Indonesia
NovelToon NovelToon

Kontrak Cinta Sang Kepala Pelayan

Bab 1 (Toga dan Kain pel)

Gulungan ijazah S1 Akuntansi dengan predikat Cum Laude itu tergeletak tak berdaya di atas meja kayu yang sudah lapuk. Di sampingnya, selembar kertas tagihan rumah sakit berwarna merah menyala tampak jauh lebih perkasa. Angka di sana berdigit sembilan, lengkap dengan tenggat waktu pembayaran yang tinggal tiga hari lagi.

Arini menghela napas panjang, menatap bayangan dirinya di cermin lemari yang retak. Hari ini dia tidak memakai blazer hitam rapi khas wanita karier yang diimpikannya sejak kuliah. Hari ini, dia memakai kemeja denim longgar dan celana kain yang nyaman untuk bergerak aktif.

Ijazah bernilai tinggi itu tidak bisa mencairkan uang ratusan juta dalam semalam. Namun, sebuah lowongan kerja di agensi penyalur rumah tangga premium bisa.

"Pekerjaannya berat, Arini. Tapi gajinya setara manajer senior di bank multi-nasional," kalimat kepala agensi kemarin sore masih terngiang di telinganya. "Syaratnya cuma satu: kamu harus punya ketahanan mental baja. Majikanmu ini... bukan manusia biasa.”

Dua jam kemudian, Arini sudah berdiri di depan pintu ganda sebuah penthouse mewah di lantai paling atas kawasan Sudirman. Jantungnya berdegup kencang saat menekan bel. Begitu pintu terbuka, kemewahan yang dingin langsung menyergap indra penglihatannya. Rumah itu didominasi warna hitam, abu-abu, dan putih. Bersih tanpa cela, namun terasa mati. Seperti pemiliknya.

"Kamu pelayan baru yang dikirim agensi?"

Suara bariton yang berat dan sedingin es itu membuat Arini refleks menegakkan posisi berdiri. Di hadapannya, seorang pria tinggi dengan setelan jas abu-abu gelap tanpa dasi sedang menatapnya tajam. Matanya sepekat malam, tanpa ada binar ramah sedikit pun. Adrian. CEO muda yang namanya kerap muncul di majalah bisnis, kini berdiri hanya berjarak dua meter darinya.

"Benar, Tuan. Nama saya Arini," jawab Arini, berusaha menjaga suaranya tetap stabil dan profesional.

Adrian tidak menjawab. Ia berjalan mengitari Arini, memperhatikannya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan menilai yang membuat tidak nyaman. Pandangan Adrian berhenti pada jemari tangan Arini yang bersih dan halus, tidak seperti tangan pekerja kasar pada umumnya.

"Lulusan S1 Akuntansi dari universitas negeri ternama," ucap Adrian datar, membaca selembar kertas CV di tangannya. Ia mendengus meremehkan. "Kenapa seorang sarjana mau mengurus cucian dan memegang kain pel di rumah saya? Kamu sedang merencanakan sesuatu? Mengincar sesuatu dari saya?"

Tuduhan langsung itu membuat darah Arini berdesir panas. Sifat aslinya yang tegas hampir saja membuatnya membalas dengan ketus, namun bayangan wajah ibunya yang pucat di bangsal rumah sakit langsung meredam egonya.

Arini menatap tepat ke manik mata Adrian yang membeku.

"Saya mengincar gaji yang Tuan tawarkan. Sangat besar, dan saya membutuhkannya untuk biaya pengobatan ibu saya. Logika akuntansi saya sederhana, Tuan: Anda butuh rumah yang rapi, saya butuh uang Anda. Saling menguntungkan. Tidak ada motif lain."

Adrian menaikkan satu alisnya. Untuk pertama kalinya, ada pelayan yang berani menatap matanya langsung dan berbicara dengan artikulasi sejelas itu. Sudut bibirnya terangkat tipis, sangat tipis hingga hampir tak terlihat, membentuk senyuman sinis.

"Baik. Kita lihat berapa lama otak sarjanamu itu bisa bertahan di sini," ucap Adrian dingin sambil melemparkan sebuah buku catatan tebal ke atas meja marmer.

"Itu daftar 150 aturan yang harus kamu patuhi di rumah ini. Satu kesalahan kecil, kamu angkat kaki tanpa pesangon."

