Indonesia
NovelToon NovelToon

Sekar

Lamaran

Rumah keluarga Ratmini dipenuhi tamu yang ingin menyaksikan pertunangan Sekar dan Lindu, anak juragan Ramli. Orang terkaya di Desa Wanasari.

Semua orang desa berkumpul dengan wajah gembira. Sekar gadis cantik dan Lindu, pria tampan yang mapan, sungguh pasangan yang sangat serasi.

"Aku nanti pengen juga dapat laki macam Lindu. Tampan, kaya pula." Kata seorang gadis yang hadir di acara pertunangan itu. Dia duduk bersila di atas lantai rumah panggung sederhana milik keluarga Ratmini bersama beberapa gadis lainnya.

"Eh, bukan kau saja. Aku pun juga mau." Sahut gadis lainnya sambil tertawa kecil. Ucapan itu langsung disambut anggukan dan tawa para gadis yang berada di sana.

Mereka sama-sama mengaminkan harapan itu dalam hati. Siapa yang tidak ingin memiliki suami seperti Lindu? Wajahnya tampan, sikapnya sopan, dan kehidupan yang mapan membuat banyak perempuan diam-diam iri pada keberuntungan Sekar.

"Beruntung sekali keluarga Ratmini dapat calon menantu seperti itu. Tampan, kaya, sopan pula orangnya." kata salah satu ibu yang sedang sibuk di dapur menyiapkan kudapan untuk rombongan keluarga Lindu.

"Iya, jarang ada pemuda kaya yang tetap rendah hati seperti dia." Timpal ibu lainnya sambil menyusun piring di atas meja.

Suasana rumah malam itu dipenuhi obrolan hangat dan pujian untuk calon pengantin pria yang menjadi kebanggaan seluruh Desa Wanasari.

"Iya lah. Lindu itu kalau bicara sama orang tua lembut sekali. Jarang sekarang laki-laki begitu." Timpal ibu lainnya.

"Sekar pun cocok sama dia. Sama-sama enak dipandang." Sambung yang lain hingga dapur dipenuhi suara tawa kecil para ibu-ibu.

"Memang sudah jodohnya itu. Kalau sudah rezeki, nda ke mana." Ujar seorang ibu sambil mengangkat gorengan dari kuali.

"Aku juga berharap nanti dapat menantu seperti itu." Kata ibu yang menanak nasi.

"Tapi, sayangnya, di desa kita hanya satu laki-laki seperti Lindu." Kata ibu yang lainnya, lalu mereka semua yang ada di dapur tertawa bersama-sama.

Sementara itu, Sekar yang baru selesai dihias duduk anggun di dalam kamar bersama Wulan. Wajahnya tampak semakin cantik dengan riasan lembut yang menghiasi parasnya.

Rambut hitamnya disanggul rapi. Kebaya sederhana namun elegan yang dikenakannya membuat Sekar terlihat begitu mempesona.

Wulan yang duduk di sampingnya terus memperhatikan sahabatnya dengan senyum kagum. Sesekali dia membantu merapikan ujung pakaian Sekar sambil menggoda sahabatnya yang tampak gugup menghadapi acara pertunangan.

"Sekar, aku senang melihatmu akan menikah." Ujar Wulandari sambil menatap sahabatnya dengan senyum hangat.

Meski ada sedikit rasa sedih di hatinya, karena mereka mungkin tidak akan sesering dulu bersama. Meski begitu, Wulan tetap merasa bahagia melihat Sekar akhirnya menemukan lelaki yang dicintainya.

"Terima kasih, Wulan. Aku memang merasa sangat bahagia." Ucap Sekar lembut sambil menggenggam tangan sahabatnya erat.

"Aku harap kau juga nanti menemukan laki-laki yang baik dan menyayangimu sepenuh hati, seseorang yang akan menjadi suami terbaik untukmu kelak." Wulan tersenyum kecil mendengar ucapan itu. Dia mengangguk pelan, lalu memeluk Sekar dengan hangat di tengah ramainya suasana pertunangan mereka.

