"Kamu itu sudah gendut begini maka jangan banyak makan terus." bu Ningsih menatap anak pertama dia yang sedang mengunyah ayam goreng.
"Ya namanya juga lapar loh, Bu." Anisa menjawab dan dia tetap santai saja mengunyah ayam goreng tersebut.
"Selalu saja melawan kalau diberitahu soal kesehatan untuk diri kamu sendiri, Kamu makan terus dan jarang sekali olahraga." bu Ningsih terus mengoceh karena dia juga tidak ingin bila Anisa terus larut dalam makanan itu.
"Kakak coba setiap pagi jogging sehingga mengurangi berat badan, jangan terlalu banyak makan karbo seperti itu." Arumi juga ikut membuka suara.
"Iya iya si paling langsing, aku tidak sama seperti dirimu yang rajin olahraga dan memiliki tubuh bagus." Anisa langsung menjawab ketus.
"Adik kamu itu memberi nasihat agar tidak semakin gendut saja kamu ini, tapi kalau diberi nasihat terus aja seperti ini dan mudah sekali tersinggung." bu Ningsih menatap sang anak sulung.
"Sudah lah, nanti kalau Anisa memang sudah niat maka dia akan olahraga juga." pak Hardi membuka suara.
Bu Ningsih hanya bisa menarik nafas panjang karena sebenarnya dia bukan mau menghujat Anisa seperti itu, itu dia ingin memberi semangat agar Anisa bisa merubah pola hidup dia yang terkesan memang buruk, dia selalu banyak makan dan terkadang bila malam hari selalu saja memakan makanan berat.
Berat badan Anisa saat ini sudah mencapai sembilan puluh kilo, tentu saja itu menjadi sangat besar bila untuk ukuran para gadis, sementara para gadis lain memiliki tubuh yang langsing dan kulit sehat karena itu adalah daya tarik tersendiri dan tentu saja akan lebih enak dipandang.
Anisa tidak peduli dengan hal itu namun bila ada orang yang menghujat maka dia sakit hati juga, Bu Ningsih ingin sekali bila Anisa sedang sakit hati seperti itu maka dia memiliki motivasi untuk berubah dan menjalani hidup yang sehat agar bisa merubah pola hidup dia, namun Anisa larut pada makanan yang membuat diri dia semakin besar saja.
Nanti bila diberi nasihat maka dia akan tidak terima dan justru mengatakan bahwa orang tuanya pilih kasih, Anisa beranggapan bahwa selama ini hanya Arumi saja yang terus diperhatikan dan disanjung oleh semua orang, meski terkadang ucapan dari bu Ningsih menyakiti hati dia karena Anisa memang mudah sekali tersinggung.
"Kamu lihat ini Arumi yang memiliki....
Braaaaak.
Praaaaang.
"Ya Arumi memang memiliki segalanya dan dia cantik serta langsing!" Anisa membanting piring yang ada di atas meja.
"Kakak Kenapa bersikap seperti itu kepada, Ibu?!" Arumi juga ikut kaget dan dia tidak terima.
"Kalian hanya suka sekali menghujat aku dan membandingkan antara aku dan Arumi, tidak pernah sekali saja ada yang kalian banggakan dari diriku." Anisa menatap semua yang ada di sana dengan air mata berderai.
"Kak, kok kamu jadi sensitif begini dan malah marah sama kita semua." Arumi merasa aneh dengan tingkah Anisa.
"Kau tidak akan pernah paham bagaimana menjadi aku! karena selama ini kau yang terus saja unggul dan aku selalu di bawah." Anisa menunjuk wajah Arumi.
"Anisa! Ibu bukan mau membandingkan kamu dan Arumi, tapi Ibu hanya memberikan contoh yang bagus dan supaya kamu memiliki jalan hidup yang bagus juga." jelas bu Ningsih.
"Oh gitu, jadi jalan hidup yang bagus itu milik Arumi kan dan jalan hidup yang aku pilih ini sangat buruk sekali." Anisa berkata dengan sengit.
"Apa yang ada di dalam otak kamu saat ini, Anisa?!" bentak bu Ningsih karena lama-lama dia juga ikut emosi dengan tingkah sang anak.
"Ibu bela saja dia terus dan tidak usah pernah peduli dengan aku lagi." Anisa bergegas masuk ke dalam kamar.
Pak Hardi hanya bisa menarik nafas panjang bila sudah ada pertengkaran seperti ini karena dia juga tidak tahu harus bagaimana untuk menghentikan mereka, nanti salah ucap malah semakin panjang saja perdebatan itu dan dia akan kena amuk oleh mereka semua.
