Bab 1
Malam takbiran seharusnya berisik.
Di gang depan rumah, anak-anak berlari sambil membawa kembang api kecil. Dari masjid dekat kompleks terdengar suara takbir bersahut-sahutan. Beberapa tetangga sudah saling mengantar rantang, aroma opor ayam, rendang, dan sambal goreng kentang bercampur di udara yang lembap.
Di rumah nomor tujuh belas, semua lampu ruang tamu menyala.
Tapi Nadia Larasati duduk sendirian di meja makan.
Di depannya ada ketupat yang sudah dingin, opor yang santannya mulai mengental di pinggir panci, rendang yang tadi pagi ia masak perlahan sampai bumbunya hitam mengilap, juga nastar dan kastengel yang ia susun di toples kaca. Ia bahkan membuat sambal goreng ati, makanan kesukaan Farhan, walau sejak subuh matanya sudah perih karena kurang tidur.
Ponsel di samping piringnya gelap.
Pesan terakhir yang ia kirim ke grup keluarga masih menggantung tanpa balasan.
Nadia:
Aku tunggu pulang. Makan jam tujuh, ya.
Pesan itu dikirim pukul lima sore. Sekarang hampir pukul sembilan malam.
Tidak ada yang menjawab.
Farhan tidak menjawab. Mama Meri tidak menjawab. Pak Hendra tidak menjawab. Dimas dan Dinda juga tidak menjawab, padahal dua remaja itu biasanya paling cepat membuka ponsel kalau ada notifikasi.
Nadia mengambil gelas, meneguk air putih yang sudah tidak dingin lagi. Tenggorokannya terasa kering, tapi dadanya lebih kering lagi.
Pagi tadi, Mama Meri datang tanpa salam panjang. Ia hanya meletakkan beberapa kantong belanja di dapur, lalu berkata, “Nadia, ini semua dimasak buat nanti malam. Mama mau ajak Dimas dan Dinda cari baju Lebaran. Kamu di rumah saja. Toh, kamu paling telaten urusan dapur.”
Nadia tidak sempat menolak.
Dimas hanya menatap meja dengan wajah malas. Dinda bahkan sempat berbisik, cukup keras untuk didengar, “Lebaran kok makanannya itu-itu saja. Kalau Tante Rania yang masak, pasti lebih modern.”
Nadia pura-pura tidak dengar.
Ia sudah terlalu sering pura-pura.
Ia pura-pura tidak sakit saat Dimas memanggilnya “Bu” hanya di depan orang lain, tapi di rumah lebih sering memanggil “Nadia”. Ia pura-pura tidak peduli saat Dinda menolak bekal buatannya, lalu membeli makanan di luar. Ia pura-pura tidak tahu bahwa Farhan lebih sering tersenyum ketika menerima telepon dari Rania dibanding saat berbicara dengannya.
Rania.
Nama itu lewat begitu saja di kepalanya, lalu Nadia cepat-cepat menyingkirkannya.
Rania adalah janda dari teman lama Farhan. Begitu kata Farhan. Perempuan itu harus dibantu karena hidupnya berat. Begitu kata Mama Meri. Nadia sebagai sesama perempuan seharusnya punya hati. Begitu kata semua orang.
Nadia pernah mencoba percaya.
Ponselnya tiba-tiba bergetar.
Nadia menoleh cepat. Bukan Farhan. Bukan Mama Meri. Di layar muncul nomor aneh.
020-2056-0000
Kening Nadia berkerut.
“Nomor apa ini?”
Ia menolak panggilan itu. Mungkin penipuan. Belakangan ini banyak sekali pesan palsu, undian palsu, paket palsu, bahkan orang mengaku dari bank.
Ponsel itu bergetar lagi.
Nomor yang sama.
Nadia menatap layar beberapa detik. Di luar, suara takbir terdengar makin jauh, seperti datang dari kota lain. Ia menekan tombol hijau.
“Halo?”
Hening sebentar.
Lalu terdengar suara musik pelan. Musik tua, serak, seperti berasal dari kotak musik yang diputar dengan engkol kecil. Nada itu membuat Nadia menoleh ke rak dekat jendela.
