Aroma melati yang ronceannya menjuntai tebal dari tatanan rambut hingga ke dada terasa kian pekat, beradu dengan wangi dupa yang mulai membuat kepala Alin pening. Sudah hampir tiga jam dia berdiri di atas pelaminan yang didekorasi layaknya taman musim dingin artifisial. Sepatu selop berhak tinggi di balik kain jarik motif sidomukti yang melilit ketat kakinya mulai membuat tumitnya berdenyut nyeri. Setiap kali Alin melangkah sedikit untuk menyambut tamu, kain prada emas yang menghiasi tepian jariknya terasa berat, membatasi ruang geraknya. Namun, setiap kali rasa lelah dan sesak itu menyergap, Alin memaksa sepasang sudut bibirnya untuk tetap melengkung sempurna ke atas. Ia harus terlihat seperti pengantin wanita paling bahagia hari ini—setidaknya di depan ratusan pasang mata tamu undangan korporat dan kolega bisnis sang suami.
Alin melirik pria di sebelahnya lewat sudut mata.
Elang. Suaminya yang baru beberapa jam lalu mengucapkan kalimat kabul dengan satu tarikan napas mantap.
Pria berusia tiga puluh tahun itu tampak begitu gagah sekaligus berwibawa dalam balutan beskap pengantin khas Yogyakarta berwarna putih gading, lengkap dengan blangkon yang membingkai wajah tegasnya. Sebagai CEO yang baru saja naik jabatan di salah satu startup teknologi terkemuka di Jakarta, Elang memiliki aura kepemimpinan yang pekat. Rahangnya kokoh, tatapan matanya selalu fokus, dan pembawaannya tenang. Namun, ketenangan itu terasa begitu dingin bagi Alin. Kulit dahi Elang yang dihiasi sedikit pulasan paes hitam sisa prosesi adat tadi pagi tampak mengeras, menunjukkan gurat ketegangan yang coba dia sembunyikan di balik senyum formalnya.
Sejak prosesi akad nikah tadi pagi hingga resepsi mewah di ballroom hotel bintang lima ini berlangsung, jemari Elang yang sesekali menggandeng tangan Alin terasa begitu kaku. Tidak ada kehangatan yang merembes ke kulit Alin. Genggaman itu hanya ada ketika kamera fotografer terarah pada mereka, atau ketika Nenek menatap mereka dari kursi barisan depan dengan binar mata penuh harap. Begitu lampu kilat padam atau saat Nenek beralih menyapa kerabat lain, jemari tegap itu akan terlepas dengan perlahan, kembali terselip di balik saku atau sibuk membenarkan letak keris yang terselip di pinggang belakangnya.
Alin sangat tahu diri. Pernikahan ini bukanlah sepasang dongeng tentang dua hati yang saling bertaut sejak pandangan pertama. Jika bukan karena permintaan terakhir Sang Nenek—satu-satunya sosok yang paling dihormati dan ditakuti Elang di keluarga besar mereka—pria mapan dengan karier melejit ini tidak akan pernah sudi melirik gadis berusia dua puluh dua tahun yang baru saja menyelesaikan sidang skripsinya seperti Alin. Bagi Elang, pernikahan ini tak lebih dari sebuah bentuk bakti, kewajiban, dan balas budi yang harus dituntaskan secepat mungkin agar hidupnya bisa kembali fokus pada dunia korporasi yang dia gilai. Alin hanyalah orang asing yang kebetulan dipilih Nenek untuk mengisi kekosongan di sisi Elang.
"Mas, minum dulu? Bibir Mas Elang kelihatan kering," bisik Alin lirih, memanfaatkan jeda singkat saat antrean tamu di bawah pelaminan sedikit lengang. Tangan Alin yang terbungkus sarung tangan brokat tipis bergerak mengambil segelas air putih kecil dari nampan perak yang diantarkan oleh seorang pramusaji bertubuh tegap.
Elang menoleh sedikit. Gerakan lehernya terasa kaku karena kalung karset melati yang melingkari lehernya ikut bergeser. Pria itu melirik gelas di tangan Alin dengan tatapan datar, lalu menggeleng pelan tanpa menyentuh jemari istrinya. "Tidak perlu, Alin. Masih banyak kolega dari kantor pusat dan investor yang belum naik ke pelaminan. Kamu saja yang minum kalau memang sudah lelah berdiri."
