Hayyyy 🤗
Namanya memang punya vibes kebarat-baratan yang elegan dan mewah, tapi mereka tetap tinggal dan beraktivitas di lingkungan lokasi pribumi Indonesia. Jadi, meskipun namanya "internasional", mereka tetap jajan seblak, makan bakso Mas Kumis, dan menghadapi kemacetan kota yang khas Indonesia banget.
Brant Wiley ( Bisnis semester 6 )
Tinggi: 185 cm.
Fisik: Tubuh atletis hasil latihan basket dan gym rutin. Bahunya lebar (sangat nyaman buat sandaran Luca), perut six-pack, dan tangan yang uratnya terlihat jelas (terutama saat lagi nyetir motor gedenya).
Wajah: Rahang tegas (jawline tajam), tatapan mata yang dalam dan dingin, serta hidung bangir. Tipe wajah yang kalau dia lewat, satu koridor langsung diam karena terpesona sekaligus segan.
Vibe: Mahal, dingin, dan berwibawa.
Pintar ,kaya raya anak tunggal keluarga Willey.
Luca Stellan ( ekonomi smester 4)
Tinggi: 173 cm.
Fisik: Tubuh yang lebih ramping tapi proporsional. Kulitnya bersih dan tampak lembut. Kalau berdiri di samping Brant, dia pas banget setinggi dagu/hidung Brant.
Wajah: Perpaduan antara tampan, cute, dan cantik secara bersamaan. Matanya bulat bersinar, bulu mata lentik, dan senyum yang bisa bikin es di hati Brant mencair seketika. Sering disebut "Malaikat Kampus".
Vibe: Cerah, ceria ( agak konyol) tapi menggemaskan
Pintarnya Standar. Anak pertama dari dua beraudara.
Keluarga Wiley (The Royals)
Lodrik Wiley (Papa): Pemilik perusahaan besar, sangat konservatif, tegas, dan menuntut Brant untuk punya keturunan. Belum tahu Brant pacaran dengan Luca.
Ny Sofia (Mama): Lembut dan elegan. Sangat menyayangi Brant dan diam-diam mendukung hubungan Brant-Luca (sering bersekutu dengan Ibu Lana).
Keluarga Ibu Lana (The Heart)
Ibu Lana (Mama): Single parent hebat yang sukses dengan bisnis butiknya. Gaul, suportif, dan sudah menganggap Brant seperti anak sendiri.
Lea (Adik Luca - 1 SMA): Cewek tomboy, sabuk hitam karate. Mulutnya pedas (lebih pedas dari Brant),pikirannya lebih dewasa dari Luca, dan "intel" kepercayaan Brant untuk menjaga Luca.
Geng Semester 6 (The Troublemakers)
👇
Clay: Pintar tapi agak gesrek. Hobinya melakukan hal random. Suka genit sama cewe maupun cowo manis seperti Luca.
Rey: Si mulut "sampah" yang suka menggoda Brant. Paling berisik dan paling hobi menertawakan penderitaan Brant saat menghadapi Luca.
Jack: Kapten tim basket. Paling kalem di antara bertiga, tapi sekalinya ngomong langsung menusuk. Menjadi incaran Elena.
Geng Semester 4 (The Chaos Queens)
👇
Vin: Sahabat sejati Luca. Realistis, hobi ngedumel, tapi yang paling pasang badan kalau Luca dijahati orang.
Elena : Ratu gosip kampus dan pecinta hal-hal estetik. Dia yang biasanya memicu ide-ide gila (seperti tantangan caper ke Brant).
Rose: Cantik, centil. Sedang dalam misi mengejar cinta Kak Jack si Kapten Basket.
Cerita ini murni fiksi. Seiring berjalannya alur cerita , tokoh atau pemeran baru akan terus bertambah sesuai dengan kebutuhan konflik.
Selamat membaca 🙏😊
Di Kantin Fakultas Ekonomi, jam makan siang.
Semua bermula saat Vin, Rose, dan Elena lagi berdebat soal siapa yang punya daya tarik paling kuat di kampus. Luca, dengan kepercayaan diri setinggi langit, bilang kalau nggak ada satu orang pun di kampus ini yang bisa nolak pesonanya.
