Indonesia
NovelToon NovelToon

Dibuang Saat Hamil

Harga kehormatan

“Samuel.”

Diana menyambut kekasihnya dengan penuh antusias. Sudah beberapa hari mereka tidak bertemu, dan pagi ini Samuel tiba-tiba menghubunginya.

Samuel hanya tersenyum tipis sebelum menghampiri Diana.

“Akhirnya kamu datang juga,” ujar Diana penuh semangat. Ia menggandeng tangan kekasihnya dan membawanya masuk ke dalam kontrakannya. “Hari ini aku masak makanan kesukaan kamu.”

Samuel hanya mengangguk pelan.

Diana menuntunnya ke meja makan kecil yang sudah dipenuhi aneka hidangan.

“Kamu masak sebanyak ini?” tanya Samuel dengan nada tak percaya.

Diana mengangguk bangga. “Tentu, siapa lagi kalau bukan aku?”

Samuel terdiam sesaat, seolah memikirkan sesuatu. Tatapannya tertuju pada Diana dengan sorot mata yang sulit diartikan, hingga akhirnya ia mengembuskan napas berat.

“Sayang, ini. Aku yakin kamu pasti suka.”

Diana menyodorkan sepiring makanan berisi berbagai lauk kepada Samuel.

Samuel menerimanya. “Makasih.”

Diana mengangguk sambil tersenyum.

Mereka menikmati makan bersama. Diana terus bercerita dengan penuh semangat, sementara Samuel hanya menyimak dan sesekali menanggapi celotehan Diana.

Setelah makan selesai, Diana langsung membereskan bekas makanan mereka.

“Aku saja,” ucap Samuel seraya mulai mengangkat piring-piring kotor.

Diana menggeleng. “Tidak perlu, aku saja. Kamu duduk saja.”

“Kamu saja yang duduk. Kamu pasti capek buat semua ini. Sekarang giliranku,” ujar Samuel dengan nada yang tak ingin dibantah.

Diana tertegun sejenak, lalu akhirnya mengangguk.

Samuel mulai membereskan meja makan.

Diana tersenyum bahagia melihat Samuel yang begitu cekatan dan penuh perhatian.

Beberapa saat kemudian, Samuel menghampiri Diana yang sedang menunggunya di ruang tamu.

“Sudah?” tanya Diana.

Samuel mengangguk lalu duduk di sampingnya.

“Makasih, ya. Harusnya itu tugasku.”

“Tidak apa-apa, kamu sudah kelelahan.”

Diana tersenyum. Ia menatap Samuel dengan intens. Hari ini pria itu terlihat sangat berbeda dari biasanya.

“Sayang…”

Diana memanggil Samuel, tetapi pria itu justru melamun hingga suara Diana meninggi.

“Samuel.”

Samuel tersentak dan menatap Diana.

“Kamu ada masalah kantor sampai kamu melamun?” tanya Diana kembali dengan lembut.

Samuel hanya menatapnya sebelum menggeleng pelan. Ia lalu menyandarkan tubuh di sofa.

Keheningan menyelimuti mereka berdua hingga akhirnya—

“Aku mau ngomong sesuatu,” ucap Samuel dan Diana secara bersamaan.

“Kamu saja yang duluan,” ujar Samuel.

“Enggak, kamu saja.”

“Kamu.”

“Ih, kamu saja.”

Samuel menarik napas panjang lalu mengembuskannya kasar.

“Hubungan kita akhiri sampai di sini. Satu minggu lagi aku akan menikah. Aku tidak bisa melawan orang tuaku, dan aku harus menerima perjodohan ini.”

Plak! Plak!

Diana menampar kedua pipi Samuel secara bergantian.

Samuel tertegun. Ia sama sekali tidak menyangka reaksi Diana akan seperti ini.

Air mata Diana langsung mengalir deras. Dadanya terasa sesak mendengar ucapan Samuel.

