Hujan turun tanpa henti di balik jendela apartemen kecil itu.
Lampu kota yang biasanya terlihat indah kini hanya tampak seperti bayangan buram di mata Gerald. Di atas meja, botol alkohol kosong berserakan bersama bungkus rokok dan beberapa lembar tagihan yang belum dibayar.
Ruangan itu sunyi.
Terlalu sunyi.
Gerald duduk di lantai sambil menatap layar televisi yang menyala tanpa suara. Rambut hitamnya berantakan, matanya cekung, dan wajahnya terlihat jauh lebih tua dari umurnya.
Di dunia lain, mungkin orang akan memanggilnya pahlawan.
Mantan pasukan elit.
Veteran perang.
Orang yang pernah menyelesaikan operasi militer paling berbahaya.
Namun di dunia nyata…
Tak ada yang peduli.
Perang telah mengambil semuanya darinya sejak lama.
Teman-temannya mati satu demi satu.
Negara melupakannya.
Dan hidup setelah pensiun terasa lebih menyiksa daripada medan perang mana pun.
Gerald tertawa kecil.
Suara tawanya terdengar kosong.
“Lucu juga…”
Ia menyalakan rokok terakhirnya.
“Aslinya gue selamat dari perang cuma buat mati kayak gini.”
Asap memenuhi ruangan.
Di luar, suara hujan makin deras.
Gerald perlahan berdiri lalu berjalan menuju balkon apartemennya.
Angin malam langsung menghantam wajahnya.
Dingin.
Di bawah sana, jalanan kota masih ramai oleh kendaraan dan lampu neon. Orang-orang terus menjalani hidup mereka tanpa tahu ada seseorang yang sedang berdiri di ambang kematian.
Gerald memejamkan mata.
Entah sejak kapan…
Ia berhenti merasa takut mati.
Justru hidup terasa lebih berat.
Tak ada keluarga.
Tak ada tujuan.
Tak ada alasan untuk bertahan.
Perang sudah selesai bertahun-tahun lalu.
Tapi di dalam dirinya…
Perang itu tidak pernah benar-benar berakhir.
Gerald membuka matanya perlahan.
“Hah…”
Napasnya keluar pelan.
Lalu—
Satu langkah ke depan.
Tubuhnya jatuh menembus hujan malam.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada penyesalan.
Hanya gelap.
…
……
“BANGUN, BRENGSEK!!”
BRAKK!!
Sebuah tendangan keras menghantam perut Gerald.
“Muntahkan darahmu nanti saja! Ambil pedangmu!”
Gerald membuka mata secara refleks.
Tubuhnya langsung berguling ke samping.
WHUSSH!!
Sebuah kapak besar menghantam tanah tepat di tempat kepalanya tadi berada.
Insting tempurnya aktif seketika.
Gerald bangkit sambil terengah.
Matanya membelalak.
Tanah berlumpur.
Mayat berserakan.
Jeritan manusia.
Bau darah memenuhi udara.
Dan suara logam saling beradu terdengar dari segala arah.
“…Apa?”
Seorang pria berjanggut penuh darah melempar pedang ke arahnya.
“Kalau mau mati, mati sana belakangan!”
Tanpa sadar Gerald menangkap pedang itu dengan sempurna.
Tangannya berhenti sesaat.
Pedang?
Bukan senapan.
Bukan pisau tempur modern.
Pedang baja panjang yang berat dan kasar.
Belum sempat berpikir—
“GRAAAHHH!!”
Seorang prajurit berbaju besi berlari ke arahnya sambil mengayunkan tombak.
Gerald bergerak otomatis.
Satu langkah ke kiri.
Tangannya memutar.
Pedang di tangannya menebas leher lawan dengan gerakan cepat dan bersih.
CRAAKK!!
Darah muncrat ke wajahnya.
Tubuh lawan jatuh tanpa suara.
Gerald membeku.
Ia baru saja membunuh seseorang.
Lagi.
