Indonesia
NovelToon NovelToon

Mantan Suami Menyesal? Suami Baruku Konglomerat!

Episode 1

Bab 1: Malam yang Menghancurkan

Bertahun kemudian, setiap kali hujan turun terlalu deras di Jakarta, Anisa Wijaya selalu teringat malam itu.

Ia teringat pada sepeda lipat tua yang rantainya hampir lepas, pada amplop kecil berisi uang bonus yang basah di dalam tas, dan pada nama Lili yang tertulis di kuitansi rumah sakit.

Malam itu, Anisa menggenggam amplop itu seperti kesempatan terakhir.

Hujan turun seperti ditumpahkan dari langit ketika ia mengayuh sepeda menuju gedung kaca Tanujaya Group di SCBD. Kartu tambahannya sudah diblokir Bian, sopir rumah hanya bergerak atas izin Indira, dan sisa GoPay harus ia simpan untuk membawa Lili ke rumah sakit esok pagi. Maka malam itu, istri orang kaya pergi ke kantor suaminya dengan sepeda lipat tua.

Jas hujan plastik murahannya sudah sobek di bahu. Air masuk ke kerah, mengalir di punggungnya. Di keranjang depan, rantang stainless dibungkus plastik agar sup di dalamnya tidak tumpah.

Tadi sore, pemilik kios aromaterapi kecil dekat gereja memberinya bonus karena ia membantu meracik pesanan lilin. Sebagian uang itu sudah ia sisihkan untuk obat Lili. Sisanya ia pakai membeli ayam, jahe, dan sedikit daun bawang.

Seharusnya semua uang ia simpan untuk Lili. Tetapi ketika Bi Sari berkata Bian belum makan sejak siang, sesuatu yang lemah dalam diri Anisa masih bergerak. Mungkin jika Bian mengingat rasa sup itu, ia akan mau mendengar soal pemeriksaan Lili.

Kata mungkin membuat Anisa bertahan lebih lama dari yang seharusnya.

Di lampu merah dekat Sudirman, ponselnya bergetar di saku cardigan yang sudah basah. Pesan dari Bi Sari.

"Dek Lili sudah tidur. Tadi sempat tanya Papa pulang atau tidak."

Jemarinya dingin, tetapi ia tetap membalas.

"Bilang Mama jemput Papa sebentar."

Ia hampir menambahkan, "Bilang Papa sayang Lili." Namun ia menghapus kalimat itu. Ada kebohongan yang terlalu berat bahkan untuk dikirim lewat pesan.

Ketika sampai di depan gedung Tanujaya Group, jam di lobi menunjukkan pukul sebelas lewat dua puluh malam. Satpam memandang sepedanya, lalu rantang di tangannya. Istri Direktur Utama Tanujaya Group datang seperti kurir tersesat dalam hujan.

"Untuk Pak Bian," katanya kepada resepsionis malam.

Resepsionis mengenalinya. "Pak Bian masih di lantai tiga puluh delapan, Bu."

Anisa mengangguk. Ia ingin merapikan rambut, tetapi tangannya penuh. Maka ia memeluk rantang itu dan masuk ke lift dengan sandal yang meninggalkan jejak air.

Di pintu lift yang mengilap, bayangannya tampak asing. Rambut basah menempel di pipi, bibir pucat, mata cekung karena Lili demam. Dulu orang-orang di gedung ini memanggilnya Bu Anisa. Sekarang ia hanya berharap tidak ada yang melihat ia menggigil.

Lift berhenti.

Koridor eksekutif lantai tiga puluh delapan hampir kosong. Lampu menyala separuh, membuat bayangan panjang di lantai. Dari arah ruang kerja Bian, terdengar tawa pelan seorang wanita.

Langkah Anisa melambat.

Ia mengenal suara itu. Lembut, manja, seolah setiap kata sengaja dibungkus gula.

"Pak Bian, jangan kerja terus. Nanti sakit."

"Kamu juga belum pulang," suara Bian terdengar rendah. Tidak dingin. Tidak tajam. Hampir hangat.

Anisa berhenti di depan pintu yang tidak tertutup rapat.

