Indonesia
NovelToon NovelToon

Antara Ketulusan Dan Godaan Bos

Bab 1 : Tiket Sekali Jalan

Aroma tanah kering yang tersiram air sumur di sore hari selalu menjadi hal yang paling Andra sukai dari desanya. Bau petrikor yang khas itu biasanya membawa ketenangan, tanda bahwa hari yang melelahkan telah usai. Namun sore ini, wangi itu terasa berbeda di hidungnya. Ada rasa sesak yang menggelayut di dadanya saat ia berdiri di tepi pematang, memandang hamparan sawah di belakang rumahnya. Batang-batang padi yang seharusnya mulai merunduk penuh bulir emas, justru tampak kerdil dan menguning sebelum waktunya. Kemarau tahun ini terlalu panjang, menolak pergi, dan menyapu bersih harapan para petani termasuk dirinya. Gagal panen lagi.

Andra—pemuda berusia dua puluh tiga tahun dengan kulit sawo matang yang terbakar matahari—mengelap keringat di dahi dan lehernya menggunakan handuk kecil kusam yang melingkar di pundak. Otot-otot lengannya tampak mengencang, sebuah bentuk fisik yang dipahat oleh kerja keras sejak usia muda. Garis rahangnya tegas, kokoh, dengan tulang pipi yang proporsional—sebuah ketampanan alami yang maskulin tanpa perlu bersolek. Namun, sepasang mata hitamnya yang biasanya teduh saat ini sedang menyiratkan beban yang sangat berat.

Sejak ayahnya meninggal dua tahun lalu akibat penyakit paru-paru yang kronis, Andra langsung melompat menjadi tiang penyangga tunggal di keluarganya. Tidak ada waktu untuk meratapi masa muda yang hilang, tidak ada ruang untuk mengeluh tentang impian-impian kuliah yang terpaksa ia kubur dalam-dalam setelah lulus dari SMK jurusan Administrasi di kota kecamatan.

Di rumah panggung sederhana berdinding anyaman bambu yang mulai rapuh dimakan usia itu, Andra tinggal bersama ibunya, Ibu Sumi, yang kesehatannya kian hari kian menurun, serta adik perempuannya, Sekar.

Sekar adalah anak yang cerdas. Tahun ini, dia seharusnya mendaftar ke bangku SMA. Namun, lembaran kertas formulir pendaftaran itu hanya tergeletak di atas meja belajar kayunya yang reyot, belum tersentuh sepeser pun uang pangkal.

"Andra, ini teh hangatnya diminum dulu, Le," panggil Ibu Sumi dari ambang pintu dapur yang langsung menghadap ke selasar kayu. Suara wanita tua itu terdengar parau, diselingi batuk kecil yang buru-buru ia tutupi dengan ujung selendang lusuhnya.

Andra menoleh, langsung memaksakan sebuah senyuman paling hangat yang bisa ia ciptakan. Ia tidak ingin ibunya melihat binar kecemasan di matanya. Pria itu melangkah naik ke selasar, melepas sandal jepitnya yang sudah tipis sebelah, lalu menerima segelas teh manis hangat yang disodorkan ibunya.

"Ibu jangan banyak gerak dulu toh, kan Andra sudah bilang, biar Andra saja yang beres-beres rumah kalau pulang dari sawah," kata Andra lembut, menuntun ibunya untuk duduk di balai-balai bambu ruang tengah.

"Ibu cuma buat teh, Ndra. Ibu masih kuat," jawab Ibu Sumi dengan senyum yang dipaksakan. Namun, matanya yang cekung tidak bisa berbohong. Guratan-guratan keriput di wajahnya menyimpan sejuta beban.

