Indonesia
NovelToon NovelToon

Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Bab 1 - Gerbang Besi Dan Pelukan Hangat

Udara pagi di depan Lembaga Pemasyarakatan itu terasa berbeda. Bagi Bianca Adytama, oksigen yang ia hirup hari ini tidak lagi berbau logam karat atau pembersih lantai murah. Ada aroma aspal basah sisa hujan semalam dan kebebasan yang terasa getir di lidahnya. Sepuluh tahun. Waktu yang cukup panjang untuk merontokkan keangkuhan seorang nona muda yang dulu menganggap dunia bisa dibeli dengan jentikan jari.

Suara gerbang besi yang berderit menutup di belakangnya menjadi tanda titik bagi masa lalunya. Bianca berdiri mematung dengan satu tas kecil di tangan, hingga sebuah suara lembut memecah lamunannya.

"Bianca..."

Di sana, bersandar pada mobil SUV putih yang elegan, berdiri Kirana Adytama. Wajah kakaknya itu tidak banyak berubah, tetap tenang dan anggun. Namun, yang membuat jantung Bianca berdegup kencang adalah dua remaja yang berdiri di samping Kirana.

"Onty!" Viera, gadis remaja yang cantik dengan mata berbinar, langsung berlari memeluknya. Di belakangnya, Xavi menyusul dengan langkah yang lebih kalem, menunjukkan aura maskulin yang mulai tumbuh, sangat mirip dengan ayahnya.

"Kalian... sudah sebesar ini?" suara Bianca serak, tertahan di tenggorokan. Ia memeluk kedua keponakannya erat-erat, seolah ingin membayar sepuluh kali ulang tahun yang ia lewatkan di balik jeruji.

"Xavi dan Viera hampir tiap hari tanya kapan Onty pulang," ujar Kirana sambil mendekat, lalu mendekap adiknya itu dengan kasih sayang yang tak luntur oleh waktu. "Ayo, kita pulang. Dunia luar sudah menunggumu."

Di dalam mobil, Bianca duduk di samping Kirana yang mengemudi. Viera tidak berhenti berceloteh tentang sekolahnya, sementara Xavi sesekali menimpali dengan lelucon kecil.

"Mas Raditya mana, Mbak?" tanya Bianca pelan. Ia ingat betul betapa kacau hubungannya dengan kakak iparnya itu dulu, namun surat-surat dari Raditya selama ia di penjara membuktikan bahwa pengampunan itu nyata.

"Masmu sedang di luar negeri, ada proyek besar yang tidak bisa ditinggal. Dia titip salam, katanya nanti kalau dia pulang, kita makan malam besar," jawab Kirana hangat.

Mobil melaju membelah kemacetan Surabaya yang sudah sangat asing bagi Bianca. Gedung-gedung baru menjulang tinggi, reklame digital menyilaukan mata. Hingga akhirnya, mobil berbelok ke sebuah kawasan residensial premium. Keamanannya sangat ketat, dengan deretan pohon palem yang tertata rapi.

"Ini rumah siapa, Mbak? Kita tidak ke rumah utama?" tanya Bianca bingung saat mobil berhenti di depan sebuah hunian modern minimalis yang tampak sangat asri.

"Ini rumahmu, Bianca."

Rumah itu bernuansa earth tone, tenang, dan jauh dari kesan mencolok yang dulu sangat disukai Bianca. Kirana mengajaknya masuk, memperkenalkan seorang asisten rumah tangga paruh baya dan seorang pria yang merangkap supir sekaligus teknisi.

"Aku ingin kamu merasa nyaman dulu," ujar Kirana sambil membimbing Bianca ke sebuah ruangan di lantai dua.

Begitu pintu dibuka, Bianca terpaku. Itu adalah ruang kerja sekaligus perpustakaan pribadi. Rak-rak kayu jati tinggi berisi buku-buku klasik hingga literatur modern. Di sudut ruangan, ada jendela besar yang menghadap ke taman belakang yang hijau.

