Indonesia
NovelToon NovelToon

Istriku yang Pernah Kutinggalkan

Episode 1

Bab 1 - Suami yang Pulang Bersimbah Darah

Hujan turun deras di luar IGD Rumah Sakit Cakra Medika.

Nadira baru saja melepas sarung tangan setelah operasi kecil di ruang tindakan ketika suara sirene ambulans menembus malam. Belum sempat ia minum, pintu IGD terbuka dengan kasar.

"Dokter! Korban tembak. Tekanan darah turun!"

Nadira menoleh. Dua perawat mendorong brankar masuk. Di atasnya terbaring seorang pria berseragam lapangan yang sudah nyaris tidak dikenali karena darah menutupi wajah dan dadanya.

"Ruang resusitasi satu. Cepat."

Nadira berjalan cepat, suara langkahnya tenggelam oleh deru hujan dan kepanikan perawat. Tangannya otomatis mengambil gunting medis untuk membuka seragam pasien. Ia sudah melihat banyak luka. Peluru, kecelakaan, tusukan, ledakan tabung gas. Semua darah punya bau yang sama.

Tapi saat kain di dada pria itu terbuka, matanya berhenti.

Ada bekas luka kecil di bawah tulang selangka kiri. Bentuknya seperti bulan sabit.

Nadira mengenal tanda itu dari satu-satunya foto lama yang pernah diberikan Mama Renata padanya empat tahun lalu. Foto buram seorang pria muda dengan seragam TNI, wajahnya kaku, matanya tajam, dan di dekat lehernya ada bekas luka kecil.

Arga Pratama Wijaya.

Suaminya.

Suami yang hanya ia temui sebentar saat akad nikah empat tahun lalu. Suami yang pergi setelah mengucap ijab kabul, lalu menghilang dalam operasi rahasia. Suami yang oleh banyak orang sudah dianggap gugur.

"Dok?" Perawat Santi memanggilnya.

Nadira menarik napas.

"Pasang dua jalur infus besar. Siapkan transfusi. Hubungi ruang operasi sekarang."

Suaranya tidak bergetar.

Ia tidak punya hak untuk runtuh di depan pasien, bahkan jika pasien itu laki-laki yang membuat hidupnya menggantung selama empat tahun.

Seorang pria berpakaian hitam mendekat. Rambutnya cepak, wajahnya tegang.

"Dokter, Komandan kami harus selamat."

"Nama pasien?"

Pria itu ragu sedetik. "Arga."

Nadira menatap monitor. "Nama lengkap."

Pria itu menelan ludah. "Mayor Arga Pratama Wijaya."

Ada sesuatu yang retak pelan di dada Nadira. Bukan karena ia baru tahu. Justru karena ia akhirnya mendengar nama itu diucapkan di depan tubuh yang hampir mati.

"Keluarga sudah dihubungi?"

"Belum bisa, Dok. Kami harus menunggu instruksi."

Nadira hampir tertawa. Instruksi. Selama empat tahun, hidupnya juga ditahan oleh kata itu. Instruksi operasi. Instruksi rahasia. Instruksi keamanan. Semua orang punya alasan untuk membiarkan dia menunggu, tapi tidak ada yang pernah bertanya bagaimana rasanya menjadi istri yang tidak pernah benar-benar menjadi istri.

"Tekanan darah turun, Dok!"

Nadira menekan semua pikiran ke dasar kepala.

"Siapkan intubasi."

Arga membuka mata sedikit. Hanya sebentar. Mata itu hitam, buram karena nyeri, tapi tetap tajam seperti foto lama itu.

Nadira mendekat. "Mayor Arga, dengar saya?"

Bibirnya bergerak.

Nadira menunduk, mengira ia akan menyebut nama orang tuanya.

"Laras..."

Satu nama perempuan keluar dari mulutnya, pelan, pecah, tapi cukup jelas untuk menghantam Nadira.

Perawat tidak menyadari apa pun. Bima, pria cepak tadi, malah menggenggam sisi brankar.

"Komandan, tahan. Bu Laras dan Kendra aman."

Nadira diam selama setengah detik.

Bu Laras.

Kendra.

Nama perempuan dan anak yang disebut dalam kondisi sekarat.

Bagus, Arga.

Empat tahun tidak pulang, ternyata bukan karena tidak ada rumah. Mungkin hanya karena rumahnya bukan di tempat Nadira menunggu.