Kotak musik tua miliknya ada di sana.
Kotak kayu bermotif batik purnama itu sudah rusak bertahun-tahun. Dulu ibunya meninggalkannya begitu saja bersama beberapa barang lama sebelum menghilang dari hidup Nadia. Nadia menyimpannya bukan karena ibunya, melainkan karena ia pernah membayangkan mungkin ada tangan lain, tangan nenek yang tidak pernah ia kenal, yang dulu membeli benda itu dengan kasih sayang.
Tapi kotak musik itu diam.
Suara musik justru datang dari ponsel.
“Halo? Nenek?”
Nadia membeku.
Suara anak laki-laki terdengar gugup dan terlalu gembira. Di belakangnya ada suara anak perempuan yang menahan napas.
“Nenek Nadia? Ini benar Nenek Nadia?”
Nadia menjauhkan ponsel dari telinga, melihat layar, lalu mendekatkannya lagi.
“Maaf, kamu salah sambung.”
“Tidak salah!” seru anak laki-laki itu. “Rani, aku berhasil! Aku bisa menelepon Nenek!”
Suara anak perempuan langsung pecah. “Nenek? Nenek dengar aku? Aku Rani. Ini Kak Raka. Kami kangen sekali sama Nenek.”
Tangan Nadia mendingin.
Ia tidak punya cucu.
Ia bahkan tidak punya anak kandung.
Selama hampir dua puluh tahun, kata itu menjadi pisau yang digosok terus-menerus ke kulitnya. Mandul. Tidak bisa memberi keturunan. Perempuan kurang sempurna. Beruntung Farhan masih mau menerima.
Dimas dan Dinda pun bukan anak kandungnya. Farhan membawa mereka pulang bertahun-tahun lalu, mengatakan dua anak itu anak kerabat jauh yang tidak sanggup diurus. Nadia menerimanya karena ia merasa bersalah tidak bisa hamil. Ia membesarkan mereka, menyuapi saat sakit, mengantar sekolah, menabung untuk les, menangis diam-diam saat mereka memanggilnya ibu untuk pertama kali.
Sekarang ada dua anak asing memanggilnya nenek.
“Dengar, Nak,” kata Nadia pelan, berusaha lembut meski punggungnya tegang. “Kalian jangan bercanda seperti ini. Penipuan itu tidak baik.”
“Kami bukan penipu,” kata Rani cepat. Suaranya mulai basah. “Nenek selalu bilang jangan bohong, apalagi sama keluarga.”
Nadia memejamkan mata.
Keluarga.
Kata itu malam ini terasa kejam.
Raka mengambil alih telepon. “Nenek pasti sedang duduk di meja makan, kan? Lampu ruang tamu menyala, tapi Nenek belum makan. Di meja ada opor ayam, rendang, sambal goreng ati, ketupat, nastar, kastengel. Nenek bikin sambal goreng ati karena Kakek Farhan suka, padahal Nenek sendiri lebih suka opor yang kuahnya tidak terlalu kental.”
Nadia berdiri mendadak.
Kursinya terdorong ke belakang, menimbulkan bunyi keras.
Ia menatap meja makan.
Semua benar.
“Kalian siapa?” Suaranya berubah serak. “Kalian ada di mana?”
Rani terisak. “Kami di rumah, Nek. Tapi bukan rumah Nenek sekarang. Ini tahun 2056.”
Nadia hampir tertawa, tapi tidak ada suara yang keluar.
Tahun 2056.
Tiga puluh tahun dari sekarang.
“Cukup,” bisiknya. “Ini tidak lucu.”
“Nenek, kami tahu Nenek susah percaya,” kata Raka terburu-buru. “Tapi Nenek harus dengar. Kakek Farhan tidak lembur. Mama mertuamu juga tidak di rumah Bu Lilis. Mereka semua sedang makan malam Lebaran di restoran Bale Rasa.”
Nadia menggenggam ponsel makin erat.
Bale Rasa.
