Indonesia
NovelToon NovelToon

RAHIM BAYARAN EMMA TAYLOR

Bab 1 Rahim Bayaran

Emma terperangah kaget ketika seseorang memaksa masuk ke dalam rumahnya.

Orang berpakaian necis, lengkap dengan setelan jas warna hitam menyelonong masuk tanpa permisi.

"PAM !"

Pria asing tak dikenal itu langsung melayangkan tinjunya ke arah muka paman Broeri.

Tak tanggung-tanggung, dia menghajar paman Broeri sampai babak belur.

Seketika ruangan di rumah ini berubah mencekam, ketakutan tercipta secara tiba-tiba tanpa terduga.

Hening sedetik, seusai pria asing itu menghajar habis pamannya, Broeri.

"Siapa?" batin Emma tatkala dia melihat sosok pria asing di depannya.

Ketakutan menjalar di sekujur badan Emma Taylor, membuat bulu kuduknya berdiri, gemetar serta keringat dingin membasahi wajah cantiknya yang khas.

Pria asing nan tampan itu berdiri di hadapannya, sambil mengusap tangannya yang terkena noda darah ke arah saputangan. Ia menatap dingin Emma Taylor.

"Kau Emma Taylor?" tanyanya.

Emma tidak berani bersuara, suaranya tercekat bahkan ia tak berani menelan ludahnya sendiri ketika pria asing itu melihat ke arahnya.

"Perkenalkan namaku Noah Jones, aku kemari untuk menemuimu selain itu aku juga bermaksud menagih hutang pada Broeri Goldman." lanjutnya masih membersihkan tangan.

Emma terdiam, namun tatapannya bergerak ke arah paman Broeri Goldman yang tergeletak tak sadarkan diri.

"Apa maumu?" Emma memberanikan diri bersuara. Ia menoleh ke Noah Jones.

Senyum Noah Jones mengembang di sudut bibirnya yang menawan saat Emma Taylor bertanya kepada dirinya.

"Kau berani juga ternyata padaku, kupikir kau akan merengek minta ampunan tapi kau tidak melakukannya malah balas bertanya." ucap Noah Jones.

"Terus terang aku tidak punya uang sepeserpun untuk melunasi hutang paman Broeri lalu apa yang akan kau lakukan padaku?" tanya Emma.

Noah Jones melirik tajam ke arah Broeri Goldman yang diam tak berdaya di lantai sehabis ia menghajar laki-laki itu. Ia menarik nafas pelan sebelum lanjut bicara.

"Aku ada tawaran buatmu, tapi kau juga tidak bisa menolak tawaranku ini sebab kau harus melunasi hutang-hutang Broeri Goldman mau tak mau, nona." ucap Noah.

Noah Jones menatap tajam pada Emma Taylor yang bersimpuh gemetaran di depannya.

"A-apa tawarannya?" tanya Emma beringsut pelan.

Noah Jones menarik cepat lengan Emma sehingga mereka saling beradu pandangan.

Rahang Noah Jones mengeras, tapi ujung matanya bermain seperti tersenyum saat ia dan Emma Taylor saling menatap.

Noah Jones menahan nafasnya, ia akui bahwa wajah Emma Taylor sangatlah cantik sehingga ia sulit untuk tidak berhenti mengaguminya.

"Apa tawaran untuk ku?" tanya Emma ulang.

Noah Jones mengalihkan perhatiannya pada bibir merah jambu milik Emma yang merekah, ia tak tahan untuk tidak menciumnya namun ia masih bisa menahan diri.

Suara Noah Jones terdengar serak, nafasnya tercekat, menahan gairah.

"Aku butuh rahimmu buat menanam benih anakku, lebih tepatnya untuk calon pewaris Lucent Gem." ucapnya.

Kedua bola mata Emma Taylor terbelalak lebar, ia hampir tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.

"A-Apa?! Apa katamu?!" sahutnya bingung.

"Yah, aku ingin kau menjadi ibu pengganti buatku, aku butuh rahimmu dan aku akan membayarnya." ucap Noah.

"Ya, Tuhanku..." ucap Emma terkejut kaget.

Mereka berdua saling menatap lekat, jelas terlihat bahwa Emma Taylor tidak menyukai tawaran tersebut.

Emma Taylor melepaskan pegangan tangan Noah Jones padanya, ia menggeleng pelan sembari mengangkat tangannya.

