Indonesia
NovelToon NovelToon

Purdeb

#1

Gema langkah kaki yang terburu-buru di atas lantai marmer seolah menjadi melodi pembuka bagi kehancuran yang sebentar lagi tiba.

Kompleks mansion mewah keluarga Joseph yang berdiri megah di kawasan elite Los Angeles malam itu diselimuti sunyi yang mencekam.

Namun, di dalam kamar utama yang dirancang dengan kemewahan paripurna—dilengkapi lampu gantung kristal yang memendarkan cahaya temaram dan tempat tidur berukuran king size yang bersepuh sutra—sebuah badai besar sedang mengoyak fondasi pernikahan yang baru seumur jagung.

"Dia hamil, David! Dia mengaku hamil anakmu! Kamu mengkhianatiku, brengsek!!!"

Suara lengkingan penuh amarah dan rasa sakit itu memecah keheningan malam. Amieyara Walker berdiri dengan napas memburu, gaun pengantin putihnya yang indah dan anggun kini terasa seperti kain yang mencekik lehernya.

Air mata kemarahan mengalir deras, merusak riasan wajahnya yang sempurna.

Hanya beberapa jam yang lalu, dia berdiri di altar, mengikrarkan janji suci di hadapan ratusan pasang mata kaum borjuis Los Angeles.

Kini, di kamar pengantin yang seharusnya menjadi saksi malam pertama mereka, kenyataan pahit menghantamnya tanpa ampun.

David Joseph, pria berusia 24 tahun dengan setelan jas pernikahan yang sudah setengah tanggal, melangkah mundur dengan wajah pias.

Ketampanannya yang biasa dipuja-puja kini tampak menyedihkan di bawah sorot mata Yara yang menghujam tajam.

"Maafkan aku, Yara... Maafkan aku," ratih David, mencoba menggapai jemari istrinya, namun segera ditepis dengan kasar. "Dia yang menggodaku, Yara! Ini... ini juga bukan sepenuhnya salahku! Kau yang selalu menolakku, kau yang selalu mengatakan ingin melakukannya setelah menikah! Dan sebagai pria normal, aku..."

Tawa hambar dan sinis lolos dari bibir Yara, memotong kalimat David dengan telak. Tatangannya dipenuhi rasa muak yang tak terhingga.

"Dan sekarang kau menumpahkan kesalahanmu padaku? Bajingan kau!"

Wajah David yang semula dipenuhi rasa bersalah tiba-tiba mengeras.

Kilat kemarahan dan harga diri pria yang terluka mulai mengambil alih akal sehatnya.

Tekanan sebagai pewaris tunggal keluarga Joseph, ditambah dengan rasa frustrasi yang terpendam selama masa pertunangan mereka, meledak seketika.

Dia menatap Yara dengan tatapan merendahkan, tatapan yang sama dengan yang sering Yara terima dari orang-orang luar yang membencinya.

"Kau terlalu sok suci, Yara!" teriak David, suaranya naik beberapa oktav, menggema di dinding-dinding kamar yang luas.

"Bukankah kau hanya gadis panggilan di luar sana? Seluruh kampus tahu siapa kau! Kenapa setiap kuajak bercinta kau tidak pernah mau? Kenapa berlagak perawan di depanku?!"

PLAK!

Tamparan keras mendarat di pipi kiri David, menyisakan bekas kemerahan yang kontras dengan kulitnya yang putih.

Suara hantaman itu begitu nyaring, menyisakan kesunyian yang mencekam di antara keduanya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Matahari pagi Los Angeles bersinar terik, memantulkan kilau menyengat di atas deretan mobil sport mewah yang berjajar di pelataran parkir salah satu universitas paling bergengsi di kota itu.

Tempat ini adalah wadah bagi kaum borjuis muda; sebuah ekosistem yang melelahkan di mana strata sosial ditentukan oleh isi dompet orang tua, merk pakaian yang melekat di tubuh, dan seberapa lihai seseorang bersilat lidah dalam pusaran gosip kaum elite.

Sebuah sedan sport hitam metalik meluncur mulus, membelah keangkuhan pelataran parkir sebelum akhirnya berhenti di area khusus.

Pintu pengemudi terbuka secara perlahan, menarik perhatian beberapa pasang mata yang memang selalu haus akan drama.

Dari dalam mobil, turunlah seorang gadis dengan keanggunan yang intimidatif.

Amieyara Walker. Di usianya yang baru menginjak 24 tahun, Yara memiliki segalanya yang mampu membuat pria bertekuk lutut dan membuat wanita terbakar cemburu.

Perawakan fisiknya begitu sempurna, definisi nyata dari keindahan yang matang. Tubuhnya tinggi semampai dengan lekuk yang berisi dan proporsional.