"Dokter?" Bima panik. "Kenapa?"

"Tidak ada." Nadira menatap monitor. "Bawa ke ruang operasi."

Operasi berlangsung hampir empat jam.

Peluru tidak bersarang terlalu dalam, tapi pecahan logam merusak jaringan dan ada perdarahan yang sulit dikendalikan. Nadira berdiri di meja operasi tanpa sekali pun membiarkan pikirannya melayang. Tangannya bekerja cepat. Perintahnya singkat. Saat salah satu residen gugup, ia hanya berkata, "Fokus. Dia masih hidup."

Lucu.

Selama empat tahun ia mengira Arga mungkin sudah mati. Sekarang setelah tubuh pria itu ada di depannya, ia justru menjadi orang yang paling keras kepala mempertahankan nyawanya.

Ketika operasi selesai, langit di luar mulai pucat.

Nadira keluar dari ruang operasi dengan punggung kaku. Masker ia turunkan. Keringat dingin menempel di pelipis.

Bima langsung berdiri. "Dokter, bagaimana Komandan?"

"Operasi berhasil. Dua puluh empat jam ke depan tetap kritis, tapi kondisinya stabil."

Bima menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Alhamdulillah."

Nadira melepas penutup kepala. "Siapa keluarga yang bisa dihubungi?"

Bima membuka mulut, tapi suara langkah cepat memotong jawabannya.

Seorang perempuan berlari dari ujung koridor. Rambutnya basah karena hujan, wajahnya pucat, dan di sampingnya seorang anak laki-laki kecil memegang boneka dinosaurus.

"Mas Arga!"

Perempuan itu berhenti di depan Bima. "Mas Arga gimana? Dia masih hidup, kan?"

Bima terlihat serba salah. "Bu Laras, tenang dulu. Operasi berhasil."

Perempuan bernama Laras itu langsung menangis. Anak kecil di sampingnya ikut panik.

"Papa Arga sakit, Ma?"

Papa Arga.

Nadira berdiri sangat diam.

Laras memeluk anak itu, lalu menatap Nadira. "Dokter yang operasi Mas Arga?"

"Iya."

"Terima kasih, Dok. Terima kasih sudah menyelamatkan suami saya."

Kata itu turun seperti pisau.

Suami saya.

Bima menegang. "Bu Laras..."

Laras seperti tidak mendengar. Ia sibuk menangis, memeluk anaknya, mengulang nama Arga berkali-kali seolah koridor rumah sakit itu miliknya.

Nadira tidak mengatakan apa pun.

Apa yang harus ia katakan?

Bahwa laki-laki yang sedang mereka tangisi adalah suaminya juga? Bahwa ia punya buku nikah dengan nama Arga Pratama Wijaya di lemari kamar rumah keluarga Wijaya? Bahwa selama empat tahun ia duduk di meja makan bersama Mama Renata, mendengarkan cerita tentang putra yang mungkin tidak akan pulang, sementara perempuan ini punya anak yang memanggilnya Papa?

Nadira memasukkan kedua tangan ke saku jas dokter.

"Pasien akan dipindah ke ICU. Hanya satu orang yang boleh melihat dari luar kaca."

Laras mengangguk cepat. "Saya istrinya. Saya yang akan menunggu."

Nadira menatapnya.

Bima membuka mulut, mungkin hendak meluruskan sesuatu, tapi Nadira sudah lebih dulu berkata, "Silakan ikuti perawat."

Ia berbalik sebelum siapa pun melihat wajahnya.

Di lorong menuju ruang dokter, beberapa perawat berbisik tentang pria yang baru selesai dioperasi itu. Mereka tidak tahu hubungan Nadira dengannya, jadi kalimat mereka terdengar ringan.

"Kasihan istrinya, ya. Datang bawa anak kecil."

"Mayor itu masih muda. Untung selamat."

"Dokter Nadira hebat banget. Kalau telat sedikit, mungkin tidak tertolong."

Nadira terus berjalan. Setiap kalimat menempel di punggungnya. Istrinya. Anak kecil. Untung selamat. Hebat. Tidak ada satu pun yang salah menurut mereka, tapi semuanya terasa seperti menertawakan hidup Nadira.

Di depan vending machine, ia berhenti sebentar. Tangannya hendak mengambil kopi kaleng, lalu batal. Lambungnya kosong sejak malam, tapi ia tidak yakin bisa menelan apa pun.