Celahnya cukup lebar untuk memperlihatkan Bian duduk di sofa kulit dekat jendela. Di sampingnya, Meilan Susanto duduk terlalu dekat. Bahu wanita itu diselimuti jas hitam milik Bian, dan ia tertawa sambil merapikan dasi Bian yang miring.

Jari Anisa mengerat pada pegangan rantang.

Di tasnya, amplop bonus kecil itu masih basah. Di rumah, Lili tidur sambil menunggu ayahnya pulang. Di hadapannya, ayah itu sedang memberi jas kepada wanita lain.

Meilan mengangkat wajah. Matanya membesar, terlalu cepat, terlalu rapi. "Kak Anisa?"

Bian menoleh.

Tidak ada rasa bersalah di wajah suaminya. Tidak ada gerakan tergesa menjauh dari Meilan. Ia hanya mengerutkan kening, seakan Anisa adalah gangguan kecil di malam yang sudah melelahkan.

"Kamu ngapain ke sini?" tanyanya.

Pertanyaan itu lebih menyakitkan daripada pemandangan di depannya.

Anisa membuka bibir. Untuk sesaat ia ingin berkata, aku datang karena anakmu demam, karena aku butuh bicara soal tes darah, karena aku mengayuh sepeda dalam hujan membawa makanan dari bonus kecilku. Tetapi kata-kata itu terasa terlalu hina.

"Bi Sari bilang kamu belum makan," jawabnya akhirnya. "Aku buat sup."

Bian melihat rantang itu. "Aku sedang kerja."

"Aku bisa taruh di pantry."

"Tidak perlu." Suaranya datar. "Besok pagi saja kamu urus hal rumah. Jangan datang ke kantor tanpa bilang."

Meilan buru-buru berdiri, tetapi jas Bian masih melekat di bahunya. "Maaf, Kak. Tadi AC-nya dingin, Pak Bian cuma kasihan..."

Kasihan.

Kata itu hampir membuat Anisa tertawa. Bian bisa kasihan pada sekretarisnya yang kedinginan di ruangan ber-AC. Untuk Lili yang menggigil setelah kemoterapi, ia selalu punya alasan untuk tidak datang.

"Aku tidak bertanya padamu," kata Anisa pelan.

Senyum Meilan membeku.

Bian berdiri. "Anisa."

Hanya namanya. Namun dari cara ia mengucapkannya, Anisa tahu ia sedang diperingatkan agar tidak membuat keributan. Di kantor suaminya sendiri, di depan wanita lain yang memakai jas suaminya, ia masih harus menjaga muka keluarga Tanujaya.

Anisa menunduk sebentar. Air menetes dari ujung rambutnya ke lantai. Tetes kecil itu lebih jujur daripada semua orang di ruangan itu.

"Supnya aku bawa pulang," katanya.

Bian tidak menjawab.

Meilan menatapnya dengan mata berkaca-kaca yang terlalu mudah muncul. "Kak Anisa salah paham. Pak Bian dan aku cuma..."

Anisa berbalik sebelum wanita itu menyelesaikan kalimat.

Di lift turun, ia memeluk rantang itu lebih erat. Sup yang tadi masih hangat terasa berat seperti batu. Ketika pintu lift terbuka di lobi, hujan belum berhenti. GoPay-nya tinggal sedikit. Besok ia masih harus membawa Lili ke rumah sakit.

Ia mengayuh pulang.

Di jalan yang basah, lampu-lampu kota pecah menjadi garis panjang. Rantang di keranjang depan bergoyang setiap kali roda sepeda masuk lubang kecil. Air hujan membuat matanya perih. Ia tidak tahu bagian mana yang hujan dan bagian mana yang air mata.

Di Menteng, rumah keluarga Tanujaya masih terang.

Gerbang besi dibuka satpam. Mobil Bian belum ada. Tentu saja belum. Ia masih di kantor bersama Meilan. Atau mungkin setelah ini mereka akan makan malam. Pikiran itu membuat dada Anisa sesak, tetapi ia tidak punya tenaga untuk marah.

Bi Sari menyambutnya di dapur belakang. "Mbak Anisa, Pak Bian makan?"