Tanpa menunggu jawaban Arini, Adrian berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan keheningan yang mencekam di dalam ruangan. Arini menatap buku aturan itu, lalu mengembuskan napas perlahan. Perang baru saja dimulai.

Bab 2 (Aturan No 14)

Matahari bahkan belum sepenuhnya terbit saat Arini sudah berdiri di dapur bersih berlapis marmer hitam milik Adrian. Di tangannya, buku catatan berisi 150 aturan pemberian Adrian sudah terbuka.

Aturan Nomor 14 : Kopi hitam harus disajikan tepat pukul 06.00 WIB. Suhu air saat penyeduhan wajib berada di angka 92 derajat celsius. menggunakan biji kopi arabica single-origin gayo, digiling dengan tingkat kehalusan medium. Terlambat satu menit atau suhu tidak akurat, kopi dibuang.

Arini menatap termometer digital yang sengaja ia bawa dari rumah. Logika akuntansinya yang terbiasa dengan angka presisi kini ia terapkan pada secangkir kafein. Tepat pukul 05.59, ia menuangkan kopi ke dalam cangkir porselen putih, lalu melangkah menuju ruang kerja Adrian.

Tok! Tok!

"Masuk," terdengar suara dingin dari dalam.

Arini membuka pintu. Adrian sudah rapi dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. Di bawah sorot lampu meja, wajahnya tampak sekaku patung pahatan. Arini meletakkan cangkir kopi di sisi kanan meja, tepat pada jarak sepuluh sentimeter dari laptop—sesuai aturan nomor 22.

Adrian melirik jam tangannya. Pukul 06.00 tepat. Ia mengambil cangkir, menyesapnya sedikit, lalu terdiam. Tidak ada makian, tidak ada kopi yang disemburkan. Pria itu hanya meletakkan kembali cangkirnya tanpa ekspresi.

"Hari ini, selain membersihkan seluruh lantai, saya mau kamu merapikan ruang arsip pribadi saya di lantai dua," ucap Adrian tanpa menatap Arini. Matanya terfokus pada layar laptop. "Semua laporan keuangan dan nota pengeluaran rumah tangga selama lima tahun terakhir berantakan karena pelayan sebelumnya. Selesaikan sebelum jam lima sore."

Arini tahu ini adalah jebakan untuk membuatnya dipecat. Merapikan arsip lima tahun dalam waktu kurang dari dua belas jam adalah hal yang mustahil untuk ukuran pelayan biasa. Namun, Adrian lupa satu hal: dia sedang menantang seorang lulusan terbaik jurusan akuntansi.

"Baik, Tuan. Sesuai perintah Anda," jawab Arini tenang sebelum mengundurkan diri.

Ketika Arini membuka pintu ruang arsip, debu tipis menyambutnya. Berkotak-kotak dokumen menumpuk tanpa kategori. Bukannya panik, mata Arini justru berbinar. Ini adalah zona nyamannya. Angka, laporan, dan pengarsipan adalah makanan sehari-harinya selama empat tahun di bangku kuliah.

Arini segera mengikat rambutnya tinggi-tinggi. Ia tidak hanya merapikan kertas-kertas itu ke dalam map, tetapi juga menyalakan laptop tua di sudut ruangan. Ia membuat sistem database digital baru menggunakan Microsoft Excel, lengkap dengan rumus VLOOKUP dan grafik pengeluaran yang rapi.

Waktu berlalu cepat. Arini bekerja tanpa lelah, mengabaikan rasa lapar yang mulai menyerang perutnya.

Tepat pukul 16.45, langkah kaki terdengar mendekat. Adrian masuk dengan kedua tangan di dalam saku celana. Ia bersiap untuk melihat kekacauan dan memberikan surat pemecatan. Namun, langkahnya terhenti di ambang pintu.

Ruangan itu bersih total. Kotak-kotak kardus sudah hilang, digantikan oleh deretan binder berwarna sesuai tahun anggaran yang berbaris rapi di rak.

Arini berdiri di samping meja, menyerahkan sebuah tablet milik rumah tangga yang sudah menampilkan sebuah berkas digital.

"Semua arsip fisik sudah dikategorikan berdasarkan kode akun pengeluaran, Tuan. Saya juga sudah memindahkan datanya ke bentuk digital," ujar Arini profesional.

