Indonesia
NovelToon NovelToon

Saat Istriku Setuju Bercerai

Saat istriku setuju bercerai

Aku tidak menyangka, istri yang ku nikahi 2 tahun lalu setuju bercerai begitu saja. Tanpa kata, tanpa syarat. Dia yang dulu begitu licik mengikatku dalam pernikahan, kini berdiri dengan berkas perceraian tanpa penyesalan sedikitpun.

Trik apa yang sedang dia lakukan, mencoba menarik ulur perasaanku?

        _______Gavin___________

Aku duduk di hadapan Mama dengan tangan mengepal di atas pangkuanku. Udara di ruangan ini terasa begitu dingin, seperti hatiku yang sepertinya sudah kian membeku.

Aku hanya bisa menelan ludah, jantungku berdegup kencang, karena setiap kali ini terulang, jawaban itu masih tetap sama.

"Ini tidak benar kan? Kamu sudah menikah selama dua tahun dengan Gavin dan masih belum hamil juga?"

Suara Mama meninggi ketika test kehamilan itu lagi-lagi menunjukkan satu garis. Matanya melotot, memandangku penuh kekecewaan.

"Kamu benar-benar tidak berguna!"

Lagi, dia membentakku tanpa mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Aku hanya menunduk, telingaku sudah terbiasa di maki dan di caci seperti hari ini.

"Maaf," Aku berucap lirih.

"Maaf!? Maaf terus yang keluar dari mulutmu! Sebenarnya apa yang salah dengan tubuhmu sampai-sampai kau tak kunjung hamil?"

Aku hanya bisa mengigit bibir, andai saja Mama tahu apa yang kualami.

Bahkan mungkin sampai aku tua, jika Gavin tidak pernah menyentuhku, bagaimana aku bisa hamil?

Masih jelas di ingatanku saat dua tahun lalu Gavin meluahkan kekecewaannya.

"Berani sekali keluarga Sanjaya menjebakku! Meskipun aku setuju menikahimu, aku bersumpah seumur hidupmu kau akan mati dalam kesepian!"

Aku menarik napas dalam-dalam. Setelah berlalu dua tahun sejak Gavin mengatakan itu di malam pernikahan, rasa sakitnya masih sama.

"Pergilah kedokter tanyakan kondisimu, jika memang kau mandul, kau bisa carikan suamimu wanita yang bisa mengandung anak untukmu. Setidaknya itu bisa membuat Gavin simpati padamu."

Suara Mama rendah, tapi terasa tajam sampai menusuk telinga. Jantungku serasa di tusuk ratusan jarum. Sakit.

Aaahhh....

Aku mendesis pelan, mengigit bibir bawahku lebih kuat.

Rasa sakit dari ucapan Mama belum hilang, ketika rasa sakit yang sama yang selalu menyerangku kembali datang. Kepalaku seperti di tusuk-tusuk paku.

Aku sadar ada yang salah dengan tubuhku, tapi semakin kesini, rasa sakitnya semakin menjadi-jadi. Rasanya aku sungguh tak kuat...

"Azalea, kau dengar, tidak?" Marta Mamaku kembali berteriak.

"Aku... Aku akan memikirkannya nanti."

Untunglah mobil jemputan Mama sudah datang. Aku segera masuk kedalam kamarku. Ah, mungkin lebih tepatnya kamar Gavin yang dipinjamkan padaku.

Langkahku mulai goyah. Dunia seperti berputar dalam pandanganku.

Tempat tidur sudah terlihat. Sedikit lagi.

Kuseret kaki ini sekuat tenaga. Jari-jariku berusaha mengapai dinding untuk berpegangan. Ada obat yang sudah diresepkan Dokter Wahyu di laci. Sebisa mungkin aku harus segera menelan obat itu sebelum kesadaranku terenggut.

Sungguh ini sakit sekali....

Tolong....