Suaranya bariton, rendah, dan begitu berjarak. Alin menarik kembali tangannya dengan perlahan. Dia meletakkan kembali gelas itu ke atas nampan dengan gerakan yang sangat hati-hati, berusaha keras agar tidak menimbulkan bunyi dencing kaca yang bisa memecah kesunyian canggung di antara mereka. Alin mengangguk kecil, mencoba menelan ludahnya sendiri yang mendadak terasa kelat di tenggorokan. Kebaya beludru putih dengan hiasan payet berkilau yang melekat di tubuhnya mendadak terasa mencekik, seolah kekurangan oksigen.
Tepat saat Alin meluruskan kembali pandangannya ke arah pintu masuk utama ballroom, kerumunan tamu yang berdiri di dekat karpet merah bertabur kelopak bunga mendadak terbelah. Kasak-kusuk rendah yang semula samar mulai terdengar riuh, beradu dengan alunan musik syahdu dari grup instrumen gesek di sudut ruangan yang mendadak kehilangan temponya. Beberapa pagar ayu yang berjaga di depan pintu tampak saling berbisik dengan wajah panik, sesekali melirik ke arah pelaminan.
Seorang wanita melangkah masuk membelah kemegahan pesta.
Dia sama sekali tidak mengenakan gaun pesta mewah atau kebaya brokat seperti tamu undangan lainnya yang hadir malam itu. Wanita itu hanya mengenakan blus katun sewarna krem yang tampak agak kusut di bagian lengan, dipadukan dengan rok plisket hitam yang panjangnya tanggung, memperlihatkan flat shoes-nya yang tampak berdebu. Rambutnya yang sedikit kecokelatan diikat asal ke belakang dengan jepit plastik murah, menyisakan beberapa anak rambut yang berantakan membingkai wajah pucatnya yang sama sekali tanpa riasan tebal. Matanya sembap, dikelilingi lingkaran hitam yang kontras dengan kulit wajahnya yang tirus.
Namun, bukan penampilannya yang membuat atmosfer di sekitar pelaminan megah itu mendadak membeku layaknya es, melainkan sosok anak laki-laki kecil berusia sekitar empat tahun yang berada di dalam gandengan erat tangan kirinya. Bocah itu memakai kemeja kotak-kotak kusam yang tampak kekecilan, melangkah ragu dengan sepasang sepatu karet murah yang mengeluarkan bunyi berdecit setiap kali menapak di atas lantai marmer hotel yang mengilap.
Alin merasakan perubahan drastis di sebelahnya sebelum otaknya sendiri sempat mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Tubuh tegap Elang mendadak menegang sempurna, mengeras layaknya batu karang. Alin bisa mendengar embusan napas Elang yang tertahan di tenggorokan, berubah menjadi tarikan napas yang pendek dan berat. Sepasang mata elang milik suaminya, yang biasanya menatap tajam, dingin, dan penuh perhitungan, kini melebar dengan pupil yang bergetar hebat. Seluruh fokus Elang runtuh dalam satu detik. Tatapan itu terkunci rapat, seolah terhipnotis pada sosok wanita yang baru saja menghentikan langkahnya di ujung karpet merah, tepat beberapa meter di bawah undakan pelaminan tempat mereka berdiri.
"Cindy ...?"
Bersambung ...
Assalamualaikum, halo Kakak semuanya. Mommy Ghina kembali datang, ada yang kangen nggak sih? Yuk tinggalkan komentarnya nih, Mommy Ghina bawa karya terbarunya, kalau banyak yang komentar, ceritanya dilanjut nih.
"Cindy ...?"
Nama itu meluncur begitu saja dari sela bibir Elang yang mendadak pias. Suaranya sangat lirih, hampir menyerupai bisikan angin yang tersapu riuh rendah ruangan, tetapi Alin yang berdiri tepat di sisinya bisa mendengarnya dengan teramat jelas. Itu adalah sebuah nama yang diucapkan Elang dengan nada yang belum pernah Alin dengar selama mereka saling mengenal akibat perjodohan ini—sebuah nada yang sarat akan kerinduan yang menggebu, keterkejutan yang menghantam dada, dan luka lama yang mendadak terkoyak kembali.