Namun yang membuatnya gemetar bukan itu.
Melainkan kenyataan bahwa—
Ia tidak mengenali dunia ini.
“Formasi kiri runtuh!!”
“Mundur!! Mundur!!”
“Sialan, mereka masuk dari bukit!”
Suara-suara asing terdengar di sekitarnya.
Gerald menoleh cepat.
Ratusan manusia saling membunuh di medan perang luas yang dipenuhi lumpur dan api.
Tidak ada kendaraan.
Tidak ada senjata api.
Hanya:
pedang
tombak
panah
dan kematian
Langit merah gelap dipenuhi asap.
Gerald menarik napas kasar.
Lalu rasa sakit tiba-tiba menusuk kepalanya.
“Gh…!”
Potongan ingatan asing mulai masuk secara brutal.
Nama.
Wajah.
Suara.
Kehidupan seseorang yang bukan dirinya.
Gerald Arden.
19 tahun.
Prajurit rendahan Kerajaan Valen.
Tak berbakat.
Tak punya keluarga.
Dan terkenal pengecut di baraknya sendiri.
Gerald memegang kepalanya.
“…Aku reinkarnasi?”
Kalimat itu terdengar absurd bahkan bagi dirinya sendiri.
Namun sebelum ia sempat memahami situasi—
DUUUMMM!!!
Tanah tiba-tiba bergetar hebat.
Semua orang terdiam.
Bahkan suara perang perlahan berhenti.
“Apa lagi sekarang…?” gumam seseorang.
Getaran itu makin kuat.
KRAAAKKK!!
Tanah di tengah medan perang retak.
Jeritan panik langsung terdengar.
“Tanahnya runtuh!”
“Mundur!”
Gerald menatap lurus ke depan.
Lubang raksasa perlahan terbuka di tengah medan perang seperti mulut neraka.
Dan dari dalam kegelapan itu…
Terdengar suara geraman aneh.
Suara yang bukan milik manusia.
Mata Gerald menyipit.
Insting militernya langsung memberi satu jawaban:
Bahaya.
Lalu—
Sebuah tangan besar berkulit hijau muncul dari bawah tanah.
Semua prajurit membeku.
“Apa… itu?”
Makhluk raksasa bertaring perlahan keluar dari retakan tanah sambil mengeluarkan suara geraman kasar.
Tubuhnya dua kali lebih besar dari manusia biasa.
Matanya merah.
Dan kapak batu raksasa berada di tangannya.
Keheningan memenuhi medan perang.
Sampai salah satu prajurit berteriak ketakutan.
“MONSTERRR!!”
Dan neraka yang sebenarnya…
Baru saja dimulai.
“MONSTERRR!!”
Jeritan itu menyebar ke seluruh medan perang seperti wabah.
Para prajurit yang sebelumnya saling membunuh kini membeku ketakutan sambil menatap makhluk raksasa yang keluar dari retakan tanah.
Makhluk itu perlahan berdiri.
Tingginya hampir tiga meter.
Kulit hijau gelap.
Otot besar penuh luka.
Dan mata merah yang dipenuhi rasa lapar.
“GRAAAHHH!!”
Orc itu mengayunkan kapak batunya ke depan.
DUAAARRR!!
Tiga prajurit langsung hancur bersama tanah di bawah mereka.
Darah muncrat ke mana-mana.
Keheningan pecah.
“LARI!!”
“Itu monster!”
“DEMI DEWA—”
Puluhan tentara manusia langsung panik dan berhamburan.
Namun retakan tanah belum berhenti.
KRAAAKKK!!
Satu demi satu tangan hijau muncul dari bawah tanah.
Orc lain mulai keluar.
Lalu lebih banyak lagi.
Dan lebih banyak lagi.
Mata Gerald langsung berubah dingin.
“…Sarang bawah tanah.”
Insting militernya bekerja cepat.
Makhluk-makhluk itu bukan datang tiba-tiba.
Mereka sudah ada di bawah tanah sejak lama.