Itu restoran keluarga yang sering Farhan sebut ketika kantor mengadakan acara.
“Mereka bersama Tante Rania,” lanjut Raka. “Dimas dan Dinda juga ada di sana.”
Nadia merasa lantai di bawah kakinya bergerak.
“Tidak mungkin.”
Rani menangis lebih keras. “Nenek, lihat Instagram Tante Siska. Dia istri teman kantor Kakek Farhan. Dia unggah story. Ada foto mereka di meja besar. Tante Rania duduk di sebelah Kakek Farhan. Dinda pakai baju hijau. Dimas pakai hoodie hitam.”
Nama Siska membuat napas Nadia tertahan.
Siska memang istri rekan kerja Farhan. Mereka saling mengikuti di Instagram, walau jarang berinteraksi.
Nadia membuka aplikasi dengan tangan gemetar. Panggilan tetap tersambung. Ia mengetik nama Siska di kolom pencarian.
Story pertama muncul.
Layar kecil itu menampilkan meja panjang penuh makanan. Ada beberapa keluarga. Ada tawa. Ada ucapan “Takbiran bareng keluarga besar”.
Lalu kamera bergeser.
Farhan terlihat jelas.
Di sampingnya, Rania tersenyum cantik dengan kerudung krem. Dinda duduk terlalu dekat dengannya, memegang lengan Rania seperti anak memegang ibunya. Dimas tertawa ke arah Farhan. Mama Meri dan Pak Hendra duduk di seberang mereka, wajah mereka jauh lebih hangat daripada saat berada di rumah Nadia.
Ponsel hampir terlepas dari tangan Nadia.
Di telinganya, Raka berkata pelan, “Nenek, ada satu hal lagi. Dimas dan Dinda itu bukan anak kerabat jauh.”
Jantung Nadia berhenti satu detik.
“Mereka itu anak—”
Suara mendadak terputus.
“Halo?” Nadia berteriak kecil. “Raka? Rani? Anak siapa?”
Hanya terdengar bunyi putus.
Panggilan berakhir.
Nadia berdiri di tengah ruang makan, dikelilingi makanan Lebaran yang dingin dan kebohongan yang baru saja menjadi nyata.
Di luar, orang-orang masih bertakbir.
Di dalam rumah, sesuatu dalam diri Nadia akhirnya pecah.
Dan kali ini, ia tidak berniat memungut pecahannya untuk orang lain.
Bab 2
Nadia tidak langsung menangis.
Air mata seperti berhenti di satu tempat, terlalu penuh sampai tidak bisa jatuh. Ia hanya berdiri sambil menatap layar ponsel, melihat story Instagram Siska diputar ulang. Video itu berdurasi lima belas detik, tapi cukup untuk menghancurkan hampir dua puluh tahun kepercayaannya.
Farhan tersenyum.
Senyum yang sudah lama tidak Nadia lihat di rumah.
Di meja makan mereka, Farhan lebih sering diam. Kalau Nadia bertanya soal pekerjaan, ia menjawab pendek. Kalau Nadia menyodorkan teh, ia hanya mengangguk. Kalau Nadia meminta uang belanja tambahan karena Mama Meri butuh obat atau Dimas perlu bayar les, Farhan akan menghela napas seperti ia baru saja dibebani sesuatu yang tidak masuk akal.
Tapi di video itu, Farhan tertawa.
Tawanya ringan. Bahunya condong ke arah Rania. Jari Rania sempat menyentuh lengan Farhan saat perempuan itu mengambil lauk, dan Farhan tidak menghindar.
Dinda tertawa bersama mereka.
Dimas mengangkat gelas, seperti sedang bersulang.
Mama Meri menepuk tangan Rania, mulutnya bergerak mengucapkan sesuatu yang tidak terdengar. Tapi Nadia bisa menebak nadanya. Lembut. Hangat. Nada yang jarang sekali ia terima.
Nadia mematikan layar.
Ruangan menjadi sunyi.
Ia menoleh ke meja makan. Opor, rendang, ketupat, kue kering. Semua tampak seperti barang bukti. Seharian ia memasak untuk orang-orang yang ternyata tidak pernah berniat pulang.