Pagi itu, dia memilih mengikat tinggi rambut hitam pekatnya—gaya high ponytail yang tegas—memamerkan leher jenjangnya yang mulus tanpa cela serta rahangnya yang kokoh.

Cuiittt... cuiiiit!

Suara siulan nakal yang bernada merendahkan langsung menyambut langkah pertamanya begitu dia menginjakkan kaki di koridor luar fakultas bisnis.

Suara siulan sampah itu mulai terdengar lagi, memecah ketenangan pagi. Yara tidak sudi menoleh. Dia hanya memutar bola matanya malas, mempertahankan ekspresi wajahnya yang sedingin es batu.

Di sekelilingnya, pandangan mata dari pria-pria sialan mesum kaya yang isi otaknya sangat miskin sudah mengarah padanya dengan tatapan lapar yang menjijikkan.

Yara sudah terbiasa digoda seperti itu sejak hari pertama dia mengajar dan belajar di tempat ini. Kakinya yang jenjang terus melangkah mantap menuju ruang kelas pagi.

"Here we go again," batin Yara sembari memperlebar langkahnya. Kampus yang hanya diisi oleh pria-pria kaya berotak selangkangan. Selama mereka tidak menyentuhku, tetaplah menatapku sampai bola mata mereka keluar. Menjijikkan.

Yara bukan sekadar mahasiswi biasa. Di balik penampilannya yang memikat, dia memegang posisi terhormat sebagai Asisten Profesor Bisnis karena kecerdasannya yang berada di atas rata-rata.

Namun, kampus ini terlalu dangkal untuk menghargai sebuah otak yang encer. Ditambah lagi, Yara tidak hanya mengajar; saat ini dia juga sedang mengambil kelas khusus di Fakultas Hukum pada universitas yang sama.

Dia adalah perpaduan antara kecantikan yang mematikan dan ambisi yang tak terbendung.

"Bisa denganku malam ini, Yara?"

Sebuah suara bariton yang sarat akan kesombongan menginterupsi langkahnya. Seorang pria, anak dari salah satu konglomerat papan atas Los Angeles, berdiri di depannya dengan senyum meremehkan sembari menyandarkan tubuhnya di dinding koridor.

Yara menghentikan langkahnya sejenak. Dia tidak tampak terkejut, apalagi takut. Malah, seulas senyum sinis yang sangat manis terukir di bibirnya yang dipoles lipstik tipis.

"Sorry, aku tidak tertarik denganmu yang masih anak mami," jawab Yara, suaranya terdengar lantang, bergema jernih di sepanjang koridor yang mulai ramai. "Bagaimana kalau dengan ayahmu saja? Setidaknya dia yang menghasilkan uang, bukan cuma bisa menghabiskannya seperti anak manja."

Oooohhhh!!!

Sorakan mesum dan tawa riuh langsung pecah dari kelompok pria yang duduk berkumpul di sekitar koridor itu.

Mereka menertawakan teman mereka yang baru saja diskakmat dengan telak oleh sang asisten profesor. Wajah pria yang menggoda Yara langsung berubah merah padam, menahan malu yang luar biasa.

Yara tidak memedulikan raut emosi pria itu. Dia malah mengibaskan rambut hitamnya yang diikat tinggi dengan gerakan anggun yang penuh kebanggaan.

Tindakan yang sengaja dia lakukan untuk semakin memanasi anak-anak manja tidak berguna yang suka menghabiskan uang orang tua dan merusak diri sendiri itu.

Yara tahu betul bagaimana cara menempatkan diri. Dia tidak butuh teman di kampus ini. Dia adalah serigala tunggal yang tahu tujuannya.

Namun, ketenangan itu kembali diusik saat dia melangkah mendekati area loker. Sekelompok mahasiswi dari kalangan sosialita kampus sudah berdiri menghadangnya dengan tatapan sinis.

"Waw, libur seminggu telah selesai. Sepertinya pel*cur kampus kita semakin cantik saja setelah masa tugasnya," sahut salah satu wanita dengan nada bertenaga cemburu yang kentara.

"Sok cantik," timpal yang lain dari belakang. "Murahan. Kaya sih kaya, tapi haus belaian pria."

Yara menarik napas pendek, lalu mengembuskannya perlahan. Dia sudah sangat terbiasa dengan hinaan kasar seperti itu.

Rumor mengenai dirinya sudah seperti air yang mengalir di universitas ini, tak pernah kering dan selalu diperbarui setiap waktu.

Semua orang tahu dia berasal dari keluarga Walker yang terpandang, namun kabar bahwa dirinya hanyalah anak haram hasil hubungan simpanan sang ayah sudah menjadi rahasia umum.

Namun, Yara tidak pernah tunduk. Dia tidak pernah malu dengan asal-usul yang tidak bisa dia pilih itu.

