Indonesia
NovelToon NovelToon

Istri Tersembunyi Dokter Pradikta

Episode 1 Kesalahan

Suara sirene ambulans memecah hiruk-pikuk malam yang mulai lengang. Lampu merah berputar cepat di atas kendaraan berwarna putih itu yang memantul di dinding kaca gedung rumah sakit yang menjulang tinggi.

Rumah sakit Citra Kasih tidak pernah berhenti dari pasien, rumah sakit tidak mengenal waktu istirahat, malam siang tetap sama saja.

Mobil ambulans meluncur masuk ke area Instalasi Gawat Darurat, remnya berdecit pelan saat berhenti tepat di depan pintu otomatis yang langsung terbuka lebar.

Pintu belakang terbuka dengan sigap. Dua petugas medis turun dengan wajah serius, mendorong brankar yang membawa seorang pasien dalam kondisi darurat.

Wajahnya dipenuhi dengan luka, pendarahan dari kepalanya terus saja keluar meski sudah ditangani sebelumnya saat berada di dalam mobil ambulance.

Beberapa perawat berlari dari dalam ruang IGD, dengan cepat menangani pasien tersebut sebelum memasuki ruang IGD, mengganti selang oksigen.

"Keadaan pasien menurun! Tekanan darah tidak stabil," salah satu perawat memberi informasi.

Keadaan pasien benar-benar parah dengan nafas yang tidak stabil, para perawat yang sudah bersiaga langsung menyambut, tangannya cetakan memindahkan brankar masuk ke dalam lorong IGD yang terang benderang.

Sepatu mereka berderap cepat di lantai, suara roda brankar beradu dengan keramik mengisi ruang yang dipenuhi ketegangan.

Beberapa tenaga medis lain ikut bergerak, membuka jalan, menyiapkan alat, dan saling bertukar instruksi dengan suara tegas namun terkontrol.

Aroma antiseptik yang khas semakin terasa ketika mereka melewati pintu menuju ruang tindakan.

"Dokter Zivanna, pasien datang dalam keadaan kritis," ucap salah satu perawat memberi laporan kepada Dokter yang baru saja meneguk air putih.

"Sudah di bawa ke IGD?" tanya Dokter wanita cantik menggunakan hijab tersebut.

"Sudah Dokter," jawab Suster.

Zivanna menghela nafas dan kemudian meninggalkan Tumbler tersebut berjalan memasuki ruang IGD.

Di dalam, suasana berubah semakin intens. Lampu putih menyinari setiap sudut ruangan, memantulkan wajah-wajah serius yang fokus pada satu tujuan.

Dalam hitungan detik, pasien sudah dipindahkan ke ranjang tindakan, alat-alat mulai bekerja, dan waktu seakan berjalan lebih cepat dari biasanya.

Di luar ruangan, pintu tertutup kembali. Suara sirene telah berhenti, tetapi ketegangan yang dibawanya masih tertinggal, menggantung di udara rumah sakit yang tak pernah benar-benar tidur.

"Dokter, pasien mengalami kecelakaan tunggal, mengalami pendarahan hebat dan tadi saat di mobil ambulans sudah diberikan penanganan darurat," salah satu perawat memberi informasi Zivanna yang masih berdiri di samping tempat tidur pasien tersebut tanpa melakukan tindakan apa-apa

"Serius hanya aku Dokter yang menangani pasien ini?" batin Zivanna tiba-tiba saja gelisah.

Bib.....

Suara dari monitor jantung mulai berbunyi menandakan pasien semakin darurat.

"Dokter bagaimana ini?" perawat mulai panik dan begitu juga dengan Zivanna.

Entah mengapa tiba-tiba saja dia menjadi gugup, tangannya gemetar dan bahkan tidak berani untuk memulai apapun pada pasien yang semakin darurat itu.

Sementara dua suster mencoba untuk membersihkan darah di bagian kepalanya.

"Berikan saya pompa jantung!" titah Zivanna terdengar ragu.

Perawat hanya menjalankan instruksi dan langsung memberikan kepada Zivanna.

Zivanna memegang kedua alat tersebut dengan kepanikan di wajahnya, antara harus melakukan dan tidak pada pasien dengan nafas tersengal-sengal tersebut.