“Di mana janji kamu, hah? Di mana janjimu ingin memperjuangkan cinta kita? Cuma segini perjuanganmu untuk meminta restu pada orang tuamu, hah?” suara Diana meninggi. “Setelah kamu mendapatkan semuanya, dengan entengnya kamu ingin mengakhiri hubungan ini. Dasar pengecut!”

“Diana, aku tidak ingin menjadi anak durhaka karena melawan kedua orang tuaku,” ucap Samuel.

“Kenapa baru sekarang, hah? Kenapa tidak dari dulu saat orang tuamu tidak merestui kita?” bentak Diana. “Kenapa baru sekarang setelah semuanya sudah sejauh ini?”

Air matanya terus mengalir deras.

Samuel terdiam. Lidahnya terasa kelu untuk mengucapkan sepatah kata pun.

“Kamu tidak ingin mengecewakan orang tuamu, tapi kamu justru menyakiti aku, brengsek!”

Plak!

Satu tamparan lagi mendarat di pipi Samuel.

Samuel memegang pipinya yang terasa perih. Ia menatap Diana dengan datar.

“Sudahlah. Keputusanku sudah bulat. Aku tidak ingin mempunyai hubungan apa pun lagi denganmu. Anggap saja hubungan ini tidak pernah terjadi,” ucap Samuel dengan enteng, membuat emosi Diana semakin memuncak.

Samuel bangkit dari duduknya, bersiap meninggalkan Diana.

“Kamu tidak bisa mengakhiri hubungan ini begitu saja setelah kamu merenggut kesucianku. Kamu harus bertanggung jawab,” ucap Diana dengan nada dingin.

Samuel mengembuskan napas berat lalu membalikkan tubuh menatap Diana.

“Apa maumu sebenarnya?”

“Aku ingin kamu bertanggung jawab. Hanya itu,” jawab Diana tegas.

“Aku tahu kamu tidak ingin melepaskanku begitu saja, kan? Kamu ingin jadi Nyonya Samuel Dirgantara, kan? Kamu tenang saja, aku akan kasih kompensasi untukmu. Katakan, berapa uang yang kamu inginkan?” ucap Samuel.

Diana merasa harga dirinya benar-benar diinjak oleh Samuel.

Plak!

Ia kembali menampar Samuel.

Samuel memejamkan mata. Harga dirinya terasa tercabik setelah Diana menamparnya untuk keempat kalinya.

“Sebanyak apa pun uang yang kamu berikan tidak akan bisa mengembalikan kehormatanku yang kamu ambil secara licik, Tuan Muda Samuel Dirgantara,” ucap Diana lantang.

“Terserah kamu mau bicara apa, Diana. Hubungan ini sudah berakhir. Lupakan semua ini, anggap saja kita tidak pernah saling kenal,” ucap Samuel dengan enteng lalu melangkah menuju pintu.

Diana mengepalkan kedua tangannya erat.

“Kamu harus bertanggung jawab, Samuel! Aku hamil!”

Deg!

Kutukan Mantan

“Deg!”

Jantung Samuel seolah berhenti berdetak saat mendengar ucapan Diana. Ia tidak mungkin bertanggung jawab kepada wanita itu. Satu minggu lagi, ia akan menikah dengan pilihan orang tuanya.

Otaknya berputar cepat, mencari jalan keluar dari situasi buntu ini.

“Kenapa kamu diam, hah? Apa kamu mau membantah kalau janin yang ada di rahimku ini bukan anakmu? Kamu pasti tahu, kan? Siapa yang merenggut kesucianku dengan licik, penuh tipu muslihat, dan janji palsu kalau bukan kamu, Tuan Muda Samuel Dirgantara yang terhormat!”

Diana tahu Samuel tidak akan melawan orang tuanya demi menikahinya. Namun, pria itu telah mengambil kesuciannya dengan licik dan membuatnya hamil. Ia hanya ingin Samuel bertanggung jawab. Ia tidak ingin anaknya tumbuh tanpa seorang ayah.