Ponsel bergetar lagi.
Nadia terlonjak. Ia berharap nomor aneh itu kembali muncul, berharap Raka dan Rani menyelesaikan kalimat mereka. Tapi yang muncul adalah pesan suara dari Mama Meri di grup keluarga.
Nadia menekan tombol putar.
Suara Mama Meri terdengar ceria, seolah tidak ada yang salah.
“Nadia, kamu jangan tunggu kami, ya. Mama sama Papa masih di rumah Bu Lilis. Tadi sudah sekalian makan. Farhan juga sepertinya masih ada urusan kantor. Anak-anak ikut Mama. Kamu makan saja dulu. Jangan lebay kalau kami pulang agak malam.”
Nadia tertawa kecil.
Pendek. Kering.
Ia memutar video Siska lagi, lalu memutar pesan suara Mama Meri sekali lagi.
Pembohong.
Satu kata itu muncul begitu jelas sampai Nadia merasa seperti mendengarnya di ruangan.
Selama ini ia selalu mencari alasan untuk mereka.
Mama Meri keras karena sudah tua. Pak Hendra dingin karena memang wataknya kaku. Dimas dan Dinda kurang sopan karena masa remaja. Farhan jauh karena pekerjaan. Rania sering dibantu karena hidupnya kasihan.
Ternyata alasan itu semua ia buat sendiri agar bisa bertahan.
Nadia membuka daftar kontak dan menelepon Farhan.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.
Ia menelepon lagi.
Masih sama.
Ia membuka chat pribadi Farhan.
Nadia:
Kamu di mana?
Centang satu.
Ia mengirim foto tangkapan layar story Siska.
Centang satu.
Nadia menunggu beberapa detik, lalu tertawa lagi. Farhan mematikan ponsel bukan karena sibuk. Ia mematikannya agar tidak bisa dihubungi istrinya sendiri.
Nadia berjalan ke kamar. Gerakannya pelan, tapi pikirannya mulai berlari. Ia membuka lemari, mengambil kerudung hitam dan outer sederhana. Lalu ia berhenti di depan cermin.
Perempuan di cermin tampak pucat. Rambut di balik kerudung belum rapi. Wajah tanpa riasan. Mata lelah. Gamis rumahannya bersih, tapi sudah terlalu sering dicuci sampai warnanya pudar.
Nadia menatap dirinya lama.
Tadi pagi ia sebenarnya sempat memakai baju Lebaran baru. Warna dusty rose, sederhana tapi manis. Ia membelinya setelah berpikir hampir dua minggu. Setiap kali ingin membeli sesuatu untuk diri sendiri, suara Farhan selalu terngiang.
“Belanja rumah kok besar sekali?”
“Kamu di rumah saja, kebutuhanmu apa?”
“Jangan boros, Nad. Aku kerja capek.”
Nadia akhirnya sering mengalah. Baju baru untuk Dinda. Sepatu untuk Dimas. Obat untuk Mama Meri. Rokok Pak Hendra, yang katanya tidak bisa berhenti karena sudah kebiasaan. Uang bensin Farhan. Uang iuran sekolah. Uang bingkisan tetangga.
Untuk dirinya sendiri, Nadia selalu bilang nanti.
Malam ini, ia tidak mau memakai baju pudar.
Nadia membuka kembali lemari, mengambil baju dusty rose itu. Ia mengganti pakaian, merapikan kerudung, lalu memakai bedak tipis. Tangannya sempat bergetar saat mengoles lipstik warna lembut.
Ia bukan hendak pergi merebut suami.
Ia hendak pergi mengambil kembali harga dirinya.
Ponselnya bergetar lagi.
Nomor aneh itu tidak muncul. Yang muncul kali ini pesan dari Siska.
Siska:
Mbak Nadia, maaf banget. Aku baru sadar Mbak enggak ada di acara. Tadi aku kira kalian memang datang bareng tapi Mbak pulang duluan.
Siska:
Mbak baik-baik saja?