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

Getar ponsel membangunkanku. Mataku mengerjap pelan. Masih ada rasa berat di kepalaku saat aku mencoba bangun.

Apa ini?

Kenapa...kenapa ada darah saat aku mengusap hidungku?

Ini.... Ini begitu banyak! Hampir menodai setengah bantal yang aku tiduri. Ada apa dengan tubuhku.

Di balik jendela sudah gelap. Seberapa lama aku pingsan?

Aku kembali ingat ucapan Dokter Wahyu waktu itu.

"Azalea, jika kau mulai mimisan, segera datang padaku, ya?"

Aku masih mengingatnya, dan hari ini ku alami, apakah penyakitku ini semakin parah?

Kuraih ponsel yang tadi bergetar, sebuah pesan dari Gavin.

[Aku tidak pulang malam ini]

Pesan itu dikirim Gavin barusan. Aku hanya membacanya, lalu kuletakkan lagi ponselku.

Memang apa yang kuharapkan? Gavin hampir tak pernah pulang setelah kami menikah. Rumah ini, selain aku, tidak ada siapa pun di sini.

Gavin benar-benar mewujudkan sumpahnya padaku. Semua kulakukan sendiri.

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

Aku benar-benar datang ke rumah sakit menemui Dokter Wahyu.

Duduk di atas kursi pemeriksaan. Aku berusaha mengatur napas, kepalaku masih terasa berat sejak tadi pagi. Mungkin aku harus terbiasa, karena aku tahu ini tidak akan benar-benar membaik.

Sejak aku datang. Dokter Wahyu menatapku berbeda, pria berusia akhir empat puluh tahun itu biasanya selalu tenang dan ceria, tapi kali ini ada sorot khawatir di matanya.

Dua jam sudah pemeriksaan ini kulalui. Hingga akhirnya pintu terbuka. Dokter Wahyu melangkah masuk, membawa map coklat ditangannya. Dia menutup pintu, kemudian berbalik menatapku sebelum akhirnya duduk di kursinya.

"Azalea," Panggilnya pelan. Aku bisa merasakan sesuatu yang tidak beres hanya dengan cara dia mengucapkan namaku.

Ku paksakan bibir untuk tersenyum, seolah itu bisa membuat suasana lebih ringan. Kepalaku mengangguk pelan, sebelum akhirnya ku beranikan diri untuk menanyakan kondisiku. "Bagaimana hasilnya, Dok?"

Dokter Wahyu menghela napas panjang, membuka map, dan memperlihatkan hasil tes labku. Aku seolah merasakan waktu yang berjalan lebih lambat.

"Kondisimu tidak bisa menunggu lebih lama, Azalia," katanya. "Tekanan hematoma di otakmu meningkat lebih cepat dari dugaanku. Jika ini terus dibiarkan, resikonya semakin besar."

Aku sudah menduga ini, tapi tetap saja mendengar kepastian itu langsung dari mulut Dokter Wahyu terasa seperti pukulan yang menghantam dadaku.

"Sampai kapan aku bisa bertahan, Dok?" Aku berusaha menerima, mau bagaimana lagi.

Dokter Wahyu menutup map-nya perlahan, lalu menatapku lekat-lekat. "Azalia kondisimu tidak bisa diabaikan." Suaranya lebih serius kali ini. "Jika kamu terus menunda operasi, resikonya akan semakin besar. Kondisimu ini bisa berubah seiring waktu, bisa lebih buruk dari yang kamu bayangkan, dari yang awalnya mimisan, menjadi koma dalam hitungan hari. Bahkan jam."

Hatiku pilu. Aku mengalihkan pandangan, menatap lantai. Aku tahu ini serius. Tapi aku tak tahu harus bagaimana?

Operasi itu....bukan sesuatu yang bisa kulakukan begitu saja.

