"Ahh!"
Amoera hanya bisa pasrah ketika Leon D'Alterio menikmati tubuhnya dengan cara yang paling brutal. Rasa sakit fisik itu menjalar, namun hancurnya harga diri jauh lebih menyiksa. Amoera memejamkan mata rapat-rapat, menahan badai tangis yang bergemuruh di dada. Di bawah kungkungan pria itu, ia merasa tak lebih dari seonggok daging tanpa jiwa. Begitu Leon selesai melampiaskan amarah dan hasrat gelapnya, Amoera dengan sisa tenaga yang ada segera menarik selimut tebal untuk menutupi tubuhnya yang polos dan gemetar. Ia berbalik, memunggungi pria yang baru saja menghancurkan hidupnya tanpa ampun.
"Kamu menangis?" suara berat Leon memecah keheningan kamar yang pengap oleh atmosfer intimidasi. Pria itu beranjak dari ranjang tanpa beban, memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai.
Amoera memilih bungkam. Namun, air matanya menolak berkompromi, bulir-bulir hangat itu terus mengalir deras membasahi bantal. Kedua tangannya terkepal begitu kuat di balik selimut, hingga kuku-kukunya memutih, menyalurkan rasa benci yang amat mendalam.
Leon menarik satu sudut bibirnya, membentuk senyuman sinis yang dingin. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar sembari mengenakan kemeja hitam satinnya, mengancingkannya satu per satu dengan ketenangan yang mengerikan. Setelah itu, ia melangkah ke arah nakas, mengambil sebuah pistol hitam legam, lalu dengan santai mengisi pelurunya satu demi satu. Suara klik logam pistol itu terdengar seperti lonceng kematian di telinga Amoera.
"Apa ... apa aku sudah bisa bebas? Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau," ucap Amoera dengan suara lirih yang bergetar hebat. Jantungnya berdegup kencang, menanti jawaban yang mungkin bisa memberinya secercah harapan.
Leon menghentikan gerakannya. Ia menatap ke arah ranjang berantakan itu, di mana bercak merah pekat masih tercetak jelas di atas seprei putih, sebuah bukti mutlak atas kepemilikannya yang paksa. Pria itu tersenyum tipis, sangat tipis hingga hampir tak terlihat, lalu kembali mengecek magasin pistolnya.
"Kamu harus menjadi tawananku, Amoera, untuk menebus dosa yang telah ayahmu lakukan. Pria tua itu masih bersembunyi seperti tikus got, dan kamu adalah jaminannya," ucap Leon dengan nada sedingin es. Tidak ada sedikit pun riak penyesalan di matanya.
"Apa semua ini masih kurang?!" teriak Amoera, akhirnya kehilangan kendali. Ia berbalik dan mendelik tajam pada pria itu. "Kamu sudah menghancurkanku! Kamu telah menghancurkan seluruh hidupku tanpa menyisakan apa pun!"
Leon menatap Amoera lewat pantulan cermin di hadapannya. Perlahan, pria itu berbalik dan melangkah mendekat. Setiap ketukan sepatunya di atas lantai marmer terdengar seperti hitung mundur menuju petaka. Ia duduk di tepi ranjang, lalu dengan gerakan kilat, ia mengarahkan moncong pistol dingin itu ke bawah dagu Amoera. Leon menekannya kasar, memaksa wajah wanita itu mendongak menatap langsung ke dalam manik matanya yang sehitam jelaga.
"Dalam hukum dunia gelap, darah harus dibayar dengan darah, nyawa harus dibayar dengan nyawa," bisik Leon, suaranya merayap bagai bisa ular. "Ayahmu telah membantai kedua orang tuaku secara keji. Dia membuatku harus tumbuh besar sendirian di dalam neraka ini tanpa sosok keduanya. Sementara ayahmu ... dia hidup dengan tenang di luar sana. Untuk itu, aku mau kamu ...,"
Tatapan tajam Leon perlahan turun, tertuju pada perut datar Amoera yang tersembunyi di balik selimut.
"Hamil anakku. Anak itu yang nantinya akan menjadi penerusku, pewaris takhta Cosa Nero. Setelah bayi itu lahir dan diserahkan kepadaku, kamu boleh pergi dari sini. Urusan kita selesai."
Leon membisikkan kalimat kutukan itu tepat di hadapan wajah Amoera yang pucat pasi. Ia kemudian beranjak berdiri, menyelipkan pistolnya ke balik jas, dan berlalu pergi tanpa menoleh lagi. Pintu kamar tertutup dengan dentuman keras, meninggalkan Amoera yang seketika meringkuk memeluk perutnya sendiri. Air matanya kian tumpah ruah. Di dalam benaknya, sebuah kenyataan mengerikan mulai membayang: kelak, ia harus menyerahkan darah dagingnya sendiri kepada iblis yang telah merenggut seluruh dunianya.
.
.
.
.
Sepuluh bulan kemudian.
Waktu yang paling ditakuti sekaligus dinanti akhirnya tiba. Selama sembilan bulan lebih, Amoera menjalani hari-hari bak mayat hidup di dalam rumah megah yang menyerupai penjara mewah ini. Perutnya kini tampak jauh lebih besar dan membuncit daripada ukuran wanita hamil pada umumnya. Kabar baik dari dokter pribadi organisasi membuat hatinya mencelos, ia mengandung anak kembar. Namun, kabar buruknya jauh lebih mendominasi jiwanya. Tak lama lagi, setelah jerit tangis bayi itu menggema, ia harus menyerahkan malaikat-malaikat kecilnya kepada Leon dan pergi dengan tangan hampa.
"Queen, Anda tidak boleh kelelahan. Mari saya bantu kembali ke kamar," ucap Lula, seorang pelayan muda yang ditugaskan khusus untuk melayaninya. Lula menatap cemas ke arah Amoera yang berjalan lambat dengan memegangi perut besarnya.