Nadia menatap pesan itu. Beberapa detik kemudian, Siska mengirim satu foto lagi. Mungkin karena merasa tidak enak. Foto itu lebih jelas daripada story.
Farhan duduk di tengah. Rania di sebelahnya. Dinda bersandar ke bahu Rania. Dimas memegang piring sambil tertawa. Mama Meri dan Pak Hendra tampak puas.
Di meja itu ada satu kursi kosong di ujung.
Kursi itu bukan untuk Nadia.
Nadia mengetik perlahan.
Nadia:
Aku baik. Terima kasih sudah kirim foto.
Siska:
Mbak, aku sungguh enggak tahu.
Nadia:
Aku tahu. Tolong jangan hapus story itu dulu.
Siska tidak langsung membalas. Mungkin ia mulai mengerti bahwa sesuatu yang buruk sedang terjadi.
Siska:
Iya, Mbak.
Nadia menaruh ponsel ke tas kecil. Ia mengambil kunci rumah, lalu menatap meja makan untuk terakhir kali.
Ada rasa sesak yang hampir membuatnya kembali duduk.
Selama bertahun-tahun, meja makan itu adalah tempat ia menunggu. Menunggu Farhan pulang. Menunggu anak-anak selesai main ponsel. Menunggu Mama Meri berhenti mengomel. Menunggu ada yang memuji makanannya. Menunggu ada yang menyadari ia juga manusia.
Malam ini, ia berhenti menunggu.
Nadia mematikan kompor, menutup semua makanan, lalu keluar rumah.
Di depan pagar, Bu Yayah, tetangga sebelah, sedang menyapu sisa kembang api. Perempuan itu menoleh ketika melihat Nadia.
“Mbak Nadia, mau ke mana malam-malam? Farhan belum pulang?”
Biasanya Nadia akan tersenyum dan berbohong. Biasanya ia akan berkata Farhan lembur, anak-anak bersama neneknya, semuanya baik-baik saja.
Tapi malam ini, mulutnya tidak mau lagi bekerja untuk menutupi kebusukan orang lain.
“Saya mau jemput keluarga saya, Bu,” jawab Nadia.
Bu Yayah menatap baju rapi dan wajah pucat Nadia, lalu pelan-pelan berhenti menyapu.
“Ada apa?”
Nadia tersenyum tipis. “Nanti juga Ibu dengar.”
Ia berjalan keluar gang dan memesan ojek online. Selama menunggu, Nadia membuka lagi pesan dari nomor aneh itu. Tidak ada riwayat yang bisa dibuka. Panggilan tadi seperti tidak pernah terjadi. Nomor 020-2056-0000 tidak bisa ditelepon balik.
Nadia mencoba menekan panggil.
Tidak tersambung.
Ia menatap layar. “Raka. Rani.”
Nama itu terasa asing di lidah, tapi anehnya membuat dadanya hangat.
Kalau semua yang mereka katakan benar, berarti ia punya masa depan. Bukan masa depan bersama Farhan. Bukan bersama Dimas dan Dinda. Masa depan lain, dengan anak-anak yang benar-benar mencintainya, cucu-cucu yang menangis karena merindukannya.
Pikiran itu membuat Nadia nyaris goyah.
Apa mungkin?
Apa mungkin perempuan yang bertahun-tahun disebut mandul ini suatu hari akan dipanggil ibu, lalu nenek, oleh darah dagingnya sendiri?
Motor ojek berhenti di depannya.
“Bu Nadia?”
Nadia mengangguk dan naik.
“Tujuan Restoran Bale Rasa, ya?”
“Iya.”
Motor melaju membelah jalan yang ramai. Lampu-lampu Lebaran berkelip di depan toko. Orang-orang tertawa membawa parsel. Beberapa keluarga keluar dari masjid dengan wajah bahagia.
Nadia memegang tasnya erat-erat.
Semakin dekat ke restoran, semakin dingin tangannya. Namun di balik dingin itu, ada sesuatu yang tumbuh.
Bukan ketakutan.
Amarah.
