Rasa sakit saat peluru menembus dadanya masih terasa begitu nyata.
Pengkhianatan dari orang yang selama ini dia percaya, menumbuh kan rasa benci dan dendam. Namun, saat mata itu kembali terbuka, aroma darah berganti dengan wangi mawar yang menyengat dan kilauan kain sutra putih.
"Nona... Nona Anastasia, Anda sudah sadar? Syukurlah! Waktu kita tidak banyak, kereta dari kediaman Grand Duke sudah menunggu di depan gerbang."
Suara cemas itu membuat perempuan yang baru saja terbangun itu tersentak.
Dia mengerutkan kening, menatap seorang gadis remaja dengan gaun pelayan yang sedang menghapus air mata di pipinya.
Anastasia?
Sebuah gelombang ingatan asing mendadak menghantam kepalanya.
Anastasia Starling, gadis yatim piatu dari keluarga Count Starling, terkenal lemah, penakut, dan selalu menjadi bahan cemoohan di perjamuan sosial Ibu Kota.
Hari ini adalah hari di mana dia dipaksa menikah dengan Grand Duke Alessandro Magnus, pria yang dijuluki Malaikat Maut Berdarah Dingin, sebagai tumbal politik dari perintah Raja Felix.
Tanpa sepatah kata pun, Anastasia bangkit berdiri dari kursi rias, berjalan perlahan menuju cermin besar di sudut kamar.
Di dalam pantulan kaca, wajah seorang gadis berusia awal dua puluh tahun, wajah itu sangat cantik, dengan kulit seputih susu dan mata biru jernih, namun terlihat sangat pucat dan menyedihkan.
"Sial! Aku benar-benar hidup lagi di tubuh gadis pecundang ini," batin nya mendengus.
Anastasia menyentuh lehernya sendiri, lalu sebuah senyuman tipis, yang terasa sangat asing bagi wajah polos itu, terukir di bibirnya.
"Nona, tolong jangan menangis lagi, Saya tahu Anda takut pada Grand Duke, tapi jika kita terlambat, Count akan sangat marah," bisik pelayan itu lagi dengan tubuh gemetar.
"Menangis? Siapa yang akan menangis?" batin Anastasia, sinis.
Jiwa yang baru saja terbangun itu, tidak memiliki rasa takut, dia tidak merasakan ketakutan sama sekali, justru sebaliknya, jantungnya berdegup kencang karena sensasi hidup kembali.
"Siapa namamu?" tanya Anastasia tiba-tiba. Suaranya terdengar serak, namun memiliki nada dingin yang belum pernah didengar oleh pelayan itu sebelumnya.
"A-apa? Nona, ini Saya, Nina, kenapa Anda bertanya seperti itu?" tanya Nina, mengerjap kaget, menatap rona wajah majikannya yang mendadak berubah drastis.
Di wajah seputih susu itu, tidak ada lagi binar ketakutan di mata nya,yang ada hanyalah tatapan tajam yang seolah bisa menembus jantung siapa saja yang melihatnya.
"Nina," ulang Anastasia, mencoba membiasakan diri dengan nama itu.
"Tolong, ambilkan aku air minum, tenggorokanku kering," ucap Anastasia, datar.
"Baik, Nona! Tunggu sebentar!" jawab Nina segera berlari kecil menuju meja di sudut ruangan untuk menuangkan air ke dalam gelas.
Memanfaatkan waktu beberapa detik saat pelayan itu membelakanginya, Anastasia memejamkan mata.
Sebagai seorang pembunuh bayaran nomor satu di kehidupan sebelumnya, dia memiliki sebuah rahasia terbesar yang tidak diketahui oleh siapapun, sebuah ruang penyimpanan yang terikat langsung dengan jiwanya.
"Apakah tempat itu masih ada?" batin Anastasia mencoba fokus, memanggil kesadarannya ke dalam ruang terdalam di benaknya.
Wush.
Sebuah senyuman dingin yang penuh kepuasan kembali terkembang di wajah Anastasia.
Di dalam jiwanya, sebuah ruangan luas berteknologi tinggi yang menyerupai gudang persenjataan modern berdiri dengan kokoh.
Di sana berjejer rapi berbagai macam belati titanium, pistol peredam suara, senapan, cairan medis tingkat tinggi, hingga ramuan penawar racun dan bahan makanan seperti beras dan yang lain nya, dengan jumlah yang sangat banyak.
Semua benda dari dunia modernnya ikut berpindah bersamanya.