"Diamlah, Lula. Aku sedang lelah," sahut Amoera ketus. Napasnya terengah-engah, setiap langkah terasa begitu berat membebani pinggangnya. "Dan berhentilah memanggilku dengan sebutan Queen. Panggilan itu membuat telingaku sakit dan mengingatkanku pada tempat terkutuk ini. Panggil saja namaku."
"Iya, tapi Tuan Leon memesankan agar—"
Amoera mengangkat tangan kanannya, mengisyaratkan pelayan pribadinya itu untuk segera menutup mulut. Langkah Amoera mendadak terhenti di ujung koridor lantai bawah. Sepasang matanya terpaku pada sosok anak laki-laki berusia sekitar tujuh tahun yang baru saja melangkah keluar dari pintu besi tebal menuju ruang bawah tanah, tempat yang dikenal sebagai ruang interogasi dan penyiksaan Cosa Nero.
Anak itu mengenakan kaos hitam yang kini basah oleh bercak darah segar. Begitu pula dengan celana jeans dan sebagian wajah mungilnya yang tercoreng noda merah pekat. Raut wajah bocah itu luar biasa datar, kosong, dan dingin, seolah pemandangan mengerikan di bawah sana adalah hal yang lumrah. Bocah itu terus melangkah, namun langkah kecilnya tertahan ketika mendapati Amoera sedang berdiri menyandarkan tubuh di dinding koridor.
Dengan perlahan dan hati-hati, Amoera mendekatinya. Rasa iba seketika mengalahkan rasa sakit di tubuhnya. Ia mengeluarkan selembar saputangan kain dari saku bajunya, lalu berlutut dengan susah payah demi menyamakan tinggi badan mereka. Dengan kelembutan seorang ibu, Amoera mengusap noda darah yang mengering di pipi anak itu.
"Tidak seharusnya di umurmu yang sekarang kamu melakukan pekerjaan kotor ini, Kael," ucap Amoera dengan suara pelan dan bergetar menahan kesedihan.
Namun, anak bernama Kael itu tidak bersuara sedikit pun. Ia hanya memalingkan wajahnya dengan dingin, menghindari kontak mata.
"Kael, dengarkan aku ... kamu masih kecil. Kamu masih bisa pergi dari tempat ini dan hidup normal," bisik Amoera mencoba menyadarkannya.
"Jangan mengusikku," desis Kael dengan nada suara yang teramat dingin untuk anak seukurannya. Ia menepis pelan tangan Amoera lalu berlalu pergi begitu saja, menaiki tangga menuju kamarnya.
Amoera hanya bisa menatap punggung kecil yang menjauh itu dengan pandangan sayu penuh kepedihan. Kael adalah seorang anak yatim piatu yang Leon angkat setelah membantai habis organisasi lawan beberapa tahun lalu. Leon tidak merawatnya dengan kasih sayang, melainkan mendidiknya secara brutal dengan latihan militer keras agar kelak menjadi mesin pembunuh yang loyal. Di mata Amoera, apa yang Leon lakukan pada Kael bukanlah sebuah aksi penyelamatan, melainkan sebuah kejahatan kemanusiaan yang keji.
"Kamu lihat itu, Lula? Leon memang benar-benar iblis! Pria itu adalah monster sejati!" ucap Amoera dengan emosi yang meledak-ledak, napasnya memburu beriringan dengan air mata kemarahan yang mendesak keluar. "Pria bajian itu tega menghancurkan masa depan seorang anak kecil hanya demi memuaskan hasrat gila dan ambisi dunianya!"
"Sabar, Queen ... tolong tenang, ingat kandungan Anda—"
"Arghhh!"
Ucapan Lula terputus seketika oleh jeritan histeris Amoera. Wanita itu tiba-tiba mencengkeram perutnya dengan sangat kuat, tubuhnya limbung dan hampir ambruk jika Lula tidak sigap menahannya.
Secara bersamaan, mata Amoera dan Lula langsung tertuju ke arah lantai marmer di bawah kaki mereka. Cairan bening berbaur sedikit darah mengalir deras, membasahi kaki hingga menyentuh lantai. Air ketubannya telah pecah.
"Oh tidak ... Tuan! Bayinya akan segera lahir!" teriak Lula panik, menyadari bahwa waktu bagi Amoera telah tiba.
.
.
.
.
.
Amoera tidak dilarikan ke rumah sakit. Alih-alih mendapatkan perawatan medis yang layak di tempat umum, ia justru dikurung di dalam sebuah kamar khusus yang telah disulap menjadi ruang bersalin darurat di dalam mansion. Dua orang dokter organisasi telah bersiap dengan pakaian steril mereka, ditemani oleh peralatan medis yang sangat lengkap, mulai dari mesin USG modern hingga tabung oksigen. Semuanya telah dipersiapkan secara matang sejak awal oleh Leon. Pria itu sengaja merancang segalanya agar Amoera bisa melahirkan tanpa perlu melangkah keluar satu jengkal pun dari mansion yang bak neraka dunia tersebut.
"Lula ... ke mana pria br3ngsek itu?!" pekik Amoera di sela-sela jeritannya. Ia mencengkeram sprei ranjang, berusaha menyalurkan rasa sakit luar biasa yang menghantam perut dan pinggangnya.
"Tuan Leon masih menyelesaikan tugas di luar, Queen," jawab Lula dengan suara bergetar, mencoba menenangkan wanita di hadapannya.
"Tugas untuk menghancurkan hidup orang lagi, kan? Pria baj1ngan itu ... arghhh!" Amoera tidak sanggup lagi melanjutkan makiannya. Rasa sakit yang teramat pekat seolah menusuk-nusuk seluruh saraf di tubuhnya.
