"Kakakku pergi ke Shanghai dan pulang sebagai jenazah. Tapi aku menolak hidup dalam bayang-bayang ketakutan itu. Aku datang untuk menulis takdirku sendiri.”
"Dan,ketika semua berkata bahwa Shanghai adalah luka bagi keluargaku tapi bagiku Shanghai adalah awal dari perjalananku,kisah cintaku dan juga penyatuan antara dua negara,dua budaya dan dua bahasa."
****
"Ibu dan Bapak tidak setuju kamu bekerja di Shanghai. Apa kamu lupa apa yang terjadi pada Mbakmu di sana? Dia pergi membawa mimpi... tapi pulang hanya tinggal jenazah."
Ucapan Ibu Wati membuat Aisyah Azahra terdiam.
Di tangannya masih tergenggam email penerimaan kerja dari sebuah perusahaan besar di Shanghai.
Tujuh tahun lalu, Mbak Alesya pergi ke kota yang sama dan dia pulang dalam peti mati.
Sejak hari itu, nama Shanghai menjadi luka bagi keluarganya.
"Bu, Pak..." suara Aisyah bergetar, namun matanya mantap.
"Aku pergi ke Shanghai bukan untuk mengulang takdir Mbak Alesya. Aku pergi untuk menulis kisahku sendiri.
Aku ingin mewujudkan mimpi Mbak Alesya yang terlewatkan untuk mengubah takdir keluarga kita. Ini kesempatan Bu,Pak.. Aku hanya membutuhkan doa serta restu dari Ibu dan Bapak." ucapnya lirih..
Mata Ibu Wati dan Pak Kasim hanya bisa berkaca-kaca,mereka masih ingat dulu Alesya juga memiliki niat dan mimpi yang sama seperti Aisyah namun kenyataannya dua tahun dia di Shanghai dia pulang dalam peti mati..
"Bu,,Pak.. Aisyah tahu apa yang Bapak dan Ibu takutkan. Tapi Aisyah yakin aku dan mendiang Mbak Alesya memang pergi ke negara yang sama tapi kami akan menemukan takdir yang berbeda.." ucapan lembut Aisyah meluluhkan hati kedua orang tuanya..
"Baiklah,tapi jika kamu tak merasa aman disana dan kamu mengalami masalah maka pulanglah rumah ini akan selalu menjadi tempatmu untuk pulang.."
Aisyah mengangguk dia juga merasakan hal yang sama dengan orang tuanya. Tapi Aisyah yakin dia akan menemukan jawaban dari setiap pertanyaan yang tak pernah dia ucapkan..
Tepat di bandara Ibu Wati memegang erat tangan Aisyah. Airmata mengalir dengan sangat deras,dia sungguh takut jika tragedi itu terulang lagi. Shanghai telah merenggut satu anaknya dan dia tak ingin jika Aisyah mengalami hal yang sama.
"Pergilah Nak Ibu dan Bapak akan selalu mendoakan kamu. Semoga kamu akan selalu baik-baik saja. Dan pesan Ibu satu jika terjadi apa-apa jangan lupa untuk meminta bantuan pada orang yang tepat. Jangan pernah gegabah dalam mengambil keputusan,kamu disana sendiri. Dan pulanglah jika disana membuatmu tak nyaman."
Pelukan hangat Aisyah dan kedua orang tuanya pun terasa sangat hangat. Aisyah akan memulai perjalanan barunya datang ke negara yang dikenal dengan julukan tirai bambu itu.
Aisyah pun telah duduk didalam pesawat yang akan segera membawanya ke Shanghai, Aisyah berharap perjalannya lancar dan sampai dengan selamat.
Dari Indonesia memerlukan 8 jam untuk menuju Bandara internasional Pudong Shanghai. Sesampainya disana Aisyah pun mulai bingung. Dia tak kenal dengan siapapun bahkan kini agen yang menghubunginya pun tak nampak membuatnya bingung bukan kepalang.
Aisyah memegang kalung liontin peninggalan terakhir sang Kakak. Dia berharap Kakaknya yang sudah tiada akan selalu menjaganya dari atas sana.