Anisa menggeleng. "Belum lapar katanya."

Bi Sari melihat rambut dan bajunya yang kuyup. Wanita itu tidak bertanya lagi. Ia hanya mengambil rantang dari tangan Anisa dengan hati-hati, seolah sedang menerima sesuatu yang pecah.

"Dek Lili sudah tidur?"

"Sudah, Mbak. Tapi tadi sempat batuk."

Anisa langsung naik ke loteng.

Di kamar sempit itu, Lili tidur meringkuk di bawah selimut tipis. Wajahnya pucat. Di samping bantal, ada gambar krayon: seorang ayah, seorang ibu, seorang kakak laki-laki, dan seorang anak perempuan kecil sedang melihat kembang api.

Anisa duduk di tepi kasur. Tangannya yang dingin tidak berani menyentuh Lili. Ia menggosok jemarinya ke rok basah, lalu mencium kening putrinya.

"Mama pulang," bisiknya.

Lili bergerak pelan. "Papa pulang?"

Anisa menelan rasa sakit. "Belum, Sayang."

"Papa kerja?"

"Iya."

"Kerja terus biar bisa beli obat Lili?"

Pertanyaan itu polos, tetapi menghantam tepat di tempat yang paling sakit. Anisa mengusap pipi putrinya. "Papa punya banyak urusan."

Lili mengangguk seperti anak baik yang menerima semua alasan orang dewasa. "Kalau Papa pulang, bilang Lili mau peluk."

"Mama bilang."

"Jangan lupa."

"Tidak akan."

Setelah Lili tidur lagi, Anisa berjalan ke meja rias tua untuk mengambil pakaian kering. Di sana, ia melihat sebuah map cokelat yang tidak ada sebelumnya.

Di atasnya tertulis namanya: Anisa Wijaya.

Tangannya gemetar saat membuka map itu. Lembar pertama langsung membuat pandangannya kabur.

Surat Gugatan Cerai.

Di bagian bawah, sudah ada tanda tangan Bian.

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor Meilan.

"Kak, maaf soal tadi. Pak Bian cuma terlalu kasihan padaku. Semoga Kakak tidak marah, ya."

Anisa menatap layar itu lama sekali.

Di kasur, Lili batuk lagi.

Malam itu, Anisa tidak menangis keras. Ia hanya berdiri dengan baju basah menempel di tubuh, amplop bonus mengerut di dalam tas, surat cerai di tangan, dan batuk anaknya di belakang.

Kelak, ketika hidup mengambil jauh lebih banyak darinya daripada malam itu, Anisa akan mengingat satu hal dengan sangat jelas: sebelum hatinya benar-benar mati untuk Bian, ia pernah mengayuh sepeda menembus hujan hanya untuk membawa semangkuk sup yang bahkan tidak disentuhnya.

Episode 2

Bab 2: Hanya Sebuah Nama

Pagi di rumah Tanujaya selalu dimulai dengan suara yang rapi.

Sendok porselen menyentuh piring mahal, mesin kopi berdengung halus, Bi Sari memberi instruksi pelan kepada dua pembantu lain, dan dari taman belakang terdengar percikan air kolam. Rumah besar di Menteng itu tampak sempurna dari luar. Terlalu sempurna, sampai tidak ada tempat bagi orang yang sedang hancur.

Sepatu karet Anisa dari hujan semalam masih belum kering di sudut loteng. Rantang sup yang tidak disentuh Bian sudah dicuci Bi Sari, tetapi rasa malunya belum hilang.

Anisa turun dari loteng sambil menggandeng Lili. Putrinya memakai kardigan kuning pudar dan topi rajut kecil untuk menutupi rambut yang semakin tipis karena pengobatan. Lili berjalan pelan, tetapi ketika melihat meja makan besar, ia tetap tersenyum.

"Mama, Papa ada?"

Anisa menahan nyeri di dada. "Ada, Sayang."

Bian duduk di kursi utama, membaca berita bisnis di tabletnya. Di sebelahnya, Ziren, anak laki-laki berusia tujuh tahun, sedang menusuk sosis dengan garpu. Meilan juga ada di sana. Entah sejak kapan sekretaris itu punya hak duduk di meja makan keluarga pada pagi hari.