Kedua dokter segera mengambil posisi dan meminta Amoera untuk mengatur napas. Namun, jerit kesakitan Amoera justru kian menggila memecah keheningan kamar. Air matanya mengalir deras, membasahi pelipis dan bercampur dengan keringat dingin yang membanjiri dahinya. Dengan sisa tenaga yang ada, ia meremas kuat-kuat jemari tangan Lula, mencari tumpuan di tengah badai penderitaan ini.
"Andai Mama ada di sini ... hiks ...," isak Amoera pilu.
Di ambang batas antara hidup dan mati ini, jiwanya meronta kesepian. Ia merindukan ibunya, merindukan kehangatan ayahnya, dan merindukan keluarganya yang telah hancur lebur. Di saat wanita lain melahirkan didampingi oleh orang-orang tercinta yang memberikan dukungan, Amoera justru harus bertaruh nyawa di sarang musuh, dikelilingi oleh orang-orang asing yang mengawasinya bak tawanan.
Rasa sakit di perutnya kian menghebat, membuatnya merasa seolah tengah melangkah mendekati gerbang kematian. Kesadarannya perlahan menipis. Dengan wajah pucat pasi, Amoera menatap Lula dengan pandangan sayu.
"Jika ... jika aku tidak berhasil selamat ...,"
"Jangan katakan itu, Queen! Jangan!" potong Lula dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak tega melihat kondisi Amoera yang begitu mengenaskan. "Anda pasti selamat. Anda harus kuat demi menemani si kembar."
Amoera memejamkan matanya, tersenyum getir di tengah rasa sakitnya. "Selamat atau tidak ... aku akan tetap dipisahkan dari mereka," bisik Amoera dengan napas yang memburu satu-satu.
"Pembukaan sudah lengkap! Nyonya, tolong atur napas Anda dengan baik. Saya akan mengarahkan, dan Anda harus mengikuti instruksi saya, mengerti?" ucap salah seorang dokter yang sudah bersiap di depan kaki Amoera.
Amoera mengangguk lemah. Ia melepaskan remasan tangannya pada Lula, lalu beralih memegang erat-erat pinggiran bantal dan tepian ranjang besi.
"Arghhh!" Amoera mengejan dengan seluruh kekuatan yang tersisa. Rasa sakit yang tak terkira merobek tubuhnya.
Satu dorongan besar ia lakukan, disusul dengan dorongan kedua dan ketiga yang kian menguras tenaganya. Hingga akhirnya, sebuah suara tangis bayi yang melengking pecah, menggema di seluruh penjuru ruangan. Salah seorang dokter dengan sigap menangkap tubuh mungil yang basah itu.
"BAYINYA LAKI-LAKI!" seru sang dokter dengan lantang.
Mendengar pengumuman itu, seorang pria berbadan kekar yang sejak tadi berjaga di depan pintu kamar langsung berteriak keras ke arah luar koridor, menyebarkan berita gembira kepada para penjaga lainnya. "PENERUS COSA NERO TELAH LAHIR!"
Amoera sama sekali tidak memedulikan sorakan itu. Fokusnya terpecah karena ia tahu tugasnya belum selesai. Ia kembali mengatur napasnya yang tersengal-sengal, mencoba mengumpulkan tenaga yang sudah terkuras habis untuk mengeluarkan bayinya yang satu lagi. Ia mencoba mengejan kembali, namun tubuhnya menolak bekerja sama. Matanya perlahan memberat, dan kesadarannya mulai melayang pergi. Namun, sebuah sentuhan kasar tiba-tiba mendarat di pipinya.
Plak!
"Kenapa kamu menamparku, hah?!" desis Amoera, seketika matanya terbuka lebar, menatap tajam dengan sisa-sisa amarahnya.
"Queen! Maafkan aku, maafkan aku ... tapi Anda tidak boleh tidur sekarang!" ucap Lula dengan wajah panik sekaligus memohon. "Ayo, sekali lagi, Queen. Sebentar lagi bayi yang kedua akan lahir. Anda pasti bisa!"
Amoera menatap mata Lula yang dipenuhi rasa cemas. Ia mengangguk lemah, mencengkeram kembali sisi ranjang, dan kembali mengejan dengan sisa tenaga terakhirnya. Sudah beberapa kali ia mencoba, namun tubuhnya terasa benar-benar kosong dan lumpuh.
"Ayo, Nyonya, sedikit lagi! Bayi bisa tertelan air ketuban jika terlalu lama berada di dalam!" seru sang dokter memperingatkan dengan nada mendesak.
Mendengar peringatan fatal itu, insting seorang ibu di dalam diri Amoera mendadak bangkit. Ia memejamkan matanya sejenak, merapalkan doa dalam hati, lalu membukanya lebar-lebar bersamaan dengan satu erangan panjang yang memekakkan telinga.
"Haaaah!"
Amoera merasakan sesuatu yang besar meluncur keluar dari tubuhnya. Bayi kedua telah lahir. Namun, detik demi detik berlalu, tidak ada suara tangisan yang terdengar. Ruangan itu mendadak hening, menyisakan keheningan yang mencekam dan menyiksa dada.
"Bayiku ...,"
______________________
Agak ekstream kawan😆 mulai u p rajin lagi aku yaa ehek😆
Cover sementara, kang covernya tidur keknya😑
Amoera yang terengah-engah mencoba mengalihkan pandangannya pada Lula, memberi isyarat agar pelayan itu memeriksa apa yang sedang terjadi. Lula melangkah mendekati dokter yang tengah sibuk memberikan pertolongan pertama, mencoba menepuk-nepuk punggung kecil bayi itu agar mengeluarkan suara. Namun sayang, tubuh mungil itu tetap bergeming. Kulitnya tampak pucat kebiruan, seolah tidak pernah ada denyut kehidupan di dalamnya sejak awal. Air mata Lula seketika jatuh. Ia berbalik dan menatap Amoera sambil menggelengkan kepalanya perlahan dengan tatapan penuh duka.
