Indonesia
NovelToon NovelToon

Reinkarnasi Sang Kaisar Pedang

Bab 1: Kebangkitan di Bawah Hujan Darah

​Langit di atas Kota Daun Musim Gugur bergemuruh hebat. Kilatan petir menyambar-nyambar, merobek tirai awan hitam pekat, seolah-olah langit sendiri sedang menumpahkan murka. Hujan turun menderu, membasahi bumi dengan dingin yang menusuk tulang.

​Di sebuah halaman belakang yang kumuh dan terabaikan di sudut kediaman Keluarga Lin, seorang pemuda terbaring diam bersimbah darah. Pakaiannya compang-camping dipenuhi lumpur, dan napasnya telah sepenuhnya berhenti. Pemuda ini adalah Lin Chen, tuan muda ke-13 dari Keluarga Lin yang terkenal seantero kota sebagai "Sampah Terbesar". Ia terlahir dengan meridian buntu, membuatnya tidak bisa menyerap energi spiritual sedikit pun.

​Namun, tepat ketika guruh meledak di langit, jari tangan pemuda yang sudah mati itu tiba-tiba berkedut.

​Kelopak matanya terbuka perlahan.

​Tidak ada lagi keputusasaan, ketakutan, atau kepengecutan di sorot mata itu. Yang ada hanyalah kedalaman yang menyerupai jurang tak berdasar, dan ketajaman yang bisa membelah lautan serta menghancurkan bintang.

​"Aku... belum mati?"

​Suaranya serak dan parau, tenggelam di tengah suara rintik hujan. Ia memaksakan diri untuk duduk, menahan rasa sakit luar biasa yang menggerogoti sekujur tubuh fana tersebut. Ia menatap telapak tangannya yang rapuh, lalu memindai ingatan asing yang tiba-tiba mengalir deras ke dalam lautan jiwanya seperti ombak pasang.

​"Lin Chen... Namanya juga Lin Chen. Berusia lima belas tahun, meridian cacat, dan baru saja dipukuli sampai mati oleh sepupunya sendiri hanya karena menatap seorang gadis dari keluarga cabang." Pemuda itu tertawa dingin. Tawanya penuh dengan sarkasme yang menusuk. "Sungguh kehidupan yang menyedihkan dan menyedihkan."

​Dia bukanlah Lin Chen yang asli. Atau lebih tepatnya, jiwa di dalam tubuh ini kini adalah entitas yang jauh lebih menakutkan.

​Lima ratus tahun yang lalu, ia adalah Kaisar Pedang Ilahi yang berdiri tegak di puncak Alam Dewa. Ia adalah penguasa mutlak yang membuat ribuan dewa berlutut hanya dengan satu hunusan pedang. Namun, tepat ketika ia mencoba menembus batas tertinggi kultivasi melalui teknik terlarang, ia dikhianati.

​Lin Chen menutup matanya. Ingatan dari kehidupan masa lalunya kembali membakar dadanya seolah baru terjadi kemarin.

​Ia ingat dengan sangat jelas bagaimana pedang es milik Dewi Teratai Salju—wanita yang paling ia cintai—menusuk jantungnya dari belakang. Ia juga ingat bagaimana saudara seperjuangannya, Kaisar Naga Hitam, menyegel ruang di sekitarnya dengan formasi kuno agar jiwanya tidak bisa melarikan diri untuk bereinkarnasi.

​"Lin Chen, jangan salahkan kami. Warisan Kehampaan ini terlalu besar untuk kau kuasai sendiri. Serahkan padaku, dan aku akan memastikan namamu dikenang," kata-kata Dewi Teratai Salju masih menggema dengan racun kemunafikan di telinganya.

​"Teratai Salju... Naga Hitam..." Lin Chen mengepalkan tinjunya erat-erat. Kuku-kukunya menusuk daging telapak tangannya, meneteskan darah segar yang bercampur dengan air hujan. "Kalian mengira telah menghancurkan jiwaku, namun langit berkehendak lain! Karena aku, Lin Chen, telah kembali ke dunia ini, aku akan memastikan kalian membayar setiap tetes darahku dengan lautan darah kalian sendiri!"

​Menekan amarah di hatinya, Lin Chen segera memeriksa kondisi tubuh barunya. Ia mencoba mengedarkan energi spiritual, namun seketika alisnya berkerut tajam.