"Pagi, Kak Anisa," sapa Meilan manis.

Anisa tidak menjawab. Ia membantu Lili duduk di kursi paling ujung, jauh dari Bian.

Ziren menoleh. Begitu melihat Lili, wajahnya langsung berubah cemberut. "Kenapa dia makan di sini?"

Anisa menarik napas. "Ziren, ini rumah adikmu juga."

"Dia bukan adikku!" Ziren membanting garpu. "Tante Mei bilang Papa cuma sayang aku. Dia anak sakit. Nanti semua orang repot gara-gara dia."

Meilan langsung meletakkan tangan di dada. "Aduh, Dek Ren, Tante tidak pernah bilang begitu. Mungkin kamu salah dengar."

Ziren tidak peduli. Ia meraih gelas susu di depannya. Sebelum Anisa sempat bergerak, anak itu berdiri dan menuangkan susu ke pangkuan Anisa.

Cairan dingin meresap ke rok Anisa. Lili terpekik kecil.

"Ziren!" Anisa berdiri refleks.

Anak itu menunjuk wajahnya. "Kamu bukan Mama aku! Jangan sok-sok marah!"

Meilan buru-buru mengambil tisu. "Kak, maaf. Anak kecil memang belum mengerti."

Bian akhirnya mengangkat wajah dari tablet. Ia melihat rok Anisa yang basah, Ziren yang masih memegang gelas kosong, lalu Lili yang ketakutan. Wajahnya tidak berubah.

"Ziren, jangan ribut," katanya singkat.

Hanya itu.

Anisa menunggu satu kalimat lain. Minta maaf pada Mama. Jangan memperlakukan orang seperti itu. Apa pun. Tetapi Bian sudah kembali melihat tablet.

Lili turun dari kursinya dan memegang ujung baju Anisa. "Mama basah."

"Tidak apa-apa," jawab Anisa pelan.

Meilan mengulurkan tisu. "Kak Anisa, jangan marah pada Dek Ren. Dia masih kecil. Lagi pula, mungkin dia cuma kangen perhatian Kakak. Selama ini Kakak kan lebih sibuk sama Lili."

Kalimat itu terdengar lembut, tetapi isinya tajam. Anisa menatap Meilan. Wanita itu tersenyum dengan mata yang tampak polos.

"Meilan," kata Anisa, "kalau kamu benar-benar peduli pada anak kecil, kamu tidak akan memakai mulut anak kecil untuk menyakiti orang lain."

Meilan terdiam.

Bian meletakkan tabletnya dengan keras. "Anisa, cukup."

Anisa tertawa pendek. Bukan karena lucu, melainkan karena ia sudah terlalu lelah. "Cukup? Yang cukup itu apa, Bian? Aku yang basah kuyup di meja makan, atau kamu yang bahkan tidak bisa menyuruh anakmu meminta maaf?"

Wajah Bian mengeras. "Jangan mulai drama pagi-pagi."

Drama.

Kata itu menampar Anisa lebih dingin daripada susu di roknya.

Senyumnya nyaris runtuh, tetapi Lili masih menatapnya.

Ia menggandeng Lili. "Ayo, Sayang. Kita makan di atas."

Ziren berteriak dari belakang, "Memang tempat kalian di atas! Di loteng!"

Tidak ada yang menegur.

Anisa membawa Lili naik tangga. Di tengah jalan, ia mendengar Meilan berkata pelan, cukup keras untuk didengar, "Kasihan Pak Bian. Di rumah sendiri pun tidak tenang."

Di kamar loteng, Anisa mengganti rok basahnya. Lili duduk di kasur sambil memegang gambar kembang api yang semalam ia buat. Mata kecilnya basah, tetapi ia berusaha tidak menangis.

"Mama, Koko Ziren benci Lili?"

Anisa berlutut di depan putrinya. "Koko Ziren sedang bingung. Kadang orang dewasa mengatakan hal buruk, lalu anak kecil menirunya."

