Indonesia
NovelToon NovelToon

Aku Pergi Mas

Bab 1

Matahari pagi baru saja mengintip dari balik tirai jendela kamar, menyelinap masuk dan menyinari sudut-sudut ruangan yang masih berantakan sisa aktivitas malam tadi. Ani bangun lebih awal dari biasanya, seperti biasa, untuk menyiapkan sarapan dan bekal kerja bagi suaminya, Dimas.

Sudah hampir lima tahun mereka menikah, dan rutinitas ini menjadi hal yang tak pernah berubah. Bagi Ani, mengurus rumah tangga dan melayani suami adalah kebahagiaan terbesarnya. Ia selalu percaya bahwa pernikahannya adalah contoh yang sempurna: rukun, damai, dan penuh kasih sayang.

Dimas bergegas bangun ketika jam weker di meja samping tempat tidur berbunyi nyaring. Ia bergegas mandi dan berpakaian, wajahnya terlihat lelah seperti biasa. Belakangan ini, Dimas memang sering pulang larut, beralasan pekerjaan di kantor sedang menumpuk dan banyak proyek yang harus diselesaikan. Ani tak pernah curiga sedikit pun. Ia selalu menyambut suaminya dengan senyum hangat dan makanan enak, mendengarkan keluh kesahnya, dan berusaha menjadi istri yang paling pengertian.

"Mas, sarapan sudah siap," panggil Ani lembut dari ruang makan, sambil menata piring dan gelas di atas meja.

Dimas keluar dari kamar mandi, mengeringkan rambutnya dengan handuk. "Iya, sebentar lagi. Hari ini aku harus berangkat lebih pagi, ada rapat penting jam delapan," jawabnya singkat, lalu duduk di kursi makan.

Ani menuangkan teh manis ke dalam gelasnya. "Hati-hati di jalan ya, Mas. Jangan terlalu lelah bekerja, ingat kesehatan."

Dimas hanya mengangguk pelan, memakan sarapannya dengan cepat tanpa banyak bicara. Ada sesuatu yang berbeda dari sorot matanya pagi ini, sesuatu yang terasa jauh dan dingin, namun Ani berusaha mengabaikannya. Ia mengira itu hanya karena Dimas terlalu banyak pikiran soal pekerjaan.

Setelah selesai makan, Dimas langsung beranjak pergi. Ia mencium kening Ani sekilas, sangat cepat dan kaku, lalu berjalan menuju pintu depan. "Aku berangkat dulu ya."

"Hati-hati ya, Mas. Nanti sore pulang jam berapa?" tanya Ani sambil mengantarnya sampai di depan pintu.

"Mungkin agak sore lagi, ada pertemuan lanjutan. Jangan tunggu makan malam ya," jawab Dimas sambil membuka pintu dan melangkah keluar, menuju mobilnya yang terparkir di halaman.

Ani tersenyum mengangguk, melambaikan tangan sampai mobil suaminya menghilang di tikungan jalan. Hatinya terasa damai, meski sedikit ada rasa sepi yang menyelinap. Ia kembali masuk ke rumah untuk membereskan sisa makanan dan mencuci piring.

Saat sedang melewati meja samping sofa di ruang tamu, matanya menangkap sebuah benda kecil berwarna hitam yang tergeletak di sana. Itu adalah ponsel pintar milik Dimas.

Ani tertegun sejenak. Ia tahu betapa pentingnya benda itu bagi suaminya. Dimas hampir tak pernah melepaskan ponselnya, selalu dibawa ke mana saja, bahkan saat mandi atau tidur pun selalu diletakkan di sampingnya. Tak pernah sekalipun ia meninggalkannya begitu saja di dalam rumah.

Rasa penasaran merayap perlahan di hati Ani, bercampur dengan firasat aneh yang entah dari mana datangnya. Selama ini, Ani tak pernah sekalipun menyentuh atau membuka ponsel Dimas. Ia sangat menjaga kepercayaan dan privasi suaminya. Ia percaya bahwa dalam rumah tangga, kepercayaan adalah pondasi utama yang tak boleh dirusak.