"Selain itu, saya menemukan ada selisih pencatatan sebesar dua belas persen pada biaya perawatan penthouse tahun lalu. Agensi pemeliharaan AC Anda melakukan mark-up harga. Semua bukti salah hitung mereka sudah saya tandai dengan warna merah di laporan ini."

Adrian terpaku. Ia mengambil tablet itu dari tangan Arini. Jarinya menggeser layar, membaca analisis keuangan rumah tangganya yang dibuat dengan sangat struktur, rapi, dan tajam—bahkan jauh lebih baik dari hasil kerja beberapa staf magang di kantornya.

Mata elang Adrian beralih menatap Arini yang tampak kelelahan dengan peluh di dahinya, namun sepasang mata gadis itu memancarkan rasa percaya diri yang tidak bisa dipatahkan. Untuk pertama kalinya, sang es kutub utara merasakan sesuatu yang asing berdesir di dadanya. Pelayan di hadapannya ini... benar-benar berbahaya untuk ketenangan hidupnya.

"Kerja bagus," ucap Adrian pendek, menyembunyikan rasa terkejutnya di balik suara datarnya yang dingin.

"Tapi jangan besar kepala. Ini baru hari pertama."

Adrian berbalik pergi, namun dalam hatinya, ia tahu bahwa keputusannya membawa Arini ke rumah ini akan mengubah banyak hal.

Bab 3 (Negosiasi di Balik Pintu Tertutup)

Baru satu minggu Arini bekerja sebagai kepala pelayan di penthouse mewah itu, sebuah badai besar datang tanpa peringatan. Malam itu hujan deras mengguyur kota Jakarta. Adrian baru saja pulang dari kantor dengan wajah yang jauh lebih kusut dan aura yang lebih dingin dari biasanya. Belum sempat Arini membuatkan teh hangat untuk majikannya, pintu ganda penthouse mendadak terbuka kasar menggunakan kunci cadangan.

Seorang pria tua berambut putih dengan tongkat berkepala perak melangkah masuk dengan langkah tegas. Di belakangnya, dua pengawal berbadan tegap menjaga pintu. Beliau adalah Wijaya, kakek Adrian sekaligus pemilik tunggal Wijaya Group—pria paling disegani di dunia bisnis nasional.

"Kakek? Kenapa datang malam-malam begini tanpa memberi tahu sekretarisku?" Adrian refleks berdiri dari sofa, suaranya yang biasa dingin kini terdengar sedikit tegang.

"Kalau Kakek tidak datang mendadak, kamu pasti akan terus menunda pernikahanmu dan sibuk di kantor!" suara sang Kakek menggelegar, mengalahkan bunyi guntur di luar. "Batas waktumu habis, Adrian. Besok pagi Kakek akan mengadakan rapat umum pemegang saham untuk mengumumkan sepupumu, Baskoro, sebagai CEO baru. Kakek tidak bisa memercayakan masa depan perusahaan pada pria yang bahkan tidak punya niat untuk membangun keluarga!"

Arini yang sedang memegang nampan di dekat dapur bersih seketika membeku. Ia berniat mundur perlahan ke kamarnya di area belakang agar tidak ikut campur urusan keluarga konglomerat ini. Namun, langkah kakinya membuat lantai kayu sedikit berderit.

Mata tajam Kakek Wijaya langsung tertuju pada Arini. Beliau mengernyit melihat Arini yang hanya memakai kemeja denim dan celana kain biasa. "Siapa wanita ini? Pelayan baru lagi yang akan kamu pecat minggu depan?"

Adrian melirik Arini, lalu beralih menatap Kakeknya. Otak bisnisnya yang penuh kalkulasi berputar cepat dalam hitungan detik untuk mencari jalan keluar darurat. Baskoro adalah pria yang licik; jika posisi CEO jatuh ke tangannya, seluruh kerja keras Adrian selama bertahun-tahun akan hancur. Dalam situasi terdesak itu, Adrian mengambil keputusan paling nekat dalam hidupnya.

"Bukan. Dia bukan pelayan," potong Adrian cepat. Ia melangkah lebar mendekati Arini, lalu tanpa permisi, merangkul pundak gadis itu dengan erat. Bersentuhan sedekat ini membuat tubuh Arini menegang sempurna karena terkejut. "Dia Arini. Calon istriku."

