Bab 1
Pengantin yang Tak Diinginkan
Koper tua itu turun dari bagasi Grab.
Rodanya sudah pincang sebelah. Saat Senja menariknya melewati aspal depan gerbang, koper itu mengeluarkan bunyi seret yang kasar, seperti kuku menggaruk lantai. Sopir Grab menoleh lewat kaca spion, ragu apakah ia harus membantu. Tapi setelah melihat pagar besi berkarat di depan mereka dan rumah besar yang tampak seperti lama ditinggalkan, ia memilih cepat-cepat menekan tombol selesai di aplikasinya.
"Mbak, sudah ya."
Senja mengangguk. "Iya, Pak. Terima kasih."
Mobil itu pergi, meninggalkan bau bensin tipis dan debu yang naik di belakang ban.
Tubuh 110 kilogramnya terasa seperti beban yang sengaja diikatkan ke setiap tulang. Kaus longgar yang ia pakai menempel basah di punggung. Napasnya pendek hanya karena menurunkan koper dari mobil dan berjalan tiga langkah ke depan pagar. Di layar ponsel, sinyal tinggal satu garis, naik turun seperti ikut ragu berada di tempat ini.
Ia menekan tombol voice note untuk Mira.
"Mir, aku udah sampai." Suaranya keluar lebih serak dari yang ia kira. "Rumahnya... kayak haunted house. Kalau besok aku nggak bales chat, tolong jangan nunggu tiga hari buat panik."
Ia melepas tombol kirim sebelum suaranya pecah.
Di hadapannya, rumah itu berdiri di kawasan Kemang yang seharusnya mahal. Tapi halaman depannya dipenuhi rumput liar setinggi pinggang. Cat dinding mengelupas seperti kulit sakit. Di balkon lantai dua, tirai cokelat kusam bergantung miring, bergerak pelan diterpa angin, seolah ada seseorang yang baru saja mengintip lalu mundur.
Senja menelan ludah.
Hari ini, ia resmi menjadi istri Aiden Gu.
Laki-laki yang belum pernah ia temui.
Laki-laki yang kata orang sudah tidak waras.
***
Pagi tadi, Papa tidak berani menatap matanya ketika menyerahkan amplop cokelat berisi dokumen pernikahan.
"Senja, ini kesempatan keluarga kita," kata Hendra, suaranya kecil, seperti selalu. "Toko bahan bangunan di Tangerang itu hampir tutup. Kalau kerja sama dengan keluarga Gu jalan, kita semua bisa selamat."
Kita semua.
Senja hampir tertawa saat mendengarnya.
Sejak Mama meninggal dua tahun lalu, kata "kita" di rumah itu selalu berarti Hendra, Yolanda, dan Nita. Senja hanya dihitung ketika ada tagihan, rasa malu, atau sesuatu yang bisa dijual.
Yolanda berdiri di belakang Hendra pagi itu, memakai daster sutra warna peach dan senyum lembut yang hanya keluar di depan orang lain.
"Kamu jangan berpikir buruk dulu," ucapnya. "Aiden memang sakit, tapi keluarga Gu itu keluarga besar. Kamu akan hidup enak. Lebih baik daripada terus jadi beban di rumah."
Beban.
Senja menatap gelas jus jeruk di meja makan. Dua tahun lalu, Yolanda selalu memaksanya minum jus seperti itu setiap pagi. Katanya vitamin, agar Senja kuat kuliah di Fakultas Kedokteran UI. Lalu berat badannya naik. Lima kilo. Sepuluh kilo. Dua puluh. Jerawat tumbuh di wajah, siklus haidnya kacau, tubuhnya membengkak sampai ia tidak sanggup naik tangga kampus tanpa berhenti.
Ketika ia meminta ke dokter, Yolanda menangis di depan Papa.
"Aku sudah merawat anakmu, Mas. Kalau dia sakit, kenapa aku yang selalu disalahkan?"
Akhirnya Senja cuti kuliah. Lalu tinggal di rumah. Lalu menjadi orang yang semua orang lihat dengan kasihan atau jijik.
Pagi tadi, Hendra hanya berkata, "Ini juga demi kamu."
Kalimat itu yang membuat Senja berhenti membantah. Di rumah itu, tidak ada yang akan menyelamatkannya.
***
Gerbang berdecit ketika dibuka dari dalam.
