Satu jam lagi pernikahan akan segera dimulai. Seorang wanita dengan gaun pengantin berwarna putih gading sudah menunggu dengan detak jantung yang berdebar kencang di dalam ruangannya.
Senyumnya terus merekah. Buket bunga di tangan terus ia cium sambil menatap sumringah ke arah jendela yang memperlihatkan pemandangan taman yang indah.
Satu jam lagi, dia akan resmi menjadi istri dari Arsenio Malik. Satu jam lagi, dia akan pergi meninggalkan Ayah dan Ibu yang selalu pilih kasih. Satu jam lagi, hanya kebahagiaan yang akan Seraphina rasakan. Satu jam lagi, semua duka selama 20 tahun ini akan berganti dengan senyum yang semoga abadi.
Cklek!
Pintu dibelakangnya terbuka. Wanita itu pun reflek menoleh. Kedua orangtuanya masuk dengan wajah yang terlihat tegang. Hal itu mengundang perasaan tak enak ke dalam hati dan pikiran sang calon pengantin wanita.
"Seraphina..." Suara Romi Maherza terdengar jelas. Memantul di dinding marmer ruangan itu.
"Ada apa, Ayah?" tanya Seraphina Allena Maherza.
"Ada hal yang ingin Ayah katakan padamu," ucap Romi dengan ekspresi yang semakin rumit untuk Seraphina baca.
"Silakan," angguk Seraphina.
"Hari ini, kamu tidak akan menikah dengan Arsenio Malik."
Kata-kata itu membuat Seraphina membeku. Tangannya mencengkram buket bunga di tangannya dengan erat.
"Maksud Ayah?"
Romi menghela napas panjang. "Kalani yang akan menggantikan kamu menikah dengan Arsenio."
Deg.
Seperti ada ribuan tangan tak kasat mata yang sedang meremas jantung Seraphina secara bersamaan. Apalagi, saat melihat sang kakak yang masuk ke dalam ruangan dengan langkah sumringah sambil mengenakan gaun pengantin yang terlihat jauh lebih mahal dibanding punyanya.
Kalani Gianna Maherza tersenyum lebar. Tak ada rasa bersalah di wajahnya.
"Ayah, tidak bisa begitu," geleng Seraphina menolak. "Hari ini, hari pernikahan ku. Kalani tidak seharusnya menghancurkan semuanya. Lagipula, Arsenio bukan barang. Dia bukan mainan yang bisa dioper ke siapa saja."
"Arsenio sudah setuju," kata Romi dengan tegas.
Hal yang membuat tungkai Seraphina seketika jadi melemas.
"Arsenio, masuklah! Jelaskan sendiri kesalahanmu pada Seraphina!" titah pria berusia 55 tahun itu.
Tak lama, seorang pria yang tampak begitu gagah dalam balutan jas pengantin berwarna putih mulai melangkah masuk. Wajahnya menunduk. Penuh rasa bersalah.
"Seraphina..." panggil Arsenio lirih.
Air mata Seraphina mulai mengalir deras. Hatinya benar-benar sakit. Bahkan, sebelum Arsenio bicara pun, Seraphina seperti sudah bisa menangkap garis besarnya.
Pasti, sang calon suami sudah jatuh cinta pada kakak kandung Seraphina sendiri, Kalani.
"... Kalani hamil anakku."
"A-apa?"
Seraphina tahu ini pengkhianatan. Tapi, dia tak menyangka jika pengkhianatan itu ternyata sudah sejauh ini.
"Maaf," lirih Arsenio. "Tapi, aku harus bertanggungjawab."
"Sejak kapan kalian bermain di belakang ku?" tanya Seraphina dengan kepingan hati yang semakin hancur.
"Sudah enam bulan," jawab Kalani tanpa rasa bersalah. "Maaf, Sera. Tapi, Arsenio lebih nyaman denganku dibanding denganmu."
Seraphina menggeram marah. Tanpa sadar, tangannya melayang memberi tamparan keras pada wajah Kalani.
Plak.
Wajah Kalani tertoleh ke samping.
Plak.
Kini, gantian wajah Seraphina yang tertoleh ke samping. Wajahnya bahkan lebih parah karena sudut bibirnya sampai robek.