Alin membeku di tempatnya berdiri. Otaknya yang masih muda mencoba memutar kembali memori beberapa bulan lalu. Cindy. Nama itu bukanlah nama yang asing. Itu adalah nama yang pernah dibisikkan oleh salah satu sepupu Elang saat awal mula proses perjodohan mereka dimulai. Mantan kekasih Elang yang mengakhiri hubungan secara sepihak, mengemas barang-barangnya, dan menghilang tanpa jejak dari Jakarta beberapa tahun lalu. Kepergian Cindy meninggalkan luka menganga yang sangat dalam di hati Elang, membuat pria itu bertahun-tahun menutup diri dari wanita mana pun dan menolak segala bentuk kedekatan—hingga akhirnya Nenek mengambil tindakan tegas dengan memaksa Alin masuk ke dalam hidup Elang.
Wanita bernama Cindy itu perlahan mendongak. Sepasang matanya yang merah dan berkaca-kaca menatap lurus ke atas pelaminan, tepat mengarah ke manik mata Elang. Cindy sama sekali tidak menoleh atau memedulikan keberadaan Alin yang berdiri kaku dalam balutan kebaya pengantin indahnya. Bagi Cindy, ruangan mewah itu seolah hanya berisi dirinya dan Elang.
"Mas Elang ...," suara Cindy terdengar sangat rapuh, bergetar di udara seolah dia bisa tumbang kapan saja di atas lantai marmer jika tidak memegang tangan anaknya.
Anak kecil di sampingnya meremas kuat-kuat ujung blus krem milik Cindy. Bocah itu mendongak, menatap deretan lampu kristal besar di langit-langit gedung dengan binar mata ketakutan karena mendadak menjadi pusat perhatian ratusan pasang mata yang mulai berbisik menghakiminya. Wajah bocah itu ... Alin merasakan pasokan udara di parunya mendadak hilang, digantikan oleh rasa sesak yang menghantam ulu hati saat dia memperhatikan fitur wajah anak itu lebih dekat dari atas pelaminan. Struktur rahang kecil itu, bentuk hidungnya yang tegas, bahkan helai rambutnya yang tumbuh lebat ... semuanya seolah menjadi replika sempurna dari pria yang baru beberapa jam lalu sah mengucapkan janji suci di depan penghulu untuk menjadi suaminya.
Suasana di dalam ballroom mewah itu mendadak sunyi senyap seketika, menyisakan alunan biola dari pengiring musik yang kini terdengar sangat sumbang dan canggung sebelum akhirnya benar-benar berhenti total. Beberapa anggota keluarga besar Elang yang duduk di barisan kursi VIP mulai berdiri dengan wajah tegang, bersiap untuk melangkah maju guna meredam potensi skandal yang bisa merusak nama baik keluarga dan perusahaan.
Namun, Elang sudah tidak peduli pada apa pun lagi di dunia ini.
Tanpa memikirkan harga diri Alin yang kini berdiri layaknya pajangan mati di sisinya, tanpa memedulikan tatapan shock dari para kolega bisnis yang memadati ruangan, Elang mengambil satu langkah besar ke depan. Kakinya yang panjang menuruni undakan pelaminan dengan tergesa-gesa. Keris di pinggang belakangnya bergoyang pelan, dan ronce melati yang menghiasinya tampak berguncang, melupakan semua aturan tata krama pernikahan adat Yogyakarta yang sejak pagi tadi dia patuhi dengan kaku demi menghormati Nenek.
"Cindy, kamu ... ke mana saja selama ini? Kenapa baru sekarang?" Elang bersuara, suaranya kini bergetar hebat menahan emosi yang meluap. Kedua tangannya terangkat ke udara, menggantung kaku seolah ingin merengkuh bahu wanita itu tetapi tertahan oleh sisa-sisa akal sehatnya.
Cindy tidak menjawab dengan untaian kata. Air matanya yang sejak tadi ditahan kini luruh berkejaran melewati pipinya yang tirus dan pucat. Dengan gerakan lambat yang penuh kepasrahan, dia perlahan mendorong anak kecil di sampingnya untuk maju satu langkah ke depan, tepat di hadapan kaki Elang yang berbalut selop pengantin.
"Dia Ega, Mas," lirih Cindy di sela isak tangisnya yang akhirnya pecah di hadapan semua orang. "Dia ... darah dagingmu. Anak kandungmu yang selama ini aku besarkan sendirian tanpa arah. Aku terpaksa datang hari ini karena aku sudah tidak punya tempat bersandar lagi di kota ini, Mas El. Ega sakit-sakitan, dan dia ... dia butuh ayahnya."
Deg.