Andra meminum tehnya pelan, merasakan kehangatan menjalar di tenggorokannya, namun rasa pahit di hatinya tetap tidak hilang. Kemarin malam, saat ia hendak mengambil air wudu di dapur untuk salat tahajud, ia tidak sengaja mendengar pembicaraan ibunya dengan Bu RT yang datang berkunjung. Percakapan fajar itu mengiris hatinya. Utang pengobatan almarhum bapaknya di puskesmas kota belum sepenuhnya lunas. Ditambah lagi, warung kelontong di depan desa sudah mulai enggan memberikan bon sembako karena tunggakan mereka sudah berjalan tiga bulan. Mengandalkan upah sebagai buruh tani harian yang tidak menentu jelas merupakan sebuah jalan buntu. Jika ia tetap bertahan di desa ini, mereka bertiga hanya akan perlahan-lahan tenggelam dalam kemiskinan yang mencekik.

Malamnya, setelah Sekar tertidur pulas di kamar sebelah, suasana rumah menjadi sangat hening. Hanya ada suara jangkrik yang saling bersahutan di balik dinding bambu. Di bawah pendar lampu teplok minyak yang bergoyang ditiup angin malam melalui celah dinding, Andra memantapkan hatinya. Di hadapannya, di atas tikar pandan yang sudah robek di beberapa sudut, tergelar sebuah amplop cokelat besar yang kusam. Di dalamnya terdapat ijazah SMK, sertifikat prakerin, dan beberapa lembar surat keterangan kelakuan baik. Semua modal hidupnya ada di sana.

"Bu," ujar Andra memecah keheningan. Nadanya pelan, namun sarat akan ketegasan yang jarang ia tunjukkan.

Ibu Sumi yang sedang melipat kain jarik di sudut ruangan menghentikan aktivitasnya.

Beliau menatap anak laki-laki satu-satunya itu, merasakan ada sesuatu yang berat yang akan disampaikan. "Ada apa, Le? Kok wajahmu serius begitu?"

Andra menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara malam desa yang dingin sebelum mengeluarkan kata-kata yang sudah ia endapkan berhari-hari. "Andra mau pamit, Bu. Andra mau merantau ke Jakarta."

Tangan Ibu Sumi seketika bergetar. Kain jarik yang dipegangnya merosot ke pangkuan. Matanya yang mulai kabur menatap Andra dengan tatapan campur aduk antara terkejut dan sedih. "Ke Jakarta? Jauh sekali, Ndra... Kenapa tiba-tiba? Di sini kan kamu masih bisa bantu-bantu di sawah orang."

"Sawahnya kering semua, Bu. Tiga bulan ke depan tidak akan ada yang menanam padi. Buruh tani di desa ini sudah tidak punya kerjaan," Andra bergeser mendekat, menggenggam kedua tangan ibunya yang terasa kasar dan dingin. "Kemarin Andra ketemu Mas Joko, anak Pak RT yang pulang kampung dua hari lalu. Mas Joko bilang, di tempat kerjanya di Jakarta, di sebuah gedung perkantoran besar, sedang butuh tenaga administrasi tingkat bawah. Mas Joko yang kerja jadi sekuriti di sana bersedia memberi rekomendasi. Andra punya ijazah SMK Administrasi, Bu. Nilai Andra juga tidak jelek. Andra mau coba adu nasib di sana."

"Tapi Jakarta itu kejam, Ndra. Orang-orangnya tidak seperti di desa kita," air mata mulai menggenang di pelupuk mata Ibu Sumi. Rasa khawatir seorang ibu yang belum pernah melepas anaknya keluar dari batas kabupaten begitu kentara. "Ibu takut kamu kenapa-kenapa di sana. Ibu tidak butuh uang banyak, Ndra. Yang penting kita kumpul, makan seadanya yang penting kamu selamat."

