Indonesia
NovelToon NovelToon

TEROR LEAK (Jiwa Yang Tergadai)

Metatah (Upacara Yang Di Ganggu)

Putu Saraswati sedang duduk bersila di atas sebuah bale. Nafasnya terasa sesak, dan pandangannya menerawang ke sekelilingnya.

Sesekali ia melirik ke ujung balai.

Ia menggenggam ujung kebayanya. Wajahnya terlihat pucat, meskipun sudah di beri penawar doa, agar ia tidak merasa takut melakukan ritual nanti, tetapi ini cukup membuatnya gugup.

Di sampingnya, Kadek Dharma lebih terlihat tenang, dan mereka akan melakukan serangkaian adat ritual, yang sebentar lagi akan dilaksanakan.

Hari ini, mereka akan melaksanakan acara ritual metatah. Dimana gigi seri yang sudah tajam harus di kikir, dan biaya yang di keluarkan untuk acara ini tidak lah sedikit.

Sehingga para orangtua ada yang melakukannya secara massal, demi menghemat biaya tersebut.

Bagi orang tua di Bali, metatah adalah kewajiban yang tidak boleh di tinggalkan saat anak berusia remaja ataupun dewasa.

Hal ini dilakukan agar membuang sial seumur hidup, dan juga kemampuan mengontrol emosi.

"Kak, ini di pakai cincinnya. Kata bapak, agar tidak ada gangguan dari orang yang berniat jahat," Kadek Dharma menyerahkan sebentuk cincin pemberian dari dukun yang saat ini di tugaskan untuk menjaga agar upacara ritual nanti berjalan kondusif, tanpa gangguan apapun.

Sebenarnya, Putu Saraswati tidak percaya akan hal mistis, hanya saja, ia tak ingin menjadi anak durhaka, dengan menentang keinginan bapaknya.

Meski ada rasa malas, ia mengenakan juga cincin tersebut.

Sementara itu, sedari subuh sudah terlihat kejanggalan yang terus terjadi, dan sepertinya ada yang ingin menggagalkan acara tersebut.

Di dapur, Ibu Dharma sudah bolak-balik mengaduk lawar. Api sudah besar, belanga juga sudah panas, tapi daging tetap mentah, dan tak mau matang.

"Kenapa jadi begini? Api sudah sebesar ini, tetapi daging untuk lawar tak mau juga matang." gumamnya dengan perasaan gusar, dan tangannya tampak gemetar.

Komang Shinta merasa khawatir, sebab jika acara nanti selesai, tetapi masakan belum juga matang, maka ia akan merasa malu pada para tamu undangan, karena tidak akan ada makanan yang dihidangkan.

"Shin... Ini bagaimana? Sate lilitnya juga belum matang," Ketut Dewi juga merasakan ke kekhawatiran yang sama.

"Iya, Dew, aku juga gak tau kenapa bisa begini," sahut Komang Shinta. Mendadak ia merasakan bulu kuduknya meremang.

"Kok ada yang aneh ya?" gumamnya lagi.

Ia beranjak bangkit dari duduknya, meninggalkan rebusan daging yang tak juga mau empuk.

"Aku coba ganti pakai daging ayam saja. Mungkin daging babinya bermasalah," Komang Shinta menuju freezer.

"Masa iya bermasalah, kan dagingnya baru saja di antar tadi pagi, masih segar juga," sahut Ketut Dewi. Ia juga memperhatikan daging yang seperti tak berubah teksturnya.

Komang Shinta hanya mendengkuskan nafasnya, dan membuka freezer, tempat ia menyimpan semua stok daging.

Tak!

Pintu di buka, dan kepulan asap yang berasap dari kabut es menguap dengan rasa yang cukup dingin.

Akan tetapi, kedua matanya ikut membeliak. Ia diam terpaku, sembari menutup mulutnya.

Ia berteriak, tetapi suaranya tertahan di tenggorokan, dan nafasnya terasa berat, seolah ada gumpalan di dalam dadanya.

"Wi...." suaranya begitu lirih, tetapi Ketut Dewi cukup mendengarnya.

Ia melihat ekspresi wajah kakaknya yang tampak tegang, dan ikut beranjak menghampiri.

Saat ia berada di tempat, wajahnya juga pucat, dan merasakan dadanya cukup sesak.

"Kenapa bisa begini? Sepertinya ada yang sedang mencoba masuk," bisik Ketut Dewi.