Aku menggigit bibir. "Biaya operasi itu tidak sedikit, Dok." Suaraku seperti menghilang. "Dan aku...,"

Dokter Wahyu terdiam sejenak, lalu bersandar di kursinya. "Azalea, aku tahu kamu punya banyak hal yang kamu pikirkan. Tapi nyawamu yang jadi taruhannya di sini. Aku sudah berupaya menunda ini selama mungkin, tapi sekarang aku tidak bisa lagi membiarkanmu terus begini."

Hatiku terasa dingin, kata-kata Dokter Wahyu memukul kesadaran, nyawaku jadi taruhannya. Seakan aku tidak sadar akan hal itu. Seolah-olah aku mempermainkan hidupku sendiri. Hanya aku yang tahu dan terus bertanya-tanya berapa lama lagi aku bisa bertahan sebelum akhirnya tubuhku menyerah.

Aku menarik napas dalam-dalam, menegakkan bahu. "Aku akan mencari cara," kataku. "Aku akan mencari uangnya, Dok."

"Azalea....,"

"Aku akan baik-baik saja," potongku, kembali memaksakan senyum. " Aku pasti bisa bertahan."

Dokter Wahyu mengusap wajahnya, tampak frustasi. "Azalea ini bukan masalah kamu bisa bertahan. Ini soal fakta medis. Aku tidak ingin suatu hari nanti aku menerima kabar bahwa kamu ditemukan pingsan di jalan atau lebih buruknya...,"

Aku lekas berdiri, tidak mau mendengar ucapan Dokter Wahyu lebih banyak, menolak membiarkan tubuhku terlihat lemah. "Aku mengerti, Dok. Tapi aku tidak punya pilihan lain."

Dokter Wahyu terdiam lama sebelum akhirnya mengangguk. "Aku akan memberikan resep obat sementara untuk mengurangi tekanan di kepalamu. Tapi ini tidak akan menyembuhkan, hanya mengulur waktu. Aku ingin kamu berjanji padaku Azalia jangan menunda ini terlalu lama."

Aku menggigit bibir, lalu mengangguk pelan.

Dokter Wahyu menghela napas, kemudian menulis sesuatu di resepnya. "Aku menunggu kabar baik itu secepatnya."

Aku tidak menjawab. Karena aku bahkan tidak tahu apakah aku bisa datang dengan kabar baik itu, apa justru kabar duka yang menyatakan bahwa aku sudah meninggalkan dunia yang selama ini ku pijak.

######

Hai... aku kembali membuat cerita pov ini...

Setelah sebelumnya 'Akulah sang pelakor' yang lumayan mendapatkan banyak pembaca, kini, aku hadir lagi membawakan kisah Azalia yang tak kalah menyedihkan dibanding sosok Lily di peran utama novel sebelumnya..

Teman-teman jangan lupa dukungan untukku ya, like, komen dan vote, eh jangan lupa bintang ⭐⭐⭐⭐⭐

Happy Reading....

Saat istriku setuju bercerai

Langkahku terasa berat menuju rumah orangtuaku. Bangunan dua lantai dengan pilar-pilar tinggi itu berdiri megah di tengah halaman luas yang dipenuhi bunga warna-warni yang begitu indah. Tapi bagiku, rumah ini begitu asing dan tak memiliki kehangatan didalamnya.

Kakiku melewati ruang tamu yang dihiasi furniture-furniture mewah karya eksklusif dari berbagai kolaborasi lokal dan global. Seorang pelayan mengantarkan ku ke ruang keluarga, dimana Mamaku, Marta, duduk dengan majalah mode global ditangannya, sementara matanya yang tajam langsung menatapku begitu aku masuk.

"Tumben kau pulang," katanya tanpa basa-basi. "Aku baru saja ingin menelepon, ada hal yang ingin ku bahas denganmu."

Aku mengeratkan genggaman tanganku. Sebenarnya, aku ingin langsung mengatakan alasanku datang, aku tidak punya pilihan lain aku ingin meminjam uang. Tapi sebelum aku sempat mengeluarkan sepatah kata pun, Mama mendahuluiku.