"Bagus, dengan ini, aku tidak perlu takut menjadi boneka politik siapapun di dunia terkutuk ini," batin Anastasia, membuka matanya tepat saat Nina kembali membawakannya segelas air.
"Ini Nona, silahkan di minum," ucap Nina, sopan.
Anastasia menerima gelas itu, meminumnya hingga tandas, lalu menyerahkannya kembali pada Nina.
"Ayo pergi, jangan biarkan suami baruku itu menunggu terlalu lama," ucap Anastasia, datar, berjalan keluar kamar.
Nina sempat terpaku di tempatnya, melihat cara berjalan Anastasia, tegaknya bahu gadis itu, dan aura mengintimidasi yang tiba-tiba menguar membuat Nina merasa seolah-olah sedang berhadapan dengan orang yang sama sekali berbeda.
Namun, karena desakan waktu, pelayan setia itu segera merapikan ujung gaun pengantin Anastasia dan mengikutinya dari belakang.
Di luar kediaman Count Starling, sebuah kereta kuda megah berwarna hitam legam dengan simbol keluarga Magnus, sudah bersiap.
Beberapa ksatria berpakaian zirah lengkap berdiri tegak di sekelilingnya, dipimpin oleh seorang pria berwajah tegas dengan pedang di pinggangnya. Pria itu adalah Nero, tangan kanan Grand Duke Alessandro.
Nero menatap Anastasia yang baru saja keluar dari pintu kediaman, tidak ada yang mengantar gadis itu, hanya ada seorang pelayan di belakang nya.
Mata Nero menyipit sedikit, berdasarkan laporan yang dia terima, Anastasia Starling seharusnya adalah gadis yang akan diseret keluar sambil menangis histeris karena ketakutan. Namun, wanita di depannya ini berjalan dengan langkah tegap, dagu terangkat tegas, dan tatapan mata yang langsung mengarah lurus ke arahnya tanpa ada keraguan sedikit pun.
"Salam Grand Duchess, silakan naik. Perjalanan menuju wilayah Magnus akan memakan waktu hingga malam hari," ucap Nero dengan nada formal namun dingin, tanpa ada rasa hormat yang tulus.
Baginya, wanita ini hanyalah mata-mata yang dikirim oleh Raja, untuk Tuan nya.
Anastasia tidak membalas ucapan Nero, dia hanya menatap pria itu sekilas, sebuah tatapan menilai yang membuat Nero merasa tidak nyaman untuk sesaat, seolah seluruh kemampuannya sedang dibaca dalam sekali lihat.
Anastasia kemudian mengangkat gaun pengantinnya yang berat dan melangkah naik ke dalam kereta dengan anggun tanpa membutuhkan bantuan sandaran tangan dari para pengawal.
"Nina, naiklah," perintah Anastasia dari dalam kereta.
"Ah, b-baik, Nona!" jawab Nina dengan gugup segera menyusul masuk dan duduk di sudut kursi, meremas jemarinya sendiri karena atmosfer tegang yang mendadak tercipta.
Kereta kuda mulai bergerak, meninggalkan kediaman Count Starling menuju wilayah Magnus yang dingin dan penuh misteri.
Di dalam kereta yang berguncang pelan, Anastasia menyandarkan punggungnya ke bantalan kursi yang empuk, matanya menatap keluar jendela, menyaksikan pemandangan kota yang perlahan berganti menjadi hutan lebat.
Di kehidupan lalu, dia mati karena mempercayai orang lain, di kehidupan sekarang, dia diberikan kesempatan kedua dalam tubuh seorang wanita yang dianggap sampah oleh keluarganya sendiri dan dijadikan bidak catur oleh Raja Felix.
"Lihat saja siapa yang akan menjadi bidak catur dalam permainan ini," batin Anastasia mengepalkan tangannya di balik lipatan gaun pengantinnya.
Sambil memejamkan mata, dia berkomunikasi kembali dengan ruang dimensinya, menarik sedikit energi dari cairan nutrisi super untuk mulai memperbaiki kondisi fisik tubuh barunya yang selama ini kurang gizi dan lemah.
Rasa hangat perlahan mengalir di setiap pembuluh darahnya, mengembalikan stamina dan kekuatannya secara bertahap.
"Alessandro Magnus, Grand Duke kejam yang katanya bisa membunuh orang hanya dengan tatapan mata nya," batin Anastasia, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman misterius yang tersembunyi.
"Mari kita lihat, siapa yang akan menjadi mangsa, dan siapa yang akan menjadi predator di istanamu nanti," batin Anastasia, tersenyum miring.