“Kamu bisa menikahiku secara siri. Setelah anak ini lahir, ceraikan aku. Kamu bisa melanjutkan kehidupan barumu,” ucap Diana dengan nada memohon. Hanya itu satu-satunya ide yang terlintas di pikirannya.

Samuel masih terdiam di depan pintu, memikirkan jalan keluar dari masalah ini.

Diana terduduk di lantai dengan air mata yang terus mengalir. Bagaimana jika Samuel benar-benar tidak ingin bertanggung jawab? Ia sangat menyesal telah menjalin hubungan tanpa restu orang tua. Terlebih lagi, ia hanyalah seorang pegawai dari ibu Samuel. Mama Samuel pasti tidak akan pernah merestui anaknya menikah dengan pegawai seperti dirinya.

Samuel menatap Diana sekilas, lalu merogoh saku dan mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.

“Halo, lo di mana?” tanya Samuel pada seseorang di balik telepon.

“...”

“Kirim alamat sepupu lo.”

“...”

“Jangan banyak tanya, brengsek! Kirim cepat.”

Tut!

Panggilan berakhir.

Samuel menghampiri Diana. Tanpa basa-basi, ia menarik tangan wanita itu agar ikut bersamanya.

Diana terkejut dengan perlakuan Samuel.

“Lepas! Kamu mau bawa aku ke mana, hah?”

Samuel memaksanya masuk ke dalam mobil.

“Tidak usah banyak tanya. Diam dan ikuti keputusanku!”

Dengan kasar Samuel mendorong Diana masuk ke mobilnya. Setelah Diana berada di dalam, Samuel menutup pintu dengan keras lalu masuk ke kursi kemudi.

“Kamu mau bawa aku ke mana, hah? Kontrakanku tidak dikunci,” ucap Diana panik. Ia khawatir jika ada yang mengambil barang-barangnya atau pemilik kontrakan marah padanya.

“Emang kamu punya barang berharga apa, hah? Di dalam kontrakan itu tidak ada apa-apa,” balas Samuel dingin. “Kalau pun ada yang mencuri, pencuri itu pasti apes.”

“Aku memang tidak punya barang berharga. Bahkan, hal paling berharga yang aku miliki dalam diriku sudah hilang... dan kamu pencurinya, sialan!” teriak Diana.

Samuel tidak menyahut. Ia fokus menyetir dengan kecepatan tinggi hingga Diana harus memegang sabuk pengaman erat-erat. Namun, Samuel tidak peduli. Ia hanya fokus mengemudi sambil sesekali melirik ponselnya.

Beberapa saat kemudian, Samuel menghentikan mobil di depan sebuah rumah besar bergaya Belanda kuno.

Samuel menatap bangunan itu, lalu kembali membuka ponselnya.

Sementara itu, perasaan Diana semakin gelisah. Ia berharap Samuel akhirnya memilih bertanggung jawab.

“Turun,” perintah Samuel.

Diana menggeleng.

“Aku nggak mau sampai kamu jelasin maksud semua ini.”

Samuel mengepalkan tangan. Ia menatap tajam Diana sebelum turun dari mobil.

Ia membuka pintu mobil dan menarik paksa Diana keluar.

“Keluar!” bentaknya.

Diana akhirnya menurut. Ia menatap rumah bergaya Belanda kuno itu dan beberapa pasangan yang berlalu-lalang di sekitarnya. Seketika muncul harapan di benaknya.

Apa ini tempat menikah siri? Apa Samuel akhirnya mau bertanggung jawab?

Samuel masuk ke sebuah ruangan dan menyuruh Diana menunggu di luar.

Di dalam ruangan itu, Samuel berbicara dengan seorang pria dan wanita. Setelah mendengar maksud kedatangannya, keduanya mengangguk paham.