Amoera tahu ada yang salah. Ikatan batin sebagai seorang ibu menembus batas keheningan itu, hatinya hancur berkeping-keping. Begitu melihat gelengan kepala Lula, tangis Amoera pecah seketika, meratapi takdir bayinya yang malang.
Brak!
Pintu kamar mendadak terbuka dengan kasar. Leon D'Alterio melangkah masuk dengan aura intimidasi yang pekat. Pakaian hitamnya masih ternoda oleh cipratan darah segar, dan terdapat sebuah luka goresan baru di pipinya, sebuah tanda bahwa ia baru saja memenangkan peperangan besar di luar sana.
"Apa bayinya sudah lahir?" tanya Leon dengan nada suara datar tanpa emosi, seolah baru saja menanyakan hal yang sepele.
"Su-sudah, Tuan ...," jawab salah seorang dokter dengan suara bergetar ketakutan.
Leon melayangkan pandangannya ke arah dua bayi tersebut. Salah satu bayi masih berada di dalam gendongan dokter, sementara bayi yang satunya lagi telah diletakkan di dalam boks bayi khusus. Leon melangkah mendekati dokter yang memegang bayi yang diam, lalu menatapnya dengan kening berkerut. Bayi di dalam boks terus menangis dengan kencang, sedangkan bayi di hadapannya ini sama sekali tidak bersuara.
"Kenapa dia tidak menangis?" tanya Leon, nadanya merendah, namun sarat akan ancaman.
"Tuan ... maafkan kami. Kami tidak tahu jika bayi kedua ini ternyata sudah meninggal di dalam kandungan," ucap sang dokter dengan kepala tertunduk dalam. "Bayinya tidak dapat diselamatkan, bahkan sejak pertama kali dikeluarkan."
"Apa?! Bagaimana bisa?!" sentak Leon brutal. Tatapannya menajam bagai mata pisau, membuat atmosfer kamar seketika membeku. "Bukankah selama ini kalian mengatakan bahwa kedua bayiku sehat?! Bagaimana bisa kalian seceroboh ini hingga membuat salah satu penerusku tiada, hah?!"
Seluruh orang di dalam ruangan itu menciut ketakutan. Kedua dokter itu gemetar hebat, tahu betul bahwa Leon bisa saja mencabut nyawa mereka detik ini juga tanpa ragu. Namun, Leon tidak melanjutkan amarahnya. Pria itu berbalik dan melangkah mendekati boks bayi tempat putranya yang hidup tengah menangis keras. Ia menatap bayi mungil itu dengan pandangan yang dalam.
"Bayi ini ... laki-laki? Mereka kembar laki-laki?" tanya Leon memastikan.
"I-iya, Tuan. Keduanya laki-laki," jawab dokter dengan sisa keberaniannya.
Leon menarik satu sudut bibirnya, membentuk senyuman tipis yang mengerikan. "Setidaknya ... masih ada satu penerusku yang bertahan hidup untuk memimpin Cosa Nero," bisik Leon pelan.
Kalimat dingin itu merayap masuk ke telinga Amoera yang tengah sekarat di atas ranjang. Di tengah rasa sakit yang mendera fisik dan batinnya yang hancur karena kehilangan salah satu buah hatinya, ia menatap punggung pria kejam itu dengan dendam yang membara.
"Baj1ngan ...," desis Amoera lirih, sebelum akhirnya kegelapan total merenggut kesadarannya dan membuatnya jatuh pingsan.
.
.
.
.
Amoera perlahan mengerjapkan matanya yang terasa berat. Ingatan tentang rasa sakit yang merobek tubuhnya beberapa saat lalu berputar kembali bak kaset rusak. Detik berikutnya, jantung Amoera berdegup kencang saat menyadari ada tubuh mungil yang terbaring kaku tepat di sebelah lengan kirinya.
Dengan napas tertahan, wanita itu beranjak duduk meski rasa perih di perut bawahnya luar biasa menyiksa. Jari-jemarinya mencoba mengelus dada bayi kecil yang terpejam itu. Namun, kulit itu terasa dingin. Dada mungil itu tetap diam, tanpa ada debar kehidupan yang berdenyut di sana.
"Bayi itu tidak berhasil selamat, akibat kecerobohanmu sendiri," suara berat tiba-tiba memotong kesunyian.
Leon berdiri di kegelapan sudut kamar, melangkah maju dengan keangkuhan yang tak berkurang sedikit pun. "Bisa-bisanya kamu tidak sadar jika ada yang salah dengan kandunganmu?" lanjut pria itu dingin.
Amoera membeku. Kalimat Leon menghantam relung hatinya yang terdalam. Air matanya kembali luruh, mengalir deras membasahi pipi tanpa bisa ia cegah. Wajah mungil bayi yang tampak tertidur abadi itu membuat batin Amoera teriris hebat. Dengan penuh rasa cinta yang bercampur keputusasaan, ia meraih tubuh rapuh itu ke dalam pelukannya. Ia menggendongnya dengan amat hati-hati, lalu mengecup keningnya dengan begitu lembut.
"Untungnya, masih ada bayi yang lain. Jika tidak, waktu penahananmu di tempat ini akan jauh lebih panjang," ucap Leon datar. Tatapan matanya yang sehitam jelaga menatap lurus pada Amoera, tanpa ada secercah pun rasa kasihan terhadap wanita yang baru saja kehilangan separuh jiwanya tersebut.
Amoera menarik napas panjang dan dalam, mencoba mengumpulkan seluruh sisa harga diri dan kekuatannya yang telah hancur. Ia menghentikan isaknya, lalu mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata Leon yang tak berdasar.