​Meridian di tubuh ini tidak hanya buntu sejak lahir, tapi di kedalaman Dantian-nya, terdapat gumpalan energi dingin yang mematikan. Seseorang telah dengan sengaja menanamkan racun dingin ke dalam tubuhnya sejak ia masih bayi! Ini bukan cacat bawaan, ini adalah sabotase yang kejam.

​Seseorang di keluarga ini benar-benar tidak ingin pemilik tubuh aslinya berlatih kultivasi.

​"Hanya racun dingin tingkat rendah dan meridian yang disumbat secara paksa. Apa kau pikir trik murahan semacam ini bisa menghentikan langkah seorang Kaisar Pedang?"

​Lin Chen tersenyum sinis. Ia duduk bersila di tengah hujan lebat, mengabaikan udara dingin yang menusuk. Ia memanggil ingatan tentang metode kultivasi terlarang yang ia peroleh di kehidupan sebelumnya—sebuah teknik purba yang menjadi alasan utama mengapa ia dikhianati.

​Sutra Pedang Kehampaan.

​"Bentuk tubuh sebagai pedang, jadikan meridian sebagai sarung pedang. Biarkan energi spiritual langit dan bumi menjadi bilahnya yang tak terkalahkan!"

​Seketika, aliran udara di sekitar Lin Chen berubah drastis. Hujan lebat yang turun tepat di atas kepalanya mendadak terbelah menjadi dua, seolah-olah ada pedang tak kasat mata yang melindunginya. Energi spiritual yang sangat tipis di udara malam perlahan-lomba masuk ke dalam pori-porinya.

​Di bawah kendali jiwanya yang setingkat Kaisar, energi itu dikompresi menjadi pedang-pedang Qi sekecil jarum yang langsung menusuk ke dalam meridiannya yang tersumbat.

​KRAK!

​Suara sesuatu yang pecah terdengar samar dari dalam tubuh Lin Chen. Rasa sakitnya jutaan kali lipat lebih mengerikan daripada disayat pisau hidup-hidup. Tubuhnya bergetar hebat, pori-porinya mulai mengeluarkan darah kotor, namun Lin Chen tidak mengeluarkan suara erangan sedikit pun. Ekspresinya setenang air di danau mati, seolah rasa sakit itu bukan miliknya.

​Satu meridian terbuka...

Dua meridian...

Tiga meridian!

​Hanya dalam waktu satu jam, dua belas meridian utamanya yang selama lima belas tahun tersumbat total, kini hancur terbuka. Energi spiritual kotor bercampur cairan hitam berbau busuk merembes keluar dari kulitnya, membawa serta racun dingin yang selama ini mendekam di Dantian-nya.

​Lin Chen perlahan membuka matanya. Ada kilatan cahaya keemasan berbentuk pedang kecil yang melintas di kedalaman pupilnya. Udara di sekitarnya berdesir.

​Ia telah melangkah ke Ranah Kondensasi Qi Tingkat 1.

​Meski ini adalah tingkatan terendah dalam dunia kultivasi, fondasi yang dibangun oleh Sutra Pedang Kehampaan membuatnya memiliki Qi yang seratus kali lebih murni daripada kultivator pada tingkat yang sama.

​BRAAAK!

​Pintu kayu lapuk di halaman kumuh itu tiba-tiba ditendang hingga hancur berkeping-keping. Tiga orang pemuda mengenakan jubah abu-abu khas murid luar Keluarga Lin masuk sambil tertawa merendahkan.

​"Hahaha! Coba lihat, Kakak Lin Wei, si sampah ini ternyata masih bernapas! Padahal aku yakin tendanganmu tadi sudah menghancurkan organ dalamnya."

​Pemuda yang berjalan di tengah, Lin Wei, bertubuh besar dan berwajah angkuh. Ia meludah ke tanah yang becek. "Ternyata nyawa si cacat ini lebih alot dari anjing jalanan. Hei Sampah! Karena kau masih hidup, merangkak kemari, berlututlah dan jilat lumpur di sepatuku. Jika kau melakukannya dengan baik, mungkin aku akan bermurah hati membiarkanmu hidup hari ini!"