Ia teringat akad nikah empat tahun lalu. Arga berdiri kaku di sampingnya. Setelah ijab kabul, pria itu hanya menoleh sebentar dan berkata, "Maaf, saya harus pergi malam ini."

Nadira waktu itu mengangguk. Ia tidak menangis. Ia bahkan tidak sempat kecewa karena semua orang berkata tugas negara harus didahulukan. Ia percaya. Ia benar-benar percaya.

Sekarang kepercayaannya terasa sangat bodoh.

Di ruang ganti dokter, Nadira mengunci pintu. Ia berdiri di depan wastafel, mencuci tangan yang sebenarnya sudah bersih. Air mengalir di antara jarinya. Sabun berbusa. Bau antiseptik memenuhi hidung.

Tangannya tidak berhenti gemetar.

Ponselnya menyala. Ada pesan dari Mama Renata.

Nadira, kamu pulang pagi ini? Mama masak soto kesukaan kamu.

Nadira menatap layar lama sekali.

Mama Renata belum tahu Arga pulang. Belum tahu anaknya hidup. Belum tahu mungkin anaknya tidak pernah benar-benar sendiri.

Nadira mematikan keran.

Ia membuka kontak pengacara yang pernah direkomendasikan Maya, sahabatnya.

Jarinya mengetik pelan.

Pak Hari, saya ingin mengurus gugatan cerai. Secepatnya.

Pesan terkirim.

Baru setelah itu Nadira menyadari air mata jatuh ke layar ponselnya.

Ia menghapusnya dengan punggung tangan.

Tidak apa-apa.

Dokter boleh menyelamatkan pasien.

Tapi seorang istri juga boleh menyelamatkan dirinya sendiri.

Di luar pintu, suara langkah perawat kembali sibuk. Hidup rumah sakit terus bergerak seolah hati Nadira tidak baru saja patah. Ia menarik napas, merapikan jasnya, lalu membuka pintu dengan wajah yang sudah ia latih bertahun-tahun.

Episode 2

Bab 2 - Istri yang Tidak Dianggap

Nadira keluar dari ruang ganti saat koridor ICU mulai ramai.

Pagi baru saja masuk, tapi rumah sakit tidak pernah benar-benar mengenal waktu. Perawat berganti sif. Dokter jaga menenteng kopi. Keluarga pasien duduk dengan wajah kusut di kursi tunggu.

Di depan kaca ICU, Laras berdiri sambil menggendong Kendra.

Anak itu mungkin berusia lima tahun. Wajahnya pucat, matanya sembab. Tangannya menempel di kaca, menatap Arga yang terbaring dengan banyak selang.

"Papa Arga tidur lama, Ma?"

Laras mengusap rambutnya. "Papa Arga capek. Kendra doain Papa, ya."

Nadira menghentikan langkah.

Papa Arga.

Setiap kali panggilan itu terdengar, ada bagian kecil dari dirinya yang terasa dicabut.

Ia tidak marah pada anak itu. Anak sekecil Kendra tidak tahu apa-apa. Yang membuat dada Nadira sesak adalah cara Laras membiarkan panggilan itu mengalir begitu mudah, seolah tidak ada istri lain yang pernah ada.

Bima berdiri tidak jauh dari mereka. Begitu melihat Nadira, ia langsung mendekat.

"Dokter Nadira, boleh bicara sebentar?"

Nadira mengangguk. "Soal pasien?"

"Iya. Komandan Arga punya riwayat alergi obat tertentu, tapi data medis lengkapnya ada di satuan. Saya sedang minta dikirim."

"Kirim ke perawat ICU begitu dapat. Untuk sementara kami pakai obat yang aman."

Bima menatapnya ragu. "Dokter... soal Bu Laras tadi..."

"Tidak perlu menjelaskan apa pun pada saya."

Nada Nadira datar.

Bima terdiam. Ia terlihat ingin mengatakan sesuatu, tapi Laras sudah menoleh.

"Mas Bima, dokter bilang aku bisa lihat Mas Arga sebentar, kan?"

Bima segera kembali ke sana. "Sebentar saja, Bu. Dari luar dulu."

Laras menggenggam tangan Kendra, lalu memandang Nadira dengan mata merah. "Dok, saya boleh tahu kapan Mas Arga sadar?"