Namun pagi itu, ada sesuatu yang mendorong tangannya bergerak mendekat. Ia berjongkok dan mengambil benda pipih itu. Layarnya dalam keadaan mati. Ani menatap ponsel itu lama sekali. Di benaknya terlintas ingatan-ingatan kecil belakangan ini: sikap Dimas yang makin tertutup, sering tersenyum sendiri saat memegang ponselnya, sering berbisik-bisik saat menerima telepon, dan tatapannya yang sering kosong saat sedang duduk berdua.

"Ah, aku pasti hanya terlalu banyak berpikir," gumam Ani pada dirinya sendiri, berusaha menepis rasa curiga yang mulai tumbuh. "Mas Dimas itu suami yang baik, dia tak mungkin berbuat macam-macam."

Namun tangannya justru menekan tombol daya di pinggiran ponsel itu. Layar menyala, menampilkan kunci pola. Ani tahu pola itu. Dimas pernah mengajarinya dulu, saat baru saja membeli ponsel ini. Pola sederhana yang membentuk huruf awal nama mereka berdua.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, jari Ani bergerak menyusuri titik-titik pada layar kaca itu. Kunci terbuka.

Beranda utama ponsel muncul, menampilkan deretan ikon aplikasi. Di bagian paling atas, ada notifikasi pesan masuk yang baru saja datang, dikirimkan sesaat setelah Dimas pergi.

Nama pengirimnya membuat jantung Ani seakan berhenti berdetak sejenak: Rina.

Di bawah nama itu, isi pesan singkat itu terbaca jelas: "Sayang, kamu lupa bawa ponselmu ya? Nanti aku kangen ngobrol sama kamu seharian ini..."

Dunia Ani seakan runtuh seketika. Kata "sayang" yang tertulis di sana terasa begitu tajam, menusuk tepat di tengah hatinya. Rina? Ia tahu siapa Rina. Rekan kerja Dimas, wanita muda yang sering disebut-sebut suaminya sebagai karyawan baru yang rajin dan cerdas.

Dengan napas yang mulai terasa sesak, Ani menekan ikon aplikasi pesan itu. Ia tahu ia seharusnya berhenti di sini, seharusnya segera menaruh kembali ponsel itu dan berpura-pura tak melihat apa pun. Namun rasa ingin tahu yang berbalut rasa sakit dan ketakutan menguasai dirinya. Ia membuka percakapan antara Dimas dan wanita bernama Rina itu.

Dan di sanalah, di depan matanya sendiri, terbentang ribuan pesan yang menjadi bukti nyata kehancuran kebahagiaannya. Pesan-pesan penuh rayuan, janji temu, ungkapan rindu, hingga kata-kata cinta yang seharusnya hanya ditujukan untuknya, sang istri sah. Ia membaca bagaimana Dimas sering menceritakan kehidupan rumah tangga mereka dengan buruk, menganggap Ani membosankan, dan mengaku tidak bahagia hidup bersamanya. Ia membaca rencana-rencana mereka untuk bertemu diam-diam, untuk pergi berlibur berdua, dan janji-janji masa depan yang tak lagi melibatkan dirinya.

Air mata Ani jatuh membasahi layar ponsel itu. Kakinya terasa lemas, hingga ia terpaksa duduk di lantai dingin ruang tamu. Semua kebahagiaan yang ia bangun selama lima tahun ini ternyata hanya menjadi tontonan semata. Di balik senyum dan keramahan suaminya, tersembunyi pengkhianatan yang begitu dalam.

Ponsel itu masih ada di tangannya, memancarkan cahaya redup yang seolah mengejek kepolosannya. Di luar sana, matahari bersinar terang, namun bagi Ani, dunia di sekelilingnya tiba-tiba berubah menjadi gelap gulita. Ia baru menyadari satu hal pahit: bahwa orang yang paling ia percayai ternyata adalah orang yang paling menyakitinya. Dan semuanya terungkap, hanya karena sebuah ponsel yang tertinggal.

" tega sekali kamu , mas ! Bercerita buruk tentang rumah tangga kita ." isak Ani tanganya masih menggenggam ponsel milik dimas .

