Indonesia
NovelToon NovelToon

Gadis Pemalas & Sistem Gosip

Aku Jadi Gadis Obsesi Sang Duke.

"...Ugh."

Lin Xiaomi mengerang pelan sambil memegang kepalanya yang terasa berdenyut.

Saat membuka mata, yang dilihatnya bukan lagi langit-langit kamar apartemen, melainkan ukiran kayu yang indah dengan tirai sutra menjuntai di sekeliling ranjang.

"Aku... di mana?"

Lin Xiaomi refleks duduk tegak. Tatapannya jatuh pada busana panjang berlapis yang membungkus tubuhnya. Dalam sekejap, kedua matanya membelalak dipenuhi keterkejutan.

"Ini... baju apa?"

Sebelum sempat memahami apa yang terjadi, kepalanya berdenyut hebat. Gelombang ingatan asing menyerbu pikirannya tanpa ampun.

Lin Xiaomi.

Putri bungsu Keluarga Lin, salah satu keluarga bangsawan terpandang di ibu kota. Ia memiliki seorang kakak laki-laki bernama Lin Mingyu, pewaris Keluarga Lin yang dikenal berbakat dan sangat menyayangi adik semata wayangnya.

Namun, kasih sayang keluarganya tak mampu menghentikan satu kebiasaan buruk Lin Xiaomi.

Di mata para bangsawan ibu kota, namanya lebih dikenal sebagai bahan gosip daripada putri keluarga terhormat.

Semua itu berawal dari satu orang.

Duke Jiang Xuan.

Sejak bertemu dengannya, Lin Xiaomi jatuh dalam obsesi yang begitu dalam. Ia terus mengejar, mendekati, dan mencari perhatian sang duke tanpa memedulikan tatapan sinis maupun cibiran orang-orang di sekitarnya.

"...."

Wajah Lin Xiaomi berubah pucat pasi.

"Tidak mungkin... aku benar-benar masuk ke dalam novel itu?"

Rasa panik perlahan menguasai dirinya. Ia mengenal tokoh bernama Duke Jiang Xuan dengan sangat baik.

Di dalam novel, pria itu adalah sosok yang disegani sekaligus ditakuti oleh seluruh kekaisaran. Dingin, tak tersentuh, dan selalu bertindak tanpa ragu.

Di medan perang, namanya menjadi mimpi buruk bagi musuh. Di istana, bahkan para pejabat tinggi pun berhati-hati saat berhadapan dengannya.

Namun, tubuh yang kini ditempatinya justru mati-matian mengejar pria mengerikan itu.

Tok... tok...

Ketukan pelan terdengar dari balik pintu.

"Masuk."

Tak lama kemudian, pintu terbuka. Seorang pelayan masuk dengan langkah tenang, lalu memberi hormat.

"Salam hormat, Nona. Tuan Muda telah menunggu Anda di aula."

Lin Xiaomi mengerjapkan mata, masih belum terbiasa mendengar sapaan itu.

Tuan Muda...

Beberapa detik kemudian, ingatan asing itu kembali muncul.

Lin Mingyu.

Kakak laki-lakinya dalam dunia ini. Pewaris Keluarga Lin yang selalu memanjakan adik semata wayangnya.

Lin Xiaomi mengembuskan napas pelan. Mau tak mau, ia harus mulai menghadapi orang-orang di dunia yang kini menjadi kenyataannya.

Lin Xiaomi mengangguk kecil.

"Ba... baik."

Namun, pelayan itu tetap berdiri di tempat. Kepalanya masih tertunduk rapi, seolah sedang menunggu sesuatu.

Lin Xiaomi ikut terdiam.

Eh...?

Kenapa dia belum pergi? Apa ucapanku barusan salah?

Ia mulai merasa canggung. Jangan-jangan ada aturan di dunia ini yang belum ia pahami.

Lin Xiaomi berdeham pelan, berusaha menyusun kata-kata yang terdengar lebih pantas.

"Kalau begitu... antarkan aku menemui Kakak."

"Baik, Nona."