Kadang perasaan Anisa memang begitu sensitif karena mungkin saja dia mudah tersinggung setelah mendengar omongan dari banyak orang, belum lagi terkadang bu Ningsih salah memilih ucapan ketika akan menasehati sang anak dan malah membawa nama Arumi juga sehingga Anisa merasa di bandingkan dengan sang adik.
Sudah banyak sekali selama ini orang yang memuji Arumi karena gadis itu memang memiliki paras yang begitu menawan, bahkan selama ini juga banyak para pria yang datang untuk mengajak Arumi keluar sekedar jalan-jalan, sampai saat ini juga tidak ada pria yang tertarik kepada Anisa sehingga banyak orang mengatakan bahwa Anisa akan menjadi perawan tua.
"Anisa mau kemana? jangan keluar di saat pikiran sedang seperti itu, Nak." Pak Hardi menghadang langkah sang anak.
"Aku butuh keluar untuk mencari udara segar, Pak." Anisa segera menyambar kunci motor.
"Hati hati di jalan dan jangan terlalu ngebut." teriak pak Hardi.
Bu Ningsih hanya diam saja karena dia terkadang juga emosi dengan Anisa yang begitu keras kepala, dirinya sudah merasa benar karena memberi nasihat agar Anisa ada perubahan dan mau merubah gaya hidup dia itu, tidak pernah didengar oleh sang anak dan justru melawan Dengan cara demikian sehingga hati orang tua ini merasa sakit juga.
"Sudah, perdebatan berat badan ini cukup sampai di sini saja." pak Hardi menatap mereka semua.
"Aku bukan mau membandingkan antara Anisa dan Arumi, tapi aku juga kasihan karena selama ini dia terus menjadi omongan para warga." Bu Ningsih berusaha menjelaskan perasaan dia.
"Ya tapi tidak seperti itu cara yang kamu ambil, dengan cara kamu membandingkan maka itu menyakiti perasaan Anisa." Pak Hardi berusaha menasehati sang istri.
"Ah dasar Anisa saja yang mudah tersinggung." kesal Bu Ningsih dan dia juga sudah terbawa emosi.
"Kamu juga jangan terlalu lantang memberi nasehat kepada Kakak mu, nanti dia akan semakin merasa benci kepada kamu." Pak Ardi menatap Arumi.
"Iya, Pak." Arumi mengangguk kecil karena dia memang tidak pernah membantah.
"Sudah, mari hentikan perdebatan ini Dan tolong tidak usah dibahas kembali." pinta Pak Hardi dengan sangat serius.
"Ya kau terima saja anak mu yang gemuk dan tidak akan pernah bisa berubah itu." sewot Bu Ningsih sambil berlalu masuk ke dalam kamar.
Pak Ardi menarik nafas panjang Karena terkadang dia juga begitu pusing memikirkan tingkah sang istri, kalau sudah debat seperti ini maka tidak akan pernah ada ujung karena mereka tidak ada yang mau salah, dia ingin menengahi namun pada akhirnya dia juga yang akan terlibat masalah itu.
Hallo semua kembali lagi dengan cerita Novita Jungkook, jangan lupa like dan komentar kalian semua ya.
"Gila itu anak bu Ningsih naik motor seperti setan saja." Bu Ita agak kaget karena tadi dia hampir kena serempet.
"Anisa ya?" Mbak Nanda bertanya kepada Bu Ita yang baru saja duduk di warung dia.
"Iya, aku sedang jalan tadi di sini dan naik motor kok seperti itu." Bu Ita geleng-geleng kepala dibuat kelakuan Anisa.
"Kadang kalau melihat orang seperti itu aku rasa ingin mengumpat, sudah jelek wajah tambah pula jelek hati." Mbak Nanda berkata pelan.
"Heh tidak boleh berbicara seperti itu." Kinan menghentikan ucapan Nanda.
"Ya mana orang memang itu dari tabiat dia yang sangat buruk sekali, coba agak sopan dikit dengan orang." Nanda berkata pelan karena sebenarnya dia orangnya jarang julid.
Bu Kita sebenarnya juga setuju dengan ucapan dari Nanda kali ini karena dia juga merasa bahwa terkadang sifat Anisa begitu buruk sekali, membuat orang kesal dan bila orang lain sudah kesal maka akan keluar ucapan yang tidak pantas dari mulut mereka semua karena terkadang manusia juga membuat kesalahan seperti itu.
