Aurora gadis berusia dua puluh enam tahun lincah, cantik, anak pemilik perusahaan ternama, bekerja sebagai manajer pemasaran di kantor ayahnya. ia selalu semangat dan ceria karena banyak cinta yang mengelilinginya. cinta keluarga, sahabat dan kekasihnya Andre yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Aurora sedang merencanakan pernikahannya dengan Andre di pulau Dewata Bali. konsep pernikahan outdoor dekat pantai tepatnya di Uluwatu seperti impian Aurora selama ini.
Siang ini ia feeting gaun pernikahannya bukan di temani Andre melainkan Maxime pria yang sudah sejak lama menjadi sahabat Aurora.
Maxime berusia lebih tua dari Aurora yaitu dua puluh sembilan tahun. ia CEO di dua perusahaan sekaligus yang bergerak di bidang food and beverage dan satu lagi di bidang otomotif. Maxime sukses di karir ia juga dari keluarga konglomerat hanya saja kisah percintaannya dan image nya sebagai plaboy kelas kakap tidak bisa hilang darinya. gonta ganti pacar sudah biasa bagi Maxime.
Sejak lama diam-diam Maxime memendam rasa suka pada sahabatnya yaitu Aurora. rasa itu tertutup rapat hingga tidak ada satu orang pun yang tahu termasuk Aurora sendiri.
Seperti saat ini di sela kesibukannya pun Maxime masih menyempatkan untuk menemani Aurora feeting gaun pengantin. Max berdiri menatap ruang ganti dengan dinding tirai mewah. Saat tirai di buka Aurora berdiri bak manequen cantik dan mempesona. Maxime berdiri terpaku menatap perempuan di hadapannya.
"Bagus?" tanya Aurora.
Maxime tersenyum sembari mengangguk.
"Cantik sekali" jawab Maxime.
Aurora tersenyum ia lalu lanjut ganti gaun berikutnya.
Selesai feeting Aurora dan Maxime pergi makan siang bersama di restoran dekat kantor Aurora.
Aurora menatap nasi goreng pesanan Maxime yang terlihat enak. ia tersenyum manja dan Maxime sudah tahu apa maksudnya. Maxime menyuapi Aurora satu sendok nasi goreng.
"Enak?" tanya Maxime.
Aurora mengangguk sembari mengunyah menikmati rasa enak dari nasi goreng yang menjalar di lidahnya.
Sejak dulu mereka sudah terbiasa seperti itu. dekat sekali hingga Maxime sendiri tidak sadar jika dirinya sudah terjebak dalam pertemanan itu dan tidak dapat menyatakan cintanya pada Aurora.
Maxime meraih selembar tissue untuk membersikan sudut bibir Aurora. mungkin ini untuk terakhir kalinya ia memberi perhatian pada sahabatnya itu karena sebentar lagi Aurora akan menikah dan menjadi seorang istri. tentu saja hubungannya dengan Maxime juga akan berjarak. Andre juga tidak akan membiarkan Aurora dekat-dekat dengan Maxime maupun keluarga Maxime lagi.
"Kenapa bengong? nanti gantengnya hilang nggak bisa jadi playboy lagi" kata Aurora sembari tersenyum geli.
Maxime hanya tersenyum mendengar gurauan yang akan ia rindukan nanti.
Di tengah obrolan Max dan Aurora ponsel Aurora berbunyi.
"Eh Andre telepon, bentar ya"
Maxime mengangguk.
"Iya beb" Aurora bangkit dari duduknya dan berjalan sedikit menjauh dari Maxime. raut wajahnya terlihat berbeda sedikit kesal sepertinya. Max terus mengamati Aurora yang masih menelpon calon suaminya.
Aurora terlihat kecewa entah apa penyebabnya. ia duduk kembali di samping Maxime.
"Ada masalah?" tanya Max.
"Andre mau ke luar negeri katanya penting urusan bisnis"
"Tapi dua hari lagi hari pernikahan kalian"
"Itu masalahnya, undangan sudah di sebar nggak mungkin pernikahan di tunda" kata Aurora sedih.
