Allahu Akbar Allahu Akbar.
Suara adzan subuh berkumandang, langsung membuat seorang perempuan renta menghampiri cucu kesayangannya. Lalu menggenggam punggung tangan sang cucu yang saat ini menghadap ke arah penggorengan.
“Subuh berjamaah dulu! Baru nanti dilanjut lagi buat goreng tempenya,” ucap perempuan renta bernama Sekar kepada cucunya.
“Iya, Mbah,” jawab perempuan cantik berhijab bernama Arundaya Dirandra atau Akrab dipanggil Dira. Sesuai dengan perintah yang diucapkan oleh Sekar. Dira meletakkan adonan tempe goreng di atas bata merah yang berfungsi sebagai tatakan samping kompor.
“Ayo Dira!” ajak Mbah Sekar kepada cucu kesayangannya sambil berjalan ke keran samping kamar mandi.
“Bismillahirrahmanirrahim, nawaitul ….”
Setelah selesai bersuci, Mbah Sekar bersama dengan Dira langsung menuju ke bilik untuk sholat berjamaah. Kebiasaan rutin yang selalu dilakukan Dira bersama Mbahnya.
“Dira, kali ini jadi imam, ya,” pinta Mbah Sekar kepada cucunya yang langsung membuat Dira terdiam. Lalu menggelengkan kepalanya perlahan sebagai tanda penolakan.
“Tidak, Mbah. Dira jadi makmum atau kita sholat masing-masing saja,” tolak Dira yang saat ini matanya sudah mulai berkaca-kaca.
Entah sudah berapa kali Sekar meminta Dira untuk menjadi imam shalat berjamaah di rumah untuknya. Namun, sebanyak itu pun Dira selalu menolak.
“Hukumnya mubah, yang terpenting hafalan bacaan dan pemahaman paling utama. Bukan status kelahiran,” jelas Sekar yang langsung membuat Dira memalingkan wajahnya. Menatap jam dinding di kontrakannya yang sebentar lagi akan membuat tetangga samping rumah datang untuk komplain.
“Ayo Dira! Keburu habis waktunya.”
Atas dasar keyakinan yang diberikan oleh Mbah Sekar. Membuat Dira bersedia untuk menjadi imam shalat subuh untuk sang nenek. Namun, sepertinya yang pertama dan terakhir. Karena Dira tidak nyaman karena merasa tak pantas.
“Allahuakbar.”
“Allahuakbar.”
Suara merdu dengan bacaan sholat yang tepat membuat hati Sekar menjadi tenang. Karena alasan itulah Sekar menginginkan Dira untuk menjadi imam shalat berjamaah setiap waktu. Meskipun terkadang Dira harus pulang terlambat karena kerja paruh waktu sebagai guru les musiman.
“Assalamualaikum warahmatullah.”
“Aaaaaaa!”
“ARRRRG!
Suara teriakkan yang berasal dari dalam kamar belakang, berbarengan dengan salam. Langsung menghentikan aktivitas Dira dan juga Mbah Sekarang.
Dira menundukkan kepalanya dalam-dalam. Membuat Mbah Sekar yang ada di samping menggenggam erat punggung tangan cucunya.
“Dira, percayalah. Jika semua yang terjadi saat ini pasti akan berlalu. Ibumu pasti akan sembuh,” ucap Mbah Sekar mencoba meyakinkan sang cucu.
“Setiap subuh ibu selalu berteriak, Mbah. Dira gak tahu apa yang membuat ibu berteriak di waktu sama dan selalu berulang-ulang.”
“Sabar, Nduk!” pinta Mbah Sekar.
Dira langsung menyesali perbuatannya, yang tidak sengaja perbuatannya menyakiti Mbah Sekar.
Apa yang dialami Dira saat ini. Tidak sebanding dengan Mbah Sekar alami.
Neneknya itu sudah menahan sedih selama belasan tahun. Jelas apa yang dirinya tunjukkan kurang pantas.
“Maafkan Dira, Mbah.”
“Tidak ada yang perlu dimaafkan. Cucu Mbah yang cantik ini tidak pernah melakukan kesalahan,” ungkap Mbah Sekar jujur dengan pandangannya tentang Dira yang selalu membuat dirinya bangga.
Meskipun tidak ada air mata yang jatuh membasahi wajah keriput Sekar. Tapi, Dira sangat yakin sangking dalamnya luka itu sampai membuat air mata sudah kering belasan tahun silam.
Tok… Tok!
Jika sudah ada teriakan dari kamar belakang. Maka, sang tetangga samping rumah akan datang untuk menegur Mbah Sekar maupun Dira. Seperti saat ini yang terjadi teras kontrakan Dira.
“MBAH SEKAR!” teriak seseorang dari depan pintu hingga menembus semua ruangan tanpa terkecuali.
“Kamu disini saja, Nduk! Biarkan aku saja yang keluar menemui tetangga kita,” pinta Sekar cepat lalu berjalan menuju pintu kontrakan. Meninggalkan Dira yang hanya diam mendengar mbahnya kembali diomelin tetangga samping rumah.
Krieeet!
“Mbah Sekar, aku kan sudah bilang berkali-kali Nimas itu dimasukkan saja ke rumah sakit jiwa . Kasihan para tetangga yang keberisikan dengan teriaknya setiap subuh,” geram Siti saat pintu rumah terbuka.
