya.
Ia berdiri di depan cermin beberapa saat. Tatapannya kosong.
“Jelek banget…” bisiknya lirih sambil tersenyum kecil.
Pantas saja Harsa mulai bosan.
Pikiran itu langsung membuat matanya panas lagi.
Tok! Tok!
“Non Rania?” suara Pak Darto terdengar dari luar kamar. “Ini hari kamis, biasanya pergi jalan-jalan kan? Mau sekalian diantar?”
Rania cepat mengusap sudut matanya sebelum membuka pintu sedikit.
Supir keluarga itu menatapnya khawatir.
“Nggak usah, Pak,” jawab Rania lembut. “Saya naik taksi aja.”
“Kenapa nggak dianter? Bapak juga kosong hari ini.”
Rania tersenyum kecil. Karena ia tidak mau ada yang tahu dirinya pergi kontrol lagi. Karena bahkan suaminya sendiri pun tidak tahu ia sedang sakit.
“Gapapa, Pak. Saya cuma mau cari angin sebentar,” bohong Rania, lagi dan lagi.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!