"Ini ilegal, dan aku tidak bisa melakukannya. Aku tak sanggup!" ucapnya.

Noah Jones melangkah mundur, ia berjalan ke arah Broeri Goldman yang tergeletak tak sadarkan diri di lantai. Ia tendang pelan tubuh Broeri lalu menoleh pada Emma Taylor.

"Hanya ada satu pilihan untukmu, pertama jika kau menolak tawaran dariku maka kau harus rela melunasi hutang-hutang Broeri Goldman dan aku akan mengirimmu ke Bangladesh untuk kujual di sana."

Noah Jones berkata dengan sorot mata tajam tanpa senyuman, ia tampaknya serius.

Emma tertegun, tak sanggup bersuara, wajahnya kaku dan ia merasakan kedua kakinya seakan-akan tak berpijak lagi di lantai.

Tubuhnya goyang, pandangannya nanar serta kepalanya seperti dihantam godam besar. Seperti ada Lindu yang menghantam dirinya. Ia tertawa pelan.

"Kau bermaksud menindasku, seolah-olah aku ini bukan manusia. Kau memaksaku bahkan berani mengancamku. Aku bisa mengadukan tindakanmu adalah pidana."

Emma Taylor berucap tegas, tatapannya dingin saat ia menatap Noah Jones.

"Tidak ada pilihan buatmu, dan Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Emma." sahut Noah.

Noah Jones berjalan mendekati Emma Taylor yang gugup lalu mencengkeram lengan perempuan malang itu sekali lagi.

Pandangan Noah bergerak dari ujung rambut hingga ujung kaki kemudian pandangannya terhenti pada lekuk tubuh Emma Taylor yang mempesona. Dan berpindah pada bibir merekah milik Emma.

"Aku menilaimu bahwa kau cocok sebagai ibu dari anakku, dan aku menginginkan rahimmu untuk aku buahi." ucap Noah serius.

"Kupikir bahwa anda sudah tidak waras lagi, dan kuharap anda membuang jauh-jauh pikiran anda itu sebab aku menolak tawaran gila anda, Tuan Noah Jones."

Emma Taylor mencoba melepaskan cengkraman tangan Noah Jones padanya namun ia tak berhasil melakukannya. Karena Noah menggenggamnya sangat kuat.

Pandangan mereka kembali beradu lekat, sorot mata keduanya terlihat serius.

"Haruskah aku memaksamu, Emma!" bisik Noah di dekat bibir Emma Taylor.

"Jauhkan dirimu dariku!" sahut Emma.

"Dan haruskah aku memaksamu membayar seluruh hutang Broeri Goldman sekitar lima puluh milyar sekarang juga." kata Noah.

Mendengar ucapan Noah Jones membuat Emma Taylor tak berdaya bahkan ia kehilangan kepercayaan dirinya untuk melawan pria di hadapannya ini.

"Apa kau bilang, kau tidak bersungguh-sungguh menyebut nilai hutang paman Broeri kan?" ucap Emma.

"Tidak." sahut Noah, senyum simpulnya merekah. "Aku berkata sungguh-sungguh padamu, hutang pamanmu adalah lima puluh milyar."

"Tidak mungkin dia berhutang sebesar itu, pasti kau sedang mencurangi paman Broeri, dia tidak mungkin berani berhutang sebanyak itu bahkan dia tidak memiliki pekerjaan tetap." sahut Emma.

"Dan bagaimana paman Broeri mu itu menjaminkan keponakannya sendiri sebagai jaminan atas hutang-hutang nya bahkan ia sepakat untuk menjual mu padaku." ucap Noah.

Bola mata Emma Taylor semakin melebar, sorot matanya serius ke arah Noah Jones, tatapannya mewakilkan isi hatinya saat ini.

"Itu tidak mungkin. Paman Broeri tidak akan setega itu padaku. Aku adalah keponakannya, putri dari kakak perempuannya. Kau pasti berbohong padaku." ucap Emma tak terima.

Pandangan Noah Jones menyipit, lalu ia tertawa kecil serta menjauhkan dirinya dari Emma Taylor.

"Bukan masalah bagiku kalau kau tak mau menerima tawaran ku menjadi ibu pengganti buat calon anakku, namun aku tekankan padamu sekali lagi bahwa aku juga tidak main-main dengan ucapanku." ucap Noah sembari menyaku tangan.

Lagi-lagi rahangnya mengeras, dan sorot matanya benar-benar dingin.