"Halah, sombong lo, Ca!" sahut Vin sambil nyeruput es jeruknya. "Lo emang Visual Nomor 1, tapi ada satu 'benteng' yang nggak bakal mempan sama kedipan mata lo."
"Siapa? Kak Jack? Dia mah baik," tantang Luca.
"Bukan," Rose menunjuk ke arah pojok kantin yang sepi dan dingin. "Brant Wiley. Kalau lo bisa bikin dia notice lo, manggil nama lo secara sukarela, dan—ini yang paling berat—bikin dia mau akrab sama lo tanpa rasa risih dalam waktu sebulan, gue akuin lo emang 'Dewa Visual'. Tapi kalau gagal, lo harus jadi asisten pribadi gue, Vin, sama Elena selama satu semester penuh. Gimana?"
Luca melihat ke arah Brant yang lagi baca buku dengan muka temboknya. "Tantangan diterima! Kecil itu mah!"
Besoknya luca memulai hari-hari dengan berbagai trik yang terlintas di pikirannya. Dia akan membuktikan bahwa tak ada satupun yang bisa menghindar dari pesonanya. Di mulai dari:
Insiden Penghapus: Luca sengaja menjatuhkan penghapusnya ke dekat kaki Brant saat di koridor. "Eh, Kak Brant... itu penghapsuku jatuh, bisa tolong ambilin?"
Respon Brant: Brant hanya melirik penghapus itu, lalu menginjaknya tanpa sengaja dan terus berjalan tanpa kata.
•
Sok Tanya Jalan: Luca pura-pura tersesat di gedung fakultas Brant. "Kak, ruang 302 di mana ya? Aku bingung banget nih..."
Respon Brant: Brant menunjuk papan petunjuk arah dengan dagunya, lalu kembali memasang earphone.
•
Kopi "Sial": Luca mencoba memberikan kopi ke meja Brant. "Kak, ini kopi buat Kakak supaya nggak ngantuk belajarnya!"
Respon Brant: "Gue nggak minum kopi manis. Bawa balik," sahut Brant dingin tanpa melihat muka Luca.
•
"Sumpah, itu orang hatinya dari batu kali ya? Gue udah senyum sampai pegal nggak dilirik sama sekali!" keluh Luca ke Vin dan Elena di taman kampus.
"Ya lagian lo capernya norak banget, Ca!" tawa Elena sambil memoles kuku. "Brant itu butuh sesuatu yang beda, bukan sekadar gaya manja."
Dan yang paling konyol bermula dari keinginan Luca buat ikut klub pecinta alam. Syaratnya cuma satu: harus dapet tanda tangan ketua koordinasi, dan ketuanya adalah Brant Wiley.
"Gue bakal dapet tanda tangan itu, liat aja!" seru Luca ke Vin dan Rose.
Sore itu, Luca nongkrong di balkon lantai 2 yang menghadap langsung ke lapangan basket. Dia mau nunggu Brant selesai latihan biar nggak bisa kabur. Sambil nunggu, dia buka buku pelajaran, sok-sokan rajin. Tapi ya namanya Luca, angin sore itu sepoi-sepoi banget... dan akhirnya, kepalanya terkulai di atas meja.
Dua jam kemudian...
Luca bangun dengan nyawa yang belum kumpul. Dia ngucek mata. "Hah? Udah gelap?"
Matahari sudah hampir tenggelam, langit warnanya sudah oranye tua. Pas dia nengok ke bawah, lapangan basket sudah kosong melompong. Bersih. Nggak ada orang.
"ANJIR! GUE DITINGGAL?!" teriak Luca di kelas yang kosong. Dia langsung lari turun tangga sambil ngomel-ngomel sendiri.
•
Besok paginya di koridor kampus, Brant lagi jalan tenang bareng Clay dan Jack. Tiba-tiba, sesosok cowok berambut cokelat yang berantakan lari nyamperin dia dan langsung berdiri di depannya sambil berkacak pinggang.
"KAK BRANT JAHAT BANGET SIH!" teriak Luca dengan muka merah padam, bibirnya maju banget.
Brant berhenti, ngerutin dahi. "Lo... siapa?"
"Ih! Masa nggak tau! Gue Luca! Kakak kok pulang nggak bilang-bilang sih kemarin sore?! Gue nungguin Kakak sampe ketiduran di lantai dua tau nggak! Dingin! Laper! Terus pas bangun Kakak udah ilang!" Luca marah-marah sambil hentak-hentakin kakinya ke lantai.