Andra menggelengkan kepala perlahan, tangannya mengencangkan genggaman pada jemari ibunya, mencoba menyalurkan keyakinan yang ia miliki. "Kalau Andra tetap di sini, utang bapak tidak akan pernah lunas, Bu. Sembako di warung tidak bisa kita bayar, dan yang paling penting... Sekar harus sekolah. Dia anak pintar, Andra tidak mau Sekar putus sekolah dan bernasib sama seperti Andra yang cuma buruh tani. Andra berjanji, Bu. Di sana Andra cuma akan lurus-lurus saja. Kerja, cari uang, lalu kirim ke desa. Andra tidak akan macam-macam. Tolong izinkan Andra, Bu. Restu Ibu itu modal paling besar buat Andra."

Ibu Sumi terdiam cukup lama. Air matanya akhirnya meluncur membasahi pipinya yang kempot. Beliau tahu, di balik sifat Andra yang penurut, pemuda ini memiliki tekad sekeras batu hitam di sungai jika sudah menyangkut urusan melindungi keluarga. Andra adalah replika sempurna dari almarhum suaminya—pria yang lebih memilih menahan lapar asalkan anak istrinya bisa makan. Dengan berat hati namun penuh keikhlasan, Ibu Sumi akhirnya mengangguk. Beliau menarik Andra ke dalam pelukannya, menangis dalam diam sembari membisikkan doa-doa keselamatan di telinga anaknya.

Dua hari kemudian, mentari pagi baru saja mengintip di ufuk timur ketika Andra sudah berdiri di peron stasiun kereta api kecamatan yang kecil dan lengang. Suasana pagi itu berkabut tipis, menambah kesan melankolis pada perpisahan mereka. Tidak ada acara pelepasan yang meriah. Hanya ada ibunya yang berdiri dengan tubuh ringkih berselimut kain jarik tebal, dan Sekar yang menggandeng lengan ibunya erat-erat dengan mata yang sembap karena semalaman menangis tidak rela ditinggal sang kakak.

Di pundak Andra, menggelantung sebuah tas ransel kain usang berwarna hitam yang ritsletingnya sudah agak rusak dan diganti dengan peniti besar. Di dalam tas itu hanya ada beberapa potong baju kaos polos, dua kemeja untuk melamar kerja, satu celana bahan hitam, dan tentu saja, amplop cokelat berisi ijazahnya. Di dalam saku celananya, tersimpan sebuah dompet kulit tiruan yang tipis. Di dalamnya hanya ada uang tunai sebesar tiga ratus lima puluh ribu rupiah—hasil dari menjual satu-satunya aset berharga yang tersisa: sebuah sepeda ontel tua peninggalan almarhum ayahnya yang biasa ia gunakan untuk mengangkut gabah.

"Jaga diri baik-baik ya, Kang," bisik Sekar, suaranya parau. Ia menyerahkan sebuah kotak bekal plastik berisi nasi dengan lauk tempe goreng dan sambal korek buatan ibunya. "Jangan lupa makan. Kalau sudah sampai, langsung kabari Sekar lewat telepon atau pinjam HP Mas Joko."

Andra mengusap kepala adiknya dengan sayang. "Kamu yang rajin belajarnya ya, Kar. Bantu Ibu di rumah. Jangan pikirkan masalah biaya sekolahmu lagi, itu sudah jadi urusan Akang. Kamu fokus saja belajar yang pintar."

Peluit kereta api kelas ekonomi jurusan Pasar Senen berbunyi nyaring, memecah kesunyian stasiun kecil itu. Suara gemuruh roda besi yang bergesekan dengan rel perlahan mendekat, menciptakan angin kecil yang menerbangkan daun-daun kering di sekitar peron. Ular besi itu berhenti dengan derit rem yang memekakkan telinga.

Andra mencium punggung tangan ibunya lama sekali, menghirup aroma minyak kayu putih dan keringat khas ibunya yang mungkin tidak akan bisa ia rasakan untuk waktu yang lama. "Andra berangkat, Bu. Doakan Andra."

"Gusti Allah bersamamu, Le. Ingat pesan Ibu, tetap jujur, jangan pernah ambil yang bukan hakmu," ucap Ibu Sumi dengan suara yang bergetar hebat, menahan tangis agar anaknya tidak berangkat dengan hati yang berat.