​Dua antek di samping Lin Wei tertawa terbahak-bahak, bersiap untuk menyaksikan hiburan rutin mereka menyiksa tuan muda tak berguna tersebut.

​Lin Chen bangkit berdiri perlahan. Hujan telah sepenuhnya reda, menyisakan hawa dingin sisa badai. Ia menepuk kotoran di pakaiannya, lalu menatap ketiga orang itu. Tatapannya sangat datar, tanpa emosi sama sekali, namun entah mengapa membuat bulu kuduk Lin Wei dan kedua temannya mendadak meremang. Tatapan itu seperti dewa kematian yang sedang melihat tiga bongkah daging mati.

​"Kau... menyuruhku berlutut?"

​Suara Lin Chen terdengar pelan, namun terbawa jelas oleh angin malam. Udara di halaman itu tiba-tiba anjlok ke titik beku.

​"Bahkan langit dan bumi pun tidak berhak menyuruhku berlutut. Kau pikir kau siapa, semut rendahan?"

​Lin Wei tertegun sejenak mendengar nada bicara yang begitu sombong dari si sampah yang biasanya hanya bisa menangis minta ampun. Wajahnya seketika memerah karena marah. Sebagai kultivator Ranah Kondensasi Qi Tingkat 2, dihina oleh orang cacat adalah penghinaan tak termaafkan.

​"Kau mencari mati, Sampah! Karena kau menolak bersujud, aku akan mematahkan kedua kakimu agar kau berlutut seumur hidupmu!"

​Lin Wei melesat maju seperti serigala buas. Tinjunya dilapisi oleh energi spiritual tipis berwarna putih, diarahkan langsung ke dada Lin Chen dengan niat untuk menghancurkan tulang rusuknya. Ini adalah teknik bela diri dasar Keluarga Lin, Tinju Pemecah Batu.

​Melihat tinju yang mendekat dengan cepat, Lin Chen bahkan tidak berkedip. Di matanya, gerakan Lin Wei penuh dengan celah, lambat seperti siput yang sedang merayap.

​Tepat ketika tinju itu hanya berjarak satu inci dari dadanya, Lin Chen bergerak.

​Ia memiringkan bahunya sedikit, membiarkan tinju Lin Wei meleset menyapu udara kosong. Pada saat yang bersamaan, tangan kanan Lin Chen meluncur keluar bagai kilat. Dua jarinya dirapatkan membentuk pedang, dan dengan presisi yang mengerikan, ia menusukkan jarinya tepat ke persendian bahu kanan Lin Wei.

​CRAT!

​"AARGHHH!"

​Jeritan melengking merobek keheningan malam. Tubuh besar Lin Wei terhempas ke belakang dan jatuh berdebum ke tanah berlumpur. Ia memegangi bahu kanannya yang kini terkulai lemas; urat nadinya telah diputuskan dengan rapi hanya oleh tusukan dua jari.

​Dua antek di belakangnya membeku di tempat, mulut mereka ternganga lebar. Mata mereka melotot seolah baru saja melihat hantu. Lin Wei, seorang kultivator Kondensasi Qi Tingkat 2, dikalahkan hanya dengan satu gerakan oleh Lin Chen yang tidak memiliki kultivasi?

​Lin Chen melangkah maju dengan tenang. Sepatunya menginjak genangan air berdarah. Ia berdiri menjulang di atas tubuh Lin Wei yang sedang meronta kesakitan di tanah, menatapnya dengan tatapan merendahkan dari seorang raja yang memandang serangga.

​"Kembali dan beri tahu tuanmu, anjing yang menggigit tanpa melihat siapa tuannya, hanya akan berakhir sebagai makanan cacing," ucap Lin Chen dengan suara dingin yang menusuk jiwa. "Mulai malam ini, siapapun yang berani merendahkan namaku di Keluarga Lin... akan membayar dengan nyawa."

Bab 2: Hutang yang Harus Dibayar

​Dua antek Lin Wei berdiri terpaku dengan lutut gemetar. Udara malam yang dingin terasa seperti menembus hingga ke sumsum tulang mereka. Lin Wei, bos mereka yang selalu sombong, kini terkapar di genangan lumpur sambil mengerang memegangi bahunya yang hancur.

​Mata Lin Chen perlahan menyapu kedua pemuda itu. Tatapannya sedingin es abadi.

