Indonesia
NovelToon NovelToon

PERNIKAHAN KONTRAK IDOLA

Antara Panggung dan Perjanjian

Zee Chou, atau lebih dikenal oleh jutaan penggemar di seluruh dunia dengan nama panggung Choi Heesung, berdiri di depan cermin setinggi dinding di ruang ganti pribadinya. Di pantulan kaca itu, ia melihat sosok pria yang sempurna: rambut hitamnya ditata rapi, wajah yang dipuji sebagai karya seni para dewa, dan pakaian mewah berdesain khusus yang menegaskan posisinya sebagai bintang terbesar industri hiburan.

Di luar sana, ribuan penggemar sedang berteriak memanggil namanya. Suara sorak mereka begitu keras hingga terasa mengguncang dinding tebal ruangan ini. Bagi dunia, Choi Heesung adalah definisi dari kesuksesan, ketampanan, dan bakat. Ia berada di puncak dunia, dicintai semua orang, dan memiliki segalanya.

Namun, hanya Heesung sendiri yang tahu betapa retaknya topeng yang ia kenakan itu.

Tangannya mencengkeram pinggiran meja rias hingga buku jarinya memutih. Matanya yang tajam dan dingin menatap pantulan dirinya sendiri. Di balik ketenaran yang menyilaukan itu, ada kenyataan pahit yang sedang menunggunya—kenyataan yang siap menghancurkan segalanya dalam sekejap mata jika ia tidak menuruti satu permintaan terakhir dari orang tuanya.

Pintu ruang ganti terbuka perlahan. Seorang pria paruh baya dengan wajah tegas masuk, diikuti oleh manajer pribadi Heesung yang terlihat gelisah. Itu adalah Tuan Chou, ayah Heesung.

"Heesung," suara ayahnya terdengar berat dan serius, sama seperti saat ia berbicara di rapat pemegang saham. "Kau sudah memikirkannya, bukan? Ini satu-satunya jalan. Perusahaan kita terancam bangkrut, dan reputasi keluarga kita sedang di ujung tanduk. Hanya ada satu orang yang bisa menolong kita, dan syaratnya sangat sederhana."

Heesung memejamkan mata sejenak, menekan rasa marah yang mendidih di dadanya. Ia berbalik, menatap ayahnya dengan senyum sinis yang tidak sampai ke matanya.

"Sederhana, Katamu, Ayah?" suaranya rendah namun penuh penekanan. "Menikah? Menikah di usia puncak karirku? Menikah saat aku baru saja memulai tur dunia dan kontrak eksklusif dengan merek-merek besar? Apakah Ayah sadar apa dampaknya jika berita ini bocor? Karirku akan berakhir. Semua yang aku bangun bertahun-tahun akan runtuh seketika."

"Kau pikir aku tidak tahu?!" Tuan Chou meninggikan suaranya, langkah kakinya mendekat. "Tapi kau mau apa lagi? Uang sudah habis, aset tergadai, dan hutang menumpuk setinggi gunung! Keluarga Park adalah satu-satunya harapan kita. Dan satu-satunya hal yang mereka minta sebagai jaminan kerja sama... adalah kau harus menjadi menantu mereka."

Heesung terdiam. Di dalam kepalanya, nama itu berputar-putar menyakitkan: Park Hye-ri.

Wanita itu.

Anak tunggal dari Tuan Park, sahabat lama orang tuanya. Wanita yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunianya. Wanita sederhana yang hidupnya begitu biasa, jauh dari sorotan kamera, jauh dari hiruk-pikuk industri hiburan.

Ia ingat samar-samar wajah Hye-ri. Gadis itu selalu terlihat tenang, pendiam, dan entah kenapa selalu menunduk saat berpapasan dengannya di pesta-pesta keluarga. Tidak cantik luar biasa, tapi raut wajahnya memiliki ketenangan yang aneh. Bagi Heesung, Park Hye-ri hanyalah sosok asing yang tiba-tiba saja diseret masuk ke dalam hidupnya untuk merusak segalanya.

"Park Hye-ri..." gumam Heesung pelan, penuh rasa jijik. "Jadi aku harus menyerahkan kebebasanku, masa depanku, dan namaku... hanya untuk menikahi wanita yang bahkan aku tidak kenal?"

"Ini bukan sekadar pernikahan, Heesung," potong ayahnya tegas. "Ini adalah penyelamatan. Dan percayalah... gadis itu mengerti posisinya. Dia tahu siapa kau, dia tahu betapa pentingnya citramu. Dia tidak akan mengganggumu. Dia hanya akan menjadi istrimu di atas kertas, penerus keluarga Chou, dan rahasia yang dijaga mati-matian."

Tuan Chou meletakkan sebuah dokumen tebal di atas meja. Di sampul depan tertulis jelas: PERJANJIAN PERNIKAHAN.

"Ada banyak aturan di dalamnya. Kau tidak perlu mencintainya. Kau tidak perlu bersikap manis padanya. Kau hanya perlu hidup satu atap, menjalankan kewajiban sosial sesekali, dan menjaga agar berita ini tidak sampai ke telinga publik. Sebagai gantinya, keluarga Park akan menyuntikkan dana segar ke perusahaan kita, dan nama besar Chou akan tetap terjaga."

Heesung menatap dokumen itu dengan tatapan membunuh. Rasanya ia ingin merobek kertas itu menjadi serpihan-serpihan kecil dan membuangnya ke udara. Bagaimana mungkin nasibnya—nasib seorang idola K-Pop yang dipuja jutaan wanita—ditentukan oleh perjanjian kertas yang konyol ini?

Tapi bayangan wajah ayahnya yang tua, tekanan dari para kreditur, dan ancaman kebangkrutan yang nyata... memaksanya menelan semua amarah itu. Ia tidak punya pilihan. Jika ia menolak, bukan hanya perusahaan yang hancur, tapi nama baik keluarganya, warisan yang dijaga turun-temurun, dan semua kerja kerasnya selama ini akan sia-sia.

