Indonesia
NovelToon NovelToon

Cinta Kembali Saat Rambut Memutih

Bab 1

Seorang wanita yang masih terlihat begitu cantik meski sudah berumur. Rambutnya pun sebagian sudah ada yang memutih. Namun, wanita itu tetap terlihat bugar karena memang selalu menjaga pola makan, juga selalu menjaga kesehatan dengan berolahraga ringan.

Dia seorang nenek yang bernama Ainun. Wanita itu tinggal di sebuah desa bersama dengan cucunya—Alif. Anak dan menantunya sendiri tinggal di luar negeri dan bekerja di sana. Mereka mendapatkan tugas dari perusahaan untuk menyelesaikan masalah yang ada di sana dan tidak memungkinkan untuk membawa Alif, jadilah anak itu dititipkan pada neneknya.

Dulu saat kecil Alif tinggal bersama orang tuanya di luar kota, tapi semenjak kedua orang tuanya dipindahkan tugas ke luar negeri, Alif dititipkan pada Ainun. Wanita paruh baya itu pun tidak keberatan. Justru dengan kehadiran cucunya, dia merasa senang meski setiap hari harus memperbanyak kesabaran akan tingkah laku cucunya.

Ponsel Ainun yang ada di atas meja berdering. Wanita itu pun segera meletakkan segelas teh yang diminumnya dan segera mengangkat panggilan tersebut. Ternyata dari sekolah cucunya. Tanpa dijelaskan pun Ainun sudah tahu alasan dari pihak sekolah menghubunginya. Pasti karena cucunya yang sudah membuat ulah. Entah kali ini apalagi yang dilakukan oleh anak itu.

"Assalamualaikum, Bu."

"Waalaikumsalam, Pak. Apa cucu saya membuat ulah lagi, Pak?" tanya Ainun yang tidak ingin berbasa-basi.

"Iya, seperti yang Ibu perkirakan, Alif saat ini memang berada di ruangan BK dan saya berharap Ibu segera bisa datang."

Ainun mencoba meredam amarahnya dan bertanya, "Kali ini dia membuat ulah apalagi, Pak?"

"Dia mengerjai teman sekolahnya. Padahal temannya itu murid baru yang baru hari ini masuk sekolah. Mungkin maksudnya Alif ingin berkenalan, tapi cara Alif untuk berkenalan jadi agak terlalu berlebihan. Saya juga sudah menghubungi orang tua dari murid tersebut dan nanti Anda bisa bicara juga sekalian di sini."

"Baik, Pak. Saya akan segera ke sana."

"Kami tunggu kedatangan Ibu, assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Ainun pun memutuskan sambungan telepon. Wanita itu mau membuang napas panjang. Selalu seperti ini. Entah kapan cucunya itu sadar dan tidak membuat ulah lagi seperti ini. Akan tetapi, sepertinya akan sulit padahal dulu anaknya yang merupakan ayahnya Alif tidak seperti ini. Entah dari mana kenakalan cucunya itu.

Ainun pun pergi dengan diantar oleh seorang sopir menuju tempat sekolah cucunya. Sudah berapa kali dia menasehati Alif agar tidak membuat ulah. Entah kenapa anak itu tidak pernah mau mendengarkan nasehatnya, padahal jika dilihat dengan saksama cucunya itu bukan tipe anak yang bandel-bandel amat. Tingkahnya masih bisa diperbaiki, tapi ternyata sulit sekali. Mungkin itu hanyalah penilaiannya sendiri saja.

Mobil yang ditumpangi Ainun akhirnya sampai juga di sebuah sekolah swasta ternama di kota tersebut. Wanita itu turun dari mobil dan segera menuju ruangan guru BK, yang sudah sangat dia hafal karena beberapa kali dia sudah datang ke sana, bahkan pernah menjadi amukan wali murid lainnya. Saat Ainun menghubungi sang putra dan mengatakan apa yang dilakukan oleh Alif, mereka hanya bisa pasrah karena dulu juga selalu seperti itu.