"Belum bisa dipastikan. Kondisi pasien stabil, tapi tubuhnya kehilangan banyak darah."

"Dia selalu begitu." Laras tertawa kecil di antara air mata. "Kalau sudah soal tugas, dia nggak pernah peduli badannya sendiri."

Nadira tidak menjawab.

Laras melanjutkan, mungkin karena ingin meyakinkan dirinya sendiri. "Mas Arga janji akan pulang setelah operasi ini. Kendra sudah menunggu. Setiap malam anak ini tanya kapan Papa Arga datang."

Kendra memeluk kaki Laras. "Papa janji beliin sepeda."

"Iya, Sayang."

Nadira menatap wajah anak itu, lalu menatap Laras.

Ada rasa getir yang tidak bisa ia telan.

Arga pernah berjanji pada anak ini. Sementara kepadanya, Arga bahkan tidak pernah mengirim pesan singkat.

Empat tahun.

Selama itu Nadira tinggal di rumah keluarga Wijaya. Ia menemani Mama Renata ke dokter jantung. Ia membantu Papa Surya mengatur obat diabetes. Ia menghadiri acara keluarga besar sebagai menantu yang selalu ditanya, "Suamimu kapan pulang?"

Ia tersenyum setiap kali menjawab, "Doakan saja."

Ia mempertahankan nama Arga di depan keluarga, tetangga, dan kerabat yang mulai kasihan. Ada yang menyuruhnya menikah lagi. Ada yang berbisik bahwa ia terlalu muda untuk menjadi janda tanpa kepastian. Ada yang menyebutnya bodoh karena setia pada laki-laki yang mungkin sudah mati.

Tapi Nadira bertahan.

Bukan karena ia sangat mencintai Arga. Bagaimana mungkin ia mencintai pria yang hanya ia temui pada hari akad, itu pun kurang dari satu jam?

Ia bertahan karena janji.

Akad bukan permainan. Nama Arga ada di buku nikahnya. Mama Renata dan Papa Surya memperlakukannya seperti anak sendiri. Nadira tumbuh sebagai anak angkat yang selalu takut kehilangan tempat pulang. Di rumah Wijaya, untuk pertama kalinya setelah lama, ia merasa dibutuhkan.

Dan sekarang, semuanya terasa seperti lelucon.

"Dokter?"

Suara Laras menarik Nadira kembali.

"Iya?"

"Saya boleh tetap di sini, kan? Saya nggak mau jauh dari Mas Arga."

Nadira memandangnya lama. "Aturan ICU membatasi keluarga. Perawat akan mengatur jadwal."

"Saya keluarganya."

Kalimat itu tegas. Terlalu tegas.

Nadira tersenyum tipis. "Kalau begitu ikuti aturan keluarga pasien."

Ia berbalik.

Langkahnya baru sampai meja perawat ketika ponselnya bergetar.

Pak Hari membalas.

Bu Nadira, untuk gugatan cerai perlu dokumen buku nikah, KTP, KK, dan alasan gugatan. Apakah suami setuju?

Nadira menatap layar. Suami setuju?

Seharusnya Arga setuju. Ia sudah punya kehidupan lain. Bukankah itu lebih mudah?

Ia mengetik.

Saya akan siapkan dokumen. Tolong buatkan konsep gugatan secepatnya.

Pesan terkirim.

Perawat Santi mendekat sambil membawa berkas.

"Dok, pasien Mayor Arga perlu tanda tangan keluarga untuk beberapa prosedur lanjutan. Bu Laras bilang dia keluarga, tapi administrasi minta hubungan jelas."

Nadira menahan napas.

"Tanyakan ke Pak Bima. Dia yang membawa pasien."

"Baik, Dok."

Santi pergi. Nadira duduk di kursi dokter dan membuka rekam medis elektronik. Nama Arga muncul di layar.

Arga Pratama Wijaya.

Status perkawinan: menikah.

Kontak darurat: kosong.

Ia tertawa tanpa suara.

Bahkan sistem rumah sakit lebih jujur daripada hidup mereka. Menikah, tapi kosong.

Siang harinya, Arga sempat menunjukkan respons. Jari tangannya bergerak. Kelopak matanya bergetar. Laras hampir menangis histeris di luar kaca.

"Mas Arga!"

Nadira masuk ke ICU bersama dokter anestesi. Ia memeriksa pupil, tekanan darah, respons nyeri.