Buket bunga mawar putih dan sedap malam yang sejak pagi digenggam erat oleh Alin hingga jemarinya memutih, perlahan merosot dari telapak tangannya yang mendadak lemas. Bunga itu jatuh berdebam pelan ke atas lantai pelaminan, kelopak-kelopaknya yang rapuh hancur dan berserakan di dekat kain jariknya. Namun, Alin bahkan tidak memiliki kekuatan lagi hanya untuk sekadar menoleh ke bawah dan melihat bunganya yang rusak.
Seluruh jemarinya mendadak mati rasa, sedingin es yang membeku di kutub. Alin menatap lurus ke depan, menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana punggung tegap suaminya kini sudah berlutut di atas lantai marmer dingin tanpa memedulikan beskap putihnya yang bergesekan dengan debu. Elang menyamakan tingginya dengan bocah bernama Ega yang kini mulai menangis karena ketakutan.
Kedua tangan Elang yang sejak pagi tadi begitu enggan untuk sekadar menyentuh atau menggandeng jemari Alin, kini justru bergerak dengan begitu protektif merengkuh bahu kecil Ega. Elang menarik bocah itu ke dalam pelukannya dengan sangat erat, menyembunyikan wajah anak itu di dadanya, mengabaikan fakta bahwa seluruh tamu undangan dan saksi pernikahan mereka sedang menyaksikan bagaimana pesta pernikahan megah sang CEO baru saja hancur berantakan menjadi panggung sandiwara masa lalu yang penuh noda.
Alin tetap berdiri sendirian di atas panggung pelaminan yang tinggi dan megah. Di bawah sorot lampu sorot yang terang, dia merasa seolah kebaya putih khas Yogyakarta yang melekat di tubuhnya saat ini berubah menjadi pakaian paling memalukan dan menyedihkan yang pernah dia kenakan seumur hidupnya. Pernikahannya baru saja dimulai, tetapi hatinya sudah hancur sebelum malam pertama sempat menyapa.
Bersambung ...
Suara riuh rendah di dalam ballroom mendadak berubah menjadi dengung lebah yang menyakitkan di telinga Alin. Lampu gantung kristal yang megah di langit-langit gedung seolah memancarkan panas yang membakar kulit kepalanya yang tertutup sanggul dan ronce melati. Alin masih berdiri di posisinya, tidak bergeser satu sentimeter pun sejak buket bunganya jatuh merosot ke lantai pelaminan. Matanya yang mulai memanas menyaksikan bagaimana Elang—pria yang baru beberapa jam lalu menjabat tangannya dalam ikatan suci—menuntun Cindy dan mendekap Ega dalam gendongannya, melangkah tergesa meninggalkan area pelaminan menuju pintu keluar darurat di sisi panggung.
Elang tidak menoleh. Sama sekali tidak memikirkan bagaimana cara Alin menuruni undakan pelaminan sendirian dengan kain jarik yang melilit ketat kakinya.
"Alin ... Nduk," sebuah suara parau namun berwibawa memecah kekakuan tubuh Alin.
Nenek Aisyah melangkah mendekat dibantu oleh dua orang sepupu Elang yang memegangi lengannya. Wanita sepuh berusia tujuh puluh lima tahun itu tampak anggun dengan kebaya beludru hitam khas Yogyakarta, senada dengan statusnya sebagai sesepuh keluarga. Namun, gurat keriput di wajah Nenek Aisyah kini tampak menegang hebat. Sepasang matanya yang biasanya memancarkan keteduhan, kini berkilat penuh amarah yang tertahan. Napasnya naik turun dengan cepat, membuat kalung mutiara di lehernya ikut bergerak tidak beraturan.
"Ikut Nenek ke ruang transit. Sekarang," perintah Nenek Aisyah. Suaranya rendah, tetapi penuh penekanan yang tidak membantah.
Alin hanya bisa mengangguk pasrah. Dengan sisa-sisa kekuatannya, dia mengangkat sedikit ujung kain jariknya agar tidak tersandung, lalu melangkah mengekor di belakang Nenek Aisyah. Di sepanjang koridor karpet merah menuju ruang transit belakang panggung, Alin bisa merasakan ratusan pasang mata tamu undangan menusuk punggungnya. Bisik-bisik miring dari para kolega bisnis Elang dan kerabat besar mulai bersahut-sahutan, merobek harga dirinya yang tersisa sebagai pengantin wanita.