"Aku tahu selama di sana, kamu jadi kutu buku," goda Kirana kecil. Ia kemudian meletakkan sebuah map kulit di atas meja kayu. "Ayah tidak pernah benar-benar membuangmu, Bianca."

Bianca membuka map itu dengan tangan gemetar. Lembar demi lembar dokumen resmi terpampang di sana.

"Saham Adytama Properti atas namamu... sekarang sudah mencapai tiga puluh persen. Dividen sepuluh tahun terakhir tidak kusentuh, aku belikan rumah ini dan sisanya ada di rekening ini." Kirana mengangsurkan beberapa kartu ATM dan buku tabungan. "Lalu ini, sertifikat lahan di beberapa titik yang Ayah siapkan sejak dulu sebagai bekalmu."

Air mata yang sejak tadi ditahan Bianca akhirnya jatuh juga. Ia melihat angka-angka di buku tabungan itu—jumlah yang lebih dari cukup untuk membuatnya kembali menjadi sosialita papan atas dalam semalam. Namun, hatinya terasa kosong saat melihatnya.

"Terima kasih, Mbak. Untuk semuanya... untuk jaminannya sehingga hukumanku berkurang lima tahun. Aku tidak tahu bagaimana harus membalasnya," isak Bianca di pelukan kakaknya.

Kirana mengusap punggung adiknya. "Cukup jalani hidupmu dengan baik, Bianca. Itu sudah lebih dari cukup untukku dan Ayah."

Siang itu, setelah makan siang yang penuh tawa bersama Xavi dan Viera, Bianca duduk sendirian di perpustakaannya. Ia memandangi kartu-kartu ATM itu. Harta ini adalah pengaman, tapi bukan tujuan.

Ada tujuan lain yang ia inginkan. Bianca kembali ke lantai bawah menghampiri Kirana yang duduk bersantai di taman belakang. Bianca langsung mengambil tempat duduk disamping Kirana dan menatap Kirana dengan tatapan yang sangat teguh.

"Mbak, mungkin besok aku akan meninggalkan Surabaya."

Kirana meletakkan cangkir kopinya, terkejut. "Ke mana? Kamu baru saja pulang, Bianca. Tinggallah dulu di sini, pulihkan energimu."

"Aku ingin pergi ke sebuah desa di Jawa Barat. Aku butuh udara pegunungan, Mbak. Aku ingin hidup tenang, jauh dari orang-orang yang tahu siapa Bianca Adytama. Aku ingin memulai dari nol, benar-benar nol."

"Tapi rumah ini? Uangmu?"

"Semuanya akan tetap di sini. Aku akan menyimpannya sebagai jaminan masa tuaku. Tapi untuk sekarang, aku ingin bekerja dengan tanganku sendiri. Aku ingin mencari siapa aku yang sebenarnya tanpa embel-embel nama Adytama."

Kirana meraih tubuh Bianca mendekapnya dalam pelukannya. “Mbak, sama sekali tidak punya kuasa untuk menghalangi langkahmu dan Mbak berharap kalau ini adalah keputusan yang terbaik untukmu.”

“Iya, Mbak. Aku sudah memutuskan ini sejak lama, sejak aku masih di penjara.”

Kirana mengurai pelukannya, menatap Bianca yang kini sudah benar-benar dewasa. Kirana bangga dengan perubahan pada adiknya itu.

“Kamu harus selalu ingat, bahwa disini ada kami yang selalu menyayangi dan mencintaimu.”

“Pasti itu, Mbak. Kalian akan tetap selalu berada dihatiku.”

**

Perjalanan itu memakan waktu belasan jam dengan kereta api dan kendaraan umum. Bianca sengaja tidak menggunakan supir pribadi atau mobil mewah. Ia hanya membawa satu koper sedang.

Tujuannya adalah sebuah desa di lereng pegunungan Jawa Barat, tempat di mana kabut turun setiap sore dan aroma teh basah memenuhi udara. Begitu turun dari bus kecil, udara dingin langsung meresap ke pori-porinya. Ia berjalan menyusuri jalan aspal yang bersih, diapit oleh deretan vila-vila mewah milik orang kota yang hanya dikunjungi sesekali.