"Baiklah..." jawab Heesung akhirnya, suaranya terdengar dingin dan mati rasa. Ia mengambil pena, lalu menandatangani dokumen itu dengan tangan gemetar karena marah. "Aku akan melakukannya. Aku akan menikahi Park Hye-ri."

Ia menatap ayahnya tajam.

"Tapi ingat satu hal, Ayah. Ini hanya transaksi. Hanya kontrak. Dan wanita itu... Park Hye-ri... dia tidak akan pernah menjadi apa pun bagiku selamanya. Dia hanya akan menjadi beban yang harus kutanggung demi menyelamatkan nama keluarga ini."

 

Dua hari kemudian.

Di sebuah gedung perkantoran tinggi di pusat kota Seoul, di ruang pertemuan pribadi yang tertutup rapat, Park Hye-ri duduk diam di kursi kulit yang empuk. Ia mengenakan gaun sederhana berwarna krem, rambutnya disisir rapi ke belakang, dan wajahnya tanpa riasan sedikit pun.

Di hadapannya, duduklah sosok yang selama ini hanya bisa ia lihat di layar televisi, poster, atau papan iklan raksasa di jalanan.

Choi Heesung.

Pria itu duduk bersandar malas di kursinya, satu kaki menyilang di atas kaki lainnya. Wajahnya yang luar biasa tampan kini terlihat kaku dan dingin. Tidak ada senyum ramah yang biasa ia perlihatkan pada penggemarnya. Tidak ada kilat mata yang menawan. Di sini, di ruangan ini, Heesung terlihat seperti patung es yang keras dan tajam.

Di meja di antara mereka, tergeletak salinan dokumen yang sama—perjanjian pernikahan.

Hye-ri melirik sebentar ke arah pria itu, lalu kembali menundukkan pandangannya ke atas kertas. Jantungnya berdebar kencang, tapi bukan karena perasaan suka atau kagum. Melainkan karena gugup dan takut.

Siapa yang tidak kenal Choi Heesung? Idola terbesar negara ini. Pria yang setiap gerakannya selalu jadi pembicaraan. Dan sekarang, pria itu akan menjadi suaminya?

"Aku tahu kau pasti sudah diberitahu segalanya oleh ayahmu," suara Heesung terdengar rendah, berat, dan sangat mengintimidasi. "Jadi aku tidak akan bertele-tele lagi. Aku tidak punya waktu untuk basa-basi."

Heesung mencondongkan tubuh sedikit ke depan, menatap Hye-ri dengan tatapan yang seolah sedang melihat serangga kecil yang mengganggu.

"Dengarkan baik-baik, Park Hye-ri. Kau dan aku, kita tidak menikah karena saling mencintai. Kita menikah karena kewajiban dan kepentingan keluarga. Bagi dunia, aku adalah bintang yang bersinar. Dan kau... kau adalah bagian dari bayang-bayangku. Kau harus tetap di sana, di tempatmu, dan jangan pernah berani melanggar batas."

Hye-ri mengangkat wajahnya perlahan. Ia menatap mata Heesung yang berwarna cokelat gelap, namun terasa sedingin kutub utara.

"Apa maksudmu?" tanya Hye-ri pelan, suaranya sedikit bergetar namun berusaha tenang.

Heesung tersenyum miring, senyum yang sama sekali tidak ramah. Ia menunjuk ke arah dokumen di meja.

"Baca poin nomor tujuh sampai dua belas dengan saksama. Kau boleh tinggal di kediaman resmiku. Kau akan mendapatkan fasilitas apa pun yang kau inginkan—uang, kemewahan, kenyamanan—semuanya akan kuserahkan padamu selama kau patuh."

Heesung berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih tajam dan tegas, seolah sedang membacakan hukumannya.

"Tapi ada hal-hal yang DILARANG keras. Pertama, jangan pernah memamerkan statusmu sebagai istriku ke siapa pun, apalagi ke media atau penggemarku. Kau tidak boleh memposting apa pun tentangku, tidak boleh memanggilku dengan panggilan sayang, dan tidak boleh berlagak seolah kita pasangan bahagia."

"Kedua, jangan pernah menggangguku saat aku bekerja. Saat aku ada di agensi, di panggung, atau sedang syuting... kau tidak ada dalam duniaku. Jangan menelepon, jangan mengirim pesan, dan jangan pernah mencoba datang ke lokasi kerjaku."

"Dan yang terakhir..." Heesung menatapnya tepat di mata, seolah ingin menanamkan kata-kata itu jauh ke dalam jiwa Hye-ri. "Jangan pernah berpikir untuk jatuh cinta padaku. Jangan berharap aku akan memperlakukanmu seperti suami pada umumnya. Bagiku, pernikahan ini hanyalah sebuah kontrak bisnis. Dan kau... kau hanyalah mitra yang kebetulan bernama istri."

Hye-ri merasa dadanya sesak mendengar kata-kata itu. Meski ia juga tidak menginginkan pernikahan ini, meski ia juga dipaksa oleh keadaan... mendengarnya diucapkan langsung dari mulut Heesung dengan begitu dingin dan kejam, rasanya tetap menyakitkan.

Ia tahu dirinya hanya gadis biasa. Tahu betapa jauh bedanya ia dengan dunia Heesung. Tapi mendengarnya dikatakan begitu terang-terangan... membuatnya merasa sangat kecil dan tidak berharga.

Namun, Hye-ri menghela napas panjang, menenangkan dirinya. Ia mengangkat dagunya sedikit, menatap balik pria di hadapannya itu dengan ketenangan yang mengejutkan Heesung.