Seorang perempuan berusia lima puluhan muncul. Ia memakai kerudung abu-abu tua, kemeja panjang, dan wajah yang nyaris tidak menyimpan ekspresi. Matanya menatap Senja dari kepala sampai kaki, tidak menghina, tapi juga tidak menyambut.
"Mbak Senja?"
"Iya. Bu Renata?"
Perempuan itu mengangguk. "Masuk."
Tidak ada pelukan. Tidak ada ucapan selamat datang. Senja menarik kopernya melewati gerbang. Roda pincang itu tersangkut batu, membuat tubuhnya hampir terdorong ke depan. Lututnya berdenyut, tapi ia menggigit bibir dan menarik lagi.
Renata berjalan di depan tanpa menoleh.
Bagian dalam rumah lebih buruk daripada halaman. Udara lembap menampar wajah Senja begitu pintu utama dibuka. Bau debu, kain lama, dan jamur bercampur jadi satu. Sarang laba-laba menggantung di sudut plafon. Lantai marmer kini buram tertutup lapisan abu tipis.
"Beliau di lantai dua," kata Renata.
"Beliau... maksudnya Aiden?"
Renata menoleh sebentar. "Suami Mbak."
Kata itu membuat kulit tengkuk Senja meremang.
Di amplop cokelat tadi, ada fotokopi akta nikah sipil dan surat pemberkatan yang diurus keluarga Gu dengan terlalu rapi. Semua sah. Semua legal. Semua dingin seperti transaksi.
Renata menunjuk ke dapur. "Bahan makanan dikirim seminggu sekali. Air galon ada dua. Gas masih ada. Kalau habis, tulis di kertas."
"WiFi?"
"Tidak ada."
"Sinyal?"
"Kadang di dekat pagar belakang."
Senja menatapnya. "Saya boleh keluar?"
Renata diam cukup lama sampai jawaban itu terasa sudah jelas.
"Untuk sementara, lebih baik tidak."
"Lebih baik menurut siapa?"
Mata Renata turun ke koper Senja, lalu kembali ke wajahnya. "Menurut orang yang masih ingin Mbak hidup tenang."
Kalimat itu pelan, tapi membuat tangan Senja dingin.
Sebelum ia sempat bertanya lagi, dari lantai dua terdengar bunyi sesuatu diseret. Berat. Lambat. Lalu hening.
Renata tidak bereaksi.
"Ikut saya."
***
Tangga menuju lantai dua berdebu. Setiap langkah membuat napas Senja makin berat. Ia berusaha tidak terdengar ngos-ngosan di belakang Renata, tapi paru-parunya panas. Keringat mengalir dari pelipis ke rahang.
Di ujung koridor, ada satu pintu kayu gelap.
Pintu itu penuh goresan.
Renata berhenti di depannya. Untuk pertama kalinya, ekspresinya berubah sedikit. Bukan takut. Lebih seperti seseorang yang sudah terlalu sering melihat luka yang sama.
"Jangan berdiri terlalu dekat kalau dia belum tenang," katanya.
"Dia sering menyerang?"
Renata tidak menjawab langsung.
Ia hanya membuka kunci.
Bau yang keluar dari kamar itu membuat perut Senja naik. Bau keringat basi, obat merah lama, kain lembap, dan makanan busuk. Cahaya masuk hanya dari celah tirai. Di lantai ada piring plastik terbalik, gelas pecah, potongan kain, dan kertas yang sudah diremas-remas.
Di sudut kamar, seseorang meringkuk.
Senja membutuhkan beberapa detik untuk percaya bahwa itu manusia.
Laki-laki itu tinggi, tapi tubuhnya dilipat seperti anak ketakutan. Rambut panjang kusut menutupi hampir seluruh wajah. Bajunya robek di bagian bahu. Di lengan yang terlihat, ada bekas lebam kekuningan dan garis-garis luka lama. Jari-jarinya kotor, kukunya panjang, mencengkeram lutut sendiri.
"Pak Aiden," panggil Renata datar.
Kepala laki-laki itu bergerak sedikit.
Senja menahan napas.
Inikah golden boy keluarga Gu yang dulu fotonya pernah muncul di majalah bisnis? Inikah pewaris yang katanya pernah kuliah di luar negeri, berbicara tiga bahasa, dan disiapkan menjadi Direktur Utama?
Renata menaruh kunci di meja dekat pintu.
"Saya datang lagi minggu depan."
"Tunggu." Senja langsung menoleh. "Bu, saya ditinggal begitu saja?"
"Mbak istrinya."