“Kalau Mbah Sekar kesulitan memasukkan Nimas ke rumah sakit jiwa. Biarkan aku dan masyarakat membantu untuk menghubungi dinas sosial,” jelas Siti beruntun dengan wajah kesal.
“Maafkan putriku, Siti. Aku janji Nimas tidak akan teriak-teriak dan mengganggu warga lagi.”
“Mbah Sekar itu sudah sering janji ke warga. Tetap saja si Nimas itu teriak-teriak setiap subuh,” potong cepat Siti sambil mengambil nafas sebanyak-banyaknya.
“Sudah ribuan kali aku bilang ke Mbah Sekar. Jika Nimas itu gila dan butuh penanganan medis. Gak bisa jika hanya dikurung di dalam kamar saja. Sampai hari kiamat pun Nimas tetap teriak-teriak. Itupun kalau masih hidup orangnya,” sindir Siti yang langsung membuat Sekar terdiam.
“Kenapa Mbah diam saja? Benar kan apa yang aku katakan barusan,” geram Siti sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar dan bersedekap.
Wajah tidak bersahabat Siti sangat menggambarkan rasa kesalnya. Membuat Sekar hanya bisa berdoa semoga Nimas tidak membuat keributan lagi.
“Pokoknya ya, Mbah. Kalau Nimas masih teriak-teriak lagi seperti hari ini. Aku dan juga para warga akan membawa paksa Nimas ke rumah sakit jiwa,” geram Siti sambil melotot ke arah Sekar.
“Biar wilayah sini tentram dan tidak gadung seperti saat ini. Waktunya istirahat malah teriak-teriak gak jelas. Permisi.”
Tanpa menunggu tanggapan yang diberikan oleh Sekar. Siti pamit pergi dengan wajah kesal. Meninggalkan Mbah Sekar yang langsung menghembuskan nafasnya untuk mengurangi kegundahan di hati.
Pikiran Mbah Sekar berkecamuk jika sampai yang diucapkan oleh Siti benar-benar kejadian. Membuat tubuhnya terdiam tanpa merubah posisi. Hingga suara langkah kaki menyadarkannya.
“Ayo masuk, Mbah. Biarkan Dira tutup pintunya,” ucap Dira sambil menggandeng Sekar untuk melanjutkan aktivitas di dapur.
“Sudah siang. Kalau tidak cepat-cepat dimasak tempe dan bahan yang lainnya. Nasi uduknya gak habis,” ucap Dira selama menuju dapur.
“Hari ini Dira masuk lebih pagi dari sebelumnya. Kalau terlambat meski satu detik, pintu gerbang akan ditutup,” lanjut Dira.
“Ayo kita selesaikan!” ajak Dira dengan senyum manis di wajah cantiknya.
“Terima kasih banyak ya, Ndok.”
“Terima kasih buat apa? Justru Dira yang harus berterima kasih kepada Mbah yang selalu percaya semua akan baik-baik saja. Termasuk kondisi ibu di dalam kamar,” ucap Dira sambil tersenyum mencoba menghibur diri sendiri. Padahal hati Dira saat ini tidak baik-baik saja.
“Bukankah Mbah selalu yakin jika ibu akan sembuh suatu saat nanti?” lanjut Dira kembali dengan mata berkaca-kaca.
“Iya Mbah yakin jika ibumu suatu saat nanti akan sembuh.”
“Itupun juga keyakinan Dira saat ini. Terima kasih banyak ya Mbah selama belasan tahun menggantikan peran ibu untuk Dira.”
“Dira kan cucu Mbah satu-satunya. Jadi, apapun yang terbaik untuk Dira akan Mbah lakukan.”
“Iya, Dira percaya. Ayo kita selesaikan semuanya!” ajak Dira penuh semangat. .
“Udah, sekarang kamu siap-siap saja. Mbah gak mau kamu terlambat,” ucap Mbah Sekar saat tahu waktu sudah siang.
“Baik, Mbah.”
Dira langsung menuju ke kamarnya, untuk bersiap-siap berangkat. Namun, saat melewati kamar belakang.
Langkah kaki Dira terhenti. Berdiri sejenak dengan perasaan campur aduk.
Tangannya sudah di gagang pintu. Pintu kamar itu menunggu untuk dibuka.
Krieeet!
Saat pintu kamar terbuka, sudut mata Dira menangkap sosok perempuan cantik paruh baya dengan kelompok mata menghitam sedang duduk di pinggir ranjang.
Tangannya dalam keadaan terikat kain sedang menulis sesuatu di tembok kamar yang Dira tidak paham maksudnya.
“Nduk!”
“Iya, Mbah.”
Panggilan Mbah Sekar dari dapur menghentikan langkahnya. Menatap ke arah belakang yang saat ini tampak ada Mbah Sekar.
“Kenapa kamu diam saja di depan kamar ibumu? Ayo cepat ganti baju! Keburu kesiangan.”
“Iya, Mbah.”
Sesuai dengan perintah yang diberikan oleh Sekar. Dira langsung keluar dari kamar Nimas menuju ke kamarnya sendiri untuk bersiap-siap. Sedangkan Nimas, langsung menengokkan kepalanya saat melihat bayangan Dira menghilang dari kamarnya.
“Di... ra,” gumam Nimas dengan suara sangat pelan hingga tak terdengar. Lalu kembali mencoret-coret dinding kamar.