"Tenang saja, Tuan Choi," jawab Hye-ri pelan namun tegas. "Aku juga tidak menginginkan pernikahan ini. Aku tahu siapa dirimu, dan aku tahu siapa diriku. Aku tidak berharap apa pun darimu. Aku hanya akan menjalankan perjanjian ini sampai waktunya habis. Begitu kontrak selesai dan urusan keluarga beres... kita akan berpisah jalan dan tidak akan pernah bertemu lagi."

Hye-ri mengambil pena, lalu menandatangani dokumen itu dengan tangan yang mantap.

Heesung terdiam sejenak, tertegun melihat reaksi gadis itu. Ia berharap Hye-ri akan menangis, memohon, atau bersikap manja seperti wanita lain yang mengejarnya. Tapi gadis ini... gadis ini justru menatapnya dengan tatapan yang sama sekali tidak ada kekaguman, tidak ada harapan, bahkan terlihat seolah ia pun merasa terbebani harus berurusan dengannya.

Rasa kesal yang aneh tiba-tiba menjalar di dada Heesung. Seolah harga dirinya tersentil.

"Bagus," ujar Heesung kasar, bangkit berdiri dan merapikan jasnya. "Kalau begitu, mulailah persiapan pernikahan sederhana kita. Dan ingat, Park Hye-ri... jangan sampai kau membuatku menyesal telah menyetujui perjanjian ini."

Dengan itu, Heesung berbalik dan berjalan pergi meninggalkan ruangan, meninggalkan aroma parfum mahal dan suasana dingin yang menyelimuti hati Hye-ri.

Hye-ri menatap pintu yang tertutup rapat itu. Di luar sana, di balik tembok gedung ini, ribuan wanita berteriak histeris demi satu senyum dari pria itu. Mereka rela memberikan apa saja hanya untuk disentuh ujung jarinya.

Namun di sini, di dalam ruangan ini... pria itu baru saja menjelaskan betapa tidak berartinya dirinya.

Hye-ri tersenyum getir, menatap tanda tangannya di atas kertas pernikahan itu.

"Kita berdua sama saja, Heesung," batinnya. "Kita sama-sama terjebak dalam pernikahan bodoh ini. Dan aku berjanji... aku akan menjadi istri kontrak yang paling sempurna, yang tidak akan pernah kau anggap ada. Sehingga saat ini semua berakhir... kau tidak akan merasakan kehilanganku sedikit pun."

Tapi, entah mengapa, di sudut hati yang paling dalam, ada suara kecil yang bertanya: Akankah janji-janji keras ini bertahan saat mereka mulai hidup satu atap?

 

Di Bawah Satu Atap yang Dingin

Upacara pernikahan berlangsung persis seperti yang disepakati: sederhana, tertutup, dan hanya dihadiri oleh keluarga inti serta saksi bisnis. Tidak ada pesta besar, tidak ada sorak-sorai, tidak ada momen romantis. Bagi dunia, Choi Heesung masih lajang, masih menjadi idola yang sempurna dan bebas. Pernikahan ini hanyalah tinta di atas kertas, rahasia besar yang dikunci rapat di bawah tanah.

Tiga hari setelah penandatanganan dokumen, Park Hye-ri tiba di kediaman pribadi Choi Heesung—atau lebih tepatnya, kediaman keluarga Chou yang kini menjadi tempat tinggal resmi mereka berdua.

Rumah itu bukan sekadar rumah, melainkan sebuah vila megah bergaya modern minimalis yang berdiri di atas bukit tinggi, dikelilingi pagar tinggi dan pepohonan rimbun yang menjaga privasi dari mata-mata luar. Bangunan itu indah, mewah, dan sangat luas... tapi saat Hye-ri melangkah masuk melewati pintu depan, yang pertama kali ia rasakan bukanlah kenyamanan, melainkan hawa dingin yang menusuk tulang.

Interiornya serba putih, abu-abu, dan hitam. Bersih, rapi, terlalu sempurna hingga terasa tak bernyawa. Tidak ada foto keluarga, tidak ada barang pribadi yang berkesan. Segalanya terlihat seperti hotel mahal yang siap disewakan, bukan tempat tinggal manusia.

"Selamat datang, Nyonya Chou," sapa seorang wanita paruh baya yang ramah namun sopan sekali. Itu adalah Ibu Jung, kepala pembantu rumah tangga yang sudah bekerja untuk keluarga Chou bertahun-tahun. "Tuan Choi sedang ada jadwal latihan di agensi. Beliau berpesan agar Anda menempati kamar di sayap timur. Kamar beliau ada di sayap barat, di lantai dua. Ada pintu penghubung di koridor, tapi biasanya pintu itu selalu dikunci dari sisi beliau."

Hye-ri mengangguk pelan, menurunkan koper kecil miliknya. Ia hanya membawa sedikit barang. Baginya, rumah ini hanyalah tempat tinggal sementara, sama seperti hubungan mereka.

"Terima kasih, Ibu Jung. Panggil saja aku Hye-ri. Jangan terlalu formal," jawab Hye-ri lembut. Ia tidak terlihat tertekan, even saat mendengar bahwa suaminya sendiri mengunci pintu penghubung di antara kamar mereka. Itu sudah ia duga sebelumnya.

Hye-ri berjalan menuju kamarnya. Ruangan itu sangat luas, dengan jendela kaca besar yang menghadap ke arah taman belakang. Perabotannya serba mahal dan nyaman, namun lagi-lagi terasa kosong. Ia meletakkan barang-barang miliknya perlahan, menata pakaiannya di lemari besar yang setengah isinya masih kosong melompong.

"Ini rumahnya, bukan rumahku," batin Hye-ri sambil menghela napas panjang. "Aku hanya tamu yang punya izin tinggal lebih lama. Ingat perjanjian itu, Hye-ri. Jangan berharap lebih."

 

Malam itu, larut malam.

Hye-ri sedang duduk di ruang tengah, membaca buku sambil menyesap teh hangat. Ia tidak tidur, entah kenapa rasanya belum tenang benar-benar berada di tempat ini. Jam di dinding menunjukkan pukul dua belas lewat tiga puluh menit.