​"Bawa sampah ini pergi dari halamanku. Dan ingat, jika ada dari kalian yang berani menginjakkan kaki di sini lagi, yang akan kupatahkan bukan lagi sekadar bahu, melainkan leher kalian."

​Kedua pemuda itu tersentak seolah baru saja disiram air mendidih. Tanpa berani mengucapkan sepatah kata pun, mereka buru-buru memapah Lin Wei yang setengah pingsan dan lari terbirit-birit menembus kegelapan malam, layaknya anjing yang ketakutan.

​Setelah halaman kembali sunyi, Lin Chen berbalik dan melangkah masuk ke dalam gubuk kayunya yang reyot.

​Udara di dalam ruangan itu pengap dan lembap. Lin Chen duduk bersila di atas ranjang kayu yang keras, lalu memejamkan mata untuk memeriksa kondisi internalnya.

​"Sutra Pedang Kehampaan memang teknik kultivasi purba yang menentang surga. Meski aku baru mencapai Ranah Kondensasi Qi Tingkat 1, kemurnian dan ketajaman Qi di dalam meridianku sebanding dengan kultivator Tingkat 3."

​Namun, Lin Chen segera menyadari sebuah masalah besar. Teknik Sutra Pedang Kehampaan menguras energi dengan sangat rakus. Untuk memadatkan Qi menjadi 'pedang energi' di dalam Dantian, ia membutuhkan jumlah energi spiritual sepuluh kali lipat lebih banyak daripada teknik kultivasi biasa.

​Di tempat dengan energi spiritual yang tipis seperti Kota Daun Musim Gugur ini, mengandalkan pernapasan alam saja tidak akan cukup. Ia membutuhkan sumber daya eksternal.

​"Pemilik asli tubuh ini adalah Tuan Muda ke-13. Meskipun ia dianggap sampah, keluarga tetap memiliki kuota bulanan yang seharusnya dibagikan kepadanya. Namun dalam ingatanku... dia sudah tidak menerima jatah bulanannya selama tiga tahun terakhir."

​Bibir Lin Chen melengkung membentuk senyum dingin. Tiga tahun jatah bulanan seorang tuan muda keluarga utama bukanlah jumlah yang kecil. Seseorang di Aula Sumber Daya pasti telah menggelapkan haknya.

​"Karena aku sekarang menggunakan tubuh ini, segala hutang masa lalu akan kutagih beserta bunganya."

​Keesokan paginya, matahari bersinar cerah seolah ingin menghapus jejak badai semalam.

​Lin Chen melangkah keluar dari gubuknya menuju ke pusat kediaman Keluarga Lin. Penampilannya yang kotor dan compang-camping akibat kejadian semalam belum ia bersihkan sepenuhnya, namun aura yang memancar dari setiap langkahnya membuat beberapa pelayan yang berpapasan dengannya secara refleks menyingkir dan menundukkan kepala, bingung dengan tekanan misterius yang tiba-tiba dimiliki oleh si "Sampah Terbesar".

​Bangunan Aula Sumber Daya menjulang megah di depan. Ini adalah tempat di mana semua anggota keluarga mengambil jatah bulanan mereka berupa pil, batu spiritual, dan ramuan obat.

​Saat Lin Chen melangkah melewati pintu ganda aula tersebut, suara berisik di dalam ruangan seketika mereda. Puluhan pasang mata menatapnya dengan berbagai ekspresi—jijik, heran, dan mencemooh.

​"Bukankah itu Lin Chen? Kudengar semalam dia dipukuli oleh Lin Wei sampai mati. Ternyata dia masih bisa berjalan?"

"Hmph, kulitnya saja yang tebal. Untuk apa si cacat itu datang ke Aula Sumber Daya? Membuang-buang udara saja."

​Mengabaikan bisik-bisik rendahan itu, Lin Chen melangkah lurus menuju meja konter panjang yang dijaga oleh seorang pria paruh baya bertubuh gemuk. Pria itu adalah Diakon Lin Ba, pengawas distribusi sumber daya untuk murid luar dan anggota keluarga yang tidak berbakat.

​Lin Ba sedang menyesap tehnya dengan santai. Ketika ia melihat Lin Chen berdiri di depan mejanya, ia meletakkan cangkir tehnya dengan kasar.

