Amira menunggu tangisan itu meski ia tahu kenyataannya. Tangisan pertama bayi yang baru lahir. Tangisan yang membuat sakit berjam-jam terasa lunas. Tangisan yang menenangkan hati seorang ibu bahwa anaknya benar-benar hadir ke dunia.
Tetapi hingga bidan memotong tali pusar itu., suara itu tidak pernah datang. Ruangan sempit itu hanya dipenuhi napas berat dan isak tertahan.
Amira menoleh lemah saat bidan membersihkan tubuh kecil bayinya. Tubuh yang terlalu diam. Terlalu pucat.
“Bu...” suara bidan pelan sekali. “Yang kuat ya.” Kalimat itu menghancurkan segalanya.
Air mata Amira langsung jatuh tanpa bisa ditahan lagi. Dadanya terasa sesak seperti diremas pelan-pelan. “Sebentar...” suaranya gemetar. “Biar saya lihat anak saya, boleh Bu Bidan?”
Bidan dan ibu mertuanya saling berpandangan sesaat sebelum akhirnya bayi itu diletakkan perlahan di samping Amira. Kecil. Sangat kecil. Wajahnya bersih. Hidungnya mirip Mirza. Kalau saja Allah mengizinkannya hidup, mungkin bayi itu akan tumbuh tampan.
Jari Amira gemetar saat menyentuh pipi dingin anaknya. “Anakku...” bibirnya bergetar. “Maafkan Umi, ya.” Tangisnya pecah. Bukan tangis keras. Justru pelan dan menyakitkan. Tangis seseorang yang sedang berusaha menerima kenyataan meski hatinya belum mampu.
Bayi pertama mereka. Bayi yang kehadirannya begitu dinanti. Sebulan setelah menikah, Amira langsung hamil hingga semua orang mengatakan rumah tangga mereka membawa berkah. Mirza bahkan berkali-kali membeli baju bayi diam-diam meski kandungan Amira masih kecil.
Tetapi sekarang. bayi itu pulang kepada Allah sebelum sempat membuka mata.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un...” lirih ibu mertuanya sambil mengusap bahu Amira.
Amira memejamkan mata rapat-rapat. Ia tahu semua manusia akan kembali. Ia tahu anak kecil akan menjadi penolong orang tuanya di akhirat. Ia tahu kehilangan ini adalah takdir Allah. Tetapi pengetahuan tidak membuat rasa sedih hilang begitu saja. Karena Amira tetap seorang ibu. Dan seorang ibu mana yang tidak hancur melihat anaknya terbujur diam seperti itu?
Pintu kamar terbuka pelan. Mirza masuk dengan langkah tergesa. Peci putihnya sedikit miring, wajahnya pucat sejak tadi menemani di luar.
Begitu melihat bayi itu di samping Amira, langkahnya terhenti. Untuk pertama kalinya sejak menikah, Amira melihat mata suaminya memerah seperti itu. Mirza duduk perlahan di sisi ranjang. Tangannya menyentuh kepala bayi mereka dengan hati-hati, seolah takut membuatnya sakit. Padahal anak itu sudah tidak merasakan apa-apa.
“Sudah saya azankan,” suara Mirza serak.
Amira langsung menangis lagi.
Mirza menunduk dalam. Bahunya naik turun menahan sesak yang tidak bisa keluar. Lelaki itu tetap berusaha tampak kuat. Karena semua orang selalu menganggap laki-laki harus lebih tabah. Padahal hatinya sama hancurnya.
Setelah beberapa saat, Mirza mengusap wajahnya kasar lalu menoleh pada Amira. “Aku izin memakamkan anak kita sekarang.”
Kalimat itu terasa seperti pisau lain di dada Amira. Cepat sekali. Seolah baru beberapa menit lalu bayi itu masih berada di dalam tubuhnya. “Aku ikut...” Amira berusaha bangun.
Namun rasa nyeri di bawah perutnya langsung membuat wajahnya pucat. Tubuhnya limbung sebelum ibu mertuanya cepat-cepat menahan bahunya.
“Jangan dulu, Mira.”
“Tapi itu anak saya...” suaranya pecah. “Saya mau ikut...”
“Keadaanmu belum kuat.”
Amira menggeleng sambil menangis. Ia tetap memaksa bangun meski jahitan pasca melahirkan terasa seperti disobek lagi.
Mirza segera memegang pundaknya pelan. “Sudah.” Suaranya rendah, berusaha tenang meski matanya sendiri basah. “Aku yang antar anak kita.”