Perjalanan yang memakan waktu berjam-jam itu terasa sangat sunyi.
Di dalam kereta, Nina berkali-kali membetulkan posisi duduknya, tampak sangat gelisah.
Sesekali dia mencuri pandang ke arah Anastasia yang sejak tadi hanya memejamkan mata dengan tenang.
"Nona... Anda tidak tegang?" tanya Nina akhirnya, memecah keheningan karena sudah tidak tahan dengan rasa penasaran di dadanya.
Anastasia membuka sebelah matanya, menatap pelayan mudanya itu dengan santai.
"Tegang karena apa? Karena akan bertemu suamiku, atau karena hutan di luar sana terlalu sepi?" tanya Anastasia, mengangkat sebelah alisnya.
"D-dua-duanya, Nona," jawab Nina sambil menelan ludah.
"Rumor tentang Grand Duke Alessandro itu sangat menyeramkan, katanya dia tidak segan-segan memotong kepala orang yang tidak dia sukai, dan hutan ini, adalah perbatasan wilayah Magnus yang terkenal rawan bandit," lanjut Nina, meremas tangannya takut.
Anastasia hanya mendengus pelan, lalu kembali memejamkan mata nya.
"Kalau dia ingin memotong kepalaku, dia harus memastikan pedangnya lebih cepat dari gerakanku, dan untuk para bandit, mereka hanya akan datang kalau punya nyali mati," gumam Anastasia, dengan mata terpejam.
Nina mengerjap, tidak terlalu paham dengan maksud ucapan majikannya. Namun, belum sempat Nina bertanya lebih lanjut, kereta kuda mendadak berhenti dengan sentakan yang sangat keras hingga membuat tubuh Nina hampir terjungkal ke depan.
Sreeek
Suara pekikan kuda terdengar nyaring di luar, disusul oleh suara dentingan besi yang saling beradu.
"Ada serangan! Lindungi kereta Grand Duchess!" Teriakkan lantang Nero bergema dari arah luar, memicu kepanikan instan.
"N-Nona! Ada penyerangan!" Pekik Nina ketakutan, wajahnya langsung pucat pasi seperti mayat.
Dia refleks memeluk lengan Anastasia dengan tubuh yang gemetar hebat.
"Diam di sini dan jangan keluar," ucap Anastasia dengan suara yang luar biasa tenang.
Tidak ada secuil pun rasa takut di wajah cantiknya, Anastasia mengintip dari celah tirai kereta, mengamati situasi di luar.
Di luar sana, suasana sudah sangat kacau. Sekelompok pria berpakaian hitam dengan topeng kain menutupi wajah mereka tampak mengepung rombongan kereta.
Jumlah mereka tidak main-main, ada sekitar dua puluh orang, dan pergerakan mereka sangat rapi serta terorganisir.
"Mereka bukan bandit biasa, gerakan kaki mereka terlalu terlatih untuk ukuran perampok jalanan," gumam Anastasia, menganalisis situasi layaknya seorang profesional.
TRANG
TRANG
TRANG
Nero dan para ksatria Magnus langsung membentuk formasi melingkar untuk melindungi kereta.
Sebagai tangan kanan Grand Duke, kemampuan pedang Nero jelas tidak bisa diremehkan, setiap tebasan pedangnya berhasil menumbangkan satu per satu musuh yang mendekat.
"Mundur kalian bajingan! Berani-beraninya mengacau di wilayah Magnus!" Teriak Nero sambil menebas dada salah satu pria bertopeng hingga darahnya muncrat ke tanah.
TRANG
TRANG
BLASS
DUK
Tiba-tiba tiga orang pria bertopeng dengan postur tubuh lebih besar maju secara bersamaan mengeroyok Nero.
TRANG
Senjata mereka dilapisi racun hijau yang berkilau di bawah sinar matahari yang mulai meredup.
Nero yang sudah kelelahan setelah menumbangkan hampir sepuluh orang, mulai kewalahan menahan gempuran tiga orang terlatih ini.
TRANG
TRANG
Nero berhasil menangkis dua serangan pedang, tetapi kaki salah satu musuh berhasil menendang dadanya dengan keras hingga dia terhuyung mundur.
BHUKKK
Uhuk
Uhuk
"Sialan..." Nafas Nero terengah-engah, sudut bibirnya berdarah.
Nero mencoba bangkit, namun pandangannya sedikit kabur karena kelelahan.