"Bismillah....." ucapnya lirih

Saatnya memulai untuk memberi pertolongan kepada pasien tersebut dengan menempelkan alat mesin jantung tepat di dadanya.

"Zivanna....." belum sempat melakukan tindakan itu suara lancang berteriak membuatnya kaget dengan menoleh ke arah pintu gawat darurat.

Seorang Dokter tampan berjubah putih, memperlihatkan aura tajamnya dengan sorot mata menatap Zivanna seperti monster yang hendak menerkam. Zivanna perlahan mengangkat alat tersebut dengan tangan bergetar.

Langkah pria itu mendekatinya membuatnya semakin takut dengan kesulitan menelan ludah.

"Kau gila melakukan tindakan ini!" ucapnya terdengar marah, Zivanna sepertinya melakukan kesalahan.

"Minggir!" Dokter tersebut langsung mendekati pasien dan menyenggol tubuh Zivanna sampai tergeser ke belakang.

Dokter tampan itu kemudian terlihat menangani pasien

Mulai memeriksa tekanan darahnya, lalu memberi arahan kepada perawat untuk menghentikan pendarahan.

Zivanna di belakang Dokter yang memiliki tinggi di 178 itu terlihat mengintip-ngintip apa yang Dokter tersebut ternyata berhasil menangani pasien dengan kondisi stabil.

Setelah melakukan pemeriksaan secara intens pada pasien darurat tersebut, akhirnya dilanjutkan dengan beberapa prosedur yang dilanjutkan oleh perawat dan juga Dokter pengganti.

Saat ini Zivanna menunduk berada di lorong rumah sakit hampir bersandar pada tembok dengan keberadaan Dokter yang baru saja menegurnya berdiri di depannya. Dokter Pradikta yang biasa disebut Dokter Dikta. Dokter senior di rumah sakit merupakan Dokter spesialis bedah.

"Apa kau ingin jantung pasien berhenti?" Dikta menekan suaranya memarahi juniornya itu.

"Bagaimana mungkin kau bisa tiba-tiba melakukan RJP pada pasien yang masih memiliki nafas normal, masih sadar, apa yang ada dipikiran kamu saat melakukan tindakan seperti ini hah!" kemarahan yang besar semakin diperlihatkan pada Zivanna.

"Ma_ _ maaf Dokter," ucap Zivanna dengan lirih.

"Saya benar-benar tidak mengerti dengan kamu Zivanna, bagaimana mungkin kamu bisa lulus menjadi Dokter, untuk menangani pasien gawat darurat saja kamu tidak mampu, apa kamu tidak menyadari, kamu hampir saja membunuh pasien!" tegas Dikta .

"Saya minta maaf Dokter, saya hanya sendirian berada di ruang IGD, tidak ada Dokter lain, jadi saya kebingungan harus berbuat apa," jawab Zivanna.

"Ini rumah sakit dan menjadi Dokter tidak harus memiliki teman dalam setiap gawat darurat yang dihadapi. Kamu pikir Dokter-Dokter di rumah sakit ini harus mendampingi kamu dalam segala hal. Jika kamu tidak ingin berurusan dengan pasien sendirian, maka lebih baik kamu jangan pernah menjadi Dokter!" tegas Dikta.

Zivanna hanya menunduk dan tidak menjawab lagi. Apa yang dia lakukan ternyata merupakan kesalahan yang sangat fatal, tidak mudah dimaafkan begitu saja.

"Saya benar-benar tidak tahu harus berbicara apa dengan kamu. Kamu seperti anak kecil yang harus diawasi terus!" ucap Dikta geleng-geleng kepala dan kemudian langsung pergi.

Zivanna baru mengangkat kepala dan melihat kepergian dari Dokter senior itu.

"Setiap apa yang aku lakukan pasti selalu salah di matanya, tidak pernah sehari saja tidak dimarahi oleh Dokter Dikta," gumam Zivanna dengan sewot.

*****

Zivanna terlihat berjalan di koridor rumah sakit dengan wajahnya lesu dan lelah, bagaimana tidak tadi malam dia harus berjaga karena memang mendapatkan tugas pada shift malam, lumayan banyak pasien dan untung saja hanya melakukan 1 kesalahan dan langsung ditangani Dokter Dikta, selebihnya Zivanna hanya memeriksa pasien dengan biasa saja.