Ia teringat semua malam saat Farhan pulang terlambat dan ia memilih percaya. Semua pesan singkat yang dijawab dengan kata "rapat". Semua Lebaran ketika ia sibuk menyiapkan hidangan sementara namanya hilang dari foto keluarga. Potongan-potongan kecil itu dulu ia simpan sebagai ketidaksengajaan. Sekarang, di atas motor yang bergetar, semuanya tersusun menjadi satu garis lurus.
Jika malam ini ia tetap diam, besok mereka akan menyebut diamnya sebagai persetujuan.
Ketika motor berhenti di depan Bale Rasa, Nadia turun, membayar, lalu berdiri beberapa detik di depan pintu kaca.
Dari dalam terdengar tawa.
Ia mengenali tawa Farhan.
Nadia mendorong pintu.
Pelayan menyambutnya dengan senyum. “Selamat malam, Bu. Ada reservasi?”
Nadia menatap ke arah ruang keluarga di bagian dalam. Dari celah pintu setengah terbuka, ia melihat kerudung krem Rania.
“Ada,” jawab Nadia.
Suaranya tenang sekali.
“Saya istrinya Farhan Pradipta.”
Bab 3
Pelayan itu tampak ragu.
Senyumnya tetap ada, tapi matanya bergerak cepat dari wajah Nadia ke ruang keluarga di dalam. Mungkin ia sudah melihat rombongan Farhan sejak tadi. Mungkin ia juga mendengar mereka tertawa seperti keluarga utuh.
“Bapak Farhan ada di ruang Melati, Bu,” katanya akhirnya.
“Saya tahu.”
Nadia berjalan melewatinya.
Setiap langkah terasa aneh. Tidak berat, tidak ringan. Seperti tubuhnya bergerak sendiri sementara pikirannya berdiri beberapa meter di belakang, mengamati semuanya dari jauh.
Ruang Melati punya pintu kayu dengan kaca buram. Dari luar, suara tawa terdengar jelas. Suara Mama Meri paling keras. Suara Dinda menyusul. Lalu suara Rania, lembut, dibuat sedikit manja.
“Mas Farhan, jangan ambilkan aku banyak-banyak. Aku nanti gemuk.”
“Kamu dari dulu begitu,” jawab Farhan.
Nadia berhenti.
Dari dulu.
Dua kata itu kecil, tapi menusuk.
Berapa lama “dari dulu” itu? Sebelum Farhan menikah dengannya? Saat ia masih percaya bahwa Farhan memilihnya karena tulus? Saat ia menggendong Dimas yang demam semalaman, sementara Farhan katanya lembur?
Nadia mendorong pintu.
Semua suara berhenti hampir bersamaan.
Ruang itu luas, meja bundar besar di tengahnya penuh makanan. Ada gurame bakar, sate maranggi, sop iga, udang saus Padang, beberapa piring yang sudah kosong, dan kue-kue Lebaran. Di sudut ruangan ada speaker kecil memutar lagu religi pelan.
Farhan duduk di kursi utama, kemejanya rapi, wajahnya segar. Rania di sebelah kanan Farhan. Mama Meri di sebelah kiri Rania. Pak Hendra duduk dengan santai, tusuk gigi di tangan. Dimas dan Dinda berdampingan, masih memegang ponsel.
Mereka semua menatap Nadia seperti melihat hantu.
Yang pertama berdiri adalah Dinda.
“Nadia?”
Panggilan itu keluar begitu saja. Bukan “Bu”. Bukan “Mama”. Hanya Nadia.
Rania cepat-cepat menurunkan sendok. Wajahnya berubah kaget, lalu sedih, lalu canggung. Pergantian ekspresi itu begitu rapi sampai Nadia hampir ingin bertepuk tangan.
Farhan berdiri setengah. “Nad? Kamu kenapa ke sini?”
Nadia menatapnya.
Pertanyaan bagus.
Seharusnya ia yang bertanya begitu. Kenapa suaminya ada di sini? Kenapa keluarganya makan malam Lebaran bersama perempuan lain? Kenapa ia dibiarkan sendirian dengan masakan dingin?
Tapi Nadia tidak menjawab.