"Mbak Alesya,aku sudah sampai ke negara dimana kamu meninggalkan nama,semoga saja aku akan tahu sebuah kebenaran."
Dalam kepanikannya sepasang mata menatapnya tanpa sengaja. Mereka adalah kelompok mafia paling kejam nomor dua di Shanghai. Ternyata Aisyah adalah korban dari sindikat perdagangan manusia. Aisyah dijanjikan pekerjaan yang layak disana namun nyatanya Aisyah justru menjadi target kejahatan antar negara.
"Qǐngwèn, nǐ zhēn de shì ài shā ma? (Maaf apakah benar kamu Aisyah?) tanya seseorang yang tiba tiba saja mendekatinya.
"Méicuò, wǒ jiào ài shā. (Benar, saya Aisyah.") jawab Aisyah dengan tenang.
Orang itupun langsung tersenyum menatap wajah cantik Aisyah.
Orang itupun mengajak Aisyah pergi ke suatu tempat disana Aisyah di berikan sebuah kamar untuk beristirahat.
Namun,semua tanda pengenal Aisyah diambil oleh mereka termasuk paspor dan juga ijazah dan semuanya. Membuat Aisyah pun panik dia sudah memiliki firasat tak baik namun Aisyah mencoba untuk tenang.
Setelah beristirahat Aisyah pun di bawa untuk menemui Mr.Wang dia adalah ketua mafia yang ingin memanfaatkan Aisyah untuk kepentingannya..
Aisyah mencoba untuk tenang. Aisyah diminta untuk membawa obat terlarang ke Indonesia namun Aisyah menolak.
Satu tamparan pun mendarat sempurna di pipi Aisyah,namun tak ada penyesalan dimata Aisyah dia tak mau tunduk pada siapapun. Aisyah hanya memohon perlindungan dari penciptanya,dia yakin Allah akan selalu melindunginya.
"Menurut atau tamat." adalah pilihan yang harus Aisyah ambil namun dia tak menjawab dia tak mau tamat namun dia juga tak mau menurut. Jika dia melakukan itu sama saja di mengkhianati bangsanya sendiri,Aisyah tahu konsekuensi yang harus dia terima.
"Menurut saja jika kamu ingin selamat. Tapi jika kamu menolak maka kamu tahukan apa konsekuensinya!!" ucapan itu adalah ancaman tapi Aisyah tak takut.
"Baiklah aku setuju.." jawab Aisyah tanpa ekspresi...
Satu bulan sudah Aisyah bertahan dengan kekejaman Mr.Wang. Aisyah pun memutuskan untuk kabur,walaupun kemungkinan untuk selamat dan bisa pulang ke Indonesia itu sangatlah kecil.
Dan,,jika dia kabur maka dia tak lain adalah seorang imigran gelap yang akan sangat sulit untuk menemukan tempat untuk tinggal..
"Bismillah saja Allah pasti akan memberikan aku jalan." ucapnya dalam hati.
Aisyah menuruti permintaan Mr. Wang untuk menemui seseorang dia adalah Mr. Lin Chou,salah satu ketua mafia terbesar di Shanghai..
Namun,, diperjalanan Aisyah memutuskan untuk kabur hingga dia pun terlibat kejar kejaran oleh anak buah Mr. Wang.
Aisyah yang pandai pun berhasil lolos,namun kedepannya Aisyah sendiri bingung karena di negara sebesar Shanghai dia tak memiliki kerabat atau sahabat.
Tiba tiba Aisyah melihat seorang laki-laki tampan yang terluka dipinggir jalan, dia adalah Lin Zhao..
"Hello,,are you okey?(hallo apa kamu baik-baik saja?"tanya Aisyah dengan lembut...
Mata indah yang terlihat sangat terang membuat laki-laki itu langsung mengagumi sosok Aisyah.
"Nǐ hǎo. WǑ méi shì .(hallo,aku tidak apa apa. )jawab laki-laki itu dengan menahan sakit di bagian perutnya.
Rupanya laki laki itu terluka. Aisyah pun langsung menolongnya dengan mengobati luka Lin dengan alat seadanya..