Clay langsung keselek ludah sendiri, sementara Jack cuma melongo.
Brant natap Luca dengan tatapan 'ini orang stres atau gimana'. "Pertama, gue nggak tau lo nungguin gue. Kedua, emang lo siapa gue sampe gue harus lapor kalau mau pulang?"
Luca diem bentar. Dia baru sadar kalau dia... bukan siapa-siapa. "Ya... ya tetep aja! Harusnya Kakak punya insting dong kalau ada maba ganteng lagi nungguin! Pokoknya gue marah! Tanda tangan ini nggak usah sekarang! Bye!"
Luca langsung balik badan dan pergi gitu aja sambil ngedumel, ninggalin Brant yang masih matung bingung.
"Brant," panggil Clay sambil nepuk bahu temannya. "Kayaknya lo baru aja dapet penggemar yang otaknya ketinggalan di rahim ibunya."
•
Setelah kejadian labrakan konyol itu, Brant bener-bener nganggep Luca itu cuma bocah pengganggu. Sampai tiba hari di mana motor Brant mogok di pinggir jalan yang panas banget.
Si pemilik mobil mewah yang hari itu entah kenapa lagi pengen gaya bawa motor gede, harus menanggung malu. Motor gahar harga ratusan juta itu mati total karena hal paling konyol sedunia: Brant lupa isi bensin.
Dia berdiri di pinggir jalan, mukanya datar tapi aslinya pengen nendang ban motornya sendiri.
Luca, yang baru saja belanja cemilan banyak banget karena lagi stres, duduk di trotoar tak jauh dari sana sambil menikmati es krim stroberi. Dia memperhatikan Brant dari jauh.
"Tunggu, itu Kak Brant? Hahaha, mampus lo kualat sama gue!"
Tiba-tiba, dari arah trotoar, suara cempreng yang sangat dia kenali terdengar. "Waduh, Kak Brant? Motornya kenapa? Ngambek ya?"
"Bukan urusan lo. Pergi sana," sahut Brant dingin tanpa nengok.
Luca nggak pergi. Dia malah jongkok di samping motor sambil jilat es krim stroberinya. "Bensin ya? Tuh, tangkinya kering keronta kayak dompet mahasiswa akhir bulan."
"Gue bilang pergi, ya pergi," usir Brant lagi.
Luca berdiri, dia naruh plastik cemilannya di trotoar. "Yaudah, galak amat. Tunggu sini, jangan nangis!" Luca lari-lari kecil menjauh.
Brant mendengus. "Palingan dia mau panggil temen-temennya buat ngetawain gue," batinnya.
10 menit kemudian, Luca balik sambil ngos-ngosan. Keringat meluncur di pelipisnya, bikin rambut cokelatnya lepek. Dia bawa jeriken plastik kecil berisi bensin eceran dan sebotol air dingin.
"Nih, minum dulu Kak. Panas banget hari ini," Luca nyodorin air putih, lalu mulai sibuk tuangin bensin ke motor Brant pake corong kertas bekas.
Brant bengong. Dia nggak nyangka Luca beneran jalan kaki sejauh itu demi bensin. "Lo... ngapain? Gue bisa panggil supir gue."
Luca nyengir sambil ngelap keringat pake punggung tangannya. "Lama Kak. Keburu Kakak lumutan di sini. Oh iya, ini bukan buat caper ya. Gue tulus bantu sebagai sesama manusia yang sering ceroboh. Gue tau rasanya dilarang bawa kendaraan, jadi gue nggak mau Kakak susah."
Brant diem. Dia ngelihat Luca yang tulus banget, nggak ada nada genit kayak biasanya. Saat itulah, dinding es di hati Brant retak sedikit.
"Makasih," gumam Brant pelan. Sangat pelan.
Sejak saat itu, setiap kali liat Luca di kampus, Brant nggak lagi buang muka. Dia bakal berhenti sebentar, nunggu Luca nyamperin, dan dengerin ocehan randomnya. Sampai akhirnya, rasa risih itu berubah jadi rasa butuh.
•
Sekarang hubungan mereka sudah jalan satu tahun. Brant sudah jadi pacar yang sangat protektif. Namun, hari ini untuk yang ke sekian kali, Brant beneran ngerasa urat sarafnya mau putus.