Pelayan itu kembali membungkukkan badan sebelum berbalik dan melangkah keluar, memimpin jalan menuju aula.

Lin Xiaomi merasa sedikit lebih tenang.

"Nyaris saja..."

Ia harus lebih berhati-hati mulai sekarang.

Dunia ini bukan lagi dunia modern tempat ia bisa berbicara dan bertindak sesuka hati. Sekarang, ia hidup sebagai Lin Xiaomi, putri dari Keluarga Lin.

Jika sampai bersikap berbeda dari pemilik tubuh ini, cepat atau lambat seseorang pasti akan menyadari ada yang tidak beres.

Koridor kediaman Keluarga Lin begitu luas, dihiasi pilar-pilar kayu berukir dan lentera yang bergantung rapi di sepanjang jalan.

Baru beberapa langkah berjalan, sebuah suara datar tiba-tiba bergema di dalam kepalanya.

[Ding! Terdeteksi bahwa sang host telah sadar.]

Lin Xiaomi sontak menghentikan langkahnya.

Hah?

Ia menoleh ke kanan dan kiri, tetapi para pelayan di sekitar tetap berjalan seperti biasa, seolah tidak mendengar apa pun.

Suara itu kembali terdengar.

[Ding! Selamat datang, Host. Sistem Gosip siap melayani Anda.]

Lin Xiaomi langsung mengernyit.

Sistem?

[Benar. Mulai hari ini saya akan membantu Host menyelesaikan berbagai misi—]

Berhenti.

[...?]

"Aku menolak."

Hening.

Bahkan suara sistem seolah ikut membisu selama beberapa detik.

[Host... menolak?]

Tentu saja.

Lin Xiaomi mendecak pelan.

Aku cuma ingin hidup damai. Jangan pikir aku belum pernah baca novel transmigrasi. Awalnya bilang 'misi mudah', lama-lama disuruh menyelamatkan dunia, mengubah takdir tokoh utama, sampai mempertaruhkan nyawa.

Lin Xiaomi buru-buru menggeleng.

Terima kasih, tapi aku tidak berminat.

[Host, sistem ini sangat bermanfaat.]

Bermanfaat apanya? Identitas pemilik tubuh ini saja sudah berantakan. Seluruh ibu kota tahu Lin Xiaomi tergila-gila pada Duke Jiang Xuan. Aku sedang berusaha memperbaiki citra, bukan menambah masalah.

Sesaat kemudian, ia menambahkan dengan wajah serius,

"Mulai sekarang target hidupku sederhana. Makan, tidur, menikmati hidup, dan sebisa mungkin menjauh dari Duke Jiang Xuan."

Sistem kembali terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia bertemu seorang host yang bahkan belum memulai perjalanan, tetapi sudah terang-terangan menolak bekerja sama.

[Host, penolakan tidak dapat diterima.]

Lin Xiaomi mengernyit.

Kenapa?

[Karena proses pengikatan telah selesai.]

...Hah?

Suara sistem tetap terdengar datar, tanpa sedikit pun emosi.

[Sejak Host membuka mata, Sistem Gosip telah menyatu dengan jiwa Host. Ikatan ini bersifat permanen dan tidak dapat dibatalkan.]

Wajah Lin Xiaomi langsung membeku.

Tunggu... maksudmu kita sudah terikat?

[Benar.]

Kalau begitu, lepaskan.

[Maaf, permintaan ditolak.]

Kenapa ditolak?!

[Karena Sistem dan Host kini berbagi ikatan jiwa. Selama Host masih hidup, Sistem akan tetap berada di dalam kesadaran Host. Kecuali salah satu lenyap, ikatan ini tidak akan pernah terpisahkan.]

Lin Xiaomi mematung.

Lalu, tanpa bisa menahan diri, ia menepuk dahinya pelan.

Jadi... aku benar-benar kurang beruntung.

Jauh di dalam hatinya, ia masih berharap semua ini hanyalah mimpi yang akan berakhir begitu ia membuka mata.

Sayangnya, kenyataan justru memberinya sebuah sistem yang sudah telanjur menjadi bagian dari jiwanya.