Arga membuka mata sedikit.

Pandangan mereka bertemu.

Untuk pertama kalinya sejak akad empat tahun lalu, Arga melihat Nadira dalam keadaan sadar, walau samar.

Tapi tidak ada pengenalan di matanya.

Ia hanya melihat dokter.

"Tenang, Mayor Arga. Anda di rumah sakit," kata Nadira.

Bibir Arga bergerak.

Nadira mendekat karena ia harus mendengar kebutuhan pasien.

"Laras..."

Nama itu lagi.

"Kendra..."

Nadira menarik tubuhnya tegak.

"Pasien gelisah. Tambahkan sedasi ringan sesuai instruksi."

Ia keluar dari ICU sebelum Laras masuk.

Laras melewatinya dengan wajah penuh harap. "Mas Arga manggil aku?"

Nadira berhenti.

Ia ingin berkata tidak. Ia ingin berkata, iya, dia memanggilmu, jadi ambil saja laki-laki itu seluruhnya. Ia ingin bertanya, sejak kapan kalian menjadi keluarga?

Tapi yang keluar dari mulutnya hanya, "Pasien belum sadar penuh. Jangan terlalu banyak bicara."

Laras mengangguk dan masuk.

Nadira berjalan ke tangga darurat. Ia tidak mau naik lift, tidak mau bertemu siapa pun.

Di anak tangga kosong, ia menelepon Maya.

Sahabatnya mengangkat dengan suara serak. "Dir, ini masih pagi banget buat orang yang kerja liputan sampai subuh."

"May."

Maya langsung sadar. "Kamu kenapa?"

"Aku mau cerai."

Diam.

Lalu suara Maya naik. "Akhirnya! Aku sudah bilang dari dulu, laki-laki hilang empat tahun itu bukan suami, itu legenda keluarga."

Nadira tertawa kecil, tapi tenggorokannya sakit.

"Dia pulang."

"Apa?"

"Arga pulang. Semalam masuk IGD. Aku yang operasi."

Maya tidak langsung bicara. "Ya Allah. Terus?"

"Dia punya Laras. Dan anak yang manggil dia Papa."

"Brengsek."

Nadira memejamkan mata.

Maya berkata lebih pelan, "Kamu di mana? Aku jemput."

"Nggak usah. Aku masih sif."

"Nadira, jangan sok kuat."

"Aku dokter, May. Pasienku masih kritis."

"Pasienmu itu suami yang nyakitin kamu."

"Justru karena itu aku harus profesional."

Maya menghela napas kasar. "Baik. Tapi setelah sif, kamu pulang ke apartemenku. Jangan pulang ke rumah Wijaya dulu kalau kamu belum siap."

"Aku harus ambil dokumen."

"Aku temani."

Nadira membuka mata. Dari celah pintu tangga, ia bisa melihat koridor ICU. Laras duduk dengan Kendra di pangkuannya. Bima berdiri di dekat mereka seperti penjaga keluarga kecil itu.

"May."

"Iya?"

"Aku capek."

Suara Maya melembut. "Aku tahu."

Nadira menutup telepon.

Ia berdiri beberapa detik lagi, lalu kembali ke koridor. Jas dokternya masih rapi. Wajahnya kembali tenang.

Sore itu, Pak Hari datang ke rumah sakit membawa konsep awal gugatan.

Nadira menemuinya di kantin yang hampir kosong.

"Bu Nadira yakin ingin secepat ini?" tanya pengacara itu.

"Saya sudah menunggu empat tahun. Itu cukup lama."

"Alasan gugatan?"

Nadira menatap kertas di depannya.

"Tidak menjalankan kewajiban sebagai suami. Tidak ada nafkah lahir batin. Dan..." Ia berhenti sebentar. "Ada dugaan hubungan dengan perempuan lain."

Pak Hari menulis.

"Apakah Ibu ingin menuntut hak nafkah atau ganti rugi?"

Nadira tersenyum dingin. "Tulis saja sesuai hukum. Saya tidak mau terlihat memohon. Tapi saya juga tidak akan keluar seperti sampah."

"Baik."

Saat Pak Hari pergi, Nadira melihat Laras berdiri di ujung kantin. Perempuan itu memegang botol air, tetapi matanya tertuju pada map di meja.

Laras pasti tidak tahu isinya.