Ia berjalan masuk dan menutup pintu di belakangnya.
Mama Meri langsung pulih lebih dulu. “Nadia, kamu ini apa-apaan? Datang tidak bilang-bilang. Bikin kaget orang saja.”
Nadia tersenyum tipis. “Kalau bilang dulu, nanti Mama sempat pindah tempat.”
Wajah Mama Meri mengeras.
Pak Hendra menaruh tusuk gigi. “Jaga bicaramu. Ini malam Lebaran.”
“Saya tahu, Pak.” Nadia melihat meja. “Makanya saya masak dari subuh.”
Tidak ada yang menjawab.
Dimas mendengus. “Kalau sudah masak, ya makan saja di rumah. Kenapa harus nyusul ke sini?”
Nadia menoleh kepadanya.
Anak laki-laki itu sudah hampir setinggi Farhan. Dulu, saat pertama kali datang ke rumah, Dimas kecil takut tidur sendiri. Nadia duduk di samping kasurnya tiga malam berturut-turut sampai anak itu berani memejamkan mata. Ia pernah memandikan Dimas saat campak, pernah menjual gelang emas tipisnya untuk membayar uang pangkal sekolah.
Sekarang Dimas menatapnya seperti pengganggu.
“Karena keluarga saya ada di sini,” jawab Nadia.
Dinda memutar mata. “Drama banget.”
Rania cepat menyentuh tangan Dinda. “Dinda, jangan begitu. Bagaimanapun, Tante Nadia sudah membesarkan kalian.”
Tante.
Nadia mendengar kata itu dengan jelas.
Dinda tidak membantah Rania. Ia hanya menunduk, bibirnya mengerucut.
Nadia mengalihkan pandangan ke Rania. “Terima kasih sudah mengingatkan dia.”
Rania tersenyum lemah. “Mbak Nadia, aku bisa jelaskan. Ini bukan seperti yang Mbak pikirkan.”
“Aku belum bilang apa yang kupikirkan.”
Senyum Rania membeku.
Farhan menarik napas. “Nad, jangan mulai. Kita bicara di rumah.”
“Kita punya rumah?” tanya Nadia pelan.
Farhan mengernyit. “Apa maksudmu?”
“Rumah itu tempat orang pulang,” kata Nadia. “Malam ini kalian semua memilih pulang ke sini.”
Mama Meri memukul meja pelan. “Sudah. Jangan bikin malu. Rania ini sendirian. Kasihan. Tidak ada keluarga yang menemani malam takbiran. Kami cuma makan bersama.”
“Rania sendirian?” Nadia menatap Rania dari ujung kerudung sampai tas mahal di kursinya. “Bukannya ada suami orang, dua anak orang, dan mertua orang di sini?”
Rania langsung menunduk. Matanya berkaca-kaca.
Hebat, pikir Nadia.
Air mata perempuan itu cepat sekali datang.
“Mbak, aku tidak pernah bermaksud mengambil siapa pun,” ucap Rania lirih. “Aku cuma diundang Mama. Aku juga tidak enak menolak.”
Mama Meri langsung membela. “Betul. Mama yang ajak. Kamu jangan salahkan Rania. Dia perempuan baik-baik.”
Nadia tertawa kecil. “Perempuan baik-baik duduk di sebelah suami orang saat istrinya ditinggal sendirian di rumah?”
“Nadia!” Farhan membentak.
Ruangan hening.
Nadia menatap suaminya. Dulu, bentakan Farhan cukup untuk membuatnya diam. Ia akan langsung takut suasana memburuk. Ia akan meminta maaf meski tidak tahu salahnya apa.
Malam ini, bentakan itu hanya terdengar lucu.
“Kenapa?” tanya Nadia. “Takut aku bicara terlalu jelas?”
Farhan mendekat satu langkah. “Kamu salah paham.”
“Kalau begitu jelaskan.”
“Rania istri almarhum sahabatku. Aku punya tanggung jawab moral.”
“Tanggung jawab moral itu mematikan ponsel, membohongi istri, dan membawa seluruh keluarga makan Lebaran bersama dia?”