Andra melangkah naik ke atas gerbong kereta kelas ekonomi yang pengap. Ia mencari tempat duduknya di dekat jendela, sesuai dengan nomor yang tertera pada tiket kertasnya. Ketika kereta perlahan mulai bergerak maju, meninggalkan stasiun kecil itu, Andra mengeluarkan setengah badannya dari jendela, melambaikan tangan setinggi-tingginya kepada dua wanita yang paling ia cintai di dunia ini. Sisi emosionalnya bergejolak, namun ia tahan rapat-rapat. Sosok ibu dan adiknya perlahan-lahan mengecil, mengabur, hingga akhirnya benar-benar lenyap di balik tikungan rel dan pepohonan jati.

Andra kembali duduk tegak di kursinya yang keras. Ia menatap keluar jendela, memandang pemandangan sawah desanya yang kering berganti menjadi perumahan penduduk yang kian padat seiring kereta melaju ke arah barat. Pemuda desa yang memiliki paras tampan dan bersahaja itu menarik napas dalam-dalam, menggenggam erat tali ranselnya di pangkuan.

Ia tidak tahu seperti apa rupa Jakarta yang sebenarnya. Ia tidak tahu tentang hutan beton yang angkuh, tentang kemacetan yang gila, atau tentang intrik-intrik tajam di dalam gedung pencakar langit. Yang ada di kepala Andra saat ini hanyalah satu keyakinan tunggal: Jakarta, aku datang untuk bekerja keras. Aku tidak akan pulang sebelum berhasil mengubah nasib keluargaku.

Bab 2 : Langkah Pertama

Deru mesin kereta api kelas ekonomi perlahan melambat, berganti dengan suara decitan kencang besi yang bergesekan dengan rel. Pengeras suara di dalam gerbong mengumumkan dengan nada monoton bahwa kereta fajar telah tiba di tujuan akhir: Stasiun Pasar Senen, Jakarta.

Andra tersentak dari tidur ayamnya. Ia mengerjapkan mata yang terasa perih, lalu meregangkan otot lehernya yang kaku karena semalaman terpaksa bersandar pada kursi gerbong yang tegak dan keras. Melalui kaca jendela gerbong yang buram oleh debu jelaga, matanya langsung disambut oleh pemandangan yang belum pernah ia saksikan seumur hidupnya. Lautan manusia yang saling berdesakan membawa kardus dan koper, jembatan penyeberangan yang kokoh, serta di kejauhan, siluet gedung-gedung tinggi mencakar langit yang tampak angkuh membelah langit subuh Jakarta yang kelabu keunguan.

Andra menyandang ransel hitamnya, memastikan peniti besar yang mengunci ritsleting rusaknya terpasang kuat, lalu melangkah turun membaur dengan ribuan perantau lain. Hawa udara Jakarta langsung menyergapnya tanpa ampun—panas, pengap, dan pekat oleh aroma asap solar.

"Andra! Sini, Ndra!"

Sebuah lambaian tangan dari seorang pria berbadan tegap dengan seragam safari biru tua memecah kebingungan Andra di tengah peron. Itu Mas Joko, anak Pak RT dari desanya yang sudah lima tahun merantau menjadi sekuriti di ibu kota.

"Astaga, makin gagah saja kamu, Ndra. Tambah tinggi sekarang," ujar Mas Joko sambil menepuk pundak tegap Andra dengan akrab setelah mereka bersalaman.

"Maturnuwun, Mas Joko. Maaf ya, malah jadi merepotkan Mas Subuh-subuh begini," jawab Andra dengan senyum tulus yang membuat wajah lelahnya kembali terlihat segar.

"Halah, seperti sama siapa saja. Ayo, kita ke kontrakan dulu naik motor. Kamu mandi, istirahat biar segar. Besok pagi-pagi sekali baru kita ke kantor tempatku kerja.