Namun tatapannya berubah waspada.

Nadira memasukkan map itu ke tas.

Laras mendekat. "Dokter Nadira, boleh saya tanya sesuatu?"

"Silakan."

"Dokter kenal Mas Arga sebelumnya?"

Pertanyaan itu halus, tapi Nadira bisa mendengar durinya.

Nadira berdiri. "Saya mengenal banyak pasien, Bu Laras. Tapi saya tidak mencampur urusan pribadi dengan pekerjaan."

Laras tersenyum tipis. "Bagus kalau begitu."

Nadira membalas senyumnya.

"Saya juga berharap semua orang tahu batas."

Wajah Laras menegang.

Nadira berjalan melewatinya.

Untuk pertama kalinya hari itu, ia tidak merasa ingin menangis.

Ia hanya merasa ingin selesai.

Episode 3

Bab 3 - Surat Cerai di Samping Ranjang

Arga sadar penuh pada hari ketiga.

Hal pertama yang ia rasakan adalah nyeri tajam di dada. Hal kedua adalah suara alat monitor yang berulang seperti ketukan jam. Hal ketiga adalah wajah Bima yang menunduk di dekat ranjang.

"Komandan."

Arga mengerjap. "Aku belum mati?"

Bima menghela napas lega. "Belum. Susah juga kalau Komandan mati. Saya belum siap cari kerja baru."

Arga ingin tertawa, tapi dadanya sakit.

"Laras?"

"Ada di luar. Kendra juga sempat datang, tapi sudah saya antar pulang sama pengawal Bu Laras. Anak itu kelelahan."

Arga menutup mata sebentar. "Bagus."

Ia ingat ledakan, suara tembakan, hujan di jalan menuju Jakarta, lalu wajah seorang dokter. Wajah itu samar, tapi matanya jelas. Dingin, tenang, tajam. Seolah perempuan itu bisa menjahit nyawanya sambil menahan marah.

"Dokter yang operasi aku siapa?"

"Dokter Nadira."

Arga membuka mata. "Nadira?"

"Iya. Dokter Nadira Prameswari. Dokter bedah di sini."

Nama itu terasa menempel di kepala Arga.

Nadira.

Ia mencoba mengingat wajahnya, tapi obat masih membuat pikirannya berat.

"Dia bagus."

Bima langsung menyeringai. "Bagus sebagai dokter atau bagus sebagai perempuan, Komandan?"

Arga meliriknya.

"Mulutmu masih terlalu sehat."

"Siap, diam."

Pintu ICU terbuka. Seorang perawat masuk bersama seorang pria berjas rapi yang membawa map cokelat.

"Mayor Arga, ada kuasa hukum yang ingin bertemu sebentar. Katanya urusan keluarga. Karena kondisi Anda sudah sadar, dokter mengizinkan lima menit."

Arga mengerutkan kening. "Kuasa hukum?"

Pria itu membungkuk sopan. "Selamat siang, Pak Arga. Saya Hari Santoso, kuasa hukum Ibu Nadira Prameswari."

Bima yang tadi santai langsung menegang.

Arga menatap pria itu. "Nadira Prameswari?"

"Istri Bapak."

Ruangan mendadak hening.

Arga berpikir mungkin obat bius masih bekerja.

"Ulangi."

Pak Hari tetap tenang. "Saya kuasa hukum dari Ibu Nadira Prameswari, istri sah Bapak berdasarkan buku nikah yang tercatat di KUA Kebayoran Baru empat tahun lalu."

Bima menutup mata.

"Bima," suara Arga rendah, "apa ini?"

Bima tidak menjawab.

Pak Hari membuka map dan mengeluarkan beberapa lembar dokumen.

"Ibu Nadira mengajukan gugatan cerai ke Pengadilan Agama. Ini salinan surat kuasa dan konsep gugatan awal. Beliau berharap proses dapat berjalan baik tanpa konflik berkepanjangan."

Arga menatap kertas itu seperti menatap granat.

Cerai.

Ia baru bangun dari operasi, dan istri yang hampir tidak ia kenal mengirim pengacara untuk cerai.

Lucu sekali.

Empat tahun lalu ia memang menikah. Akad itu berlangsung cepat di rumah keluarga Nadira. Ia ingat seorang perempuan muda memakai kebaya putih, wajahnya tertutup riasan sederhana, mata tertunduk. Setelah akad, ia hanya sempat berkata, "Maaf, saya harus pergi." Lalu tugas itu menelannya.