"Permisi, Bu," sapa Bianca sopan kepada seorang ibu yang sedang menjemur kerupuk di pinggir jalan. Senyumnya ramah, sangat jauh dari Bianca yang dulu sering memandang rendah orang lain.

"Iya, Neng? Cari siapa?"

"Saya Gita, Bu. Saya baru sampai. Apa di sekitar sini ada kontrakan atau kos-kosan yang sederhana?"

Ibu itu memandang Bianca dari ujung rambut sampai kaki. Meski pakaiannya sederhana, cara bicara dan tegaknya tubuh Bianca tidak bisa menyembunyikan aura "berkelas".

"Oh, ada di belakang sana, milik Pak Haji. Tapi Neng sendirian? Mau apa di desa sepi begini?"

"Saya ingin cari kerja, Bu. Kira-kira di sini biasanya orang kerja apa ya?"

"Wah, kalau tidak di kebun teh, ya jadi penjaga atau pengurus vila. Di atas sana banyak villa besar milik juragan."

Sore itu juga, Bianca—yang kini menyebut dirinya Gita Ivara—mendapatkan sebuah rumah kontrakan kecil berdinding kayu dengan jendela yang langsung menghadap hamparan kebun teh. Esok harinya, dengan keberanian penuh, ia mendatangi salah satu villa paling megah di kawasan itu. Villa Dirgantara.

Di sana, ia bertemu dengan sepasang suami istri paruh baya yang sangat bersahaja meskipun kaya raya.

"Nama saya Gita, Pak, Bu," ucapnya tenang saat diwawancarai di teras belakang villa yang luas.

"Usia tiga puluh? Pengalaman kerja?" tanya Sang Ibu dengan nada menyelidik namun lembut.

Gita menarik napas panjang. Ia memutuskan untuk tidak memulai hidup barunya dengan kebohongan total.

"Saya baru keluar dari penjara sepuluh tahun, Bu. Ini surat berkelakuan baik saya dan ini sertifikat keahlian tata boga serta manajemen kebersihan yang saya ambil selama di dalam."

Suasana mendadak hening. Pasangan itu saling berpandangan. Kejujuran Gita adalah sesuatu yang langka. Kebanyakan orang akan memalsukan identitas mereka.

"Kenapa kamu jujur?" tanya Sang Bapak.

"Karena saya ingin mencari ketenangan, bukan tumpukan kebohongan baru."

Ketulusan di mata Gita meluluhkan hati mereka. Gita pun diterima bekerja, bukan di kebun teh, melainkan sebagai staf kebersihan internal villa tersebut. Tugasnya memastikan kamar-kamar di bangunan utama selalu sempurna.

**

Tiga minggu pertama berjalan sangat damai. Gita menikmati pekerjaannya. Menyapu, mengepel, dan menata seprai adalah meditasi baginya. Hingga suatu sore, sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti di depan lobi villa.

Seorang pria turun dengan langkah terburu-buru. Wajahnya keras, rahangnya tegas, dan matanya memancarkan kelelahan yang dalam. Arlan Dirgantara, putra sulung sang juragan yang baru saja melarikan diri dari hiruk-pikuk Jakarta dan perceraiannya yang menguras emosi.

Gita sedang merapikan vas bunga di ruang tengah saat Arlan masuk. Langkah pria itu terhenti. Ia melihat seorang wanita berseragam pelayan, namun caranya berdiri... caranya menyentuh kelopak bunga itu... tidak tampak seperti seorang pekerja kasar.

"Siapa kamu?" suara berat Arlan menggema.

Gita berbalik, sedikit terkejut namun tetap tenang. Ia menunduk sopan.

"Saya Gita, Tuan. Pekerja baru di sini."

Arlan menyipitkan mata. Ia terbiasa menghadapi wanita-wanita di Jakarta yang bersolek habis-habisan untuk menarik perhatiannya. Namun wanita di depannya ini, tanpa riasan dan hanya dikuncir kuda, memiliki kecantikan yang "mahal" dan sorot mata yang sangat cerdas.