"Xièxiè nǐ bāngzhù wǒ.(terima kasih karena kamu sudah menolong saya.) ucapnya sembari pergi meninggalkan Aisyah begitu saja.
Disudut gang ada sepasang mata yang menatap keduanya,wajahnya terlihat penuh amarah dan ketika dia melihat bayangan wajah Aisyah laki-laki itupun langsung lemas..
"Tā shì shéi a?.(siapa wanita itu?)
"Yìnní fùnǚ.(Wanita Indonesia.) jawab sang asisten yang langsung membuat laki laki itu membeku.
Mr. Lin Chou terkejut mendengar kata wanita Indonesia. Seolah memorinya kembali,memori yang telah lama dia simpan selama hampir tujuh tahun lamanya.
"Selidiki wanita itu,dan jangan lupa awasi terus Lin Zhou jangan sampai ada yang mencelakakan dia." ucapnya sembari berbalik pergi.
Namun bayang-bayang wajah Aisyah justru terlihat sangat familiar untuknya. Wajahnya,senyumannya dan juga tutur katanya sama persis dengan Alesya..
Di negara tirai bambu itu hidup Aisyah pun berubah kini demi lolos dari imigrasi dan kepolisian juga dari kejaran Mr.Wang hidup Aisyah terlunta-lunta. sering kali dia tidur di gedung kosong atau tempat yang terbengkalai..
Pada malam harinya dalam kegelapan Aisyah memeluk lututnya,didalam pekatnya malam Aisyah mengingat kedua orang tuanya.
Jika saja Aisyah mendengarkan untuk tak datang ke Shanghai mungkin nasibnya tak akan seperti sekarang ini. Tapi semuanya sudah terjadi Aisyah hanya bisa berdoa agar dia bisa kembali ke Indonesia.
"Semuanya sudah terjadi dan aku harus bisa bertahan. Aku akan berusaha keras untuk bisa keluar dari negara ini." ucapnya lirih dia pun memejamkan matanya didalam gelapnya malam...
Pada siang harinya Aisyah pun berusaha keras untuk mencari kedutaan Indonesia,namun disana dia hanyalah pendatang dan semua tanda pengenalnya pun telah hilang.
Beberapa bulan dia terlunta-lunta hingga pada saat yang bersamaan disaat dia dalan bahaya tiba-tiba saja seorang laki-laki yang pernah dia tolong menyelamatkannya...
"Ràng tā zǒu!! (lepaskan dia)" bentak Lin Zhao yang tiba tiba saja muncul.
Orang orang yang berniat mengganggu Aisyah pun ketar-ketir melihat Lin Zhao..
Tak ada seorang pun di Shanghai yang tidak mengenal nama keluarga Lin,keluarga yang ditakuti bahkan oleh para mafia sendiri.
Aisyah menatap pria di hadapannya. Wajahnya tegas, tatapannya tajam, namun entah kenapa justru menghadirkan rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Kamu tidak apa apa?"tanyanya dengan suara yang tegas tapi lembut.
Aisyah menggelengkan kepalanya dan tersenyum..
"I'm okay. (aku baik-baik saja.)"jawabnya dengan suara yang parau..
Lin Zhao tidak langsung menjawab. Tatapannya justru terpaku beberapa detik pada wajah Aisyah—seolah baru pertama kali ia melihat seseorang yang mampu membuat jantungnya berdetak tak beraturan.
Namun tiba-tiba tubuh Aisyah limbung. Pandangannya mulai kabur sebelum akhirnya tubuhnya jatuh ke pelukan Lin Zhao.
"Kita kerumah sakit." Lin Zhao mengangkat tubuh Aisyah yang lama namun ucapan Asiyah membuatnya terdiam sesaat.
"Jangan bawa saya kerumah sakit. Saya tidak punya indentitas disini.."ucapnya sebelum akhirnya Aisyah tak sadarkan diri.
Lin Zhao membawa Aisyah ke sebuah rumah miliki keluarganya untuk sementara waktu.
******
Malam itu, Aisyah perlahan membuka matanya. Kepalanya masih terasa berat, sementara tubuhnya lemas tak bertenaga.