​"Ada urusan apa kau kemari, Sampah? Jangan mengotori mejaku dengan bau kemiskinanmu," dengus Lin Ba dengan raut wajah jijik.

​"Aku datang untuk mengambil jatah bulananku," jawab Lin Chen datar. "Dan juga jatah yang belum kau berikan selama tiga tahun terakhir."

​Suasana aula mendadak hening selama beberapa detik sebelum meledak dalam tawa meremehkan dari para kultivator muda di sekitarnya. Lin Ba tertawa paling keras hingga perut buncitnya berguncang.

​"Jatah bulanan? Hahaha! Lin Chen, apa otakmu sudah benar-benar rusak setelah dipukuli? Kau hanyalah seonggok daging tak berguna dengan meridian buntu! Memberikan sumber daya kepadamu sama saja dengan melemparkan emas ke dalam selokan!" Lin Ba berdiri dan mencondongkan tubuhnya, menatap Lin Chen dengan tatapan mengejek. "Semua jatahmu telah dialihkan kepada Tuan Muda Lin Wei. Jika kau keberatan, pergilah mengadu padanya!"

​Mendengar nama Lin Wei, kilatan dingin melintas di mata Lin Chen.

​"Jadi kau menggelapkan hakku untuk menjilat sepatu Lin Wei?" Lin Chen mengangguk perlahan. "Sangat bagus. Kalau begitu, kau sendiri yang akan membayarnya hari ini."

​"Bocah kurang ajar! Beraninya kau—"

​Sebelum Lin Ba bisa menyelesaikan kalimatnya, Lin Chen sudah bergerak. Gerakannya begitu cepat hingga meninggalkan bayangan kabur di mata para penonton.

​Brak!

​Lin Chen meraih kerah baju Lin Ba yang terbuat dari sutra halus dan menarik tubuh gemuk pria itu melompati meja konter dengan satu tangan. Dengan tenaga yang mengerikan, ia membanting wajah Lin Ba ke lantai pualam aula.

​BRAKKK!

​Lantai pualam itu retak, dan hidung Lin Ba langsung hancur, memuncratkan darah segar ke mana-mana.

​"Arghhh!" Jeritan rasa sakit menggelegar dari mulut sang diakon.

​Seluruh aula seketika sunyi senyap. Mulut semua orang ternganga lebar. Diakon Lin Ba adalah seorang kultivator Ranah Kondensasi Qi Tingkat 3! Bagaimana mungkin ia dibanting seperti boneka kain oleh Lin Chen yang tidak memiliki setetes pun Qi?

​"Pengawal! Bunuh anak ini! Bunuh dia!" teriak Lin Ba histeris sambil memegangi wajahnya yang bersimbah darah.

​Empat orang pengawal bergegas maju dari sudut ruangan, menghunuskan pedang besi mereka dan menerjang ke arah Lin Chen.

​Lin Chen tidak mundur selangkah pun. Ia memungut sebuah ranting kayu seukuran jari yang kebetulan tersapu angin ke dalam aula. Di tangan seorang Kaisar Pedang, bahkan sebatang ranting lapuk bisa menjadi senjata pembantai para dewa.

​Wush!

​Lin Chen menyuntikkan Qi dari Sutra Pedang Kehampaan ke dalam ranting tersebut. Ranting kayu itu mendadak bersinar dengan pendar keemasan yang samar dan berdengung seperti pedang pusaka yang haus darah.

​Ia melangkah maju menyongsong keempat pengawal itu. Ranting di tangannya berkelebat dengan lintasan yang sangat indah dan mematikan, menembus pertahanan pedang besi mereka seolah-olah besi itu terbuat dari kertas.

​Trak! Trak! Trak! Trak!

​Dalam kurang dari tiga tarikan napas, empat pedang besi baja patah menjadi dua. Ranting kayu di tangan Lin Chen dengan akurat menghantam titik lemah di dada masing-masing pengawal, membuat mereka memuntahkan darah dan terpental sejauh sepuluh meter sebelum jatuh pingsan.

​Keheningan yang mencekam kini menyelimuti Aula Sumber Daya. Tidak ada lagi yang berani tertawa. Mereka menatap Lin Chen seolah sedang melihat siluman yang bangkit dari neraka.