"Papa juga benci Lili?"

Pertanyaan itu membuat Anisa kehilangan suara.

Ia memeluk Lili. Tubuh kecil itu terlalu ringan. Tulangnya terasa jelas di bawah kardigan. Anisa memejamkan mata, menahan sesuatu yang hendak pecah.

"Mama sayang Lili," jawabnya. "Itu yang paling penting."

Setelah Lili tertidur lagi karena lelah, Anisa mengambil ponsel. Ia membuka ruang chat dengan Dewi Pranoto, kakak tingkatnya di UI yang selama ini menjadi satu-satunya tempat ia curhat tanpa dihakimi.

Jarinya sempat berhenti di atas tombol rekam.

Di rumah ini, ia selalu diajari untuk diam. Menjaga nama baik keluarga. Tidak mempermalukan suami. Tidak membuat masalah menjadi besar. Tetapi diam tidak pernah menyelamatkannya. Diam hanya memberi ruang lebih luas bagi orang lain untuk menginjaknya.

Anisa menekan tombol rekam.

"Kak Dewi..." Suaranya pecah sejak kata pertama. Ia cepat-cepat menutup mulut, takut Lili bangun.

Ia mencoba lagi.

"Kak, aku sudah tidak kuat lagi. Pagi ini Ziren menuangkan susu ke bajuku. Bian melihat, tapi tidak melakukan apa-apa. Meilan ada di meja makan, seolah dia bagian dari rumah ini. Aku... aku tahu aku kembali ke sini demi Lili, tapi kadang aku takut, Kak. Takut aku tidak sempat menyelamatkan anakku."

Pesan suara terkirim.

Tidak sampai satu menit, Dewi membalas.

"Nis, dengarkan aku. Kamu tidak sendirian. Nanti siang aku telepon. Sekarang peluk Lili dulu. Tarik napas. Satu-satu kita cari jalan."

Anisa menatap pesan itu. Air matanya jatuh diam-diam.

Sebelum ia sempat membalas, ponselnya berdering. Nomor rumah sakit.

Jantung Anisa langsung mencelos.

"Halo?"

Suara perawat di seberang terdengar tegang. "Ibu Anisa? Bisa segera datang ke RS Pondok Indah? Putri Anda perlu diperiksa ulang hari ini. Dokter Hendra menunggu."

Anisa berdiri terlalu cepat sampai kepalanya berkunang-kunang.

"Ada apa dengan Lili?"

Perawat itu diam sesaat.

"Lebih baik Ibu datang sekarang."

Anisa menurunkan ponsel dengan tangan gemetar. Ia tidak langsung bergerak. Selama beberapa detik, tubuhnya seperti lupa cara berjalan. Di atas kasur, Lili masih tidur dengan wajah damai, sama sekali tidak tahu bahwa satu panggilan telepon sudah cukup membuat dunia ibunya jungkir balik.

Ia mengambil tas kecil berisi kartu identitas, buku kontrol rumah sakit, dan botol obat yang selalu disiapkan di laci. Gerakannya cepat tetapi kacau. Dua kali ia menjatuhkan kunci, sekali hampir lupa membawa masker cadangan Lili. Ketika Bi Sari muncul di pintu karena mendengar suara tergesa, Anisa sudah menggendong Lili yang terbangun kebingungan.

"Mbak, kenapa?"

"Rumah sakit telepon. Saya harus ke sana."

Bi Sari langsung mengambil jaket kecil Lili. "Saya panggil sopir?"

Anisa hampir berkata iya, lalu teringat bahwa sopir keluarga hanya bergerak atas perintah Bian atau Indira. Jika ia membangunkan Indira, pagi ini akan berubah menjadi sidang lain. Ia menggeleng.

"Saya pesan Grab."

"Mbak, biar saya ikut."

"Tidak perlu, Bi. Kalau ada yang tanya, bilang Lili kontrol mendadak."

Bi Sari menahan air mata. "Hati-hati, Mbak."

Di bawah, ruang makan sudah kosong. Susu yang tumpah tadi sudah dibersihkan, seolah penghinaan itu tidak pernah terjadi. Hanya bau sabun lantai yang tersisa. Anisa melewati meja itu dengan Lili di pelukan, dan untuk sesaat ia melihat kursi Bian yang kosong.