[Host tidak perlu khawatir.]

Suara sistem kembali terdengar dengan nada datar.

[Tugas Host sangat sederhana. Host hanya perlu mendengarkan gosip yang muncul dan menjadi penonton.]

Lin Xiaomi mengangkat sebelah alis.

Hanya itu?

[Benar. Semakin banyak gosip yang Host dengar dan semakin banyak "melon" yang Host makan, semakin banyak Poin Gosip yang akan diperoleh.]

Melon?

[Dalam sistem ini, "makan melon" berarti mengikuti dan menyaksikan jalannya sebuah gosip, bukan memakan buah melon.]

Lin Xiaomi terdiam beberapa saat.

Jadi... aku cuma jadi penonton gosip?

[Tepat sekali.]

[Setiap Poin Gosip yang terkumpul dapat ditukarkan dengan berbagai hadiah di Toko Sistem, seperti pil obat, senjata, kitab bela diri, ramuan, uang, perhiasan, hingga berbagai benda langka yang tidak bisa ditemukan di dunia ini.]

Mata Lin Xiaomi langsung berbinar.

...Serius?

Mendengar penjelasan panjang lebar dari sistem, Lin Xiaomi hanya mengangguk pelan.

Oh...

Sistem mengira host-nya akhirnya tertarik.

Namun, ucapan Lin Xiaomi berikutnya membuatnya terdiam.

Maaf, aku tetap tidak berminat.

[...?]

Aku cuma ingin tidur, makan enak, menikmati hidup sebagai orang kaya, lalu menghabiskan hari-hariku dengan santai.

Ia bahkan mulai menghitung dengan jari.

Pagi bangun, sarapan. Siang tidur. Sore makan camilan. Malam tidur lagi. Bukankah hidup seperti itu jauh lebih menyenangkan?

Lin Xiaomi menggeleng pelan.

Dulu saja aku sudah capek. Jadi mahasiswa itu tidak mudah. Pagi kuliah, sore masih harus kerja. Sekarang akhirnya jadi nona bangsawan yang tidak perlu memikirkan uang. Masa aku malah sibuk mengejar misi?

Sistem terdiam cukup lama.

[......]

Untuk pertama kalinya sejak diciptakan, ia mulai mempertanyakan nasibnya sendiri.

[Kenapa... aku harus mendapatkan host seperti ini?]

[Host ini benar-benar tidak punya ambisi.]

[Pemalas sekali.]

Lin Xiaomi mendengus pelan.

Pemalas?. Aku cuma sedang menikmati hasil transmigrasi.

Aula.

Lin Xiaomi akhirnya tiba di aula utama.

Langkahnya melambat saat memasuki ruangan luas itu. Aula tersebut begitu megah, dengan pilar-pilar kayu tinggi yang dihiasi ukiran indah. Para pelayan berdiri rapi di kedua sisi, membuat suasana terasa penuh dengan wibawa.

Namun, yang paling menarik perhatiannya adalah dua orang pria yang sedang duduk di dalam aula.

Pria pertama terlihat lebih muda, mengenakan jubah hitam dengan wajah tampan namun dingin. Tatapannya tenang, tetapi memberikan kesan sulit untuk didekati.

Sementara pria yang duduk di sebelahnya tampak lebih dewasa. Aura yang dimilikinya jauh lebih kuat dan berwibawa, membuat siapa pun yang melihatnya secara naluriah merasa harus menghormatinya.

Lin Xiaomi berhenti beberapa langkah dari mereka.

Dua orang?

Ia mencoba mengingat informasi yang ada di kepalanya.

【Tuan rumah, pria yang duduk di sebelah kiri adalah kakakmu, Lin Mingyu. Sedangkan pria yang lebih dewasa adalah ayahmu, kepala keluarga Lin.】

Lin Xiaomi sedikit terkejut.

Sungguh berbeda dari kehidupan yang ia kenal sebelumnya. Di hadapannya kini berdiri keluarga bangsawan dengan aturan dan suasana yang jauh lebih kaku.