"Saya bahkan belum bicara dengan dia."
Renata menatapnya lama. "Justru itu. Bicara pelan."
Lalu ia pergi.
Pintu tertutup di belakang Senja.
Bunyi klik kunci dari luar membuat dada Senja kosong.
"Bu Renata?"
Tidak ada jawaban.
Senja memutar gagang pintu. Terkunci.
Panik naik sampai tenggorokannya. Ia memukul pintu sekali, tidak terlalu keras, karena sebagian dirinya takut membangunkan sesuatu di sudut kamar.
"Bu Renata!"
Di belakangnya, lantai berderit.
Senja membeku.
Ketika ia menoleh, Aiden sudah berdiri.
Tubuhnya lebih tinggi dari yang ia kira. Rambutnya menutupi mata, tapi dari celah kusut itu Senja melihat kilatan hitam yang tidak kosong. Hanya sekejap. Terlalu cepat. Lalu wajah itu kembali liar.
"Jangan..." Senja mengangkat kedua tangan. "Aku tidak akan menyakitimu."
Aiden memiringkan kepala.
"Aku Senja," katanya pelan, berusaha menjaga suara tetap lembut meski lututnya gemetar. "Aku... istrimu."
Kata terakhir itu bahkan terdengar asing di telinganya sendiri.
Aiden menatapnya.
Lalu ia menerjang.
Senja tidak sempat berteriak. Punggungnya menghantam pintu. Udara terlempar keluar dari paru-parunya. Tangan Aiden mencekik lehernya, besar dan kuat, terlalu kuat untuk seseorang yang tampak rusak seperti itu.
"Ai... den..."
Jari-jarinya mencakar pergelangan tangan laki-laki itu. Koper tua di samping pintu terguling, isinya berantakan. Botol air mineral jatuh dan menggelinding. Senja menendang, tapi tubuhnya berat, gerakannya lambat. Aiden menekan lebih keras.
Dunia menyempit.
Ia meraih apa pun di dekatnya. Tangan kanannya menyentuh meja kecil, menyenggol gelas, lalu gelas itu jatuh dan pecah. Pecahan kaca menusuk telapak tangannya ketika ia berusaha menopang tubuh.
Rasa sakit meledak.
Tapi lehernya lebih sakit.
Napasnya tersangkut, tidak masuk, tidak keluar. Suara yang keluar dari mulutnya hanya desis rusak. Mata Aiden dekat sekali sekarang. Di balik rambut kusut itu, Senja melihat sesuatu yang aneh.
Bukan kegilaan.
Amarah.
Atau ketakutan yang terlalu lama dipaksa menjadi amarah.
"Aku..." Senja berusaha bicara, tapi tidak ada udara.
Pandangan mulai buram. Wajah Mama muncul sebentar di kepalanya, lalu hilang. Disusul meja makan rumah Tangerang, suara Yolanda, mata Papa yang selalu menghindar.
Jadi begini akhirnya?
Dijual oleh keluarga sendiri, lalu mati di tangan suami yang bahkan belum mengenal namanya?
Jari-jari Senja melemah.
Darah dari telapak tangannya menetes ke lantai.
Ia mendengar sesuatu dari dalam lehernya. Bunyi kecil, rapuh, seperti ranting diinjak dalam gelap.
Lalu semua cahaya mulai padam.
Bab 2
Surat Nikah yang Ditelan
Gelap itu tidak datang sekaligus.
Ia merambat dari tepi mata Senja, menutup kamar kotor itu perlahan-lahan, seperti tirai hitam yang ditarik oleh tangan tak terlihat. Suara pecahan kaca di bawah telapak tangannya terdengar jauh. Napasnya sudah bukan napas lagi, hanya gerakan tubuh yang sia-sia, dada naik turun tanpa udara.
Aiden masih mencekik lehernya.
Jari-jari laki-laki itu panas. Kuat. Terlalu kuat.
Senja tidak tahu dari mana tubuhnya menemukan satu gerakan terakhir. Mungkin dari rasa takut. Mungkin dari kemarahan kecil yang belum sempat mati. Tangan kirinya meraba saku celana, mencari apa pun yang bisa dijadikan senjata.
Yang tersentuh justru amplop cokelat.
Dokumen pernikahan.
Senja menariknya keluar dengan tangan gemetar. Amplop itu robek di ujung karena tertahan kain saku. Ia tidak sempat membuka dengan rapi. Ia hanya merogoh, mengambil buku kecil bersampul merah, lalu mengangkatnya tepat di depan mata Aiden.