"Perusahaan ayahmu sedang bermasalah. Kami butuh tambahan dana, dan aku ingin kau meminta bantuan Gavin."

Aku terpaku.

Dada terasa sesak, tapi bukan karena penyakit yang kurasakan. Aku seperti sudah menduga ini akan terjadi, tapi tetap saja mendengarnya langsung seperti tamparan keras di pipiku.

"Sebenarnya aku ingin membicarakan ini, hari itu, tapi karena aku ada urusan mendadak maka aku menundanya," lanjut Mama dengan nada santai. "Kali ini kami benar-benar membutuhkan suntikan dana, kau punya suami yang bisa diandalkan, maka kau hanya perlu meminta bantuannya."

Ini bukan pertama kalinya perusahaan menghadapi kesulitan, dan selama ini aku tidak tahu seberapa sering mereka memanfaatkan statusku demi mendapatkan suntikan dana dari Gavin yang memang memiliki kekuatan finansial.

Aku menelan ludah. "Ma..." Suaraku terdengar lebih lemah dari yang kuinginkan. "Aku tidak berani membujuknya."

Dahi Mama mengernyit. "Apa maksudmu tidak berani?"

Aku menggigit bibir. 2 tahun pernikahan, dan aku bahkan tidak bisa menyentuh Gavin, apalagi meminta sesuatu yang akan membuat lelaki itu semakin membenciku.

"Gavin sangat sibuk." Kataku pelan. "Dan aku tidak berani meminta sesuatu sebesar ini."

"Jangan bodoh, Azalia!" nada suara Mama berubah tajam. "Dia suamimu. Kau harusnya tak perlu takut bicara padanya. Atau sebenarnya kau ingin melihat kami jatuh miskin sementara kau duduk dengan kemewahan yang Gavin berikan?"

Tubuhku bergetar, ku kepalkan tangan sekuat tenaga. "Ma, Gavin tidak...,"

"Tidak apa?" Mama menatapku tajam. "Jangan bilang kau masih belum bisa mengendalikannya? 2 tahun menikah, kau masih menjadi istri yang tak berguna?"

Darahku berdesir. Aku menunduk, merasakan jantungku yang lagi-lagi terasa ditusuk-tusuk oleh sesuatu tak kasat mata.

"Apa kau tahu mengapa kami memilih Gavin untukmu?" Marahnya. "Karena kami tahu dia bisa menjadi aset yang berharga. Dia bisa membantu keluarga kita. Tapi kalau kau bahkan tidak bisa memanfaatkannya dengan baik, untuk apa pernikahan ini terjadi?"

Aku ingin tertawa, tapi yang keluar dari bibirku hanyalah napas gemetar.

Pernikahan ini memang bukan tentangku. Bukan tentang kebahagiaanku. Sejak awal, aku hanya alat. Alat yang Mama gunakan untuk menambah kekuasaan.

Mama menghela napas, seolah lelah menghadapi kebodohanku. "Azalia, aku tidak peduli bagaimana caramu melakukannya. Tapi dalam waktu kurang 2 minggu dana itu harus sudah ada."

Kembali aku terdiam.

Aku ke sini ingin meminjam uang, aku yang membutuhkan pertolongan. Tapi yang terjadi aku malah dimanfaatkan untuk menjadi alat untuk berinvestasi.

Ini momen yang harusnya tepat. Momen aku bisa jujur jika aku sedang sakit.

Tapi aku tahu percuma.

Mama tidak akan peduli. Bahkan jika aku mengatakan bahwa aku sekarat, dia mungkin hanya akan bertanya apakah aku bisa bertahan cukup lama sampai masalah perusahaan selesai.

Jadi aku memilih untuk tidak mengatakan apa-apa, aku hanya mengangguk pelan, lalu berdiri. "Akan ku coba bicara dengan Gavin." Kataku, meski aku tahu tidak ada gunanya.