Lin Zhao yang sedang memainkan ponselnya pun menatapnya sekilas.
"Akhirnya kamu sandar juga. Bangun dan makanlah dulu. Sepetinya tubuh kamu sangat lemah."
Laki-laki itu berbicara dengan datar,tak ada ekspresi sama sekali membuat Aisyah merasa gugup. Karena dia sadar itu Shanghai bukan Indonesia dan disana dia sendirian.
"Xièxiè..(terima kasih)" jawab Aisyah.
Wajahnya masih terlihat sangat pucat bagiamana tidak empat bulan dia hidup terlunta-lunta dijalanan. Mencari persembunyian kesana kemari dari kepolisian dan imigrasi,dia juga takut jika orang orang Mr.Wang akan kembali menangkapnya..
"Makanlah dan minum obat. Untuk sementara tinggallah disini anggap saja ini sebagai balas budi untuk bantuan anda tempo hari." Lin Zhao pun berbalik pergi meninggalkan Aisyah sendiri. Namun langkahnya berhenti dan kemudian kembali menatap Aisyah yang masih mematung..
Siapa nama kamu?" tanyanya kemudian.
"Aisyah Azahra,aku adalah imigran dari Indonesia. Yang kini sedang dalam pengejaran imigrasi dan kepolisian." jawab Aisyah tenang.
"Wǒ shì lín zhāo. Nǐ zài zhèlǐ hěn ānquán. (Aku Lin Zhao, Kamu akan aman disini.)"ucapnya sembari pergi meninggalkan Aisyah dirumah yang sangat asing baginya.
"Aku hanya ingin bertahan hidup di Shanghai... tapi kenapa rasanya aku justru sedang masuk ke dalam masalah yang lebih besar?”
Aisyah pun menatap sekeliling rumah yang sangat besar namun terasa seperti tempat yang sangat sunyi..
Aisyah pun mencoba untuk bangun dari tempatnya duduk namun rasa sakit di kepalanya sangat menyiksa mungkin karna beberapa hari dia terlalu lelah sehingga tubuhnya pun kurang fit.
"Kalau tidak mampu berdiri maka duduklah saja. Makan dan minum obat kemudian istirahat kamu bisa tinggal disini sementara waktu. Disini gak ada siapapun dan aku hanya tinggal sendiri.."
Lin Zhao yang kembali pun membuat Aisyah terkejut terlebih lagi ketika dia mengatakan bahwa disana tak ada siapapun hanya ada mereka berdua..
Pikiran Aisyah pun tak menentu dia melihat Lin Zhao memang baik namun apa yang akan terjadi selanjutnya jika mereka hanya tinggal berdua entahlah.
"Baiklah..." jawab Aisyah lirih.
Lin Zhao pun kembali meninggalkan rumah dan kemudian menguncinya dari luar. Lin Zhao tak ingin jika sampai kakaknya tahu jika dirumahnya ada wanita Indonesia wanita yang hampir mirip persis dengan wanita yang pernah menjadi istri kakaknya itu.
Mungkin hanya kebetulan," gumam Lin Zhao dalam hati. "Dia Aisyah... bukan Kak Alesya."
Di taman, seorang gadis kecil tengah duduk sendirian. Lin Xioyi,keponakannya, sekaligus satu-satunya alasan mengapa Lin Chou masih terlihat manusiawi.
"Dari mana kamu kenapa baru kembali." tanya Lin Chou yang tiba-tiba ada dibelakangnya..
"Hanya dari rumah lama. Tak kemana mana." jawabnya datar.
Tatapan Lin Chou tegas,tajam dan sorot matanya selalu membuatnya takut. Namun Lin Zhao selalu berusaha untuk menyakinkan hatinya bahwa Kakaknya adalah orang yang paling baik didunia.
Lin Zhao selalu meyakinkan dirinya bahwa kakaknya bukan pria jahat. Dunia yang membuatnya seperti itu. Luka masa lalu yang memaksanya menjadi seorang bos mafia.
Terlebih jika itu menyangkut wanita Indonesia hal yang selama ini selalu menjadi luka terbesar dalam hidup Lin Chou.