Kalimat itu justru membuat Amira semakin hancur. Anak kita. Bukan anaknya. Bukan anak Amira saja. Mereka sama-sama kehilangan.
***
Amira memejamkan mata rapat-rapat. Jemarinya bergerak pelan di atas dada, meremas ujung selimut sambil bibirnya tak berhenti berzikir.
“Astaghfirullah... astaghfirullah... laa ilaaha illa anta subhaanaka inni kuntu minazh zhaalimiin...”
Ia mencoba mengingat Allah agar hatinya lebih tenang. Agar dadanya tidak terasa sesak seperti tadi. Agar bayangan wajah kecil bayinya tidak terus muncul di kepalanya.
Namun semakin malam terasa sunyi, semakin pikirannya berantakan. Tubuhnya lelah setelah melahirkan. Matanya panas karena terlalu banyak menangis. Tetapi rasa kantuk tak kunjung datang.
Perlahan napas Amira mulai teratur. Kesadarannya hampir tenggelam ketika tiba-tiba Tangisan bayi terdengar. Kencang. Suaranya pilu menyayat hati.
Tangisan yang seperti memanggil seorang ibu. Amira langsung membuka mata. Dadanya berdegup keras. Tangisan itu terdengar lagi dari ruang sebelah.
“Anakku!” Spontan Amira bangkit dari tempat tidurnya.
Rasa nyeri di bawah perut membuatnya meringis, tetapi ia tidak peduli. Dengan langkah tergesa dan tubuh yang masih lemah, Amira berjalan menuju ruang bayi di samping kamar.
Air matanya sudah jatuh bahkan sebelum ia membuka pintu. Tangisan itu terlalu nyata. Terlalu mirip dengan suara bayi yang selama sembilan bulan ia nantikan.
“Sayang... Umi di sini...” suaranya gemetar. Tangannya buru-buru mendorong pintu.
Insting Amira sebagai seorang ibu muda bekerja begitu saja.Tanpa berpikir panjang, ia meraih bayi yang menangis itu dari gendongan perempuan paruh baya di hadapannya.
“Eh,” perawat di samping wanita itu tampak terkejut.
Namun Amira sudah lebih dulu mendekap tubuh kecil tersebut ke dadanya.
Bayi itu menangis kencang. Wajahnya memerah. Tangannya yang kecil bergerak gelisah seperti mencari sesuatu.
“Sudah... sudah, Sayang...” lirih Amira otomatis. Suara itu keluar begitu alami. Seolah tubuh dan hatinya masih mengingat bagaimana menjadi seorang ibu.
Amira mengusap punggung bayi itu perlahan sambil membaca doa pelan di dekat kepalanya. “Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syai’un...”
Tangisan bayi itu belum reda. Amira menatap wajah kecil di pelukannya beberapa detik. Dadanya terasa nyeri. Air susunya bahkan seperti ikut bereaksi mendengar tangisan itu. Dan tanpa sadar, Amira membuka sedikit selimut bayinya, lalu menyusui anak itu.
Perawat yang sejak tadi mendampingi perempuan paruh baya langsung maju satu langkah. “Bu, jangan,”
“Biarkan.” Suara perempuan paruh baya itu pelan, tetapi tegas.
Perawat itu langsung menutup mulutnya kembali. Ruangan mendadak sunyi. Yang terdengar hanya isapan kecil bayi yang mulai menyusu dengan rakus di pelukan Amira.
Tangisnya perlahan mereda. Tubuh mungil itu yang tadi tegang mulai tenang sedikit demi sedikit.
Amira menunduk memandangi bayi tersebut dengan mata berkaca-kaca. Perasaan hangat yang tadi mati perlahan kembali memenuhi dadanya. Perasaan yang sejak beberapa jam lalu terasa direnggut paksa darinya.
Sementara itu, perempuan paruh baya di hadapannya hanya diam memandangi Amira. Tatapan matanya berubah pelan-pelan. Dari terkejut menjadi haru.
Bayi itu akhirnya tenang. Isapannya yang tadi cepat perlahan melambat, lalu berhenti sama sekali. Napas kecilnya teratur, dan dalam hitungan menit, kelopak matanya menutup. Ia tertidur di pelukan Amira, seolah dunia tidak lagi mengganggunya.
Amira tersenyum kecil. Tangannya masih mengusap punggung bayi itu dengan lembut, refleks seorang ibu yang baru saja berhasil menenangkan anaknya.