"Mungkin orang tuanya orang yang berpengaruh, makanya bisa menjadi Dokter tetapi tidak tahu apa-apa," suara bisik-bisik itu membuat Zivanna menoleh ke sebelahnya dan terlihat ada dua perawat yang tak lain ikut bersamanya berada di ruang IGD tadi malam.

"Bisa-bisa dia melakukan RJP pada pasien yang masih bernapas, untung saja pasien itu tidak mati di tangannya," wanita itu terus saja membicarakannya.

"Isss, gosip aja," batin Zivanna tanpa kesal dan memilih mempercepat langkahnya daripada telinganya semakin sakit mendengarkan gunjingan para perawat.

Zivanna meski menjadi Dokter, tetapi di rumah sakit itu dia bukanlah orang yang cukup disegani, karena selalu melakukan kesalahan dan bahkan sering dimarahi di depan banyak orang.

Zivanna sudah terbiasa dan lebih baik menerima karena memang kesalahannya cukup besar.

Bersambung....

...Para pembaca saya kembali memberikan karya terbaik, besar harapan saya karya terbaru saya dapat booming dan disukai banyak orang, tetapi semua tidak terlepas dari dukungan para pembaca yang selama ini setia membaca karya-karya saya, sedikit banyaknya dukungan dari kalian memberikan semangat yang luar biasa kepada saya. ...

...Jangan lupa untuk terus membaca dari bab 1 sampai bab akhir dan jangan menabung bab, setiap bab memiliki kejutan. ...

...Terima kasih para pembaca, salam cinta dari saya author....

Episode 2 Di rumah Berbeda

"Assalamualaikum...." Zivanna memasuki rumah dengan langkah sempoyongan dan terlihat begitu lesu dengan menjatuhkan dirinya di sofa.

Pasangan suami istri terlihat saling melihat satu sama lain, wanita sekitar berusia 50 tahunan ke atas itu dengan memakai hijab melihat ke arah gadis cantik itu yang saat ini memejamkan mata.

"Kamu melakukan kesalahan lagi?" tanya Andra, yang tak lain adalah ayahnya.

"Zivanna jangan bermain-main dengan nyawa pasien. Menjadi Dokter adalah impian kamu, tetapi bagaimana mungkin kamu bisa melakukan JPR pada pasien yang masih dalam kondisi sadar," sahut Sekar tak lain adalah ibunya.

"Sudah pasti dia mengadukannya," batin Zivanna masih menutup mata dengan ekspresi wajah kesal.

"Assalamualaikum...." selang beberapa detik ucapan salam kembali terucap.

Zivanna mendengar suara yang tidak asing itu membuka mata dan lihatlah bagaimana dia langsung meninggalkan ruang tamu tersebut dan pergi menaiki anak tangga.

Dikta baru saja kembali dengan jubah putih yang diletakkan di lengannya dan melihat kepergian Zivanna dengan langkahnya dipercepat.

"Walaikumsalam," Sekar dan Andra baru menjawab salam pria tersebut yang sekarang melangkah menghampiri mereka berdua dengan mencium punggung tangan dengan sangat sopan.

"Dikta. Papa meminta maaf atas kesalahan yang telah dilakukan Zivanna, jangan pernah bosan untuk menegurnya dan terus mengajarinya," ucap Andra.

"Iya. Pa," sahut Dikta.

"Kamu sebaiknya naik dan istirahat. Lalu kalian turun untuk makan malam!" ucap Sekar.

"Baiklah, kalau begitu saya naik ke atas dulu," ucap Dikta.

Kedua orang tua tersebut menganggukkan kepala. Dikta kemudian meninggalkan ruang tamu dengan menaiki anak tangga, membuka pintu kamar. Zivanna terlihat duduk di meja rias melepas hijabnya dengan menyisir rambutnya.

Dikta menghela nafas memasuki kamar dengan meletakkan tas yang selalu dia bawa pada tempatnya, duduk di sofa dan membuka sepatunya.

"Jika kamu terus seperti ini. Orang-orang di rumah sakit bisa takut jika bekerja sama dengan kamu," Dikta memulai obrolan.