Lin Mingyu yang sejak tadi membaca dokumen akhirnya mengangkat pandangan.

"Xiaomi."

Suara tenangnya membuat Lin Xiaomi tersadar.

Lin Xiaomi segera berdiri lebih tegak, berusaha mengingat bagaimana seorang putri bangsawan seharusnya bersikap.

Sementara itu, dua pasang mata di aula tersebut sama-sama mengamati perubahan kecil pada dirinya.

Saat tiba di hadapan kedua pria itu, Lin Xiaomi segera berhenti dan memberi hormat.

"Salam kepada Ayah dan Kakak," ucapnya dengan hati-hati.

Gerakannya terlihat sedikit kaku karena ia masih berusaha menyesuaikan diri dengan aturan di tempat ini.

Apakah caraku sudah benar? Jangan sampai aku melakukan kesalahan di depan mereka.

Lin Xiaomi menundukkan kepala sambil diam-diam merasa gugup.

Namun, dua pria di hadapannya justru terdiam.

Lin Mingyu dan Lin Weichen saling bertukar pandangan.

Suara apa itu tadi?

Mereka jelas mendengar suara Lin Xiaomi, tetapi gadis itu tidak menggerakkan bibirnya sedikit pun.

Lin Weichen, kepala keluarga Lin, menatap putrinya dengan tatapan tajam dan penuh pertimbangan.

Putrinya memang terlihat sama, tetapi ada sesuatu yang berbeda dari sikapnya hari ini.

Lin Mingyu juga mengerutkan kening.

Apakah aku salah dengar?

Sementara itu, Lin Xiaomi sama sekali tidak menyadari bahwa pikiran yang terus ia ucapkan dalam hati ternyata terdengar oleh dua orang di hadapannya.

【Tuan rumah, jangan terlalu tegang. Kamu sudah melakukan dengan benar.】

Benarkah? Syukurlah... aku takut salah dan membuat mereka curiga.

Lin Mingyu dan Lin Weichen kembali terdiam, Suara itu benar-benar berasal dari pikiran Lin Xiaomi.

Lin Weichen memperhatikan putrinya yang masih berdiri di hadapannya beberapa saat sebelum akhirnya berbicara.

"Xiaomi, duduklah."

Suaranya terdengar tenang namun tetap memiliki wibawa seorang kepala keluarga.

Lin Xiaomi segera mengangguk dan berjalan menuju kursi yang telah disiapkan. Ia duduk dengan sikap sedikit canggung, masih berusaha membiasakan diri dengan suasana di sekitarnya.

Lin Weichen menatapnya dengan saksama.

"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanyanya sambil memperhatikan wajah putrinya.

Tatapan pria itu terlihat tenang, tetapi ada kekhawatiran yang tersembunyi di dalamnya.

Lin Xiaomi sedikit terdiam.

"Aku baik-baik saja, Ayah. Hanya kepalaku masih terasa sedikit sakit."

Ia memberikan jawaban yang sudah ia siapkan sebelumnya.

Tidak mungkin aku mengatakan yang sebenarnya. Bagaimana kalau mereka mengira aku sudah tidak waras?

Lin Mingyu yang duduk di samping ayahnya kembali terdiam.

Sementara Lin Weichen juga menangkap suara aneh itu. Keduanya saling berpandangan sejenak.

Putri mereka memang menjawab dengan tenang, tetapi pikiran yang terdengar justru mengatakan hal yang berbeda.

"Baguslah."

Lin Weichen mengangguk pelan, namun tatapannya masih tertuju pada putrinya.

"Lain kali, jangan lagi membuat masalah yang dapat melukai dirimu sendiri."

Nada suaranya terdengar tegas, tetapi ada kekhawatiran yang tidak bisa disembunyikan.

Lin Xiaomi terdiam.

Ia bisa merasakan bahwa ayahnya benar-benar mengkhawatirkannya.

Lin Weichen teringat kejadian kemarin. Lin Xiaomi yang biasanya keras kepala terlibat pertengkaran dengan salah satu putri bangsawan saat sedang berada di luar kediaman.