Saat bersamaan, Nyoman Rani datang menghampiri.

"Ada, apa, Komang?" tanyanya, sembari melihat ke arah freezer.

"Apakah Nyoman Rani tak melihat, jika belatung begitu banyak memenuhi freezer." tunjuk Ketut Dewi ke arah tempat dimana para belatung berkerumun pada daging ayam beku, seolah mereka tak terpengaruh pada suhu rendah tersebut.

Nyoman Rani menatap ke arah belatung yang berkerumun di sana. Ia tersentak kaget, dan mencoba tenang. "Kita buang belatungnya. Nanti daging ayamnya kita cuci bersih, dan di masak lagi," sahutnya.

"Sepertinya kita sedang di ganggu," sahut Komang Shinta.

"Jangan percaya hal begituan," tukas Nyoman Rani, lalu mengambil kantong plastik yang dipenuhi belatung sebesar butiran beras. "Kita punya Dewa, jangan terlalu takut." ia mencoba menenangkan keduanya. Kemudian membawa keluar kantong kresek tersebut, dan menyiram semua belatung.

Tampak sisa belatung merayap di bagian sisa daging beku, dengan aroma anyir yang bercampur busuk.

Hal yang membuat Komang Shinta dan juga Ketut Dewi merasa ketar-ketir.

"Aku akan menemui Kadek Arya, aku akan melaporkan kejadian ini padanya. Kamu tunggu dapur, dan perhatikan apapun yang mencurigai," pesannya pada adik keempatnya. Lalu berjalan menemui Kadek Arya-suaminya.

Ketut Dewi mengangguk, lalu mencoba membersihkan sisa belatung yang tampak merayap ke bagian box freezer.

Di luar rumah, Mangku Gede yang merupakan seorang balian (Dukun) sedang duduk bersila di atas sebuah bale.

Hari ini, ia di percaya oleh Kadek Arya sebagai penjaga dalam acara ritual sakral kedua anaknya, agar semua berjalan dengan lancar.

Mangku Gede terdiam. Ia berhenti membaca mantra. Tatapannya tertuju pada halaman rumah Kadek Arya, dimana terdapat banyak makhluk melata berupa ular kawat berukuran sangat kecil, dan panjangnya hanya sekitar sepuluh sampai lima belas centimeter saja. Bahkan ular itu dijuluki blind snake.

Ular kawat dalam jumlah banyak tampak merayap di halaman Pura Banjar, tempat dimana acara metatah massal dilakukan, dan itu merupakan pemandangan yang menjijikkan bagi siapa saja yang melihatnya.

Mangku Gede beranjak dari duduknya. Ia menghampiri paving yang dipenuhi oleh ular kawat tersebut.

Meski tergolong ular tidak berbisa, tetapi kehadirannya sebagai pertanda, jika itu adalah kiriman seseorang yang berusaha merusak acara hari ini, tujuannya hanya satu mengambil salah satu jiwa dari para peserta ritual metatah.

Mangku Gede berdiri tepat diantara para ular kawat yang berkerumun layaknya sebuah ternak berisi makhluk melata.

Tubuhnya yang hitam mengkilap, dengan kepalanya yang tidak terlihat, membuat Komang Shinta berhenti diambang pintu.

Tubuh wanita itu membeku. Belum hilang rasa takutnya, kini ia sudah dihadapkan dengan pemandangan yang mengerikan.

Mangku Gede menatap Komang Shinta, dan memberi isyarat agar diam ditempat.

Komang Shinta mengangguk patuh dengan wajah pucat.

Sedangkan Mangku Gede mengambil dupa, lalu membakarnya, dan membaca mantra, meminta bantuan pada Sang Hyang Widhi untuk membantu ia dalam mengusir segala gangguan yang ada, sembari menutup kedua matanya.

Mangku Gede merasakan tubuhnya gemetar, dan mendadak terdengar suara geraman dari balik tembok Pura Banjar.

Mangku Gede terus membaca mantranya, hingga perlahan ribuan ular-ular itu berubah menjadi asap hitam, lalu menghilang.

Mangku Gede merasakan keringat mengalir dari pelipisnya. Ia merasakan serangan yang cukup kuat, dan mencoba mendobrak benteng ghaib pertahanannya.

~Makanan khas Bali yang mirip dengan urap, hanya saja mendapatkan tambahan suwiran daging yang direbus, dan perasan jeruk limau.