"Berani-beraninya kamu menyakiti kakak kandungmu sendiri!" pekik Romi marah.
Seperti biasa, dia akan berdiri di sisi Kalani sekali pun Kalani sudah melakukan kesalahan besar.
"Dia yang menyakiti ku duluan," teriak Seraphina. "Dia yang merebut calon suamiku."
"Apa suaramu tidak bisa dipelankan sedikit?" Sang Ibu turut angkat suara. "Kamu mau membuat nama baik Kakakmu jadi tercoreng, hah?"
Seraphina tertawa sumbang. Lihatlah! Betapa jelasnya pilih kasih kedua orangtuanya.
"Namanya memang sudah tercoreng. Dia itu cuma wanita murahan dan kalian masih saja membelanya," timpal Seraphina.
"Kalani bukan wanita murahan, Seraphina!" hardik Arsenio. "Jaga mulutmu! Jangan sampai aku dengar kamu berani mengatai calon istriku!"
Tubuh Seraphina terhuyung. Dia nyaris kehilangan keseimbangan. Adakah sesuatu yang bisa menggambarkan rasa sakit ini?
Sekali lagi, Kalani berhasil merebut miliknya. Kebahagiaannya.
"Baik. Kalau kalian mau menikah, silakan!! Anj ing memang cocok dengan ja lang" ujar Seraphina. Dia membuka veil di kepalanya. Menghempaskan buket bunga ditangan lalu menginjaknya hingga hancur.
Secepat kilat, dia melangkah pergi. Semakin lama dia di sana, maka semakin sesak pula yang akan dia rasakan.
"Kamu mau kemana, hah? Kembali ke sini, Seraphina!!!" teriak sang Ayah.
Namun, Seraphina tak peduli. Dia terus berlari.
"Ayah, Ibu, Arsenio... maafkan aku," lirih Kalani dengan mata memerah. "Gara-gara aku, Seraphina jadi membenci kalian."
"Kamu tidak salah," timpal sang Ibu. "Seraphina yang kurang dewasa. Seharusnya, dia bisa memahami bahwa bayi didalam perutmu membutuhkan Ayahnya."
*******
Lima tahun berlalu sejak kejadian itu. Dan, kini Seraphina telah menikah dengan Kaivan Lyonel Marvin. Seorang pria yang lebih tua lima tahun darinya dengan pembawaan dewasa dan penuh perhatian.
Malam ini adalah hari anniversary pernikahan mereka yang keempat tahun. Namun, seperti perayaan-perayaan sebelumnya, Kaivan tak pernah pulang ke rumah.
Seraphina tidak bodoh. Dia tahu kemana suaminya pergi. Namun, dia memilih berpura-pura tidak tahu.
Pukul dua dini hari. Kaivan akhirnya pulang. Pria itu membuka pintu dengan perlahan. Berjalan mengendap-endap dalam kegelapan untuk segera naik ke atas.
Cklek.
Lampu ruangan menyala terang. Langkah kaki Kaivan yang sudah menapak anak tangga kedua reflek terhenti.
Pria itu menoleh dan mendapati sang istri yang ternyata sedang duduk di ruang tamu dengan punggung tegak, tangan terlipat rapi diatas pangkuan, persis seperti boneka tanpa nyawa.
"Seraphina..." panggil Kaivan kikuk.
"Kau darimana saja?"
Pertanyaan itu meluncur begitu dingin. Tak ada kekhawatiran seperti sebelum-sebelumnya. Hanya benar-benar datar. Namun, Kaivan sama sekali tidak menyadarinya.
"Ada rapat penting dengan klien. Tadi, aku tidak sempat mengabarimu. Maaf."
Kaivan berjalan mendekati Seraphina. Dia duduk disamping istrinya, berniat memberi kecupan hangat di dahi wanita itu.
Akan tetapi, wanita itu justru menahan dadanya. Tak memberi Kaivan kesempatan untuk melancarkan aksinya.
"Tubuh mu dipenuhi aroma wanita lain. Aku tidak suka," kata Seraphina.
Kaivan salah tingkah. Memang benar, aroma parfumnya telah bercampur dengan aroma manis dari parfum seorang wanita.