"Nda lama lagi, kau akan menjadi istri orang. Pasti nanti kita akan jarang bertemu dan bermain lagi." Wulan berkata dengan wajah murung. Matanya tampak berkaca-kaca saat menatap Sekar yang duduk di sampingnya.

Dia merasa sedih membayangkan sahabat kecilnya akan menjalani kehidupan baru setelah menikah dengan Lindu.

Selama ini mereka selalu bersama, mulai dari pergi ke pasar, bermain di sungai, hingga saling bercerita setiap malam. Sekar menggenggam tangan Wulan dengan lembut lalu tersenyum menenangkan.

"Meskipun aku menikah, kita tetap bisa sering bertemu seperti sekarang ini. Kau tetap sahabat terbaikku, dan itu nda akan berubah hanya karena aku menjadi seorang istri." Kata Sekar.

"Kak Sekar... rombongan Mas Lindu sudah datang." Ujar seorang gadis sambil berlari kecil menuju kamar Sekar.

Napasnya terdengar sedikit terengah karena terlalu bersemangat menyampaikan kabar itu.

Sekar yang sejak tadi duduk bersama Wulan langsung menoleh cepat.

Jantungnya berdebar mendengar kedatangan keluarga calon tunangannya. Sementara itu, Wulan tersenyum lebar melihat wajah gugup sahabatnya yang mendadak berubah tegang.

"Benarkah? Mereka sudah sampai?" Tanya Wulan memastikan. Gadis itu mengangguk cepat.

"Iya, mobil mereka sudah di depan rumah. Banyak sekali orang yang ikut datang."

Dari luar kamar mulai terdengar suara warga yang menyambut kedatangan rombongan keluarga juragan Ramli.

Ibu-ibu yang berada di dapur langsung meninggalkan pekerjaan mereka dan bergegas ke depan rumah untuk melihat kedatangan lelaki tampan yang sedang menjadi pembicaraan seluruh Desa Wanasari itu.

Para gadis pun ikut berdiri sambil merapikan pakaian mereka, penasaran ingin melihat Lindu dari dekat.

"Assalamualaikum..." Ucap Pak Ramli yang berdiri di barisan depan bersama istrinya.

"Waalaikumsalam..." Sahut para warga hampir bersamaan dengan suara riuh penuh antusias.

Rombongan keluarga Pak Ramli kemudian naik ke rumah panggung sederhana milik keluarga Ratmini. Langkah mereka disambut hangat oleh para tamu dan warga desa yang sejak tadi menunggu kedatangan keluarga orang terkaya di desa itu.

Suasana mendadak semakin ramai ketika Lindu muncul di tengah rombongan dengan penampilannya yang rapi dan wajah tampan yang membuat para gadis tidak berhenti mencuri pandang.

Setelah rombongan keluarga Pak Ramli duduk di atas tikar yang telah disiapkan, suasana rumah panggung itu perlahan menjadi lebih tenang.

Para tamu mulai memusatkan perhatian pada pembicaraan kedua keluarga. Beberapa ibu masih sibuk menuangkan minuman dan menyuguhkan kudapan kepada para tamu yang datang.

Setelah basa-basi dan obrolan ringan dibuka, Pak Ramli pun mulai mengutarakan maksud kedatangan mereka malam itu. Meskipun sebenarnya seluruh warga yang hadir sudah mengetahui tujuan keluarga besar itu datang ke rumah keluarga Ratmini.

Dengan wajah tenang dan penuh wibawa, Pak Ramli memandang Ratmini beserta keluarganya sebelum akhirnya berbicara.

"Kedatangan kami malam ini tentu membawa niat baik. Kami ingin mempererat hubungan kedua keluarga dan menyampaikan kesungguhan hati keluarga kami untuk melamar Sekar bagi putra kami, Lindu."