"Bisa aku bawa bayi ini? Biarkan aku menguburkannya sendiri," ucap Amoera dengan suara yang penuh sesak oleh kepedihan.
"Silahkan. Lagipula bayi itu tak lagi bernyawa. Aku tidak membutuhkannya," sahut Leon kejam, tanpa secuil pun belas kasih untuk darah dagingnya yang telah tiada. Bagi seorang pemimpin mafia sepertinya, sesuatu yang tidak berguna tidak layak untuk dipertahankan.
Amoera mengangguk pelan. Dengan tubuh yang masih lemas, ia memaksakan diri untuk turun dari ranjang. Kedua lengannya mendekap erat tubuh bayinya yang kaku. Melihat pergerakan nekat wanita itu, Leon kembali angkat bicara.
"Tunggu matahari terbit. Kamu baru beristirahat setengah jam pasca melahirkan. Aku tidak mau dinilai terlihat kejam oleh wanita yang baru saja melahirkan," ucap Leon dingin.
Mendengar hal itu, satu sudut bibir Amoera terangkat, membentuk senyuman sinis yang sarat akan kebencian. Wanita itu menoleh, menatap Leon dengan pandangan tajam.
"Tidak mau terlihat kejam?" desis Amoera rendah. "Dengan kamu menculikku dan membalaskan dendam masa lalumu padaku, kamu sudah menjadi pria paling kejam di dunia ini, Leon."
Amoera membalikkan tubuhnya, menolak untuk menatap pria itu lebih lama lagi. "Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau. Sekarang, aku pergi."
Ia mulai melangkah tertatih-tatih keluar dari kamar. Rasa sakit yang luar biasa menjalar di setiap persendian tubuhnya, namun rasa sakit itu tidak ia pedulikan sama sekali. Dorongan untuk segera keluar dari neraka ini jauh lebih besar daripada rasa sakit fisiknya. Leon sempat berniat melangkah untuk mengejarnya, berniat menahan wanita keras kepala itu sampai pagi tiba. Namun, langkah pria itu mendadak tertahan.
Suara tangisan bayi yang sangat kencang tiba-tiba pecah dari dalam boks bayi di sudut ruangan. Putra mereka yang hidup terbangun, menangis histeris seolah tahu bahwa ibu kandungnya sedang melangkah pergi meninggalkannya selamanya.
Amoera mendengar jeritan tangis bayinya yang menggema memilukan. Langkah kaki Amoera sempat terhenti di ambang pintu, hatinya terasa seperti diremas kuat. Namun, ia memejamkan mata dan kembali berjalan, mempererat dekapannya pada bayinya yang sudah tak bernyawa di pelukan.
"Tunggu Mommy, sayang ... tunggu. Mommy pasti akan kembali untuk mengambilmu dari pria kejam itu," bisik Amoera dalam hatinya yang paling dalam.
.
.
.
.
Leon rupanya telah menyiapkan sebuah mobil hitam untuk mengantar Amoera keluar dari area mansion yang terletak jauh di dalam hutan belantara tersebut. Di dekat mobil yang terparkir di halaman, seorang pria paruh baya membungkuk hormat, lalu membukakan pintu belakang untuk Amoera.
Namun, tepat saat Amoera bersiap melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kendaraan, sebuah suara terengah-engah dari arah belakang menghentikan gerakannya.
"Queen, tunggu!" seru suara itu.
Amoera menoleh cepat. Lula, tampak berlari menyusulnya dengan napas yang memburu. Tanpa membuang waktu, Amoera langsung memeluk wanita paruh baya itu dengan erat, menumpahkan segala rasa terima kasih yang tak sempat ia ucapkan.
"Lula ...,"
"Queen, aku akan ikut denganmu. Aku sudah meminta Tuan Leon untuk memecatku dari sini. Aku ingin ikut dan mengabdi bersamamu saja," ucap Lula dengan tatapan penuh harap. Air matanya jatuh membasahi pipinya yang mulai berkerut, sementara Amoera hanya bisa menatapnya dengan tangis tanpa suara.
"Tidak bisa, Lula. Kamu harus tetap tinggal di sini," ucap Amoera dengan suara berbisik, sementara air matanya terus mengalir membasahi wajahnya yang pucat. "Jaga putraku ... jaga dia baik-baik sampai aku kembali dan mampu membawanya pergi dari tempat ini. Jaga dia untukku, aku mohon. Jangan biarkan iblis itu membuat putraku tumbuh menjadi iblis kejam sepertinya. Tolong, Lula ... jangan biarkan itu terjadi."
Lula terisak semakin keras, dadanya naik turun menahan kesedihan yang mendalam. "Queen ...,"
"Lula, tolong titip ini." Amoera dengan cepat melepas kalung perak yang melingkar di lehernya, lalu meraih tangan Lula dan meletakkannya di atas telapak tangan pelayan itu.
"Berikan ini pada putraku jika waktunya sudah tepat. Ini adalah kalung yang dulu diberikan oleh ibu kandungku sendiri. Kenalkan aku pada putraku lewat kalung ini," ucap Amoera penuh permohonan.
Lula mengangguk kuat-kuat, menggenggam kalung perak itu dengan sangat erat seolah benda itu adalah amanah paling berharga dalam hidupnya. Ia kembali memeluk Amoera sekilas, memantapkan hati untuk mengemban tugas berat yang baru saja diletakkan di atas pundaknya.
"Aku pergi dulu, Lula." Amoera melepaskan pelukan mereka dan melangkah masuk ke dalam mobil.
Pintu mobil ditutup dengan bunyi debuman pelan. Kendaraan roda empat itu perlahan bergerak maju, meninggalkan Lula yang berdiri diam sembari melambaikan tangannya dengan air mata yang terus bercucuran menatap kepergian sang nyonya.