"Ini bukan rumah sakit dan tidak ada kesepakatan membicarakan hal-hal yang berkaitan di rumah sakit di rumah ini!" ucap Zivanna dengan nada ketus.

Wanita penakut saat di rumah sakit berhadapan Dikta ternyata sangat berbeda saat berhadapan di rumah dan bahkan 1 kamar.

Dikta dan Zivanna adalah pasangan suami istri, menikah secara terdesak karena keinginan dari orang tua Zivanna. Dikta merupakan seorang Dokter di rumah sakit terbesar di Indonesia yang tak lain adalah milik keluarga Zivanna.

Sementara Dikta merupakan saudara persepupuan Zivanna. Zivanna merupakan putri satu-satunya mereka, kekhawatiran Andra dengan masa depan putrinya membuatnya menikahkan dengan Dikta.

Tetapi pernikahan mereka adalah pernikahan rahasia yang hanya diketahui oleh keluarga terdekat saja, pihak rumah sakit dan bahkan publik tidak mengetahui bahwa Dokter tampan yang dikenal dengan dingin dan kharismatik itu sudah memiliki istri yang dia nikahi 2 bulan yang lalu.

Ada kesepakatan antara Zivanna yang berbeda sifatnya dengan Dikta memiliki kepribadian 180 derajat berbeda dengannya, mereka sama-sama menyetujui kesepakatan yang telah mereka buat bahwa urusan di rumah sakit tidak akan berurusan di rumah dan begitu juga dengan sebaliknya.

******

Zivanna dan Dikta sudah bergabung di meja makan, terlihat Zivanna menggunakan pashmina yang hanya dipakai begitu saja tanpa pakai peniti menikmati makan malam tersebut dengan fokus pada makanannya dan hanya terdengar suara dentingan sendok.

"Zivanna, kenapa wajah kamu ditekuk seperti itu? Apa yang salah? apa karena Dikta marah-marah kepada kamu di depan semua orang?" tanya Sekar

Zivanna tidak menjawab dan tetap melanjutkan makannya.

"Jika ditegur, artinya itu demi kebaikan kamu. Papa sangat senang jika kamu terus mau belajar, bagaimanapun kamu adalah satu-satunya harapan Papa untuk melanjutkan generasi keluarga kita yang terus mengembangkan rumah sakit dan juga berpartisipasi dalam rumah sakit," sahut Andra.

"Zivanna sedang makan, Zivanna tidak ingin segala sesuatu harus berkaitan dengan rumah sakit. Zivanna juga lapar dan ingin menghabiskan makanannya Zivanna!" tegas Zivanna.

Moodnya benar-benar berantakan, mungkin sudah mulai lelah dimarahi terus-terusan di rumah sakit dan tidak di hargai, memang tidak ada yang tahu bahwa rumah sakit mewah itu adalah milik keluarganya.

Zivanna juga tidak ingin memamerkan harta kekayaan kedua orang tuanya dan sudah pasti akan menjawab semua tuduhan buruk dari orang-orang di rumah sakit bahwa dirinya menjadi Dokter karena adanya sindikat orang dalam.

"Papa sama Mama hanya peduli dengan rumah sakit saja tanpa peduli bagaimana aku. Aku memang memiliki cita-cita menjadi Dokter, tetapi hanya untuk dalam merawat bukan berurusan dengan darah-darah, orang yang hampir mati dan lain sebagainya yang sungguh sangat menakutkan," batin Zivanna.

*******

Rumah sakit.

Zivanna saat ini sedang duduk di kantin rumah sakit bersama dengan Dokter wanita yang dihadapinya sedang menikmati puding yang begitu lezat membuat tenggorokannya terasa dingin.

"Kamu sih, masa iya tidak hafal-hafal, dari mana ceritanya pasien belum juga terlalu parah sudah langsung melakukan tindakan pompa jantung," wanita itu juga ternyata harus menyalahkan Zivanna.

"Sulit sekali mengingat semua tentang medis, kepalaku bisa pecah dan aku sudah belajar mati-matian tetap saja tidak ingat-ingat," sahut Zivanna.