Dan kini, tanpa sadar, Lin Zhao telah membawa Aisyah masuk ke dalam keluarga Lin.
Jika suatu hari kakaknya tahu bahwa wanita itu berasal dari Indonesia dan memiliki wajah yang begitu mirip dengan masa lalu mereka akankah keluarga Lin tetap baik-baik saja??
Lin Zhao telihat melamun hal itu membuat kakaknya langsung curiga dan tahu bahwa adiknya tengah menyembunyikan sesuatu.
Belum sempat bertanya Xioyi tiba tiba mendekati pamannya itu..
"Shūshu……nín zěnme cái lái??WǑ hěn xiǎng nín.”( Paman.. Kenapa baru datang?aku merindukan Paman.)" ucapnya sembari berlari memeluk Pamannya itu.
Lin Zhao memeluk kembali keponakannya itu
Xioyi adalah satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hati Lin Chou. Bahkan saat kemarahan menguasainya, satu tangisan kecil dari putrinya mampu meruntuhkan semua amarah itu.
"Maaf Paman ada pekerjaan. Jadi Paman baru bisa pulang untuk berkunjung.." Lin Zhao yang langsung menggendong keponakannya itu dan melihat senyuman di wajah Xioyi membuat ada sedikit senyuman dibibir Lin Chou..
Lin Zhao bermain bersama keponakannya itu hingga waktu menunjukan pukul enam sore. Dan setelah berpamitan Lin Zhao memutuskan untuk pulang kerumahnya karna khawatir terjadi sesuatu kepada Aisyah.
"Xioyi.. Paman pulang dulu ya. Nanti kalau Paman gak sibuk Paman akan datang untuk mengunjungi Xioyi lagi."
Xioyi mengangguk dengan patuh. setelah itu Lin Zhao pun pergi dan sebelum pulang dia memutuskan untuk membeli beberapa makanan..
Lin Zhao bingung mau membeli makanan apa karena dia sendiri tidak tahu Aisyah suka makan apa?
"Aku beli Babi panggang saja. Pasti kalau makan daging dia akan suka.."
Lin Zhao memesan beberapa hidangan berbahan dasar babi tanpa tahu bahwa Aisyah adalah seorang muslim yang bahkan tak bisa menyentuh makanan itu...
******
Sesampainya di rumah Lin Zhao menaruh paperbag keatas meja. Lalu memanggil Aisyah untuk makan bersama...
"Aisyah.. Sini kita makan bersama?" panggil Lin Zhao dengan datang namun pengertian..
Aisyah pun mendekati Lin Zhao kemudian menatap bungkusan diatas meja, dia tak berani menyentuh makanan itu karena pada bungkusnya terlihat gambar babi..
"Maaf aku tak bisa menyentuh makanan ini." ucap Aisyah dengan sedikit memundurkan tubuhnya..
Tatapan Lin Zhao pun tertuju pada Aisyah yang nampak mundur melihat makanan yang dia bawa. Dalam hatinya dia berkata apakah wanita itu tidak menyukai makanan yang dia bawa?
"Kanapa?"tanyanya serius...
"Aku seorang muslim.." jawab Aisyah lirih.
Dalam keyakinanku, makanan seperti ini haram. Jadi maaf... aku tidak bisa memakannya."
Mata Lin Zhao pun membulat,Baru kali ini dia tahu bahwa ada seseorang yang tak bisa menyentuh makanan seenak itu.
Ternyata Lin Zhao merasa bahwa dia belum memahami Aisyah dan juga tentang budaya Indonesia. Dulu juga dia ingat betul bahwa kak Alesya juga tidak memakan itu karena dia muslim...
"Oke,,Sorry saya tidak tahu jika kamu tidak makan ini.." Lin Zhao pun menyingkirkan paperbag yang ada diatas meja dan menyimpannya..
"Maaf,,aku bukannya menolak makanan pemberian darimu,tapi adat dan budaya kita berbeda. Aku adalah seorang muslim dan aku tidak bisa menikmati makanan yang kamu sajikan. Aku berharap kamu tidak akan marah.."