Terlebih sudah kumpul dan kebetulan ada yang lewat sambil membawa perangai buruk maka mau tidak mau mereka akan membicarakan hal tersebut, itu masih belum bertemu dengan biang kerok yang ada di desa ini, bila Kopsah sampai bertemu dengan Anisa maka sudah pasti dia akan julid dari ujung ke ujung karena sifat Anisa yang memang begitu buruk sekali.
Bisa di katakan bahwa terkadang Anisa tidak memiliki sopan santun terhadap orang yang lebih tua dari dia, bahkan sebenarnya Bu Ita atau mbak Nanda ini tidak pernah mengatai dia gemuk atau bahkan dengan ucapan lain, namun karena selama ini Anisa sudah sering mendengar ucapan itu maka pikiran buruk selalu saja muncul di dalam otak gadis ini.
Dia beranggapan bahwa semua orang pasti akan mengatai hal buruk tentang dia, sebab selama ini sudah banyak sekali orang yang membandingkan antara dia dan juga Arumi sehingga Anisa merasa begitu bosan dengan omongan tersebut. namun hal buruk itu justru membuat dia semakin tenggelam dalam prasangka yang semakin buruk juga, orang yang tidak pernah mengatai dia justru dia sangka mengatai dirinya juga dan bahkan terkadang mereka tidak pernah membicarakan antara dia dan Arumi sama sekali.
Sama seperti tadi ketika melihat Bu Ita yang berjalan sendirian dan memang mereka sempat bertatap mata, Anisa langsung beranggapan bahwa saat itu Bu Ita mengumpat di dalam hati karena dia memiliki tubuh yang begitu gemuk dan wajah buruk rupa seperti ini, bisa di katakan bahwa Anisa selalu overthinking dengan omongan orang lain.
"Untung kau tadi tidak aku tabrak." Anisa menggerutu sendirian dan dia duduk di pinggir jalan.
"Dasar kalian semua hanya bisa menghujat, tidak ada yang pernah bisa paham dengan perasaan aku." Anisa berkata dengan sangat sedih.
"Dia sangat berbeda sekali dengan Arumi ya, tidak seperti saudara kandung." suara itu kembali membayangi telinga Anisa.
Bila sudah seperti itu maka Anisa akan menangis dan terisak pilu di pinggir jalan seperti ini, sebab Dia sangat terluka sekali dan tidak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya adalah gadis yang jelek dan tidak pernah mendapat perhatian, beda dengan Arumi yang selalu mendapat limpahan kasih sayang serta pujian dari para tetangga.
"Aku juga sangat ingin seperti Arumi itu, hiks hiks." Anisa menangis dan menutup wajah dia dengan kedua tangan.
"Hei lihat lah itu babi gemuk sedang menangis." anak-anak yang lewat justru menunjuk Anisa.
"Hahaaaa pasti karena dia mendapat penolakan dari pria tampan." sambung yang lain.
"Pergi kalian!" teriak Anisa kepada para anak-anak itu.
"Hahahaaaa kasihan sekali dia bertubuh besar dan tidak ada orang yang menyukai dirinya, gemuk dan juga berwarna hitam." anak-anak itu masih terus saja mengejek Anisa.
"Pergi, pergi kalian semua!" Anisa kian histeris karena dia memang merasa tertekan dengan ejekan seperti itu.
"Lariiiii babi gemuk mau mengamuk." para anak-anak terus berlari meninggalkan Anisa sendirian.
"Ya tuhan kenapa aku harus diberi rupa yang buruk seperti ini? aku harus menanggung semua hinaan dari orang-orang." Anisa kian merasa sedih dengan ini semua.
"Aku ingin cantik seperti Arumi juga, aku ingin langsing." isak Anisa.
Siapa tidak ingin cantik dan juga langsung seperti para gadis lain Karena itu memang harapan semua wanita yang ada di dunia ini, tapi tentu saja itu kembali pada tempat kita masing-masing dan juga tergantung usaha yang akan kita lakukan bila ingin mendapatkan tubuh dan rupa seperti itu.
Selama ini Anisa sangat malas dan dia tidak pernah mau olahraga agar kesehatan tubuh dia terjaga dan memiliki tubuh yang menawan, bila Arumi mengajak dia untuk olahraga maka Anisa beranggapan bahwa sang Adik sedang mengejek dia dan hanya ingin pamer saja bahwa Arumi memiliki tubuh yang sangat menggoda di mata para pria.