Tiba - tiba ponselnya kembali menyala . panggilan masuk dari Rina . tapi Ani hanya menatap ponsel itu sampai layarnya menghitam kembali . dadanya terasa sesak melihat pengkhianatan dimas . Padahal awal menikah dimas masih bekerja sebagai tukang ojek . Diam - diam Ani memasukan lamaran dimas keperusahaan milik sahabatnya. Sehingga Dimas dengan mudah bekerja diperusahan elit .

bersambung ,,,,

Bab 2

Berjam-jam lamanya Ani duduk bersimpuh di lantai ruang tamu, ponsel Dimas masih tergenggam erat di tangannya yang dingin dan gemetar. Air matanya sudah kering, digantikan oleh rasa perih yang menjalar dari dada hingga ke seluruh tubuhnya. Ia membaca ulang percakapan itu berkali-kali, seolah berharap apa yang tertulis di layar hanyalah salah paham, atau sekadar lelucon buruk. Namun setiap kata yang ia baca justru semakin menancapkan paku pada hatinya, membuktikan bahwa semua itu nyata.

Dimas yang ia kenal suami yang lembut, yang selalu berkata ia bahagia memilikinya, yang berjanji akan menjaganya seumur hidup ternyata hanyalah sosok palsu.

 Di balik punggungnya, laki-laki itu menumpahkan kasih sayang pada wanita lain, bahkan berani menjelek-jelekkan dirinya di depan orang asing. Kalimat “Aku merasa terpenjara di rumah ini, Ani terlalu polos dan membosankan” terngiang terus di telinganya, kalimat yang diketik suaminya sendiri untuk Rina. Rasanya Ani ingin berteriak, ingin merobek semua kenangan indah yang pernah mereka lalui bersama.

Suara dering telepon dari ponsel itu memecah keheningan. Nama “Rina” kembali muncul di layar, berkedip-kedip meminta jawaban. Ani menatap nama itu dengan pandangan kosong, lalu perlahan jari jarinya bergerak menolak panggilan itu. Ia tidak sanggup berbicara, bahkan tidak sanggup mendengar suara wanita yang telah merenggut separuh hidupnya. Tak lama kemudian, pesan baru masuk lagi: “Kenapa nggak angkat, Sayang? Kamu sudah sampai kantor belum? Aku nunggu kabar kamu nih…”

Dengan kasar Ani meletakkan ponsel itu kembali ke meja, seolah benda itu adalah benda najis yang bisa menularkan penyakit. Ia bangkit berdiri, kakinya masih terasa lemas, lalu berjalan gontai menuju kamar tidur. Di sana, segala sesuatu masih berantakan seperti saat Dimas bergegas pergi tadi. Kemeja bekas pakai yang tergantung di kursi, bantal yang masih menyisakan bekas kepala suaminya, bahkan aroma sabun yang sama sekali belum hilang semuanya terasa menyakitkan.

Ani meremas dadanya yang terasa sesak. Bagaimana mungkin ia tidak menyadarinya lebih awal? Semua tanda sebenarnya sudah ada di depan mata. Dimas yang makin sering pulang malam, alasan pekerjaan yang kian berulang, sikap dinginnya, senyum yang tak pernah sampai ke mata, dan rahasia-rahasia kecil yang mulai ia simpan. Ani selama ini terlalu sibuk menjadi istri yang baik, terlalu percaya pada janji suci pernikahan, hingga ia buta melihat kenyataan pahit itu.

Jam dinding berdentang menunjukkan pukul dua belas siang. Ani belum bergerak dari tempat tidur, ia hanya menatap langit-langit kamar dengan pandangan hampa. Di benaknya berputar ribuan pertanyaan: Harus apa ia sekarang? Apakah ia akan menunggu Dimas pulang lalu langsung menuduhnya? Atau diam saja, berpura-pura tidak tahu apa-apa demi mempertahankan rumah tangga yang ternyata sudah hancur ini?

Namun rasa sakit itu terlalu besar untuk ditahan sendirian. Ia teringat wajah orang tuanya, juga pandangan tetangga yang selama ini selalu memuji keharmonisan pernikahannya. Apakah ia sanggup membiarkan orang lain tahu bahwa suami yang dianggap sempurna itu ternyata pengkhianat? Atau lebih menyakitkan lagi, apakah ia sanggup tetap tidur, makan, dan hidup bersama laki-laki itu, sementara ia tahu hatinya sudah dimiliki orang lain?

Suara kunci pintu berputar dari arah depan rumah membuat tubuh Ani menegang. Jam baru menunjukkan pukul dua siang, terlalu cepat untuk Dimas pulang kerja. Langkah kaki berat terdengar mendekat ke ruang tamu, disusul suara helaan napas kasar.