"Maaf. Mungkin, ini bau parfum sekretaris ku. Tadi, dia tidak sengaja menabrak ku," ujar Kaivan beralasan.
"Sebaiknya kamu mandi," kata Seraphina.
"Baiklah!" angguk Kaivan.
"Mau ku siapkan sesuatu?"
"Ehmmm.... Teh Chamomile saja," jawab Kaivan setelah berpikir selama beberapa detik.
Seraphina mengangguk. Dia memperhatikan langkah demi langkah yang diambil Kaivan untuk naik ke atas.
"Kaivan..." panggil Seraphina kemudian.
"Ya?" Pria itu berbalik. Dia sudah berada di pertengahan tangga.
Seraphina diam sejenak. Dia meneguk ludahnya dengan kasar. Netranya sedikit bergetar.
"Selamat ulangtahun pernikahan yang keempat," ucap Seraphina.
Hening. Tubuh Kaivan mematung dalam diam. Entah kenapa, dia merasa jika Seraphina berbeda dari biasanya.
"Tehmu."
Seraphina meletakkan teh pesanan suaminya diatas nakas. Kemudian, dia naik ke tempat tidur, menarik selimut lalu berusaha tidur dengan posisi menyamping membelakangi Kaivan.
"Sera... kamu sudah tidur?" tanya Kaivan beberapa saat kemudian.
"Belum," jawab Seraphina. Dia tetap pada posisinya.
"Maaf."
Satu kata itu sudah tak berarti lagi bagi Seraphina. Dia tak lagi marah seperti tahun-tahun sebelumnya. Dia tak lagi menangis. Dia hanya diam.
"Seharusnya, aku tidak melupakan hari anniversary pernikahan kita. Aku memang pria yang tidak bisa diandalkan."
Kaivan tertawa kering. Dan , Seraphina tetap diam. Jiwanya sudah hampa. Dia sendiri tidak tahu sejak kapan perasaannya kepada Kaivan perlahan memudar.
"Malam ini... apa kamu menyiapkan acara makan malam lagi? Kalau begitu, ayo kita turun makan. Walaupun makanannya sudah dingin, tapi aku yakin rasanya masih nikmat."
Kaivan turun dari ranjang. Dia tampak bersemangat untuk turun ke bawah.
"Aku tidak memasak apa-apa."
Suara Seraphina membuat tangan Kaivan membeku di pintu. Pria itu pun menoleh ke arah tempat tidur.
Istrinya bergeming. Tak bergerak sedikitpun dari posisi berbaringnya.
"Seraphina... Kamu kenapa? Apa kamu sakit?"
Kaivan melangkah mendekati sang istri. Punggung tangannya ia tempelkan ke dahi wanita itu.
"Suhu tubuhmu normal. Apa jangan-jangan, kamu mengalami nyeri haid lagi?"
Tangan Kaivan kini berpindah ke perut Seraphina. Dia mengusap perut rata itu dengan penuh kasih sayang.
"Aku baik-baik saja," kata Seraphina. Dia meraih telapak tangan Kaivan kemudian memindahkannya dari atas perutnya.
"Seraphina..."
"Aku mengantuk. Bolehkah aku istirahat sekarang?"
"Baiklah. Selamat tidur."
Kaivan mengecup dahi istrinya. Dia mengusap pipi halus Seraphina sambil berbisik pelan, "aku mencintaimu."
Sayangnya... Seraphina tahu jika semua itu palsu.
*******
"Selamat pagi, Seraphina!"
Suara ceria Kalani terdengar dari arah luar. Seperti biasa, kakak kandungnya itu akan datang ke rumahnya untuk sarapan bersama.
"Apa sarapan kita pagi ini?" tanya Kalani sambil menarik satu kursi dan duduk layaknya sang pemilik rumah.
Seraphina mengeluarkan roti tawar dari dalam kulkas. Dia meletakkan makanan itu diatas meja, tepat didepan Kalani.
"Hanya ini?" tanya Kalani. Sebelah alisnya terangkat tinggi.
"Hanya ada itu. Kalau kamu mau, silakan dimakan. Kalau tidak, silakan pulang!" jawab Seraphina.