~Leak selalu mengganggu acara metatah (Kikir gigi) dan juga pernikahan. Sebab kedua acara ini dianggap suci. Bila mereka dapat menggagalkannya, dan mendapatkan tumbal dari korban, maka kekuatan mereka akan semakin bertambah.

Benda Berkilau

Komang Shinta bernafas lega, lalu melangkah mencari suaminya yang sedang berbincang dengan para orang tua dari peserta metatah.

Sebenarnya, Kadek Arya bisa saja membuat acara metatah sendiri untuk kedua anaknya, tetapi ia memilih untuk melakukan secara massal, dan menyumbang dana lebih banyak, agar para keluarga yang tidak mampu bisa ikut serta.

Komang Shinta menghampiri, dan memberi isyarat agar suaminya datang menghampirinya.

Kadek Arya mengangguk. "Ada apa, Sayang?

(Gek/Jegek\=cantik)

"Bli, kamu gak lihat apa ada kejanggalan yang sangat aneh sejak subuh tadi," bisiknya.

Kadek Arya menghela nafasnya dengan kasar. "Tenang saja, Mangku Gede sangat sakti, dia pasti bisa mengatasinya,"

"Tetapi, lawar belum matang, bagaimana nanti tamu mau makan? Bahkan nasi yang di tanak juga masih mentah, sudah berulang kali di masak,"

Kadek Arya terdiam. Ia melihat ke arah Mangku Gede, yang sepertinya sedang berkeliling Pura Banjar, untuk mencari gangguan lain yang terjadi.

Ia melihat Kadek Dharma yang sedang duduk di bale dengan wajah pucat ketakutan. Ia datang menghampiri remaja tersebut.

"Apakah kamu takut untuk di kikir?"

Dharma diam tak menjawab. Ia menundukkan kepalanya.

"Jangan takut," bisik Mangku Gede dengan suara yang pelan le Dharma dan Shinta yang sudah bersiap untuk melakukan ritual metatah. "Tetap duduk, jangan lihat keluar," pesannya.

Dharma menganggukkan kepalanya. Namun, air matanya tampak jatuh. Ia bukan takut sakit saat akan dikikir. Ia hanya takut dengan suara yang terdengar sedang menggaruk tembok Pura.

Upacara berjalan. Sepasang peserta metatah maju, dan setiap peserta yang akan di kikir mengenakan cincin pemberian dari Mangku Gede.

Putu Saraswati dan Kadek Dharma maju sebagai peserta pertama. Setelah selesai,mereka berkumur dan di tadah pada sebuah kelapa kuning yang sudah di lubangi bagian atasnya.

Akan tetapi, saat giliran peserta terakhir, listri Pura tiba-tiba langit mendadak mendung, dan...

Duaaar

Suara petir menggelegar dengan suara yang cukup keras.

Langit langsung menggelap.

Suasana mendadak hening. Dan yang terdengar hanya suara tetesan air diatas bale, padahal hujan sedang tidak turun.

Kadek Arya dan yang lainnya mulai merasa cemas.

"Bli, sepertinya ia tak menyerah, dan ingin membuat acara ini gagal," bisik Komang Shinta.

"Mangku Gede pasti dapat mengatasinya," bisik Kadek Arya. Ia tak ingin membuat wanita itu khawatir.

Mangku Gede yang melihat sebuah serangan ghaib, langsung membakar kemenyan dan juga dupa. Asapanya tebal dan menebarkan aroma wangi yang cukup kuat, tetapi bercampir aroma amis yang tidak tahu entah dari mana datangnya.

"Dia datang," gumam Mangku Gede dalam hatinya. "Tapi dia telat,"

Dari luar tembok Pura, terdengar suara wanita tua yang terdengar cukup berat, dan sangat pelan.

"Kurang satu... Kurang satu.."

Shinta menoleh, dari celah bambu, ia melihat sosok dalam samar dengan tubuh membungkuk. Rambutnya panjang gimbal terurai, tetapi wajahnya tak terlihat, dan sedangkan kepalanya miring dan hampir terlepas.

"Siapa itu?" gumam Putu Saraswati yang sudah selesai di kikir, dan duduk di kursi peserta, sembari menunggu peserta terakhir selesai, agar mereka dapat mencicipi hidangan dengan 6 rasa secara bersamaan, merasa sangat penasaran, dan ingin melihatnya.

Saat ia akan beranjak dari duduknya, tiba-tiba saja, cincin perak di jari manisnya terasa panas. Cincin itu pemberian Mangku Gede sang balian saat sebelum upacara dimulai.