“Ah, sialan… mana ya?” suara Dimas terdengar jelas dari luar kamar.

Ani bangkit perlahan, menyeka sisa-sisa jejak air mata di pipinya, lalu menarik napas panjang berusaha menenangkan diri. Pintu kamar terbuka, dan Dimas berdiri di ambang pintu, wajahnya terlihat cemas dan tergesa-gesa. Saat melihat Ani yang sudah duduk di tepi ranjang, ia sedikit terkejut namun segera berusaha memasang senyum biasa.

“Lho, kamu belum ke beres - beres , Ni? Aku lupa bawa ponsel tadi pagi, jadi aku balik lagi ambil,” ucap Dimas santai, seolah tidak ada apa-apa yang terjadi. Matanya langsung menatap ke arah meja rias, mencari benda pipih miliknya itu.

Hati Ani berdebar kencang. Ia menatap lurus ke mata suaminya, berusaha mencari jejak kejujuran di sana, namun yang ia temukan hanyalah kepura-puraan yang sangat terlatih.

“Ponselmu ada di meja ruang tamu, Mas,” jawab Ani pelan, suaranya bergetar namun berusaha ia kendalikan. “Aku sudah lihat isinya.”

Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya, menembus keheningan yang menyesakkan. Wajah Dimas seketika berubah pucat.

Senyumnya luntur seketika, digantikan oleh ketakutan dan keterkejutan yang nyata. Ia terpaku di tempatnya, tidak bergerak, tidak juga bersuara. Di ruangan itu, kebenaran yang selama ini disembunyikan akhirnya terungkap, dan tak ada lagi jalan untuk kembali.

Keheningan yang menyakitkan menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik yang terasa berjam-jam. Wajah Dimas yang tadinya pucat pasi perlahan berubah merah padam, bukan karena rasa malu, melainkan karena amarah yang tiba-tiba meledak. Ia tidak berusaha membantah, tidak juga berpura-pura bingung seperti yang diduga Ani. Sebaliknya, sorot matanya berubah tajam dan dingin, tatapan yang belum pernah dilihat Ani selama lima tahun mereka bersama.

"Kamu buka ponselku?" suara Dimas terdengar rendah namun penuh penekanan, nada bicaranya mengancam. Langkah kakinya melangkah mendekat, membuat Ani tanpa sadar mundur sedikit ke belakang. "Sejak kapan kamu berani mengorek privasiku, hah? Sejak kapan kamu jadi istri yang tidak tahu sopan santun seperti ini?"

Hati Ani terasa disayat-sayat. Ia yang terluka, ia yang dikhianati, namun mengapa suaminya justru yang tampak paling berang? Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya, bercampur dengan rasa heran dan sakit hati yang tak terperi.

"Aku tidak bermaksud mengorek, Mas..." jawab Ani dengan suara parau, berusaha menahan isak tangisnya. "Ponselmu tertinggal, dan pesan itu masuk sendiri. Aku tidak bermaksud mencuri-curi kesempatan, tapi semua kata-kata yang ada di sana... apakah aku salah kalau ingin tahu kebenarannya? Apakah aku salah kalau ingin tahu kenapa suamiku sendiri menulis hal-hal seburuk itu tentang aku, tentang rumah tangga kita?"

Dimas mendengus kasar, lalu berbalik badan dan berjalan mondar-mandir di dalam kamar, tangannya meremas rambutnya sendiri dengan frustasi. Topeng suami yang baik dan lembut itu kini benar-benar lepas, memperlihatkan sisi aslinya yang kasar dan egois.

"Baik! Kalau kamu sudah tahu, buat apa lagi bertanya?" sergah Dimas tiba-tiba, berhenti berjalan dan menatap tajam ke arah Ani. "Ya, benar semua itu. Semua yang kamu baca itu nyata. Aku memang dekat dengan Rina. Aku memang lebih nyaman bersamanya daripada bersamamu."