"Kamu tidak boleh mengusir Kakak kandungmu seperti itu, Sayang!"
Kaivan hadir sebagai penengah diantara keduanya. Namun, di mata Seraphina, Kaivan datang hanya untuk membela satu orang.
"Selamat pagi, Kaivan," sapa Kalani.
"Selamat pagi, Lani," balas Kaivan dengan senyuman penuh arti.
Dia ikut bergabung di meja makan. Duduk di kursi yang berada tepat di samping Kalani. Sementara, Seraphina memilih duduk di kursi yang bersebrangan dengan keduanya.
"Sayang, kamu tidak masak sarapan?" tanya Kaivan lembut pada istrinya.
"Tidak," jawab Seraphina singkat. Dia mengambil satu roti, mengolesinya dengan selai blueberry, lalu mulai memakannya sedikit demi sedikit meski tidak terlalu lapar.
"Kenapa? Bukannya, kamu tahu kalau Kalani wajib sarapan sebelum berangkat bekerja?"
Dahi Seraphina mengernyit. "Sejak kapan, menu sarapannya harus menjadi tanggung jawab ku?"
Kaivan menegang sementara Kalani menggeram kesal.
"Sera, apa kamu marah karena aku terus sarapan di rumah mu? Apa menurut mu aku ini merepotkan?"
"Bagus jika akhirnya kamu sadar diri."
"Seraphina!" Kaivan membentak istrinya. Yang dia pedulikan hanya perubahan ekspresi wajah Kalani dari yang awalnya tersenyum kini berubah jadi sedih.
"Kalani ini kakakmu. Apa pantas kamu berkata sekasar itu padanya, hah?"
Seraphina diam. Dia malas menyanggah. Mau sekeras apapun dia bersuara, Kaivan tak akan pernah mendengarkan pembelaan darinya.
"Sekarang, minta maaf pada Kalani!" titah Kaivan.
"Kaivan..." Kalani mengusap pelan lengan Kaivan. Ia seolah sengaja mempertontonkan adegan mesra itu dihadapan Seraphina.
"... Seraphina tidak bersalah. Aku yang bersalah. Tidak seharusnya aku terus merepotkan kalian. Mulai besok, aku akan sarapan di rumah ku sendiri. Aku tidak akan sarapan di sini lagi."
"Apa kamu sudah puas, Seraphina?"
Nada suara Kaivan masih terdengar marah. "Padahal, hanya masalah sepele. Apa salahnya jika menambah seporsi sarapan lagi untuk Kakak kandungmu sendiri?"
"Mungkin, Seraphina lelah," celetuk Kalani. "Maklumlah. Walaupun pekerjaan rumah tidak selelah pekerjaan kantor, tapi tetap saja Seraphina sudah bekerja keras mengurus rumah dengan baik. Iya kan, Seraphina?"
Kalani memiringkan kepalanya. Tatapannya jelas mengejek, menantang. Namun, Seraphina tak semudah itu untuk terprovokasi.
"Jangan membela dia terus, Lani. Dia jadi keras kepala seperti ini karena kamu yang terlalu memanjakannya."
Kaivan mendengkus kasar. Dia mengambil satu roti lalu mengolesinya dengan selai cokelat. Kemudian, roti itu ia berikan kepada Kalani.
"Makan yang ini dulu, tidak apa-apa, kan?"
"Terima kasih, Kaivan."
Kalani tersenyum lebar.
"Besok, kamu mau sarapan apa?"
"Aku ingin sandwich dengan isian smoked beef."
"Seraphina, kamu dengar, kan?"
Seraphina lagi-lagi tak menjawab. Setelah rotinya habis, dia memilih untuk meninggalkan meja makan.
Perempuan itu masuk ke sebuah ruangan yang terletak disamping gudang. Ruangan kedap suara itu ia kunci rapat-rapat dari dalam.
Seraphina menyalakan dua buah televisi yang tergantung didalam ruangan. Dia duduk di kursi lalu mengambil headphone untuk mendengarkan suara dari video yang sedang dia lihat.
Sebuah video yang menampilkan suaminya bersama kakak kandungnya yang masih duduk di meja makan dengan posisi yang begitu dekat dan intim.
CCTV.