Jack baru saja selesai latihan basket dan nyamperin Brant di pinggir lapangan. "Brant, lo udah liat pacar lo? Sumpah, gue nggak tau harus ketawa apa kasian sama lo."
"Kenapa lagi itu bocah?" tanya Brant, matanya udah nyari-nyari sosok Luca.
"Dia... dia gantiin Elena di tim Cheerleaders buat pembukaan turnamen besok karena Elena lagi cidera kaki," sahut Rey sambil ketawa ngakak. "Gila,! Kostumnya nggak nahan!"
Brant langsung jalan ke arah aula olahraga. Di sana, dia melihat pemandangan yang bikin dia pengen nutup mata semua orang di ruangan itu.
Luca lagi latihan cheerleader pake baju seragam tim yang warnanya kuning-ungu ngejreng, lengkap dengan pom-pom di tangannya. Dia lagi latihan lompat-lompat bareng Rose.
"SATU! DUA! TIGA! SEMANGAT!" teriak Luca dengan penuh energi, tapi gerakannya beneran kaku dan random banget. Pas bagian mau muter, Luca malah keserimpet kakinya sendiri dan hampir ngebanting Rose.
"LUCA!" suara berat Brant menggema di aula.
Luca nengok, mukanya langsung ceria. "Brant! Liat! Aku bagus kan jadi flyer?"
Brant nyamperin Luca, langsung ngelepas jaketnya dan dipasangin ke pundak Luca buat nutupin baju cheerleader-nya yang sedikit terbuka di bagian pinggang. "Lepas. Sekarang."
"Ih kenapa? Kan kasian Elena kalau nggak ada yang gantiin!" protes Luca sambil goyang-goyangin pom-pomnya ke muka Brant.
Vin dateng sambil mijit pelipisnya. "Brant, tolong bawa balik nih anak. Gue udah capek marahin dia. Masa dia mau ditaruh di paling atas formasi piramida? Lo bayangin, dia yang ceroboh gitu ditaruh di puncak? Yang ada temen-temen gue patah tulang semua ketimpa dia!"
Clay muncul dari belakang sambil bawa yoyo (seperti biasa). "Gue sih setuju aja Luca jadi cheerleader. Nanti pas dia lompat, gue bagian nangkep... tapi pake jaring ikan."
"Gak lucu, Clay," desis Brant. Dia narik tangan Luca. "Ayo pulang. Lo nggak bakal jadi cheerleader. Besok gue yang bayar orang lain buat gantiin Elena."
"Nggak mau! Aku udah latihan 3 jam tau!" Luca tetep keras kepala. Dia malah sengaja lari ke tengah lapangan dan mulai goyang-goyang random lagi. "Liat nih, Brant! Gimme a B! Gimme an R! Gimme an A! BRANT GANTENG!"
Semua orang di aula—Jack, Rey, Vin, Rose, sampai anak basket lainnya—langsung meledak ketawa.
Brant mukanya udah merah padam, antara malu dan gemas. "Bangsat... Luca, sini nggak lo!"
"Sini dong kalau bisa tangkep!" Luca malah lari-lari keliling lapangan sambil teriak, "SEMANGAT KAK BRANT!"
Rey nepuk bahu Brant. "Sabar ya, Bos. Punya pacar visual nomor 1 emang berat, apalagi yang otaknya lagi loading kayak gitu."
Brant nggak bales. Dia langsung lari ngejar Luca, sekali tangkap, dia langsung manggul Luca di bahunya kayak karung beras.
"Turunin! Brant, malu tau!" teriak Luca sambil mukul-mukul punggung Brant.
"Malu? Bagus kalau lo masih punya urat malu," sahut Brant ketus tapi tetep megangin kaki Luca biar nggak jatuh. "Kita pulang. Dan lo, nggak ada boba buat seminggu."
"HUWAAAA! VIN, TOLONGIN GUE! BRANT JAHAT!" teriak Luca ke arah temen-temennya yang cuma bisa dadah-dadah sambil ketawa.
Vin cuma bisa geleng-geleng. "Gue heran, dulu kita tantang dia buat caper doang, kok sekarang malah dapet paket lengkap sama pawang-pawangnya sekali."