Dira yang ada di kamar langsung bersiap-siap untuk berangkat ke tempat menuntut ilmu. Tidak ketinggalan beberapa buku dirinya masukkan kedalam tas.
Setelah memasang peniti di kerudungnya. Dira langsung keluar sambil mencangklong tasnya.
“Apakah bungkusan nasi uduknya sudah siap, Mbah?” tanya Dira memastikan.
“Yang ini untuk warung Bu Narti dan juga Bu Ida. Sedangkan yang ini buat kantin sekolahmu. Didalam sudah ada kertas berisi jumlah. Semuanya sudah pas. Antarkan ke Bu Ida terlebih dahulu karena pesanan pagi. Baru antar ke Bu Narti.”
“Siap, Dira berangkat dulu ya, Mbah,” pamit Dira sambil mencium punggung tangan Mbah Sekar.
“Hati-hati di jalan!”
“Iya, assalamualaikum,” salam Dira sambil membawa dagangannya.
“Wa'alaikumussalam.”
“Iya, eh.”
Suara Dira langsung terhenti saat dirinya melupakan seseorang. Membuat Dira kembali masuk ke rumah kontrakan yang sudah ditempati selama puluhan tahun.
“Loh, kenapa balik lagi, Nduk?” tanya Mbah Sekar heran.
“Belum pamitan sama Ibu.”
“Ya sudah, sana cepetan pamitan. Keburu kesiangan.”
“Iya, Mbah.”
Karena tidak ingin terlambat. Dira langsung berjalan cepat menuju ke kamar Nimas.
Krieeet!
Senyum cantik di wajah Dira langsung tergambar jelas saat melihat Nimas tengah tertidur di atas ranjangnya.
Setelah tenang, Nimas akan tidur sendiri di ranjangnya. Membuat Dira cepat-cepat mendekat lalu memegang punggung tangan Nimas.
“Dira berangkat ke sekolah ya, Bu. Dira sayang sama Ibu. Semoga Ibu cepat sembuh. Assalamualaikum,” pamit Dira.
Cup.
Setelah mencium punggung tangan Nimas. Tidak ketinggalan memberikan kecupan di kening perempuan paruh baya itu. Dira berlari keluar dari kamar untuk mengayuh sepedanya. Meninggalkan Nimas yang saat ini matanya terbuka dengan air mata membasahi wajah cantiknya.
Entah hal buruk apa yang terjadi pada Nimas. Hingga membuat jiwa dan raganya hancur secara bersamaan.
Membuat luka menganga hingga sangat sulit untuk disembuhkan. Luka sejak Dira masih berada di dalam kandungan hingga tumbuh besar.
Tanpa disadari oleh Dira, jika di ujung gang sempit kontrakannya ada sosok laki-laki bertubuh tinggi sedang mengawasi. Sosok laki-laki berseragam dalam balutan jaket hitam sambil menggenggam kertas di tangannya.
Hah.
“Akhirnya aku menemukannya,” ucap laki-laki misterius itu lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Waktu mulai beradu dengan Dira. Ketika sinar matahari mulai meninggi menandakan jika dirinya kesiangan.
Kriet… kriet!
Suara ayunan sepeda tua yang rantainya membutuhkan olesan oli. Selalu menemani keseharian Dira mulai dari mengantar makanan hingga ke sekolah.
“Waaaah, akhirnya Dira datang juga,” teriakan Narti pemilik warung saat melihat kedatangan Dira mengalihkan para pembeli.
“Ayo cepetan bawa kesini nasi uduknya, Dira! Ini orang-orang sudah pada ngantri nasi uduk bikinan mbahmu.”
Mungkin bagi orang lain ucapan Narti terdengar berlebihan. Namun, tidak bagi warga yang memang sudah langganan.
“Nasi uduk bikinan Mbah Sekar sudah ditunggu-tunggu sama pembeli dari tadi. Ibu kirain hari ini gak jualan. Gak biasanya kesiangan,” ucap Narti sambil kantong kresek berisi nasi uduk.
“Maaf, Bu,” ucap Dira tidak enak hati.
“Semua ini ada berapa?” tanya Narti memastikan
“Dua puluh bungkus.”
“Besok ditambah lagi nasi uduknya. Banyak yang suka, katanya nasi uduk Mbah Sekar wangi dan tentu rasanya mantap,” puji Narti sambil menunjukkan dua jempolnya. Lalu menghitung nasi uduk untuk diberikan pada pembeli.
“Insyaallah ya, Bu. Dira sampaikan ke Mbah.”
“Iya, ini lihat sendiri. Orang-orang pada berebut,” balas Narti.
“Tuh lihat, nasi uduknya tinggal dua,” ucap Bu Narti senang sambil menunjuk bingkisan nasi uduk tinggal dua.
“Ibu kasih uangnya sekarang saja ya. Tinggal dua ini,” lanjut Bu Narti sambil memberikan uang ke Dira.
“Boleh, Bu. Terserah Bu Narti saja.”
“Ini uangnya 160 ribu rupiah.”
“Terima kasih banyak Bu. Assalamualaikum.”
“Wa'alaikumussalam, hati-hati naik sepedanya, Dira!”
“Iya, Bu.”
Setelah selesai mengantar pesanan Bu Ida dan juga titipan di warung Bu Narti. Kini Dira kembali mengayuh sepedanya menuju ke sekolah.