Mama tersenyum puas. "Bagus. Jangan menjadi orang yang bodoh dan mengecewakan kami, Azalia."

Aku berbalik, melangkah keluar dari ruangan itu dengan tubuh yang terasa lebih berat dari sebelumnya.

Hari ini, aku datang dengan harapan bisa meminta bantuan.

Tapi bahkan harapan itupun harus kubuang jauh-jauh karena sebuah tekanan.

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

Aku sudah berdiri di depan kantor Gavin, di tanganku membawa kotak makan siang untuknya.

Tanganku sedikit bergetar saat mulai mengetuk pintu ruangannya pelan. Dari dalam, suara seorang pria menjawab tanpa emosi.

"Masuk."

Aku menarik napas dalam, lalu mendorong pintu kaca pelan. Gavin duduk di balik meja besarnya, matanya tetap fokus pada layar laptop. Dia bahkan tidak melirik saat aku masuk.

Seperti biasa.

Aku melangkah mendekat, hati-hati meletakkan kotak makan siang di atas mejanya. "Aku membawakan makan siang untukmu," kataku pelan.

Gavin tidak merespon. Tangannya masih sibuk mengetik, seolah aku tidak ada di sana. Detik berlalu dalam keheningan yang menyesakkan, sebelum akhirnya dia mengangkat kepalanya, bukan untuk melihatku, tapi untuk melirik kotak makan itu dengan ekspresi datar.

"Aku tidak butuh makanan darimu."

Aku sudah menduga ini, tapi entah kenapa tetap ada sesuatu di dalam diriku yang mencelos. Aku tersenyum kecil, berusaha menjaga intonasi suaraku agar tidak bergetar. " Ini kumasak sendiri, didalamnya ada ayam mentega kesukaanmu."

Mata tajam Gavin akhirnya menatapku. Bukan tatapan kehangatan. Tapi kebencian yang sangat dalam.

"Sudah kukatakan, jangan pernah muncul di depanku." Suara Gavin sangat tajam, menusuk tepat ke dalam dadaku. "Aku bisa membeli makanan apapun yang kuinginkan, tidak butuh sampah yang kau buat seperti ini."

Aku menundukkan kepala, menggenggam jemariku sendiri di bawah meja. Rasanya sakit, tapi ini bukan pertama kali aku mendengar kata-kata seperti ini dari Gavin.

"Maaf kalau aku mengganggumu."

Gavin mengalikan pandangannya kembali ke layar laptop, seolah aku tidak lebih dari angin yang berhembus tanpa arti. "Kalau sudah selesai, keluar."

Aku tetap diam beberapa detik sebelum akhirnya benar-benar berbalik, mulai berjalan menuju pintu. Langkahku terasa berat. Mungkin karena kelelahan yang semakin hari semakin menjadi, atau mungkin karena dinginnya tatapan suamiku yang membuatku semakin sadar bahwa aku hanyalah bayangan tak berharga di kehidupan siapapun.

Lihat, kan? Apa yang bisa aku harapkan? Untuk mengabulkan permintaan Mamaku?

Air mataku jatuh membasahi telapak tangan.

Bahkan dia tidak memiliki waktu untuk melihatku. Apalagi untuk mendengar keluhanku.

Tepat sebelum aku benar-benar keluar, aku menoleh sedikit, melihat kotak makan yang masih tergeletak di meja. Aku tahu dia tidak akan menyentuhnya.

Tapi aku tidak keberatan.

Selama aku masih bisa melakukannya, aku masih ingin memberikan yang terbaik untuknya, makanan sehat yang kubuat sendiri.

Walaupun Gavin sangat membenciku.

Meskipun aku mungkin tidak akan mempunyai banyak waktu lagi.

Baru beberapa langkah, aku bertemu dengan adik iparku. Arvin berjalan mendekat, matanya menatapku seperti aku ini tumpuk kotoran yang menjijikkan.