Mobil Brant menderu halus di sepanjang jalan menuju rumah Luca.
Masih dengan mengenakan seragam cheerleaders-nya, Luca duduk dengan posisi kaki yang agak random—khas dia yang tidak bisa diam.
"Kak Brant, liat deh! Tadi pas stunt, aku ngerasa kayak beneran bisa terbang tahu," ucap Luca sambil menggerak-gerakkan tangannya seperti sayap, matanya berbinar menatap Brant.
Brant melirik sekilas, tangannya yang kekar mengendalikan kemudi dengan satu tangan, sementara tangan satunya lagi menggenggam jemari Luca, mengunci pergerakan random cowok manis itu. "Duduk yang bener, Luca. Jangan banyak tingkah di mobil."
"Iih, kan aku lagi excited! Emang tadi aku nggak keren ya?" Luca memanyunkan bibirnya, sengaja memancing .
Brant terdiam sejenak, lalu suaranya merendah, "Keren. Terlalu keren sampai gue nggak suka semua mata di lapangan tadi cuma tertuju ke lo."
Luca tertawa renyah, dia tahu itu cara Brant bilang kalau dia cemburu. "Posesif banget sih, Kak!"
Begitu mobil itu berhenti, Lea sudah berdiri di teras dengan tangan bersedekap, wajahnya jutek maksimal. Dia menatap Luca yang turun dengan seragam cheerleader lengkap—rok mini dan atasan ketat yang mengekspos lekuk tubuhnya.
Lea mendengus kasar, matanya menyapu penampilan kakaknya dari atas sampai bawah dengan tatapan menghakimi.
"Gila ya lo, Ca! Jam segini baru balik, mana dandanannya modelan begini lagi," semprot Lea galak sambil menjitak kepala Luca sampai si empunya mengaduh. "Lo tuh laki, sadar nggak sih? Pake baju kurang bahan begini, mau pamer ke nyamuk atau mau nyari perkara di jalan?!"
"Aduh! Sakit, Lea! Kan tadi abis latihan... lagian tim butuh flyer, dan aku yang paling pas!" Luca merengut sambil mengusap kepalanya.
Lea nggak peduli sama alasan Luca. Dia langsung melangkah lebar menuju pintu kemudi mobil Brant dan menggetok kacanya dengan keras—hampir seperti mau ngajak berantem. Begitu kaca mobil itu turun, Lea langsung melotot ke arah Brant.
"Woi, Kak! Otak lo taruh mana sih?" tanya Lea tanpa basa-basi, nggak ada takut-takutnya.
"Lo jagain ni anak gimana? Malem-malem lo biarin dia keluyuran pake baju begini. Lo tau kan kakak gue otaknya sering ketinggalan di lapangan? Kalau ada orang jahat gimana? Lo mau tanggung jawab?!"
Brant hanya menatap Lea dengan tatapan datarnya , tapi dia tidak membantah ucapan Lea. "Gue liatin terus dari tadi. Nggak bakal ada yang berani nyentuh," jawab Brant singkat.
"Halah! Bacot doang!" ketus Lea. Dia beralih narik kerah belakang baju Luca. "Masuk lo! Ganti baju sana, geli gue liatnya! Kak Brant, lo juga balik! Jangan bengong liatin kakak gue yang aneh ini terus!"
Dari balik kemudi, Brant tidak langsung menginjak gas. Matanya yang tajam tetap tertuju pada pintu rumah Luca. Ia memperhatikan bagaimana Lea dengan kasarnya menyeret kakaknya masuk, sementara Luca masih sempat-sempatnya menoleh ke arah mobil sambil melambaikan tangan dengan wajah cemberut yang menggemaskan.
Hanya setelah pintu depan tertutup rapat, ketegangan di bahu Brant sedikit mengendur. bayangan Luca yang melompat di udara dengan seragam cheerleader yang minim kembali terlintas di pikirannya.
Ia tidak bisa membiarkan ini berlanjut.
Brant mengambil ponselnya, jemarinya bergerak cepat menekan kontak Jack. Belum sempat nada sambung ketiga berakhir, suara Jack sudah terdengar.
"Halo, Jack," suara Brant rendah, hampir seperti bisikan yang mengancam.
"Ya, Brant? Ada apa ? Gue baru mau makan nih."