Kebetulan divisinya Ibu... ah, pokoknya bos besar di lantai atas lagi butuh asisten administrasi cepat," kata Mas Joko penuh semangat.

Kontrakan Mas Joko terletak di sebuah gang sempit di daerah petakan Palmerah. Rumah itu berukuran sangat kecil, di mana ruang tamu, kasur lipat, dan kompor menyatu tanpa sekat. Kamar mandinya pun berada di luar, harus berbagi dengan penghuni petakan lain. Bagi Andra, ini adalah sebuah kejutan budaya awal. Di desa, meski rumahnya sederhana, mereka setidaknya memiliki halaman luas dan udara yang bersih untuk dihirup. Di sini, matahari bahkan kesulitan menembus celah-celah atap seng yang rapat dan berkarat. Namun, Andra tidak mengeluh sedikit pun. Di dalam hatinya, ia justru makin memantapkan niat: ia harus bertahan demi Ibu dan Sekar.

Keesokan harinya, pukul tujuh pagi, Andra sudah berdiri di depan cermin seukuran telapak tangan yang menempel di dinding tripleks kontrakan Mas Joko. Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang terbaiknya yang sudah disetrika rapi—walaupun kainnya agak tipis dan murah—serta celana bahan hitam longgar konvensional. Rambut hitamnya yang lurus disisir rapi menggunakan minyak rambut murah yang dibelinya di warung depan gang.

Ketika ia menatap pantulan dirinya, cermin itu menampilkan seorang pemuda dengan rahang tegas yang kokoh, sepasang mata hitam yang teduh namun memancarkan binar tekad yang tajam, serta postur tubuh tegap proporsional setinggi 180 cm.

Ketampanannya sangat murni dan maskulin, tipe ketampanan yang tidak dibentuk oleh perawatan mahal, melainkan dipahat oleh matahari dan kerja keras di sawah pedesaan.

"Wah, kalau begini caranya, kamu bukan cocok jadi staf admin, Ndra. Cocoknya jadi bintang iklan!" goda Mas Joko saat melihat Andra keluar dari kontrakan. Andra hanya tersenyum malu, wajah sawo matangnya sedikit merona mendengarnya.

Perjalanan menggunakan motor menuju kawasan Sudirman memakan waktu hampir satu jam karena macetnya jalanan Jakarta yang gila. Ketika motor Mas Joko akhirnya berhenti di area parkir bawah tanah sebuah gedung pencakar langit yang megah, jantung Andra mulai berdegup kencang. Gedung bertingkat ini adalah tempat bernaungnya **Apex Media**, salah satu raksasa agensi periklanan paling prestisius dan elite di Jakarta.

Mas Joko mengantar Andra hingga ke lobi lantai 17 menggunakan lift khusus karyawan.

Begitu pintu lift terbuka, Andra merasa seolah-olah dirinya baru saja melompat ke dunia yang sepenuhnya berbeda. Tidak ada dinding beton kaku berwarna cat putih membosankan seperti di kantor kecamatan.

Kantor Apex Media didesain dengan konsep *industrial modern* yang sangat estetik dan berkelas. Dindingnya berupa kaca-kaca masif yang menampilkan pemandangan kota Jakarta dari ketinggian, lantainya semen ekspos yang dipoles mengilap, dan di beberapa sudut terdapat lampu gantung berbentuk unik serta sofa-sofa kulit minimalis.

Orang-orang yang berlalu-lalang di sana pun seketika membuat Andra merasa kerdil.

Mereka adalah para pekerja kreatif—desainer grafis, *copywriter*, dan *account executive*.

Gaya pakaian mereka sangat modis, ekspresif, dan berkelas. Ada yang memakai sepatu bot kulit, jaket denim mahal, celana kulot trendi, dan hampir semuanya memegang tumbler kopi dari kafe waralaba terkenal sambil sibuk berbicara dengan campuran istilah bahasa Inggris yang tidak Andra pahami sama sekali.