Tepat pada saat itu, seorang pria bertopeng mendarat dari atas pohon, posisinya persis di belakang Nero yang sedang lengah.
Pria itu mengangkat belati beracunnya tinggi-tinggi, siap menusuk leher belakang Nero yang tidak terlindungi zirah.
"Tuan Nero, di belakang Anda!" Teriak salah satu prajurit Magnus yang jaraknya terlalu jauh untuk menolong.
Nero membelalakkan mata nya, dia tahu dia tidak akan sempat berbalik.
"Apakah aku akan mati konyol di sini?" batin Nero pasrah.
Brakk
Pintu kereta kuda hancur berkeping-keping, sebuah bayangan putih melesat keluar dengan cepat.
Srett
"Aaaaaakkkkkkkhhh!"
Sebelum belati beracun itu menyentuh kulit Nero, sebuah belati yang entah datang dari mana, sudah lebih dulu menembus tenggorokan pria bertopeng itu.
Darah segar menyembur keluar, mengenai gaun pengantin putih yang dikenakan Anastasia.
Pria bertopeng itu langsung ambruk ke tanah tanpa sempat mengeluarkan suara, tewas seketika di bawah kaki Anastasia.
Nero tertegun di tempatnya, mendongak dengan tatapan tidak percaya.
Di depannya, kini berdiri sang Grand Duchess baru yang digosipkan lemah lembut dan penakut, tapi apa yang baru saja dirinya lihat? Itu benar-benar tidak seperti yang dirumorkan.
Anastasia berdiri dengan tegak, memegang belati titanium dengan posisi terbalik, dan tatapan matanya begitu dingin menembus sisa-sisa pria bertopeng yang masih hidup.
"G-Grand Duchess...?" Bisik Nero dengan tenggorokan kering.
Rasa hormat dan takjub mendadak menyergap hatinya melihat aura membunuh yang begitu pekat keluar dari tubuh wanita ini.
"Kamu terlalu banyak bergerak tidak penting, Nero, makanya kamu cepat lelah," ucap Anastasia tanpa menoleh sedikit pun pada Nero, suaranya terdengar meremehkan namun penuh penekanan.
Melihat kawan mereka tumbang dalam satu gerakan oleh seorang wanita bergaun pengantin, sisa lima pria bertopeng saling pandang lalu serempak maju menyerang Anastasia.
"Mati kamu, wanita jalang!" Teriak salah satu dari mereka sambil mengayunkan pedang besarnya.
Anastasia hanya tersenyum sinis, dengan gerakan santai, dia menekuk lututnya sedikit, lalu bergerak melesat ke depan menghindar ke arah kiri dengan sangat lentur.
Gaun pengantinnya yang panjang dan merepotkan itu langsung dia robek bagian bawahnya dengan belati hingga sebatas lutut, memperlihatkan kakinya yang siap bergerak bebas.
Wush
Anastasia menghindar dari tebasan pedang pertama, lalu dengan gerakan memutar yang cepat, dia menusuk ulu hati musuh kedua menggunakan siku tangannya yang keras, disusul dengan sayatan cepat di urat nadi leher musuh tersebut.
JLEP
"Aaaakkkkkkhhhh!"
Bruk
"Satu," batin Anastasia, tersenyum miring.
Dua orang lainnya mencoba menusuknya dari arah kiri dan kanan secara bersamaan, tapi mereka terlalu meremehkan lawan nya, Anastasia, melompat mundur satu langkah, memanfaatkan moment untuk menendang pergelangan tangan musuh di sebelah kirinya hingga pedangnya terlepas, lalu menangkap pedang yang melayang itu di udara dan langsung melemparkannya tepat menembus dada musuh di sebelah kanan.
JLEP
JLEP
"AAAAAAKKKKKKKHHH!"
BRUK
"Dua, tiga," lanjut Anastasia, wajahnya sama sekali tidak berkeringat.
Tiga musuh sudah berhasil Anastasia antara ke alam baka dalam waktu singkat, kini tersisa dua pria bertopeng yang gemetar hebat.
Mereka yang awalnya adalah pembunuh bayaran profesional, kini merasa seolah-olah mereka sedang berhadapan dengan monster sejati yang memakai topeng seorang wanita cantik.
"S-siapa... siapa kamu sebenarnya?!" Tanya salah satu musuh dengan suara bergetar ketakutan, melangkah mundur perlahan.
Anastasia tidak menjawab, dia hanya berjalan pelan mendekati mereka sambil memutar-mutar belati titanium di jarinya dengan sangat lihai.