"Gita..." gumam Arlan, seolah mencicipi nama itu di lidahnya.

***

Bab 2

Lembayung senja mulai menyapu hamparan pucuk teh di perbukitan Jawa Barat, menyisakan semburat jingga yang menenangkan di sela-sela kabut tipis. Bianca—atau yang kini lebih nyaman disapa sebagai Gita—menghela napas panjang sembari melepas celemek kerjanya. Tubuhnya terasa lelah, namun ada kepuasan yang tidak bisa ia beli dengan uang di sana. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia merasa tidur malamnya tidak lagi dikejar rasa bersalah.

Ia merapikan rambutnya yang sedari pagi diikat kuda, membiarkan beberapa helai jatuh membingkai wajahnya yang tampak pucat namun tetap memancarkan keanggunan alami. Dengan tote bag kain di bahu, ia melangkah keluar melalui pintu belakang vila. Ia sengaja tidak tinggal di paviliun pekerja karena ia butuh jarak. Ia butuh sebuah tempat di mana ia benar-benar bisa menjadi dirinya sendiri tanpa pengawasan siapa pun.

Di sudut lain area perkebunan, sebuah mobil jip terbuka melaju pelan di jalanan berbatu. Arlan Dirgantara, dengan kemeja flanel yang lengannya digulung hingga siku, baru saja kembali dari peninjauan pabrik pengolahan teh bersama Pak Arep, asisten kepercayaan ayahnya.

Langkah kaki Arlan mendadak terhenti saat matanya menangkap siluet seorang wanita yang berjalan menjauh di jalan setapak menuju perkampungan warga. Meski hanya mengenakan blus katun sederhana dan celana kain, cara wanita itu berjalan—tegak, tenang, dan berirama—membuat Arlan terpaku. Ada aura yang sangat kontras dengan lingkungan sekitarnya.

"Itu Neng Gita, Den," ujar Pak Arep tiba-tiba, menyadari arah pandang majikan mudanya.

Arlan tidak mengalihkan matanya. "Dia... pekerja baru di sini?"

"Iya, baru dua mingguan. Meskipun dia baru keluar dari penjara, tapi orangnya sangat sopan, kerjanya gesit. Bapak sama Ibu langsung jatuh hati," tambah Pak Arep dengan nada memuji.

Kata-kata itu bagai petir di siang bolong bagi Arlan. Ia menoleh cepat ke arah Pak Arep dengan kening berkerut tajam.

"Penjara? Maksud Pak Asep, dia mantan narapidana?"

Pak Arep mengangguk santai, tidak menyadari keterkejutan Arlan. "Katanya begitu, Den. Tapi Neng Gita tidak kelihatan seperti orang jahat. Malah dia sangat pintar, bicaranya halus sekali."

Arlan terdiam. Ia menatap kembali punggung Gita yang kini mulai tertutup rimbunnya pohon teh. Seorang mantan narapidana dengan gerak-gerik seperti putri keraton? Ketertarikan yang tadinya hanya sekadar rasa penasaran, kini berubah menjadi teka-teki yang mengusik egonya sebagai seorang pengusaha yang terbiasa membaca karakter orang.

Langkah kaki Arlan bergema di lantai marmer villa saat ia masuk melalui pintu utama. Suasana rumah yang hangat langsung menyambutnya, namun belum sempat ia melepas sepatu, suara lantang ibunya sudah terdengar dari arah ruang tengah.

"Arlan! Kamu ini benar-benar keterlaluan ya!" Bu Anika muncul dengan tangan di pinggang, wajahnya menunjukkan pura-pura marah yang khas. "Baru sampai tadi siang, bukannya istirahat atau menyapa Ibu sama Bapak, malah langsung hilang ke kebun. Memangnya teh-teh itu lebih kangen kamu daripada Ibu?"

Arlan terkekeh kecil. Ia melangkah mendekat dan mencium tangan ibunya, lalu mengecup kening wanita itu dengan sayang.

"Ibu ini kalau sedang marah malah makin mirip anak gadis. Manja sekali."