Terdengar suara pintu depan terbuka, diikuti langkah kaki berat yang menggema di lantai marmer. Hye-ri menutup bukunya perlahan. Ia tahu itu dia.

Choi Heesung masuk ke dalam rumah. Tubuhnya terlihat lelah sekali. Rambut hitamnya sedikit berantakan, jaket kulitnya dilepas dan disampirkan sembarangan di lengan. Di bawah lampu gantung yang terang, wajah tampannya terlihat pucat dan lelah, namun pesonanya tetap sama kuatnya—jenis ketampanan yang membuat siapa pun menahan napas saat melihatnya.

Ia berjalan melewati ruang tengah, hendak langsung naik ke lantai dua tanpa menoleh sedikit pun. Seolah-olah Hye-ri tidak ada di sana, seolah ia sendirian di rumah besar ini.

"Tuan Choi," panggil Hye-ri pelan, namun cukup jelas terdengar.

Heesung berhenti melangkah. Ia tidak berbalik sepenuhnya, hanya memutar kepalanya sedikit ke samping, menatap Hye-ri dengan tatapan datar dan tanpa emosi.

"Apa?" suaranya terdengar serak, mungkin karena seharian bernyanyi dan berbicara.

Hye-ri bangkit berdiri, menatap pria itu dengan tenang.

"Makan malammu sudah disiapkan Ibu Jung di atas meja makan. Katanya kau belum makan dari sore," ucap Hye-ri. Ia hanya menyampaikan pesan pembantu itu, tidak lebih, tidak kurang. Ia tidak berniat bersikap manis atau peduli berlebihan.

Heesung terdiam sejenak, menatap wajah Hye-ri yang polos tanpa riasan itu. Gadis itu mengenakan pakaian rumah yang sederhana, rambutnya terurai rapi. Tidak ada sedikit pun godaan atau rayuan dalam tatapannya. Hanya ketenangan yang dingin, sama seperti dirinya.

Rasa kesal yang dulu dirasakannya saat pertemuan mereka dulu kembali muncul. Kenapa wanita ini tidak pernah terlihat terpesona padanya? Kenapa dia tidak pernah memandangnya seperti penggemar lainnya? Kenapa dia terlihat begitu... biasa saja?

"Aku sudah makan di luar," jawab Heesung ketus. Ia hendak kembali berjalan, tapi kalimat Hye-ri selanjutnya membuat langkahnya terhenti lagi.

"Dan Ibu Jung bilang, obat asma dan obat lambungmu sudah ditaruh di meja samping tempat tidur. Beliau bilang kau sering lupa meminumnya kalau tidak diingatkan."

Heesung mengerutkan kening, merasa sedikit tersentil harga dirinya. Penyakit-penyakit kecil itu adalah rahasia yang dijaga ketat agensinya. Bagaimana mungkin wanita ini tahu?

"Kau mau mengatur hidupku sekarang?" tanya Heesung tajam, matanya menyipit menatap Hye-ri dengan pandangan mengancam. "Ingat posisimu, Park Hye-ri. Kau di sini hanya untuk menjadi patung. Jangan berpikir kau bisa masuk ke urusan pribadiku, atau bertindak seolah-olah kau istriku yang sesungguhnya."

Hye-ri tidak mundur, tidak pun marah. Ia hanya menatap balik dengan tatapan yang sangat tenang, bahkan sedikit datar. Tatapan yang membuat Heesung merasa seolah dirinyalah yang sedang berlebihan di sini.

"Aku tidak mengaturmu, Tuan Choi. Aku hanya menyampaikan pesan Ibu Jung. Lagipula..." Hye-ri sedikit tersenyum miring, senyum yang sama dinginnya dengan senyum Heesung, "...jika kau jatuh sakit atau ada apa-apa, nama keluargaku juga akan tercoreng. Kita terikat kontrak, ingat? Reputasi kau adalah reputasi aku juga. Jadi demi kepentingan bersama, aku hanya memastikan kau tetap sehat dan bisa bekerja. Tidak ada rasa peduli di situ, jadi kau tidak perlu khawatir aku berharap lebih."

Jawaban itu tepat sasaran. Menohok, tajam, dan menempatkan keduanya kembali pada posisi semula: sekadar mitra kontrak.

Heesung terdiam, bibirnya terkatup rapat karena kesal. Ia benci bagaimana gadis ini selalu bisa membuatnya terlihat seperti orang yang emosian dan tidak masuk akal. Ia benci bagaimana gadis ini terlihat jauh lebih tenang dan menguasai diri dibanding dirinya sendiri.

"Bagus kalau kau mengerti," jawab Heesung akhirnya dengan suara rendah. Ia tidak mau kalah. "Lakukan saja tugasmu, dan jangan mencoba lebih dari itu."

Dengan itu, ia berbalik badan dan berjalan cepat menaiki tangga, menghilang di balik pintu kamarnya di lantai atas yang langsung dikunci dari dalam. Klik. Suara kunci itu terdengar begitu jelas, seolah peringatan keras bahwa dinding di antara mereka tebal dan kokoh.

Hye-ri kembali duduk di kursinya, mengambil bukunya lagi. Ia menghela napas pelan, lalu tersenyum getir seorang diri.

"Angkuh, dingin, dan tidak tahu terima kasih," batinnya. "Tapi tidak apa-apa, Hye-ri. Kau sudah tahu sifatnya dari awal. Kau sudah siap. Ini hanya permulaan."

 

Hari-hari berlalu dengan pola yang sama. Hidup di rumah besar itu seperti hidup di dua dunia yang berbeda namun berada di tempat yang sama.

Pagi hari, Hye-ri bangun pagi, membantu Ibu Jung mengurus rumah, membaca buku, atau berkebun di halaman belakang. Ia melakukan segalanya dengan tenang, tidak pernah membuat keributan, tidak pernah bertanya kenapa suaminya pulang pagi atau pergi siang.