Yang berarti—
Ini bukan serangan biasa.
Ini invasi.
“WOI! KAU!”
Seorang prajurit muda menarik bahu Gerald dengan panik.
“Kita harus lari!”
Gerald menoleh.
Tubuh prajurit itu gemetar hebat.
Umurnya mungkin belum genap tujuh belas tahun.
Matanya dipenuhi ketakutan.
Gerald melihat sekeliling.
Pasukan manusia sudah kacau total.
Tidak ada formasi.
Tidak ada komando.
Semua orang hanya berusaha menyelamatkan diri sendiri.
Dan itu yang paling berbahaya dalam perang.
Panik.
“Dengar,” kata Gerald tenang.
“Hah?”
“Kalau kau lari sekarang, kau mati.”
“A-Apa?”
“Saat orang panik, mereka berhenti berpikir.”
Gerald menunjuk bukit kecil di sisi kanan medan perang.
“Lihat.”
Prajurit muda itu menoleh.
Beberapa orc sudah bergerak memotong jalur kabur manusia.
Mereka lebih cepat dari yang terlihat.
Orc-orc itu tidak menyerang membabi buta.
Mereka berburu.
“Sial…” gumam Gerald.
Ini lebih buruk dari yang ia kira.
“Nama kau siapa?” tanya Gerald.
“E-Elias…”
“Bagus. Kalau mau hidup, ikut aku.”
“Hah?”
Belum sempat Elias menjawab—
“GRAAAHHH!!”
Seekor orc berlari ke arah mereka sambil membawa kapak besar.
Prajurit lain langsung kabur.
Gerald justru maju.
Matanya fokus pada kaki monster itu.
Berat tubuh.
Arah ayunan.
Jarak serang.
Semuanya terbaca jelas di kepalanya.
Orc itu mengangkat kapaknya tinggi.
Gerald bergerak lebih dulu.
Satu langkah masuk.
Tubuhnya merendah.
Pedangnya menusuk bagian bawah dagu orc.
CRAAKK!!
Darah hitam muncrat.
Monster itu roboh seketika.
Elias membeku.
“M-Mati?”
Gerald menarik pedangnya keluar.
“Jangan lawan tenaga mereka.”
“Apa?”
“Lawan titik lemahnya.”
Gerald melihat tubuh orc itu cepat.
Leher. Mata. Sendi lutut.
Masih sama seperti makhluk hidup lain.
Punya titik vital.
Yang berarti—
Bisa dibunuh.
“WOI!!”
Suara kasar terdengar dari belakang.
Seorang pria gendut dengan zirah rusak berlari sambil membawa kapak kecil.
“Ada makanan nggak?!”
Gerald dan Elias menatapnya aneh.
“APA?”
Pria gendut itu menunjuk orc mati.
“Bisa dimakan gak itu?”
“….”
Elias menatap tidak percaya.
“Kita hampir mati dan yang kau pikirkan makanan?!”
“Aku lapar!”
“SETAN!”
Gerald memijat pelipisnya.
Kenapa orang pertama yang ia temui di dunia baru justru orang idiot begini?
Namun sebelum mereka bisa bicara lagi—
DUUMMM!!
Tanah kembali bergetar.
Semua orang menoleh ke retakan raksasa di tengah medan perang.
Sesuatu yang besar perlahan naik dari bawah tanah.
Lebih besar dari orc biasa.
Jauh lebih besar.
Salah satu prajurit berlutut ketakutan.
“Dewa tolong kami…”
Makhluk itu muncul perlahan sambil membawa kapak hitam raksasa.
Tingginya hampir setara rumah kecil.
Matanya merah menyala seperti bara api.
Dan tubuhnya dipenuhi bekas luka perang.
Orc lain langsung meraung bersamaan.
Seolah memberi hormat.
Gerald menyipitkan mata.
“…Pemimpin.”
Orc raksasa itu membuka mulutnya.
“GROOOOAAAAHHHH!!”
Suara raungannya mengguncang seluruh medan perang.