“Alhamdulillah,” lirihnya pelan. Lalu tanpa sadar, bibirnya bergerak. Ia bershalawat, sangat pelan, hampir seperti bisikan untuk dirinya sendiri.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama. “Permisi, Bu.” Suara perawat memecah suasana.
Amira menoleh.
Perawat itu berdiri sedikit ragu, matanya sesekali melirik bayi yang masih tertidur di pelukan Amira. “Itu… bukan bayi Ibu.”
Amira berkedip pelan. “Bukan?”
Perawat mengangguk hati-hati, lalu melanjutkan, “Itu cucu Bu Nyai Salma. Baru lahir tiga hari lalu.”
Nama itu membuat Amira terdiam. Bu Nyai Salma. Baru saat itu kesadarannya benar-benar kembali seperti air dingin yang menyiram pelan-pelan.
Amira menatap bayi di pelukannya. Wajah kecil itu. Baju yang asing. Ruang yang bukan kamarnya. Dan perempuan paruh baya yang sejak tadi hanya diam memperhatikannya.
Pelan-pelan Amira menurunkan bayi itu dengan hati-hati, seolah takut membangunkannya. Tangannya bergetar sedikit. Astaghfirullah. Apa yang barusan ia lakukan? Wajah Amira langsung pucat. “Maaf…” suaranya hampir tak terdengar. “Saya… saya tidak tahu… saya kira…” Kata-katanya terputus. Ia menunduk dalam-dalam. “Maafkan saya, Bu Nyai… saya benar-benar tidak bermaksud lancang." Tangannya gemetar saat merapikan kain bayi itu, meski perawat sudah lebih dulu mengambil alih. “Maafkan saya…” ulangnya lagi, kali ini lebih pelan, lebih hancur.
Ruangan itu terasa sempit. Bukan karena marah. Tapi karena Amira baru saja sadar, dirinya terlalu terbawa sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan, naluri yang masih hidup di tubuhnya, meski hatinya baru saja kehilangan. Dan untuk pertama kalinya ia benar-benar merasa malu pada dirinya sendiri.
Ruangan itu masih terasa hangat oleh sisa tangis bayi yang baru saja reda.
Amira berdiri kaku di samping ranjang, kedua tangannya saling meremas, tidak tahu harus diletakkan di mana. Kepalanya masih menunduk sejak ia menyadari kesalahannya tadi.b“Maafkan saya, Bu Nyai…” ulangnya lagi, suaranya hampir hilang. “Saya benar-benar tidak sengaja…”
Perempuan paruh baya itu, yang tadi hanya diam, akhirnya melangkah mendekat. Tatapannya tidak marah. Justru lembut. “Sudah,” ucapnya pelan. “Tidak perlu terlalu menyalahkan diri.”
Amira mengangkat wajah sedikit, masih ragu.
Di saat itu, perawat yang berdiri di sisi ruangan menunduk hormat, lalu perlahan keluar memberi ruang.
Tinggal mereka bertiga di dalam ruangan itu.
Perempuan itu menatap Amira lebih lama sebelum akhirnya berkata, “Saya sudah dengar musibah yang menimpa panjenengan.”
Kalimat itu membuat dada Amira langsung mengencang. Amira menunduk lagi. Matanya mulai panas. “Iya…” jawabnya pelan.
Perempuan itu menghela napas kecil, lalu melanjutkan, “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Semoga Allah memberi kesabaran untuk panjenengan.”
Amira tidak mampu menjawab. Hanya anggukan kecil yang bisa ia berikan. Hening sebentar.
Sampai akhirnya perempuan itu berbicara lagi, kali ini lebih pelan namun tegas. “Panggil saya Umi Salma saja.”
Amira tertegun. “Umi…”
“Iya,” potongnya lembut. “Di sini, semua yang dekat dengan keluarga pesantren memanggil begitu.”
Amira mengangguk ragu. “Baik… Umi Salma.”
Umi Salma menatap bayi yang sudah tertidur di ranjang kecil itu, lalu kembali ke Amira. “Ada satu hal yang perlu saya sampaikan.” Nada suaranya berubah sedikit lebih serius.
Amira langsung menegang.
“Karena panjenengan tadi sudah menyusui cucu saya…” Kalimat itu menggantung di udara.
Amira menelan ludah.
Umi Salma melanjutkan, “Dalam keadaan seperti ini, ada konsekuensi yang harus dipahami.”
Jantung Amira langsung berdetak lebih cepat. “Konsekuensi… apa, Umi?”
Umi Salma menatapnya lurus. “Secara syariat, panjenengan sudah menjadi ibu susu untuk cucu saya.”