Di luar ruangan, tubuh Diana gemetar ketika mendengar percakapan dari dekat ruangan itu.

Tempat ini adalah tempat aborsi ilegal.

Ia tidak percaya Samuel bisa sekejam itu pada darah dagingnya sendiri.

Tak lama kemudian, Samuel keluar dari ruangan dan menghampiri Diana.

“Ayo masuk.”

Diana menggeleng cepat.

“Nggak! Aku nggak mau menggugurkan anak ini!” bantahnya. “Aku nggak nyangka sama kamu. Tega kamu membunuh darah daging kamu sendiri.”

“Tidak usah banyak omong, Diana. Masuk!”

Samuel menarik paksa pergelangan tangan Diana dengan kasar dan membawanya masuk ke dalam kamar.

Mereka masuk ke ruangan itu.

Diana diminta berbaring di brankar, sementara seorang wanita bersiap memasangkan infus padanya.

Tubuh Diana gemetar hebat. Otaknya terus berpikir mencari celah agar bisa lolos, sambil tak henti berdoa dalam hati.

Tiba-tiba Samuel teringat sesuatu.

“Aku harus ke mobil.”

Setelah mengatakan itu, Samuel keluar dari ruangan.

Begitu Samuel pergi, Diana langsung menatap dua orang di ruangan tersebut.

“Aku tahu kalian berprofesi sebagai dokter di RS kota Westoria. Kalau kalian mengabulkan perintah pria tadi, aku akan melaporkan kalian.”

Kedua dokter itu terkejut mendengar ucapan Diana. Mereka saling berpandangan. Profesi mereka dipertaruhkan. Di sisi lain, mereka juga sedang berhadapan dengan pewaris Dirgantara Group.

“Maaf, Nona. Kami tidak bisa membantumu. Tuan Samuel akan menghancurkan kami jika kami menolak perintahnya,” ujar dokter pria bernama Rangga.

“Aku mohon, Dok... bantu aku sekali ini. Aku tidak ingin membunuh anak yang tidak berdosa ini,” ucap Diana memohon dengan air mata bercucuran.

Dokter Rangga dan Dokter Rani saling berpandangan, merasa iba padanya.

“Baiklah, kami akan membantumu. Dengan syarat kamu harus mengikuti perintah kami.”

Diana langsung mengangguk.

“Aku akan melakukan apa pun, tapi tolong selamatkan janinku.”

“Bersikaplah seolah kamu kesakitan agar Tuan Samuel percaya,” bisik Dokter Rani.

Ia juga menjelaskan beberapa hal agar Diana mengerti.

Dokter Rangga mengambil kantong darah lalu berdiri di samping Diana. Ia membuka kantong darah itu lalu menumpahkannya ke pakaian Diana.

Dokter Rani juga memasangkan pembalut yang telah diberi darah agar terlihat seperti Diana baru saja menjalani kuret.

“Aktingmu menentukan nasibmu,” bisik Dokter Rani.

Diana mengangguk pelan.

Tak lama kemudian, Samuel kembali masuk ke ruangan.

“Bagaimana?”

“Sudah beres, Tuan,” jawab Dokter Rangga.

“Prosedurnya sudah selesai, Tuan,” sambung Dokter Rani.

Samuel tersenyum puas.

“Bagus.”

Ia memberikan amplop cokelat yang cukup tebal kepada mereka.

“Ini untuk kalian berdua.”

“Terima kasih, Tuan.”

Dokter Rangga menerima amplop tersebut.

Di atas brankar, Diana berpura-pura lemas. Air matanya terus mengalir.

“Apa dia bisa jalan?” tanya Samuel.

“Berjalan mungkin belum bisa, Tuan. Kondisinya masih lemah setelah prosedur tadi.”

“Sebaiknya menggunakan kursi roda,” tambah Dokter Rani.

“Baiklah. Bawakan kursi roda.”