Begitu Ainun masuk ke ruang BK, terlihat di sana Alif cucunya sedang duduk dengan begitu santai, seolah tidak pernah melakukan kesalahan apa pun. Lihatlah keadaannya yang sudah kacau. Seragam yang terlihat kusut serta memar di pipi dan pelipis.

Hal itu semakin membuat Ainun membuang napas kasar. Alif memang selalu seperti itu. Jika dia merasa tidak melakukan kesalahan pasti terlihat biasa saja. Berbeda jika memang dirinya yang melakukan kesalahan, tanpa diminta pun pasti anak itu akan langsung meminta maaf.

"Selamat siang, Bu Ainun. Mari silakan duduk!" ujar seorang guru BK yang bernama Pak Anton.

Ainun pun mengangguk dan duduk di samping cucunya. Di seberang terdapat seorang murid lainnya yang penampilannya tidak jauh berbeda dari cucunya. Ada beberapa luka di wajah dan penampilannya pun sudah acak-acakan. Seragam yang dipakai juga terlihat begitu kusut.

"Pak, kali ini apa yang dilakukan cucu saya?"

"Sama seperti sebelumnya, Bu Ainun. Alif bertengkar dengan temannya, tapi yang saya heran kali ini justru bertengkar dengan murid baru. Ini adalah murid baru kami, namanya Fajar. Dia murid baru hari ini dia sekolah. Kami juga sedang menunggu wali dari fajar untuk datang, semoga saja Fajar dan Alif bisa perbaikan dan tidak membuat masalah ke depannya. Semoga keluarga juga bisa bekerjasama dengan kami untuk membimbing mereka."

Ainun melirik ke arah cucunya dan saat itulah Alif baru menundukkan kepala. Anak itu tahu jika saat ini omanya benar-benar sangat marah dan dia tidak bisa melihat itu. Meskipun selama ini Alif sering membuat ulah, tapi omanya tidak pernah benar-benar marah. Hanya selayaknya orang tua selalu mengomel dan pada akhirnya akan menguap begitu saja.

"Kenapa kamu membuat ulah lagi dan sekarang malah sama murid baru? Kamu ada masalah sama dia? Kamu 'kan baru kenal dia hari ini? Tidak bisakah kamu berkata-kata lebih sopan dan lembut?"

"Siapa bilang aku tidak mengenalnya, Oma? Dia itu musuhku dari sekolah lama sebelum aku pindah ke sini, saat masih tinggal sama mama dan papa."

Ainun melirik ke arah pemuda di depannya yang ternyata sedang melirik ke sinis ke arah cucunya. Pantas saja Alif bertengkar dengan murid baru, ternyata mereka sudah saling mengenal di sekolah lama. Kalau sudah seperti ini pasti ke depannya mereka akan bertengkar lagi. Pasti di sekolah lama mereka selalu bertengkar.

"Nak Fajar, maafkan cucu Oma, ya! Dia memang selalu seperti itu, selalu membuat masalah. Kamu mau maafin cucu kamu ya?"

Fajar menatap wanita paruh baya itu dengan saksama. Ada sesuatu memori yang mengatakan jika dia pernah melihat wanita itu, tapi yang dirinya lihat dalam versi masih muda. Meskipun begitu kecantikannya masih sama dan Fajar sangat yakin jika orang yang ada di depannya adalah orang yang sama dengan apa yang ada di pikirannya.

Akan tetapi, Fajar melihatnya di mana itulah yang dirinya lupa atau mungkin memang itu hanya perasaannya saja. Nanti dia akan mencoba mengingat kira-kira di mana mengenal wanita yang ada di depannya itu.

Alif kesal karena Omanya justru meminta maaf Padahal dia sama sekali tidak bersalah, memang si Angga saja yang selalu membuat ulah.