Paman Sekar yang malam itu menjadi tetua keluarga, karena ayah Sekar telah lama meninggal dunia, pun menyambut pembicaraan itu dengan tenang dan penuh kehormatan.

Dia duduk di bagian depan bersama para sesepuh keluarga lainnya, mewakili keluarga Ratmini dalam menerima lamaran tersebut.

Dengan suara pelan namun tegas, paman Sekar menyampaikan rasa syukur dan kebahagiaan keluarga mereka atas niat baik keluarga Pak Ramli.

Suasana rumah panggung sederhana itu terasa hangat dan penuh haru ketika kedua keluarga mulai membicarakan rencana pernikahan Sekar dan Lindu.

Pembicaraan berlangsung lancar tanpa hambatan. Hingga akhirnya, setelah melalui kesepakatan kedua belah pihak, ditetapkanlah tanggal pernikahan mereka jatuh pada tanggal 13, tepatnya tiga minggu lagi.

Kabar itu langsung disambut senyum bahagia para tamu yang hadir. Beberapa ibu mulai berbisik antusias membicarakan persiapan pesta besar yang pasti akan digelar nanti.

****

Hello para pembaca, kita bertemu lagi ya. jangan lupa Like, komen dan subscribe cerita baru aku ya. Terima kasih

Harus laki-laki seperti Lindu

"Aku senang, nda lama lagi kita akan benar-benar bersama. Nda lama lagi aku akan melihatmu saat aku bangun tidur kau ada di sampingku." Ucap Lindu ketika dia dan Sekar bertemu sore itu di tempat biasa mereka sering bertemu.

Angin sore berembus pelan, membuat daun-daun jagung bergesekan menimbulkan suara gemerisik yang menenangkan. Cahaya matahari yang mulai condong ke barat menyorot wajah Sekar yang tersipu malu mendengar ucapan calon suaminya itu.

"Aku juga senang, Mas." Jawab Sekar lirih sambil menundukkan pandangannya.

"Kadang aku masih seperti nda percaya, sebentar lagi aku benar-benar akan menjadi istrimu."

Lindu tersenyum lalu menggenggam tangan Sekar perlahan.

"Aku sudah menunggu hari itu sejak lama." Sekar mengangkat wajahnya, menatap pria di depannya dengan mata berbinar.

"Kalau nanti sudah menikah, Mas jangan bosan denganku ya."

Lindu tertawa kecil.

"Bagaimana aku bisa bosan? Setiap hari melihatmu saja rasanya masih kurang."

Pipi Sekar semakin merah mendengar godaan itu. Ia lalu memukul pelan lengan Lindu.

"Mas ini suka menggoda."

"Karena aku bahagia." Ucap Lindu lembut.

"Aku juga bahagia, Mas. Nda lama lagi aku akan menjadi istrimu." Ucap Sekar pelan.

Siapa yang tidak senang? Setelah hampir dua tahun menjalin hubungan, akhirnya kisah mereka akan menuju jenjang yang lebih serius. Semua penantian, doa, dan harapan perlahan mulai menjadi kenyataan.

Lindu menatap wajah Sekar dengan penuh kasih. Gadis itu selalu berhasil membuat hatinya tenang. Lindu merasa menjadi pria paling beruntung di dunia.

"Sekar, aku begitu mencintaimu." Ucap Lindu tulus.

Sekar tersenyum haru. Matanya tampak berkaca-kaca mendengar ucapan itu.

"Aku juga mencintaimu, Mas." Jawabnya lembut.

Tak lama kemudian, Lindu merentangkan tangannya lalu memeluk Sekar dengan hangat. Sekar membalas pelukan itu sambil menyandarkan kepalanya di dada pria yang sebentar lagi akan menjadi imamnya.

Angin sore berembus perlahan, menemani dua insan yang tengah dipenuhi rasa bahagia. Di antara hamparan ilalang yang bergoyang tertiup angin, mereka saling memeluk seolah enggan melepaskan satu sama lain.