Konon katanya, cincin itu telah diisi oleh mantra pengusir Leak. Selama masih dipakai, maka ilmu hitam tidak akan bisa masuk.

Para peserta lainnya ternyata merasakan ketakutan yang luar biasa. Hanya saja mereka tidak melihat apa yang dilihat oleh Putu Saraswati barusan.

Mangku Gede yang melihat keadaan mulai tidak kondusif, langsung berdiri dan berbicara dengan cukup keras.

"Jangan takut! Upacara ini dijaga. Dia tidak akan bisa mengambil siapa-siapa hari ini!"

Mangku mengangkat cawan tirta, lalu memercikkan airnya keempat penjuru. Dan mengeluarkan keris di pinggangnya, dengan merapalkan mantra yang tanpa henti.

Seketika, suara tawa kekehan itu berhenti. Sosok di luar pagar yang tadi di lihat oleh Saraswati menghilang seperti asap yang ditiup oleh angin.

Langit mendadak kembali terang, awan hitam menghilang, dan suara petir tak lagi terdengar.

Listrik yang tadi padam tiba-tiba menyala lagi. Daging untuk lawar yang tadi tidak mau matang saat di masak, kini mendadak mendidih dan juga empuk.

Ketut Dewi dan juga Nyoman Rani bernafas lega, lalu mempercepat untuk menyiapkan masakan bagi para peserta metatah.

Belatung yang tadinya memenuhi freezer, juga mendadak menghilang, lalu berganti dengan daging segar.

Upacara ritual metatah telah selesai di lakukan, dan membuat para orang tua merasa lega.

Para peserta disuguhi enam rasa makanan. Dari pahit, manis, asin, pedas, asam, dan juga sepat, sebagai symbol kehidupan, dan para peserta akan dapat mengendalikan semua setiap permasalahan dalam kehidupan.

Upacara di tutup dengan prosesi sembahyang.

Akan tetapi, Putu Saraswati merasakan sesuatu yang tak biasa, ia merasa diawasi oleh seseorang dari kejauhan.

Saat akan sembahyang semua peserta sangat khusyuk.

Tiba-tiba saja, kembang kamboja yang terselip di telinga kanan Putu Saraswati terjatuh.

Ia melirik sejenak, lalu kembali memejamkan kedua matanya, dan membaca doa.

Saat doa selesai, ia ingin memungut kembang kamboja berwarna putih tersebut.

Akan tetapi, pandangannya tertuju pada sesuatu. Ia melihat sebuah benda di paving blok. Warnanya kuning berkilau, terbuat dari tembaga, dan hanya sebesar telapak tangan bocah usia tiga tahun.

Saat acara sembahyang selesai. Putu Saraswati mengambil kembang kamboja beserta benda tersebut dengan cepat. Ia yakin, jika tidak ada yang melihatnya, dan dengan terburu-buru, ia menyelipkannya di balik kebaya putih yang dikenakannya.

Para peserta lainnya sudah bubar, tetapi Putu Saraswati masih duduk bersimpuh.

"Putu, ayo kita balik," ajak Komang Shinta pada puterinya.

Saraswati tersentak kaget, lalu mengangguk. "Iya, Bu." sahutnya, kemudian beranjak dari tempatnya.

Kadek Arya menghampiri mangku Gede, karena acara berjalan dengan lancar.

"Terimakasih, Bapa. Semuanya berjalam sempurna," ucap Kadek Arya, sembari menyelipkan amplop berisi uang kepada Mangku Gede sebagai imbalam dari jasa yang sudah di berikan.

Mangku Gede tersenyum tipis. "Terima kasih juga, sudah memberikan kepercayaan kepada saya, untuk menjaga acara ritual ini," sahut Mangku Gede.

Lembayung menggantung di langit senja. Putu Saraswati duduk di tepian ranjangnya. Ia baru saja selesai mandi. Rambut panjangnya tergerai dengan basah.

Ia teringat akan sesuatu yang tadi ia temukan. Tangannya dengan cepat mengambil benda yang terbuat dari kuningan tersebut.

Saraswati meletakkan benda tersebut diatas telapak tangannya.

Sebuah trisula yang merupakan benda pusaka khas Bali.

Ia tidak tahu siapa pemilik benda tersebut, hanya saja ia begitu sangat menginginkan trisula itu.

Sssshhh!