"Zivanna, pekerjaan seorang Dokter itu bukan menghafal, apa yang kita lakukan memiliki peraturan sendiri dan perlahan menjadi naluri, its oke, kamu baru melakukan sumpah Dokter selama 5 bulan, wajar saja melakukan kesalahan," sahut Sherina yang ternyata memberi rekannya itu semangat.

"Wajar melakukan kesalahan seperti apa, di dalam 5 bulan dikali 30 hari dan dipotong 10 hari dalam satu bulan dan setiap hari aku terus saja dimarahi, lama-lama kepalaku bisa pecah dan tidak bisa masuk ilmu jika terus dimarahi tanpa diberitahu kesalahanku, aku jadi bingung dan tidak bisa mencerna pekerjaan dengan baik yang membuatku lama-lama menjadi bodoh," keluh Zivanna.

"Itu karena kamu tidak mencoba untuk bertanya kepada Dokter Dikta, coba saja kamu tanyakan kepadanya jika saat kamu melakukan kesalahan dan ditanya baik-baik, Dokter lalu saya harus melakukan apa dan apa tindakan yang akan terjadi jika saya melakukannya," Sherina memberi nasehat dan gambaran kepada sahabatnya itu jika segala sesuatu bisa diperbaiki.

"Boro-boro ingin mempertanyakan kesalahan, setiap memarahi pergi begitu saja," sahut Zivanna dengan kesal.

"Sudahlah, jadikan sebagai pelajaran dan tetap aku akan menjadi guru terbaik untuk kamu," sahut Sherina membuat Zivanna tersenyum.

Mata Sherina melihat ke arah sesuatu yang membuat Zivanna penasaran dan sampai membalikkan tubuhnya.

Dokter yang baru saja mereka bicarakan sedang berjalan berdampingan dengan seorang wanita tampak elegan yang merupakan Dokter senior di rumah sakit itu.

"Belakang ini banyak gosip, mereka memiliki hubungan spesial dan aku dengar-dengar juga sudah bertunangan," ucap Sherina dengan sangat pelan.

"Tunangan, apa iya dia pertunangan dengan orang lain," batin Zivanna terlihat sewot dan justru mengejek.

"Kalau aku pikir-pikir mereka memang cocok, terlihat dari penampilan yang menarik, keduanya memiliki visual yang sama-sama oke, sama-sama pintar, dan juga sepertinya mereka berdua memiliki hubungan yang dekat," ucap Sherina memberi pujian kepada pasangan yang sekarang sudah duduk itu dan terlihat mengobrol sangat akrab.

Zivanna tidak tertarik untuk menanggapi dan tetap melanjutkan makannya.

"Menurut kamu bagaimana Zivanna? Apa kamu menyukai kedekatan mereka berdua?" tanya Sherina meminta pendapat.

"No komen," jawab Zivanna dengan singkat.

Bersambung.....

...Para pembaca saya kembali memberikan karya terbaik, besar harapan saya karya terbaru saya dapat booming dan disukai banyak orang, tetapi semua tidak terlepas dari dukungan para pembaca yang selama ini setia membaca karya-karya saya, sedikit banyaknya dukungan dari kalian memberikan semangat yang luar biasa kepada saya....

...Jangan lupa untuk terus membaca dari bab 1 sampai bab akhir dan jangan menabung bab, setiap bab memiliki kejutan....

...Terima kasih para pembaca, salam cinta dari saya author....

Episode 3 Di Anggap Spele

Zivanna bersama dengan Suster sedang memeriksa pasien yang berada di ruang rawat inap. Ini memang jadwal kunjungan Dokter seperti biasa aktivitas yang dilakukan.

"Ibu, harus minum obat yang rajin, ingat makanan yang dilarang tidak boleh dimakan, jika ingin sembuh harus benar-benar jaga kesehatan dengan baik, nanti kalau sakitnya makin parah baru mengeluh," ucap Zivanna memberi saran pada wanita sekitar berusia 70 tahunan itu.

"Ibu sudah tua, jangan marah-marah jika makanan yang ibu makan tidak sehat, siapa tahu itu jalan terakhir ibu untuk makan," ucap wanita itu.

"Yang memiliki ketentuan kita akan pergi atau tidak itu adalah sang pencipta, tetapi sebagai manusia tidak boleh menyerah," ucap Zivanna memberikan saran kepada pasiennya itu.