"Jangan salah, Ibu memang masih gadis di hati," sahut Bu Anika, meski akhirnya tawanya pecah juga. Ia merangkul lengan putra sulungnya itu, membimbingnya menuju sofa empuk di ruang santai. "Tapi serius, Lan. Kamu jangan terlalu memforsir diri. Kamu ke sini untuk menenangkan pikiran, bukan untuk memindahkan kantor Jakarta ke desa."

“Iya, ibuku sayang.”

Mereka duduk bersantai, sementara pelayan lain membawakan teh melati hangat. Arlan menyesap tehnya, namun pikirannya masih tertinggal pada sosok wanita di jalan setapak tadi.

"Bu," Arlan memulai dengan nada santai, mencoba menutupi rasa ingin tahunya. "Tadi aku dengar dari Pak Arep tentang pelayan baru namanya Gita. Ibu benar-benar tahu siapa dia? Pak Arep bilang dia... punya masa lalu di penjara."

Bu Anika menghela napas, wajahnya berubah lembut dan penuh empati. "Ibu tahu semuanya, Lan. Gita sendiri yang jujur sejak hari pertama. Dia menyerahkan semua dokumennya, menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi. Ibu menerimanya karena Ibu melihat ada penyesalan yang tulus di matanya."

Bu Anika menatap putranya dalam-dalam. "Kita tidak berhak menghakimi masa lalu seseorang yang sudah menebus kesalahannya, kan? Dia hanya wanita yang ingin memulai hidup baru."

Arlan mengangguk pelan, meresapi ucapan ibunya. "Kenapa dia tidak tinggal di sini saja? Bukannya di paviliun belakang masih banyak kamar kosong? Rasanya berbahaya membiarkan seorang wanita berjalan sendirian melewati kebun teh saat senja hanya untuk pulang ke kontrakan."

"Ibu sudah menawarkan itu, tapi dia menolak. Katanya dia sudah terlanjur membayar kontrakan untuk tiga bulan ke depan. Dia tipe orang yang tidak enak hati kalau harus membatalkan janji, bahkan pada pemilik kontrakan kecil sekalipun," jelas Bu Anika.

Arlan meletakkan cangkirnya dengan bunyi denting yang tegas. Ada kilat protektif yang tiba-tiba muncul di matanya—sifat posesif yang selama ini terpendam di balik sikap dinginnya.

"Itu tidak efisien, Bu. Kalau dia sakit karena kehujanan di jalan atau terjadi sesuatu padanya, kita yang rugi kehilangan pekerja berbakat. Besok aku sendiri yang akan bicara dengannya agar dia pindah ke sini."

Bu Anika mengangkat alis, sedikit terkejut dengan nada bicara putranya yang tiba-tiba sangat bertekad. Namun, ia hanya tersenyum simpul.

"Terserah kamu saja, Lan. Tapi ingat, Gita itu berbeda. Dia bukan tipe wanita yang bisa kamu perintah begitu saja."

“Aku tau, Bu.” Sorot mata itu menerawang jauh, membayangkan sosok sang pelayan baru di rumahnya.

**

Malam itu, di kontrakan kayunya yang sederhana, Bianca duduk di dekat jendela. Ia sedang membaca sebuah buku filsafat tua yang ia pinjam dari perpustakaan villa atas izin Pak Reza. Cahaya lampu teplok berpendar, menciptakan bayangan di dinding.

Ia teringat tatapan pria tadi sore—Arlan. Bianca bukan wanita bodoh; ia tahu pria itu memperhatikannya. Selama sepuluh tahun di penjara, ia belajar membaca gerak-gerik manusia hanya dari cara mereka memandang. Arlan memiliki tatapan predator yang sedang mengamati mangsa yang menarik, tapi ada juga gurat luka yang sama dengan yang ia miliki.

Bianca menutup bukunya. Ia mengusap lengannya yang terasa dingin. "Aku ke sini untuk ketenangan, Bianca. Jangan biarkan siapa pun mengusik dinding yang sudah kamu bangun," bisiknya pada diri sendiri.