Dia percaya diri, dia sangat pintar, dan dia tidak mudah ditindas oleh siapapun. Rumor bahwa dia sama murahannya dengan ibunya sudah menjadi makanan kampus sehari-hari.

Perawakan sempurnanya dengan bentuk tubuh yang berisi dan menggoda selalu dijadikan bahan cemoohan egois oleh mereka yang menganggapnya sebagai gadis pelacur atau simpanan orang tua kaya.

Dan hari ini, setelah cuti selama seminggu penuh untuk menenangkan diri, predikat yang melekat pada namanya kembali bertambah.

Sebuah predikat baru yang jauh lebih liar dan mengerikan: Janda satu malam dari pria bernama David Joseph.

Pernikahannya yang megah dan mendadak dengan David Joseph seminggu lalu—yang awalnya dikira akan menjadi aliansi bisnis terbesar—kini menyisakan puing-puing gosip yang memuakkan.

Rumor gila yang beredar di antara para mahasiswa mengatakan bahwa Yara ditinggalkan oleh David di malam pertama mereka dikarenakan dia sudah tidak perawan, serta memiliki tubuh yang 'longgar dan kendor'.

Sebuah kebohongan menjijikkan yang sengaja dikonstruksi untuk menjatuhkan harga dirinya sedalam mungkin.

Dan Yara tahu persis dari mana muara racun itu berasal. Seluruh universitas mengetahui rumor gila tersebut dari mulut adiknya sendiri, Cinmocha Walker.

Caca, anak sah ayahnya yang juga berkuliah di kampus yang sama, dengan sengaja menyebarkan cerita palsu itu demi memuaskan rasa dengki.

Lebih menjijikkan lagi, David—si brengsek yang tidak tahu malu itu—kini kabarnya telah resmi menikah secara tertutup dengan sahabat Yara sendiri, Meliana karena kehamilan itu.

Dan ku doakan mereka bahagia di neraka, batin Yara, mencengkeram tali tasnya erat-erat hingga buku-jarinya memutih sejenak sebelum dia menguasai emosinya kembali.

Namun, apa Yara peduli dengan semua gunjingan yang berdengung di telinganya pagi ini? Tidak. Sama sekali tidak.

Yara melangkah melewati kerumunan wanita yang masih berbisik-bisik itu dengan kepala tegak dan tatapan mata yang menghujam lurus ke depan.

Biar saja namanya rusak di mata orang-orang dangkal ini. Biar saja rumor menjijikkan itu beredar liar hingga ke sudut-sudut kelas. Dia tidak akan repot-repot membuat klarifikasi atau merengek meminta keadilan.

Amieyara Walker bukan orang rendahan yang akan membuka aib orang lain ke publik demi membersihkan namanya sendiri.

Dia terlalu berkelas untuk berteriak-teriak menceritakan fakta yang sebenarnya—bahwa dialah yang meninggalkan David Joseph setelah tamparan keras di malam pertama mereka, bukan David yang meninggalkannya.

Dia membiarkan mereka menertawakannya sekarang, karena dia tahu, sebagai seorang calon pengacara, balas dendam terbaik tidak dilakukan dengan adu mulut di koridor kampus, melainkan dengan kehancuran yang legal, sunyi, dan mematikan di atas meja pengadilan kelak.

Dengan senyum dingin yang penuh teka-teki, Yara melangkah masuk ke dalam kelas, siap memulai harinya seolah badai Malam Pertama tidak pernah terjadi.

...🌷🌷🌷...

#2

Pagi hari di mansion mewah keluarga Valerio yang terletak di kawasan eksklusif Bel-Air, Los Angeles, menyuguhkan pemandangan yang berbanding terbalik dengan hiruk-pikuk penuh gunjingan di pelataran Universitas Los Angeles.

Di sini, di dalam ruang makan megah berlantai marmer Italia dengan langit-langit setinggi delapan meter, atmosfer yang tercipta begitu tenang, formal, dan sarat akan disiplin tingkat tinggi.

Cahaya matahari pagi menyusup masuk melalui jendela-jendela kaca besar, memantul pada set perak dan piring porselen berkualitas tinggi yang tertata rapi di atas meja makan kayu ek panjang.

Di ujung meja, duduk kepala keluarga yang sangat disegani di dunia bisnis internasional, Kensington Valerio. Pria itu memegang koran finansial pagi dengan tatapan mata yang tajam dan berwibawa.

Di sampingnya, sang istri, Audrey Valerio, duduk dengan keanggunan seorang sosialita kelas atas, jemarinya yang lentik dengan tenang menyesap cangkir teh kamomil.

Di hadapan mereka, duduk putra sulung mereka, Maximilian Valerio, pria muda berusia 20 tahun yang menjadi pusat perhatian pagi ini.