Sementara itu, Choi Heesung... bagaikan hantu yang datang dan pergi. Kadang Hye-ri melihatnya saat sarapan—saat mereka duduk berhadapan di meja makan panjang yang terasa makin panjang karena keheningan di antara mereka.

Heesung selalu duduk tegak, memakan sarapannya dengan cepat, wajahnya tertanam di layar ponsel atau tabletnya, membaca komentar penggemar, membalas pesan agensi, atau melihat jadwal padatnya. Ia tidak pernah menyapa, tidak pernah bertanya kabar. Dan Hye-ri pun melakukan hal yang sama. Ia makan, lalu pergi ke ruang kerjanya atau keluar rumah untuk berjalan-jalan sebentar.

Suatu sore, hujan turun sangat deras. Petir menyambar sesekali, membuat suasana rumah menjadi suram dan dingin. Heesung pulang lebih awal dari biasanya, basah kuyup karena berlari dari mobil ke pintu depan karena lupa membawa payung.

Ia masuk dengan wajah cemberut, marah-marah sendirian karena pakaian mahalnya basah dan rambutnya rusak. Ibu Jung sedang pergi ke pasar, dan pembantu lain sedang libur. Hanya ada Hye-ri di rumah, yang sedang menyiapkan teh hangat di dapur.

Heesung masuk ke ruang tengah, mengguncang-guncangkan rambutnya yang basah hingga air terciprat ke mana-mana. Ia menggeliat kedinginan, napasnya terdengar berat. Tiba-tiba ia terbatuk-batuk keras, batuk yang dalam dan kasar, seolah paru-parunya terasa sakit.

Hye-ri mendengarnya dari dapur. Ia berhenti mengaduk teh, menutup matanya sejenak menahan rasa malas yang muncul. Ia tahu ia seharusnya diam saja. Ia tahu ia sebaiknya masuk ke kamarnya dan pura-pura tidak mendengar apa-apa.

Tapi suara batuk itu terdengar begitu menyakitkan, dan ingatannya pada masa lalu—saat ayahnya sakit dan butuh bantuan—membuat kakinya bergerak sendiri.

Hye-ri membawa sebuah handuk tebal dan segelas air hangat, berjalan mendekati Heesung yang kini duduk di sofa, menekan dadanya yang terasa sesak.

Tanpa bicara, Hye-ri menyodorkan handuk itu ke arah pria itu.

Heesung mendongak, matanya yang merah karena iritasi dan lelah menatap tajam ke arah Hye-ri.

"Apa lagi?" tanyanya kasar, napasnya masih memburu.

"Keringkan rambutmu. Kau tidak mau sakit dan batal jadwalmu, kan?" jawab Hye-ri datar. Ia meletakkan gelas air di meja depan pria itu. "Minum ini. Dan obat asma yang kau bawa di saku jasmu... sebaiknya pakai sekarang. Udara dingin dan basah tidak baik untukmu."

Heesung menatap handuk putih bersih itu, lalu menatap wajah Hye-ri. Ada sesuatu dalam nada bicara wanita itu yang membuatnya tidak bisa langsung mengusirnya. Ia mengambil handuk itu dengan kasar, mengusapkannya ke kepala dengan gerakan agresif.

"Kau seolah-olah tahu segalanya tentangku," gumam Heesung sarkas. "Kau mengintipku? Kau memata-mataiku?"

Hye-ri menghela napas, menatap pria itu dengan pandangan tak percaya.

"Aku tidak punya waktu untuk hal konyol seperti itu, Tuan Choi. Ibu Jung yang bercerita. Dia khawatir padamu. Dan aku... aku hanya tidak ingin berita di koran besok pagi bertuliskan 'Idola Terbesar Choi Heesung Meninggal Karena Mengabaikan Kesehatan' atau sejenisnya. Itu akan memalukan bagiku sebagai istrimu, meski hanya di atas kertas."

Hye-ri berbalik hendak pergi, tapi kalimat terakhirnya membuat Heesung menahan langkahnya.

"Kau benar-benar tidak pernah melihatku sebagai laki-laki, ya?" tanya Heesung tiba-tiba. Suaranya pelan, tapi ada nada aneh di dalamnya—campuran antara rasa heran dan rasa tersinggung yang aneh.

Hye-ri berhenti, menoleh sedikit ke belakang tanpa memutar tubuhnya sepenuhnya. Ia menatap Heesung dengan tatapan polos.

"Kenapa aku harus melihatmu sebagai laki-laki? Bagiku, kau hanyalah klien kontrak yang angkuh, rekan bisnis yang menyusahkan, dan suami di atas kertas yang sangat dingin. Tidak ada lagi dari dirimu yang menarik perhatianku, Tuan Choi."

Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Hye-ri, jujur, tajam, dan telak.

Heesung terdiam kaku di tempatnya. Jantungnya berdegup aneh, bukan karena cinta, tapi karena rasa terkejut yang luar biasa. Seluruh wanita di dunia ini rela berlutut hanya untuk mendapatkan satu tatapan darinya. Seluruh wanita ingin disentuhnya, ingin diciumnya, ingin diakui sebagai miliknya.

Tapi wanita ini... wanita ini berdiri tepat di bawah atap yang sama, sah menjadi istrinya, dan dia bilang... dia sama sekali tidak tertarik padanya?

Amarah kembali meluap di dada Heesung, tapi kali ini amarah itu bercampur dengan rasa penasaran yang menggelikan.

"Baiklah, Park Hye-ri..." gumam Heesung pelan, bibirnya melengkung membentuk senyum miring yang berbahaya. "Kau ingin main dingin? Kau ingin bersikap seolah aku tidak berharga? Silakan saja. Tapi ingat satu hal... aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan. Dan jika aku memutuskan untuk membuatmu melihatku, membuatmu mengakui keberadaanku... kau tidak akan punya pilihan selain menurut."