Merah itu seperti menampar udara.
Tekanan di lehernya berhenti.
Mata Aiden bergerak.
Untuk pertama kalinya sejak ia menerjang, tatapannya tidak lagi menempel pada wajah Senja, melainkan pada buku kecil itu. Ada jeda satu detik. Dua detik. Lalu tangan yang mencekik leher Senja terlepas.
Senja jatuh ke lantai.
Udara masuk ke paru-parunya seperti api. Ia batuk keras, terbatuk lagi, lalu muntah sedikit cairan asam ke lantai. Lehernya terasa seperti digosok amplas dari dalam. Ia menekan dada dengan satu tangan, sementara tangan lain masih berdarah karena kaca.
Aiden merampas buku nikah itu.
"Merah..." gumamnya.
"Aiden, jangan..."
Ia tidak mendengar.
Atau pura-pura tidak mendengar.
Aiden membuka buku itu, melihat foto mereka yang ditempel berdampingan. Foto Senja diambil tiga hari lalu, wajahnya bengkak, rambutnya diikat asal, matanya seperti orang yang belum tidur. Foto Aiden jelas foto lama, rapi, tampan, memakai jas gelap. Dua orang di kertas yang sama, tapi seperti berasal dari dua kehidupan berbeda.
Aiden menatap foto itu lama.
Lalu ia merobeknya.
"Aiden!"
Suara Senja pecah.
Kertas itu terbelah. Aiden merobek lagi, lebih kecil, lalu memasukkan potongan pertama ke mulutnya.
Senja membeku.
Ia mengunyah.
Pelan.
Seperti anak kecil memakan sesuatu yang dilarang.
"Jangan dimakan!" Senja mencoba bangkit, tapi lututnya lemas. "Itu dokumen penting."
Aiden menoleh padanya dengan mata kosong. "Makan."
Ia memasukkan potongan berikutnya.
Dalam keadaan lain, pemandangan itu mungkin lucu. Suami yang baru ia kenal lima menit lalu mencekiknya sampai hampir mati, lalu memakan buku nikah mereka di lantai kamar yang bau jamur. Tapi dada Senja terlalu sakit untuk tertawa. Yang keluar hanya suara pendek, setengah batuk, setengah tangis.
Ia duduk bersandar pada pintu, memegang lehernya.
Di kulitnya pasti sudah tercetak jari-jari Aiden.
Aiden terus mengunyah sampai sampul merah itu hilang sedikit demi sedikit. Ia tidak memakan semuanya. Beberapa potongan jatuh ke lantai, basah oleh ludah. Tapi bagian penting sudah rusak. Foto, nomor akta, tanda tangan.
Senja menatap serpihan itu.
Selamat, katanya dalam hati. Bahkan bukti bahwa kamu istri seseorang pun tidak bertahan satu jam.
***
Butuh hampir dua puluh menit sampai napasnya kembali normal.
Normal yang baru.
Setiap kali menelan, lehernya nyeri. Telapak tangannya masih berdarah, jadi ia merobek ujung kaus longgar dan membebatnya asal. Ia menemukan ponselnya di bawah koper yang terguling. Layarnya retak sedikit di sudut, tapi masih menyala.
Sinyal satu garis.
Senja tidak berani menelepon. Suaranya tidak akan keluar jelas. Ia mengetik dengan ibu jari gemetar.
Mir, kalau aku mati di sini, lapor polisi.
Ia menatap kalimat itu lama.
Terlalu dramatis?
Lalu ia melihat Aiden di sudut kamar.
Laki-laki itu sudah kembali meringkuk. Potongan kertas masih menempel di bibirnya. Kepalanya menunduk, bahunya naik turun pelan, seperti semua kekerasan tadi tidak pernah terjadi.
Senja menekan kirim.
Pesan itu berputar.
Satu detik. Dua. Lima.
Terkirim.
Ia hampir menangis karena lega.
Balasan Mira belum muncul. Mungkin sinyal putus. Mungkin Mira sedang bekerja. Mungkin semesta memang senang membuatnya menunggu.
Senja memejamkan mata.
Pulang ke Tangerang?
Ia membayangkan Yolanda membuka pintu, melihat lehernya lebam, lalu tersenyum kecil sambil berkata, "Makanya jangan cari masalah." Ia membayangkan Papa duduk di meja makan, meremas tangan sendiri, lalu memulai kalimat dengan "Tapi..."