Namun, di bawah langit desa yang sunyi, ia tidak tahu bahwa Arlan Dirgantara sudah merancang rencana untuk menariknya masuk lebih dalam ke dalam lingkup hidupnya. Dan kali ini, tidak ada jeruji besi yang bisa melindunginya dari perhatian pria itu.

***

Bab 3

Udara pagi di kaki gunung itu selalu punya cara sendiri untuk memeluk siapa pun yang berani bangun sebelum matahari benar-benar bertahta. Bianca—yang kini telah melebur dalam identitas Gita Ivara—menghirup napas dalam-dalam. Aroma tanah basah dan sisa pembakaran kayu dari dapur-dapur tetangga terasa jauh lebih mewah daripada parfum Prancis ribuan dolar yang dulu memenuhi meja riasnya di Surabaya.

Ia merapikan kemeja katun murahnya yang sudah disetrika licin. Tidak ada lagi sutra, tidak ada lagi perhiasan mencolok. Namun, saat ia melangkah keluar dari kontrakan kayunya, cara ia mengunci pintu dan menyampirkan tas kain di bahunya tetap memancarkan keanggunan seorang Adytama yang sulit luntur.

"Neng Gita! Pagi-pagi sudah rapi saja," sapa Mak Entin, tetangga sebelah rumah yang sedang menyapu halaman dengan sapu lidi.

Bianca menghentikan langkah, memberikan senyum tulus—jenis senyum yang dulu jarang ia berikan pada siapa pun.

"Pagi, Mak. Iya, takut telat sampai vila. Udara lagi enak buat jalan kaki."

"Ini, bawa buat sarapan di jalan. Tadi Emak bikin ubi rebus kebanyakan," Mak Entin menyodorkan bungkusan daun pisang.

Bianca menerimanya dengan kedua tangan. "Hatur nuhun, Mak. Repot-repot sekali."

Ia melanjutkan perjalanan menyusuri jalan setapak yang membelah kebun teh. Di sepanjang jalan, ia menyapa para pemetik teh yang mulai bekerja dengan caping lebar mereka. Ada kedamaian yang asing namun menghangatkan saat ia membalas sapaan "Pagi, Neng!" dari warga desa yang sama sekali tidak tahu bahwa wanita yang mereka sapa ini pernah menjadi berita utama di seluruh koran nasional sepuluh tahun lalu.

Bagi mereka, dia hanyalah Gita, wanita kota yang sopan dan rajin. Bagi Bianca, ini adalah kemerdekaan yang sesungguhnya.

Sementara itu, di teras lantai dua Villa Dirgantara, Arlan berdiri dengan cangkir kopi hitam yang masih mengepul. Matanya yang tajam tidak menatap hamparan hijau di bawah sana, melainkan terpaku pada sosok wanita yang sedang berjalan di kejauhan. Dari ketinggian ini, Gita tampak kecil, namun postur tubuhnya yang tegak di antara para warga desa sangat mencolok.

"Dia sudah datang?" suara berat Pak Reza, ayahnya, terdengar dari belakang.

Arlan tidak menoleh. "Sepertinya begitu. Kenapa Ayah membiarkannya tinggal di kontrakan warga? Jalannya jauh dan menanjak."

Pak Reza terkekeh, berdiri di samping putranya. "Dia yang minta, Lan. Katanya ingin mandiri. Ayah tidak mau memaksa, tapi jujur saja, Ayah dan Ibu merasa dia bukan orang sembarangan. Cara dia berbicara, cara dia memegang alat makan... dia berpendidikan tinggi."

Arlan menyesap kopinya, membiarkan cairan pahit itu membasahi lidahnya. "Tadi malam Pak Arep bilang dia mantan narapidana. Ayah tidak takut?"

Pak Reza terdiam sejenak, matanya menatap kejauhan. "Setiap orang punya lubang hitam di masa lalunya, Arlan. Termasuk kita. Yang penting adalah bagaimana dia hari ini. Dan hari ini, dia adalah orang yang paling jujur yang pernah Ayah temui."