Sementara itu, di dalam pelukan keheningan mobil yang berjalan membelah hutan, Amoera menunduk. Ia menatap bayinya yang tampak tertidur dengan begitu damai di dalam dekapannya. Isak tangisnya kembali terdengar lirih, meratapi nasibnya yang harus membawa pulang sesosok jasad bayi yang tak lagi bernyawa. Sang sopir yang duduk di kursi kemudi sempat melirik melalui spion tengah, menatap iba sejenak sebelum akhirnya kembali memfokuskan pandangannya.
Mobil hitam itu akhirnya bergerak melewati gerbang besi tinggi yang dijaga ketat oleh puluhan pria bersenjata. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama terkurung, Amoera kembali melihat jalanan umum dan dunia luar.
"Kenapa kamu memilih pergi dibandingkan hidup bersama Mommy, sayang? Mommy sekarang sendirian ... rasanya Mommy mau mati saja," ucap Amoera dengan nada suara yang tertahan di tenggorokan, menahan sesak yang teramat sangat.
"Bangun, sayang ... lihat Mommy. Lihat Mommy, nak ...," ucap Amoera kembali, jemarinya mengusap pipi bayi itu dengan putus asa.
Namun, di tengah kepasrahannya yang mendalam karena tahu bayi itu tidak akan pernah menyahut, sebuah keajaiban yang tak masuk akal mendadak terjadi. Amoera tiba-tiba merasakan sebuah sentuhan halus, seperti tendangan kecil yang sangat lemah tepat di bagian perut bawahnya yang bergesekan dengan posisi sang bayi.
Amoera seketika menghentikan tangisnya. Napasnya tercekat. Matanya membulat sempurna ketika melihat kelopak mata bayi yang semula terpejam rapat itu kini perlahan bergerak mengecap, sebelum akhirnya mengerjapkan matanya pelan. Tubuh mungil yang semula kaku itu mulai menggeliat pelan, seolah merasa tidak nyaman akibat dekapan Amoera yang terlalu erat.
Seluruh tubuhnya seketika menegang, merasa syok dan mengira bahwa dirinya sedang berada di dalam sebuah mimpi yang teramat indah. Untuk beberapa waktu, ia hanya bisa mematung seperti patung batu. Namun, bayi di dalam dekapannya itu terus bergerak, jemari kecilnya mulai terbuka, dan bibir mungilnya mengerucut pelan, memperlihatkan sepasang manik mata yang indah dan bersih tepat di depan wajah Amoera.
"Ba-bagaimana bisa ...," gumam Amoera pelan.
Ia langsung melempar pandangannya ke arah depan, memastikan sang sopir tidak menyadari perubahan situasi ini melalui kaca spion. Dengan gerakan sigap, Amoera segera menarik kain penutup untuk menutupi wajah bayinya, membatasi setiap pergerakan sang anak agar tidak menimbulkan suara yang mencurigakan.
Anak buah Leon tidak boleh ada yang tahu tentang hal ini. "Jika sampai pria baj1ngan itu tahu bayiku masih hidup ... dia pasti akan merebutnya dariku lagi," batin Amoera dengan detak jantung yang berpacu liar karena was-was.
Namun, ketakutannya kian memuncak saat bayi kecil itu mulai mengeluarkan suara rengekan kecil, bersiap untuk menangis karena lapar. Tanpa berpikir panjang, Amoera dengan sigap membuka kancing pakaiannya dan menyusui bayi itu, menutupi seluruh bagian dadanya dengan kain gendongan rajut yang tebal. Ia sempat didera rasa cemas yang luar biasa, namun beruntung, sang sopir di depan tetap fokus mengemudikan mobil tanpa menaruh curiga sedikit pun.
"Antar saja aku sampai ke batas kota. Setelah itu, kamu boleh pergi dan kembali ke mansion," ucap Amoera dengan nada suara yang dibuat sedatar mungkin.
"Baik, Nyonya," jawab sang sopir patuh.
Amoera kembali menunduk, menatap dalam-dalam pada bayinya yang kini tengah fokus menyusu padanya. Air susu ibu yang sempat ia kira tidak akan pernah berguna kini mengalir lancar, memberikan kehidupan bagi sang putra untuk pertama kalinya. Air mata kebahagiaan Amoera menetes tanpa suara, membasahi pipi bayinya. Bayi ini tidak meninggal. Semesta mengembalikan nyawa anaknya khusus untuk menemaninya hidup di dunia yang kejam ini.
"Mommy tahu ... kamu tidak akan membiarkan Mommy hidup sendirian di dunia ini, sayang ...," bisik Amoera penuh keharuan.
_______
Empat tahun kemudian.
Di sebuah gedung tinggi di sudut kota yang ramai, tampak seorang wanita tengah berdiri dengan tenang di dekat jendela besar lantai dua. Kedua tangannya yang terlatih dengan cekatan menarik pelatuk dari senjata laras panjang miliknya, mengarahkan moncong senjata hitam itu tepat pada seorang pria bertubuh tambun yang sedang berdiri di tengah pengawalan ketat di seberang jalan.
Setelah memastikan bidikannya mengunci target dengan sempurna, wanita itu tanpa ragu melepaskan satu tembakan telak. Tidak ada suara dentuman keras yang terdengar karena senjata tersebut telah dilengkapi peredam terbaik, namun di seberang sana, pria bertubuh tambun itu langsung tumbang seketika dengan sebuah luka lubang peluru yang tepat bersarang di tengah keningnya.