Tepat di seberang Max, saudari kembarnya yang cantik dan modis, Emme Valerio, sedang sibuk mengoles selai pada roti panggangnya dengan gerakan anggun.

Sementara di ujung meja yang lain, adik bungsu mereka, seorang remaja laki-laki bernama Ray Murphy Valerio, hanya memperhatikan kakak lakinya dengan tatapan separuh kagum dan separuh cemas.

Duk.

Kensington meletakkan cangkir kopinya ke atas tatakan porselen dengan ketukan yang cukup keras, memutus kesunyian yang membeku di ruangan itu. Pandangan matanya yang dingin langsung tertuju pada Max.

"Daddy tidak mau mendengar lagi masalahmu, Max," ucap Kensington, suaranya berat, dalam, dan tidak menerima bantahan sedikit pun.

Max yang sedang mengunyah sepotong daging asap hanya melirik ayahnya sekilas, mempertahankan ekspresi wajahnya yang datar tanpa riak. Dia tidak membantah, tidak juga membenarkan.

"Kemarin Daddy sudah mengirimkan mobil sport keluaran terbaru langsung ke Boston untuk mengganti mobil temanmu yang hancur itu. Dan jangan harap kamu bisa berulah lagi di sini," lanjut Kensington, melipat korannya dengan gerakan tegas.

"Daddy akan tetap mengawasimu dengan ketat. Kampus barumu di Los Angeles ini bukan taman bermain seperti tempat pelarianmu di Boston."

Audrey Valerio menatap putrinya, lalu beralih menatap Max dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa rindu sekaligus sedikit kekecewaan yang tertahan.

Maximilian adalah putra kebanggaannya. Dua tahun lalu, mereka dengan penuh rasa bangga melepas Max ke Boston untuk belajar di Harvard University.

Max dikirim ke sana bukan karena kekuatan uang atau nama besar Valerio, melainkan murni karena kepintarannya yang luar biasa, sebuah otak genius yang mampu menembus salah satu universitas paling kompetitif di dunia.

Di mata Audrey, Max selalu menjadi putra yang begitu baik, penurut, dan terbiasa mendengarkan serta menjalankan setiap nasihat orang tuanya dengan sempurna. Namun, kehidupan jauh dari pengawasan orang tua di pantai timur ternyata telah mengubah banyak hal. Max diam-diam menjalani kehidupan yang dinilai "liar" oleh standar kaku keluarga Valerio.

Liar dalam arti yang sebenarnya bagi seorang anak baik-baik: Max mulai merokok untuk meredakan tekanan akademisnya yang gila, dan ada beberapa tato baru yang kini tersembunyi di balik pakaiannya—sebuah bentuk pemberontakan visual atas ekspektasi tinggi yang selalu diletakkan di pundaknya.

Perawakan anak baik kebanggaan Mommy Audrey ternyata sudah berubah drastis secara lahiriah. Gaya pakaiannya yang dulu selalu rapi kini cenderung berantakan, santai, dan terkesan acuh tak acuh.

Namun, ada satu hal yang tidak pernah berubah dari seorang Maximilian Valerio: kepintarannya.

Otaknya tetap sekokoh batu karang, mempertahankan nilai-nilai tertingginya di Harvard tanpa cela. Pola hidupnya saja yang berantakan, akibat lingkungan pergaulan Boston yang keras dan egonya sebagai pria muda yang sedang mencari jati diri.

Dan puncaknya adalah insiden seminggu lalu yang membuat Kensington murka dan langsung menariknya pulang ke Los Angeles.

Max menghancurkan mobil sport milik salah satu teman sekampusnya di Boston hingga tak berbentuk.

Di mata orang tuanya, dan berdasarkan laporan resmi yang diterima Kensington, Max menghancurkan mobil itu karena mengamuk setelah kalah dalam taruhan balapan liar.

Kensington dan Audrey tidak pernah tahu fakta sebenarnya di balik insiden tersebut.

Mereka tidak tahu bahwa Max menghancurkan mobil itu dengan balok besi karena pria pemilik mobil tersebut bersenang-senang mengejeknya di depan umum, mengatakan bahwa Max adalah seorang 'banci' hanya karena di usianya yang sudah 20 tahun, Max masih mempertahankan keperjakaannya dan menolak untuk tidur dengan wanita-wanita murahan yang mengelilingi mereka.

Max memiliki prinsipnya sendiri, sebuah harga diri yang sangat tinggi yang tidak boleh diusik oleh siapapun.

Jika mereka menyebutnya lemah hanya karena dia menghargai dirinya sendiri, maka Max akan menunjukkan cara menghancurkan sesuatu dengan kekuatan penuh.

Meskipun gayanya berubah menjadi lebih berantakan dan dia mulai akrab dengan asap rokok, Max sebenarnya masih anak baik yang suka belajar.