Tubuh Diana dipindahkan dari brankar ke kursi roda, lalu ia didorong keluar ruangan. Wajahnya hanya menunjukkan tatapan datar.

Samuel merasa sangat puas.

Semua masalahnya telah selesai.

Selama perjalanan pulang, hanya ada keheningan. Baik Diana maupun Samuel sama-sama tidak berbicara.

Beberapa saat kemudian, mobil Samuel berhenti di depan kontrakan Diana.

Diana langsung membuka pintu mobil sambil berpura-pura meringis kesakitan. Samuel yang melihat itu akhirnya membantu memapahnya masuk ke dalam kontrakan.

Diana membiarkan Samuel membantunya hingga ia duduk di sofa.

Samuel mengeluarkan sebuah cek dari sakunya.

“Ini ada cek satu miliar. Anggap saja sebagai tanggung jawabku.”

Diana menerima cek itu, tetapi tanpa membacanya, ia langsung merobeknya.

Srak! Srak!

Potongan cek itu dilemparkan ke wajah Samuel.

“Aku nggak perlu uang ini, brengsek! Terlalu murah kamu menghargai keperawananku!” teriak Diana. “Kamu sudah membunuh benih kamu sendiri! Kamu memang brengsek, Samuel!”

“Dan kamu perlu ingat, Tuan Muda Samuel... Tuhan tidak pernah tidur. Hari ini mungkin kamu bahagia karena berhasil melenyapkan darah dagingmu sendiri.”

Diana berhenti sejenak. Napasnya memburu saat menatap Samuel penuh kebencian.

“Aku bersumpah... kamu tidak akan pernah mendapatkan keturunan!”

Samuel hanya menatap Diana dengan datar, seolah ucapan itu tak akan pernah didengar Tuhan.

Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan meninggalkan Diana.

Setelah kepergian Samuel, Diana menangis meraung-raung.

Ia menyesal telah terbuai rayuan dan cinta anak bosnya sendiri hingga hidupnya berakhir seperti ini.

“Kamu harus kuat, Diana. Jangan menangisi nasibmu terus. Kamu harus kuat demi anakmu.”

Ia berusaha menyemangati dirinya sendiri.

Tangannya menyentuh perutnya yang masih rata.

“Sehat-sehat ya, Nak. Bunda akan melakukan yang terbaik untukmu. Meskipun papamu membuang kita, kita pasti bisa bahagia.”

Tatapannya beralih ke kontrakan itu. Kenangan bersama Samuel kembali berputar di kepalanya hingga ia menggeleng cepat.

“Tidak! Aku tidak perlu mengingat laki-laki pengecut itu.”

Diana bangkit dari duduknya.

“Aku tidak bisa terus berada di sini.”

Tatapannya mengeras penuh tekad.

“Aku harus meninggalkan Kota Westoria ini.”

Pergi membawa luka

“Selamat tinggal, Westoria.”

Diana menatap kontrakan yang telah ia tinggali selama beberapa tahun terakhir—tempat yang selama ini menjadi pelindungnya sekaligus saksi kisah cintanya bersama Samuel.

Kini semua itu hanya tinggal kenangan. Ia harus meninggalkan kota kelahirannya.

Diana memegang perutnya lembut.

“Doakan Bunda ya, Nak. Semoga di tempat baru nanti, Bunda mendapatkan pekerjaan yang layak untuk kamu,” ucapnya lirih.

Diana mulai melangkah meninggalkan kontrakan itu. Tujuannya adalah bandara. Ia akan meninggalkan kota kelahirannya hanya dengan bermodalkan tabungannya.

Tak lama kemudian, Diana tiba di bandara.

Beberapa menit lagi, pesawat yang akan ia tumpangi akan berangkat.

Saat pengumuman keberangkatan terdengar, Diana segera melangkah masuk ke dalam pesawat.