Pertengkaran itu semakin memanas hingga keduanya tanpa sengaja terjatuh dari tangga.

Untungnya, kejadian tersebut tidak menyebabkan luka serius. Namun, melihat putrinya tidak sadarkan diri akibat benturan itu tetap membuat seluruh keluarga Lin merasa cemas.

"Sebagai putri keluarga Lin, kamu harus lebih berhati-hati dalam bertindak," lanjut Lin Weichen.

Lin Xiaomi hanya mengangguk pelan.

"Baik, Ayah. Aku akan mengingatnya."

Lin Mingyu yang sejak tadi terdiam akhirnya membuka suara.

"Xiaomi."

Lin Xiaomi segera menoleh kepadanya.

"Dua hari lagi akan diadakan pesta perayaan keberhasilan Duke Jiang Xuan di istana," ucap Lin Mingyu dengan nada tenang.

Tatapannya berubah serius saat melanjutkan, "Saat berada di sana, jangan membuat masalah seperti kejadian kemarin."

Lin Xiaomi mengangguk kecil.

"Dan satu lagi..." Lin Mingyu berhenti sejenak sebelum berkata, "Jauhi Duke Jiang Xuan."

Lin Xiaomi sedikit terkejut.

"Jauhi Duke?"

"Benar," jawab Lin Mingyu tegas. "Jangan mendekatinya, jangan mencari kesempatan untuk berbicara dengannya, dan jangan melakukan hal yang membuat orang lain salah paham."

Mendengar nama itu, kepala Lin Xiaomi tiba-tiba dipenuhi oleh potongan-potongan ingatan yang bukan miliknya.

Tentang seorang pria berjubah hitam dengan aura dingin yang selalu menjadi pusat perhatian.

【Tuan rumah, Duke Jiang Xuan adalah pria yang selama ini kamu kejar-kejar.】

Lin Xiaomi terdiam.

Ingatan itu perlahan menjadi semakin jelas.

Jadi... pemilik tubuh ini benar-benar sangat menyukai Duke Jiang Xuan?

Ia mengingat bagaimana Lin Xiaomi yang lama selalu berusaha menarik perhatian pria itu, tetapi tidak pernah mendapatkan respons apa pun.

Bahkan banyak orang di ibu kota mengetahui bahwa putri keluarga Lin mengejar Duke yang terkenal dingin tersebut.

Lin Xiaomi menundukkan pandangan, berusaha menyembunyikan keterkejutannya.

Masalah apa lagi yang ditinggalkan pemilik tubuh ini...

Lin Weichen melihat putrinya yang sejak tadi lebih banyak diam. Setelah memastikan keadaan Lin Xiaomi tidak mengalami masalah serius, ia akhirnya berbicara.

"Baiklah, kamu bisa kembali ke kediamanmu."

Suaranya tetap tenang, tetapi penuh perhatian.

"Beristirahatlah yang banyak. Untuk sementara waktu, jangan keluar dulu dari kediaman."

Lin Xiaomi segera mengangguk.

"Baik, Ayah."

Ia berdiri dan memberi hormat sebelum berbalik untuk meninggalkan aula.

Setelah Lin Xiaomi keluar dari aula, Lin Weichen menarik napas pelan.

Lin Weichen menatap putranya dengan serius.

"Mingyu, apakah kau juga mendengar suara dalam pikiran adikmu?"

Lin Mingyu mengangguk perlahan.

"Benar, Ayah. Aku mendengarnya sejak Xiaomi memasuki aula tadi."

Lin Weichen terdiam.

"Jadi bukan hanya aku..."

"Benar."

Keduanya saling bertukar pandangan.

Lin Mingyu kemudian menjelaskan dengan suara rendah, "Namun, ada hal yang lebih aneh. Xiaomi tidak mengetahui bahwa pikirannya dapat terdengar oleh kita."

Lin Weichen mengerutkan kening.

"Apakah kau sudah mencoba memberitahunya?"

Lin Mingyu terdiam sesaat sebelum menggeleng.