Ia tidak pernah kembali.

Tapi bukan berarti ia lupa bahwa ia punya istri.

Di tengah operasi rahasia, komunikasi dibatasi. Ia bahkan tidak bisa memberi kabar kepada orang tuanya. Namanya beberapa kali sengaja dikaburkan dalam laporan karena keselamatan jaringan. Ia bertahan hidup dari satu penyamaran ke penyamaran lain.

Ia berpikir, kalau pulang nanti, ia akan menemui perempuan itu. Ia akan meminta maaf, memberi penjelasan, dan memulai dari awal jika ia masih mau.

Ternyata perempuan itu lebih dulu mengirim gugatan cerai.

"Alasannya?" tanya Arga.

Pak Hari mendorong kertas ke meja kecil.

"Tidak menjalankan kewajiban sebagai suami, tidak ada nafkah lahir batin selama empat tahun, dan dugaan hubungan dengan perempuan lain."

Arga tertawa pendek.

Tawanya membuat luka di dadanya sakit, tapi ia tetap tertawa.

"Dugaan hubungan dengan perempuan lain?"

"Itu yang disampaikan klien saya."

"Dia bahkan belum pernah bicara denganku."

"Ibu Nadira merasa sudah cukup menunggu."

Arga menatap pengacara itu tajam. "Apa dia minta harta?"

Pak Hari berhenti sebentar. "Beliau meminta hak sesuai hukum."

"Berapa?"

"Ada nafkah tertunda dan kompensasi yang akan dibicarakan dalam proses."

Wajah Arga mengeras.

Jadi begitu.

Empat tahun tidak bertemu, tiba-tiba cerai, lalu minta kompensasi.

Ia seharusnya merasa bersalah. Ada bagian kecil di dirinya yang tahu Nadira punya hak untuk marah. Tapi tubuhnya masih sakit, kepalanya masih penuh ledakan, dan harga dirinya yang keras langsung mengambil alih.

"Sampaikan pada istri saya," kata Arga pelan, "saya setuju bercerai."

Bima tersentak. "Komandan..."

Arga tidak memandangnya.

"Tapi jangan harap dia bisa memeras keluarga Wijaya. Aku akan bertanggung jawab sesuai hukum, bukan sesuai drama yang dia susun."

Pak Hari menatapnya. "Baik. Saya akan sampaikan."

"Dan satu lagi." Arga menahan nyeri saat menggeser tubuh. "Kalau dia tinggal di rumah keluargaku, beri tahu dia untuk bersiap pindah."

Pak Hari mengangkat alis.

"Saya tidak tahu situasi tempat tinggal klien saya."

"Tulis saja." Arga menatapnya dingin. "Tiga hari. Setelah aku keluar dari sini, aku tidak mau melihat perempuan yang menggugat cerai aku masih memakai rumah keluargaku."

Bima tampak ingin membenturkan kepala ke dinding.

Pak Hari mengangguk, memasukkan dokumen kembali ke map.

"Saya paham. Semoga Bapak lekas pulih."

Setelah pengacara itu keluar, Bima langsung mendekat.

"Komandan, menurut saya jangan gegabah."

"Kau tahu istriku siapa?"

Bima diam.

Arga menangkap diam itu. "Kau tahu?"

"Saya baru tahu dari administrasi rumah sakit, Komandan."

"Kapan?"

"Kemarin."

Arga menatapnya tajam.

Bima buru-buru berkata, "Saya belum yakin. Saya mau memastikan dulu."

"Memastikan apa?"

Bima terlihat tersiksa. "Dokter Nadira yang mengoperasi Komandan... nama lengkapnya Nadira Prameswari."

Arga membeku.

"Apa?"

"Saya cek data pasien dan data keluarga dari rumah. Nama istri Komandan juga Nadira Prameswari."

Arga menatap pintu ICU.

Dokter Nadira.

Perempuan bermata dingin yang menyelamatkan nyawanya.

Istrinya?

Tidak. Tunggu.

Ia mencoba mengingat wajah pengantin empat tahun lalu. Kebaya putih. Riasan lembut. Mata yang tidak berani menatap lama. Waktu itu ia terlalu terburu-buru. Terlalu fokus pada operasi. Ia bahkan tidak mengingat suaranya.