Dia masih menghabiskan malam-malamnya dengan tumpukan buku bisnis dan ekonomi, memenuhi harapan terdalam orang tuanya untuk menjadi penerus takhta Valerio Corp.

"Makan sarapanmu, Max. Emme akan mengantarmu ke kampus hari ini agar kau tidak tersesat di hari pertamamu," ucap Audrey lembut, mencoba mencairkan ketegangan di meja makan.

Max menyeka bibirnya dengan serbet kain, lalu berdiri dari kursinya. "Aku bisa pergi sendiri, Mom. Terima kasih untuk sarapannya," jawab Max pendek.

Suaranya kini terdengar lebih dalam dan serak, sangat berbeda dengan suara remaja penurut yang diingat Audrey dua tahun lalu.

Ray Murphy, sang adik, hanya bisa memberikan isyarat kepalan tangan bersemangat di bawah meja, yang dibalas Max dengan senyum tipis—satu-satunya senyum tulus yang dia tunjukkan pagi itu sebelum melangkah keluar dari ruang makan mewah tersebut.

Beberapa puluh menit kemudian, di depan gerbang utama Universitas Los Angeles.

Suasana kampus pagi itu sedang berada di puncak keramaian. Namun, fokus perhatian sebagian besar mahasiswa, terutama para kutu buku dan mahasiswi yang gemar bergosip di Fakultas Bisnis, sedang teralih pada satu rumor panas yang beredar sejak kemarin.

Kabar tentang adanya seorang mahasiswa pindahan atau pertukaran pelajar dari Harvard University telah memicu spekulasi yang liar di kalangan mereka.

Mendengar kata 'Harvard', isi kepala para mahasiswa di kampus bisnis langsung merujuk pada satu stereotip yang mutlak.

Mereka berspekulasi bahwa anak baru ini pasti adalah seorang kutu buku sejati dengan kacamata berbingkai besar yang tebal, gaya rambut klimis yang disisir rapi ke samping, dan kemeja lengan panjang yang dikancingkan rapat sampai ke ujung leher, lengkap dengan buku tebal yang didekap di dada.

Mereka mengharapkan sosok pemuda culun yang membosankan namun berotak encer.

Namun, kenyataan yang muncul pagi itu menghantam ekspektasi mereka tanpa ampun.

Sebuah mobil sport yang dikendarai Max berhenti tidak jauh dari gerbang. Ketika pintu terbuka dan Maximilian Valerio melangkah keluar, atmosfer di sekitar gerbang kampus seolah membeku sesaat.

Tidak ada kacamata besar. Tidak ada kemeja yang dikancingkan sampai leher.

Max berdiri tegak dengan tinggi badan yang atletis dan tegap. Dia mengenakan baju kaos polos berwarna hitam yang pas di badan, menonjolkan bentuk dada dan lengannya yang kokoh hasil latihan fisik yang disiplin.

Celana jeans gelap yang sedikit pudar membungkus kaki panjangnya dengan sempurna, memberikan kesan kasual namun sangat maskulin.

Di salah satu tangannya, dia menyampirkan sebuah jaket kulit hitam dengan santai, sementara tas ransel hitamnya hanya dicangklongkan di satu bahu secara asal-usul, seolah membawa beban akademis ratusan kilo bukanlah hal yang berarti baginya.

Rambutnya ditata dengan gaya messy look yang terkesan berantakan namun justru menambah kesan karismatik dan liar pada wajah ketampanannya yang tegas.

Sepasang mata tajamnya menatap lurus ke arah koridor kampus, mengabaikan bisikan-bisikan yang langsung pecah di sekitarnya.

"Tunggu... itu anak pindahan dari Harvard?" bisik seorang mahasiswi di dekat air mancur, matanya tidak berkedip menatap langkah mantap Max.

"Sial, kupikir dia akan memakai kacamata tebal! Dia terlihat seperti model atau anggota geng motor kelas atas," sahut temannya dengan nada tertahan, menelan ludah melihat perawakan sempurna Max.

Max terus melangkah, membelah kerumunan mahasiswa yang perlahan memberi jalan padanya.

Dia bisa merasakan tatapan-tatapan penuh rasa ingin tahu, kekaguman, dan juga kecemburuan dari para pria di sekitarnya.

Namun, setelah melewati masa-masa keras di Boston, semua perhatian ini terasa hambar bagi Max. Langkah kakinya membawa dirinya langsung menuju gedung utama Fakultas Bisnis, tempat di mana dia harus melaporkan status kepindahannya hari ini.

Max mengembuskan napas panjang, menatap koridor fakultas baru dengan seringai tipis. Mari kita lihat seberapa menariknya tempat ini, batinnya sembari melangkah masuk.