Arlan terdiam. Jujur? Di dunianya yang penuh dengan pengkhianatan dan mantan istri yang hanya memuja kartu kreditnya, kejujuran adalah barang antik yang hampir punah.

Gita tiba di vila dan langsung menjalankan rutinitasnya. Pagi ini, tugasnya adalah merapikan kamar-kamar di sayap kanan, termasuk kamar besar yang kini ditempati oleh Arlan.

Ia mengetuk pintu kamar Arlan tiga kali. Tidak ada jawaban. Dengan asumsi pria itu sedang sarapan di bawah bersama orang tuanya, Gita membuka pintu dengan kunci duplikat pekerja. Kamar itu beraroma maskulin—campuran antara sandalwood dan sisa kopi. Gita mulai bekerja dengan efisien. Ia merapikan tempat tidur dengan gerakan terlatih yang ia pelajari di kelas etiket masa remajanya, bukan di penjara.

Saat ia sedang membungkuk untuk merapikan sudut sprei, sebuah suara dingin menginterupsi kesunyian.

"Pekerjaanmu sangat rapi untuk seseorang yang katanya baru belajar jadi pelayan."

Gita tersentak kecil, namun ia tidak berteriak. Ia segera berdiri tegak dan berbalik. Di ambang pintu balkon, Arlan berdiri dengan tangan bersedekap, memperhatikannya dengan tatapan intens yang membuat bulu kuduk Gita meremang.

"Tuan Arlan. Saya mohon maaf, saya pikir Anda sedang di bawah," ucap Gita tenang, kepalanya sedikit menunduk namun matanya tetap berani menatap lawan bicaranya.

Arlan melangkah mendekat. Jarak mereka kini hanya terpaut dua meter. "Aku lebih suka menghirup udara pagi daripada basa-basi di meja makan. Jadi, Gita... atau siapa pun namamu, ceritakan padaku satu hal."

Arlan bergerak lebih dekat lagi, membuat Gita terpaksa mundur hingga punggungnya menyentuh tiang tempat tidur yang kokoh. Pria itu meletakkan satu tangannya di tiang, mengunci ruang gerak Gita.

"Kenapa seorang wanita yang tahu cara menyetrika kemeja sutra dengan presisi seperti ini, malah memilih bekerja sebagai pelayan di desa terpencil?" Arlan menatap jemari Gita yang bersih, meski tanpa kuteks. "Dan jangan beri aku jawaban klise tentang 'mencari kerja'."

Gita menarik napas dalam, mencoba menjaga detak jantungnya agar tetap stabil. Aroma tubuh Arlan yang kuat mulai mengacaukan konsentrasinya.

"Setiap orang punya alasan untuk menghilang, Tuan. Saya hanya salah satunya."

"Menghilang? Atau melarikan diri?" Arlan merendahkan suaranya, matanya turun ke bibir Gita sejenak sebelum kembali ke matanya. "Ibu mungkin percaya dengan cerita penebusan dosamu. Tapi aku? Aku melihat sesuatu yang lain di matamu. Ada harga diri yang sangat tinggi yang sedang kamu coba injak-injak dengan seragam ini."

"Jika Tuan tidak puas dengan pekerjaan saya, Tuan bisa meminta Nyonya Anika untuk memecat saya," tantang Gita halus.

Arlan tersenyum miring—sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya, namun penuh daya tarik berbahaya.

"Memecatmu? Tidak. Aku justru punya rencana lain. Mulai hari ini, kamu tidak hanya mengurusi kamar ini. Kamu akan menjadi asisten pribadiku selama aku di sini. Aku ingin tahu seberapa kuat kamu bisa bertahan di bawah pengawasanku."

Gita mengepalkan tangannya di balik punggung. "Saya dikontrak sebagai petugas kebersihan, Tuan."

"Dan sekarang aku mengubah kontrakmu secara sepihak. Mulai besok kamu pindah di kamar belakang karena aku tidak ingin jauh dari asisten baruku," bisik Arlan tepat di telinga Gita.