Sungguh mudah bagi mereka menghilang setelah melukai.

Mobil Grab datang delapan menit kemudian. Di perjalanan, Lili bersandar di dada Anisa.

"Mama, kita ke Dokter Kakak?"

"Iya."

"Lili nakal ya? Makanya sakit lagi?"

Anisa langsung memeluknya lebih erat. "Tidak. Lili tidak nakal."

"Koko bilang Lili bikin repot."

Anisa menahan napas. Kata-kata yang ditanam Meilan sudah tumbuh di tubuh sekecil ini. "Lili bukan repot. Lili anak Mama."

"Kalau Lili sakit terus, Mama capek?"

"Capek boleh. Menyesal tidak."

Lili tampak tidak sepenuhnya mengerti, tetapi ia tersenyum kecil. "Lili senang jadi anak Mama."

Anisa menoleh ke jendela agar sopir tidak melihat air matanya. Jalanan pagi Jakarta mulai padat. Bagi dunia, hari ini hanya pagi lain. Bagi Anisa, ini mungkin pagi ketika ia mendengar berapa banyak waktu yang masih dimiliki anaknya.

Episode 3

Bab 3: Darah yang Tidak Pernah Cukup

Bau antiseptik di RS Pondok Indah selalu membuat Anisa ingin muntah.

Bukan karena baunya terlalu tajam. Ia sudah mengenal bau itu selama berbulan-bulan. Justru karena terlalu akrab. Bau itu menempel pada rambut Lili, pada baju tidur kecilnya, pada selimut yang Anisa bawa pulang untuk dicuci. Bau rumah sakit perlahan menggantikan bau anak-anak yang seharusnya penuh minyak telon, sabun bayi, dan permen susu.

Di tas Anisa, kuitansi obat dari uang bonus semalam masih terlipat basah. Angkanya kecil, tetapi mengingatkannya bahwa setiap napas Lili selalu harus dibeli.

Pagi itu Lili duduk di ranjang pemeriksaan dengan kaki menggantung. Ia memeluk boneka kelinci lusuh, hadiah dari Dokter Hendra saat pertama kali ia menjalani kemoterapi. Wajahnya pucat, tetapi begitu melihat Anisa masuk, ia langsung tersenyum.

"Mama datang cepat sekali."

Anisa memaksa senyum. "Mama naik ojek online paling kencang."

"Ngebut?"

"Sedikit."

Lili tertawa pelan, lalu batuk. Batuknya tidak keras, tetapi cukup membuat bahu kecilnya bergetar. Anisa langsung mengambil tisu. Tidak ada darah kali ini, tetapi ketakutan sudah lebih dulu naik ke tenggorokannya.

Pintu ruangan terbuka. Dokter Hendra Simatupang masuk membawa map hasil pemeriksaan. Ia masih memakai jas putih, rambutnya sedikit berantakan, mungkin karena sejak pagi sudah berkeliling bangsal.

"Selamat pagi, Lili."

"Pagi, Dokter Kakak."

Hendra tersenyum, tetapi senyumnya tidak sampai ke mata. Anisa menangkap itu dan lututnya melemas.

"Bu Anisa, bisa bicara sebentar di luar setelah saya periksa Lili?"

Anisa mengangguk.

Pemeriksaan berlangsung singkat. Hendra bertanya apakah Lili masih pusing, apakah demamnya turun, apakah mimisan lagi. Lili menjawab dengan suara kecil, sesekali melirik Anisa seperti ingin memastikan ibunya tidak khawatir.

"Lili anak hebat," kata Hendra sambil menempelkan stetoskop. "Napas panjang, ya."

Lili menarik napas. Setelah selesai, ia berbisik, "Kalau Lili hebat, boleh pulang?"

Hendra terdiam sepersekian detik. "Kita lihat dulu, ya."

Jawaban itu cukup bagi Anisa untuk tahu.