"Aku janji akan selalu menjaga kamu." Bisik Lindu di telinga Sekar.

Sekar tersenyum kecil.

"Dan aku akan selalu menemani Mas, dalam keadaan apa pun."

"Lihat Sekar itu, sebentar lagi dia akan menjadi istri orang." Kata Bu Lastri sambil mengulek sambal di dapur sederhana rumah mereka.

Aroma asap kayu bakar memenuhi ruangan kecil yang mulai menghangat menjelang malam. Di sudut dapur, Wulan duduk di bangku kayu sambil memotong cabai dan tempe di atas talenan yang sudah tampak usang.

"Iya, Bu. Nda lama lagi dia akan menikah dengan Lindu." Jawab Wulan pelan tanpa mengangkat wajahnya.

Bu Lastri menghentikan kegiatannya mengulek sambal. Wanita itu lalu menatap putrinya dengan tatapan penuh harap.

"Tapi kamu, sampai sekarang pacar saja nda punya. Kapan ibu bisa punya menantu seperti Lindu itu?" Tanyanya.

Wulan tersenyum kecil meski hatinya terasa tidak nyaman mendengar pertanyaan yang sama berulang kali.

"Wulan belum bertemu yang cocok, Bu."

"Belum cocok bagaimana? Umurmu itu sudah cukup untuk menikah." Bu Lastri kembali melanjutkan pekerjaannya, tetapi mulutnya terus berbicara.

"Ibu hanya ingin kamu dapat laki-laki baik, mapan, dan bertanggung jawab seperti Lindu. Jangan sampai kamu salah pilih."

Wulan terdiam. Pisau di tangannya terus bergerak memotong tempe tipis-tipis. Dia memahami kekhawatiran ibunya, tetapi baginya pernikahan bukan hanya soal cepat atau lambat.

Wulan ingin seseorang yang benar-benar tulus mencintainya, bukan sekadar pria yang dipandang sempurna oleh orang lain.

Suasana dapur kembali hening, hanya terdengar bunyi kayu terbakar dan suara ulekan sambal yang beradu pelan.

Wulan menghentikan gerak tangannya sejenak. Pisau yang tadi digunakan untuk memotong tempe kini hanya diam di atas talenan. Dia menunduk pelan sambil menarik napas panjang.

"Bukan gampang mencari laki-laki seperti Lindu, Bu." Ucap Wulan lirih.

"Makanya ibu bilang, jangan asal pilih. Kalau bisa dapat yang mapan, bertanggung jawab, dan sayang sama keluarga."

"Iya, Bu. Wulan mengerti."

"Ibu ini cuma ingin hidupmu enak nanti." Sambung Bu Lastri.

"Ibu nda mau kamu susah. Lihat Sekar, sebentar lagi hidupnya terjamin. Lindu itu pekerja keras, keluarganya juga baik."

Wulan tersenyum tipis meski dalam hati ada rasa tidak nyaman. Seolah dirinya selalu dibandingkan dengan Sekar. Padahal dia juga ingin menemukan seseorang yang tepat, bukan sekadar cepat menikah.

"Tapi menikah itu bukan cuma soal mapan, Bu." Kata Wulan hati-hati.

"Kalau nda cocok nanti malah susah."

Bu Lastri menghela napas panjang.

"Iya, ibu tahu. Tapi ibu cuma takut kamu terlalu lama sendiri."

Suasana dapur mendadak hening beberapa saat. Hanya suara ulekan sambal dan kayu bakar yang sesekali berbunyi pelan.

Wulan melanjutkan memotong tempe sambil tersenyum kecil.

"Kalau memang jodoh Wulan sudah dekat, nanti juga ketemu sendiri, Bu."

"Bu, tapi kalau laki-laki seperti Lindu soal itu, aku nda bisa menjanjikannya, Bu." Kata Wulan pelan.