"Lani, apa kamu bahagia menikah dengan Arsenio?"
Kaivan memegang kedua tangan Kalani. Tatapannya lembut, penuh cinta.
"Kalau aku bilang tidak, kamu mau bagaimana?"
Kalani menjawab dengan suara sendu.
"Kenapa kamu tidak bahagia?"
Suara Kaivan terdengar begitu putus asa.
"Bukankah... Kamu sudah berjanji akan bahagia setelah menikah dengannya? Aku bahkan sudah mengorbankan diri demi kebahagiaanmu. Aku rela menikahi Seraphina, hanya demi memastikan agar dia tidak mengganggu hubungan mu dengan Arsenio."
"Kaivan, ternyata menikah dengan Arsenio tidak sebahagia yang aku bayangkan. Awalnya, semua memang terasa sempurna. Tapi, lama-kelamaan, Arsenio mulai memperlihatkan tabiat aslinya. Dia terlalu banyak mengatur. Dia terlalu membatasi ruang gerakku. Bahkan, aku dipaksa bekerja untuk membantu perekonomian keluarga. Padahal, impianku hanya ingin menjadi ibu rumah tangga seperti Seraphina. Aku ingin menyambut suamiku setiap kali dia pulang bekerja. Aku ingin memasak untuknya. Aku ingin seluruh waktuku hanya untuk keluarga."
Kalani tersenyum. Kelicikannya perlahan mulai bekerja kembali.
Awalnya, Kaivan memang sangat mencintainya. Namun, karena Kalani lebih memilih Arsenio, maka dia memilih untuk menolak perasaan Kaivan.
Tapi, sekarang Kalani sudah bosan dengan Arsenio. Dia tidak suka dengan lelaki yang menyuruhnya untuk bekerja.
Dia ingin pria seperti Kaivan. Dia ingin pria yang memintanya hanya duduk manis di rumah tanpa perlu merasakan lelahnya mencari uang.
"Kaivan..." Kalani menyentuh wajah Kaivan. "... andai dulu aku menikah denganmu, apakah hidupku akan sebahagia Seraphina?"
Dan, Seraphina yang melihat semua itu hanya menatap datar. Perasaannya kepada Kaivan mungkin benar-benar sudah selesai.
"Masih belum berangkat?"
Baik Kaivan maupun Kalani tampak terperanjat kaget saat suara Seraphina yang tak sehangat biasanya terdengar dari belakang mereka.
Keduanya reflek mengikis jarak. Tangan Kaivan yang semula menggenggam erat tangan Kalani juga ikut ditarik secara paksa.
"I-ini baru mau berangkat," balas Kaivan sambil berdiri dari kursinya.
"Kaivan, apa aku boleh menumpang mobilmu?" tanya Kalani. "Mobilku sedang mogok."
"Tentu saja boleh," angguk Kaivan senang.
Baginya, waktu berduaan dengan Kalani adalah momen terindah dalam hidupnya. Walau hanya bisa menjaga Kalani sebagai ipar, namun Kaivan sudah cukup puas.
Setidaknya, dia bisa melihat Kalani. Setidaknya, dia masih bisa memastikan jika Kalani tak kekurangan apapun.
"Sera, kamu tidak keberatan, kan?" tanya Kalani kepada sang adik.
Dia menyentuh pelan lengan Seraphina. Wajahnya mendekat, kemudian bibirnya berbisik pelan di telinga sang adik.
"Aku akan merebut Kaivan kembali."
Seraphina tidak mengamuk seperti biasa. Seraphina hanya diam. Hening.
Hal itu membuat Kalani jadi tidak nyaman.
"Sera, kenapa hanya diam saja? Apa kamu keberatan jika aku menumpang mobil suamimu?"
Wajah Kalani memelas. Berpura-pura sedih.
"Sera..."
"Tidak."
Ucapan Kaivan terpotong saat suara Seraphina terdengar tegas.
"Aku tidak keberatan sama sekali. Kamu kakak iparnya. Wajar, jika suamiku membantumu, kan? Lagipula..."
Seraphina sengaja melilitkan lengannya di lengan sang suami.
"... Aku tahu benar jika suami Kakak memang tidak sehebat suamiku. Arsenio itu, dari dulu memang egois. Dia hanya mementingkan diri sendiri dan tidak pandai memanjakan wanita."