Noah Jones tak lagi menyembunyikan suasana hatinya yang terlihat serius, ia sangat kesal terhadap Emma Taylor yang berani menolak tawaran darinya.

"Aku punya bukti resmi, surat perjanjian antara aku dan Broeri Goldman. Jika kau ingin melihatnya, kau bisa datang ke rumah bersamaku." lanjutnya tegas.

"Dan kau kembali mencoba mengancamku." sahut Emma.

"Tidak, aku tidak mengancam mu melainkan memberitahukan hal penting padamu, Emma Taylor." ucap Noah dengan nada serius.

"Aku tidak berkenan meninggalkan rumah ini dan ikut bersamamu, Noah Jones." sahut Emma sembari melipat tangan ke depan dadanya yang membusung indah.

"Sayangnya kau harus pergi bersamaku sebab rumah ini bukan lagi milikmu melainkan milikku." kata Noah.

"A-Apa?!" ucap Emma tercengang.

"Yah, pamanmu, Broeri Goldman telah menjaminkan rumah ini atas hutang-hutang nya padaku. Dan mau tak mau maka kau harus segera angkat kaki dari rumah ini."

Seluruh dunia milik Emma Taylor runtuh seketika, ia tak percaya kalau pamannya akan menjaminkan rumah peninggalan warisan satu-satunya milik ibu kandungnya untuk melunasi hutang-hutang pamannya kepada Noah Jones.

Bab 2 Nasib Buruk Emma Taylor

Emma Taylor terkesiap kaku, wajahnya membeku ketika Noah Jones memberitahukan semuanya.

Memaksakan dirinya buat menerima tawaran dari Noah Jones yang menginginkan rahimnya untuk dibuahi.

Emma Taylor berteriak keras, ia berubah histeris, ia lemparkan barang yang ada di dekatnya ke arah Noah Jones.

"Duk! Duk!"

"Pergi kau, sialan!" jerit Emma tak tertahankan emosinya. "Kubur mimpimu itu karena aku tidak sudi menerima permintanmu, Noah keparat!"

Pelipis Noah Jones berdarah akibat tergores benda tumpul yang dilemparkan oleh Emma Taylor.

Sorot mata Noah Jones berubah tajam, ia melirik Emma dari balik lengannya.

"Aku tidak sudi menerima tawaran mu itu, demi apapun juga!" teriak Emma kalap.

Rahang Noah mengeras, bibirnya mengatup rapat, di hadapannya tampak Emma Taylor berteriak-teriak marah.

"Duk! Duk!"

Suara teriakan Emma Taylor terdengar keras, muncul sejumlah orang dewasa berpakaian hitam dari arah luar, mereka masuk berhamburan dengan paniknya.

Mereka melihat Emma Taylor mengamuk histeris.

"Tuan Noah." ucap salah satu dari mereka.

"Aku baik-baik saja, tenang!" sahut Noah. "Jangan lukai dia!"

"Tapi Tuan Noah, anda diserang."

Orang-orang dewasa mencoba mendekati Emma untuk menghentikannya. Namun Noah Jones segera menahan mereka.

"Dengarkan aku! Jangan bertindak apapun juga padanya! Biarkan aku yang menanganinya!" ucap Noah.

Serentak mereka menoleh pada Noah Jones dan menghentikan laju langkah mereka semua.

"Tangkap aku!" teriak Emma.

Emma kembali menghujani Noah Jones dengan benda-benda yang ada di dekatnya.

"Jangan pikir kalian akan berhasil melakukanya. Kau pikir aku boneka yang rahimnya seenak kalian jual belikan!"

Teriakan Emma lebih lantang dari sebelumnya.

"Duk! Duk! Duk!"

Orang-orang Noah Jones bergegas menghadang ke depan, menjadikan badan mereka tameng.

Emma semakin gencar melemparkan benda-benda ke arah mereka.

"Greb!"

Noah Jones menangkap pergelangan tangan Emma dengan cepatnya.

"Apa kau gila?" bisik Noah. "Kau bisa terluka jika terus-menerus menyerang mereka."

"Apa pedulimu?!" sahut Emma dengan sorot mata nyalang. "Keparat kau!"

Emma berusaha menyerang Noah akan tetapi pria tampan itu mampu mengendalikan Emma.

"Lepaskan aku!" jerit Emma sembari meronta-ronta.

Noah Jones tampak tenang, ia hanya menatap dingin pada Emma yang mencoba melepaskan genggaman tangannya.