"Kalian tidak perlu tahu siapa aku, yang perlu kalian tahu adalah, kalian memilih target yang salah hari ini," ucap Anastasia, dingin.
Sebelum kedua orang itu sempat melarikan diri, Anastasia memberikan sayatan bersih di tenggorokan mengakhiri pertempuran malam itu.
SRETTT
SRETTT
BHUK
Kedua tubuh terakhir itu ambruk ke tanah dengan mata melotot.
"Heh, kalian pikir kalian bisa menghirup udara dengan bebas, setelah menganggu perjalan ku," gumam Anastasia, mendengus sinis.
Suasana hutan mendadak menjadi sangat sunyi, hanya terdengar suara nafas terengah-engah dari para prajurit Magnus yang tersisa.
Mereka semua, termasuk Nero, menatap Anastasia dengan tubuh kaku dan mulut setengah terbuka, serta keringat dingin yang membanjiri pelipis mereka, melihat kekejaman sang Duches, dalam menghadapi musuh.
Tenang, santai dan mematikan!
Rasa tidak percaya, ngeri, dan kekaguman yang luar biasa bercampur aduk di dalam benak mereka, wanita ini sama sekali bukan gadis yang lemah seperti yang dirumorkan selama ini.
"Aku tidak tahu ini anugrah apa musibah untuk wilayah Magnus, Duke mendapatkan Duches yang tidak kalah kejam nya dengan dirinya," batin Nero dan semua prajurit, gemeteran.
Mereka tidak biasa membayang kan, kalau kedua nya bertemu dan berselisih, entah siapa yang akan mati lebih dulu, entah sang Duke, yang di juluki malaikat maut berdarah dingin, atau justru sang Duches, iblis yang bersembunyi di balik wajah cantik nya.
Anastasia mengelap darah yang menempel di belatinya menggunakan kain robekan gaunnya, lalu dengan gerakan gaib yang tidak disadari siapapun, belati itu menghilang kembali ke dalam ruang dimensinya.
"Nero, bersihkan tempat ini, perjalanan kita masih jauh, dan aku tidak suka mencium bau darah yang terlalu lama di sekitarku," perintah Anastasia, berbalik menatap Nero yang masih terduduk di tanah dengan tatapan syok.
Glek
Nero menelan ludahnya dengan susah payah, lalu dengan cepat berlutut dengan satu kaki, menundukkan kepalanya dalam-dalam di depan Anastasia.
"Baik, Grand Duchess! Perintah Anda akan segera saya laksanakan," jawab Nero dengan suara lantang dan penuh rasa hormat yang tulus dari lubuk hatinya.
Mulai detik ini, tidak akan ada satu pun prajurit Magnus yang berani meremehkan sang Grand Duchess baru.
Nero langsung memberi instruksi tegas kepada para prajurit yang tersisa untuk menyingkirkan mayat-mayat pria bertopeng itu dari jalanan.
Sementara itu, Anastasia berjalan santai kembali ke arah kereta, gaun penganti nya yang kini robek hingga sebatas lutut bergoyang seiring langkah kakinya, dan bercak darah yang menciprat di kain putih itu justru membuatnya terlihat seperti dewi kematian yang baru saja menyelesaikan ritual.
"N-Nona Anastasia!"
Nina melompat keluar dari kereta dengan wajah yang masih pucat pasi, namun matanya membelalak lebar menatap Nona nya.
Tadi Nina mengintip dari balik tirai dan melihat seluruh kejadian luar biasa itu.
"Kenapa? Kamu takut melihatku?" tanya Anastasia, menghentikan langkahnya tepat di depan Nina sambil mengangkat sebelah alisnya.
"T-tidak, Nona! Maksud saya, saya takut, tapi Saya lebih takjub!" jawab Nina dengan terbata-bata, tangannya bergerak heboh di depan dada.
"Nona hebat sekali! Sejak kapan Nona bisa bertarung seperti itu? Dan belati tadi dari mana Nona mengambilnya?" tanya Nina, teringat dengan senjata tajam yang digunakan Anastasia bertarung tadi.
Syutt
Anastasia menaruh telunjuknya di depan bibir, memberikan tatapan penuh rahasia yang membuat Nina langsung membungkam mulutnya sendiri.
"Simpan pertanyaanmu, Nina, yang perlu kamu tahu sekarang, aku bukan lagi Anastasia yang bisa ditindas oleh siapa pun. Paham?" ucap Anastasia dengan nada rendah namun penuh penekanan.