"Oma, kenapa minta maaf sama dia? Aku tidak salah. Dia yang lebih dulu menyerangku. Aku tidak salah 'kan jika membalasnya."

"Sudah, kamu diam saja. Kamu itu selalu membuat ulah. Apa kamu tidak bosan setiap hari dipanggil guru BK. Mau kamu Oma masukin ke pesantren, biar sekalian dididik sama ustad di sana. Lebih baik kamu di sana, biar tidak membuat Oma jantungan terus."

"Jangan dong oma! Bukannya Oma yang dulu pernah bilang jika ada orang yang mengganggu kita, maka kita harus membalasnya."

"Tidak dengan cara yang kasar juga Alif. Selagi kita bisa berdamai dengan baik-baik kenapa harus mencari masalah? Sekarang kamu minta maaf sama temanmu itu."

"Apa? Tidak!"

Bab 2

"Baiklah, kalau begitu Oma akan kirim kamu ke pesantren saja. Oma tidak bisa menjaga dan mendidikmu lagi," pungkas Ainun.

Rasanya sangat melelahkan, berkali-kali menasehati cucunya, tapi tidak dihilangkan sama sekali. Meski sejujurnya dia masih ingin tetap bersama dengan cucunya di desa ini, tapi jika terus-terusan membuat ulah seperti ini, hidupnya juga tidak akan tenang. Padahal di usianya yang sekarang inginnya hanya bersantai dan menikmati masa tua tanpa ada gangguan sama sekali.

"Jangan dong , Oma! Oma 'kan nenek yang paling aku sayangi. Jangan ya, Oma," ujar Alif dengan tatapan memohon.

Kalau sudah seperti ini sudah pasti Ainun tidak tega karena memang Alif adalah cucu satu-satunya dari anak semata wayangnya. Sepertinya kehadiran Alif memang untuk memperpendek umurnya. Padahal wanita itu masih ingin menikmati hidup santai di desa ini. Kenapa sekarang rasanya berat sekali.

"Permisi, maaf saya datang terlambat. Saya wali dari Fajar," ucap seorang pria baru baya yang baru saja datang.

Ainun yang tadinya sedang marah pada cucunya pun juga ikut menoleh. Dia merasa sedikit familiar dengan nada suara tersebut. Alangkah terkejutnya saat melihat siapa yang datang. Meski wajahnya sudah menua dan sedikit berkeriput, tapi Ainun masih sangat mengenalinya. Pria itu adalah seseorang dari masa lalunya yang tidak pernah benar-benar pergi dari hatinya.

"Ainun," gumam pria tersebut yang juga sama terkejutnya saat melihat wanita yang selalu mengisi hatinya hingga saat ini.

"Selamat siang juga, Pak. Silakan duduk! Kita duduk bersama di sini ingin membicarakan masalah anak-anak."

Malik mengangguk. Namun, pandangannya tetap tertuju pada wanita yang selalu mencuri perhatiannya. Sudah bertahun-tahun mereka tidak bertemu lagi, tetapi Malik masih bisa mengenali wanita itu. Dari cara pandang matanya masih sama, tidak ada yang berubah dalam diri wanita itu.

Ainun sendiri jadi merasa gugup dan bingung harus bagaimana. Dia berusaha untuk tidak menatap pria yang duduk di depannya. Sebisa mungkin dirinya bersikap biasa saja. Ainun tidak ingin membuat suasana jadi tidak nyaman.

Pak Anton pun menjelaskan kronologi yang dia dengar dari beberapa saksi. Tadi saat jam istirahat berlangsung, Fajar berada di kantin seorang diri, tiba-tiba saja Alif datang bersama dengan teman-temannya dan mengganggu Fajar yang sedang makan. Awalnya mereka hanya berbincang santai. Namun, penuh aura permusuhan.