Kata-kata itu jatuh seperti batu di tengah ruangan. Amira membeku. “Ibu… susu?” ulangnya pelan, seolah tidak percaya.
Umi Salma mengangguk. “Betul. Dan itu bukan perkara kecil.”
Amira langsung merasa dadanya sesak. Bukan karena sakit fisik. Tapi karena ia baru saja menyentuh sesuatu yang jauh lebih besar dari yang ia pahami.
Ia mundur setengah langkah tanpa sadar. “Saya… saya tidak tahu…” suaranya gemetar. “Saya benar-benar tidak bermaksud…”
Umi Salma mengangkat tangan, menghentikan kalimat itu dengan lembut. “Saya tidak menuduh panjenengan.” Suasana kembali tenang. “Justru karena itu,” lanjut Umi Salma, “saya ingin panjenengan tetap berada di sisi bayi ini sementara waktu.”
Amira menatapnya kosong. Kalimat itu membuat dunia Amira terasa bergeser sedikit.
“Untuk cucu saya…” Umi Salma menatap bayi yang tertidur itu lagi, lalu berkata pelan, “Anak itu menerima jenengan.” Umi Salma menarik napas pelan sebelum kembali berbicara. Suaranya kali ini lebih rendah, seolah setiap kata yang keluar membawa beban yang sudah ia tahan sejak beberapa hari terakhir. “Panjenengan belum tahu semuanya,” ucapnya.
Amira menatapnya, masih berdiri kaku di tempat yang sama.
Umi Salma mengalihkan pandangannya ke arah bayi yang tertidur tenang di ranjang kecil itu. Wajahnya lembut, tapi di baliknya ada kelelahan yang tidak bisa disembunyikan. “Menantu saya…” ia berhenti sebentar, menelan sesuatu yang sulit diucapkan. “Wafat tiga hari lalu.”
Jantung Amira seperti diremas pelan.
“Setelah melahirkan bayi itu.”
Nama itu belum disebut, tapi Amira sudah bisa menebaknya. Bayi yang tadi ia gendong.
“Namanya Habibi,” lanjut Umi Salma. Suaranya sedikit bergetar di bagian akhir, tapi ia tetap melanjutkan. “Anak pertama dari cucu saya.”
Amira menunduk, tangannya mulai dingin.
Umi Salma mengusap pelan sisi ranjang bayi itu. “Sejak ibunya pergi… dia tidak berhenti menangis.” Hening sesaat. “Tidak mau susu formula. Ditolak terus.”
Amira mendengarkan tanpa berkedip.
“Kami sudah panggil beberapa calon ibu susu,” lanjutnya lagi. “Dari pesantren, dari kampung sekitar. Tapi Habibi tetap menolak.” Umi Salma tersenyum kecil, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya. “Dia hanya menangis. Lalu diam sebentar. Lalu menangis lagi.”
Amira merasakan dadanya ikut sesak tanpa sebab yang ia pahami.
“Sudah tiga hari,” suara Umi Salma merendah. “Tiga hari dia tidak minum dengan baik.”
Kalimat itu membuat Amira refleks menoleh ke bayi itu lagi. Tiga hari. Di usianya yang masih sekecil itu.
“Dia seperti… puasa,” lanjut Umi Salma pelan, hampir seperti berbisik pada dirinya sendiri. “Kami semua hanya bisa berdoa.”
Amira menggigit bibirnya, menahan sesuatu yang tiba-tiba naik ke dadanya.
Umi Salma akhirnya menoleh kembali kepadanya.
Dan untuk pertama kalinya sejak Amira masuk ruangan itu, tatapannya benar-benar dalam.
“Dan tadi…” Ia berhenti sejenak. “Allah jawab doa kami lewat panjenengan.”
Amira menggeleng pelan, hampir tidak sadar. “Umi… saya hanya,”
“Panjenengan hanya apa?” potong Umi Salma lembut, tidak kasar, tapi cukup membuat Amira diam. Umi Salma mendekat setengah langkah. “Habibi tenang di pelukan panjenengan. Dia minum dari panjenengan. Dia tertidur untuk pertama kalinya sejak ibunya pergi.”
Setiap kalimat itu membuat Amira semakin kehilangan kata. Karena semua itu bukan sesuatu yang ia rencanakan. Bukan sesuatu yang ia minta. Tapi terjadi begitu saja. Seolah tubuhnya masih mengingat sesuatu yang bahkan pikirannya sudah berusaha kubur.