Arini membelalakkan matanya, menatap Adrian dengan pandangan tidak percaya. Namun, cengkeraman tangan Adrian di pundaknya semakin mengencang, memberi kode keras agar Arini diam dan mengikuti permainan.

Kakek Wijaya berjalan mendekat, menatap Arini dari dekat dengan pandangan mengintimidasi sebelum akhirnya tersenyum puas mendengarkan gaya bicara Arini yang tenang saat menjawab pertanyaan jebakannya. Setelah memberikan ancaman final agar mereka segera mengumumkan pernikahan, sang Kakek pergi meninggalkan penthouse.

Begitu pintu tertutup rapat, Arini langsung menyentak tangan Adrian dari pundaknya. "Tuan Adrian! Anda sudah gila, ya?! Calon istri? Anda berbohong pada Kakek Anda sendiri dan menyeret saya ke dalam pusaran masalah keluarga Anda!"

Adrian tidak langsung menjawab. Ia berjalan menuju meja bar, menuangkan air putih ke dalam gelas, lalu meminumnya hingga tandas. Sifatnya yang dingin kembali mengambil alih.

"Itu adalah satu-satunya jalan keluar logis untuk situasi tadi, Arini," ucap Adrian datar. "Kakekku serius dengan ancamannya. Kehilangan jabatan berarti aku tidak bisa mengelola asetku lagi. Jadi, mari kita bicarakan keuntungan untukmu. Berapa biaya total operasi dan perawatan ibumu di rumah sakit?"

Pertanyaan itu seketika menusuk ulu hati Arini. Kemarahan gadis itu meredup, digantikan oleh rasa sesak. "Dua ratus juta rupiah. Dan pihak administrasi memberi tenggat waktu sampai besok pagi, atau operasi ibu saya dibatalkan."

Adrian mengangguk pelan, seolah angka itu tidak ada artinya. Ia melangkah ke ruang kerjanya, mengambil sebuah laptop, lalu mulai mengetik dengan cepat di atas meja marmer sebelum mencetaknya ke selembar kertas bermeterai.

"Mari kita buat kesepakatan bisnis yang saling menguntungkan," ujar Adrian sambil menyodorkan draf kertas itu kepada Arini. "Aku akan melunasi seluruh biaya rumah sakit ibumu malam ini juga melalui transfer langsung. Sebagai gantinya, kamu harus menandatangani kontrak pernikahan bersamaku selama dua belas bulan ke depan."

Arini menunduk, membaca baris demi baris teks kontrak dengan kacamata analisis akuntansinya. Pasal-pasal di sana tertulis sangat jelas: pernikahan ini murni demi reputasi publik, Adrian menanggung biaya medis keluarga Arini, Arini akan mendapatkan sebuah rumah setelah satu tahun bercerai, dan aturan mutlak yang paling bawah: Kedua belah pihak dilarang keras melibatkan perasaan.

Arini terdiam cukup lama. Harga diri sarjananya berteriak untuk menolak menjadi istri pajangan, namun kenyataan bahwa nyawa ibunya sedang dipertaruhkan jauh lebih berharga daripada egonya sendiri.

"Bagaimana dengan tempat tinggal? Kakek Anda pasti akan curiga jika kita tidak tinggal bersama," tanya Arini, suaranya mulai bergetar.

"Kamu akan pindah dari kamar belakang ke kamar utama bersamaku mulai malam ini," jawab Adrian tenang. "Kita harus terlihat seperti pasangan suami istri baru pada umumnya di depan mata-mata Kakek. Tapi tenang saja, kasurku cukup luas. Kita akan beri pembatas guling di tengahnya. Jangan melewati garis itu satu sentimeter pun."

Arini menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang menggila. Ia menatap Adrian yang memasang wajah tanpa ekspresi seperti es kutub utara.

"Baik. Demi ibu saya, saya terima kesepakatan ini, Tuan Adrian," ucap Arini mantap. Ia mengambil pulpen, lalu membubuhkan tanda tangannya di atas kertas kontrak tersebut dengan tangan yang sedikit gemetar.

Adrian mengambil kembali kertas itu, menatap tanda tangan Arini, lalu menyunggingkan senyum tipis yang misterius. "Pilihan yang cerdas, Nona Arini. Selamat datang di dunia kontrak."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!