...PANGERAN XAVIER...
...PUTRI AZURA...
...WESSEL AIDEN...
...(Pangeran Utara)...
...ORION...
...ELISH...
...(Putri perdana menteri)...
Sampai sini dulu yang guys aku kenalin tokoh-tokohnya. Nanti aku tambahin. Semoga berkenan di hati kalian🙏
Yuk ikutin kisah pengeran Xavier dan Putri Azura yuk. Semoga kalian suka ya🤗
Buat yang baru baca ini, jangan lupa baca juga "Brothers secret desire" ya😇
Selamat membaca🙃
Hari ini adalah hari besar bagi dua kerajaan. Kerajaan Barat dan Utara. Putra Mahkota Xavier akan menikah dengan sang putri mahkota, Azura. Seluruh istana dipenuhi kesibukan. Para pelayan hilir mudik membawa gaun, bunga dan perhiasan, sementara para prajurit berjaga ketat di setiap sudut aula kerajaan. Para bangsawan dari berbagai wilayah juga mulai memenuhi istana untuk menyaksikan pernikahan politik terbesar tahun ini.
Di tengah kemegahan itu, Azura duduk diam di depan cermin kamarnya. Gaun putih keperakan yang melekat di tubuhnya terlihat begitu indah, namun tatapan gadis itu kosong. Tidak ada senyum bahagia seperti gadis-gadis pada umumnya yang akan menikah. Jari-jarinya justru gemetar pelan di atas pangkuannya.
"Putri, waktunya menuju aula," ucap salah satu pelayan hati-hati.
Azura mengangguk pelan sebelum berdiri. Langkahnya terasa berat. Kepalanya dipenuhi banyak hal, peringatan dari kerajaan utara, ancaman untuk orang yang ia sayangi, dan rasa bersalah yang semakin menyesakkan dadanya setiap kali mengingat tatapan kekecewaan Xavier.
Saat menyelamatkannya di perbatasan barat beberapa bulan lalu, Xavier tidak pernah memperlakukannya dengan buruk. Sampai hari di mana utusan Utara datang dan dia maju sebagai putri yang akan dijodohkan dengan laki-laki itu.
Azura masih ingat jelas bagaimana ekspresi wajah Xavier serta Akari, Sabella dan yang lain, karena mereka telah menganggapnya sebagai keluarga sendiri. Sayangnya, Emely yang mereka kenal, ternyata adalah seorang putri dari Kerajaan Utara.
Azura menghentikan langkahnya sejenak di depan pintu aula, mengatur nafasnya dan tersenyum angkuh seperti biasa ia perlihatkan ke orang-orang. Beberapa detik kemudian pintu aula besar tersebut terbuka perlahan. Semua tamu langsung berdiri saat Azura berjalan masuk. Langkahnya anggun, Mahkota kecil di kepalanya berkilau terkena cahaya lampu kristal.
Di ujung aula, Xavier berdiri tegap dengan pakaian kebesaran Kerajaan berwarna hitam dan emas. Tatapan pria itu langsung tertuju padanya. Tak ada senyum. Dingin, datar dan penuh kebencian. Azura jelas merasakan itu. Namun dia tetap tersenyum. Sudah sejauh ini, tidak boleh mundur. Tidak apa-apa pangeran Xavier membencinya. Toh semasa dia hidup dia sudah terbiasa di benci. Kebencian dan rasa jijik terhadapnya adalah makanannya sehari-hari di Utara.
Statusnya mungkin seorang putri mahkota, tapi sebenarnya, dia adalah aib Kerajaan Utara. Itulah alasannya kenapa dia yang diutus menikahi pangeran Xavier dan menjadi mata-mata. Karena kalau dia mati, tidak ada yang akan peduli.
Azura berjalan hingga berhenti tepat di hadapan Xavier. Jarak mereka begitu dekat, namun terasa seperti dipisahkan oleh jurang yang tidak bisa dijangkau.
Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara.
Tatapan Xavier turun ke wajah Azura dengan dingin. Dingin sekali. Tidak ada lagi kelembutan yang dulu selalu pria itu tunjukkan setiap kali memandangnya. Semua telah hilang sejak identitas aslinya terbongkar.
Azura menahan sesak di dadanya.
Dia masih mengingat malam itu dengan jelas. Malam ketika para utusan Kerajaan Utara datang ke istana Barat membawa lambang kerajaan mereka. Xavier yang awalnya tersenyum padanya perlahan berubah kaku saat Azura melangkah maju dan memberi hormat pada utusan tersebut. Wajah Xavier saat itu benar-benar berubah.
"Kau senang, bisa menikah denganku?" bisik Xavier di telinganya. Suaranya jelas mencibir.
Azura tersenyum. Ia harus bisa bertahan. Tidak apa-apa Xavier membencinya. Dia harus menjalankan misi, karena ada orang lain yang paling penting dalam hidupnya yang harus dia selamatkan.
"Semua perempuan akan senang di hari pernikahan mereka pangeran." balasnya, menatap Xavier dengan berani.
Dia bukan lagi Emely yang ketakutan tiap kali mendengar suara keras, atau melihar orang asing. Bukan lagi sosok lemah yang akan bersembunyi di balik punggung Xavier saat merasa terancam, dan itu membuat Xavier mendengus keras. Merasa kalau dia benar-benar telah di tipu oleh sosok yang berpura-pura lemah ini.
"Hebat, aku tidak pernah bertemu dengan wanita menjijikkan sepertimu. Kau memang yang paling menjijikkan di antara semua wanita. Hebat, hebat sekali."
Hinaan itu Azura telan mentah-mentah dan tersenyum.
"Pangeran, semua orang sedang menatap ke sini. Tolong jangan bicara lagi." katanya.
Xavier menatap Azura beberapa detik setelah ucapan itu keluar dari bibir gadis tersebut. Tatapan abu-abunya semakin dingin, penuh amarah yang ditahan kuat-kuat di depan seluruh bangsawan.
Lalu perlahan, senyum tipis muncul di wajah pria itu.
Namun senyum itu sama sekali tidak hangat.
"Oh? Sekarang kau peduli pada pandangan orang lain?" bisiknya pelan.
"Bukankah sejak awal kau memang pandai memainkan sandiwara di depan semua orang?"
Azura menggigit bagian dalam bibirnya pelan. Ia tahu Xavier sengaja ingin menyakitinya. Dan jujur saja, pria itu berhasil.
Pendeta kerajaan akhirnya mulai membacakan sumpah pernikahan. Suaranya menggema memenuhi aula besar yang megah. Semua orang tampak bahagia melihat penyatuan dua kerajaan besar itu, tanpa tahu kalau kedua mempelai di altar saling dipenuhi luka dan kebencian.
"Atas restu dua kerajaan, hari ini Putra Mahkota Xavier akan resmi mempersunting Putri Azura."
Tepuk tangan terdengar riuh.
Azura menunduk perlahan, berusaha mengabaikan tatapan dingin para bangsawan barat yang jelas tidak menyukainya. Mereka mungkin tersenyum di depan, tapi Azura tahu, tidak ada di antara mereka yang menyukai pernikahan ini.
"Ulurkan tangan anda, putri."
Azura perlahan mengangkat tangannya. Xavier menatap jemari kecil itu seolah jijik menyentuhnya, namun tetap menggenggamnya demi prosesi.
Sentuhan itu membuat hati Azura terasa nyeri. Dulu tangan yang sama selalu melindunginya.
Saat dia ketakutan karena badai malam, Xavier menggenggam tangannya sambil berkata bahwa tidak ada yang akan menyakitinya. Saat Azura demam karena racun yang masih tersisa di tubuhnya, Xavier bahkan berjaga semalaman di samping tempat tidurnya.
Dan sekarang ...