"Iya-iya Dokter, terima kasih atas sarannya," ucap Dokter tersebut dengan menganggukkan kepala.

Zivanna memberi senyum dan memberi suntikan kepada wanita tua itu.

"Baiklah, kalau begitu Ibu beristirahat. Saya permisi dulu!" ucap Zivanna dengan tersenyum.

"Baik! Dokter,!" wanita itu merespon dengan tersenyum.

Zivanna kemudian langsung keluar dari ruang perawatan itu bersama dengan Suster di belakangnya yang mengikuti Zivanna.

"Kita ada kunjungan ke ruangan mana lagi?" tanya Zivanna.

"Sudah selesai Dokter," jawab Suster.

"Selesai! kenapa cepat sekali, bukankah kita hanya memeriksa beberapa pasien saja dan pasiennya juga akan segera pulang?" tanya Zivanna.

"Semuanya diambil alih-alih Dokter Rania," jawab Suster.

"Hah!" sahut Zivanna cukup kaget mendengar pernyataan dari Suster tersebut.

"Kata Dokter Raina, beberapa pasien banyak mengeluh karena tindakan yang Dokter ambil, terkadang saran yang Dokter berikan tidak masuk akal membuat mereka tidak berani untuk meminum obat," Suster wanita itu tampak gugup menyampaikan secara langsung pada Zivanna.

"Pasien komplain tentang hal itu?" tanya Zivanna memastikan.

Suster menganggukkan kepala.

Zivanna tidak bisa berkomentar apapun hanya menghela nafas dengan perasaan yang tidak enak.

"Dokter, kalau begitu saya permisi dulu!," ucap Suster menundukkan kepala dan kemudian langsung pergi.

"Kenapa pasien takut padaku? Padahal aku tidak menyakiti mereka dan aku hanya mencoba untuk menolong mereka, saran yang aku berikan juga masuk akal, kenapa menjadi Dokter begitu sangat sulit," gumam Zivanna menjadi sedih karena mendengar pernyataan Suster.

Zivanna melanjutkan langkahnya dengan terlihat lesu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jubah putih itu.

"Zivanna....." panggil Sherina menghampiri temannya itu dengan merangkul bahunya.

"Hey, ada apa dengan kamu? kenapa wajah kamu terlihat cemberut seperti itu?" tanya Sherina.

"Semakin lama orang-orang yang ada di rumah sakit ini benar-benar tidak menghargaiku, mereka mencapku sebagai dokter gadungan, selalu melakukan kesalahan, bahkan untuk kunjungan pasien secara rutin saja aku harus dibatasi, jika seperti ini untuk apa melanjutkan menjadi seorang Dokter," keluh Zivanna.

"Hey, kenapa langsung menyerah begitu saja? Kamu harus belajar dan buktikan pada semua orang yang ada di rumah sakit jika kamu mampu, bukankah kamu berniat ingin mengambil Dokter spesialis. Jadi lanjutkan saja mengambil Dokter spesialis penyakit dalam," ucap Sherina tidak pernah berhenti memberi dukungan kepada Zivanna.

"Memang kamu mampu?" tiba-tiba mereka membalikan tubuh ketika mendengar suara yang terdengar merendahkan itu.

"Dokter Raina...." sahut Sherina.

"Sherina, jika kamu ingin mengambil Dokter spesialis, maka silakan dan mungkin saya masih yakin kamu mampu menjalaninya, tetapi tidak untuk Zivanna, menjadi Dokter umum saja dan bahkan melakukan hal kecil saja kepada pasien selalu salah, kalau saran saya profesi ini tidak cocok untuk kamu. Alangkah baiknya jangan dilanjutkan dan kalau perlu sudah tidak menjadi Dokter lagi," ucap Raina tersenyum meragukan kemampuan Zivanna.

"Hmmmm, Dokter, bukankah siapapun itu berhak untuk mengambil spesialis dan termasuk Zivanna. Zivanna juga bisa menjadi Dokter dan berada di rumah sakit ini pasti melewati banyak hal dan artinya dia mampu," sahut Sherina membela temannya.