Beberapa kuda langsung panik dan kabur.
Bahkan prajurit manusia mulai kehilangan keberanian hanya karena mendengar suara itu.
Lalu sang monster mengangkat kapaknya.
Dan mengayunkannya.
DUAAAAARRRRR!!
Satu barisan tentara manusia langsung lenyap.
Tubuh mereka hancur seperti ranting kecil.
Keheningan memenuhi medan perang.
Lalu—
Kepanikan total pecah.
“LARI!!”
“KITA MATI!!”
“ITU MONSTER APA?!”
Para tentara mulai saling dorong demi kabur lebih dulu.
Gerald mengepalkan pedangnya.
Situasi sudah tidak bisa diselamatkan.
Pasukan manusia kalah sebelum benar-benar bertarung.
Karena mereka kehilangan mental.
Namun di tengah kekacauan itu…
Gerald justru tersenyum tipis.
Sudah lama sekali ia tidak merasakan ini.
Adrenalin perang.
Insting bertahan hidup.
Dan rasa hidup yang sesungguhnya.
Ia menatap ribuan orc yang mulai bergerak menyerbu.
Lalu menatap dua orang di sampingnya:
Elias si bocah kurus
dan pria gendut aneh tadi
“Kalau mau hidup,” ujar Gerald tenang.
“Kalian ikut aku.”
Pria gendut itu mengangkat tangan.
“Asal ada makanan.”
Elias langsung berteriak.
“INI BUKAN WAKTU MAKAN, BODOH!!”
Dan untuk pertama kalinya sejak reinkarnasi—
Gerald tertawa kecil.
“Kalau mau hidup, ikut aku.”
Elias menatap Gerald seperti orang gila.
“KAU GAK LIHAT JUMLAH MEREKA?!”
Ribuan orc mulai turun dari retakan tanah seperti gelombang hijau yang tak ada habisnya.
Beberapa tentara manusia langsung dibantai bahkan sebelum sempat kabur jauh.
Jeritan memenuhi medan perang.
Darah mengalir bersama lumpur.
Namun Gerald tetap tenang.
Matanya bergerak cepat memperhatikan situasi:
posisi musuh
arah angin
jalur mundur
formasi manusia yang hancur
Otaknya bekerja otomatis seperti saat masih menjadi tentara elit.
“Kalau ikut kerumunan,” kata Gerald.
“Kita mati diinjak sendiri.”
Elias terdiam.
Dan sialnya…
Gerald benar.
Puluhan manusia justru saling dorong saat kabur.
Beberapa jatuh.
Lalu langsung diinjak tentara lain.
Orc hanya tinggal membantai sisa-sisanya.
“Terus kita harus gimana?!” teriak Elias panik.
Gerald menunjuk bukit kecil di sisi timur medan perang.
“Itu.”
“Hah?”
“Posisinya lebih tinggi.”
“Terus?”
“Kita bisa lihat gerakan mereka.”
Pria gendut tadi tiba-tiba angkat tangan.
“Aku gak kuat lari jauh.”
Elias langsung emosi.
“BADANMU ITU YANG JAUH, BUKAN LARINYA!”
“Kurang ajar…”
Gerald menghela napas panjang.
Baru beberapa menit di dunia ini dan dia sudah harus mengurus dua orang idiot.
“Namamu siapa?” tanya Gerald pada pria gendut itu.
“Boris.”
“Tentu saja…”
Nama yang cocok.
“Dengar baik-baik,” ujar Gerald.
“Mulai sekarang jangan bergerak tanpa perintahku.”
Elias mengernyit.
“Memangnya kau siapa?”
Gerald diam beberapa detik.
“…Orang yang lebih tahu cara bertahan hidup dibanding kalian.”
Lalu ia mulai berjalan.
Anehnya…
Elias dan Boris ikut.
Mereka sendiri tidak tahu kenapa.
Mungkin karena di tengah kekacauan ini, Gerald satu-satunya orang yang terlihat tidak panik.