Tidak.
Kembali ke rumah itu sama saja menyerahkan lehernya kepada orang yang lebih rapi mencekik.
Di sini, setidaknya bahaya terlihat. Kotor, berbau, menggila, tapi terlihat.
Senja membuka mata.
"Aku belum mati," bisiknya.
Aiden tidak bereaksi.
"Dan aku nggak akan mati hari ini."
***
Kunci kamar ternyata ditinggalkan Renata di meja luar, bukan di pintu. Senja baru menyadarinya setelah ia menunggu cukup lama dan mendengar langkah Renata benar-benar pergi dari rumah. Pintu kamar tidak dikunci lagi dari luar. Mungkin tadi hanya klik otomatis. Mungkin Renata sengaja membiarkan.
Senja tidak tahu mana yang lebih menakutkan.
Ia turun ke lantai satu sambil memegang dinding.
Rumah itu terasa lebih besar setelah ia hampir mati. Setiap sudut seperti menyimpan mata. Di dapur, ia menemukan beras dalam wadah plastik, beberapa telur, kecap manis, bawang merah, dan cabai yang mulai layu. Di kulkas ada sayur yang sebagian sudah menguning, serta ayam beku yang belum rusak.
Ia tertawa pelan.
"Oke, Senja. Kamu bisa mati dicekik, tapi jangan mati kelaparan."
Kalimat itu keluar dengan suara serak. Ia hampir tidak mengenali dirinya sendiri.
Ia mencuci tangan, membersihkan luka dengan air mengalir sampai perihnya membuat matanya basah, lalu membalut lagi dengan kain bersih dari serbet dapur. Setelah itu ia menanak nasi seadanya, mengiris bawang, mengocok telur, dan membuat nasi goreng paling sederhana yang pernah ia masak.
Aroma kecap manis dan bawang panas mulai mengisi dapur.
Untuk pertama kalinya sejak datang, rumah itu tidak hanya berbau jamur.
Saat ia membawa piring ke lantai dua, Aiden sudah berdiri di ambang kamar.
Senja berhenti tiga anak tangga sebelum sampai.
Tubuhnya otomatis tegang.
Aiden menatap piring di tangannya.
"Makan," gumamnya.
"Iya." Senja menjaga suara tetap rendah. "Ini makanan. Kamu mau?"
Aiden turun satu langkah, lalu berhenti. Matanya tidak menatap Senja. Hanya piring.
Senja meletakkan piring itu di lantai, lalu mundur.
Begitu ia mundur, Aiden bergerak.
Ia jongkok di depan piring dan makan dengan tangan kosong. Bukan seperti orang yang menikmati makanan, melainkan seperti seseorang yang takut makanan itu akan diambil kembali. Nasi jatuh ke lantai. Telur menempel di jarinya. Ia memasukkan terlalu banyak sekaligus sampai batuk.
"Pelan-pelan," kata Senja tanpa sadar.
Aiden tidak peduli.
Senja duduk di anak tangga, menjaga jarak.
Rasa takut masih ada. Bekas jari di lehernya berdenyut setiap kali ia bernapas. Tapi melihat Aiden makan seperti itu membuat bagian lain di dadanya sakit.
Orang ini hampir membunuhnya.
Orang ini juga jelas sudah lama tidak diberi makan seperti manusia.
Keduanya bisa benar pada saat yang sama. Dan itu membuat Senja bingung harus membencinya atau mengasihaninya.
Ketika piring itu kosong, Aiden menjilat ujung jarinya. Lalu ia mengambil satu butir nasi yang jatuh di lantai dan memasukkannya ke mulut.
Senja memalingkan wajah.
Matanya panas.
***
Sore mulai turun ketika Senja membersihkan kamar.
Ia tidak melakukan semuanya. Tubuhnya terlalu lelah, tangannya sakit, dan Aiden bisa tiba-tiba bergerak setiap kali suara sapu terlalu dekat dengannya. Jadi ia memilih yang paling penting: pecahan kaca, sisa kertas basah, piring kotor, kain yang berjamur.
Aiden duduk di sudut, memeluk lutut, mengawasinya tanpa benar-benar terlihat mengawasi.
Saat Senja mengangkat meja kecil yang tadi terguling, ia melihat sesuatu di kusen pintu.
Goresan-goresan tipis.
Awalnya ia mengira itu bekas kayu tua. Tapi setelah didekati, goresan itu terlalu teratur. Satu garis. Satu garis lagi. Lima garis disilang. Lalu mulai lagi.