"Aku mencoba, tetapi saat hendak mengatakan hal yang berkaitan dengan suara pikirannya, mulutku seolah terkunci. Tidak ada satu kata pun yang bisa keluar."

Lin Weichen menyipitkan matanya.

"Namun, kau masih bisa membicarakan hal ini denganku?"

"Benar, Ayah."

Lin Mingyu mengangguk.

"Selama Xiaomi tidak berada di sini, kita masih dapat berdiskusi mengenai hal tersebut. Sepertinya kekuatan itu hanya mencegah kita memberitahunya secara langsung."

Suasana aula kembali hening, Lin Weichen menyandarkan tubuhnya sambil berpikir.

"Kalau begitu, jangan gegabah. Jangan biarkan Xiaomi mengetahui bahwa kita mendengar pikirannya."

"Baik, Ayah."

Lin Mingyu menundukkan kepala.

"Kita akan mengamatinya terlebih dahulu. Bagaimanapun juga, dia tetap putri keluarga Lin."

Tatapan kedua pria itu kembali tertuju ke arah pintu tempat Lin Xiaomi pergi.

Gosip Pertama.

Setelah kembali ke kediamannya, Lin Xiaomi langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang.

"Ah... nyaman sekali."

Ia memejamkan mata sambil menikmati kasur empuk yang jauh berbeda dengan tempat tidurnya di dunia modern.

"Mulai hari ini, hidupku hanya makan, tidur, dan menikmati kekayaan."

Selesai bergumam, ia melirik para pelayan yang masih berdiri di dalam kamar.

"Kalian boleh keluar."

"Baik, Nona."

Para pelayan membungkukkan badan sebelum meninggalkan kamar dan menutup pintu perlahan.

Ruangan pun kembali sunyi.

Baru saja Lin Xiaomi hendak memejamkan mata—

[Ding! Sistem Gosip mendeteksi sebuah gosip.]

Kelopak mata Lin Xiaomi yang hampir terpejam kembali terbuka.

"Apa lagi sekarang?"

[Target gosip terdeteksi.]

[Lokasi: Kediaman Perdana Menteri.]

[Host, apakah ingin mendengarkan gosip ini?]

Lin Xiaomi memeluk guling di sampingnya.

"Tidak."

[Mendengarkan gosip akan memberikan Poin Gosip.]

"Tidak."

[Poin Gosip dapat ditukarkan dengan berbagai hadiah.]

"Tetap tidak."

Sistem terdiam beberapa saat.

[Host benar-benar tidak penasaran?]

Lin Xiaomi membalikkan badan membelakangi langit-langit kamar.

"Aku sedang mengantuk."

[Gosip ini berkaitan dengan salah satu tokoh penting di ibu kota.]

"Tidak tertarik."

[Hadiahnya cukup besar.]

Lin Xiaomi membuka sebelah matanya.

"Memangnya hadiahnya apa?"

Suara sistem terdengar sedikit bersemangat.

[Jika Host berhasil menyelesaikan gosip ini, Host akan memperoleh seratus Poin Gosip.]

Mata Lin Xiaomi langsung terbuka sempurna.

"...Seratus?"

Namun, beberapa saat kemudian ia kembali berbaring.

"Lupakan. Tetap saja tidur lebih penting."

Sistem kembali terdiam.

Untuk kedua kalinya hari itu, ia mulai meragukan pilihan semesta yang menjadikan Lin Xiaomi sebagai host-nya.

Saat Lin Xiaomi hampir memasuki alam mimpi, tiba-tiba tubuhnya tersentak.

"Ah!"

Ia spontan bangun sambil memegangi lengannya.

"Kenapa rasanya seperti kesetrum?!"

Lin Xiaomi menatap sekeliling dengan wajah panik.

"Apa yang barusan terjadi?"

Tak lama kemudian, suara sistem kembali terdengar di dalam kepalanya.

[Peringatan.]

[Host menolak mendengarkan gosip yang telah terdeteksi.]

[Sebagai hukuman, sistem memberikan sengatan listrik tingkat satu.]

Mata Lin Xiaomi langsung membelalak.