​Lin Chen membuang ranting kayu itu, lalu menginjak dada Lin Ba yang masih gemetar ketakutan di lantai.

​"Sekarang, mari kita hitung hutangmu," ucap Lin Chen dengan nada yang setenang air. Ia menatap Diakon yang kini pucat pasi itu. "Tiga tahun, artinya 36 bulan. Setiap bulan jatahku adalah 3 Batu Spiritual Tingkat Rendah dan 1 Pil Pengumpul Qi."

​Lin Chen membungkuk, menatap lurus ke dalam mata Lin Ba yang dipenuhi teror.

​"Serahkan 108 Batu Spiritual dan 36 Pil Pengumpul Qi sekarang, atau aku akan menginjak jantungmu hingga hancur."

Bab 3: Bunga Kematian dan Terobosan

​Udara di dalam Aula Sumber Daya terasa membeku. Puluhan pasang mata menatap ngeri ke arah pemuda berpakaian compang-camping yang kakinya kini berpijak mantap di atas dada Diakon Lin Ba.

​Di bawah tekanan aura membunuh yang memancar dari mata Lin Chen, pertahanan mental Lin Ba hancur sepenuhnya. Rasa sakit dari hidungnya yang remuk ditambah ancaman kematian yang begitu nyata membuatnya kencing di celana. Cairan pesing merembes mengotori lantai pualam.

​"A-aku berikan! Aku akan berikan semuanya! Tolong, lepaskan aku, Tuan Muda Lin Chen!" ratap Lin Ba dengan suara serak dan bergetar.

​Dengan tangan gemetar hebat, pria paruh baya itu merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan sebuah kantong kecil berwarna abu-abu—sebuah Kantong Penyimpanan tingkat rendah. Ia menuangkan isinya ke lantai. Kilauan cahaya redup dari batu-batu spiritual dan aroma herbal seketika memenuhi udara.

​"Di... di dalam sini ada 120 Batu Spiritual Tingkat Rendah dan 40 Pil Pengumpul Qi," ucap Lin Ba terbata-bata. "Ini adalah seluruh persediaan yang kumiliki saat ini. Tolong, biarkan aku hidup."

​Lin Chen menarik kakinya dari dada Lin Ba. Ia membungkuk, mengambil kantong penyimpanan tersebut, lalu memasukkan semua batu dan pil ke dalamnya.

​"Kelebihannya akan kuanggap sebagai bunga atas penderitaan pemilik tubuh ini selama tiga tahun," ucap Lin Chen dingin. Ia menepuk pipi Lin Ba yang bengkak dengan punggung tangannya. "Ingat, Lin Ba. Mulai hari ini, setiap awal bulan, kau harus mengantarkan jatahku langsung ke halamanku. Jika kurang satu batu saja, aku akan menagihnya dengan nyawamu."

​Tanpa menunggu jawaban dari Diakon yang sudah setengah pingsan karena ketakutan itu, Lin Chen berbalik dan berjalan menuju pintu keluar.

​Kerumunan kultivator muda yang sejak tadi memblokir jalan secara otomatis membelah bagai lautan yang terbelah, memberi jalan untuknya. Tidak ada satu pun yang berani bernapas terlalu keras apalagi mencibirnya. Sampah yang selama ini mereka ludahi baru saja menghancurkan empat pengawal bersenjata dan seorang Diakon tingkat 3 hanya dengan sebatang ranting kayu!

​Setibanya kembali di gubuk kayunya yang sunyi, Lin Chen mengunci pintu dan duduk bersila di atas ranjang. Ia mengeluarkan isi kantong penyimpanannya dan menjejerkan hasil rampasannya.

​"Bahan-bahan ini sangat rendah kualitasnya, penuh dengan kotoran sisa alkimia," gumam Lin Chen sambil mengambil sebutir Pil Pengumpul Qi dan mengamatinya. Di kehidupan sebelumnya, pil sampah semacam ini bahkan tidak layak diberikan kepada hewan peliharaannya. "Namun, untuk tubuh yang haus energi ini, cukuplah."

​Lin Chen memasukkan tiga butir Pil Pengumpul Qi sekaligus ke dalam mulutnya—sebuah tindakan bunuh diri bagi kultivator biasa, karena energi yang meledak bisa menghancurkan meridian mereka.

​WUSH!