Kalimat itu diucapkannya begitu santai, begitu ringan, seolah-olah ia sedang membicarakan hal sepele, bukan menghancurkan hati istrinya sendiri. Ani merasa kakinya tak lagi berpijak di bumi. Ia berharap Dimas akan meminta maaf, berharap Dimas akan mengatakan itu semua hanyalah kesalahan, namun kenyataan justru jauh lebih kejam dari bayangannya.

bersambung ,,,,,

Bab 3

"Kenapa, Mas?" tanya Ani pelan, suaranya hampir tak terdengar. Air matanya kini mengalir deras tak terbendung. "Apa kurang ku? Aku sudah berusaha jadi istri yang baik, mengurus mu, mengurus rumah, memenuhi semua kebutuhanmu... Apa yang kurang sampai kamu mencari wanita lain?"

Dimas tertawa sinis, tertawa yang terdengar begitu mengejek dan menyakitkan baginya. Ia mendekat kembali ke tepi ranjang, menatap Ani dengan pandangan yang penuh kekecewaan, seolah Ani lah yang menjadi penyebab semua ini.

"Kamu bertanya apa yang kurang? Kamu itu terlalu polos, Ani! Terlalu sederhana, terlalu membosankan!" ucap Dimas dengan kasar. "Setiap hari yang kamu bicarakan cuma rumah, masakan, cucian. Tidak ada obrolan yang menarik, tidak ada hal baru. Hidup di sampingmu rasanya seperti hidup di dalam kuburan yang tenang. Tidak ada gairah, tidak ada semangat. Sedangkan Rina? Dia cerdas, dia mengerti aku, dia bisa diajak bicara apa saja. Bersama dia, aku merasa hidupku berwarna kembali."

Setiap kata yang keluar dari mulut Dimas terasa seperti pisau yang berputar di dalam luka di hati Ani. Ia tak pernah menyangka bahwa semua pengabdian dan kesederhanaannya justru menjadi alasan suaminya berpaling. Ia yang berusaha menjaga keharmonisan rumah tangga, ternyata dianggap sebagai beban yang mengekang kebebasan suaminya.

"Lima tahun, Mas..." bisik Ani lirih, tangannya meremas seprai kasur sekuat tenaga. "Lima tahun aku mencoba membahagiakanmu. Aku pikir kesederhanaan ini adalah kebahagiaan kita. Aku pikir kepercayaan yang aku berikan kepadamu akan kau jaga baik-baik. Ternyata... aku salah besar."

Dimas terdiam sejenak, mendengar ucapan itu ada sedikit kilas ragu di matanya, namun secepat itu pula hilang, digantikan kembali oleh keteguhan hatinya yang sudah terbagi. Ia menghela napas panjang, lalu berbicara dengan nada yang lebih rendah, namun tetap tegas.

"Sudah lama sebenarnya aku ingin membicarakan ini, tapi aku tidak tega menyakiti hatimu," kata Dimas, seolah-olah dialah yang paling berkorban di sini. "Aku sudah tidak mencintaimu lagi, Ani. Perasaanku padamu sudah mati sejak lama. Kalau pun aku masih di sini, hanya karena aku masih ragu dan belum berani mengambil keputusan. Tapi sekarang kamu sudah tahu semuanya, jadi lebih baik kita bicarakan ini sampai selesai."

Ani mengangkat wajahnya, menatap lurus ke manik mata suaminya. Di sana tak ada lagi cinta, tak ada lagi kasih sayang. Yang tersisa hanyalah rasa bosan dan keinginan untuk lepas. Di detik itu, Ani sadar bahwa pertahanan terakhir rumah tangganya sudah runtuh sepenuhnya. Orang yang ia cintai ternyata sudah pergi jauh, meninggalkannya jauh sebelum kebenaran ini terungkap.

"Jadi... apa rencanamu sekarang?" tanya Ani dengan susah payah, berusaha mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. "Apa yang mau kamu lakukan pada kita, pada pernikahan ini?"

Dimas menundukkan pandangannya sejenak, lalu menjawab dengan tegas dan dingin, "Aku ingin berpisah, Ani. Aku ingin hidup bersamanya. Aku sudah cukup menderita hidup dalam kebohongan ini."

Dunia Ani kembali runtuh untuk kedua kalinya hari itu. Di ruangan itu, di hadapan laki-laki yang menjadi suaminya, Ani menyadari bahwa ia tidak hanya kehilangan kepercayaan, tetapi juga kehilangan seluruh masa depan yang pernah ia impikan bersama.