Hingga akhirnya perdebatan pun terjadi. Keduanya yang sama-sama emosi pun tidak bisa menahan diri dan akhirnya terlibat baku hantam. Beberapa siswa ada yang mencoba melerai, tapi tidak berhasil karena tenaga keduanya cukup besar.

Ainun dan Malik sama-sama mendengarkan penjelasan Pak Anton. Meski keduanya tidak benar-benar fokus pada yang diucapkan oleh guru tersebut. Rasa penasaran akan kehidupan mereka, membuat keduanya tidak terlalu memperhatikan masalah di sekitarnya.

"Saya sudah meminta mereka untuk saling meminta maaf dan berdamai, tapi mereka tetap tidak mau dan saling menyalahkan satu sama lain."

"Saya ikut saja apa yang menjadi keputusan pihak sekolah untuk membuat anak-anak ini jera. Saya juga tidak membenarkan apa yang dilakukan oleh cucu saya," ujar Ainun.

Malik pun mengiyakan apa yang dikatakan wanita itu, hingga akhirnya pihak sekolahan memberi hukuman untuk keduanya. Selama satu minggu Fajar dan Alif akan membersihkan seluruh toilet yang ada di sekolah ini. Tidak lupa juga menulis surat Yasin sebanyak tiga kali, itu pun harus ditulis dengan tangan dan tidak boleh meminta orang lain untuk mengerjakannya. Nanti di sekolah akan ada pencocokan tulisan tangan antara tugas yang diserahkan dan tulisan yang ditulis saat itu.

"Apa? Banyak sekali hukumannya, Pak? Apa tidak cukup membersihkan toilet saja, kenapa harus menulis segala," protes Alif.

"Itu masih ringan daripada kamu dikeluarkan dari sekolah," sela Ainun.

Meskipun dia sangat menyayangi cucunya, tapi jika memang Alif salah, tentu dirinya juga akan mendukung pihak sekolah yang ingin menghukumnya.

"Saya juga setuju, Pak. Saya sendiri yang akan mengawasinya saat mengerjakan hukumannya di rumah," sahut Malik dengan begitu yakin.

"Opa 'kan gak pernah ke rumah, kapan Opa akan mengawasiku?" sela Fajar dengan mendengus kesal.

"Sudah, kamu diam saja. Jangan banyak bicara, nanti opa dan omamu akan menghukummu lagi saat tahu apa yang terjadi," bisik Malik membuat Fajar semakin kesal.

Pria di sampingnya memang bukan kakek kandungnya. Malik adalah teman kakeknya, tapi selalu ada untuk keluarganya dan dianggap seperti kakeknya sendiri.

Bab 3

Setelah keputusan hukuman diambil oleh pihak sekolah Alif dan Ainun pun pergi lebih dulu. Malik yang mengetahui itu pun segera pamit juga. Dia menarik fajar dengan tergesa agar mengikutinya.

"Opa, kenapa menarikku? Aku bisa jalan sendiri!" seru Fajar.

Namun, tidak dipedulikan oleh Malik. Pria paruh baya itu terus menarik Fajar agar bisa mengejar Ainun. Dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang sudah Tuhan berikan. Malik yakin jika pertemuannya dengan Ainun kali ini memang sudah rencana Tuhan untuk menyatukan mereka kembali.

Dulu dia pernah mengatakan jika dipertemukan lagi dengan Ainun, maka dirinya akan melakukan apa pun agar bisa bersatu kembali dengan wanita itu. Bahkan kalau pun Ainun masih memiliki suami, Malik tidak peduli, dia akan merebutnya.

"Tunggu, Ainun! Tunggu!" panggil Malik dengan sedikit berlari mengejar Ainun.

Namun, Ainun seolah sengaja terus berjalan berpura-pura tidak mendengar panggilan itu. Dia sudah tahu apa yang akan dibicarakan oleh Malik nanti. Wanita itu tidak ingin terjebak di masa lalu. Jika Malik ingin meminta maaf, bukankah dulu sebelum berpisah pria itu sudah meminta maaf padanya.