"P-paham, Nona! Nina berjanji akan menjaga rahasia Nona seumur hidup Nina!" jawab Nina dengan sungguh-sungguh, mengangguk cepat seperti ayam yang sedang mematuk beras.
Anastasia tersenyum tipis, merasa puas dengan kesetiaan pelayan kecilnya ini, kemudian dia melangkah masuk kembali ke dalam kereta yang pintunya sudah hancur setengah akibat tendangannya tadi.
Tidak lama kemudian, Nero berjalan mendekati kereta.
Pria itu berdiri di dekat pintu yang rusak, menundukkan kepalanya dengan hormat.
"Grand Duchess, jalanan sudah dibersihkan. Namun, karena pintu kereta Anda rusak, angin malam di perjalanan akan terasa sangat dingin. Apakah Anda ingin bertukar tempat dengan kereta barang di belakang?" tanya Nero dengan nada yang kini sepenuhnya sopan, tanpa ada lagi sisa-sisa keangkuhan.
"Tidak perlu repot-repot, Nero, kereta barang terlalu lambat, dan aku ingin cepat sampai. Angin malam bukan masalah besar bagiku," jawab Anastasia melirik Nero dari balik sisa pintu kereta.
"Baik, Grand Duchess, jika Anda butuh sesuatu, tolong langsung panggil saya," ucap Nero, membungkuk sekali lagi sebelum berbalik untuk memimpin kembali barisan di depan.
"Hem."
Kereta kuda pun kembali bergerak membelah keheningan hutan yang mulai gelap.
Angin malam yang dingin mulai berembus masuk melalui celah pintu yang hancur, membuat Nina menggigil kecil.
Melihat hal itu, Anastasia memejamkan matanya sejenak, dia berkomunikasi dengan ruang dimensinya, mencari sesuatu yang berguna, di dalam gudang persenjataan modernnya, di sudut tempat penyimpanan barang, terdapat sebuah selimut.
Wush
Dengan gerakan tangan yang sangat cepat di balik lipatan gaunnya, Anastasia mengeluarkan selimut hitam tebal dari dimensinya dan melemparkannya ke pangkuan Nina.
"Pakai itu kalau kamu kedinginan," ucap Anastasia datar, kembali bersandar dan memejamkan mata.
"Eh? Nona, ini selimut dari mana? Bahannya aneh sekali, tapi... hangat sekali!" seru Nina dengan mata berbinar-binar saat menyelimuti tubuhnya.
"Terima kasih, Nona!" ucap Nina menatap Anastasia dengan pandangan penuh kekaguman yang semakin menjadi-jadi.
Anastasia tidak menjawab, dia hanya bergumam pelan di dalam hatinya, tubuhnya sendiri saat ini sudah terasa jauh lebih segar dan kuat berkat cairan nutrisi super yang diserapnya tadi, bahkan rasa lelah akibat bertarung sama sekali tidak terasa.
Perjalanan berlanjut selama beberapa jam, hingga akhirnya mereka mulai memasuki wilayah Magnus.
"Kita sudah memasuki wilayah Magnus, Grand Duchess," ucap Nero terdengar dari luar, memberikan laporan.
Anastasia membuka matanya dan menengok ke luar, di hadapannya berdiri sebuah kastil megah yang terlihat kokoh.
Suasananya begitu sunyi, gelap, dan memancarkan aura intimidasi yang kuat, sangat cocok dengan reputasi pemiliknya.
"Tidak buruk," batin Anastasia, tersenyum miring.
Kereta kuda akhirnya berhenti dengan sempurna di halaman depan kastil. Pintu kereta dibuka sepenuhnya oleh Nero dari luar.
"Silakan, Grand Duchess. Grand Duke sudah menunggu Anda di dalam," ucap Nero, mengulurkan tangannya untuk membantu Anastasia turun.
Anastasia mengabaikan uluran tangan Nero, dia melompat turun dari kereta dengan ringan, membuat kain gaun pengantinnya yang robek melambai tertiup angin malam yang menusuk tulang.
Nero langsung memalingkan wajahnya, tidak berani memandang sang Duches terlalu lama, karena dia masih sayang dengan nyawa nya.
Berani memandang milik sang Duke, sama saja dengan menantang maut.
"Ayo masuk, Nina, mari kita temui si Malaikat Maut itu," ucap Anastasia dengan senyuman miring yang penuh tantangan, mulai melangkah masuk ke dalam takdir barunya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!