#3

Aroma kopi yang pekat bercampur dengan wangi parfum mahal khas anak-anak borjuis Los Angeles memenuhi koridor utama gedung Fakultas Bisnis pagi itu.

Maximilian Valerio melangkah santai dengan jaket kulit yang tersampir di bahu kanan, membiarkan tas ranselnya tergantung asal di pundak yang lain.

Di tengah tatapan penuh selidik dan bisik-bisik penasaran dari para mahasiswa yang masih mengagumi perawakannya yang tegap, Max tetap mempertahankan ekspresi wajahnya yang acuh tak acuh.

Baginya, Universitas Los Angeles tidak lebih dari sekadar tempat persinggahan baru untuk memuaskan tuntutan sang ayah.

Namun, langkah kakinya terhenti ketika dua buah tepukan keras mendarat di bahu kirinya secara bergantian.

"Tunggu, demi tuhan... mata gue nggk salah lihat, kan? Ini beneran lo, Max?!"

Max menoleh, mendapati dua pemuda dengan pakaian modis sedang menatapnya dengan mata terbelalak tidak percaya.

Ingatannya berputar cepat, menyusuri memori beberapa tahun lalu sebelum dia dikirim ke Boston.

"Demon? Carter?" gumam Max, sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk sebuah senyuman maskulin yang samar.

"Wah, wah! Gila, kami bener-bener nggk menyangka kalau rumor tentang anak pindahan dari Harvard itu adalah lo, Max!" Carter berseru heboh, langsung merangkul pundak Max dengan akrab. "Kita benar-benar kembali satu kelas setelah lulus high school!"

Demon menggeleng-gelengkan kepalanya, menatap penampilan baru Max dari ujung kepala hingga ujung kaki.

"Sialan, lo berubah banyak, Bro. Terakhir kali gue lihat, lo itu anak baik-baik yang kemejanya selalu disetrika rapi. Sekarang? Jaket kulit, kaos ketat, dan... tunggu, lo ngerokok juga sekarang?" Demon berbisik sambil melirik bungkus rokok yang menyembul dari saku jaket Max.

"Bukan urusan lo," sahut Max terkekeh, menepis tangan Carter dari pundaknya dengan gerakan bercanda. "Gue cuma bosan jadi anak baik."

"Tapi otak genius lo nggk hilang, kan? Baguslah, setidaknya gue punya sandaran baru buat ujian semester nanti," timpal Carter sambil tertawa lepas.

Meskipun saat masa high school dulu mereka tidak berada dalam lingkaran pertemanan yang sangat dekat, namun Demon dan Carter adalah tipe teman yang menyenangkan, setia kawan, dan tidak bermuka dua seperti kebanyakan anak-anak kaya di kota ini.

Bertemu dengan mereka di hari pertama tentu saja menjadi sebuah keberuntungan kecil bagi Max untuk beradaptasi di lingkungan baru yang asing ini.

Sinyal bel masuk berbunyi, memotong obrolan reuni kecil mereka.

Ketiganya segera melangkah masuk ke dalam ruang kelas untuk mata kuliah pertama mereka hari itu: Manajemen Strategis.

Kelas berlangsung dengan cukup tenang dan berjalan lancar. Bagi Maximilian, materi yang disampaikan oleh profesor di depan kelas terasa begitu mendasar—efek samping dari sistem pendidikan super ketat yang sudah dia lahap habis selama dua tahun di Harvard.

Dia hanya duduk di barisan belakang, menopang dagu dengan satu tangan sembari mencatat beberapa poin penting dengan malas, sementara Demon dan Carter di sampingnya sibuk berbisik mengagumi betapa cepatnya Max menangkap penjelasan dosen.

Setelah dua jam yang cukup membosankan berlalu, bel istirahat akhirnya menggema, memicu sorak sorai tertahan dari para mahasiswa.

Perut yang mulai berkeroncong membawa langkah ketiga pemuda itu menuju kantin utama universitas—sebuah area luas yang lebih mirip seperti food court mall mewah daripada kantin kampus pada umumnya.

"Gue beri tahu lo, Max," kata Carter dengan penuh semangat memandu jalan, membelah kerumunan mahasiswa yang mengantre.

"Kantin di sini emang isinya makanan mahal, tapi ada satu stan yang punya menu paling best dan legendaris. Smoked Beef Brisket Burger dengan saus madu hitam. Lo wajib coba! Kalau lo nggk suka, gue yang bayar!"

"Jangan percaya dia, Max. Selera makannya di bawah rata-rata," sahut Demon yang berjalan di sisi lain, memicu umpatan pelan dari Carter.

Max hanya mendengarkan sembari tersenyum tipis. Carter berjalan di depannya, menunjuk-nunjuk ke arah stan makanan yang terletak di sudut kanan kantin.