Dia menurunkan pandangannya ke talenan kayu di depannya. Dalam hati, dia tahu betul bahwa di desa kecil mereka akan sangat sulit menemukan pria seperti Lindu lagi. Karena, pria yang kaya dan mapan, ya hanya Lindu di desa itu.

Bu Lastri mendengus pelan sambil kembali mengulek sambal.

"Kalau nda seperti Lindu ya percuma saja." Ucap Bu Lastri.

Belum sempat Wulan menjawab, Pak Wahdi masuk ke dapur sambil membawa beberapa potong kayu bakar. Pria paruh baya itu rupanya mendengar percakapan keduanya sejak tadi.

"Sudahlah Bu, jangan terus menyuruh dia menikah, apalagi untuk bertemu dengan pria seperti Lindu." Ujar Pak Wahdi santai sambil meletakkan kayu di dekat tungku.

"Jodoh itu di tangan Gusti Allah."

Bu Lastri langsung menoleh cepat pada suaminya.

"Alah... kalau seperti itu terus, lama-lama anakmu itu jadi perawan tua."

Pak Wahdi terkekeh kecil mendengar ucapan istrinya.

"Lho, Wulan masih muda, Bu. Baru juga umur segitu. Nda akan jadi perawan tua."

"Iya, tapi lihat teman-temannya. Sudah banyak yang menikah." Balas Bu Lastri cepat.

Wulan hanya diam sambil menata potongan tempe ke dalam piring. Dia sebenarnya lelah mendengar pembicaraan tentang pernikahan hampir setiap hari.

Namun, dia juga memahami ibunya. Bu Lastri hanya ingin anak perempuannya hidup berkecukupan dan memiliki suami yang mampu menjaganya.

Pak Wahdi kemudian duduk di kursi kayu dekat dapur.

"Yang penting Wulan bahagia. Percuma cepat menikah kalau akhirnya hidupnya susah."

Ucapan itu membuat Wulan tersenyum kecil.

Setidaknya masih ada ayahnya yang memahami perasaannya.

"Tapi, percuma juga menikah kalau asal. Hidup sudah susah ya jadi tambah susah!" Ucap Bu Lastri dengan nada tegas.

Pak Wahdi menghela napas pelan.

Dia tahu istrinya hanya khawatir pada masa depan Wulan. Di desa mereka, kehidupan memang tidak mudah. Banyak perempuan yang menikah muda, lalu hidup pas-pasan bersama suami yang penghasilannya tidak menentu.

"Ibu cuma nda ingin Wulan hidup susah nanti seperti kita." Sambung Bu Lastri lagi.

"Kalau bisa dapat laki-laki mapan seperti Lindu, kenapa harus pilih yang biasa-biasa saja?" Wulan terdiam mendengar ucapan ibunya. Dia mengerti maksud Bu Lastri.

Lindu memang menjadi kebanggaan banyak orang di desa itu. Selain tampan dan sopan, pria itu juga berasal dari keluarga berada. Tidak heran jika banyak ibu-ibu diam-diam berharap anak gadis mereka mendapat pasangan seperti dirinya.

"Tapi Bu," kata Wulan pelan.

"Nda semua orang seberuntung Sekar."

"Makanya berusaha. Jangan cuma diam di rumah terus." Katanya.

Pak Wahdi tersenyum tipis melihat wajah putrinya yang mulai murung.

"Sudahlah, jangan dibuat pusing. Rezeki, jodoh, sama umur itu sudah ada yang mengatur."

"Bapak mah selalu begitu." Gerutu Bu Lastri.

Aku juga mencintai Sekar

Malam itu, sehari sebelum pernikahan Sekar, rumah Ratmini sudah ramai dipenuhi warga desa Wanasari. Tenda besar berdiri megah di halaman rumah dengan hiasan bunga dan lampu yang terlihat cantik dan mewah.

Semua biaya acara itu ditanggung oleh Pak Ramli, mulai dari dekorasi, makanan, hingga makeup pengantin untuk Sekar.