"Hah?!"

[Mohon Host bekerja sama dengan Sistem Gosip. Penolakan berulang akan meningkatkan tingkat hukuman.]

"Ada hukuman segala?!"

Lin Xiaomi langsung duduk tegak di atas ranjang.

"Dasar sistem tidak berperasaan!"

[Host, mohon perhatikan.]

[Sistem Gosip tidak akan memaksa Host melakukan misi berbahaya. Namun, Host wajib mendengarkan setiap gosip yang telah terdeteksi.]

Lin Xiaomi memijat pelipisnya.

"Jadi... kalau aku tetap menolak?"

[Sengatan listrik akan meningkat dari tingkat satu, tingkat dua, hingga tingkat sepuluh.]

Wajah Lin Xiaomi langsung berubah.

"...Kejam."

[Selain itu, setiap gosip memiliki batas waktu. Jika Host mengabaikannya hingga waktu habis, hukuman tetap akan diberikan.]

Lin Xiaomi menatap langit-langit kamar dengan putus asa.

"Aku kira setelah transmigrasi hidupku bakal santai."

Ia berguling ke kanan, lalu ke kiri.

"Nyatanya tetap saja harus bekerja."

[Host hanya perlu menjadi pendengar. Tidak perlu ikut campur dalam alur cerita.]

Lin Xiaomi terdiam cukup lama.

Kalimat itu terdengar jauh lebih meyakinkan dibanding misi-misi aneh di novel yang pernah dibacanya.

"Benarkah aku cuma perlu dengar gosip?"

[Benar.]

"Setelah itu dapat poin?"

[Benar.]

"Poinnya bisa ditukar hadiah?"

[Benar.]

Lin Xiaomi mengusap dagunya pelan.

"Kalau begitu... sepertinya tidak terlalu buruk."

Sistem akhirnya merasa lega.

Setidaknya, host yang sangat pemalas ini mulai menunjukkan sedikit ketertarikan.

Melihat Lin Xiaomi mulai goyah, sistem segera melanjutkan penjelasannya.

[Host, apakah ingin mulai mendengarkan gosip pertama?]

Lin Xiaomi memeluk bantal sambil menguap.

"Baiklah... asal tidak menyuruhku lari ke sana kemari."

[Tenang. Host cukup mendengarkan.]

Begitu suara sistem menghilang, sebuah layar transparan muncul di hadapan Lin Xiaomi.

Di bagian atas tertulis jelas.

『Gosip #001』

Lin Xiaomi langsung duduk tegak.

"Eh? Ada layarnya juga?"

[Silakan bersiap. Proses penyampaian gosip akan segera dimulai.]

Beberapa detik kemudian—

[Ding! Gosip pertama dimulai.]

[Target gosip: Kediaman Perdana Menteri.]

[Orang yang terlibat: Putra sulung Perdana Menteri.]

Mata Lin Xiaomi langsung berbinar.

"Sepertinya... menarik juga."

Ia segera merapikan posisi duduknya, memeluk bantal di pangkuan, lalu berkata dengan semangat,

"Cepat mulai! Aku mau makan melon!"

Sistem terdiam sesaat.

Host yang tadi mati-matian menolak, kini justru terlihat paling antusias.

[Tingkat kerahasiaan: Bintang Dua.]

Lin Xiaomi langsung mengambil posisi yang lebih nyaman di atas ranjang.

"Ayo, cepat."

[Menurut informasi yang berhasil dikumpulkan sistem, Xu Wenhao diam-diam telah bertunangan dengan putri keluarga bangsawan sejak tiga bulan lalu.]

Lin Xiaomi mengangguk pelan.

"Terus?"

[Namun, semalam ia justru terlihat bertemu secara rahasia dengan putri keluarga lain di Paviliun Yuelai.]

Mata Lin Xiaomi langsung membulat.

"Hah?"

[Keduanya menghabiskan waktu lebih dari dua jam di ruang pribadi lantai dua.]

Lin Xiaomi refleks menepuk bantal.

"Wah... baru gosip pertama saja sudah seheboh ini."