Di tengah lingkungan yang serba gemerlap dan penuh gaya itu, Andra berdiri kaku dengan kemeja putih polosnya yang murah dan sepatu pantofel yang ujungnya sedikit terkelupas. Ia terlihat sangat kontras dan asing. Namun justru karena perbedaan itulah, beberapa karyawan wanita yang berjalan melewatinya tidak bisa menahan diri untuk tidak melirik ke arahnya. Wajah tampannya yang bersih, garis wajahnya yang jantan, serta tatapan matanya yang polos dan jujur tanpa kepura-puraan membuat Andra terlihat sangat menarik secara alami, jauh berbeda dari pria-pria kota yang terlalu banyak bersolek.

"Saudara Andra? Silakan masuk, ruangan Managing Director ada di sebelah sana,"

panggil seorang sekretaris wanita berpenampilan sangat modis dengan senyum ramah.

Andra menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan untuk meredakan gemuruh di dadanya. Ia menggenggam map cokelat berisi ijazahnya erat-erat, lalu melangkah menuju pintu kaca besar di ujung koridor. Langkah kaki pertamanya di Apex Media baru saja dimulai, dan ia tidak pernah tahu bahwa di balik pintu kaca itulah, takdir hidupnya sebagai pemuda desa akan diuji oleh godaan terbesar dari kota ini.

Bab 3: Tatapan Pertama

Pintu kaca setinggi dua setengah meter itu bergeser terbuka dengan desis halus yang hampir tak terdengar. Andra melangkah masuk, membiarkan sepatu pantofelnya tenggelam sedikit di atas karpet beludru abu-abu tebal yang melapisi seluruh lantai ruangan. Aroma ruangan itu langsung menyergap indra penciumannya—perpaduan antara wangi aromaterapi melati yang menenangkan dan keharuman kopi hitam yang pekat dan mahal.

Di seberang ruangan, sebuah meja kerja dari kayu jati solid berukuran masif mendominasi pemandangan. Di balik meja itu, duduk seorang wanita yang sedang menatap layar laptop tipisnya dengan kening sedikit berkerut.

Wanita itu adalah Nadia.

Sebagai *Managing Director* di Apex Media, Nadia adalah definisi nyata dari wanita karier modern yang sukses. Di usianya yang menginjak tiga puluh dua tahun, penampilannya begitu anggun dan matang. Kulitnya putih bersih, kontras dengan blazer formal berwarna *navy blue* potongan pas badan yang ia kenakan. Rambut hitamnya disanggul rapi ke atas, menyisakan beberapa helai halus yang membingkai leher jenjangnya. Ia memancarkan aura otoritas yang begitu kuat, tipe pemimpin yang akan membuat siapapun berpikir dua kali sebelum membantah perintahnya. Namun, jika seseorang jeli melihat di balik maskara dan riasan matanya yang tajam, ada gurat keletihan yang teramat sangat di sana. Keletihan yang bukan hanya berasal dari kurang tidur.

"Silakan duduk," ujar Nadia tanpa mengangkat wajahnya dari layar. Suaranya jernih, bernada bariton rendah yang profesional.

"Terima kasih, Bu," jawab Andra pelan namun tegas. Ia melangkah mendekat dan mengambil tempat di salah satu kursi kulit di depan meja kerja tersebut. Posisi duduknya tegak, kedua tangannya bertumpu dengan sopan di atas lutut, memegang map cokelat kusam miliknya.

Nadia membubuhkan tanda tangan digital di laptopnya, menutup layar tersebut perlahan, lalu mengangkat pandangannya untuk menatap calon asisten administrasi barunya.

Detik itu juga, gerakan Nadia tertahan sejenak.

Di industri periklanan sekalas Apex Media, Nadia sudah terbiasa berhadapan dengan pria-pria berparas rupawan. Setiap minggu ia bertemu dengan model papan atas, aktor iklan berwajah blasteran, hingga eksekutif muda yang wangi parfumnya tercium dari jarak lima meter. Namun, pria-pria itu biasanya memiliki satu kesamaan: tatapan mata mereka selalu dipenuhi intrik, penuh kalkulasi, manipulatif, atau terlalu narsis karena sadar akan ketampanan mereka sendiri.