Senja menyentuhnya dengan ujung jari.
Satu kelompok.
Dua.
Tiga.
Ia menghitung sampai napasnya tertahan.
Lebih dari tiga ratus.
Lehernya yang lebam terasa dingin.
"Kamu..." Ia menoleh ke Aiden. "Kamu yang bikin ini?"
Aiden mengunyah ujung kuku sendiri.
Tidak menjawab.
Senja menatap garis-garis itu lagi.
Tiga ratus hari lebih.
Seseorang yang benar-benar kehilangan akal tidak akan menandai hari serapi ini. Atau mungkin akan. Senja tidak tahu. Yang ia tahu, setiap garis di kayu itu terasa seperti jeritan yang tidak pernah keluar dari mulut.
Ia turun membawa piring kosong.
Di tangga, langkahnya berhenti.
Dari kamar di lantai dua, terdengar suara rendah.
Senja menoleh.
Aiden sedang bersenandung.
Nada itu pelan, hampir tertelan suara angin dari jendela rusak. Tapi ia lengkap. Ada awal, ada jeda, ada pengulangan yang teratur. Bukan gumaman acak. Bukan suara anak kecil.
Sebuah lagu.
Senja berdiri di anak tangga dengan piring kosong di tangan, kulit lehernya masih nyeri oleh bekas cekikan.
Satu pertanyaan naik, dingin dan tajam, menembus semua rasa takutnya.
Siapa sebenarnya orang ini?
Bab 3
Gigitan di Siku
Senja terbangun karena suara benturan.
Keras. Tumpul. Dekat.
Matanya terbuka sebelum pikirannya benar-benar sadar. Tubuhnya langsung menegang di lantai kamar, di atas kain tipis yang semalam ia jadikan alas tidur. Lehernya masih sakit. Setiap tarikan napas mengingatkan bahwa jari-jari Aiden pernah menutup jalur udara di sana.
Suara itu terdengar lagi.
Bruk.
Senja menoleh ke ranjang.
Aiden tidak ada di atasnya.
"Aiden?"
Ia bangkit terlalu cepat. Kepalanya berkunang-kunang, tubuh beratnya hampir membuat lututnya menyerah. Tapi begitu ia melihat laki-laki itu tergeletak di lantai dekat kaki ranjang, semua rasa pusing tersingkir.
Aiden tengkurap miring. Rambut kusut menutupi wajahnya. Di keningnya ada darah.
"Aiden!"
Senja merangkak lebih dulu sebelum berhasil berdiri. Ia tahu ia seharusnya takut. Tadi malam laki-laki ini hampir membunuhnya. Tapi darah di lantai selalu membuat tubuhnya bergerak lebih cepat daripada ketakutan.
Naluri yang dulu ia pelajari di ruang praktikum kembali menyala.
"Jangan gerak."
Aiden mengerang. Tangannya mencakar lantai, seperti hendak menjauh.
"Aku nggak akan sakitin kamu." Suara Senja serak, tapi ia memaksa tetap pelan. "Kepala kamu berdarah. Aku cuma mau tekan lukanya."
Ia mengambil kaus lamanya dari koper, merobek bagian bawahnya dengan susah payah, lalu menekan kain itu ke kening Aiden. Darah meresap cepat. Luka itu tidak terlalu dalam, tapi cukup membuat perutnya dingin.
Aiden meronta sekali.
Senja hampir terlempar ke samping.
"Diam!" Suaranya keluar lebih tegas dari yang ia rencanakan. "Kalau kamu gerak terus, lukanya makin parah."
Aiden berhenti.
Hanya sebentar.
Tapi cukup untuk membuat Senja menahan napas.
Ia patuh?
Atau kebetulan?
Senja tidak tahu. Ia tidak sempat memikirkan itu. Ia menekan luka sampai perdarahan melambat, lalu memeriksa pupil sebisanya. Cahaya kamar buruk, tapi Aiden tidak tampak pingsan. Tidak ada muntah. Tidak ada kejang.
"Kamu jatuh dari ranjang?" gumam Senja.
Aiden menatap kosong ke arah dinding.
"Jatuh..." ulangnya.
Senja tidak bisa memastikan apakah itu jawaban atau hanya tiruan.
***
Menjelang siang, Aiden tertidur.
Atau pura-pura tidur.