Begitu pintu ganda ruang transit yang dilapisi beludru tebal itu ditutup rapat oleh petugas keamanan, sunyi yang mencekam langsung menyergap. Ruangan ber-AC itu terasa sangat dingin, tetapi hawa ketegangan di dalamnya begitu pekat hingga membuat dada Alin terasa sesak.
Di sudut ruangan, di atas sofa kulit berwarna cokelat gelap, Cindy duduk sambil memeluk Ega yang masih sesenggukan. Sementara Elang berdiri membelakangi mereka, menatap keluar jendela kaca besar yang menampilkan kerlip lampu kota Jakarta, dengan kedua tangan yang bertumpu pada pinggang. Gurat bahunya tampak naik turun, menandakan emosinya yang belum stabil.
Braakk!
Nenek Aisyah memukulkan tongkat kayu ukirnya ke atas lantai marmer dengan keras, membuat semua orang di dalam ruangan itu tersentak, termasuk Ega yang langsung menyembunyikan wajah kecilnya di ceruk leher Cindy.
"Elang! Apa-apaan ini?!" suara Nenek Aisyah meninggi, tidak lagi menyembunyikan murkanya. Dia melangkah maju, mengabaikan kehadiran Cindy dan langsung mengonfrontasi cucu kesayangannya. "Di mana otakmu, hah? Kamu meninggalkan istrimu di atas pelaminan demi wanita yang sudah mencampakkanmu seperti sampah lima tahun lalu?!"
Elang membalikkan tubuhnya dengan perlahan. Wajahnya yang biasa tenang kini tampak kusut. Dia melirik Alin sekilas—sebuah tatapan yang terasa hambar dan penuh rasa bersalah yang terpaksa—sebelum akhirnya kembali menatap sang nenek. "Nenek, Cindy membawa Ega. Ega anakku, Nek. Dia darah dagingku. Aku tidak bisa tinggal diam melihat anakku sendiri terlantar di luar sana."
"Darah daging?" Nenek Aisyah terkekeh sinis, sebuah tawa yang terdengar sangat dingin di telinga Alin. "Wanita ini menghilang tanpa kabar setelah meminta uang kompensasi dari keluarga kita dulu, dan sekarang dia datang di hari pernikahanmu membawa anak yang dia klaim sebagai anakmu? Kamu seorang CEO, Elang! Di mana logika bisnismu yang selalu kamu banggakan itu? Bagaimana kamu bisa langsung percaya pada ucapan wanita penipu ini?!"
Mendengar kata 'penipu', Cindy langsung bangkit dari sofa. Dia meletakkan Ega dengan perlahan, lalu bersujud di lantai tepat di bawah kaki Nenek Aisyah. Air matanya kembali luruh, membasahi lantai marmer ruangan.
"Saya mohon, Ibu ... demi Allah, Ega adalah anak Mas Elang," isak Cindy dengan suara yang sengaja dibuat serak dan memelas. "Saya tidak pernah meminta uang sepeser pun dulu. Saya pergi karena saya merasa tidak pantas untuk Mas Elang yang begitu terpandang. Tapi sekarang ... sekarang Ega sering sakit-sakitan, Bu. Saya sudah tidak punya biaya untuk berobat. Saya rela dihina, saya rela dicaci, tapi tolong ... jangan telantarkan Ega. Dia tidak berdosa."
Alin yang berdiri di dekat pintu hanya bisa meremas jemarinya sendiri. Dia melihat bagaimana Mas Elang langsung melangkah maju, berlutut di samping Cindy dan mencoba memapah wanita itu untuk kembali berdiri. Sentuhan tangan Elang pada bahu Cindy tampak begitu lembut, begitu protektif—sesuatu yang sama sekali tidak pernah Alin rasakan sejak mereka pertama kali dijodohkan. Hati Alin serasa diiris sembilu melihat pemandangan itu. Di hari pernikahannya sendiri, suaminya justru sibuk mendekap wanita lain di depan matanya.
"Nenek, lihat Ega," suara Elang melunak, seolah memohon pengertian. "Wajahnya, Nek ... wajahnya tidak bisa berbohong. Dia sangat mirip denganku waktu kecil. Nenek pasti ingat."
Nenek Aisyah menatap Ega yang duduk ketakutan di sofa. Gurat kemiripan itu memang tidak bisa dipungkiri, dan hal itu sempat membuat sang nenek terdiam selama beberapa detik dengan napas yang tertahan. Namun, harga diri dan kepatuhannya pada prinsip membuat Nenek Aisyah kembali mengeraskan hatinya. Dia menoleh ke arah Alin yang sejak tadi hanya diam membisu seperti bayangan.