Orang-orang desa pun kagum melihat persiapan yang begitu meriah.

Di bagian belakang rumah, para perempuan sibuk memasak untuk acara besok.

Aroma gulai dan bawang goreng memenuhi udara malam. Suasana terasa hangat dengan obrolan dan tawa yang saling bersahutan.

"Nda sabar mau liat ijab kabul besok," ujar salah seorang ibu sambil mengaduk masakan di kuali besar.

"Biasanya, kalau dengar ijab kabul begitu jadi ingat saat menikah dulu." Sambut ibu yang lain sambil tersenyum malu.

"Iya, kenangan saat indahnya baru nikah langsung di ingatan." Sahut ibu lainnya yang langsung disambut gelak tawa para wanita di sana.

Sementara itu, para pria sibuk menyusun kursi. Anak-anak kecil berlarian sambil bermain di halaman. Malam itu, rumah Ratmini benar-benar dipenuhi kebahagiaan menjelang pernikahan Sekar dan Lindu.

"Besok kau sudah akan menjadi istri orang." Ujar Wulan malam itu di kamar Sekar sambil menatap sahabatnya dengan mata sendu.

"Entah kenapa aku jadi sedih." Katanya lagi pelan.

Sekar tersenyum kecil lalu menggenggam tangan Wulan.

"Wulan, aku itu hanya akan menikah, bukan pergi jauh dan nda kembali."

"Iya, tapi tetap saja. Rasanya seperti kau diambil dariku." Ucap Wulan jujur. Dia menunduk, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. Selama ini Sekar selalu ada untuknya, menemani suka dan duka sejak mereka kecil.

"Kau itu bersama Lindu sama pentingnya bagiku." Ujar Sekar lembut.

"Meskipun aku menikah dan besok menjadi istri Lindu, kau tetap sahabat terbaikku. Nda akan ada yang berubah."

Wulan menatap Sekar lama sebelum akhirnya tersenyum tipis.

"Aku hanya takut kau sibuk dengan kehidupan barumu nanti."

Sekar menggeleng pelan.

"Nda akan. Kau tetap bagian penting dalam hidupku."

Di tempat lain, suasana berbeda terlihat di sebuah pos ronda dekat ujung desa. Beberapa botol minuman berserakan di atas meja kayu yang mulai usang.

Malam semakin larut, namun Gaga masih duduk dengan wajah merah dan mata sayu akibat mabuk. Hatinya terasa hancur memikirkan bahwa besok Sekar, gadis yang selama ini dia cintai sepihak, akan resmi menjadi istri Lindu.

"Sudahlah, Ga. Bukan cuma kau yang patah hati karena pernikahan Sekar. Hampir setengah pemuda desa ini juga patah hati." Ujar Rahman sambil menepuk bahu Gaga pelan.

"Benar itu." Sahut Pandu sambil tertawa kecil, meski sebenarnya dia juga kecewa.

"Aku juga patah hati dibuatnya. Tapi mau bagaimana lagi? Dia memang bukan jodoh kita." Ujarnya lagi.

Gaga mendongak dengan tatapan tajam. Tangannya menggenggam botol erat sebelum meneguk isinya lagi.

"Ahh! Diam kalian!" Bentaknya di tengah mabuk.

"Kalian itu cuma kagum karena Sekar kembang desa. Karena dia cantik, lembut, dan dipuja banyak orang. Sedangkan aku nda!"

Rahman dan Pandu terdiam mendengar ucapan itu.

"Aku benar-benar mencintainya." Lanjut Gaga dengan suara melemah. "Sejak lama, bahkan sebelum dia bersama Lindu." Ucap Lindu.

"Aku itu sudah sangat lama menyukainya." Ujar Gaga dengan suara berat dan kacau karena pengaruh alkohol. Dia memukul meja kayu di depannya hingga botol-botol di atasnya bergetar.

"Tapi kenapa malah Lindu brengsek itu yang dipilihnya?"