Hye-ri tersenyum tipis, lalu berjalan pergi menjauh, meninggalkan Heesung yang kini menatap punggungnya dengan pandangan yang berubah perlahan.

"Silakan saja coba, Tuan Choi," bisik Hye-ri pelan agar tidak terdengar. "Tapi aku berjanji... aku bukan penggemarmu yang mudah meleleh hanya karena ketampanan atau namamu."

Di ruang tengah yang dingin itu, di antara suara hujan dan petir, benih-benih perasaan yang rumit mulai tertanam. Benih-benih yang mereka berdua tolak, tapi perlahan-lahan mulai berakar di antara permusuhan dan perjanjian kaku mereka.

 

Permainan Hati dan Insiden Tak Terduga

Minggu-minggu berlalu, dan suasana di kediaman besar itu perlahan berubah, meski masih sama dinginnya. Namun sekarang, ada satu hal yang berbeda: Choi Heesung mulai bertindak di luar kebiasaan.

Dulu, ia akan pulang larut malam, langsung masuk ke kamarnya, dan menutup pintu rapat-rapat seolah ingin menghapus keberadaan Hye-ri. Tapi sekarang... Heesung justru berusaha ada di sana, tepat di hadapan Hye-ri, dengan segala pesonanya yang ia tampilkan sepenuhnya.

Ia pikir, jika ia memancarkan segala daya tariknya—tatapan mata yang memikat, senyum yang membuat lutut lemas, suara lembut yang biasa ia gunakan di panggung—maka gadis keras kepala itu pasti akan luluh. Ia ingin melihat reaksi Hye-ri. Ia ingin melihat gadis itu salah tingkah, tersipu malu, atau setidaknya menatapnya dengan kekaguman seperti wanita lainnya.

Tapi nyatanya... apa yang ia dapatkan justru sebaliknya.

Pagi itu, di meja makan panjang yang biasa sunyi.

Heesung duduk dengan santai, satu tangan menyangga dagunya, menatap tajam ke arah Hye-ri yang sedang memotong buah dengan tenang. Hari ini ia sengaja menata rambutnya lebih rapi, memakai kemeja berwarna putih bersih yang menonjolkan kulitnya yang cerah dan rahang tegasnya. Aroma parfum mahalnya menguar lembut, memenuhi ruangan.

"Kau tahu tidak?" suara Heesung memecah keheningan, nadanya sengaja dibuat rendah dan berat, persis seperti nada bicara saat ia berbicara di depan kamera. "Banyak wanita di luar sana yang rela mati hanya agar bisa duduk di hadapanku seperti ini. Hanya agar bisa melihatku makan, atau mendengarkan suaraku berbicara."

Heesung mencondongkan tubuh sedikit ke depan, menatap mata Hye-ri lekat-lekat, mencoba menanamkan pesonanya.

"Tapi kau... kau bahkan tidak pernah sekalipun menatapku lebih dari tiga detik. Apa matamu bermasalah, atau kau memang tidak punya rasa suka sama sekali?"

Hye-ri berhenti memotong sebentar. Ia mengangkat wajahnya, menatap Heesung datar selama tepat dua detik, lalu kembali menunduk ke potongan buah di piringnya.

"Mataku baik-baik saja, terima kasih. Dan aku punya rasa suka... untuk hal-hal yang berguna dan indah. Seperti bunga, pemandangan matahari terbenam, atau kue yang enak. Sedangkan kau..." Hye-ri mengangkat bahu acuh tak acuh, "...kau hanya sekadar orang yang tampan. Dan ketampanan saja tidak cukup untuk membuatku kagum, Tuan Choi. Dunia ini penuh pria tampan. Di jalanan, di majalah, di televisi... kau bukan satu-satunya."

KLAK!

Sendok di tangan Heesung tertekan keras ke piringnya. Wajahnya yang tadi berusaha mempesona kini berubah merah padam menahan marah.

Bukan satu-satunya?

Ia, Choi Heesung, pusat perhatian dunia, dikatakan bukan satu-satunya? Dan hanya sekadar 'tampan'? Seolah itu adalah hal yang paling biasa saja?

"Kau benar-benar..." Heesung menggertakkan gigi, menahan diri agar tidak berteriak. Ia menatap Hye-ri dengan pandangan tak percaya. "Kau benar-benar wanita yang tidak punya selera, atau memang hatimu terbuat dari batu?"

Hye-ri tersenyum tipis, senyum yang sangat tenang dan sangat menyebalkan bagi Heesung.

"Mungkin saja. Lagipula, bukankah kau sendiri yang bilang kita tidak ada hubungannya selain kontrak? Jadi kenapa kau begitu sibuk ingin aku mengagumimu? Kau takut pesonamu luntur hanya karena satu orang tidak terpikat padamu?"

Kalimat itu tepat sasaran. Menohok langsung ke gengsi besar Heesung. Ia bangkit berdiri kasar dari kursinya, mendorong kursi hingga bergeser berisik di lantai.

"Terserah kau saja! Nikmati kebisuanmu itu, Park Hye-ri! Suatu saat nanti... saat kau sadar betapa beruntungnya kau memiliki suami sepertiku, jangan harap aku akan menatapmu sedikit pun!"

Dengan langkah lebar dan penuh emosi, Heesung berjalan pergi meninggalkan ruang makan, meninggalkan sarapannya yang belum disentuh dan Hye-ri yang menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala pelan.

"Dasar anak manja," batin Hye-ri. "Dia terbiasa disembah-sembah, sedikit saja ada yang acuh, langsung ngambek."

Namun, di sudut hatinya, Hye-ri tahu betul kenapa ia bersikap begitu dingin. Ia tahu betapa berbahayanya pria seperti Heesung. Ia tahu betapa mudahnya jatuh hati pada pesona itu. Ia tahu, jika saja ia sedikit saja melonggarkan pertahanannya, ia akan hancur sendiri. Karena bagaimanapun juga, di mata dunia, Heesung bukan miliknya. Dan di mata Heesung sendiri, ia hanyalah kewajiban.