​Begitu pil-pil itu lumer di perutnya, ledakan energi spiritual yang liar menyebar ke seluruh tubuhnya bagai kuda liar yang mengamuk. Tubuh Lin Chen memerah, dan suhu di dalam gubuk langsung melonjak.

​"Sutra Pedang Kehampaan, telan!"

​Lin Chen membentuk segel tangan purba. Energi liar dari pil-pil itu seketika ditarik paksa menuju Dantian-nya. Di sana, sebuah pusaran tak kasat mata berbentuk pedang kecil berputar dengan kecepatan gila, menggiling kotoran pil dan menyerap esensi murninya.

​Krak!

​Suara ringan terdengar dari dalam tubuhnya. Dalam kurang dari sepuluh tarikan napas, Lin Chen telah menembus Ranah Kondensasi Qi Tingkat 2.

​Namun, ia tidak berhenti. Ia mengambil sepuluh Batu Spiritual dan menggenggamnya di kedua tangan. Sutra Pedang Kehampaan kembali bekerja layaknya pusaran air raksasa. Energi dari batu-batu itu mengalir deras ke meridiannya, memperluas dan memperkuat dinding urat nadinya hingga sekuat baja.

​Satu jam... dua jam... tiga jam berlalu.

​Batu-batu spiritual di sekitarnya berubah menjadi debu kelabu satu per satu setelah energinya terkuras habis. Tepat ketika matahari mulai terbenam, memancarkan cahaya jingga dari celah jendela gubuk, mata Lin Chen terbuka mendadak.

​Sebuah gelombang udara meledak dari tubuhnya, meniup debu dan kotoran di dalam gubuk.

​Ranah Kondensasi Qi Tingkat 3!

​Dalam satu hari, ia berhasil melompati dua tingkat berturut-turut. Ini adalah kecepatan kultivasi yang sangat menakutkan, cukup untuk membuat para jenius di Benua Langit Biru merasa malu hingga ingin bunuh diri.

​Lin Chen mengepalkan tinjunya. Ia bisa merasakan tenaga fisik setara dengan banteng iblis mengalir di otot-ototnya. "Fondasi di tubuh ini masih terlalu lemah. Mulai sekarang, aku tidak hanya perlu melatih Qi, tapi juga memperkuat tubuh fisikku."

​Sementara itu, di Halaman Utama Keluarga Lin.

​Prang!

​Sebuah cangkir keramik mahal hancur berkeping-keping menghantam dinding. Seorang pemuda berusia delapan belas tahun dengan jubah sutra biru menatap tajam ke arah dua antek yang berlutut gemetar di depannya. Di atas ranjang di sebelahnya, Lin Wei terbaring dengan bahu yang dibalut perban tebal, mengerang kesakitan.

​Pemuda berjubah biru itu adalah Lin Tian, kakak kandung Lin Wei. Ia adalah salah satu jenius teratas generasi muda Keluarga Lin, yang telah mencapai Ranah Kondensasi Qi Tingkat 5.

​"Kalian bilang... si cacat Lin Chen mengalahkan kalian dan mematahkan lengan adikku hanya dengan dua jari?" Suara Lin Tian terdengar dingin dan dipenuhi niat membunuh.

​"B-benar, Tuan Muda Tian! B-bahkan Diakon Lin Ba dihajar sampai babak belur olehnya di Aula Sumber Daya siang tadi," lapor salah satu antek dengan suara gemetar.

​Lin Tian menyipitkan matanya. "Sepertinya si sampah itu mendapatkan suatu kebetulan yang luar biasa, atau menemukan sisa-sisa warisan tetua. Tapi dia terlalu bodoh. Menyerang sesama anggota keluarga adalah pelanggaran besar."

​Lin Tian berjalan ke jendela, menatap ke arah pelataran luar. "Satu bulan lagi adalah Ujian Evaluasi Tahunan Keluarga Lin. Di arena itu, pertarungan antara generasi muda diizinkan, dan senjata tidak memiliki mata."

​Senyum kejam mengembang di bibir Lin Tian.

​"Biarkan dia menikmati kesombongannya selama sebulan ini. Saat evaluasi nanti, aku sendiri yang akan mencabut meridiannya satu per satu dan mematahkan keempat anggota tubuhnya di depan seluruh tetua keluarga!"

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!