Karena waktu sudah siang dan bahaya jika sampai pintu gerbang tertutup. Dira semakin cepat mengayuh sepedanya. Hingga akhirnya pintu gerbang menjulang tinggi mengelilingi sekolah tempat Dira belajar terlihat.
“Alhamdulillah belum ditutup,” ucap Dira semakin cepat mengayuh.
Jika dilihat dari bentuk bangunannya, jelas tidak akan ada yang menyangka Dira bisa mengenyam pendidikan di sekolah tersebut.
Karena faktor biaya yang dikenal sangat mahal. Jadi, hanya dari kalangan orang kaya lah yang mampu bersekolah di tempat tersebut.
Namun, untuk Dira jelas hal berbeda. Dira bisa sekolah di tempat itu karena beasiswa prestasi.
“Bapak, jangan ditutup dulu!” teriak Dira dari kejauhan.
“Waduh, baru datang, Neng Dira. Ayo cepat masuk!” pinta satpam sekolah.
“Terima kasih banyak, Bapak.”
“Gak biasanya Neng Dira kesiangan,” ucap satpam sekolah.
“Nganterin nasi uduk dulu, Pak. Banyak pesanan,” ucap Dira.
“Iya, nasi uduk bikinan Mbah Sekar rasanya memang mantap.”
“Terima kasih banyak atas pujiannya, Pak.”
“Bukan pujian. Namun, kenyataannya memang seperti itu.”
Karena tidak ingin terlambat masuk kelas. Dira langsung menuju ke kantin terlebih dahulu.
“Ibu, ini nasi uduknya ada 20 bungkus. Dira taruh di meja sini ya,” teriak Dira.
“Iya, Neng.”
Setelah mengantar nasi uduk ke kantin. Dengan langkah kaki cepat Dira menuju ke kelasnya.
Bugh… bugh!
Suara langkah kaki terdengar cukup keras saat Dira berlari. Takut jika sampai menerima hukuman saat terlambat masuk.
“Alhamdulillah,” syukur Dira saat guru belum masuk ke kelas. Lalu cepat-cepat duduk di kursinya.
Huff… huff!
Bunyi nafas terdengar cukup jelas keluar dari mulut Dira. Lalu berjalan menuju ke bangkunya. Duduk sambil mengatur nafasnya.
Hingga suara langkah kaki mendekat. Membuat Dira langsung duduk siap. Karena tahu betul suara langkah kaki siapa itu.
“Selamat pagi semua.
“Selamat pagi, Miss Panda.”
“Miss senang melihat semangat kalian di pagi ini. Tetap pertahankan.”
“Siap, Miss Panda.”
“Mari kita awali pagi cerah ini dengan doa. Silahkan ketua kelas dipimpin.”
“Baik, Miss.”
“Sebelum kita memulai aktivitas pembelajaran mari berdoa bersama-sama sesuai keyakinan masing-masing. Berdoa mulai!”
“Selesai.”
“Ucapkan salam.”
“Selamat pagi lagi “ jawab Miss Panda dengan senyum berkembang.
“Sebelum pelajaran dimulai. Miss ingin mengenalkan teman baru kalian.”
“Laki-laki atau perempuan, Miss?” tanya murid centil di kelas Dira dengan penuh semangat.
“Nanti kalian akan tahu sendiri,” jawab Miss Panda sambil tersenyum melihat semangat muridnya. Lalu mengarahkan pandangan matanya ke pintu masuk.
“Silahkan masuk!”
Semua murid yang ada di kelas langsung mengarahkan pandangan matanya ke pintu kelas tanpa terkecuali. Saat pintu mulai terbuka, tampak sosok laki-laki dengan tubuh tinggi serta wajah tampan masuk ke kelas.
Karena tidak ingin membuang kesempatan emas. Para murid perempuan langsung bersikap centil merapikan penampilan. Sedangkan sosok laki-laki yang baru masuk ke kelas, hanya bersikap biasa saja tanpa ekspresi.
“Ganteng banget, Miss,” ucap murid paling centil di kelas tersebut. Lalu mengusir teman samping bangkunya untuk memberikan tempat duduk ke murid baru.
“Cepat pergi sana!” usir murid centil yang diketuai bernama Sisil.
“Rese banget jadi orang. Gantengan juga aku,” gerutu laki-laki yang diusir dari tempat duduknya.
“Dasar gak punya cermin di rumah.”
“Punya.”
“Pergi, gak?”
“Iya.”
“Asal kamu tahu aja. Yang duduk di sampingku hanya orang ganteng saja. Kalau wajahnya pas-pasan minggir!” usir Sisil.
Tok… tok!
“Tolong jangan ribut kalian semua!”
“Maaf, Miss,” ucap semua murid di kelas tersebut.
Setelah kondisi di kelas sudah mulai kondusif. Miss Panda langsung mengarahkan pandangan matanya ke murid baru.
“Silahkan perkenalkan namamu.”
“Baik, Miss,” ucap laki-laki itu yang kini menatap semua siswa di kelas itu.
“Perkenalkan nama saya Faza.”
“Kok irit banget sih namanya. Yang lengkap dong,” potong Sisil cepat. Membuat Miss Panda langsung menengahi.
“Faza, tolong sebutkan nama lengkapmu.”
“Baik, Miss. Perkenalkan nama lengkap saya Faza Idam Manggala. Kalian bisa memanggil Faza.”
“Aaaaaaa!” teriak Sisil saat tahu nama lengkap Faza.
“Kenapa Sisil?” tanya cepat Miss Panda saat mendengar Sisil menjerit.