"Semua orang berhak untuk melanjutkan cita-citanya dan mengembangkan karirnya dalam dunia kedokteran, tetapi keberhakaan itu bukan untuk orang yang pasti memiliki keterculian, yaitu Zivanna, kemampuannya sebagai Dokter di bawah rata-rata para perawat di rumah sakit ini, melihat darah takut mengambil tindakan ragu dan bahkan melakukan hal-hal kecil saja tidak mampu," ucap Rania.

Zivanna menghela nafas, perasaannya pasti tidak enak karena diberi sindiran oleh Rania yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Daripada terus mendengar kejelekan dan sindiran terhadapnya lebih baik Zivanna memilih untuk pergi.

"Zivanna tunggu!" panggil Sherina kebingungan harus berbuat apa.

"Dokter saya permisi dulu!" ucap Sherina buru-buru dan meninggalkan tempat tersebut.

"Baru dikatakan seperti itu saja sudah marah, jika sudah tahu tidak memiliki kemampuan dan seharusnya tidak berani untuk menjalani profesi yang tidak cocok dengan kita," batin Rania dengan tersenyum miring.

****

Zivanna mendapat pernyataan yang membuat hatinya terluka, menjadi bahan pikiran untuknya yang duduk di luar rumah sakit di bawah pohon yang terdapat salah satu bangku di sana. Wajahnya terlihat murung dan tidak semangat dengan apa yang dia dapatkan hari ini.

"Benarkah, aku tidak mampu untuk menjadi seorang Dokter? benarkah profesi ini tidak cocok untukku dan kesannya justru terpaksa?"

"Memang tidak mudah untuk menjalani profesi yang berkaitan dengan nyawa seseorang, aku hanya ingin menjadi seorang Dokter karena mengharapkan pekerjaan ini akan membawakan pahala karena menolong banyak orang, tetapi siapa sangka justru aku menjadi satu-satunya dokter yang ditakuti banyak orang,"

"Apa aku begitu buruk dan tidak pantas untuk mendapatkan profesi ini?" Zivanna sejak tadi bertanya sendiri tentang profesi yang dia jalani tidak seindah yang dia bayangkan.

Kehidupan gadis 23 tahun itu tidak lepas dari kehidupan dunia medi. Kakeknya seorang profesor terkenal, dilanjutkan dengan ayahnya mengambil dunia di bagian kesehatan berhasil mendirikan rumah sakit terbaik di Indonesia.

Sejak kecil dunia medis sudah diperlihatkan kepada Zivanna, dia merasa senang karena banyak para pasien yang mengucapkan terima kasih dengan senyum melebar pada dokter tersebut membuat Zivanna memiliki keinginan untuk menjadi Dokter.

Zivanna benar-benar tidak mudah untuk berada pada titik sampai saat ini, semua melalui proses dan tidak seperti yang dikatakan orang-orang bahwa dia mendapatkan profesiku secara instan, orang-orang tidak melihat bagaimana perjuangannya begitu keras, tetapi sudah pasti setiap praktek yang dia jalani tidak sama dengan dunia nyata.

Zivanna terkadang merasa takut mengambil tindakan, bahkan untuk melihat darah pun dia terkadang masih tidak tahan, memang sangat banyak kekurangan Zivanna sebagai seorang Dokter.

"Dokter, ini rekap pasien dari pasien di ruangan melati!" Suster menghampiri Dikta yang berdiri di teras lantai 2 yang baru saja menyelesaikan panggilan teleponnya.

"Baiklah, kamu persiapkan prosedur operasinya!" titah Dikta.

"Baik Dokter," sahut Suster tersebut menganggukkan kepala dan kemudian meninggalkan Dikta.

Saat Dikta ingin pergi tiba-tiba saja tidak jadi ketika arah matanya melihat pada sosok wanita yang duduk termenung siapa lagi jika bukan istrinya.

Entah apa yang dipikiran Dikta, hanya menatap bagaimana wanita tersebut.

"Kenapa dia tidak pernah belajar dari kesalahan dan tetap melakukan kesalahan yang sama? Dia memiliki cita-cita yang tinggi dalam karir dunia ke Dokter nya, tetapi tidak mau berusaha, dan jika seperti itu terus maka lama-lama dia juga akan kehilangan karirnya," batin Dikta menghela nafas.

Dikta mungkin sudah lelah terus menerus marah kepada Zivanna.

Bersambung....

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!