Senja duduk di samping ranjang hampir setengah jam, menunggu napasnya stabil. Keningnya sudah dibalut kain. Wajahnya masih tertutup rambut panjang yang kusut dan berminyak. Bau tubuhnya lebih tajam ketika Senja berada sedekat ini, campuran keringat lama, debu, dan sesuatu yang pahit seperti obat murah.
Ia mengambil baskom dari kamar mandi, mengisinya dengan air hangat, lalu kembali dengan handuk kecil.
"Aku bersihin sedikit," bisiknya, walau Aiden tampak tidak sadar.
Tidak ada jawaban.
Senja mulai dari tangannya.
Jari-jari Aiden panjang. Di balik kuku yang kotor, bentuk tangannya tidak kasar seperti orang jalanan. Ada bekas kapalan tipis di sisi jari tengah, seperti orang yang sering menulis. Di pergelangan tangannya ada memar lama. Di lengan bawah, garis luka tipis bertumpuk dengan bekas baru yang lebih gelap.
Semakin banyak ia membersihkan, semakin sedikit ia mengerti.
Orang sakit bisa melukai dirinya sendiri.
Tapi luka seperti ini?
Ada yang bulat seperti bekas puntung rokok. Ada yang memanjang seperti terkena sabuk atau kabel. Ada memar di sisi tulang rusuk yang warnanya sudah berubah kuning kehijauan. Tidak semua berasal dari jatuh.
Rahang Senja mengeras.
Semalam ia hampir mati di tangan Aiden.
Hari ini ia melihat bahwa seseorang mungkin sudah lama menyiksa Aiden.
Kemarahan itu tidak tahu harus pergi ke mana.
Ia mengganti air dua kali. Pelan-pelan, wajah Aiden mulai terlihat. Tulang pipinya tegas. Hidungnya lurus. Bibirnya pucat dan pecah-pecah. Bahkan dalam keadaan kusam, wajah itu punya sisa ketampanan yang aneh, seperti patung mahal yang dilempar ke gudang bertahun-tahun.
Senja mengusap rambut dari keningnya.
Ia tidak ingin mengakui bahwa dadanya sempat berhenti satu detik.
"Kamu sebenarnya siapa?" bisiknya.
Aiden tidak menjawab.
***
Saat Senja membersihkan lengan kirinya, handuk di tangannya berhenti.
Di bagian dalam siku Aiden, tepat di lekukan kulit yang biasanya jarang diperhatikan orang, ada bekas luka berbentuk setengah lingkaran.
Putih.
Rapi.
Seperti jejak gigi.
Jantung Senja memukul begitu keras sampai ia mendengar darah sendiri di telinga.
Ia mendekatkan wajah.
Bekas itu sudah lama. Kulit di sekelilingnya halus, tanda lukanya terjadi bertahun-tahun lalu. Tapi bentuknya masih jelas. Dua lengkung gigi depan sedikit tidak rata. Bagian kanan lebih dalam.
Tangan Senja mulai gemetar.
Tidak mungkin.
Ia meletakkan lengan Aiden di pangkuannya, lalu tanpa sadar menyentuh bibir sendiri dengan lidah.
Tiga tahun lalu.
Pasar malam Tangerang.
Bau sate, knalpot motor, dan hujan yang baru berhenti.
Senja waktu itu masih 55 kilogram. Masih bisa berlari tanpa napas putus. Masih memakai jas almamater UI dengan bangga karena baru masuk kedokteran. Di dalam tasnya ada uang operasi Mama, uang yang ia kumpulkan dari pinjaman saudara, tabungan kecil Papa, dan gelang emas terakhir milik Mama.
Dua laki-laki dengan motor bebek merampas tas itu di gang samping pasar.
Senja mengejar sambil berteriak sampai tenggorokannya sakit.
Salah satu dari mereka turun, mendorongnya ke dinding, dan mengangkat tangan. Sebelum pukulan itu jatuh, seseorang menarik laki-laki itu dari belakang. Seorang pria muda berbaju gelap. Tinggi. Cepat. Wajahnya tidak sempat Senja lihat jelas karena lampu pasar berkedip dan hujan membuat segalanya berkilau.
Perkelahian itu kacau.
Ada tangan yang menarik lengan Senja. Ada tubuh yang menabrak bahunya. Dalam panik, Senja menggigit lengan yang paling dekat dengan mulutnya.
Keras.
Sampai ia merasakan rasa besi darah di lidah.
Orang itu tidak berteriak. Hanya menarik napas tajam.