Alif yang mendengar panggilan itu pun menoleh. Namun, tangannya lebih dulu ditarik oleh Ainun. Entah alasan apa yang omanya miliki, sepertinya sengaja menghindar dan tidak ingin terlibat dengan opanya Fajar itu.

"Ainun, tunggu!" seru Malik yang kemudian menghadang langkah mereka.

Ainun pun seketika berhenti. Napasnya sudah ngos-ngosan karena memang tadi dia sekuat tenaga menarik cucunya. Padahal usianya sudah tidak muda lagi, tentu harus mengeluarkan tenaga lebih. Alif dan Fajar yang berada di antara keduanya pun hanya bisa melirik mereka bergantian.

"Kenapa kamu menghindariku? Tidakkah kamu ingin menyapaku lebih dulu?" tanya Malik dengan suara lembut.

"Maaf, Pak Malik, tapi saya ada urusan dan harus segera pulang."

"Kenapa terburu-buru? Sudah waktunya makan siang, sebaiknya kita makan siang dulu sambil berbincang."

"Seperti yang saya sudah katakan, Pak Malik, saya lulusan dan saya harus pulang."

Ainun mengajak Alif masuk ke dalam mobilnya yang memang sudah ada di dekatnya. Mereka pun segera meninggalkan halaman sekolah, meninggalkan Malik yang hanya bisa memandangi kepergian mobil yang dinaiki oleh Ainun. Dia sangat merindukan wanita itu, tapi kenapa Ainun tidak merasakan hal yang sama.

"Yah, merana deh, gara-gara gagal ngajakin cewek makan siang," ucap Fajar yang berada di belakang Malik.

Pemuda itu sengaja ingin mengejek pria yang dipanggilnya 'opa' itu. Hubungan mereka memang cukup dekat, bahkan terkadang saling ejek dan saling memanfaatkan.

"Ini semua gara-gara kamu! Seharusnya tadi kan kamu bisa jalan cepat agar Opa bisa mengejar Ainun."

"Percuma, Opa, sepertinya omanya Alif tidak tertarik sama Opa."

"Siapa bilang? Meskipun Opa sudah tua, tapi Opamu ini masih tampan dan kuat, tahu!"

"Tapi aku lihat Omanya Alif itu bukan tipe wanita yang memuja ketampanan."

Malik mengangguk dengan lemah. Dia membenarkan apa yang dikatakan Fajar. Ainun memang bukan wanita pemuja ketampanan dan kekayaan. Kedua hal itu juga yang membuat hubungan mereka dulu kandas. Sekarang bukankah sudah berbeda, apakah masih belum bisa membuat wanita itu bertahan dengannya.

"Fajar, kamu mau nggak bantu Opa," ucap Malik dengan tatapan penuh misteri.

Fajar jadi begidik ngeri. Dia sebenarnya merasakan sesuatu yang aneh dengan tatapan itu. Namun, rasa penasarannya lebih menguasai akal pikirannya. Fajar tahu jika opanya itu sedang merencanakan sesuatu yang di luar nalar, tapi itu justru membuat dia menyukainya.

Hingga akhirnya Fajar pun bertanya, "Bantuin apa, Opa?"

"Cari tahu tentang Omanya Alif. Apakah dia masih ada suami atau sudah sendirian dan bagaimana kehidupannya selama ini."

"Caranya?"

"Dekati Alif dan berteman dengannya."

"Apa! Tidak. Aku tidak mau. Opa 'kan tahu sendiri kalau aku sama Alif itu musuhan. Mana mungkin aku dekatin dia dan cari tahu tentang omanya. Nggak! Aku nggak mau."

"Ayolah, Fajar! Memangnya kamu tidak lelah terus-terusan berantem?"

"Tidak. Aku justru menyukainya."