"Mau apa lagi kamu datang kesini?" Nadanya ketus, sama sekali tidak enak didenger.

Sebenarnya selama ini aku selalu bersikap baik padanya, berharap dengan seperti itu, hubunganku dengan Gavin pun akan membaik perlahan. Namun ternyata tidak. Tidak satupun orang terdekat Gavin menyukaiku, semua menganggap ku layaknya parasit.

Kini aku hanya bersikap seadanya saja. Ku ulas senyum tipis di bibirku, aku tidak pernah membenci pria ini, sebab, dia juga bagian dari Gavin, dia adik iparku.

"Aku hanya mengantarakan makan siang untuk Gavin. Aku akan pergi." Aku berjalan melewatinya.

"Berhenti disitu, Azalia!"

Aku berhenti, menoleh kearah Arvin yang justru melangkah mendekatiku lagi.

"Sudahi sikap sok polosmu ini. Kami semua tahu, jika bukan kelakuan licik keluargamu, Gavin tidak akan terperangkap dengan wanita menyedihkan seperti ini. Renata telah menyelesaikan pendidikannya, dan dia akan kembali ke tanah air. Bersiaplah untuk menerima penceraian dari Gavin."

Renata adalah kekasih Gavin. Jika bukan karena jebakan Mama, mungkin mereka kini sudah menikah.

Aku tidak bisa mengatakan apa-apa, dan aku juga sudah tidak ingin bertahan dalam pernikahan yang menyulitkan Gavin.

Mataku terasa panas karena tahu waktuku bersama Gavin tak lagi banyak, dan yang lebih menyakitkan dia masih membenciku. Tapi tidak apa-apa, bukankah Renata akan datang, kebahagiaan Gavin akan segera kembali.

########

Komentarin dong!!

Buat semangatin aku nulis....

Kan kalau nggak ada dukungan dari kalian aku juga kurang semangat nulisnya 🥲🥲🥲🥲

Saat istriku setuju bercerai

Kentang di tanganku sudah berkali-kali ku cuci ulang. Tanganku terasa kehilangan kendali, tiba-tiba kaku setelah beberapa waktu lalu gemetaran. Mataku terasa panas dan perih, bukan hanya karena kurang tidur, tapi juga karena aku mulai kesulitan untuk fokus. Sesekali, bayangan di depanku berputar seperti ombak yang bergulung, memaksaku untuk menutup mata sebentar sebelum kembali melanjutkan.

Sudah puluhan menit dua buah kentang belum selesai ku kupas.

Aku ingin membuatkan perkedel kentang untuk Gavin. Bukan lauk terbaik yang bisa dibuat seseorang, tapi ini yang terbaik yang bisa aku buat untuknya. Bentuknya mungkin tidak sempurna, tapi aku sudah berusaha membuatnya semampuku. Aku ingin membuatkan makanan kesukaan Gavin, sebelum semuanya berakhir.

Tanganku berhenti.

Aku menatap kentang yang sudah ku haluskan di dalam mangkuk, lalu ke jam kecil di dinding dekat kulkas. Sudah lewat jam 09.00 pagi. Aku harus segera menyelesaikan ini.

Sakit kepalaku mendadak terasa berat, seolah ada sesuatu yang menghantam bagian belakangnya. Pandanganku mulai kabur, dan aku hampir tak sadar ketika sesuatu yang hangat mengalir dari hidungku.

Darah.

Aku buru-buru mengangkat kepala, tanganku menyeka cairan merah yang menetes ke daster yang ku kenakan. Aku menggigit bibir, menahan napas sejenak agar pendarahan ini segera berhenti. Ini bukan pertama kalinya. Tapi sungguh aku berharap ini akan segera membaik.

Aku menarik napas dalam, mencoba mengingat kembali apa yang tadi ingin ku lakukan. Tapi otakku terasa seperti kabut tebal, sulit menembusnya.