Keheningan kembali menguasai ruangan, namun kali ini terasa lebih berat dan menyakitkan dari sebelumnya. Kata-kata "Aku ingin berpisah" yang baru saja meluncur dari mulut Dimas seakan menggema berulang kali di telinga Ani, menembus jauh ke dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Ia menatap wajah suaminya, mencari sedikit saja tanda penyesalan atau keraguan, namun yang ia temukan hanyalah keteguhan hati yang sudah tertanam kuat.

Air mata Ani sudah tak lagi mengalir. Rasanya seluruh cairan di tubuhnya sudah habis terbuang sejak pagi tadi. Ia merasa kaku, dingin, dan hampa, seolah nyawanya perlahan dicabut paksa dari raganya. Lima tahun waktu yang mereka lalui bersama dari awal perkenalan, masa pacaran, hingga naik ke pelaminan semuanya terasa sia-sia belaka. Semua janji manis, sumpah setia, dan mimpi masa depan yang mereka bangun bersama, ternyata hanyalah bangunan pasir yang runtuh hanya karena satu gelombang kenyataan pahit.

"Kamu serius... Mas?" tanya Ani pelan, suaranya terdengar lemah dan bergetar. Tangannya meremas ujung baju tidurnya sendiri, berusaha menahan gemetar yang hebat di seluruh tubuhnya. "Kita sudah melewati banyak hal bersama. Susah senang kita jalani berdua. Apa semudah itu kamu membuang semua itu demi wanita yang baru kamu kenal beberapa bulan saja?"

Dimas mengalihkan pandangannya, menatap lantai seolah ada sesuatu yang sangat menarik di sana. Ia tidak lagi berani menatap mata istrinya yang basah dan penuh luka.

"Bukan soal mudah atau susah, Ani," jawab Dimas dengan nada yang lebih tenang, namun tetap dingin. "Perasaan itu tidak bisa dipaksakan. Kalau sudah hilang, ya sudah hilang. Bertahan hanya karena kenangan masa lalu itu tidak adil buat aku, tidak adil buat kamu, dan juga tidak adil buat Rina. Aku sudah tidak bahagia di sini, dan memaksakan diri tetap tinggal hanya akan membuat kita berdua makin menderita."

"Dan kamu pikir aku bahagia sekarang?" seru Ani tiba-tiba, suaranya meninggi karena emosi yang meluap. Ia bangkit berdiri, menatap tajam ke arah suaminya. Rasa sakit hatinya kini berubah menjadi kemarahan yang perlahan membara. "Kamu pikir aku bahagia tahu bahwa suamiku ternyata membagi hatinya untuk wanita lain? Kamu pikir aku bahagia membaca kata-kata buruk yang kamu tulis tentang aku di belakang punggungku? Dimas, aku ini istrimu! Bukan orang asing yang bisa kamu buang semau kamu!"

Dimas mengangkat wajahnya, matanya kini kembali menatap Ani dengan sorot mata yang sulit diartikan campuran antara rasa bersalah dan rasa kesal.

"Karena kamu istriku, makanya aku jujur sekarang," jawab Dimas tegas. "Dari pada aku terus berbohong dan menyakiti kamu diam-diam, lebih baik kita akhiri saja. Ini lebih baik buat semuanya. Aku sudah siap mengurus semuanya. Rumah ini boleh kamu tinggali, aku tidak akan menuntut apa-apa. Aku hanya minta kebebasan aku kembali."

Kalimat itu seolah menjadi pukulan telak terakhir bagi Ani. Laki-laki di hadapannya ini ternyata sudah memikirkan segalanya, sudah merencanakan semuanya jauh hari sebelum kebenaran ini terungkap. Ia bukan sekadar tergoda sesaat, melainkan sudah berniat meninggalkannya sejak lama. Ani sadar, berdebat atau memohon pun tak akan ada gunanya lagi. Hati Dimas sudah tertutup rapat untuknya.

Pikirannya melayang pada berbagai pandangan orang lain. Apa kata tetangga yang selama ini selalu memuji keharmonisan rumah tangganya? Apa kata orang tuanya yang selalu bangga memiliki menantu sebaik Dimas? Apa kata teman-temannya? Rasa malu dan takut sempat merayap masuk. Bagaimana jika ia bertahan saja? Berpura-pura tidak tahu, membiarkan Dimas tetap ada di sini meski hatinya di tempat lain? Asalkan statusnya tetap sebagai istri sah, asalkan ia tidak harus berpisah...!

bersambung ,,,,

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!