Umi Salma menghela napas panjang. “Jadi kalau panjenengan bersedia jadi ibu susunya, saya sangat bersyukur sekali."
Amira menunduk dalam. Kepalanya terasa berat, seperti baru saja menanggung sesuatu yang terlalu besar untuk dipahami dalam satu malam.
Ia menggenggam ujung jilbabnya erat-erat, mencari pegangan agar tidak goyah. “Umi…” suaranya pelan, hampir hilang. “Saya… saya tidak tahu harus bagaimana.”
Umi Salma tidak langsung menjawab. Tatapannya masih lembut, tapi ada ketegasan yang tidak bisa diabaikan.
Amira menarik napas pendek, lalu melanjutkan dengan suara yang semakin lirih, “Saya harus bicara dulu dengan suami saya.” Kalimat itu keluar seperti usaha terakhir untuk tetap berdiri di atas sesuatu yang ia kenal. “Beliau yang lebih berhak memutuskan,” tambahnya cepat, seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri. “Saya tidak bisa memutuskan sendiri.”
Umi Salma memandangnya lama. Perlahan kekaguman itu nyata pada perempuan yang batu ditemuinya itu. “Suami panjenengan…” ulangnya pelan.
Amira mengangguk kecil. “Iya, Umi.”
Umi Salma menghela napas pelan, lalu menatap bayi yang masih tertidur tenang di ranjang kecil itu. “Baik.”
Satu kata itu membuat Amira sedikit lega tapi juga tidak sepenuhnya tenang. Karena di balik kata baik itu, ada sesuatu yang belum selesai.
***
Amira kembali ke kamar rawat inap dengan langkah pelan. Begitu pintu kamar ditutup, tubuhnya langsung terasa kehilangan tenaga.bIa duduk di tepi ranjang.
Hanya suara jarum jam dinding yang bergerak pelan, dan napasnya sendiri yang belum sepenuhnya stabil. Amira menatap kedua tangannya. Tangan yang beberapa waktu lalu masih menggenggam bayi orang lain.
Bayi yang bahkan tidak ia kenal, tapi menangis di pelukannya seolah mengenalnya sejak lama. Ia menarik napas pelan. Lalu perlahan, ia memejamkan mata. Mencoba mengingat sesuatu yang terasa jauh di belakang pikirannya.
Pelajaran fiqih di Tsanawiyah. Tentang radha’ah. Tentang ibu susuan. Tentang batasan yang tidak terlihat, tapi sangat nyata. Suara ustazahnya seolah muncul kembali di kepalanya. “Jika seorang anak menyusu dari perempuan lain sampai memenuhi syarat tertentu, maka keduanya menjadi mahram karena persusuan…”
Amira membuka mata sedikit. Dadanya terasa mengencang. Ia mencoba mengingat lebih jauh. Tangannya tanpa sadar menyentuh dadanya sendiri, lalu langsung ditarik kembali seperti tersentak.
“Ya Allah…” Bisiknya pelan. Ia mulai menyusun ulang potongan-potongan yang tadi dijelaskan Umi Salma. Ibu susu. Konsekuensi. Tidak bisa dilepaskan begitu saja. Dan bayi itu, yang namanya Habibi.
Amira menunduk lebih dalam. Bukan hanya soal rasa iba. Bukan hanya soal naluri seorang ibu. Tapi ada hukum yang tiba-tiba menjadi sangat nyata, sangat dekat, dan tidak lagi sekadar tulisan di buku pelajaran.
Pintu kamar terbuka pelan. Namun Amira tidak langsung menoleh. Karena untuk pertama kalinya sejak semua ini terjadi, ia sadar bahwa hidupnya tidak lagi sesederhana sebelum malam ini. Dan suaminya akan menjadi orang pertama yang harus mendengar semuanya.
***
Pintu kamar diketuk pelan tepat ketika Mirza selesai bercerita tentang pemakaman putra mereka. “Sudah dimakamkan di samping makam Abah,” ucapnya lirih.
Amira menunduk sambil menggigit bibirnya kuat-kuat. Dadanya kembali sesak membayangkan tanah merah yang menutupi tubuh kecil anaknya.
Mirza mengusap wajah lelahnya pelan. “Tadi hujan sedikit waktu di kuburan.”
Kalimat sederhana itu justru membuat hati Amira semakin nyeri. Bayinya pergi di tengah hujan, sementara ia bahkan tidak bisa mengantarnya sampai liang lahat.
Tok tok.
Ketukan kedua terdengar. Mirza menoleh. “Masuk.”