**

Matahari tepat berada di atas ubun-ubun, namun semilir angin dari lereng pegunungan membuat hawa di teras belakang Villa Dirgantara tetap sejuk. Bianca—duduk termenung di undakan semen yang menghadap langsung ke hamparan kebun teh. Di tangannya ada segelas air putih yang embunnya mulai membasahi jemarinya.

Di sudut area cuci, tawa renyah pecah. Isah dan Marni sedang menjemur serbet-serbet dapur sambil sesekali saling mencipratkan sisa air bilasan. Mak Saroh, sang kepala asisten rumah tangga yang sudah mengabdi puluhan tahun di villa itu, hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua putrinya, meski senyum tipis tidak lepas dari wajah rentanya yang penuh kerutan.

Bianca memperhatikan mereka dalam diam. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya—sebuah rasa iri yang asing. Bagaimana bisa? batinnya. Mereka bekerja dari subuh, mencuci tumpukan piring, menyikat lantai, dan melayani kebutuhan orang lain setiap hari. Secara teori, itu adalah pekerjaan yang melelahkan dan mungkin dianggap rendah oleh Bianca yang sepuluh tahun lalu. Tapi lihatlah mereka. Isah tertawa sampai matanya menyipit, dan Marni tampak begitu bangga saat menceritakan hasil panen suaminya di kebun sebelah.

"Apa yang mereka tertawakan?" bisik Bianca pada dirinya sendiri. "Apa rahasianya bisa sebahagia itu tanpa perlu punya segalanya?"

Bagi Bianca, bahagia dulu adalah tentang tas edisi terbatas, mobil keluaran terbaru, dan tatapan iri dari sosialita lain di Surabaya. Namun di sini, di bawah langit Jawa Barat yang jujur, ia baru menyadari bahwa selama ini ia memiliki segalanya namun tidak punya apa-apa.

"Neng Gita?"

Bianca tersentak. Gelas di tangannya hampir saja merosot jika ia tidak segera mencengkeramnya kuat-kuat. Ia menoleh dan menemukan Mak Saroh sudah berdiri di sampingnya dengan wajah keibuan yang menenangkan.

"Eh, iya, Mak? Ada apa?" tanya Bianca, mencoba mengatur napasnya yang sempat terkejut.

Mak Saroh duduk di samping Bianca, mengabaikan jarak antara atasan dan bawahan yang biasanya sangat dijaga di kota besar.

"Neng Gita melamun saja. Mikirin apa? Mikirin kontrakan?"

Bianca tersenyum tipis, menggeleng pelan. "Tidak, Mak. Cuma... senang saja melihat Isah dan Marni."

"Ah, dua anak itu memang tidak bisa diam. Tapi begitulah, Neng. Hidup itu kalau dibawa berat ya berat, kalau dibawa syukur ya ringan. Yang penting malam bisa tidur nyenyak, perut kenyang, dan keluarga sehat," ujar Mak Saroh sambil menepuk pundak Bianca. "Oiya, Mak mau kasih tahu. Kamar di paviliun belakang sudah Mak bersihkan. Sudah siap ditinggali. Jadi, nanti sore Neng Gita bisa langsung pindahan. Biar tidak sendirian lagi di kontrakan, Mak khawatir kalau hujan besar jalannya licin."

Bianca merasa tenggorokannya mendadak tersumbat. "Mak... sebenarnya tidak perlu repot-repot. Gita bisa bersihkan sendiri nanti. Gita juga tidak enak sudah merepotkan Mak dan yang lain."

Mak Saroh tertawa kecil, suara tawanya kering namun hangat. "Repot apa? Neng Gita ini sudah Mak anggap seperti anak sendiri sejak hari pertama masuk. Wajah Neng itu... cantik, tapi seperti menyimpan banyak beban. Di sini, kita keluarga. Pindah ya? Isah sama Marni sudah tidak sabar mau punya teman mengobrol kalau malam."

Bianca hanya bisa mengangguk pelan, air mata hampir saja merembes keluar. Kehangatan ini adalah sesuatu yang tidak ia dapatkan di balik jeruji besi, dan sesuatu yang ia sia-siakan saat ia masih menjadi nona muda angkuh.

***

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!