Rahman menghela napas panjang. Dia paham perasaan sahabatnya itu, meski tetap merasa Gaga terlalu berlebihan.

"Ya jelas saja Sekar memilih Lindu." Ujar Pandu santai sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi bambu.

"Lindu itu punya segalanya. Kaya, tampan, sopan, pekerja keras, disukai orang tua pula."

Pandu terkekeh pahit sebelum melanjutkan ucapannya.

"Sedangkan kita?" Katanya sambil menunjuk dirinya sendiri, Rahman, dan Gaga bergantian.

"Kelebihan kita cuma satu, mabuk."

Rahman sampai tertawa kecil mendengar ucapan itu. Bahkan Gaga yang sedang kesal pun sempat terdiam.

"Kalau dipikir-pikir, benar juga." Gumam Rahman.

"Mana ada orang tua yang rela menyerahkan anak gadisnya ke pemabuk seperti kita."

"Diam kau!" Sahut Gaga kesal, meski nada suaranya mulai melemah. Dia menunduk dengan mata kosong.

"Aku mungkin berantakan begini, tapi perasaanku ke Sekar sungguh serius."

"Jika Sekar menerimaku." Ujar Gaga lirih dengan tatapan kosong menembus gelap malam.

"Jangankan berhenti mabuk. Bekerja siang malam demi membuat dia hidup kaya, walaupun tanpa tidur, aku sanggup."

Tangannya mengepal kuat di atas meja. Untuk pertama kalinya, Rahman dan Pandu mendengar kesungguhan sebesar itu dari mulut Gaga.

Biasanya pria itu hanya bercanda, membuat keributan, atau menghabiskan malam dengan minuman. Namun malam ini berbeda. Semua rasa kecewa dan cinta yang selama ini dipendam akhirnya keluar begitu saja.

"Aku bisa berubah demi dia." Lanjutnya pelan.

"Aku bisa jadi laki-laki yang lebih baik."

Pandu dan Rahman saling pandang. Mereka tahu Gaga tidak sedang bercanda.

"Tapi…" Suara Gaga melemah. Dia tertawa kecil, namun terdengar begitu pahit.

"Dia bahkan nda pernah memberiku kesempatan untuk membuktikan diri."

Suasana di pos ronda mendadak hening. Rahman dan Pandu saling berpandangan, bingung harus berkata apa lagi.

"Sekar mungkin memang nda pernah melihatmu seperti itu, Ga." Ujar Rahman hati-hati. Dia tidak ingin memperkeruh keadaan, namun juga tidak ingin memberi harapan palsu pada sahabatnya itu.

Gaga terdiam beberapa saat. Matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. Angin malam berembus pelan menerbangkan asap rokok yang mengepul di udara.

"Aku tahu." Gumamnya lirih.

"Dari dulu, dia nda pernah melihatku sebagai pria. Mungkin bahkan nda lebih dari pemuda desa yang kerjanya bikin keributan."

"Jangan bicara begitu." Sahut Pandu pelan.

"Tapi itu kenyataannya." Gaga tersenyum miris.

"Kalau aku jadi Sekar pun, aku pasti memilih Lindu."

Rahman menghela napas panjang. "Lindu memang sulit dikalahkan. Dia baik, pekerja keras, keluarganya terpandang. Semua orang desa juga menyukainya."

"Itulah yang paling membuatku kesal." ujar Gaga sambil menggertakkan rahang.

"Aku bahkan nda bisa membenci dia sepenuhnya, karena dia memang lelaki yang pantas untuk Sekar." Ucap Gaga akhirnya. Dia sadar, dia tetap harus melepaskan Sekar.

Setelah mengatakan itu, dia menyandarkan tubuhnya ke kursi bambu tua di belakangnya. Pasrah dengan pernikahan perempuan yang di cintainya.

Rahman dan Pandu hanya diam. Mereka tahu, menerima kenyataan terkadang jauh lebih sulit dibanding mempertahankan perasaan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!