Sebenarnya Maxime tahu siapa Andre, ia sedikit curiga dengan Andre hanya saja melihat Aurora begitu yakin dengan pria itu jadi Max hanya diam. Max tahu perusahaan Andre sedikit bermasalah. sahamnya turun mungkin karena itu ia harus pergi ke luar negeri untuk mencari investor besar.
"Tenanglah, mau makan ice kream?"
Aurora tersenyum mengangguk Maxime memang yang paking mengerti dirinya. tapi sayangnya Aurora hanya mencintai Andre.
"Coba aku menikah dengan mu sepertinya aku akan sangat bahagia dan jadi ratu" celetuk Aurora.
Maxime menoleh menatap wajah cantik sahabatnya.
Andai kau tahu Ra kalau aku maunya begitu...
"Batalkan saja pernikahan dengan Andre lalu menikah denganku"
"Gila! nanti aku bisa berebut dengan ratusan perempuan yang kau pacari" sindir Aurora membuat Maxime tertawa.
Obrolan siang itu selesai dengan Maxime mengantar Aurora ke kantor dan ia sendiri segera kembali ke perusahaan karena sudah di tunggu meeting.
Maxime pulang larut malam ia terlalu banyak minum karena menjamu koleganya dari luar negeri. perusahaan baru saja mendapat tender besar karena itu semua ikut merayakan dengan makan malam di cafe lanjut ke klub bagi yang mau. Maxime termasuk uang mau ia sekaligus ingin melupakan rasa patah hatinya pada Aurora dengan minum.
"Bos sudah sampai rumah, saya pamit ya" kata Wisnu asisten Maxime.
Max mengangguk ia duduk di sofa ruang tengah rumahnya yang mewah dan sepi. semua pasti sudah tidur papa, mama dan adiknya Catherine.
Maxime sempoyongan berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya. ponselnya berbunyi larut malam sudah pasti hanya satu orang yang menelponnya tak kenal waktu,
"Hmmm" gumam Maxime mengangkat telepon.
"Max kau mabuk?!" tanya suara cempreng di ujung sana.
Maxime sedikit menjauhkan ponselnya dari telinga karena teriakan cempreng Aurora.
"Sedikit"
"Max kurangi kebiasaan party mu itu, yasudah bersih-bersih dan tidurlah besok saja aku bicaranya"
"Oke"
Maxime mematikan telepon melempar ponselnya ke ranjang lalu ia ambruk dan terlelap.
***
"Pagi om, tante selamat pagi?" Aurora sudah tiba di rumah keluarga Gunanto. yaitu keluarga Maxime.
"Hai pagi Rora, calon pengantin sudah beres semua persiapan?" tanya om Gunanto ramah.
"Beres om"
"Om sih maunya kau nasehati sahabatmu itu biar menyusul juga"
"Iya Rora Max sudah dua puluh sembilan tahun dan belum berniat menikah" tambah Tante Gunanto.
"Katanya Max mau jadi bujang lapuk om, tante" kelakar Aurora. ia sudah dekat dengan orang tua Maxime dan sering bergurau.
"Ah bisa saja, nanti tante sama om kapan punya cucunya dong" kata tante Gunanto serius.
"Kan ada Catherine"
"Cath masih sekolah lulusnya juga masih dua tahun lagi ya pap"
Om Gunanto tersenyum sembari mengangguk.
"Yasudah sana itu Max masih tidur belum mau bangun, kau bangunkan dan suruh dia pergi ke kantor" kata om Gunanto.
"Siap om"
Aurora pergi ke kamar Maxime ia langsung membuka pintu kamar dan mendapati Max baru keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk sebatas pinggang saja menampakan tubuh bagian atas yang kekar dan terawat.
"Hei katuk pintu!" omel Max.
Aurora hanya terkekeh memalingkan wajahnya.
"Aku cemas karena tadi malam kau mabuk jadi aku kemari untuk melihat kondisi mu"
"Berhenti memberiku perhatian" Max meraih kemeja berwarna putih yang sudah di siapkan bibi di atas meja rias.
"Kenapa memangnya?"