“Tidak kenapa-kenapa, Miss. Namanya secakep orangnya. Tinggi, ganteng, dan tentunya gak buluk,” jawab Sisil sambil melirik laki-laki yang sebelumnya di di sampingnya.
“Faza silakan duduk di…”
“Di sebelah saya saja, Miss,” potong cepat Sisil sebelum Miss Panda menyelesaikan ucapannya.
“Ya sudah, Faza silakan duduk di samping...”
“Saya duduk disini saja, Miss,” potong cepat Faza menuju kursi kosong di sebelah Dira. Membuat Sisil yang sudah menyiapkan tempat duduk langsung cemberut.
“Aduh neng Sisil, Abang Faza ingin duduk disamping Dira. Kasihan deh,” goda teman bangku Sisil yang sebelumnya diusir secara paksa.
“DIAM KAMU!” geram Sisil.
Tok… tok!
“Sudah jangan berisik! Semuanya menghadap kedepan! Kita mulai pembelajaran. Faza silakan duduk di bangku sebelah Dira.”
“Baik, Miss.”
“Maaf Miss, tapi bangku ini sudah ada yang menempati. Lebih baik di bangku samping Sisil saja,” ucap Dira yang enggan mencari masalah dengan Sisil. Mengingat Sisil merupakan putri pejabat yang memiliki pengaruh.
“Untuk sementara, Dira,” potong Miss Panda tidak ingin dibantah. Mengingat waktu terus berjalan dan tak ingin terbuang begitu saja.
“Baik, Miss.”
Sesuai dengan arahan dari Miss Panda. Faza langsung duduk di bangku samping Dira. Tangannya terulur untuk mencoba mengenal teman sampingnya.
“Namaku Faza, kalau boleh tahu. Siapa namamu?”
“Pelajaran sudah dimulai,” potong Dira tanpa sedikitpun menatap kearah Faza.
“Oke,” ucap Faza sambil tersenyum. Lalu menarik lagi tangannya.
Kini perhatian semua murid menuju ke arah Miss Panda. Tapi, tidak dengan Faza yang lebih memilih mengawasi sekitar.
Tapi, saat pandangan mata itu tidak sengaja mengarah ke Sisil. Faza langsung melonjak kaget.
“Astaga,” gumam Faza kembali fokus dengan pelajaran. Membuat perhatian Dira teralihkan sebentar untuk menatap laki-laki tampan di sebelahnya. Lalu kembali fokus ke pelajaran lagi.
Teet… teet!
Bunyi bel istirahat menandakan jika pelajaran sudah selesai. Para murid langsung merapikan buku maupun alat tulis.
“Untuk pertemuan selanjutnya kita akan membahas tentang kalor dan termodinamika. Tolong dipelajari dan kita akan membahas di pertemuan selanjutnya.”
“Baik, Miss.”
“Sampai ketemu kembali. Selamat pagi.”
“Selamat pagi menjelang siang Miss Panda yang cantik.”
Setelah keluarnya Miss Panda dari kelas. Dira langsung membuka kotak bekalnya. Menikmati makanan yang selalu membutuhkan para pelanggan ketagihan.
Sedangkan Faza masih enggan berpindah dari tempat duduknya. Karena dirinya masih merasa nyaman di dalam kelas. Hingga perhatiannya teralihkan saat Sisil kembali mendekati mejanya.
“Dira, bolehkah aku duduk di bangkumu?” tanya Sisil sambil menatap ke arah Faza. Membuat Dira langsung menghentikan suapan nasi uduk ke mulutnya.
“Bolehkah aku menyelesaikan makananku terlebih dahulu?” tanya Dira merasa enggan menghentikan acara makannya yang masih berjalan.
“Tapi aku ingin sekarang, Dira,” ucap Sisil dengan suara lembut namun tatapan matanya tajam. Membuat Dira mencoba menghembuskan nafasnya. Karena tahu maksud dari tatapan Sisil.
“Baik, aku akan pindah.”
“Kamu tetap makan saja,” potong cepat Faza yang langsung menghentikan Dira.
“Biarkan aku yang pindah bangku,” lanjut Faza sambil mencangklongkan tasnya ke bahu.
“Bangku sebelah kamu masih kosong, bukan?” tanya Faza kepada Sisil. Tapi, pandangan matanya ke Dira.
“Tentu saja kosong. Karena aku sengaja mengosongkan bangku itu untukmu.”
“Aku akan duduk di bangku itu.”
Sambil mencangklong tasnya, Faza langsung duduk di kursi sebelah Sisil. Tentu saja hal tersebut membuat Sisil bahagia.
“Aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan,” gumam Sisil sambil tersenyum yang masih dengan jelas didengar oleh Dira.
Karena tidak ingin mencari masalah dengan Sisil. Dira memilih melanjutkan makannya, meskipun rasanya sudah berbeda dari sebelumnya.
Sedangkan Faza langsung keluar kelas setelah meletakkan tasnya. Melewati bangku Dira tanpa sedikitpun menoleh ke siapapun. Entah pergi ke kantin atau ke tempat yang lainnya Dira tidak tahu.
“Ingat, Faza itu sudah aku teken menjadi milikku. Jangan pernah tebar pesona maupun mencari perhatian padanya!” tekan Sisil.