Brant tidak peduli. "Gue berubah pikiran. Besok pagi, gue mau calon pengganti Luca sudah ada."
Di seberang sana, Jack terdengar menghela napas frustrasi. "Brant, ayolah! Luca itu ikon tim kita. Kenapa lo segitunya sih?"
"Gue nggak suka dia pake baju konyol kayak gitu lagi. " jawab Brant dengan nada mutlak yang tidak menerima bantahan.
Setelah memastikan semuanya sesuai kendalinya, Brant menginjak gas dalam-dalam. Mesin Cayman itu menderu garang, membelah keheningan malam menuju apartemennya.
•
•
•
Sinar matahari pagi masuk melalui celah gorden dapur, di mana aroma nasi goreng dan telur mata sapi sudah menyerbak. Ibu Lana, mamanya Luca dan Lea, yang sudah tampil rapi dan modis dengan blazer elegan siap berangkat ke butiknya, sedang menata piring di atas meja makan.
Ia melirik jam tangannya, lalu menoleh ke arah tangga. "Lea!" panggil mamanya dengan suara tegas namun lembut.
Lea turun dengan langkah malas, masih mengucek mata dan mengenakan seragam SMA yang sudah rapi. "Ya, ma?"
"mama sudah siapkan sarapan buat kamu sama Luca. Mama harus berangkat sekarang, ada klien penting di butik pagi ini," ucap ibu Lana sambil menyambar tas tangannya. "Bangunin kakakmu itu. Jangan sampai dia telat lagi ke kampusnya. Dan bilang ke dia, jangan terlalu banyak makan gorengan kalau mau tetap lentur buat latihan cheer nanti."
Mamanya malah mendukung ternyata.
Lea mendengus, langsung menarik kursi meja makan. "Dih, Luca tanpa dibangunin juga bakal bangun kalau denger suara motor Kak Brant ngetem di depan, ma."
"Ya sudah, pokoknya bangunin.
mama berangkat ya!" Ibu lana mencium kening Lea kilat sebelum menghilang di balik pintu depan.
"WOI, LUCA! BANGUN!" teriak Lea galak. "Mama udah berangkat ke butik! Itu sarapan kalau nggak dimakan bakal gue kasih ke kucing ya!"
Dari dalam kamar, terdengar suara buk!—sepertinya Luca kaget sampai berguling dari kasur.
"Lea! Galak banget sih, ini masih pagi!" sahut Luca dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
"Banyak bacot! Cepetan mandi," Lea berteriak sekali lagi sebelum turun kembali ke meja makan untuk menghabiskan bagiannya sendiri.
Mama Luca sudah berangkat ke butik, dan lea sudah naik ojek ke sekolahnya. sekarang tinggal Luca yang buru-buru siap-siap karena ternyata Brant tak bisa menjemputnya hari itu.
Pagi menjelang siang itu, Luca memang benar-benar terlambat. Namun, keberuntungan tampaknya masih berpihak padanya karena dosen jam pertama berhalangan hadir, membuat cowok itu bisa bernapas lega sejenak.
Sialnya, rasa lega itu tidak bertahan lama. Prahara lain justru menghantam egonya yang begitu bangga menjadi seorang flyer di tim basket kampus. Posisi impiannya itu mendadak harus diganti, dan semua ini terjadi karena ulah seseorang—siapa lagi kalau bukan kekasihnya sendiri, Brant, yang kelewat protektif.
Luca berdiri mematung di tengah ruang latihan, matanya menatap tajam ke arah Jack yang masih sibuk mencatat peserta audisi baru. Perasaan sedih yang sempat menyergapnya mendadak berubah menjadi rasa kesal yang campur aduk. Luca tidak langsung menangis, tetapi semburat merah di wajahnya tidak bisa menyembunyikan betapa emosinya sedang bergejolak saat ini.
"kak Jack!" seru Luca. Suaranya nggak seram, malah terdengar seperti anak kecil yang es krimnya tumpah.
"Eh, ya, Ca?" Jack menoleh, ngeri-ngeri sedap melihat Luca yang sudah berkacak pinggang.
"Gak bisa gitu dong! Ini audisi ilegal! Aku protes! Aku mau mogok kuliah kalau posisiku diganti!"
Luca mulai menghentak-hentakkan kakinya ke lantai , melakukan gerakan cheerleader yang asal-asalan—seperti ayam yang lagi senam.