"Pergi!" teriak Emma sengit.

"Diam, Emma!" sahut Noah dingin.

"Kau tak akan pernah bisa membawaku! Ini rumahku!"

"Sayangnya, kau harus ikut bersamaku!" sahut Noah. "Dan aku akan memaksamu untuk ku, Emma!"

"Enak saja!" bentak Emma. "Aku bukan barang yang seenaknya kau bawa pulang ke rumahmu!"

Emma menendang paha Noah hingga pria itu kesakitan.

"Kau!" ucap Noah dengan menyipit kan mata."

"Kau minta lebih maka Aku berikan!" sahut Emma. "Rasakan ini!"

Emma menendang Noah sekali lagi, dengan gerakan cepat, Noah Jones mampu menghindari serangan itu. Ditahannya ayunan kaki Emma lalu ia tangkap lengan Emma kemudian menguncinya.

"Lepaskan aku!" jerit Emma histeris.

"Tidak akan pernah, dan jangan coba-coba melawanku." sahut Noah.

"Lepaskan aku!" teriak Emma yang terjepit oleh dekapan Noah Jones.

Noah Jones menoleh pada anak buahnya, sembari memerintah.

"Bersihkan ruangan ini. Dan bawa pria bodoh itu ke panti sosial!"

"Baik, bos." sahut mereka serentak kemudian mendekati Broeri Goldman yang tergeletak tak sadarkan diri.

Emma melirik ke arah orang-orang Noah Jones Dan bereaksi cepat.

"Apa yang akan kalian lakukan pada paman Broeri???" teriaknya. "Jangan sentuh dia. Menjauh lah dari paman Broeri!"

Emma terlihat cemas saat orang-orang Noah Jones mulai membawa paman Broeri Goldman dalam keadaan tak sadarkan diri.

Sorot mata Emma mengikuti gerakan mereka ketika pamannya dibawa pergi dari rumah ini.

"Paman Broeri. Bangun paman!" teriakan Emma mencoba menyadarkan pamannya namun suaranya nyaris tak terdengar oleh Broeri Goldman.

Noah Jones hanya menahan nafas saat ia melihat Emma sembari berkata.

"Mari kita pergi dari sini, Emma Taylor!"

Emma bereaksi keras, ia berusaha melepaskan diri dari dekapan lengan Noah Jones yang membawanya keluar rumah.

Terlihat Emma memberontak, sekuat tenaga ia melawan Noah namun sia-sia saja sebab Emma kalah kuat dari Noah.

Noah Jones membawa Emma Taylor menuju sebuah mobil jeep hitam kemudian memasukkannya ke dalam mobil tersebut.

"Kita kembali ke rumah sekarang, White!" perintahnya ketika naik ke mobil.

"Baik, Tuan Noah Jones." sahut seorang pria berwajah tegas di belakang setir mobil.

"Aku benar-benar lelah." ucap Noah sembari mengapit tubuh Emma Taylor.

Emma Taylor tak berdaya dalam dekapan lengan Noah, ia terbaring di jok belakang mobil bersama pria itu.

"Apa anda perlu hiburan, biar saya panggilkan terapis spa langganan saya?" tawar pria yang dipanggil White.

"Tidak, White. Terimakasih." sahut Noah sembari melirik tajam ke Emma Taylor.

Ujung dagunya naik sedikit kemudian ia tersenyum tipis.

"Aku sudah punya hiburan sekarang." lanjutnya.

White tersenyum ketika ia mendengar jawaban Noah Jones. Dan mobil mulai bergerak cepat.

Iring-iringan mobil hitam melaju kencang, meninggalkan halaman rumah Emma Taylor yang asri.

Suasana musim semi terasa disekitar perjalanan, sepanjang jalan, pemandangan disuguhi oleh bunga-bunga di pepohonan yang mulai tumbuh bermekaran dengan rindangnya.

Pandangan Noah Jones teralihkan, sekilas ia menikmati pemandangan diluar mobil.

"Sudah musim semi saja, waktu tak terasa berlalu secepat ini." ucapnya.

"Yah, Tuan Noah. Setelah musim dingin yang panjang, semua orang bisa menikmati hangatnya musim semi. Dan waktu siang hari menjadi lebih panjang daripada malam hari." kata White sembari menyetir.