Karena suasana kantin yang sangat ramai dan padat oleh mahasiswa yang berlalu-lalang, Max terpaksa mengambil langkah mundur beberapa senti untuk menghindari seorang mahasiswa yang membawa nampan sup panas dari arah berlawanan.

Max berjalan mundur dua langkah tanpa melihat ke belakang.

Tepat saat Carter berteriak, "Nah, di seberang sana stannya, Max! Balik badan lo!", Max langsung membalikkan badannya dengan cepat demi mengikuti arahan sang teman.

Namun, di detik yang sama, takdir seolah sedang bermain gila dengannya.

DEG.

Tubuh tegap Max menabrak sesuatu yang empuk namun padat. Gerakan membalikkan badannya yang terlalu cepat dan tidak terkontrol membuat telapak tangan kanannya yang terbuka tanpa sengaja menyenggol, menekan, dan mengenai bagian depan—tepat di dada—seorang wanita yang sedang berjalan berlawanan arah dengannya.

Waktu seolah berhenti berputar selama satu detik.

Sentuhan itu begitu jelas, begitu nyata di permukaan telapak tangan Max.

Kulit tangannya merasakan kehangatan dan bentuk yang sangat kentara di balik kain pakaian wanita tersebut. Max mematung di tempatnya, matanya membelalak sempurna, sementara otaknya mengalami stuck sesaat karena syok yang luar biasa.

Dia baru saja melakukan hal paling mematikan dan memalukan di hari pertamanya kuliah.

Dengan sigap, Max menarik tangannya kembali seperti baru saja menyentuh bara api yang panas. Wajahnya yang biasa datar kini mendadak memerah karena rasa bersalah yang teramat sangat.

"Sorry, sorry... gue bener-bener nggk sengaja," ucap Max dengan nada suara yang bergetar, benar-benar tulus meminta maaf.

Kedua tangannya terangkat ke udara sebagai tanda bahwa dia tidak memiliki niat buruk. "Gue bener-bener minta maaf, gue nggk lihat ada orang di belakang tadi..."

Max menatap wajah wanita di hadapannya, bersiap menerima makian atau bahkan tamparan yang menurutnya wajar dia dapatkan karena kelalaiannya.

Namun, bukannya jawaban "tidak apa-apa" atau ekspresi terkejut yang dia terima, wanita di depannya justru menatapnya dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh kebencian, muak, dan kilat kemarahan yang begitu dingin.

Wanita itu memiliki rambut hitam pekat yang diikat tinggi ke atas. Perawakannya begitu sempurna dengan bentuk tubuh yang berisi—sebuah fakta fisik yang baru saja disadari tangan Max secara tidak sengaja.

Dia adalah Amieyara Walker.

Yara melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Max dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan merendahkan, seolah pria di hadapannya ini adalah seekor serangga menjijikkan yang baru keluar dari selokan.

"Trik murahan!!" ucap Yara, suaranya terdengar lantang, dingin, dan penuh penekanan, menarik perhatian hampir separuh penghuni kantin yang langsung menghentikan aktivitas makan mereka.

"Hah?" Max mengerutkan alisnya, rasa bersalahnya mendadak terusik oleh tuduhan aneh tersebut. "Apa maksud lo?"

Yara maju satu langkah, memperkecil jarak di antara mereka, membiarkan auranya yang intimidatif menekan Max. "Modus murahan seperti itu benar-benar menjijikkan, Bocah. Kau pikir aku tidak tahu? Kau sengaja berjalan mundur, berlagak bingung, dan pura-pura tidak sengaja membalikkan badan hanya untuk menyentuhku? Kekanakan sekali. Dasar bocah birahi!"

Bisik-bisik langsung pecah di seluruh sudut kantin.

"Eh, lihat... anak baru itu nyari gara-gara sama Yara?"

"Gila, berani banget dia nyentuh asetnya pelacur kampus."

Darah Maximilian Valerio mendidih seketika. Kata-kata 'Trik murahan' dan 'Bocah birahi' menghantam harga dirinya dengan telak.

Rasa bersalah dan penyesalan yang dia

rasakan satu menit lalu menguap tanpa bekas, digantikan oleh rasa geram yang membakar dada.

Selama hidupnya, bahkan saat dia dicap liar di Boston, tidak pernah ada satu orang pun yang berani memfitnah dan menghinanya serendah ini di depan umum.

Dia benar-benar tidak sengaja melakukannya! Itu adalah kecelakaan murni akibat ruang kantin yang padat. Namun wanita di depannya ini dengan begitu angkuh memutarbalikkan fakta dan mempermalukannya di hadapan semua orang.

Max menurunkan kedua tangannya, matanya menatap tajam lurus ke dalam netra dingin Yara.