“Kalau sedikit saja kamu tebar pesona padanya. Aku akan membuat semua orang tahu tentang identitasmu yang…,” Sisil tidak menyelesaikan ucapannya. Sebagai tanda tekanan jika dirinya bisa berbuat nekad.
“Tenang saja. Jangan khawatir. Karena aku sama sekali tidak tertarik padanya,” potong cepat Dira sambil menahan nafas. Sebab, tahu arah pembicaraan Sisil.
“Baguslah kamu tahu diri. Jadi orang miskin dan keturunan haram memang harus tahu diri.”
Dengan wajah penuh senyum Sisil melangkahkan kakinya keluar kelas untuk menyusul Faza. Meninggalkan Dira yang diam sambil memegang sendok.
Rasa lapar serta enaknya nasi uduk yang disukai banyak orang. Kini berubah rasa menjadi hambar, serta rasa lapar itu menghilang meninggalkan rasa kenyang.
Meskipun baru satu sendok nasi masuk ke mulutnya. Karena Dira tahu, jika ancaman itu bukan hanya sebatas gertakan semata.
“Tenang saja, sejak kakiku menginjakkan tempat ini. Aku tahu diri siapa diriku sebenarnya,” gumam Dira tertahan. Lalu memasukkan kembali bekal makanannya.
Mengalihkah kesedihannya dengan menatap ke arah jendela. Tanpa sengaja arah pandangannya menatap sosok laki-laki yang menjadi bahan pembicaraan dengan Sisil.
Faza, laki-laki tampan yang sudah mencuri hati Sisil. Laki-laki tampan yang sudah membuat dirinya dalam masalah sejak pertama bertemu.
Jam pelajaran yang berlangsung hingga sore. Terasa sangat lama buat Dira. Apalagi saat mengingat ucapan Sisil tadi siang. Tentang status sosial dirinya yang hanya orang rendahan serta kotor.
“Dira,” panggil guru matematika yang sama sekali tidak mengalihkan perhatian perempuan cantik berhijab itu.
“Dira,” panggil guru matematika kembali yang lagi-lagi tidak ditanggapi.
Panggilan beberapa kali guru matematika yang sama sekali tidak ditanggapi Dira. Jelas saja membuat Dira menjadi pusat perhatian semua teman sekelasnya, tanpa terkecuali Faza.
Karena tidak ada tanggapan dari Dira yang hanya diam sambil melamun. Membuat guru matematika memutuskan menghampiri Dira. Mengulurkan tangannya untuk menepuk pundak Dira.
Puk.
“Eh, ada apa, Bu?” tanya Dira cepat dengan menampilkan wajah kaget. Serta pandangan matanya mengawasi sekitar yang saat ini mengawasinya.
“Kamu sakit?” tanya guru matematika khawatir.
“Saya sehat, Bu. Saya baik-baik saja,” jawab Dira memastikan kesehatannya.
“Tapi wajah kamu pucat, Dira. Kamu juga tidak menanggapi panggilan Ibu berulang kali.”
“Maaf, Bu.”
“Apakah ada hal yang kamu pikirkan, hingga tidak mendengar Ibu memanggil?”
“Tidak, Bu. Saya baik-baik saja. Ibu tidak perlu khawatir,” ucap Dira.
“Maafkan saya, Bu. Lain kali tidak akan terjadi lagi,” lanjut Dira.
Jawaban yang diberikan oleh Dira membuat Faza langsung menyunggingkan senyumnya. Sudut bibirnya terangkat sedikit. Lalu menggelengkan kepalanya sebagai reaksi atas penuturan Dira.
“Dasar pembohong amatir! Mencari alasan masuk akal saja tidak bisa,” gumam Faza yang bisa didengar sangat jelas oleh Sisil.
Mendengar ucapan serta tatapan mata Faza kearah Dira. Jelas membuat Sisil mengepalkan tangannya kuat. Hingga kuku-kukunya memutih.
Meskipun saat ini Faza tengah duduk di sampingnya. Namun, tetap saja Dira lah yang menjadi perhatian Faza.
‘Dasar perempuan tidak tahu malu,’ geram Sisil dalam hatinya. Karena tidak mungkin dirinya berkata terang-terangan. Apalagi ada Faza di sampingnya.
‘Dia benar-benar sangat pintar mencari perhatian para laki-laki. Dasar orang miskin menjijikan. Benar-benar harus dikasih pelajaran. Awas kamu,’ batin Sisil tidak menyukai Dira sejak awal kenal.
Mungkin karena kecantikan, kelembutan maupun sikap manis yang dimiliki. Pada awal tahun pelajaran banyak laki-laki tertarik pada Dira.
Namun, karena sikap Dira yang cuek dan tidak pernah menanggapi godaan dari teman sebaya. Membuat para laki-laki itu silih berganti menyerah.
Apalagi saat Sisil mulai memberikan peringatan keras pada Dira. Karena bagi Sisil, hanya dia lah yang pantas menjadi pusat perhatian.
“Dira, pimpin doa pulang.”
“Baik, Bu.”
“Perhatian semua, sebelum pulang mari kita berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Berdoa mulai!”
“Berdoa selesai!”
“Beri salam!”
“Selamat sore, Bu.”
“Selamat sore, sampai ketemu esok hari.”
Setelah kepergian guru matematika, para siswa silih berganti keluar dari kelas. Sedangkan Dira memilih untuk tetap berada di kelas menunggu sampai semua pergi.