DUARRR!!
Seekor orc menghantam seorang prajurit hingga tubuhnya terlempar beberapa meter.
Orc lain langsung menerkam manusia yang jatuh.
Suara tulang patah terdengar mengerikan.
Elias pucat.
“Monster-monster itu…”
“Mereka lapar,” jawab Gerald.
“Dan kita makanannya.”
Mereka bertiga terus bergerak di antara kekacauan medan perang.
Gerald sengaja memilih jalur pinggir.
Sedikit musuh. Sedikit manusia.
Lebih aman.
Namun tiba-tiba—
“TOLOOONG!!”
Seorang tentara muda terjatuh tak jauh dari mereka.
Kakinya terjebak mayat.
Seekor orc besar mendekatinya perlahan sambil menyeringai.
Tentara itu menangis ketakutan.
“Aku gak mau mati…”
Elias refleks ingin maju.
Namun Gerald menahan bahunya.
“Jangan.”
“Hah?!”
“Kita tidak bisa selamatkan semua orang.”
“Tapi—”
“Kalau kau mati sia-sia, tidak ada gunanya.”
Elias menggigit bibirnya.
Orc itu mengangkat kapaknya tinggi.
Tentara muda itu memejamkan mata.
Lalu—
WHUSSH!!
Sebuah kapak kecil berputar dan menghantam wajah orc.
BRAKK!!
Monster itu mundur sambil meraung kesakitan.
Semua orang menoleh.
Boris berdiri sambil ngos-ngosan.
“Itu anak masih kecil…”
“….”
Elias menatap tidak percaya.
“KAU BISA LEMPAR KAPAK?!”
Boris mengangkat bahu.
“Lumayan.”
Gerald langsung bergerak.
Begitu orc terdistraksi—
CRAAKK!!
Pedangnya menusuk mata monster itu.
Orc meraung brutal sambil mengayunkan tangannya secara membabi buta.
“Turun!” teriak Gerald.
Mereka semua merunduk.
Kapak batu orc menghantam prajurit lain di belakang mereka.
DUARR!!
Tubuh pria itu langsung hancur.
Gerald memutar pedangnya.
Lalu—
CRASSHH!!
Leher orc terputus.
Tubuh besar itu roboh ke tanah.
Hening sesaat.
Tentara muda tadi gemetar hebat.
“A-Aku…”
Gerald menarik pedangnya.
“Kalau mau nangis, lakukan nanti.”
“Hah?”
“Sekarang lari.”
Tentara itu langsung kabur tanpa pikir panjang.
Elias menatap Gerald.
“Kau bilang kita gak bisa selamatkan semua orang.”
“Aku berubah pikiran.”
“Karena Boris lempar kapak?”
“Karena orc itu membuka celah.”
“….”
Elias mulai sadar.
Gerald bukan baik hati.
Dia hanya sangat realistis.
Dan entah kenapa… itu jauh lebih menenangkan.
DUUMMM!!
Tanah kembali bergetar.
Gerald menoleh ke belakang.
Orc raksasa tadi mulai bergerak.
Setiap langkahnya menghancurkan tanah.
Puluhan manusia mati hanya karena terinjak.
“Gila…” gumam Boris.
Gerald menyipitkan mata.
Monster sebesar itu tidak mungkin dibunuh prajurit biasa.
Minimal bukan sekarang.
“Gerald.”
Elias tiba-tiba bicara.
“Hm?”
“Kau tadi bilang kita harus ke bukit…”
Gerald mengangguk.
“Kenapa?”
Gerald melihat medan perang sekali lagi.
Lalu berkata pelan:
“Karena perang ini belum selesai.”
“Hah?”
“Mereka bukan datang untuk satu pertempuran.”
Matanya menatap ribuan orc yang terus keluar dari bawah tanah.
“…Mereka datang untuk memusnahkan manusia.”
Dan untuk pertama kalinya…
Elias benar-benar merasa dunia akan berakhir.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!