Farhan terdiam.
Mama Meri berdiri. “Kamu itu tidak punya hati. Rania sudah menderita. Suaminya meninggal, hidupnya tidak mudah.”
“Saya juga tidak mudah, Ma.”
“Kamu punya suami!”
Nadia menatap Farhan. “Punya?”
Satu kata itu membuat Farhan memalingkan wajah.
Rania mengusap sudut matanya. “Mbak Nadia, kalau kehadiranku membuat Mbak tidak nyaman, aku minta maaf. Aku bisa pulang sekarang.”
Ia bergerak seperti hendak berdiri.
Dinda langsung memegang tangannya. “Tante Rania jangan pergi. Tante enggak salah.”
Dimas ikut bicara. “Iya. Yang bikin ribut bukan Tante.”
Nadia melihat tangan Dinda yang menggenggam tangan Rania.
Terlalu akrab.
Terlalu alami.
Kalimat Raka kembali berdengung di telinganya.
Dimas dan Dinda itu bukan anak kerabat jauh. Mereka itu anak—
Nadia menelan rasa pahit.
Belum. Ia belum punya bukti.
Malam ini cukup satu luka dulu.
Ia berjalan ke kursi di sebelah Farhan, kursi yang tadi dipakai Rania. Semua orang mengikuti gerakannya dengan mata.
“Bangun,” kata Nadia.
Rania mendongak. “Maksud Mbak?”
“Itu kursiku.”
Rania pucat. “Aku tidak tahu.”
“Sekarang sudah tahu.”
Farhan meraih lengan Nadia. “Jangan kekanak-kanakan.”
Nadia menatap tangan Farhan di lengannya, lalu menatap mata suaminya. “Lepaskan.”
Nada suaranya tidak keras. Justru karena terlalu tenang, Farhan tampak terkejut. Perlahan ia melepas.
Rania berdiri dengan mata basah. “Tidak apa-apa, Mas. Biar aku pindah.”
Mas.
Nadia duduk di kursi itu sebelum emosinya meledak. Ia mengambil gelas kosong, menuang air, lalu minum seteguk.
Semua orang masih berdiri atau membeku.
“Silakan lanjut makan,” kata Nadia. “Katanya ini cuma makan biasa, kan?”
Tidak ada yang bergerak.
Nadia menaruh gelas.
“Atau memang ada yang tidak biasa?”
Di luar ruang Melati, beberapa pelayan mulai melirik karena suara mereka meninggi. Dari celah pintu, Nadia melihat seseorang berhenti. Mungkin tamu lain. Mungkin Siska. Mungkin siapa saja.
Bagus.
Selama bertahun-tahun, semua penghinaan terjadi di balik pintu rumah.
Malam ini, pintunya terbuka.
Nadia melihat Dinda menggenggam ujung taplak meja. Anak itu takut, tapi tidak berani membantah siapa pun. Dimas menatap piringnya, rahang keras seperti Farhan saat marah. Rania justru menunduk dengan wajah terluka, seolah Nadia yang datang merampas kebahagiaannya.
Pemandangan itu membuat Nadia semakin sadar: mereka semua sudah punya peran. Ia satu-satunya orang yang baru membaca naskahnya malam ini.
Mama Meri menunjuk Nadia. “Kalau kamu masih punya malu, pulang sekarang.”
Nadia tersenyum.
“Malu itu seharusnya milik orang yang berbohong, Ma.”
Farhan menahan rahang. “Nadia, cukup.”
“Belum,” kata Nadia.
Ia mengambil ponsel, membuka story Siska, lalu meletakkannya di tengah meja.
“Aku mau dengar satu orang saja di meja ini menjelaskan. Kenapa aku, istri sah Farhan, diminta makan sendiri di rumah, sementara kalian merayakan malam Lebaran di sini bersama Rania?”
Tidak ada jawaban.
Hanya wajah-wajah yang dulu ia sebut keluarga, kini menatapnya seperti musuh.
Nadia tahu, setelah malam ini, tidak ada jalan pulang.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!