Aku sudah memberi garam, bukan? Atau belum?

Aku memandang adonan perkedel, mencoba memeriksa teksturnya. Aku mengingat dengan jelas bahwa aku sudah membumbui dan tinggal membentuk adonannya....atau memang belum?

Aku menggigit bibir. Kenapa aku mulai sering lupa?

Aku pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan sisa darah di hidungku. Di kamar mandi aku menatap pantulan diriku di cermin wastafel. Wajahku pucat, bibirku kering, dan mataku tampak kosong. Aku terlihat seperti seseorang yang nyaris kehilangan segalanya.

Tapi aku tidak boleh kehilangan kesempatan ini.

Aku bergegas kembali ke dapur. Aku harus menyelesaikan makan siang ini sebelum Gavin menceraikan ku.

Aku tahu, pada akhirnya aku tidak akan bisa mempertahankannya. Pernikahan ini sudah mati sejak awal, dan aku pun tak memiliki cukup alasan untuk tetap bertahan. Tapi sebelum dia benar-benar menghapus keberadaanku dari hidupnya, aku ingin memberi sesuatu yang spesial.

Aku ingin dia menerima niat baikku, bahkan jika nanti pun dia membuangnya.

Aku hanya ingin dia tahu, jika aku pernah ada dalam hidupnya.

Sudah jam 11.00 siang, aku buru-buru menyusun makanan yang kubuat ke kotak bekal. Tapi tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar diiringi oleh suara seseorang yang memanggil namaku.

"Azalia, buka pintu..."

"Ya!" Sahutku dengan terburu-buru menuju pintu depan.

Rambut panjangku aku ikat asal. Kutaruh kotak bekal yang sudah kusiapkan di atas meja sambil berjalan keluar.

"Mama? Kenapa Mama datang menemui ku?"

Mama mendengkus. Dia mendorong ku masuk, melihat sekeliling. "Dimana suamimu? Dia tidak pulang?"

"Di kantor, Ma. Aku baru saja ingin mengantar makan siang."

"Azalia, kita sudah membicarakan ini kemarin. Sekarang bagaimana, kau sudah berhasil membujuk Gavin untuk memberikan suntikan dana ke perusahaan keluarga kita?"

Aku menggeleng. "Kami belum sempat bicara, Ma."

"Azalia!" Mama membentakku, keras sekali. "Sudah 3 hari ini dan kau masih belum membicarakannya dengan suamimu? Apa maksudmu sebenarnya? Kau Ingin membuatku mati lebih cepat, hah?!"

Aku diam, menelan semuanya.

"Apa yang kau lakukan, Azalia... Kau ini nyonya Gavin! Seharusnya kau bisa melakukan ini dengan mudah. Dan apa ini? Rumah macam apa ini? Aku sudah bilang padamu, mintalah apartemen mewah pada suamimu! Paling tidak penthouse! Kenapa kau mau saja tinggal di rumah kecil ini bertahun-tahun? Suamimu itu kaya raya! Kenapa kau tidak bisa memanfaatkannya dengan baik? Kau sungguh bodoh, Azalia!"

Mama melipat tangannya di dada, melihat sekeliling ruangan yang tampak hampa.

" Ma, akan ku usahakan bicara dengan Gavin secepatnya."

"Halah! Terus saja itu yang bisa kau ucapkan. Kamu sungguh tak berguna, aku muak sekali dengan janjimu. Besok sore jika kau tetap tidak mendapatkan persetujuan dengannya, maka aku sendiri yang akan bicara pada suamimu. Siapapun dia, dia tetap menantu keluarga Sanjaya, dan dia bertanggung jawab untuk membantu keluarga kita."

Terserah apa yang mau Mama katakan. Kepalaku kembali terasa berat, dan terus memberat. Seperti ada beban bertonton yang menimpa kepalaku.

Mama pergi begitu saja, meninggalkanku dalam keheningan.