Sedangkan Faza juga memilih hal sama seperti Dira lakukan. hal itu tentu membuat Sisil merasa kesal atas tindakan yang dilakukan oleh Dira. Menganggap Dira sengaja mencari perhatian pada Faza.
“Faza, maukah kamu pulang dengan…?”
“Tidak bisa, aku ada keperluan,” potong cepat Faza sambil mencangklong tasnya.
Dengan langkah panjang Faza keluar dari kelas. Meninggalkan Sisil yang tampak sangat kesal. Sebab, rasa penasarannya terhadap Faza masih sangat besar. Karena belum berhasil mendapatkan perhatian laki-laki itu.
“Benar-benar bikin kesal,” gerutu Sisil saat keinginannya tidak terlaksana. Lalu memilih pulang dengan perasaan kesal.
Setelah kelas sudah tampak sepi. Dira baru mengambil tasnya.
Sebelum pulang, seperti biasa terlebih dahulu pergi ke kantin untuk mengambil hasil penjualan nasi uduk beserta gorengan hari ini.
“Neng Dira ini uang nasi bungkusnya. Besok kalau bisa ditambah lagi. Banyak yang suka sama nasi uduk bikinan Mbah Sekar.”
“Baik, Bu. Nanti saya sampaikan ke Mbah.”
Setelah mendapatkan uang hasil penjualan nasi uduk. Dira langsung menuju ke parkiran tempat sepedanya berada.
Dari kejauhan tampak sepeda tua yang rantainya tampak berkarat. Hingga akan terasa berat bila dikayuh.
“Alhamdulillah, nasi uduknya habis. Sepertinya aku harus membeli banyak bahan hari ini. Lumayan hasil penjualan nasi uduk bisa untuk menabung biaya ganti rantai sepeda,” ucap Dira dengan penuh semangat.
Senyum cantik yang selalu menghiasi wajah Dira. Membuat aura yang ditampilkan semakin bertambah.
Meskipun tanpa adanya polesan makeup. Serta ayunan sepeda tua yang sangat jarang ada remaja seusianya mau menggunakan.
“Semangat Dira,” ucap Dira menyemangati dirinya sendiri.
Kriet… kriet!
Dira mengayuh sepeda tuanya menuju ke toko bahan sembako. Lagi dan lagi suara rantai yang terdengar cukup nyaring selalu menemani Dira.
Ceklek.
Setelah menstandarkan sepedanya di samping toko. Dira menuju toko siap untuk berbelanja.
“Mau beli apa, Dira?” tanya ibu penjaga toko saat melihat kedatangan pelanggannya.
“Mau beli beras 6 liter, bihun 5 bungkus, garam 1 bungkus, telur setengah kilogram,...”
“Wah, sepertinya ada pesanan ini,” goda pemilik toko.
“Alhamdulillah, iya, Bu.”
Dira menyebutkan barang-barang yang sekiranya akan dirinya butuhkan untuk pembuatan nasi uduk spesial. Tidak hanya nasi uduk saja. Melainkan bahan pembuatan gorengan sebagai teman makan nasi uduk.
“Total semua belanjaan 120 ribu rupiah.”
“Ini uangnya, Bu.”
“Ibu terima pas dari kamu ya, Dira.”
“Terima kasih banyak, Bu, assalamualaikum.”
“Waalaikumussalam, Dira. Semoga dagangan Mbah Sekar semakin laris manis.”
“Aamiin, terima kasih banyak doanya.”
Setelah mendapatkan bahan sembako. Dira kini beralih untuk membeli tempe, sayuran, maupun bahan masakan lainnya. Setelah dirasa semua bahan yang dibutuhkan sudah didapatkan. Dira langsung pulang menuju ke rumah.
Kriet! Kriet!
“Kenapa hari ini ayunan sepeda terasa semakin berat?” gumam Dira bertanya-tanya.
“Setelah sampai di rumah aku harus mengolesi rantai sepeda ini menggunakan oli. Baru besok setelah pulang sekolah ke bengkel ganti rantai.”
Jelas Dira merasa lebih berat dari biasanya. Selain karena faktor rantai yang sudah kering. Juga disebabkan beban yang dibawa oleh Dira. Membuat peluh keringat terlihat jelas di wajah cantiknya.
TEG!
“Eh, rantainya putus,” keluh Dira kaget sambil terus memperhatikan rantai sepedanya.
“Hurrff! Rumah masih jauh dan bengkel juga tidak terlihat,” keluh Dira sebentar. Lalu kembali tersenyum karena tidak ingin putusnya rantai menjadi beban untuknya.
“Sepertinya aku kurang berolahraga. Mumpung rantainya putus. Jadi, semangat jalan kaki,” ucap Dira menyemangati dirinya sendiri.
Sambil mengawasi sekitar mencari bengkel sepeda. Dira menuntun sepedanya menuju ke arah pulang. Namun, hingga setengah perjalanan Dira belum ketemu dengan bengkel sepeda.
“Seingatku di sekitar tempat ini ada bengkel yang bisa memperbaiki sepeda. Kenapa tiba-tiba aku tidak melihatnya? Apakah aku hanya berimajinasi saja karena kelelahan?” gumam Dira merasa heran atas pandangan matanya sendiri.
“Semoga aku menemukan bengkel itu. Agar sepeda ini bisa digunakan esok hari,” ucap Dira penuh harap.
Tit!
Baru juga Dira menyelesaikan ucapannya. Tiba-tiba terdengar suara klakson dari arah belakang.