"Halah, bohong banget. Opa akan memberikan kamu apa pun yang kamu mau asalkan kamu mau bantu Opa."

"Tidak mau, Opa. Walaupun Opa mau kasih aku mobil keluaran terbaru juga aku nggak akan pernah mau. Pokoknya aku tidak mau dan tidak akan pernah suka, titik. Terserah Opa mau melakukan apa," ujar Fajar yang segera pergi dari sana.

Malik yang melihat itu pun jadi tergagap. Dia harus bisa membuat Fajar membantunya untuk mencari tahu tentang Ainun. Malik pun mengejar bocah laki-laki itu. Apa pun yang terjadi, dia harus mendapatkan Ainun.

"Fajar, ayo dong! Jangan gitu sama Opa. Selama ini Opa sudah baik lho sama kamu. Kamu harus bantuin Opa."

"Nggak mau, Opa. Lebih baik cari wanita lain saja. Aku akan mendukung seratus persen. Opa maunya seperti apa, aku akan mencarikannya. Di luar sana banyak kok wanita tua yang masih cantik asalkan ada uangnya."

"Tidak bisa. Opa maunya Oma Ainun."

"Tidak. Pokoknya tidak! Aku tidak mau dekat dengan Alif, apalagi harus saudaraan sama dia. Aku nggak mau."

"Fajar!"

"Pria yang sedang mengalami puber kedua memang meresahkan," gumam Fajar di sela langkahnya.

Malik mendengar gerutuan Fajar. Namun, pria itu sama sekali tidak peduli. Dia terus berusaha membujuk Fajar dan keputusan Fajar pun tetap pilihan awal. Pemuda itu tidak akan pernah mau membantu Malik untuk mendapatkan Ainun karena dia tidak ingin saudaraan dengan Alif.

***

"Oma kenal sama laki-laki tadi?" tanya Alif saat mobil yang mereka tumpangi sudah meninggalkan halaman sekolah.

"Enggak," jawab Ainun dengan singkat.

"Oma, jangan bohong deh, kelihatan sekali kalau pria itu lagi ngejar-ngejar Oma. Apa dia mantan Oma?"

"Alif, sejak kapan kamu jadi tukang gosip?"

"Aku 'kan cuma nanya."

"Sudah, lebih baik kamu diam. Sebaiknya kamu pikirkan saja cara bagaimana nanti kamu bicara sama kedua orang tuamu."

"Oma lapor sama papa dan mama?"

"Tentu saja. Oma sudah capek nasehatin kamu, jadi biarkan orang tuamu saja yang nasehatin kamu sendiri."

"Oma, mah gitu, sudah nggak sayang sama cucunya. Padahal aku ini cucu Oma satu-satunya. Bagaimana kalau nanti uang sakuku dikurangi?"

"Bagus kalau begitu."

"Oma ...."

"Nggak usah pura-pura melas. Sudah nggak mempan sama Oma."

Alif cemberut sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Ainun merasa lega, setidaknya dengan cara seperti itu Alif tidak akan bertanya banyak hal tentang Malik. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan pria itu lagi setelah berpuluh-puluh tahun tidak bertemu.

Ainun mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Dia menatap jalanan yang terlihat lenggang karena semuanya masih sibuk dengan kegiatan masing-masing. Pikirannya melayang jauh ke masa lalu, di mana dirinya ditolak mentah-mentah karena status sosialnya yang lebih rendah.

Penghinaan yang dulu dia rasakan masih sangat membekas meski sudah bertahun-tahun lamanya. Meskipun saat itu Malik sudah berusaha membelanya, tapi tetap saja dirinya punya harga diri dan tidak ingin mengemis cinta lagi. Kini semuanya telah berlalu, tapi kenapa masa lalu itu kembali hadir. Apakah mungkin ada sesuatu yang belum terselesaikan dan sekarang Tuhan memberikan kesempatan untuk menyelesaikannya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!