Jack menahan tawa. "Ca, ini perintah Brant langsung..."
"Bodo amat sama Kak Brant! Dia pikir dia siapa? Presiden Kampus?!" Luca terus mengomel sambil berjalan mondar-mandir. tangannya masih memegang pompom yang dia temukan di kursi.
"Bilang ya ke dia, kalau dia cari penggantiku, aku bakal... aku bakal hias mobilnya pake stiker bunga-bunga pink!" ancam Luca dengan wajah yang sok galak, padahal matanya sudah berkaca-kaca karena bingung.
Tiba-tiba, bayangan tinggi besar menutupi cahaya dari pintu. Brant berdiri di sana, bersandar di kusen pintu dengan tangan bersedekap, menatap kelakuan konyol Luca.
"Mau pasang stiker apa tadi?" tanya Brant pendek.
Luca langsung membeku di posisinya—masih dengan satu kaki terangkat dan tangan memegang pompom. Dia menoleh pelan, menelan ludah, lalu bukannya takut, dia malah menantang.
"Stiker bunga matahari! Biar mobil kakak nggak gaul lagi kayak pemiliknya!" tantang Luca, meski suaranya sedikit mencicit.
Brant nggak marah. Dia cuma menatap Luca dari atas ke bawah, lalu berjalan mendekat. Jack langsung pura-pura sibuk.
"Ikut gue sekarang," perintah Brant, nadanya mutlak.
"Nggak mau! Mau audisi jadi penggantinya Luca Stellan juga!" jawab Luca sambil membuang muka dengan gaya dramatis, tapi tangannya malah tanpa sadar memegang ujung jaket Brant.
Brant membawa Luca menuju kantin dekat gedung Ekonomi, fakultas kebanggaan Luca. Begitu mereka duduk, Brant menatap Luca yang masih tampak kesal.
"Makan," ucap Brant pendek sambil menyodorkan menu.
"Nggak laper! Kakak jelasin dulu kenapa cari penggantiku!" Luca memalingkan muka
Brant menghela napas, matanya menatap Luca tajam sampai Luca merasa ciut. "Denger ya, Ca. Seragam itu nggak pantes buat lo. Lo itu laki, dan pakaian itu... terlalu aneh, terlalu terbuka. Gue nggak suka lo jadi tontonan konyol di tengah lapangan."
Brant sebenernya juga emosi sendiri, kenapa dulu si Jack bisa-bisanya nerima Luca dan kenapa gue juga malah ngebiarin aja dari awal? batinnya kesal.
"Tapi Kak, itu kan seni! Aku suka lompat-lompat!" protes Luca dengan gaya khasnya.
"Diem, Luca. Jangan dibantah," potong Brant dingin. Tatapan sadisnya nya keluar maksimal, bikin Luca otomatis tutup mulut dan cuma bisa mainin ujung jarinya. Melihat Luca yang mulai layu, nada suara Brant sedikit melunak. "Nanti gue beliin Boba Brown Sugar kesukaan lo yang extra topping itu. Tapi nurut sama gue."
Mendengar kata "Boba", mata Luca langsung sedikit berbinar. "Janji ya? Yang ukurannya paling gede?"
"Iya, rewel," jawab Brant pelan.
Baru saja suasana agak tenang, tiba-tiba dua orang cowok dengan gaya modis datang menghampiri. Mereka adalah geng sahabat Brant dari Fakultas Bisnis.
"Woi, Brant! Ternyata beneran di sini lo!" seru Clay, salah satu sahabatnya. "Gila ya, kantin Bisnis full banget, makanya kita nyari lo. Eh, pantesan milih di sini, pemandangannya seger-seger ya? Banyak cewek cakep sama cowok imut di gedung Ekonomi."
"Traktir kali, Brant! Akhir bulan nih, dompet gue udah kayak kerupuk, garing banget!" timpal Rey sambil nyengir ke arah Luca yang kelihatan mungil di sebelah Brant.
Brant cuma mendengus. "Pesen aja, jangan berisik."
Tepat saat mereka baru mau duduk, Jack datang dengan napas terengah-engah.
" gue cari lu semua di kantin biasa nggak ada , ngumpul di sini terntaya." Melihat Brant jack jadi ingin bilang sesuatu.