Ia menyandarkan tubuhnya di kursi pesawat. Di balik kacamata hitamnya, Diana memejamkan mata sejenak, berusaha mengistirahatkan diri karena tubuhnya terasa begitu lelah.

Beberapa saat kemudian, pesawat mulai lepas landas.

Diana menatap ke arah jendela.

“Selamat tinggal, kota kelahiranku. Aku janji akan kembali setelah luka ini sembuh.”

°°••°°

“Pagi.”

Samuel menyapa keluarganya yang sudah lebih dulu berada di meja makan. Di sana juga sudah ada Citra—calon istrinya.

“Pagi, sayang. Kenapa matamu terlihat lelah? Kamu nggak tidur semalaman?” tanya Iren, mama Samuel.

Samuel mengangguk pelan.

“Iya, Mah. Aku harus kerja lembur. Aku kan mau cuti saat pernikahanku dengan Citra,” jawabnya sambil melirik Citra yang tersenyum manis padanya.

“Bagus. Satu minggu lagi acara pernikahan kalian,” ujar Bayu, papa Samuel.

“Tapi siang ini kamu bisa meluangkan waktu, kan? Kita akan fitting baju, sayang,” ucap Citra dengan nada manis.

Samuel kembali mengangguk pelan.

“Bisa. Kirim saja alamatnya, nanti aku ke sana setelah jam makan siang.”

Mereka kembali melanjutkan sarapan pagi sambil membahas persiapan acara pernikahan.

“Ma, Pa berangkat ke kantor.”

Bayu bangkit dari kursinya sambil mengecup kening sang istri, lalu menoleh ke arah calon menantunya.

“Cit, Om duluan.”

Citra mengangguk sambil tersenyum.

“Iya, Om. Hati-hati.”

“Sam, kamu jadi meeting di luar pagi ini?”

Samuel mengangguk.

“Iya, Pa.”

Bayu pun meninggalkan meja makan. Tak lama kemudian, Samuel juga berpamitan hingga hanya tersisa Iren dan Citra di sana.

“Cit, kita belanja, yuk. Daripada kita nggak ngapa-ngapain, nanti jam makan siang baru kita ke butik.”

Citra mengangguk antusias.

“Ayo, Tan.”

°°••°°

Di perjalanan menuju kantor, pikiran Samuel terus dipenuhi oleh Diana.

Bayangan wajah Diana saat marah, kecewa, dan terluka terus terlintas di kepalanya hingga membuatnya tidak bisa tidur semalaman. Apa yang ia katakan pada keluarganya tentang lembur hanyalah kebohongan. Ia sama sekali tidak bekerja semalam—ia hanya terus memikirkan Diana.

“Huft…”

Samuel mengembuskan napas kasar.

“Apa Diana masih sakit, ya?” pikirnya, teringat apa yang telah ia lakukan pada wanita itu kemarin.

Pikirannya benar-benar kacau. Samuel terus memikirkan Diana.

Akhirnya, ia menepikan mobilnya ke pinggir jalan lalu mencoba menghubungi Diana.

“Apa dia memblokirku?” lirihnya.

Panggilannya tidak dijawab oleh Diana. Ia kembali mencoba menghubunginya menggunakan nomor lain, tetapi hasilnya tetap sama—yang terdengar hanya suara operator.

Tiba-tiba rasa cemas menyergapnya.

Apa Diana baik-baik saja?

Mengingat kemarin Diana terlihat sangat pucat setelah melakukan kuret, membuat perasaannya semakin tidak tenang.

Awalnya Samuel merasa semua masalah telah selesai. Namun semakin malam berlalu, wajah Diana justru terus menghantuinya.

Samuel kembali menjalankan mobilnya menuju kontrakan Diana dengan hati yang kacau.

Setelah sampai di sana, suasana kontrakan itu terasa begitu sunyi.

Lampu teras masih menyala, padahal saat itu sudah pukul sembilan pagi. Biasanya Diana tidak seperti ini.