Pintu terbuka perlahan. Amira langsung menegakkan duduknya saat melihat siapa yang datang. Umi Salma.
Di belakangnya ada seorang perawat yang menggendong bayi kecil berselimut putih. Itu Habibi. Bayi itu tampak tertidur lelap.
Mirza segera berdiri sopan. “Bu Nyai,” rupanya Mirza sudah mengenal siapa tamu mereka ini.
Umi Salma mengangguk pelan. “Maaf mengganggu.”
“Silakan, Bu Nyai.”
Perawat meletakkan bayi itu di baby box dekat ranjang sebelum mundur beberapa langkah. Ruangan mendadak terasa berbeda sejak kehadiran bayi kecil itu.
Amira bahkan bisa mencium samar aroma khas bayi yang tadi sempat memenuhi pelukannya.
Umi Salma duduk perlahan di kursi dekat ranjang. “Hari ini Habibi sudah diperbolehkan pulang.”
Mirza mengangguk pelan, masih belum memahami arah pembicaraan. “Alhamdulillah,” jawabnya sopan.
Umi Salma tersenyum tipis, lalu pandangannya bergantian antara Amira dan Mirza. “Saya datang untuk menanyakan kembali soal tawaran saya tadi.”
Mirza tampak bingung. “Tawaran?”
Amira langsung menegang. Jemarinya bergerak gelisah di atas selimut.
Umi Salma memperhatikannya sebentar sebelum akhirnya berkata, “Sepertinya istri panjenengan belum sempat bercerita.”
Mirza menoleh pada Amira. “Mira?”
Amira membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar. Ia sendiri belum tahu bagaimana harus menjelaskan semuanya.
Akhirnya Umi Salma yang berbicara lebih dulu. “Tadi, tanpa sengaja, istri panjenengan menyusui cucu saya.”
Ruangan mendadak sunyi. Mirza membeku beberapa detik. Matanya berpindah dari Umi Salma ke Amira, lalu ke bayi kecil yang tertidur di baby box.
Amira langsung menunduk. “Saya tidak sengaja, Mas,” suaranya pelan dan penuh rasa bersalah. “Saya kira dia putra kita.” Kalimat itu tidak selesai.
Mirza menatap istrinya lama, lalu kembali pada Umi Salma.
Dan dengan tenang, Umi Salma mulai menceritakan semuanya. Tentang Habibi yang kehilangan ibunya tiga hari lalu. Tentang bayi itu yang menolak susu formula. Tentang beberapa perempuan yang sudah dicoba menjadi ibu susu tetapi gagal. Dan tentang bagaimana Habibi akhirnya tenang dalam pelukan Amira. “Untuk pertama kalinya sejak ibunya meninggal,” ujar Umi Salma pelan, “dia mau menyusu sampai kenyang.”
Mirza mendengarkan tanpa menyela sedikit pun. Wajahnya sulit dibaca.
Sementara Amira semakin gelisah. Ia takut suaminya marah. Takut dianggap lancang.
Namun Umi Salma belum selesai. “Saya ingin meminta izin,” lanjutnya hati-hati, “agar Amira membantu menjadi ibu susu untuk Habibi.”
Kalimat itu membuat Mirza akhirnya benar-benar terdiam. Mirza tidak langsung menjawab. Ia duduk diam beberapa saat sambil memandangi bayi kecil di dalam baby box. Wajahnya tampak tenang, tetapi pikirannya bergerak cepat ke mana-mana.
Menjadi ibu susu cucu keluarga pesantren besar bukan perkara kecil.
Itu artinya hubungan mereka dengan ndalem tidak akan putus begitu saja.
Dan Mirza tahu persis sebesar apa pengaruh keluarga itu.
Pondok milik mereka termasuk yang paling besar di kota itu. Ribuan santri mondok di sana. Banyak ustaz muda berharap bisa mengajar di pesantren tersebut karena gajinya jauh lebih baik dibanding madrasah biasa. Mirza pun dahulu pernah melamar, sayangnya ia tidak diterima sebab tidak terlalu bagus bahasa Arabnya.
Belum lagi fasilitasnya. Tempat tinggal. Tunjangan kesehatan. Kesempatan melanjutkan pendidikan. Bahkan beberapa pengajar diberangkatkan kuliah ke luar kota dengan biaya pondok.
Mirza pernah mendengar cerita itu berkali-kali dari teman-temannya sesama ustaz. Dan sekarang kesempatan itu seperti berdiri tepat di depan matanya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!