Karena menganggap banyak motor yang lalu-lalang membuat Dira tidak menghiraukan suara tersebut. Kembali melangkahkan kakinya sambil mendorong sepeda serta memegangi barang belanjaan.
Tit!
Lagi-lagi Dira tidak menanggapi suara klakson itu. Kembali melangkahkan kakinya mengingat waktu sore sudah mulai berganti dengan langit gelap.
TIT!
Rasa kesal langsung menyelimuti Dira. Senyum dan semangat yang sebelumnya masih menggebu. Kini, hilang karena suara klakson mengganggu.
“Seperti dia satu-satunya orang punya motor di negara ini. Benar-benar tidak sopan klakson berulang kali,” gerutu Dira tanpa sedikit pun menengokkan kepalanya ke sumber suara.
“Benar-benar batu!”
Suara yang terdengar cukup familiar membuat Dira menghentikan langkah kakinya sejenak.
“Seperti kenal suaranya. Seperti suara laki-laki itu. Ah, gak mungkin.”
Dira kembali melangkahkan kakinya. Mencoba membuang pemikiran tentang sosok pemilik suara yang sudah mulai masuk dan menyelimuti pikirannya.
TIIIIIT… TIIIIT!
Suara kencang yang berasal dari motor milik seseorang, langsung menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sekitar tersebut. Membuat salah seorang ibu-ibu paruh baya berinisiatif menghampiri Dira.
“Neng, kalau berantem sama pacarnya jangan dijalan raya! Bikin malu jadi pusat perhatian semua orang yang ada di jalan.”
Ungkapan kekesalan yang diucapkan oleh sosok perempuan paruh baya tentu saja membuat Dira heran. Sehingga pandangannya langsung menengok ke arah belakang.
“Aku antar kamu pulang,” ucap sosok laki-laki dengan helm full face menutupi wajahnya.
“Kamu siapa?” tanya Dira memastikan. Meskipun sosok tersebut memiliki tipe suara tidak asing untuk Dira.
Tapi, tetap saja Dira harus memastikan praduganya. Membuat sosok tersebut harus membuka kaca helmnya.
Sreeet!
“Ini aku,” ucap Faza cepat dengan wajah sedikit kesal.
“Aku bisa pulang sendiri.”
“Neng! Jangan berantem di jalan!” potong ibu paruh baya itu kembali dengan perasaan sedikit kesal. Lalu kembali pergi meninggalkan Dira dan Faza yang kini saling menatap.
“Aku tidak bisa meninggalkan sepedaku disini,” ucap Dira mencoba menolak pertolongan dari Faza.
“Aku yang dorong sampai ke bengkel. Cepat naik!”
“Aku...”
“Cepet naik!” potong Faza cepat.
“Jok motormu terlalu tinggi untukku.”
Badan Dira memang tergolong pendek. Sangat jauh berbeda dengan Faza yang memiliki badan menjulang tinggi. Membuat Faza harus menstandarkan motornya untuk membantu Dira. Karena saat ini Faza menggunakan motor laki-laki
“Mau ngapain kamu?” tanya Dira gugup saat Faza menarik pergelangan tangannya.
“Cepetan naik! Aku akan membantumu.”
“Terus, bagaimana dengan barang belanjaanku?”
“Tinggal dibawa seperti biasa saja. Kenapa dibuat ribet sendiri?” gerutu Faza sambil menstandarkan sepeda Dira.
Setelah memastikan barang belanjaan Dira dirasa sudah aman. Faza kembali menarik Dira.
“Cepat naik! Memangnya kamu mau menjadi pusat perhatian semua orang?”
Dengan perasaan enggan karena belum mengenal baik Faza. Membuat Dira hanya bisa menampilkan wajah cemberut.
“Pegangan!”
“Iya,” jawab kesal Dira.
Setelah Dira sudah dipastikan naik ke jok motor. Kini Faza mengambil barang belanjaan Dira yang tidak sedikit.
“Bawa ini di pangkuanmu!”
“Iya.”
“Pegangan di pundakku!”
“Tidak mau.”
“Terserah kamu saja.”
GREEEENG!
ARGH!
“Jangan seperti itu! Aku mau jatuh,” gerutu Dira saat Faza ngegas motornya lalu ngerem mendadak.
“Makanya pegangan.”
“Tidak mau,” tolak Dira.
“Dasar batu!”
Setelah memastikan Dira sudah dalam keadaan aman beserta barang belanjaannya. Faza mengendarai motornya sambil mendorong sepeda Dira untuk menuju ke bengkel terdekat.
Membuat Faza harus berkonsentrasi karena membawa beban berlebih dengan tangan sebelah mendorong sepeda Dira, tidaklah mudah.
Ternyata suara klakson motor kencang milik Faza. Tidak hanya menjadi pusat perhatian warga sekitar.
Melainkan juga sosok perempuan di dalam mobil mewah. Sosok perempuan yang seharian kesal dengan Dira. Kini semakin bertambah kesal saat melihat secara langsung kedekatan antara Dira dan Faza.
“Dasar perempuan haram tidak tahu malu. Bisa-bisanya menggoda Faza ku. Benar-benar harus dikasih pelajaran biar tidak kecentilan,” geram sosok perempuan di dalam mobil.
“Tunggulah, aku pastikan kamu tidak akan pernah tersenyum lagi,” lanjut sosok tersebut.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!