Max mengancingkan kemeja dengan cepat lalu menyambar celana dan pergi ke kamar mandi tanpa menjawab pertanyaan polos Aurora.
Selesai berganti pakaian Max kembali menghampiri Aurora yang duduk di pinggiran ranjang.
"Sebentar lagi kau jadi istri orang nanti aku akan merindukan semua perhatianmu dan aku tidak lagi bisa mendapatkannya"
Max menatap lekat sepasang mata indah milik Aurora. wanita yang diam-diam ia puja.
"Sayang sekali ya, kalau begitu menikahlah juga" Aurora memasangkan dasi untuk Max ia sudah mirip seorang istri sekarang.
Max menatap dan mengagumi kecantikan di hadapannya. jarak wajah mereka cukup dekat membaut jantung Max berdetak cepat. Max memundurkan langkahnya menghindari Aurora, ia merapikan sendiri dasinya.
Di meja makan keluarga Gunanto, Catherine berbisik pada papa dan mamanya. soal persahabatan kakaknya dengan Aurora.
"Mama dan papa nggak bisa melihat rasa cinta kak Max pada Aurora?" tanya Catherine.
Om dan tante Gunanto saling bertukar pandangan terkejut.
"Hus, tahu dari mana kau Cath? mereka cuma bersahabat sebentar lagi juga Aurora akan menikah"
"Mam, pap... orang buta juga tahu kalau kak Max menaruh rasa suka pada Aurora"
Om dan tante Gunanto terdiam sesaat.
"Tapi bukannya Maxime punya pacar yang namanya Angela, Nabila, Tania atau siapa itu" mama sampai bingung menyebut nama pacar Maxime yang mana.
Catherine dan papa tertawa mendengar mama hafal rentetan nama gadis-gadis yang di dekati Maxime.
"Mam kalau sama mereka aku yakin kak Max tidak cinta dia cuma iseng saja" kata Catherine.
"Iseng bagaimana?" mama masih bingung.
"Diam itu ada Max sama Aurora" bisik papa.
Maxime sudah terlihat tampan dengan stelan jasnya. ia siap untuk meeting secara maraton hari ini. secara dua perusahaan ia pimpin sekaligus tentu waktunya habis untuk meeting dan bekerja.
"Ma pa pergi ya" kata Max
"Sarapan dulu? Aurora ayo sarapan dulu"
"Nanti saja di luar" jawab Max sambil lalu.
"Terimakasih ya om tante lain kali saja sarapan barengnya" kata Aurora berpamitan pada om dan tante Gunanto.
"Bye Cath" Aurora tak lupa pamitan juga pada Catherine.
"Bye Rora"
Aurora segera mengejar langkah Maxime menuju mobil. pagi ini ia akan menumpang mobil Max karena mobil Rora lupa di chase semalam jadi batre kosong.
Ball room hotel bintang lima di sulap megah dengan dekorasi bunga impor warna putih kesukaan Aurora. beberapa tamu undangan sudah datang, keluarga besar Antoro yaitu keluarga Aurora juga sudah siap dengan stelan jas mahal dan gaun indah mereka. Keluarga Gunanto juga baru saja tiba untuk memberi selamat atas pernikahan Aurora dan Andre.
Maxime terlihat tampan dengan stelan jas hitamnya dan rambut di tata rapi klimis menyisakan helaian liar di dahi yang membuatnya semakin menawan dan mempesona. ia mencari keberadaan Aurora di kamar ganti pengantin. tapi sayang ia tidak di perkenankan masuk ke ruangan karena penampilan Aurora akan menjadi kejutan untuk semua orang yang hadir. Maxime mengerti dan ia segera kembali ke meja tamu VVIP bersama papa mama dan Catherine adiknya.
"Mana pengantin pria? seharusnya dia dan keluarganya sudah datang" celetuk Catherine.
Max mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. benar juga sejak tadi ia tidak melihat Andre maupun keluarganya. wajah tampan Max sedikit cemas.
"Iya Max mana pengantin prianya?" tanya mama.
"Saya ke om Antoro dulu pa, ma" kata Max seraya berjalan menghampiri ayah Aurora yang sekarang juga tak kalah cemas.