Sekarang ingatannya bertabrakan dengan wajah dokter di ruang resusitasi. Mata yang sama? Mungkin. Sikap tenang itu? Entah.

"Kenapa dia tidak bilang?" gumam Arga.

Bima menatapnya seperti ingin menangis. "Mungkin karena Komandan tidak mengenali beliau."

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada peluru.

Arga menutup mata. Beberapa detik kemudian ia membukanya lagi.

"Panggil dia."

"Dokter Nadira?"

"Sekarang."

Bima keluar. Arga menunggu dengan rahang mengeras. Dadanya nyeri, tapi ada sesuatu yang lebih tidak nyaman di dalam kepalanya.

Kalau dokter itu benar istrinya, berarti ia baru saja menyuruh pengacara menyampaikan bahwa ia setuju cerai dan mengusirnya dari rumah.

Tidak apa-apa.

Dia yang mengajukan.

Dia yang datang dengan pengacara.

Dia yang minta kompensasi.

Arga menahan diri dari rasa bersalah yang mulai menyusup.

Pintu terbuka beberapa menit kemudian.

Nadira masuk dengan jas dokter putih. Rambutnya diikat rapi. Wajahnya tenang, bahkan terlalu tenang.

Arga menatapnya.

Kini setelah tahu, ia melihatnya lebih jelas.

Ada sesuatu yang samar dari hari akad itu. Garis rahang, bentuk mata, cara ia menahan ekspresi. Ya. Mungkin benar. Perempuan ini memang istri yang ia tinggalkan.

"Mayor Arga ingin bertemu saya sebagai dokter atau sebagai pasien yang punya keluhan?" tanya Nadira.

Suara itu membuat Arga terdiam sebentar.

"Sebagai suami."

Nadira tersenyum kecil.

Tidak ada hangatnya.

"Maaf, saya sedang bertugas. Untuk urusan selain medis, silakan melalui kuasa hukum saya."

Arga menatapnya tajam. "Jadi benar kamu Nadira."

"Nama saya tertulis di papan dokter jaga."

"Kenapa tidak bilang dari awal?"

Nadira melangkah mendekat, memeriksa monitor seolah ia hanya pasien biasa.

"Apa yang harus saya bilang? Halo, Mas Arga, saya istri yang kamu tinggalkan empat tahun, tapi sekarang kamu datang bersama perempuan dan anak yang memanggilmu Papa?"

Arga terdiam.

Nadira mencatat tekanan darahnya.

"Kondisi Anda stabil. Jangan terlalu banyak emosi, nanti jahitan terbuka."

"Laras bukan istriku."

Tangan Nadira berhenti setengah detik, lalu bergerak lagi.

"Itu bukan urusan saya."

"Kendra bukan anakku."

"Sekali lagi, bukan urusan saya."

Arga mulai kesal. "Kamu menggugat cerai karena salah paham."

Nadira menatapnya.

"Saya menggugat cerai karena selama empat tahun saya menjadi istri tanpa suami. Salah paham hanya bonus."

Kalimat itu membuat Arga tidak langsung bisa membalas.

Nadira menutup berkas.

"Soal rumah keluarga Wijaya, saya sudah akan pindah. Anda tidak perlu menunggu tiga hari."

Arga merasa dadanya lebih sesak.

"Aku belum selesai bicara."

"Saya sudah selesai mendengar."

Nadira berbalik ke pintu.

Arga memanggil, "Nadira."

Ia berhenti, tapi tidak menoleh.

"Aku tidak tahu kamu dokter itu."

"Saya tahu."

"Kalau aku tahu..."

Nadira menoleh. Matanya tenang, tapi ada lelah yang dalam di sana.

"Kalau Mas tahu, apa? Tidak jadi menceraikan saya? Tidak jadi mengusir saya? Tidak jadi membiarkan perempuan lain memakai tempat yang seharusnya milik istri?"

Arga menggenggam selimut.

Nadira berkata pelan, "Mas Arga, orang tidak berubah hanya karena baru tahu sesuatu yang menguntungkan dirinya."

Ia keluar.

Pintu menutup.

Bima yang berdiri di luar tidak berani masuk.

Arga menatap langit-langit ICU.

Untuk pertama kalinya sejak ia pulang dari operasi, ia merasa luka di dadanya bukan bagian paling sakit dari tubuhnya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!