"Baguslah, Aku suka waktu panjang di siang hari daripada malam hari. Ada pekerjaan lebih penting sekarang yang harus aku kerjakan." ucap Noah lalu menoleh ke arah Emma yang terbaring meringkuk di dekatnya.

"Apa rencana anda?" tanya White sambil melirik ke spion depan.

"Aku masih mengagendakan rencana itu sebab aku belum punya rencana apapun untuk aku kerjakan." sahut Noah.

"Masalah mengenai Nyonya

Charlotte, bagaimana selanjutnya?" tanya White dari arah kemudi mobil.

"Ada apa dengannya?" balas Noah bertanya.

"Beliau sudah menunggu kedatangan anda bahkan menelpon saya berulang-ulang kali." jawab White.

Noah Jones menatap dari sudut matanya ke arah White dan menjawab.

"Urusan Nenek Charlotte biar aku saja yang menghandle, dia akan menunggu dan mengerti kesibukan ku." sahut Noah Jones. "Pastinya nenek akan bersedia bersabar dengan tuntutannya."

"Saya mengerti." ucap White lalu fokus pada jalan di depan mobil.

Hening lima detik ketika mobil melaju kencang di jalanan aspal licin.

Perhatian Noah Jones kembali tertuju pada Emma Taylor, ia dudukkan perempuan itu dengan tetap mengunci kedua lengannya.

Emma Taylor bereaksi keras, ia mulai melawan Noah. Dengan sigapnya Noah berhasil mengalahkannya.

"Cobalah tenang, nona!" perintah Noah.

"Tidak akan. Lepaskan aku sekarang juga!" sahut Emma meronta-ronta.

"Sebentar lagi kita sampai tujuan, dan aku akan memberitahu kan padamu sesuatu yang lebih penting." ucap Noah Jones.

"Apa peduliku." sahut Emma melotot tajam.

"Bukan masalah besar yang harus kau cemaskan sebab aku hanya menunjukkan padamu yang seharusnya aku tunjukkan untukmu." ucap Noah.

"Dan kau mencoba memerasku dengan cara licikmu, Tuan Noah Jones. Kau pikir kau berkuasa terhadapku. Asal kau tahu saja bahwa aku bukan perempuan lemah yang bisa kau kendalikan seperti yang kau pikirkan." sahut Emma ketus.

Noah Jones menatap dingin, ekspresi nya datar ketika ia memandang wajah cantik milik Emma Taylor di hadapannya.

Tatapan Noah Jones membuat Emma sedikit gentar, bahkan membuat Emma khawatir sehingga ia palingkan wajahnya dari Noah.

Namun tatapan kedua mata berwarna biru itu berubah tampak teduh ketika ia melihat reaksi gugup Emma, tatapan itu agak redup bahkan terkesan hangat dari sebelumnya.

Terdengar suara serak dari Noah Jones saat ia berbicara pada Emma Taylor.

"Kau boleh berbicara semaumu sekarang. Dan aku tidak akan melarangnya. Kembali perlu kau ingat dan sadari saja bahwa kau adalah milikku, Emma." ucap Noah datar.

Bab 3 Seratus Milyar, Bukan Spesies Baru

"Bruk!"

Emma terhempas ke lantai marmer saat Noah Jones yang baru dikenalnya itu membawanya paksa dari rumahnya.

Sorot mata Emma melotot tajam ke arah Noah Jones di hadapannya.

Noah Jones memandangnya datar tanpa ekspresi.

"Ambilkan aku salinan surat perjanjianku dengan Broeri Goldman!" perintahnya pada salah satu anak buahnya.

"Siap, Tuan Noah." sahut seorang pria berpakaian rapi di sebelah Noah Jones.

Noah Jones memandang Emma Taylor yang terbaring di lantai marmer rumahnya, pandangannya menyipit.

"Sekarang kau milikku, tidak ada yang bisa kau perbuat saat ini." ucap Noah sembari duduk di sofa merah, menatap dingin Emma Taylor.

Emma beringsut pelan, ia tertunduk diam sedangkan tatapan Noah terus mengikutinya.

Datang pria tadi sembari membawa salinan surat perjanjian yang diminta oleh Noah Jones padanya.

"Ini salinannya, Tuan Noah." ucapnya.

"Terimakasih, Simon." sahut Noah.

"Plak!"

Noah Jones melemparkan salinan surat perjanjian itu ke arah Emma Taylor.

"Ambil dan lihatlah sendiri perjanjian itu!" ucapnya.

Emma melirik ke arah Map Beludru berwarna hitam di dekatnya.