Di lorong, suara langkah orang lewat terdengar terlalu ramai. Anisa berdiri menghadap jendela besar yang memperlihatkan halaman rumah sakit. Di bawah sana, mobil-mobil mewah berhenti bergantian. Sopir membuka pintu. Orang-orang masuk dengan tas branded dan wajah cemas yang tetap terawat.

"Bu Anisa," Hendra memulai hati-hati, "hasil darah Lili memburuk."

Anisa sudah menduga, tetapi tubuhnya tetap dingin. "Seberapa buruk?"

Hendra membuka map. Ia tidak menyodorkan angka-angka itu langsung. Mungkin ia tahu angka tidak akan membantu ibu yang sedang berusaha bernapas.

"Sel blast meningkat. Transfusi bisa membantu sementara, tapi bukan solusi. Kemoterapi terakhir tidak memberi respons yang kita harapkan."

"Jadi?"

"Kita harus mempercepat transplantasi sumsum tulang."

Kata itu jatuh seperti pintu besi.

Anisa menggenggam ujung cardigan. "Saya sudah minta Bian. Dia belum setuju."

Hendra menatapnya. Dalam tatapan dokter itu ada kemarahan yang ditahan, tetapi suaranya tetap profesional. "Saya perlu bicara langsung dengan Pak Bian. Secara medis, donor dari saudara kandung adalah kandidat yang paling perlu diperiksa dulu. Tes HLA tidak berarti langsung donor. Kita hanya mencari kecocokan."

"Dia bilang ada risiko untuk Ziren."

"Setiap prosedur ada risiko, tapi tes awal hanya pengambilan sampel darah. Saya bisa jelaskan semua."

Anisa tertawa hampa. "Dia tidak mau mendengar penjelasan saya."

"Kalau begitu biarkan saya yang menjelaskan."

Anisa menunduk. Di balik pintu kaca, Lili sedang menyusun boneka kelincinya di atas bantal. Anak itu bahkan tidak tahu tubuhnya sedang berlomba melawan waktu.

"Berapa lama, Dok?" tanya Anisa lirih.

Hendra tidak langsung menjawab.

Itulah jawaban paling jujur.

Ujung jari Anisa mendadak dingin.

"Kalau tidak ada transplantasi, kita bicara dalam hitungan bulan. Mungkin lebih cepat kalau infeksi datang lagi."

Anisa merasa lantai bergerak. Ia memegang dinding. Hendra refleks mengulurkan tangan, tetapi tidak menyentuh sebelum Anisa mengangguk. Sikap kecil itu membuat air mata Anisa hampir tumpah. Ia sudah terlalu lama hidup di rumah di mana tubuh dan perasaannya tidak pernah diminta izin.

"Maaf," katanya.

"Tidak perlu minta maaf."

Anisa menarik napas panjang. "Saya akan coba lagi."

"Saya ikut."

"Bian tidak suka orang luar ikut campur."

"Kalau menyangkut pasien saya, saya harus ikut campur."

Ketegasan Hendra membuat Anisa terdiam. Untuk sesaat, ia ingin menangis bukan karena sedih, tetapi karena ada seseorang yang menganggap nyawa Lili cukup penting untuk diperjuangkan.

Mereka kembali ke ruangan. Lili langsung mengangkat gambar kecil dari buku mewarnai. "Mama, lihat. Ini Lili gambar bunga."

Anisa duduk di sampingnya. "Cantik sekali."

"Nanti kalau Lili sudah sembuh, Mama bikin parfum yang wanginya seperti bunga ini, ya?"

"Iya."

"Terus Papa cium juga. Biar Papa suka."

Anisa membeku.

Hendra yang berdiri di dekat pintu menundukkan kepala. Mungkin ia pura-pura membaca catatan agar tidak melihat air mata Anisa.

Anisa mengusap pipi Lili. "Sayang, Papa pasti suka kalau Lili yang pilih."

Lili tersenyum puas. "Koko Ziren juga. Biar Koko nggak marah-marah."

Di luar ruangan, seorang anak tertawa. Di dalam, Anisa merasakan hatinya remuk semakin halus. Lili masih ingin menyatukan keluarga yang bahkan tidak pernah benar-benar memberinya tempat.