 

Siang itu, cuaca sangat cerah. Hye-ri memutuskan pergi ke pasar tradisional di pusat kota. Ia ingin membeli beberapa bibit tanaman baru untuk taman belakang, dan juga membeli bahan makanan segar. Ia pergi sendirian, seperti biasa, tanpa pengawalan ketat. Bagaimanapun juga, tidak ada yang tahu wajah asli istri dari Choi Heesung. Ia bisa berjalan bebas seperti warga biasa.

Di pasar yang ramai dan berisik itu, Hye-ri merasa lega. Ia merasa kembali menjadi dirinya sendiri, bukan 'Istri Kontrak Sang Idola'. Ia berjalan di antara deretan kios, menawar harga, dan tertawa kecil saat berbicara dengan penjual sayur yang ramah.

Namun, takdir seolah punya rencana lain.

Di saat yang sama, di gedung agensi tidak jauh dari sana...

Heesung sedang duduk di ruang latihan, lelah dan frustrasi. Ia baru saja mendapat teguran dari manajemen karena penampilannya yang sedikit menurun, dan pikirannya terus saja terganggu oleh sosok Park Hye-ri. Wajah datar wanita itu, jawaban-jawaban ketusnya, dan ketidakpeduliannya terus berputar di kepala Heesung sepanjang hari.

"Aku harus keluar," gumam Heesung pada dirinya sendiri. Ia butuh udara segar. Ia butuh menenangkan diri.

Dengan mengenakan topi lebar, masker wajah, dan kacamata hitam—penyamaran standar para selebritas—Heesung menyelinap keluar dari pintu samping gedung. Ia berjalan santai menyusuri trotoar, tanpa disadari oleh siapa pun. Kakinya membawanya tak sengaja ke arah pasar tradisional yang ramai itu.

Ia berjalan di antara kerumunan, merasa aneh sekaligus bebas. Di sini, tidak ada yang memandangnya dengan takjub, tidak ada yang meminta tanda tangan. Ia hanya orang biasa yang berjalan di tengah keramaian.

Dan saat itulah, di antara lautan manusia, matanya menangkap sosok yang sangat dikenalnya.

Di depan kios penjual ikan, berdiri Park Hye-ri.

Wanita itu sedang tertawa. Benar-benar tertawa. Tawanya lepas, cerah, dan matanya menyipit indah karena gembira. Ia sedang bercakap-cakap dengan seorang bapak penjual ikan, wajahnya bersinar cerah terkena sinar matahari, pipinya kemerahan karena kepanasan, dan rambutnya sedikit berantakan tertiup angin.

Di rumah, di hadapannya, Hye-ri selalu terlihat tenang, dingin, tertutup, dan terkendali penuh. Tapi di sini... di tempat yang berisik dan bau amis ini... Hye-ri terlihat begitu hidup, begitu bahagia, dan begitu... cantik.

Jantung Heesung berdegup kencang secara tidak sadar. Kakinya berhenti melangkah, terpaku menatap wanita itu dari kejauhan.

Kenapa dia bisa begitu bahagia di sini? Kenapa dia bisa tertawa begitu lepas dengan orang asing, tapi tidak pernah sekalipun tersenyum tulus padanya? Kenapa cahaya di wajah wanita itu hanya muncul saat ia jauh dari Heesung?

Rasa iri yang aneh dan perih tiba-tiba menjalar di dada Heesung. Iri pada bapak penjual ikan itu. Iri pada pasar ramai ini. Iri pada apa pun yang bisa membuat Hye-ri tersenyum, sementara dirinya hanya bisa mendapatkan tatapan dingin.

Tanpa sadar, Heesung melangkah mendekat, tersembunyi di balik tiang kayu besar. Ia ingin melihat lebih lama sosok Hye-ri yang berbeda ini.

Namun, tiba-tiba suasana pasar menjadi kacau.

Dari arah belakang, terdengar suara teriakan dan gaduh. Sekelompok pemuda mabuk yang berjalan sempoyongan menabrak gerobak buah hingga berguling, lalu berjalan terus dengan kasar mendorong siapa saja yang ada di jalan mereka.

Hye-ri yang sedang memegang kantong belanjaan penuh, tidak sempat menghindar. Salah satu pemuda itu menabrak bahu Hye-ri dengan keras.

"Eh, hati-hati kau!" seru pemuda itu kasar, meski dialah yang salah.

Hye-ri kehilangan keseimbangan. Kantong belanjaannya terlempar, isinya berhamburan ke tanah. Ia sendiri hampir jatuh jika tidak berpegangan pada pinggiran kios.

Pemuda-pemuda itu justru tertawa keras, tidak punya rasa bersalah sedikit pun. Salah satu dari mereka bahkan menjulurkan tangan hendak menyentuh dagu Hye-ri dengan tidak sopan.

"Wah, cantik juga nih gadisnya. Maaf ya, Nona. Kalau mau minta maaf, ajak kami minum saja..." ucap pemuda itu dengan nada cabul.

Hye-ri mundur dengan waspada, wajahnya berubah tegang. Ia tidak takut, tapi ia benci diperlakukan kasar. "Minggir. Dan minta maaf karena sudah menabrak dan merusak barang belanjaanku."

"Ha? Berani juga kau bicara keras..." Pemuda itu maju selangkah, tangannya terangkat hendak mendorong bahu Hye-ri lagi.

Tapi sebelum tangan itu menyentuh kulit Hye-ri...

BRUK!

Sesosok tubuh melesat cepat, menangkis lengan pemuda itu dengan keras hingga terdengar bunyi berderak dan teriakan kesakitan. Dalam sekejap mata, Hye-ri sudah ditarik ke belakang, terlindungi oleh punggung lebar dan kokoh yang sangat dikenalnya.