Sudut bibir Seraphina sedikit terangkat. Dia tersenyum mengejek. Tipis sekali.
"Untung Kakak mengambilnya dariku. Kalau tidak, mana mungkin aku bisa bertemu dengan pria sehebat Kaivan."
Telapak tangan Seraphina mengepal kuat. Cemburu membakar seluruh akal sehatnya.
Kenapa?
Kenapa Seraphina selalu mendapatkan yang terbaik sementara dirinya tidak?
"Sera, apa yang kamu bicarakan?" protes Kaivan. Pria itu resah melihat perubahan ekspresi wajah Kalani.
Pasti, wanita yang dia cintai itu terluka akibat kata-kata Seraphina.
"Lihat, kamu membuat kakakmu sendiri jadi sedih," lanjut Kaivan.
"Oh, maaf!"
Seraphina memasang tampang berpura-pura peduli.
"Aku benar-benar tidak peka. Kak, maaf!" ucapnya dengan sorot mata penuh dengan ejekan.
Sebisa mungkin, Kalani tetap berusaha mengontrol emosinya. Dia tak boleh meledak didepan Kaivan. Hal itu hanya akan menghancurkan citra baiknya didepan lelaki itu.
"Tidak apa-apa," sahut Kalani. "Aku mengerti. Kamu hanya terlalu membanggakan Kaivan. Tapi, Seraphina..."
Kalani tersenyum sinis. "... hati-hati!" lanjutnya. "Jangan terlalu sering mengatakan kelebihan Kaivan didepan wanita lain. Takutnya, ada yang tertarik dan malah merebut Kaivan darimu."
Seraphina tertawa.
"Aku hanya mengatakan soal kelebihan Kaivan didepan Kakak saja. Karena, aku percaya... Kakak tidak mungkin tega merebut lelaki ku untuk yang kedua kalinya, kan?"
Udara mendadak terasa panas. Ruangan itu seketika hening.
Kalani mengepalkan kedua tangannya. Kuku-kukunya yang panjang terawat menusuk telapak tangannya sendiri hingga memerah.
********
Malam harinya, Seraphina dan Kaivan diundang ke rumah orangtua Seraphina untuk makan malam. Tak hanya mereka berdua. Kalani, Arsenio, dan Meysha, putri kecil mereka juga ikut diundang.
"Halo, Sayang!"
Begitu sampai, Kaivan langsung menggendong Meysha. Gadis kecil berusia empat setengah tahun itu memang sangat akrab dengan Kaivan.
"Uncle Kai," sapa Meysha riang.
"Kai, lihat! Meysha memang sangat menyukai mu. Dia bahkan terus menanyakan tentangmu saat di rumah tadi. Dia bilang, kapan aku bisa bertemu Uncle Kai?"
Keduanya tertawa.
Kalani dan Kaivan.
Mereka mengobrol dalam posisi yang sangat dekat.
Kaivan duduk memangku Meysha sementara Kalani berada disampingnya sambil memegang bahunya mesra.
Lalu, dimana Seraphina?
Seraphina duduk didepan mereka. Cosplay menjadi pajangan keramik mahal yang tak dipedulikan keberadaannya.
"Sera..."
Arsenio mendekat. Pria itu duduk di sebelah Seraphina.
"... Apa kamu tidak cemburu dengan kedekatan mereka?"
"Untuk apa? Kedekatan mereka wajar-wajar saja. Kakak dan adik ipar, kan?"
Seraphina menyesap wine-nya dengan anggun. Disampingnya, Arsenio tampak begitu frustasi.
"Sera, apa kamu tidak sadar jika mereka saling menyukai?"
Tatapan Seraphina tertuju pada Arsenio. Sisa wine miliknya dia siramkan ke wajah pria itu.
Nada suaranya terdengar meninggi. "Jangan suka menebar fitnah, Arsen. Apalagi, tentang hubungan suami dan kakak kandung ku."
Percakapan di sofa seberang mendadak terhenti. Jarak yang semula begitu dekat, kini reflek terpisah saat suara Seraphina terdengar lantang.