Ia menggigit bagian dalam bibirnya sampai terasa asin.

Sore harinya, setelah Lili tertidur, Hendra menyerahkan surat rekomendasi pemeriksaan HLA untuk keluarga inti. "Bawa ini ke Pak Bian. Kalau perlu, saya siap datang ke rumah."

Anisa menerima map itu dengan kedua tangan.

Kertas putih itu tipis, tetapi beratnya seperti satu-satunya tali yang tersisa.

Saat ia keluar dari rumah sakit, langit Jakarta sudah mulai gelap. Anisa membuka aplikasi untuk memesan Grab, tetapi ponselnya bergetar sebelum ia sempat mengetik tujuan.

Nama Bian muncul di layar.

Untuk pertama kalinya hari itu, Anisa merasa ada harapan kecil.

Ia mengangkat cepat. "Bian, aku memang mau bicara soal Lili."

Di seberang, suara Bian terdengar dingin.

"Aku ada meeting sampai malam. Jangan ganggu kalau bukan urusan penting."

Anisa menatap map di tangannya.

"Ini soal nyawa anakmu."

Sebelum Bian menjawab, sambungan di ujung sana terdengar seperti berpindah tempat. Ada suara pintu tertutup, lalu keheningan yang lebih privat. Anisa berdiri di depan pintu keluar rumah sakit, map pemeriksaan menempel di dadanya, dan menunggu. Ia membenci dirinya karena masih menunggu dengan harapan.

"Aku sudah bilang jangan membahas ini lewat telepon," kata Bian akhirnya.

"Kalau aku menunggu kamu punya waktu, Lili mungkin tidak punya waktu lagi."

"Kamu selalu memojokkan aku."

Anisa memandang pintu kaca rumah sakit. Di pantulannya, ia melihat wajah perempuan yang lelah, rambut berantakan, mata merah. Apakah ini wajah seseorang yang sedang memojokkan pria kaya dan berkuasa? Atau wajah seseorang yang sudah terlalu lama terpojok?

"Aku tidak memojokkanmu. Aku memohon."

"Memohon dengan nada seperti itu?"

"Nada seperti apa yang kamu mau dari ibu yang baru diberi tahu anaknya bisa mati dalam hitungan bulan?"

Bian diam.

Di belakang Anisa, seorang perawat mendorong kursi roda. Seorang anak laki-laki di kursi roda tertawa karena ayahnya membuat wajah lucu. Anisa menatap mereka sebentar, iri pada hal sesederhana ayah yang hadir.

"Aku bisa kirim hasil pemeriksaan ke emailmu," lanjut Anisa. "Dokter Hendra juga bersedia bicara kapan pun."

"Aku tidak suka dokter itu terlalu ikut campur."

"Dia ikut campur karena dia dokter Lili."

"Atau karena dia terlalu peduli padamu?"

Anisa tercekat. Di titik hidup dan mati, Bian masih sempat cemburu pada orang yang membantu anaknya.

"Kamu dengar dirimu sendiri?" tanyanya pelan.

"Aku dengar istriku terus menyebut nama pria lain."

"Karena pria itu satu-satunya yang menjelaskan kondisi Lili kepadaku dengan manusiawi."

Kalimat itu keluar lebih tajam daripada yang ia rencanakan. Tetapi setelah terucap, Anisa tidak menyesalinya.

Bian berkata dengan suara rendah, "Pulang. Kita bicara di rumah."

"Bicaralah sekarang. Aku butuh jawaban."

"Aku tidak bisa memberi keputusan soal Ziren hanya karena kamu panik."

"Ini bukan panik. Ini hasil lab."

"Aku akan lihat nanti."

"Nanti kapan?"

Tidak ada jawaban jelas. Hanya napas jengkel. Anisa tahu pola itu. Bian akan menunda, menghindar, lalu menyebutnya cerewet ketika ia bertanya lagi.

"Bian," katanya, "kalau kamu menolak, katakan menolak. Jangan sembunyikan kekejaman di balik kata nanti."

Sambungan itu hening. Lalu suara Bian menjadi dingin sepenuhnya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!