Saat Samuel hendak turun dari mobil untuk menemui Diana, ponselnya tiba-tiba berdering.

Ia tidak punya pilihan selain mengangkat panggilan itu.

“Halo, Pa?”

“Di mana kamu, hah?! Klien marah pada Papa karena kamu nggak datang!” bentak Bayu dari seberang telepon.

Samuel membelalakkan matanya.

Ia benar-benar melupakan pekerjaannya.

“Maaf, Pa. Samuel ke sana sekarang.”

Tanpa menunggu jawaban dari ayahnya, Samuel langsung mematikan panggilan dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

Masalah Diana bisa ia urus nanti.

Setelah pekerjaannya selesai.

°°••°°

“Tante, Samuel mana, ya? Kok dia belum datang?”

Sedari tadi Citra terus menatap pintu, berharap Samuel segera datang. Namun, waktu sudah lewat jam makan siang dan pria itu tak kunjung muncul.

“Sabar, Cit. Mungkin Samuel sudah dalam perjalanan ke sini, hanya terjebak macet di jalan,” ucap Iren, berusaha menenangkan calon menantunya.

Namun, dalam hati ia sudah mengomeli putranya sendiri.

Awas kamu, Sam. Kalau sampai kamu bermain macam-macam.

Citra hanya bisa mengembuskan napas kasar. Wajahnya terlihat jelas dipenuhi kekesalan.

Tak selang lama, Samuel akhirnya datang.

“Maaf, Citra. Ada pekerjaan mendadak yang harus aku tangani,” ucap Samuel dengan nada bersalah.

Citra menatapnya sinis.

“Kenapa kamu nggak ngabarin, sih?”

Samuel menggenggam tangan Citra.

“Maaf, aku nggak pegang ponsel. Sekarang kita fitting baju, ya,” ucapnya lembut.

“Kamu bikin calon mantu Mama nunggu lama,” sahut Iren dengan nada kesal.

“Maaf, Mah.”

Desainer butik langsung mengarahkan mereka dan memperlihatkan pakaian yang akan mereka gunakan.

Samuel menatap pantulan dirinya di depan cermin. Ia memperhatikan setelan yang dikenakannya, lalu memberi tahu sang desainer bahwa ia memilih pakaian itu dan tidak ada yang perlu diubah.

Sementara itu, Citra masih berada di ruang ganti, dibantu oleh pegawai butik.

Tak lama kemudian, Citra keluar.

“Sayang, bagaimana?” tanya Citra pada Samuel.

Samuel menatapnya tanpa berkedip.

Citra memamerkan gaunnya sambil berpose dan memutar tubuhnya perlahan.

Namun, yang terbayang di benak Samuel justru Diana yang mengenakan gaun itu.

Iren menepuk bahu putranya.

“Sampai segitunya kamu kagum sama Citra, sampai matamu nggak berkedip,” godanya.

Samuel tersentak saat bahunya ditepuk. Ia segera tersenyum lalu mengangguk.

“Bagus, Sayang. Sangat cocok untukmu,” pujinya.

Padahal, senyum itu muncul karena yang ia membayangkan adalah Diana.

Citra tersipu malu mendengar pujian Samuel. Ia merasa Samuel akhirnya telah melupakan Diana.

Citra kembali masuk ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya.

“Ma, setelah ini aku mau ke toko kue Mama,” ucap Samuel pada ibunya yang menghampirinya.

Iren langsung menatap tajam putranya.

“Kamu ngapain ke sana, hah? Mau ketemu wanita kampung itu?”

Samuel menggeleng cepat.

“Tidak, Mah. Klienku ingin mencoba kue terbaru Mama,” jawab Samuel.

Selain itu, ia juga memang berniat melihat Diana yang bekerja di toko milik ibunya.

Iren menatap putranya dengan intens.

“Hmm... lagipula wanita kampung itu juga sudah berhenti bekerja.”

“Apa?”

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!