[Apakah Host ingin mengetahui kelanjutannya?]

Lin Xiaomi yang sebelumnya mengantuk kini sama sekali tidak merasa ingin tidur.

"Tentu saja!"

Ia bahkan mengambil sepiring camilan yang tersedia di meja kecil di samping ranjang.

"Cepat lanjut. Jangan dipotong di bagian serunya."

Melihat perubahan sikap host-nya, sistem akhirnya merasa sedikit lega.

Sepertinya, kelemahan Lin Xiaomi memang hanya satu.

Gosip.

Sistem kembali melanjutkan laporannya.

[Berdasarkan pengamatan sistem, Xu Wenhao tidak datang sendiri.]

[Ia ditemani seorang wanita muda yang selalu mengenakan cadar tipis untuk menutupi wajahnya.]

Lin Xiaomi memasukkan sepotong kue ke dalam mulutnya.

"Lalu? Siapa wanita itu?"

[Identitasnya sempat disembunyikan. Namun, setelah sistem melakukan pelacakan, wanita tersebut adalah Putri Kedua Keluarga Zhou.]

Lin Xiaomi langsung tersedak.

"Batuk... batuk..."

"Jadi, dia sudah bertunangan, tapi diam-diam bertemu wanita lain?"

[Benar.]

[Yang lebih mengejutkan, pertunangan Xu Wenhao dengan putri keluarga bangsawan hanyalah kedok.]

Lin Xiaomi mengerjap.

"Kedok?"

[Orang yang benar-benar ia sukai sejak lama adalah Putri Kedua Keluarga Zhou. Pertunangan itu dilakukan demi kepentingan politik kedua keluarga.]

Lin Xiaomi langsung menggeleng pelan.

"Benar-benar rumit."

Ia menopang dagunya sambil terus mendengarkan.

"Ternyata kehidupan para bangsawan jauh lebih seru daripada novel yang kubaca."

Sistem menjawab datar.

[Host, ini baru gosip tingkat dua. Gosip tingkat yang lebih tinggi akan jauh lebih mengejutkan.]

Mata Lin Xiaomi kembali berbinar.

"Tunggu... masih ada yang lebih heboh dari ini?"

[Tentu saja, Host.]

Suara sistem terdengar penuh keyakinan.

[Jika Host penasaran dengan kelanjutan gosip ini, Host bisa pergi ke Paviliun Yuelai.]

Lin Xiaomi langsung mengernyit.

"Untuk apa?"

[Besok sore, Xu Wenhao dan Putri Kedua Keluarga Zhou dijadwalkan bertemu kembali di sana.]

Lin Xiaomi menatap layar sistem beberapa saat.

"Jadi... aku harus datang?"

[Host tidak perlu ikut campur.]

[Host hanya perlu menjadi penonton dan menikmati jalannya gosip. Semakin lengkap gosip yang didengar, semakin besar hadiah yang akan diperoleh.]

Lin Xiaomi memeluk bantalnya erat.

"Berarti aku cuma duduk, makan camilan, lalu menonton mereka diam-diam?"

[Kurang lebih seperti itu.]

Mata Lin Xiaomi langsung berbinar.

"Nah, kalau cuma begitu aku bisa."

Lin Xiaomi berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk.

"Lagipula, aku juga ingin melihat seperti apa keadaan di luar kediaman Keluarga Lin."

Ia meregangkan tubuhnya sambil tersenyum tipis.

"Baiklah. Besok kita keluar."

Mendengar jawaban itu, sistem langsung bersuara.

[Perintah diterima.]

[Sistem akan memandu Host menuju Paviliun Yuelai besok sore.]

Lin Xiaomi mengangguk santai.

"Asal jangan ada sengatan listrik lagi."

[Selama Host bekerja sama, hukuman tidak akan diberikan.]

"Bagus. Sekarang jangan ganggu aku lagi."

Setelah memastikan sistem tidak lagi bersuara, Lin Xiaomi menarik selimut hingga sebatas bahu.

"Besok baru mulai makan melon."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!