"Apa gunanya aku berbohong padamu?" ucap Noah. "Dan untuk apa aku harus susah-susah memaksakan kehendak, semua telah tertulis sah dan sudah ditandatangani sendiri oleh pamanmu."

Noah Jones masih memperhatikan Emma yang ragu-ragu buat mengambil Map Beludru hitam di dekatnya.

"Baca dan kau akan mengerti isi dari surat perjanjian itu. Tidak ada paksaan ataupun tekanan dariku karena pamanmu sudah sepakat denganku."

Noah Jones melanjutkan ucapannya seraya mencondongkan badannya ke depan.

"Bukan aku yang menjaminkan mu padaku namun pamanmu yang tega menjaminkan dirimu atas seluruh hutangnya."

Noah Jones menangkupkan jari jemari tangannya ke depan lalu berkata.

"Dan aku butuh rahimmu sebagai bayaran atas hutang-hutang Broeri Goldman padaku, tanpa aku duga bahwa semua harapanku bakal terwujud nyata setelah aku bertemu pamanmu itu."

Emma membaca isi Map Beludru berwarna hitam ditangannya, tanpa ia sadari, air matanya menggenang di pelupuk matanya yang bening.

Bagaimana bisa pamannya akan setega itu menjaminkan dirinya atas hutang-hutang yang tidak pernah Emma ketahui bahkan ia nikmati.

Emma meremas kuat Map Beludru berwarna hitam itu, ia palingkan wajahnya dengan mata terpejam. Tangannya gemetar, raut wajahnya berubah murung, tak ada tangisan, ataupun ratapan darinya.

Hanya ada getaran tak menentu di dada saat Emma mengetahui semua kenyataan pahit ini.

Noah Jones memperhatikan dari sudut matanya ke arah Emma. Ia tahu kalau Emma sedang memendam kesedihan hatinya.

"Aku tak pernah mengerti apa alasan pamanmu sehingga ia tega menjual mu padahal kau hanya keponakannya." ucapnya datar.

Emma menahan tangisannya, kepalanya yang terangkat penuh harga diri, kini tertunduk lesu. Sebab ia tidak dapat lagi menolak tawaran Noah Jones atas permintaannya untuk menjual rahimnya pada pria asing itu.

"Apa pendapatmu sekarang?" tanya Noah.

Emma hanya menggeleng lemah, lalu menjawab pelan.

"Tidak ada..." sahutnya. Ia menoleh ke Noah Jones Dan terdiam.

"Artinya kau memilih setuju sekarang. Dan kau akan merelakan rahimmu padaku." kata Noah.

"Jujur aku tidak menyukai tawaranmu itu, tapi aku tidak bisa menolaknya karena semua telah disepakati secara legal." sahut Emma bergetar.

"Aku akan membayar rahimmu. Ini tidak hanya cuma-cuma namun ada imbalannya sebab aku tidak suka berlaku curang, Nona Emma Taylor." lanjut Noah.

"Apalah dayaku meski aku menolakmu tetap aku tidak mampu menolaknya." ucap Emma berkaca-kaca.

Noah Jones tersenyum tipis seraya menarik nafas.

"Aku akan membayarmu dengan harga sepadan, Aku bayar rahimmu. Dan kau hamil, mengandung calon pewaris Lucent Gem untukku." ucapnya.

Noah Jones memberi perintah pada seseorang di ruangan ini.

"Tolong ambilkan tas koperku, James!" perintahnya.

"Baik, tuan." sahut pria berpakaian jas biru tua bernama James.

James menuju lemari besi di ruangan tersebut lalu mengambil sebuah tas koper warna hitam dari dalam lemari. Ia menghampiri Noah Jones yang duduk di sofa merah sembari menatap Emma.

"Ini tuan." ucap James.

"Di dalam tas koper ini, ada uang sekitar seratus milyar. Jika kau bersedia menerima tawaran dari ku maka semua uang ini menjadi milikmu. Dan hutang-hutang pamanmu kuanggap lunas dengan syarat." kata Noah Jones.

Emma terkesiap dingin, pandangan matanya langsung tertuju pada sekoper uang yang di pegang James.

Gugup, bingung bercampur satu di pikiran Emma Taylor saat ia melihat milyaran uang di tas koper itu.

Hatinya bingung antara memilih atau menolak namun ia juga tidak bisa memungkiri bahwa ia butuh hidup.