Suasana di seberang jalan mendadak berubah menjadi histeris, orang-orang berteriak panik melihat sang bos tewas dalam sekejap. Namun, wanita di balik jendela itu justru menarik sudut bibirnya, membentuk seulas senyuman dingin yang menawan sebelum akhirnya lekas beranjak pergi dari sana. Wanita itu tak lain dan tak bukan adalah Amoera, yang kini telah menjelma menjadi salah satu pembunuh bayaran paling dicari di dunia bawah.
Dengan gerakan yang sangat santai, Amoera meletakkan senjata laras panjangnya di sebuah sudut sembarang tempat yang tersembunyi. Ia kemudian menarik ikat rambutnya, membiarkan rambut panjangnya terurai indah, lalu melepaskan kemeja luarannya dan membalikkannya hingga warna pakaiannya berubah drastis dalam sekejap. Ia juga melepas kacamata hitam yang dipakainya, menggantinya dengan sebuah kacamata berbingkai bening yang membuatnya tampak seperti wanita kantoran biasa.
Mulutnya terus mengunyah permen karet dengan tenang, seolah-olah pembunuhan yang baru saja terjadi tidak ada hubungannya dengan dirinya sama sekali. Saat melangkah memasuki lift gedung, dia bahkan sempat tersenyum ramah menyapa seseorang yang berada di dalam lift yang sama dengannya. Lift itu pun bergerak turun dengan cepat, membawa Amoera menuju lantai dasar gedung.
Tring!
Pintu lift terbuka. Tepat saat Amoera akan melangkahkan kakinya keluar menuju pintu utama, sebuah suara panggilan dari arah belakang mendadak mengejutkannya.
"Nona," panggil seorang pria asing dengan pakaian rapi.
Amoera menghentikan langkahnya dan menoleh, menatap bingung pada pria tersebut. Namun, begitu matanya melihat sebuah pena mahal berbentuk unik yang disodorkan oleh pria itu, senyuman manis langsung mengembang di wajah cantiknya. Ia segera mengambil pena tersebut dengan perasaan lega.
"Terima kasih banyak. Ini pena milik putraku yang terjatuh," ucap Amoera ramah, lalu kembali berlalu pergi.
Ia berjalan dengan langkah santai menuju tempat parkir dan segera memasuki mobil minimalis miliknya. Tepat saat ia baru saja menyalakan mesin dan hendak melajukan kendaraannya, ponsel di dalam tasnya mendadak berbunyi nyaring. Amoera lekas mengambilnya, melihat nama yang tertera di layar, lalu segera mengangkat ponsel tersebut dan menempelkannya di telinga.
"Halo—apa?!"
Kedua mata Amoera seketika berbinar terang, dan senyuman bahagianya merekah lebar. Tanpa membuang waktu lagi, ia mematikan sambungan ponselnya lalu segera menginjak pedal gas, melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk segera pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah bergaya minimalis yang terletak di pinggiran kota yang tenang, Amoera lekas melangkah masuk dengan tergesa-gesa setelah membuka pintu depan.
"Tumben sekali kamu pulang secepat ini, Moera," ucap seorang wanita berusia sepadan dengannya yang tengah duduk di ruang tengah, menatapnya dengan pandangan heran.
"Agnes! Eren akhirnya mendapatkan donor kornea! Dia akan bisa melihatku!" teriak Amoera dengan suara kencang yang dipenuhi rasa suka cita yang meluap-luap.
Suara ketukan ritmis dari sebuah tongkat kecil di atas lantai marmer mendadak membuat kedua wanita itu menoleh ke arah koridor dalam. Dari sana, terlihat seorang bocah laki-laki berwajah sangat menggemaskan tengah berjalan mendekati mereka dengan memegang sebuah tongkat penuntun kecil di tangan kanannya.
Amoera segera menjatuhkan lututnya ke lantai, merendahkan tubuhnya lalu meraih kedua bahu anak kecil itu dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang. Eren Marcello, anak laki-laki yang empat tahun lalu sempat ia kira telah meninggal di dalam kandungan, kini telah tumbuh menjadi seorang anak yang sangat manis dan berbakti. Walaupun, sebuah kenyataan pahit tidak bisa dihindari sejak lahir, mata anak itu mengalami masalah serius yang membuatnya tidak bisa melihat dunia. Namun hari ini, dokter baru saja memberikan kabar bahwa putranya membutuhkan donor kornea tersebut agar dapat melihat dengan normal seperti anak-anak pada umumnya.
"Mommy pulang, bawa donat gula Elen ndaaa?" ucap anak itu dengan suara cadelnya yang terdengar sangat semangat, menengadahkan wajahnya yang polos ke arah suara Amoera.
"Donatnya libur dulu yah untuk hari ini," ucap Amoera lembut dengan nada menggoda, yang seketika membuat Eren langsung mengerucutkan bibir mungilnya dengan perasaan sebal.
"Olang itu cukaaaa kali beli halapan palcuuu, cakit pelcaaan ini," ucapnya dengan nada merajuk, bersiap memutar tubuhnya untuk melangkah pergi dari hadapan sang ibu. Namun, Amoera dengan sigap menahan kedua lengan kecilnya, tertawa pelan melihat tingkah menggemaskan sang putra.
"Ereeeen, sebentar lagi Eren bisa melihat lagi looh! Senang enggak?" ucap Amoera dengan nada suara yang dipenuhi kebahagiaan yang mendalam. Namun, mendengar hal itu, anak kecil itu mendadak terdiam, menghentikan gerakannya.
"Elen bica nda lihat muka mommy?" tangan kecil Eren perlahan terangkat ke atas, meraba dan meraih wajah Amoera dengan jemari mungilnya, mencoba merasakan setiap lekuk wajah ibunya lewat sentuhan kulit.
"Mommy tantik kali, Elen mau lihat mommy," ucapnya kemudian, sebuah senyuman tulus yang sangat manis terukir di bibir kecilnya yang mungil.