"Om mana Andre dan keluarganya?" tanya Max.
"Om juga bingung Max mereka tidak bisa di hubungi" jawab om Antoro.
"Gimana ini pa?" tante Antoro terlihat panik.
"Om dan tante tenang dulu kita tunggu sebentar lagi" Maxime menenangkan keluarga Aurora meski ia sendiri curiga ada yang tidak beres.
Maxime berjalan keluar ball room hotel ia nampak bicara dengan asistennya Wisnu.
"Cari tahu dimana Andre dan keluarganya kenapa belum datang juga"
"Baik bos"
Di ruang ganti pengantin terlihat kacau, berkali-kali Aurora menghubungi Andre atau calon mertuanya tapi tidak ada yang aktif nomor ponsel mereka. dengan menarik napas dalam-dalam Aurora mencoba tenang. tapi ia tetap panik karena sebentar lagi acara sakral pernikahan akan segera di mulai dan pengantin pria belum ada.
"Max!" Aurora menggenggam tangan Maxime erat, ia takut dan cemas.
"Tenang Rora semua akan baik-baik saja" kata Max menenangkan sembari mengusap tangan Aurora dengan lembut.
Tak bisa di pungkiri Max kesal dan marah melihat kepanikan melanda Aurora. rasanya ia ingin menemui Andre dan menghajarnya hingga babak belur.
"Kalau dia tidak datang bagaimana Max? acara ini tidak mungkin batal aku dan keluarga bisa malu sekali" bulir bening mulai jatuh di pipi Aurora.
"Itu tidak akan terjadi Rora tenanglah"
Max keluar ruangan karena Wisnu memanggilnya untuk bicara.
"Bos Andre melarikan diri bersama keluarganya ke luar negeri. perusahaan mereka bangkrut dan menyisakan hutang dalam jumlah besar. sepertinya mereka kabur menghindari tunggakan pajak juga bos"
Maxime mengepalkan tangan menahan amarah. ia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Aurora jika tahu calon suaminya kabur begitu saja.
Maxime kembali ke ruangan ganti pengantin. dengan sangat hati-hati ia menyampaikan pada Aurora jika Andre telah kabur ke luar negeri entah kemana. detik itu juga Aurora jatuh pingsan. semua panik terutama om dan tante Antoro. kekacauan tak terhindarkan. beberapa tim MUA sibuk menyadarkan Aurora dari pingsannya.
"Apa tidak ada solusi lain Max?" tanya papa Gunanto.
"Solusi apa lagi pa mereka telah kabur tanpa jejak menghindari hutang dan tunggakan pajak" jawab Max kesal.
"Tapi acara ini pertaruhan nama besar saya mas Gun, bagaimana ini" kata Antoro pada Gunanto.
"Tenang dulu An kita pikir bersama solusinya" kata Gunanto dengan wajah prihatin.
"Om kalau Andre tidak datang biar saya yang menikahi Aurora" kata Maxime.
Semua menoleh ke arah Maxime terkejut. hanya satu orang yang tidak terkejut yaitu Catherine. ia sudah tahu jika kakaknya itu mencintai Aurora.
"Apa kau yakin Max? jangan main-main ini pernikahan" kata Gunanto.
"Pa aku yakin, jika nanti kedepannya aku dan Aurora tidak sejalan kami bisa berpisah"
"Tapi Max ini gila jangan permainkan pernikahan" Om Antoro menepuk bahu Maxime.
"Ini solusi terbaik om, terserah om setuju atau tidak, bagaimana?"
Semua hening terlihat berpikir Antoro mendekati Gunanto keduanya berdiskusi antar orang tua.
"Baiklah kalau begitu, tapi apa kau tidak keberatan menikahi Aurora?" tanya Antoro meyakinkan.
Maxime menatap Aurora yang sudah tersadar dari pingsan. ia tersenyum lalu mengangguk mantap. Catherine yang tahu perasaan kakaknya segera memeluk Maxime sembari berbisik mengucapkan selamat dan memberi dukungan.
"Thank you Cath" kata Maxime pada adik tersayangnya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!