"Arsen, jangan asal bicara!" kata Kaivan sambil menurunkan Meysha dari pangkuannya. "Apalagi, jika berani menghasut istriku agar salah paham dengan hubungan antara aku dan Kalani."
"Iya, Arsen," Kalani ikut menambahkan.
"Aku dan Kaivan sudah kenal lama. Bahkan, jauh sebelum Sera dan Kaivan menikah. Jadi, wajar jika kami sangat akrab, kan? Kalau kamu cemburu, datang saja padaku! Jangan lampiaskan kecemburuan itu dengan cara menghancurkan hubungan rumah tangga antara Sera dan Kaivan."
Arsenio merasa terpojok. Dia marah pada semuanya.
Marah pada Kalani yang ternyata tidak sebaik kelihatannya.
Marah pada Kaivan yang sangat jelas menginginkan istrinya.
Dan, marah pada Seraphina yang jelas-jelas sedang diselingkuhi tapi masih saja membela Kaivan dan juga Kalani.
"Sera, lihat saja nanti! Kaivan dan Kalani tidak sebaik yang kamu pikirkan."
Arsenio memilih pergi. Dia tak peduli lagi dengan agenda makan malam yang lima menit lagi akan diadakan.
Yang dia pedulikan hanya satu. Dia ingin melampiaskan amarahnya tapi tidak ditempat itu.
Makan malam akhirnya dimulai. Untuk pertama kalinya, Seraphina benar-benar makan dengan lahap.
Dia tidak mengupaskan kulit udang lagi untuk suaminya. Dia tidak berusaha mendinginkan sup daging lagi untuk suaminya.
Dia hanya benar-benar makan tanpa berusaha terlibat dalam pembicaraan seru antara kedua orangtuanya, kakaknya, dan juga suaminya.
"Kalian berdua ini memang benar-benar cocok," seru Romi dengan sisa tawa yang masih terdengar dari mulutnya.
"Kamu dengar itu, Kaivan?" Kalani yang duduk disamping Kaivan menepuk pelan lengan pria itu.
"Ayah saja setuju kalau kita berdua ini memang sangat cocok," lanjut Kalani.
Prang.
Seraphina menarik perhatian saat dia tak sengaja menyenggol gelas yang diletakkan pelayan tepat disamping kirinya.
Tawa langsung terhenti. Berganti tatapan penuh kekesalan dari kedua orangtuanya.
"Maaf," ucap Seraphina. "Aku tidak sengaja. Akan ku bereskan."
Dia lekas berjongkok. Memungut pecahan beling itu satu persatu.
"Biar saya bantu, Nona," kata seorang pelayan.
"Tidak usah dibantu!" seru Romi menghentikan gerakan pelayan itu.
"Sejak kecil, dia memang sangat ceroboh. Berbeda sekali dengan Lani. Jadi, biarkan dia membereskan kekacauan yang dia buat sendiri."
Seraphina tersenyum getir. Dia memang sedikit ceroboh sejak kecil. Tapi, setidaknya dia tidak pernah mempermalukan nama keluarga seperti yang dilakukan oleh Kalani.
Tapi, mau seperti apapun dirinya... bagi kedua orangtuanya hanya ada Kalani di mata mereka.
"Argh!"
Seraphina memekik kecil. Salah satu beling menusuk jari telunjuknya hingga berdarah.
Akhirnya, dia punya alasan untuk menangis.
"Sera, kamu tidak apa-apa?"
Kaivan lekas berjongkok. Dia memeriksa luka istrinya lalu tanpa pikir panjang langsung menghi sap telunjuk Seraphina yang berdarah.
"Jangan menangis!" hibur Kaivan. "Walaupun sakit, tapi pasti akan cepat sembuh."
"Tolong ambilkan kotak obat! Lukanya perlu dibersihkan," titah Kaivan pada pelayan.
"Kaivan," panggil Kalani. "Seraphina hanya sedang cari perhatian. Jangan terlalu ditanggapi."
Namun, Kaivan justru menatap Kalani dengan tatapan yang terlihat asing. Seperti ada kemarahan yang tersembunyi.
"Dia benar-benar kesakitan. Bagaimana mungkin kamu menganggapnya hanya cari perhatian?"
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!