Amoera mengangguk kuat dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena haru. "Tentu saja, sayang ... tentu saja kamu bisa melihat wajah Mommy."
Amoera langsung menarik putranya ke dalam pelukan yang erat. Di dalam hatinya, ia merasa sangat bangga dan bersyukur karena bisa bertahan hidup sampai di titik ini demi menghidupi anak yang menjadi alasan utamanya untuk tetap bernapas.
.
.
.
.
Sementara itu, di sudut belahan dunia yang lain, atmosfer ketegangan yang pekat tampak menyelimuti sebuah area bawah tanah yang gelap dan dingin. Langkah kaki yang tegas terdengar menuruni anak tangga marmer. Seorang pria dengan aura intimidasi yang luar biasa kuat melangkah masuk, tangan kanannya dengan santai meraih sebuah pistol hitam dari balik jasnya lalu mengarahkannya langsung pada tiga orang pria yang kini berada dalam kondisi terikat di atas kursi besi. Tatapan matanya yang tajam bak elang tidak lepas dari ketiga orang tersebut, yang telah berani memicu amarah besarnya.
"Apa dia sudah jujur mengenai siapa dalang di balik semua ini?" tanya pria itu dingin, yang tak lain dan tak bukan adalah Leon D'Alterio.
"Belum, Tuan Leon. Mereka justru sengaja menggigit lidah mereka sendiri agar tidak bisa berbicara dan membocorkan informasi kepada kita," ucap salah satu anak buahnya dengan kepala tertunduk takut, sebuah jawaban yang seketika membuat Leon menyeringai kejam.
Leon mengangkat senjata apinya lebih tinggi, mengarahkan moncong pistolnya tepat ke arah dahi salah satu dari ketiga tawanan yang kini mulai tampak panik dan gemetar hebat menanti ajal. Namun, tepat saat jari Leon bersiap menekan pelatuk senjata tersebut, sebuah suara cempreng bernada datar dari arah pintu masuk mendadak mengejutkan semua orang di dalam ruangan.
"Belhenti cebental bica?"
Leon menoleh cepat dengan kening berkerut dalam. Begitu pula dengan seluruh anak buahnya yang kini langsung mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu. Di sana, berdiri seorang bocah laki-laki berusia empat tahun yang tengah memeluk sebuah bantal guling kecil, menatap ke arah Leon dengan pandangan mata yang tampak sangat malas dan mengantuk.
"Enzo mau tidul bental, jangan belicik bica?" ucap anak itu dengan nada suara yang luar biasa datar, seolah tidak terpengaruh sedikit pun oleh pemandangan berdarah dan senjata api di depannya.
"Nda mau Enzo kabul lagi kan? Jangan beltingkah jadi olang tua," ucap anak itu acuh tak acuh, lalu membalikkan tubuh kecilnya begitu saja dan berlalu pergi dari sana.
Kepergian bocah itu meninggalkan seluruh anak buah mafia di dalam ruangan dalam kondisi syok luar biasa karena keberaniannya yang tak masuk akal. Hanya Leon yang kini tampak menggeram kesal dengan rahang yang mengeras menahan emosi yang mendadak naik.
"Anak itu benar-benar semakin berani," desis Leon rendah, lalu melempar senjata api miliknya ke atas meja dengan kasar hingga menimbulkan bunyi dentuman logam yang nyaring.
"Kael, bereskan sisanya!" perintah Leon dengan nada tajam pada seorang anak remaja laki-laki yang berdiri tegak di sudut ruangan, sebelum akhirnya ia melangkah lebar keluar dari ruang bawah tanah yang terasa kian menghimpit dadanya.
"Enzo!" teriak Leon dengan suara menggelegar saat ia sampai di koridor lantai atas, membuat Enzo yang tadinya baru saja bersiap melangkah masuk ke dalam kamarnya terpaksa berbalik dan menatap malas ke arah sang ayah.
"Tidak ada sopan santunnya sama sekali kamu sekarang, ya? Mau kabur? Mau kabur ke mana lagi kamu, hah?!" bentak Leon dengan berkacak pinggang.
Enzo menatapnya datar dengan sepasang mata hitam yang sangat mirip dengan milik Leon, seolah Leon sedang melihat cerminan dari dirinya sendiri pada diri anak kecil tersebut.
"Kabul ke Mommy, tanya aja telus kayak lentenil," desis Enzo kesal dengan bibir mengerucut, lalu dengan cepat melangkah masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu dengan bantingan yang sangat keras.
Brak!
"Enzo!" pekik Leon dengan tatapan mata yang tak percaya pada apa yang baru saja terjadi.
Seorang pemimpin mafia tertinggi Cosa Nero yang ditakuti oleh seluruh dunia bawah, kini justru diperlakukan seperti ini oleh anaknya yang baru berusia empat tahun? Astaga, putranya yang satu ini benar-benar tahu bagaimana cara memancing emosi gilanya hingga ke batas maksimal.
Leon melangkah mendekati pintu kamar Enzo yang tertutup rapat, lalu berteriak dari luar dengan suara menggelegar. "Mommy kamu itu tidak ada! Tidak ada sosok mommy di dalam kehidupan kamu sejak kamu lahir!" teriak Leon ketus.
Tak lama kemudian, suara teriakan balasan dari dalam kamar Enzo terdengar tak kalah kencang, menyahuti ucapan Leon dengan nada yang sangat mengejek.
"TELCELAAAAAAH! TELCELAAAAH! OLANG NDA ADA MOMMY NDA BOLEH ILI DENGKIIII!" teriak Enzo dari balik pintu, yang seketika membuat mulut Leon lagi-lagi menganga lebar karena tidak habis pikir dengan kelakuan putra pewarisnya tersebut.
___________
Triple dulu yaaa😍
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!