Heesung berdiri di sana.

Topinya miring, kacamatanya terlepas, dan maskernya sudah dicabut kasar dan diremukkan di tangannya. Wajahnya yang biasanya dingin dan terkendali kini berubah mengerikan. Matanya yang indah itu menyala merah karena marah, rahangnya mengeras, dan aura mengintimidasi yang sangat kuat meledak dari tubuhnya.

"Kau berani menyentuhnya?" suara Heesung rendah, tapi bergema mengerikan di tengah keramaian yang tiba-tiba hening. Suara itu bukan suara idola yang lembut, tapi suara pria yang siap membunuh demi melindungi.

Pemuda-pemuda itu mundur terkejut, kaget melihat tatapan membunuh pria tampan di depan mereka.

"Siapa kau hah?! Urus saja urusanmu!" tantang salah satu teman pemuda itu.

Heesung melangkah maju selangkah, membuat mereka mundur ketakutan. "Dia adalah wanitaku. Dan tidak ada satu pun tangan kotor yang boleh menyentuhnya, apalagi menyakitinya. Pergi... sebelum aku membuat kalian menyesal dilahirkan ke dunia ini."

Ada sesuatu dalam nada bicara Heesung, ada wibawa dan kekuatan yang nyata, yang membuat pemuda-pemuda itu sadar mereka bukan lawan orang ini. Dengan gerutuan marah namun takut, mereka akhirnya pergi bergegas menjauh.

Keheningan melanda sejenak, sebelum keramaian pasar kembali berjalan seperti biasa.

Heesung berdiri diam, napasnya masih memburu karena amarah yang belum reda. Tangan kanannya masih mengepal erat, gemetar karena emosi yang meluap.

Hye-ri berdiri di belakangnya, jantungnya berdegup kencang, bukan karena ketakutan pada pemuda tadi, tapi karena terkejut luar biasa melihat Heesung ada di sini... dan melihat cara pria itu melindunginya dengan begitu ganas dan hebat.

Perlahan, Heesung berbalik badan. Wajahnya masih kaku, tapi saat menatap Hye-ri, kemarahan itu perlahan berubah menjadi kekhawatiran yang jelas terlihat di matanya.

"Kau tidak apa-apa?" tanyanya cepat, matanya menyapu wajah dan tubuh Hye-ri mencari luka sedikit pun. "Apakah dia menyakitimu? Di mana yang sakit? Katakan padaku!"

Hye-ri menatapnya lekat-lekat. Di sini, tanpa kamera, tanpa penonton, tanpa topeng idola... di sinilah Heesung yang sesungguhnya. Pria yang marah besar saat wanitanya disakiti, pria yang siap bertarung meski harus membuka kedoknya sendiri demi melindungi.

"Aku... aku tidak apa-apa," jawab Hye-ri pelan, suaranya sedikit tercekat. "Kau... kenapa ada di sini?"

Heesung terdiam. Ia sadar apa yang baru saja ia lakukan. Ia sadar ia hampir membongkar identitasnya demi Hye-ri. Ia sadar ia bertindak di luar kendali, murni karena naluri melindungi yang tiba-tiba meledak.

Ia menatap mata Hye-ri yang lebar dan bening itu. Untuk pertama kalinya, Hye-ri menatapnya bukan dengan dingin, bukan dengan ketus, tapi dengan pandangan kaget, bingung, dan... kagum yang tersembunyi.

Wajah Heesung memerah sedikit, bukan karena marah, tapi karena gugup yang aneh. Ia memalingkan wajahnya, berdeham pelan untuk menutupi kekalutannya.

"Kebetulan lewat. Aku hanya tidak suka melihat orang sembarangan bertindak kasar. Lagipula..." Heesung membungkuk perlahan, mulai mengumpulkan barang belanjaan Hye-ri yang berserakan ke tanah, suaranya terdengar lebih pelan dan tidak lagi angkuh, "...kalau sampai kau terluka atau kenapa-napa, aku juga yang repot. Nanti ayah kita yang marah. Aku hanya menjaga aset kontrak ini tetap aman, itu saja."

Hye-ri menatap punggung Heesung yang sedang berjongkok di tanah itu. Menatap rambut hitam yang sedikit berantakan itu. Menatap tangan halus yang biasa memegang mikrofon itu kini mengangkat sayuran kotor dari aspal demi dirinya.

Bohong.

Hye-ri tahu itu bohong. Tatapan mata itu, cara dia melindungi, cara dia marah... itu jauh melampaui sekadar 'menjaga aset'.

Hati Hye-ri terasa bergetar aneh. Dinding pertahanan yang ia bangun begitu kokoh selama ini... tiba-tiba saja retak sedikit saja karena satu kejadian di pasar yang berdebu ini.

Heesung bangkit berdiri, menyodorkan kantong belanjaan yang sudah ia rapikan kembali. Ia menatap Hye-ri, kali ini tatapannya berbeda. Ada sesuatu yang berubah di sana.

"Ayo pulang," ucapnya singkat, lalu berjalan lebih dulu. Tapi kali ini, ia tidak berjalan di depan dengan angkuh, melainkan berjalan di samping Hye-ri, sedikit di sebelah kiri, posisi yang paling tepat untuk melindunginya dari bahaya di jalan raya.

Langkah kaki mereka beriringan di tengah keramaian. Tidak ada kata-kata manis, tidak ada pernyataan cinta. Tapi di antara kebisuan itu, ada benih baru yang tumbuh. Benih yang membuat mereka sadar: bahwa di balik permusuhan dan perjanjian itu, ada ikatan lain yang mulai mengikat hati mereka lebih kuat dari kertas apa pun.

Dan Heesung... Heesung mulai sadar satu hal penting: bahwa melihat senyum tulus Hye-ri... ternyata jauh lebih berharga daripada ribuan sorakan penggemar sekalipun.

 

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!