Anisa selalu penuh dengan overthinking dan pikiran buruk terhadap orang lain sehingga sulit sekali untuk merubah cara pandang dia, padahal terkadang Arumi sudah memilah kata yang sangat halus agar Anisa tidak merasa tersinggung dan mau menerima tawaran dari dia untuk melakukan olahraga serta diet bersama sehingga memiliki tubuh yang bagus juga.
"Huhuhuuu kenapa hidup sangat tidak adil seperti ini." isak Anisa sambil mengusap ingus yang keluar dari hidung.
"Ih jorok sekali gadis gemuk itu." seorang pemuda berkata kepada teman dia karena jarak mereka yang sangat dekat.
"Coba tebak aroma dia saat ini, pasti sangat menusuk dan seperti air comberan." sambung teman yang lain.
"Hitam dan juga gemuk, entah apa yang dia pikirkan sehingga mau lahir dengan bentuk seperti itu." ujar pria pertama tadi.
"Aku kalau jadi dia pasti akan bunuh diri." Angga berkata sambil tertawa karena dia memang memiliki paras yang sangat menawan.
"Hahaaaaa tidak sanggup hidup di dunia ini seperti itu, tapi setidaknya walau kita memiliki paras buruk namun harus berusaha juga menjadi lebih bagus lagi." Pandu berkata dengan serius.
"Ah kalau bentuk seperti dia itu mana mungkin bisa berubah, kecuali Dia mau operasi plastik pergi ke Korea sana." ujar Angga kembali dan dia semakin kencang tertawa sambil menatap Anisa.
Anisa sangat terhina dengan ini semua, niat hati ingin mencari udara segar dan melupakan rasa sedih yang ada di dalam hati ini, namun ternyata ketika di luar justru mendapat penghinaan yang jauh lebih parah lagi sehingga Anisa harus merasa kian terpuruk dan tidak tahu harus bagaimana untuk menghadapi ini semua.
Selamat malam Besti, yok like dan komen kalian semua.
"Kamu mana saja sampai baru pulang larut malam seperti ini?" pak Hardi bertanya kepada Anisa yang baru pulang.
"Hanya jalan-jalan saja menghibur pikiran, Pak." jawab Anisa dengan wajah yang begitu lesu sekali.
"Nak, Bapak tahu apa yang sedang kamu pikirkan saat ini. namun kita juga tidak bisa untuk mengerem mulut orang agar berbicara sesuai dengan apa yang kita mau!" pak Hardi mengajak sang anak untuk berbicara.
"Mungkin bila hanya dari orang lain saja maka aku tidak akan sesakit ini, Pak!" Anisa menjawab dengan mata yang mulai berembun.
"Ibu kamu ngomong begitu bukan karena dia tidak menyukai kamu, tapi karena dia ingin kamu berubah dan menjalani hidup yang lebih baik." pak Hardi berusaha untuk mendinginkan hati Anisa.
Anisa menghelai nafas panjang sambil membuang tatapan keluar rumah karena dia merasa terkadang bu Ningsih bukan menasehati tapi sama saja menghujat dia, omongan yang keluar dari mulut wanita itu seolah menjadi pisau yang begitu tajam untuk Anisa ini sendiri.
Padahal bu Ningsih adalah orang yang telah melahirkan Anisa ke dunia ini dan ternyata sekarang justru dia ikut menghujat juga, tunggu itu sangat menyakiti hati Anisa karena dia telah berusaha untuk berpikir positif namun tetap saja hasil yang dia terima sangat menyakitkan hati seperti saat ini.
Untuk orang lain terkadang dia masih bisa menerima dengan perasaan berkecamuk juga Karena bila mendapat hinaan tentu saja itu sangat menyakiti hati, tapi yang jauh lebih parah adalah ketika omongan itu keluar dari keluarga terdekat sehingga Anisa semakin tertekan dan dia rasa ingin kabur saja dari dunia yang kejam ini.
Melihat Arumi yang begitu cantik dan banyak dikagumi oleh semua orang sehingga pasti ada rasa iri di dalam hati Anisa, kesalahan Anisa hanyalah Dia tidak ingin berubah dan justru ingin memaksa semua orang untuk menerima keadaan dia apa adanya, tidak ada niat di dalam hati untuk berubah menjadi lebih baik dan memiliki tekad yang sangat kuat.
Arumi padahal juga sering mengajak dia untuk sering olahraga agar tubuh ini sedikit berbentuk, namun Anisa menerima itu semua sebagai hinaan dan dia akan langsung marah kepada sang adik karena menganggap itu adalah ucapan yang sangat pedas sehingga bisa dikatakan bahwa Anisa bermasalah pada hati dia sendiri.