Pria itu mungkin sedang berpikir seandainya dia tidak pernah menyelamatkannya.
"Dengan ini, kalian resmi menjadi pasangan suami istri."
Sorakan memenuhi aula. Para bangsawan berdiri memberi tepuk tangan meriah, sementara musik kerajaan mulai dimainkan.
Xavier melepaskan tangan Azura secepat mungkin. Gerakan kecil itu tidak luput dari perhatian Azura, namun gadis itu tetap mempertahankan senyumnya.
"Lihat," bisik Xavier lagi tanpa menoleh padanya,
"Mereka semua berpikir ini pernikahan yang indah."
Azura diam.
"Tapi aku bersumpah," lanjut pria itu pelan, suaranya rendah dan menusuk,
"Aku akan membuatmu menyesal telah datang ke hidupku, Azura."
nafas Azura tercekat sesaat.
Ancaman itu terdengar nyata. Sangat nyata. Namun di balik rasa sakit yang menghimpit dadanya, Azura tetap tersenyum anggun pada para tamu undangan, seolah tidak terjadi apa-apa. Karena sejak awal, dia tahu akhir dari semua ini tidak akan bahagia.
Pesta pernikahan berlangsung meriah. Aula istana yang megah itu dihiasi ribuan lilin dan karangan bunga langka yang harumnya memenuhi seluruh ruangan. Para bangsawan, utusan kerajaan sahabat, hingga pejabat tinggi dari dua kerajaan saling bersalaman, tersenyum, dan bersulang demi kedamaian yang kini terikat lewat pernikahan politik itu.
Namun, di tengah kemeriahan itu, tak banyak yang menyadari ada ketegangan antara pengantin yang bisa meledak kapan saja.
Xavier berdiri di sisi Azura, wajahnya tetap datar. Setiap kali ada tamu mendekat memberi ucapan selamat, ia hanya mengangguk sekilas, sesekali tersenyum tipis yang sama sekali tidak sampai ke matanya.
Azura memaksakan senyumnya, menyambut setiap tamu dengan sopan, menunduk anggun, dan menjawab ucapan selamat dengan nada lembut namun hati-hati, seolah sedang berjalan di atas tepi jurang yang curam.
Satu per satu kerabat dan sahabat Xavier berjalan ke arah mereka. Halver mendekat, menatap keduanya bergantian dengan tatapan yang sulit diartikan, lalu menepuk bahu Xavier singkat sebelum beralih menatap Azura dengan pandangan menyelidik. Basten dan Edel mengucapkan selamat dengan nada sopan namun canggung, tak ada lagi kehangatan seperti saat mereka menganggapnya sebagai Emely yang lemah dan butuh perlindungan.
Saat giliran Akari dan Sabella beserta suami mereka, Denis dan Ansel mendekat, jantung Azura seolah berhenti berdetak sesaat. Ia menatap wajah dua wanita yang dulu pernah begitu dekat dengannya, yang dulu sering membawakan makanan enak, menemani saat ia takut sendirian, dan memeluknya erat seolah ia saudari kandung mereka sendiri.
Kini, tatapan itu sama sekali berbeda. Tidak ada kehangatan, tak ada senyum, bahkan tidak ada kebencian yang meledak-ledak. Yang ia lihat hanyalah kekecewaan yang begitu dalam, dingin, dan jarak yang tiba-tiba terasa begitu jauh
Mata Akari menatapnya lekat-lekat, seolah sedang melihat orang asing yang pernah masuk ke dalam rumahnya lalu menusuk punggungnya diam-diam. Sabella menundukkan pandangan sesaat, lalu mengangkatnya kembali dengan ragu, namun tidak ada keinginan untuk menyapa lebih dari sekadar sopan santun.
"Selamat atas pernikahannya, tuan putri Azura," ucap Akari datar, suaranya jauh lebih dingin dari biasanya, tidak ada sapaan sayang seperti dulu.