Terdengar suara orang seperti menghela nafas, saat ia mencoba membersihkan ujung trisula yang kotor karena debu.

Sesuatu

Saraswati terus saja menatap benda tersebut. Di telapak tangannya, trisula kuningan itu semakin terasa hangat, dan seolah hidup.

 Sssshhhh...!

Suara desahan itu kembali lagi hadir. Kali ini terdengar lebih jelas. Bukan berasal dari luar, tetapi dari di kepalanya,

"Akhirnya... Aku menemukan kamu... Keturunan Rangda Wayan."

"Hah!" Putu Saraswati tersentak kaget. Trisula itu bergetar dengan pelan. Garis-garis ukiran Bali kuno di badannya menyala dengan cahaya yang redup, membentuk pola yang sama sekali tidak ia mengerti.

"Siapa, Kau?" bisiknya dengan suara yang tercekat di tenggorokan. Tubuhnya bergetar ketakutan, dan wajahnya memucat.

Tak ada jawaban. Hanya rasa dingin yang merambat dari jemari tangannya ke tulang punggungnya.

Tiba-tiba saja, pandangannya berkunang-kunang. Aroma anyir darah, kemenyan dan juga dupa memenuhi indera penciumannya, sedangkan ia menggunakan pewangi ruangan dengan aroma orange yang menyegarkan.

Mendadak di sekelilingnya berubah dengan cepat. Putu Saraswati terperangah. Ia seolah tak percaya dengan apa yang di lihatnya.

Dimana ia bukan lagi berdiri di dalam kamarnya, melainkan sudah berpindah tempat ke halaman Pura Desa yang suasananya sangat gelao gulita.

Bulan yang tadinya menyembul terang, kini bersembunyi di balik awan hitam. Di bagian tengah halaman Pura, terlihat Mangku Gede sedang bertarung dengan sosok yang sangat mengerikan.

Rambut panjang gimbal berurai menyapu hingga ke tanah. Tubuhnya membungkuk, dengan lidah panjang menjulur hingga ke perut, kedua mata membola keluar bercahaya merah, dan sepasang gigi taring yang mencuat keluar dari sudut bibirnya. Wajahnya cukup hancur, dan ia tidak menginjak paving blok.

Keris di tangannya bergetar hebat, karena sedang menahan serangan sosok wanita dengan rupa mengerikan tersebut.

"Leak!" gumam Saraswati dengan nada yang sangat pelan.

Akan tetapi, sosok itu mendengarnya, dan melihatnya dengan pandangan yang terkunci pada dirinya.

"Kau.... Dan sekarang kau datang?!" suaranya cukup dingin, dan membuat bulu kuduk Saraswati meremang.

Ia ingin berlari, dan berteriak sekencangnya.

Akan tetapi, kakinya mendadak seperti terpaku, tak dapat di gerakkan sedikitpun.

Tiba-tiba saja, trisula di tangannya melayang dan melesat ke udaran dengan gerakan yang cukup cepat, dan langsung menghujam tanah di antara dirinya dan juga Leak yang sedang menatapnya.

Duaaar!!

Cahaya biru berpendar akibat ledakan dari trisula tersebut.

Tanah bergetar cukup hebat. Leak menjerit dengan suara lengkingan yang membuat gendang telinga terasa pekak.

Wuuussh!

Sosok Leak itu melesat menghilang dengan membawa rasa sakit yang cukup parah.

Mendadak semuanya hening, dan jangkrik berhenti menyanyi.

Putu Saraswati merasakan nafasnya tersengal. Ia masih dalam kebingungan, dan tiba-tiba saja ia kembali tersadar, dan sudah berada di dalam kamarnya.

Sedangkan trisula di tangannya kembali terbaring tenang, dan cahaya biru yang tadi berpendar sudah menghilang, dan diikuti oleh aroma anyir serta dupa dsn kemenyan yang perlahan juga lenyap. Dan yang tersisa, hanya detak jantungnya yang berdegub lebih kencang.

Sementara itu, Mangku Gede sedang membaca mantra di dalam sebuah ruangan yang yang hanya di terangi oleh cahaya lilin saja.

Akan tetapi, Saraswati mengerti, sesuatu baru saja selesai, namun sesuatu yang lain, baru saja di mulai.

Ia menatap trisula di tangannya. Tangannya masih tremor. Ia merasa peristiwa barusan bagaikan sebuah ilusi tetapi terasa nyata.