Rahangnya mengeras. "Jaga mulut lo, Nona Sok Suci. Gue udah minta maaf karena gue tahu gue salah karena nggk lihat-lihat. Tapi menuduh gue sengaja ngelakuin modus murahan? Jangan kepedean. Tubuh lo sama sekali nggk semenarik itu sampai gue harus pakai trik buat menyentuhnya."

Yara menyunggingkan senyum sinis yang sangat meremehkan. "Oh, benarkah? Katakan itu pada otak kotormu yang penuh dengan selangkangan. Minggir dari hadapanku sebelum aku melaporkanmu ke komite kedisiplinan kampus atas pelecehan!"

Tanpa menunggu jawaban Max, Yara mengibaskan rambut hitamnya yang diikat tinggi dengan gerakan anggun, lalu melangkah pergi melewati Max begitu saja dengan kepala tegak, meninggalkan atmosfer ketegangan yang pekat di tengah kantin.

Max mengepalkan tinjunya erat-erat, berniat untuk mengejar wanita angkuh itu demi menuntut permintaan maaf atas fitnahnya, namun Demon dan Carter dengan cepat menahan kedua lengan Max, menariknya mundur dari pusat perhatian.

"Tenang, Max! Tahan emosi lo, Bro!" bisik Demon dengan wajah panik, menarik Max menuju meja sudut yang lebih sepi. "Jangan berurusan dengan dia. Nilai lo taruhannya kalau sampai lo bermasalah sama wanita itu."

Max menghempaskan tangan kedua temannya dengan kasar, napasnya masih memburu karena amarah yang tertahan.

"Sialan, Siapa Dia?! Angkuh sekali jadi orang! Dia merusak hari pertama gue di sini dengan fitnah sampah kayak gitu!"

Carter menghela napas panjang, memastikan Yara sudah benar-benar keluar dari area kantin sebelum berbisik, "Jangan bermasalah dengan dia, Max. Dia itu Amieyara Walker. Selain jadi mahasiswi hukum, dia juga Asisten Profesor di Fakultas Bisnis kita. Makanya Demon bilang nilai lo taruhannya. Dia punya kuasa buat bikin lo nggak lulus di kelasnya."

Max tertegun sejenak mendengarnya. Asisten Profesor? Wanita sedingin dan seangkuh itu adalah seorang pengajar?

Demon mendekatkan wajahnya, merendahkan volume suaranya menjadi bisikan yang sangat tipis.

"Dan ada satu hal lagi yang harus lo tahu, Max... Jangan terlalu dimasukkan ke dalam hati perkataannya. Dia emang sensitif banget soal sentuhan pria. Di kampus ini, rumor tentang dia udah jadi rahasia umum. Jangan bermasalah sama wanita panggilan kayak dia."

"Wanita panggilan?" Max mengerutkan dahinya, mengulang kata-kata Demon dengan dahi berkerut. Otaknya mencoba mencerna kontradiksi gila ini—seorang Asisten Profesor Bisnis dan mahasiswi hukum yang berprestasi, namun diberi predikat sebagai wanita panggilan oleh lingkungan kampusnya sendiri?

Carter mengangguk mantap, membenarkan ucapan Demon. "Iya, rumornya dia itu simpanan orang tua kaya, anak haram yang suka jual diri. Dan puncaknya seminggu lalu, dia baru aja menyandang gelar janda satu malam karena ditinggal kabur sama suaminya di malam pertama mereka karena ketahuan udah nggk perawan dan udah 'longgar'. Makanya dia sensitif banget kalau ada pria yang menyenggol tubuhnya, dia langsung mikir itu modus pelecehan."

Maximilian yang belum mengerti penuh tentang seluk-beluk konspirasi dan rumor busuk di kampus ini hanya bisa mengangguk pelan.

Pikirannya masih dipenuhi oleh sisa-asap kemarahan. Dia masih belum paham sepenuhnya tentang kebenaran di balik gosip tersebut, dan sejujurnya, dia tidak peduli apakah wanita itu seorang pelacur, janda, atau asisten profesor.

Satu hal yang pasti bagi Max: kata-kata "bocah birahi" yang dilontarkan Yara telah merobek harga dirinya sebagai seorang pria dari keluarga Valerio.

Ditambah lagi dengan tuduhan modus murahan yang sama sekali tidak dia lakukan.

Max menyandarkan punggungnya di kursi kantin, mengambil sebatang rokok dari saku jaketnya namun tidak menyalakannya karena aturan kantin.

Matanya menatap tajam ke arah pintu keluar kantin tempat Yara menghilang tadi.

Amieyara Walker, batin Max dengan seringai dingin yang mulai terbentuk di wajah tampannya.

Lo udah salah memilih lawan untuk diajak bermain gila. Kita lihat, siapa yang akan berlutut duluan di kampus ini.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!