"Brant! Nih, gue bawa kabar cepet!" Jack nggak sadar kalau ada Luca di situ. "Gue udah dapet pengganti Luca. Anak fakultas Kesenian, cewek, tinggi, badannya lentur banget. Pokoknya pas banget buat posisi flyer. Besok dia udah bisa mulai latihan!"
Seketika, suasana meja itu jadi senyap. Luca yang baru mau nyedot boba yang baru datang, langsung mematung. Pipinya yang kembung berisi boba perlahan mengempis, dan matanya menatap Jack lalu beralih ke Brant dengan tatapan yang terluka.
"O-oh... jadi beneran udah ada penggantinya?" bisik Luca pelan, suaranya bergetar.
Jack baru sadar dia salah ngomong. "Eh, Luca... ada di sini? Anu... maksud gue..."
"Kak Brant jahat!" seru Luca sambil berdiri, tapi kali ini matanya beneran berkaca-kaca. "Boba-nya nggak jadi enak!"
Brant cuma diam mematung menatap punggung Luca yang menghilang di balik kerumunan mahasiswa. Dia mendengus, dengan wajah yang makin dingin. Dia tahu Luca pasti bakal langsung masuk kelas dan curhat habis-habisan ke sahabatnya.
"Biarin aja," gumam Brant singkat. "Entar juga balik sendiri kalau udah capek ngedumel."
"Yee, songong banget ni Kulkas! Awas lo, entar dia ngambek beneran baru tahu rasa," celetuk Clay sambil narik ipad yang dibawa Jack. "Mana liat? Gue mau liat penggantinya si Luca. Cakep nggak?"
Jack menyodorkan ipad itu ke tengah meja. Di layar itu terpampang profil mahasiswi Kesenian bernama Vania. Fotonya lagi pose estetik, badannya tinggi semampai, dan mukanya emang tipe-tipe "Goddess" kampus.
"Anjir! Gila sih ini!" seru Rey sampai keselek es tehnya. "Jack, lo serius mau ganti Luca sama yang ginian? Ini mah bukan cuma pinter lompat, ini mah pinter bikin cowok satu stadion serangan jantung, Cuk!"
"Gila, damage-nya nggak ngotak," timpal Clay sambil nge-zoom foto Vania. "Body goals parah sih. Ini kalau pake seragam cheer yang kemaren Luca pake, mampus deh... bisa tawuran cowok-cowok cuma buat liatin dia."
Brant cuma melirik sekilas, lalu membuang muka. "Biasa aja."
"Biasa aja mata lo?!" Rey sewot. "Ini mah berlian, Brant! Kalau Luca kan imut-imut gemes, kalau yang ini mah... hot parah. Gue aja yang liat fotonya udah deg-degan, gimana kalau ketemu langsung?"
Jack yang dari tadi dengerin cuma bisa ketawa receh sambil nyomot gorengan di meja. Dia ngelirik Brant yang sok-sokan cuek tapi tangannya sebenernya ngeremas kunci mobilnya dengan kencang.
"Inget ya, Brant," sahut Jack sambil nyengir penuh arti. "Gue nemu yang spek dewa kayak gini buat gantiin posisi Luca biar lo nggak emosi lagi tiap latihan. Tapi inget, Bos... jangan sampe lo malah kecantol ya. Inget 'Malaikat Kecil' lo yang baru aja kabur gara-gara lo zolimin."
"Najis," umpat Brant kasar. "Nggak usah bahas yang nggak penting. Gue cuma mau tim beres, itu doang."
"Halah, bacot! Palingan ntar malem lo juga yang kelimpungan nyariin dia," ledek Rey. "Eh, tapi serius ya, ini si Vania emang cakep banget sih. Apa gue aja yang deketin ya? Mumpung gue lagi jomblo dan dompet lagi kering, siapa tahu dia mau traktir gue."
"Mimpi lo ketinggian, bangsat!" Clay ngeplak kepala Rey. "Spek begini mana mau sama modelan kayak lo yang akhir bulan aja minta traktir temen!"
Brant cuma dengerin mereka sambil natap lurus ke depan. Pikirannya beneran nggak fokus ke foto Vania yang dipuji-puji temennya. Dia malah kepikiran, tadi boba-nya Luca belum abis, dia pasti masih lapar.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!