Tetapi pemuda di hadapannya saat ini berbeda. Andra memiliki ketampanan yang sangat murni dan bersahaja. Garis rahangnya kokoh, kulit sawo matangnya bersih, dan postur tubuhnya yang tegap terbalut kemeja putih murah itu justru memberikan kesan karismatik yang jantan. Yang paling membuat Nadia tertegun adalah sepasang matanya. Mata hitam Andra begitu teduh, jernih, dan memancarkan kejujuran yang murni tanpa kepalsuan—sesuatu yang sudah bertahun-tahun tidak pernah Nadia temui di belantara Jakarta.

Nadia berdehem kecil, buru-buru menguasai diri dan kembali ke sikap profesionalnya. Ia menarik map dokumen pelamar yang sudah disiapkan oleh tim HRD.

"Andra, benar?" tanya Nadia, matanya membaca baris demi baris riwayat hidup Andra. "Saya sudah membaca penilaian dari HRD dan catatan dari tim sekuriti. Kamu lulusan SMK Administrasi dari daerah dan punya nilai yang cukup bagus. Tapi, saya harus memperingatkanmu sejak awal. Apex Media adalah agensi besar. Tekanan di sini sangat tinggi, jam kerja tidak menentu, dan kamu harus siap bergerak cepat. Apa kamu sanggup?"

Andra menatap mata Nadia dengan lurus, tidak ada keraguan di sana, melainkan rasa hormat dan kesungguhan yang mendalam. "Saya sanggup, Bu Nadia. Saya datang ke Jakarta memang untuk bekerja keras. Apapun tugas yang Ibu berikan, akan saya kerjakan dengan jujur dan sebaik-baiknya. Saya butuh pekerjaan ini untuk membiayai pengobatan ibu saya dan sekolah adik saya di desa. Saya tidak takut lelah."

Mendengar kata "ibu" dan "adik", sekeping dinding es di hati Nadia rasanya sedikit terkikis. Di kota tempat semua orang saling sikut demi mengejar jabatan, bonus besar, dan gaya hidup mewah, pemuda di hadapannya ini justru menawarkan keringatnya demi alasan yang paling mendasar: keluarga. Ketulusan suara Andra beresonansi dengan rasa hampa yang selama ini terkunci rapat di dada Nadia.

Tepat ketika Nadia membuka mulutnya untuk memberikan keputusan, daun pintu kayu di samping ruangan terbuka dengan sentakan kasar tanpa ada ketukan terlebih dahulu. Langkah kaki yang berat dan tergesa-gesa terdengar masuk, memecah keheningan ruangan intim tersebut.

Seorang pria berbadan tegap dengan setelan jas desainer mahal masuk sambil menempelkan ponsel di telinganya. Wajahnya tampak gusar, alisnya bertaut rapat.

Pria itu adalah suami Nadia.

"Aku tidak mau tahu! Urusan pembebasan lahan di Serpong itu harus selesai minggu ini. Kalau mereka minta naik harga, batalkan saja!" bentak suami Nadia ke arah telepon, mengabaikan keberadaan Andra sepenuhnya seolah pemuda itu hanya dekorasi ruangan yang tak kasat mata.

Pria itu mematikan sambungan teleponnya dengan kasar, lalu berjalan mendekati meja kerja Nadia. Tanpa melihat istrinya, ia melempar sebuah map dokumen tebal ke atas meja hingga menimbulkan suara debukan yang keras.

"Tanda tangani ini sekarang. Aku harus langsung ke bandara, ada penerbangan ke Bali sampai akhir pekan untuk urusan proyek resort baru," ucap suaminya dengan nada memerintah, dingin, dan tanpa kehangatan sedikit pun.