"Mengapa... Trisula ini memilih aku?" gumamnya dengan segala rasa penasaran.

Tangannya kembali terasa panas, saat trisula di tangannya kembali bercahaya.

Garis ukiran seolah hidup, dan perlahan merambat naik ke pergelangan tangannya, lalu seperti sebuah tato, dan meninggalkan pola berwana biru, lalu menghilang di bawah kulitnya.

Mendadak Saraswati merasakan sesuatu yang sangat aneh sejak malam ini. Dimana ia mulai menangkap sebuah bisikan, dan bisikan itu bukan dari manusia, tetapi sesuatu yang berasal dari dunia lain.

Dan paling parahnya, ia bisa mendengar suara tangisan yang berasal dari pohon beringin tua di belakang Pura Dalem.

Saraswati mulai kebingungan, dan ia menutup telinganya, tetapi suara itu tak hendak berhenti, seolah sengaja sedang mempermainkannya.

Saat bersamaan, ia mendengar suara langkah menuju ke arah kamarnya.

"Saras, ayo makan," suara panggilan Komang Shinta membuyarkan segala kebingungannya. Dengan cepat ia menyimpan trisula tersebut di dalam laci nakas miliknya.

"Iya, Bu." sahutnya, lalu merapikan rambutnya yang terurai.

Ia beranjak dari kamarnya, lalu berjalan keluar.

Setibanya di ruang makan, ia di kejutkan dengan suara lengkingan seseorang yang meminta tolong, dan sepertinya ia mengenal suara tersebut.

"Hah!" ia tersentak kaget. Lalu menatap pada Kadek Arya-Bapanya. Ia seperti melihat sesuatu melintas, tapi entah apa, masih samar.

"Dharma di mana, Pak?" tanyanya dengan suara yang bergetar.

"Tadi ke Pura, antar sesaji," jawab sang bapak dengan santai.

Akan tetapi, perasaan Saras tidak nyaman. Ia yang hendak duduk di kursi makan, membatalkan niatnya. Lalu keluar rumah, dan menuju Pura pribadi yang ada di depan halaman rumah.

Ia melihat Kadek Dharma baru saja meletakkan sesaji untuk para Dewa di atas altar Pura.

Saras berdiri terpaku menatapnya, dan saat sang adik lelakinya berjalan menuju rumah. Ia melihat bayangan tipis yang mengikuti Kadek Dharma, dan wujudnya tidak begitu jelas.

"Hah?!" Saras tersurut mundur, dan asap tipis itu menghilang saat Kadek Dharma hampir tiba di dekatnya.

"Apa itu?!" gumamnya dengan suara yang lirih.

"Putu, kenapa bengong malam-malam? Awas di datangi Leak," bisik Kadek Dharma, dengan nada bercanda.

Akan tetapi, bagi Saraswati, itu bukanlah sebuah candaan, ia merasa jika sesuatu sedang menerornya.

Dan ia juga tahu, jika Leak yang tadi... Belum mati. Ia hanya terluka, dan pastinya akan datang menuntut balas padanya, meski ia sendiri tidak tahu apa salahnya.

Saraswati mengamati sekitar halaman, dan juga Pura yang biasa dijadikan tempat ibadah mereka setiap harinya.

Setelah tak melihat apapun, ia kembali masuk ke dalam rumah, dan makan malam bersama dengan keluarganya.

Sementara itu, di ujung desa dan dekat dengan sebuah pantai, seorang wanita tua membuka matanya.

Rambutnya yang panjang dan memutih tampak kusam dan jarang sekali di sisir.

Rumahnya sangat begitu memprihatinkan dan layak di sebut dengan gubuk. Dimana dindingnya sudah sangat reot, dan melapuk.

Tampak satu matanya buta, sedangkan mata sebelah kirinya merah menyala.

"Dia sudah bangun," gumamnya dengan suara yang lirih dan juga serak. "Trisula itu sudah menemukan siapa tuannya,"

Sosok itu menyapu bibirnya yang terlihat kering dan pecah-pecah menggunakan lidahnya.

Sosok itu beranjak dari ranjang reotnya. Tubuhnya membungkuk, sang wanita berjalan dengan membungkuk, lalu keluar dari rumah, menatap langit yang menggelap.

Ia tersenyum menyeringai, dan tatapannya cukup begitu dalam. "Yang sudah tergadai, tidak akan dapat di tebus," gumamnya dengan sorot mata yang tajam.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!