Di sebelahnya, Denis menatapnya tajam, matanya menyiratkan kewaspadaan tinggi.
"Semoga kau bahagia dengan keputusanmu." katanya, lebih seperti menyampaikan kekecewaannya kepada Azura.
Ansel hanya diam, menggenggam pinggang Sabella erat seolah ingin menjauhkan istrinya dari wanita yang dulu mereka tolong dan percayai itu. Sabella akhirnya membuka mulut, suaranya pelan dan berat.
"Aku mengira ... Aku mengenalmu. Ternyata, semuanya hanya kepura-puraan yang sangat sempurna. Semoga kamu bahagia dengan peranmu ini."
Respon Azura hanya tersenyum percaya diri, berusaha menunjukkan bahwa dia tidak terpengaruh sama sekali.
"Terimakasih, aku pasti bahagia."
Xavier yang berdiri di sebelahnya hanya tertawa kecil sinis, suaranya rendah namun cukup terdengar oleh mereka berempat.
Akari dan Sabella hanya menatapnya sekali lagi dengan tatapan yang penuh kekecewaan itu, lalu berbalik dan pergi, berjalan menjauh tanpa menoleh lagi. Denis dan Ansel mengikuti di belakang mereka, seolah ingin segera menjauh dari wanita yang dulu mereka anggap keluarga itu.
Azura merasakan dadanya semakin sesak, namun ia tetap berdiri tegak, memaksakan senyum itu tetap terukir meski matanya terasa panas dan perih. Ia harus kuat. Ia tidak boleh jatuh sekarang. Masih ada misi yang harus diselesaikan, masih ada nyawa orang yang ia cintai P bergantung padanya.
Pesta berlanjut hingga larut malam hingga para tamu dan pejabat istana satu persatu meninggalkan aula istana. Xavier dan Azura akhirnya diantar oleh dua pelayan istana menuju kamar pengantin yang terletak di sayap paling dalam istana, ruangan yang paling megah dan paling tertutup dari gangguan luar.
Langkah kaki mereka menyusuri lorong panjang yang sepi dengan cahaya remang. Suasana begitu hening, hanya terdengar suara langkah kaki mereka berdua dan detak jantung Azura yang semakin cepat dan kencang.
Azura jujur merasa sangat gugup. Tangannya dingin dan sedikit gemetar meski ia sudah mencoba sekuat tenaga untuk menenangkan dirinya. Ia tahu betul seperti apa perasaan Xavier padanya sekarang, penuh kebencian, rasa jijik, dan rasa dikhianati yang mendalam.
Ia juga tahu betul, tidak akan ada malam pertama seperti pasangan suami istri lainnya. Tidak akan ada kelembutan, tidak akan ada kebersamaan yang hangat. Ia sudah bersiap untuk tidur sendirian di sudut kamar, sementara Xavier mungkin akan pergi ke kamar lain atau setidaknya menjauhinya sejauh mungkin.
Namun, saat pintu kamar besar itu tertutup rapat dan terkunci di belakang mereka, seketika suasana berubah menjadi sangat mencekam. Xavier tidak berkata sepatah kata pun. Ia tidak bergerak ke tempat tidur besar yang tertutup kain sutra putih, tidak juga berbalik meninggalkan ruangan itu seperti dugaan Azura.
Tiba-tiba, Xavier berbalik dengan gerakan kilat. Sebelum Azura sempat bereaksi atau bahkan menarik napas panjang, tangan kasar Xavier sudah mencengkeram kuat lehernya, mengangkat tubuhnya sedikit hingga kakinya melayang di atas lantai.
"Ugh!"
Azura terkejut hebat, napasnya tersumbat seketika. Kedua tangannya langsung berusaha merenggangkan cengkeraman itu, namun kekuatan Xavier jauh lebih besar darinya, cengkeramannya begitu kuat hingga terasa seperti baja yang mencekik nyawanya perlahan namun pasti.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!