Aisyah menatap wajah Lin Zhao sekilas melihat laki laki itu diam membuat Aisyah merasa sedikit tidak enak hati.
"Maaf.." ucapnya lagi.
Lin Zhao menatap wajah Aisyah dari dekat dan melihat sorot mata yang indah membuat jantungnya seketika berdetak lebih kencang dari biasanya.
"Gak apa apa. Lagipula benar apa yang kamu katakan. Kita adalah dua orang yang berbeda. Beda negara,beda bahasa,beda budaya dan beda keyakinan dan aku yang minta maaf karna tidak tahu.."
Lin Zhao tersenyum, telihat barisan gigi putih yang sangat rapi membuat jantung Aisyah merasa sedikit kurang nyawan.
"Lalu jika kamu tak makan itu kamu makan apa?" tanyanya kemudian.
"Aku bisa masak apa yang bisa aku makan. Apa kamu mau mencoba masakan aku?"tanya Aisyah dengan percaya diri.
Lin Zhao mengangguk dan tak lama kemudian tersaji dua piring nasi goreng hangat diatas meja.
Aroma nasi goreng memenuhi ruangan, membuat rumah yang tadinya terasa asing itu perlahan berubah menjadi hangat.
Keduanya pun menikmati dengan lahap,bahkan Lin Zhao memuji makanan yang dibuat oleh Aisyah..
"Ini sangat enak aku suka.."ucapnya tanpa sadar,senyumannya selalu terlihat di wajah Lin Zhao membuat hati Aisyah merasa nyaman dan yakin bahwa Lin Zhao adalah laki-laki baik yang akan bisa menolongnya...
Setelah selesai makan Lin Zhao meminta izin untuk pergi sebentar mengambil sesuatu. Dan Aisyah pun sendirian dirumah besar itu.
Tiba tiba saja ada sepasang mata yang menatap rumah itu dari kejauhan. Dia tahu jika Lin Zhao baru saja pergi namun dia melihat bahwa sepertinya ada seseorang didalam sana.
"Kenapa lampu dirumah ini menyala Bukankah dia pergi?" Lin Chou pun bertanya-tanya.
Lin Chou masuk kedalam rumah itu dan terkejut melihat rumah itu sangat rapi. Tak seperti tiga hari yang lalu. Rumah itu dulunya selalu berantakan dan tak terawat. Lin Zhao selalu menolak jika ada orang yang membedakan barang barangnya namun kini rumah itu terlihat sangat rapi..
Tiba tiba saja dia melihat seorang wanita asing ada dirumah adiknya itu.
Matanya tertegun dari jauh melihat seorang wanita yang sangat familiar untuknya. Wanita yang nyaris sama persis dengan wanita yang pernah menjadi istrinya itu.
"Siapa kamu....." suara berat itu menggema di seluruh ruangan.
Lin Chou mendekati wanita itu dan tatapannya seolah berhenti dan terpaku pada wajah wanita itu..
Tubuh Lin Chou membeku.
Seolah waktu berhenti berputar.
Darah di tubuhnya terasa mengalir mundur ketika wajah itu kembali muncul di hadapannya,wajah yang selama bertahun-tahun menghantui tidurnya..
Tatapan Lin Chou turun perlahan.
Berhenti pada liontin di leher Aisyah.
Matanya membesar.
Tangannya bergetar.
"Dari mana kau mendapatkan liontin itu?"
Terkejut,marah dan telihat ada api emosi yang membakar laki laki itu.
"Ini.. Ini...." jawab Aisyah terputus.
"Kakak.. Hentikan dia hanya menumpang sementara disini?" tiba-tiba suara Lin Zhao terdengar dari belakang Aisyah membuat wanita itu merasa sedikit aman.
Tatapan Lin Chou tertuju pada adiknya yang ternyata menyembunyikan sesuatu..
"Siapa wanita itu?"tanyanya nyaris tanpa ekspresi..
"Dia Aisyah.. Dia dari Indonesia namun semua dokumennya hilang dia gak punya tempat tinggal..."
"Indonesian."
Satu kata itu cukup untuk membuka kembali luka yang selama ini ia kubur rapat.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun Lin Chou merasa takut.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!