Ketika semuanya selesai, tasnya kembali. Uang operasi Mama selamat. Dua perampok kabur. Pria muda itu berdiri beberapa langkah darinya, tangan kirinya berdarah di bagian siku.
"Mas, tunggu. Aku..."
Ia ingin berterima kasih.
Pria itu hanya menoleh sebentar.
Lampu pasar menyala tepat satu detik, cukup untuk memperlihatkan rahang tegas dan mata gelap yang tenang.
Lalu ia pergi.
Senja tidak pernah tahu namanya.
Sampai sekarang.
***
Napas Senja patah.
Ia mengangkat lengan Aiden dengan kedua tangan, lalu mendekatkan mulutnya ke bekas luka itu. Bukan untuk menggigit lagi. Hanya untuk membandingkan. Giginya gemetar ketika ia menempelkan susunan giginya di atas bekas putih itu.
Pas.
Lengkungnya pas.
Bagian kanan yang dulu lebih dalam, pas.
Senja menarik tubuhnya menjauh seolah tersengat.
"Kamu..."
Kata itu pecah.
Air mata jatuh sebelum ia sempat menahannya. Satu tetes mengenai lengan Aiden. Lalu satu lagi.
Laki-laki yang mencekiknya semalam adalah orang yang pernah menyelamatkan uang operasi Mama.
Laki-laki kotor yang makan nasi dengan tangan di lantai adalah orang yang dulu berdiri di gang pasar malam dengan darah di siku dan tidak meminta apa pun.
Senja menutup mulut dengan punggung tangan.
Tidak ada suara tangis yang keluar. Hanya bahunya yang bergetar. Ia takut kalau bersuara, Aiden akan bangun, dan ia belum siap menghadapi mata kosong itu dengan rasa terima kasih yang tiba-tiba terlalu besar.
"Kenapa bisa jadi begini?" bisiknya.
Aiden tidur diam.
Senja memegang lengan itu lebih hati-hati, seolah bekas luka tersebut adalah benda yang bisa pecah.
Semalam ia bertahan karena tidak punya tempat pulang.
Hari ini alasan itu berubah.
Ia tidak tahu apakah Aiden benar-benar sakit atau sedang menyembunyikan sesuatu. Ia tidak tahu siapa yang melukai tubuhnya. Ia bahkan tidak tahu apakah ia akan selamat tinggal di rumah ini.
Tapi ia tahu satu hal.
Ia pernah berutang nyawa.
Dan sekarang, orang itu terkurung di hadapannya.
***
Sore hari, Senja turun ke dapur untuk membuat bubur.
Tangannya masih gemetar, tapi langkahnya lebih pasti daripada kemarin. Ia mencuci beras, menambahkan air lebih banyak, memasukkan sedikit garam dan potongan ayam kecil yang ia temukan di freezer. Saat panci mulai mendidih, ia berdiri di depan kompor dengan mata merah dan leher lebam, merasa seperti seseorang yang baru saja diberi tugas oleh masa lalu.
Ia tidak akan pergi.
Setidaknya belum.
Setidaknya sampai ia tahu siapa yang mengubah pria di pasar malam itu menjadi bayangan di kamar gelap.
Setelah memberi Aiden bubur dan mengganti kain di keningnya, Senja mencuci baju kotor yang tadi ia kumpulkan. Halaman belakang ditumbuhi rumput liar, tapi ada tali jemuran yang masih bisa dipakai. Angin sore membawa bau tanah lembap.
Ia menggantung kemeja robek Aiden satu per satu.
Saat kain terakhir dijepit, kulit belakang lehernya tiba-tiba meremang.
Perasaan itu datang begitu jelas sampai Senja berhenti bernapas.
Ada yang melihatnya.
Ia menoleh cepat ke lantai dua.
Jendela kamar Aiden tertutup. Tirainya diam.
Tapi di jendela kamar sebelah, tirai cokelat yang sejak kemarin tampak mati itu bergerak pelan.
Senja berdiri kaku di bawah jemuran, tangan masih memegang jepitan plastik.
Aiden ada di tempat tidur. Ia baru saja melihatnya tertidur.
Angin bertiup dari belakang Senja, bukan dari dalam rumah.
Tirai itu bergerak lagi.
Pelan.
Seperti seseorang baru saja mundur dari baliknya.
Senja merasakan darah di wajahnya turun.
Di rumah ini, rupanya ia dan Aiden bukan satu-satunya yang bernapas.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!