Dengan kondisiku yang semakin tak bisa kukendalikan aku tetap nekat pergi ke kantor Gavin, namun kali ini aku meminta satpam untuk mengantarkan makanan untuknya, sungguh aku sedang tidak bisa berhadapan secara langsung dengan kondisiku yang sekarang.

Pulang dari kantor Gavin aku menghabiskan waktu lebih banyak di atas tempat tidur. Rasanya lelah sekali.

Aku baru keluar setelah merasa lebih baik. Saat aku akan ke kamar mandi, ada suara deru mobil terdengar dari luar.

Kusingkap sedikit tirai jendelaku, dan melihat bahwa itu mobil Gavin.

Gavin pulang?

Buru-buru aku membuka pintu, keluar untuk menyambutnya. Senyumku mengembang. Aku benar-benar bahagia melihatnya di depan mataku saat ini. Tidak peduli sedingin apa reaksi wajahnya untukku.

"Gavin, kau pulang?"

Gavin terlihat sangat tampan di mataku. Dia berdiri tepat di depanku menjulang seperti menutupi langit-langit.

"Aku sudah mengirimkan pesan. Kau tidak melihatnya?"

Benarkah?

Kapan?

"Cepat masuk, aku akan menyiapkan sesuatu untukmu."

Gavin sangat jarang pulang, ini hanya ke empat kalinya semenjak dua tahun terakhir.

Sialnya, ternyata benar dia sudah mengirim pesan padaku jika dia akan pulang malam ini. Dan aku sudah membuka pesan tersebut, tapi sekali lagi, aku melupakannya.

Dokter Wahyu memang pernah mengatakan padaku jika aku mungkin akan kehilangan ikatanku secara bertahap. Namun anehnya, aku tidak pernah lupa untuk mengirim pesan pada Gavin setiap sore, menanyakan apa dia pulang atau tidak nanti malam.

Karena aku lupa, maka malam ini aku benar-benar tidak tahu apa yang akan ku hidangkan untuk Gavin.

Hanya ada mie instan dan telur. Apakah Gavin mau makan makanan seperti ini?

Gavin sudah duduk di kursi meja makan, melepas jas nya. Ragu-ragu aku mendekat, meletakkan mie instan dan telur mata sapi yang baru ku masak.

"Maafkan aku, aku tidak melihat pesan balasan mu, hanya ini yang bisa ku sajikan."

Aku memberanikan diri duduk di sisinya, memandanginya saat dia menggenggam garpu dan sendok. Gavin baru memakan beberapa suap, saat tiba-tiba mendorong piring itu menjauh dari hadapannya. Tidak tahu apa yang salah. Ekspresinya juga berubah masam sebelum dia meneguk air minum dengan buru-buru.

"Aku pulang karena ada yang ingin ku bahas denganmu."

Kata selanjutnya... Aku bisa menebak.

"Aku ingin kita bercerai."

Gavin duduk tenang, tatapannya datar, seolah kata perceraian itu begitu mudah lolos dari mulutnya. Karena memang aku sungguh tak berarti.

"Sejak awal pernikahan ini bukan aku yang menginginkan. Kalian menjebakku, dan sudah saatnya mengakhiri permainan ini. Besok, aku akan mengirim gugatan cerai padamu. Aku juga akan memberimu kompensasi, dan setelah ini kuharap kau serta keluargamu tidak menggangguku lagi."

Setelah mengatakan itu, Gavin berdiri dan pergi begitu saja, tanpa bertanya aku bersedia atau tidak.

Padahal aku sudah tahu Gavin pasti akan meminta cerai. Tapi dada ini tetap berdenyut nyeri. Rasa sakitnya tetap susah sekali menghilang.

Tanganku menarik piring berisi mie yang ku masak untuknya, menyendok perlahan dan memasukkannya kedalam mulut ku.

Asin. Sangat asin. Lidahku kebas, tapi air mataku meleleh.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!