Nadia menatap map tersebut, lalu beralih menatap suaminya dengan pandangan yang perlahan meredup, berubah menjadi dingin dan kaku. "Kamu baru pulang dari Surabaya dua hari lalu, dan sekarang ke Bali lagi? Kita bahkan belum sempat bicara soal urusan rumah kita, Mas."

"Ini bisnis, Nadia! Kamu sendiri yang selalu bilang kita harus profesional dengan karier masing-masing, kan? Sudahlah, jangan kekanak-kanakan. Aku buru-buru," sahut suaminya acuh tak acuh. Setelah Nadia membubuhkan tanda tangan dengan tangan yang sedikit gemetar, pria itu menyambar map tersebut, berbalik badan, dan melangkah keluar begitu saja tanpa mengucapkan satu kata pamit pun yang layak untuk seorang istri.

Pintu tertutup kembali dengan dentuman pelan yang menggema di dalam ruangan.

Suasana seketika membeku. Keheningan yang tercipta kali ini terasa begitu kaku, canggung, dan menyakitkan. Nadia memejamkan matanya rapat-rapat, jemarinya mengepal kuat di atas meja kerja yang dingin. Harga dirinya sebagai seorang wanita dan pimpinan perusahaan rasanya luruh seketika di hadapan calon karyawan barunya sendiri. Ia merasa sangat terhina karena kehidupan pernikahannya yang hancur dipamerkan begitu saja. Air mata rasanya mendesak ingin keluar di sudut kelopak matanya, namun ia tahan dengan sisa-sisa harga diri yang ia miliki.

Di seberang meja, Andra melakukan hal yang membuat Nadia terkesan. Pemuda itu tidak mencuri pandang penuh rasa ingin tahu, tidak juga menunjukkan ekspresi kasihan yang merendahkan. Sejak suami Nadia masuk hingga pergi, Andra dengan sopan langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap ujung sepatunya sendiri. Ia sengaja berpura-pura tidak mendengar dan tidak melihat apa-apa, sebuah sikap santun yang ia lakukan untuk menjaga kehormatan dan harga diri bos wanitanya.

Melihat sikap Andra yang begitu peka dan menjaga batasan diri, Nadia menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan untuk menetralkan gemuruh di dadanya. Rasa hormatnya pada pemuda desa ini langsung melonjak naik.

Nadia merapikan blazernya, mencoba tersenyum tipis meskipun matanya masih menyiratkan luka yang basah. "Maaf atas ketidaknyamanan tadi, Andra."

"Tidak apa-apa, Bu," jawab Andra lembut, tetap menjaga pandangannya agar tidak terlalu lancang menatap wajah rapuh Nadia.

Nadia menutup map dokumen Andra, lalu mengetuknya sekali dengan pulpen mahal miliknya. "Baik, Andra. Kamu diterima kerja di sini sebagai asisten administrasi pribadi untuk divisi saya. Mulai besok pagi jam delapan, kamu sudah harus ada di meja depan ruangan ini. Tolong jaga profesionalisme, dan jangan kecewakan saya."

Andra langsung mengangkat kepalanya, sepasang mata hitamnya berbinar penuh rasa syukur yang tak terhingga. Sebuah senyuman tampan yang sangat tulus terkembang di wajahnya. "Baik, Bu Nadia! Terima kasih banyak atas kesempatan ini. Saya berjanji akan bekerja sebaik mungkin dan tidak akan mengecewakan Ibu."

Saat Andra berdiri, membungkuk hormat, lalu melangkah keluar dari ruangan, Nadia menatap punggung tegap pemuda itu hingga hilang di balik pintu kaca. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup dalam kesepian di tengah gemerlapnya Jakarta, Nadia merasakan ada sebuah ketulusan yang baru saja masuk ke dalam hidupnya—sebuah ketulusan yang tanpa ia sadari, kelak akan menjadi godaan paling berbahaya bagi kedamaian batinnya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!