"Bagaimana?" tanya Noah. "Kau terima atau tidak tawaran ini, Emma Taylor?"

"A-Aku..." sahut Emma gugup sembari berpikir.

"Hanya sembilan bulan kau mengandung benih milikku dan melahirkan calon pewaris bagi Lucent Gem untukku maka tugasmu selesai, uang ini jadi milikmu." ucap Noah datar.

"Dan Aku bebas setelah menyelesaikan tugas darimu?" tanya Emma.

"Terserah padamu, kau bisa memilih bebas atau menjadi pelayan bagi kami. Karena status diantara kita hanyalah prospek masa depan yang saling menguntungkan." sahut Noah.

"Maksud mu?" tanya Emma.

"Tidak ada pernikahan resmi, hanya perjanjian kontrak tertulis diantara kita sampai batas waktu yang telah kita berdua sepakati. Sembilan bulan mengandung, tiga bulan menyusui atau tidak, bukan masalah penting bagiku." sahut Noah ringan.

Noah Jones mengambil satu tumpukan kertas uang dari dalam tas koper, sambil memainkan lembaran-lembaran uang tersebut. Ia melirik tajam ke arah Emma Taylor yang masih duduk di lantai.

"Yang terpenting adalah kau lahirkan seorang anak buatku. Tidak masalah ia berjenis kelamin perempuan atau laki-laki." lanjutnya.

Emma terperangah mendengar ucapan Noah Jones, seakan-akan yang ia katakan terdengar ringan, tanpa adanya beban berat sama sekali.

"Baiklah..." ucap Emma.

"Bisa kau pertegas ucapanmu, Aku tidak mengerti maksud ucapanmu "Baiklah" itu, Emma." kata Noah Jones mengernyitkan dahi.

"Baiklah, Aku terima tawaranmu itu, kau ingin rahimku maka kau akan dapatkan keinginanmu itu. Setelah itu, urusan diantara kita selesai." sahut Emma tegar.

"Kau benar-benar setuju melakukannya?" giliran Noah Jones terpana tak percaya saat Emma menerima tawarannya.

"Ya, Aku setuju. Dan aku terima permintanmu padaku untuk hamil anakmu dengan satu syarat aku bebas tanpa ikatan. Aku bisa pergi membawa seluruh uang itu." kata Emma tegas.

"Dan..." lanjut Noah Jones tampak serius.

"Kau dapatkan calon pewaris, dengan kata lain kau punya anak bagi Lucent Gem sedangkan aku bebas pergi darimu sesuai yang kuinginkan." kata Emma.

"Kau serius mengatakannya, Emma Taylor." kejar Noah Jones.

"Ya, aku serius." jawab Emma. "Syaratnya hutang-hutang paman Broeri Goldman lunas serta aku dapatkan seluruh uang seratus milyar itu. Dan aku pergi bebas setelah kontrak selesai."

Noah Jones terperangah kaget, ia menatap tak percaya pada Emma Taylor.

Bagaimana dengan mudahnya, Emma berubah pikiran padahal ia menolaknya mati-matian tadi.

Kedua tangan Noah Jones gemetar, sikapnya canggung, pikirannya mulai kacau balau, dengan cekatan, ia alihkan perhatiannya pada arah lainnya seraya merapikan letak jasnya.

Noah Jones tidak ingin Emma membaca kekalutan pikirannya, ia berusaha menyembunyikan kegelisahan hatinya.

"Ehem..." Ia menelan salivanya sedangkan sorot matanya berkeliaran tak menentu.

Noah Jones memperbaiki letak duduknya di sofa warna merah lalu ia menoleh pada James yang berdiri disamping sofa.

"Berikan koper itu padanya. Biarkan dia memiliki seluruh uang itu untuknya." perintahnya canggung.

"Baik, Tuan Noah Jones." sahut James hormat seraya melangkah maju ke arah Emma Taylor.

James menyerahkan tas koper berisi uang seratus milyar kepada Emma Taylor yang masih duduk di lantai.

Tak ada kata terucap sepatah kata ataupun sanggahan dari James, ia serahkan koper tersebut.

Emma menerima koper berisi uang seratus milyar dari James dengan ekspresi dingin, sepertinya ia sedang berpikir serius. Diperhatikannya uang di dalam tas koper warna hitam yang ada ditangannya lalu menoleh kepada Noah Jones.

"Kapan aku memulai tugas itu?" ucapnya tenang.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!