"Lalu bagaimana dengan Alin?!" tunjuk Nenek Aisyah pada Alin. "Dia adalah istri sahmu sekarang, Elang! Dia yang direstui oleh keluarga besar, dia yang menjaga nama baikmu di depan semua kolega hari ini. Kamu sudah mempermalukan dia dan keluarganya di depan ratusan tamu!"
Elang mengalihkan pandangannya pada Alin. Untuk pertama kalinya malam itu, mata mereka bertemu dalam jarak yang cukup dekat. Namun, tidak ada binar cinta atau penyesalan yang mendalam di mata pria berusia tiga puluh tahun itu. Yang ada hanyalah tatapan lelah dan rasa bersalah karena telah merusak acara yang sudah dipersiapkan dengan matang.
"Alin ... Mas minta maaf," ucap Elang lirih, suaranya terdengar sangat datar di telinga Alin. "Mas tahu ini tidak adil untukmu. Tapi situasi ini darurat. Ega sedang demam, badannya sangat panas sejak tadi. Mas tidak mungkin melanjutkan resepsi dan membiarkan mereka pergi begitu saja."
Alin menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan air mata yang sudah menggenung di pelupuk matanya agar tidak merusak pulasan riasan pengantinnya yang mahal. Dia tidak ingin terlihat lemah di depan Cindy, wanita yang kini menatapnya dari balik punggung Elang dengan sebuah tatapan samar yang sulit diartikan.
"Lalu, apa rencana Mas Elang sekarang?" Alin akhirnya bersuara. Suaranya bergetar kecil, tetapi dia berusaha keras untuk tetap terdengar tegar. "Tamu-tamu di luar masih menunggu. Pihak katering, dekorasi, dan keluarga saya ... mereka butuh kejelasan."
Sebelum Elang sempat menjawab, Nenek Aisyah sudah memotong dengan tegas. "Resepsi malam ini selesai. Kita katakan pada media dan tamu bahwa Elang mendadak mengalami gangguan kesehatan. Dan untuk wanita ini–" Nenek Aisyah menatap Cindy dengan pandangan menghina. "kamu tidak boleh menginjakkan kaki di rumah utama."
"Nek, tidak bisa begitu," sanggah Elang dengan cepat, nadanya mulai kembali meninggi untuk membela mantan kekasihnya. "Cindy tidak punya tempat tinggal lagi di Jakarta. Kontrakan lamanya sudah habis. Aku tidak mungkin membiarkan anak kandung aku tidur di jalanan dalam kondisi sakit."
"Lalu kamu mau membawanya ke rumahmu? Rumah yang seharusnya menjadi tempat malam pertamamu dengan Alin?!" bentak Nenek Aisyah, wajahnya memerah menahan amarah yang meledak-ledak.
"Hanya sementara, Nek. Sampai Ega sembuh dan aku mendapatkan tempat tinggal yang layak untuk mereka," tegas Elang, keputusan seorang CEO yang tidak ingin didebat lagi. Dia menatap Alin kembali, seolah meminta persetujuan yang sebenarnya tidak bisa ditolak oleh Alin. "Alin, Mas mohon ... mengertilah untuk kali ini saja. Ini demi kemanusiaan. Demi anak kecil yang tidak tahu apa-apa."
Kata 'mencintai' memang belum ada di antara mereka, tetapi Alin tidak pernah menyangka bahwa ketidakcintaan itu akan berwujud seringkih dan senestapa ini. Alin memalingkan wajahnya, tidak sanggup lagi menatap sepasang mata Elang yang begitu gigih memperjuangkan kenyamanan wanita dari masa lalunya.
Di sudut ruangan, bibir Cindy perlahan membentuk sebuah lengkungan tipis yang sangat samar, hampir tak terlihat oleh siapa pun kecuali Alin yang kebetulan menangkap arah pandangnya. Sebuah kemenangan kecil di babak pertama telah berhasil diraih oleh sang mantan kekasih, tepat di atas puing-puing hancurnya malam pertama sang pengantin baru.
Kain jarik sidomukti yang dipakai Alin kini terasa kian berat mengikat langkahnya, seolah meramalkan bahwa hari-hari ke depan dalam rumah tangga mereka akan dipenuhi oleh duri kesalahpahaman yang sengaja ditanam oleh masa lalu yang belum selesai.
Bersambung ...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!