"Aku mau istirahat dulu, Pak." Anisa masuk ke dalam kamar sambil mengusap air mata ini.
"Kamu seharusnya bisa menerima omongan dari kami, kami ini orang tua kamu Dan bukan ingin menjerumuskan kamu ke dalam lobang neraka." pak Hardi lama-lama emosi juga dengan Anisa.
"Bapak bisa bicara seperti itu saat ini, padahal aku memiliki paras yang buruk karena menurun dari kamu!" Anisa berteriak dan menunjuk wajah pak Hardi.
"Apa apaan kamu Anisa!" bu Ningsih keluar dari kamar karena dia mendengar keributan itu.
"Kalian yang salah karena telah membuat aku seperti ini, ini semua karena Bapak memiliki paras buruk sehingga menurun pada diriku!" Anisa menyalahkan pak Hardi.
PLAAAAAAK.
Satu tamparan keras mendarat di wajah Anisa ketika bu Ningsih sudah tidak sanggup menahan emosi yang ada di dalam diri, permasalahan tadi siang masih saja berlanjut Dan sekarang dia merasa Anisa semakin kurang ajar kepada orang tua dia sendiri.
"Dia adalah orang tua yang sudah membesarkan kamu!" geram Buk Ningsih.
"Ya tampar saja aku yang jelek ini, bila Arumi yang berkata demikian maka dia tidak akan mendapat tamparan karena Arumi berwajah cantik!" Anisa menjawab dengan suara gemetar.
"Mau sampai kapan kau akan terus menyiksa diri seperti ini Anisa? bila kau tidak ingin melakukan perubahan maka terima saja nasib yang buruk ini." bu Ningsih berkata dengan lantang.
"Kalian orang tua tidak berguna dan aku tidak akan pernah bisa menerima takdir buruk ini." Anisa segera masuk ke dalam kamar dan membanting pintu.
Braaaaaak.
"Ya Allah." pak Hardi hanya bisa mengusap dada melihat kelakuan sang anak.
Anisa semakin tidak terkendali karena dia merasa rendah diri dan semua orang yang menatap Dia seolah menjadi hinaan, mungkin karena selama ini dia memang hidup tertekan dan selalu mendapat perbandingan dari Arumi sehingga orang melihat sedikit saja maka dia akan merasa bahwa tatapan itu adalah sebuah hinaan.
Selama ini dia juga sudah mencoba berbagai macam cara agar kulit sedikit bersih karena menurut dia walau gemuk tapi berkulit bersih masih sedikit lebih baik, namun ternyata itu tidak mudah karena Anisa justru banyak tertipu dengan barang abal-abal dan dia tidak mendapatkan hasil yang maksimal, Arumi sudah sering merekomendasikan yang bagus namun Anisa menolak karena dia tidak ingin berhubungan dengan Arumi.
"Kau membenci kami yang ada di dalam rumah ini, padahal kami semua tidak pernah membenci dirimu!" Arumi keluar juga dari dalam kamar Karena dia sudah tidak tahan.
"Sudah, Nak." pak Hardi tidak ingin bila sang anak banyak bertengkar.
Namun Arumi tidak bisa untuk diam saja karena selama ini dia juga sudah banyak mengalah dan walau terkadang ucapan Anisa jauh lebih pedas kepada dia, maka Arumi diam saja karena dia beranggapan bahwa itu semua adalah tekanan mental yang begitu berat karena Anisa mendapat banyak hinaan dari orang-orang.
"Aku sama sekali tidak bersalah karena aku tidak pernah menghina dirimu, kau marah padaku karena banyak orang yang memuji aku." Arumi masih berteriak di depan pintu kamar Anisa.
"Diam kau, binatang!" Anisa menjawab dari dalam kamar dia sendiri.
"Jangan keterlaluan seperti itu, Anisa!" Bu Ningsih juga ikut panas mendengar ucapan Anisa kepada sang adik.
"Binatang, kalian semua adalah binatang dan tidak pernah bisa peduli dengan perasaan aku!" ujar Anisa kembali.
Bu Ningsih berusaha keras untuk membuka pintu kamar Karena dia sudah tidak sanggup menahan emosi, terlebih orang tua mana yang akan menerima bila di katai binatang oleh anak sendiri seperti itu. namun pintu kamar Anisa terkunci rapat dari dalam sehingga tidak bisa untuk dibuka dari luar.
"Bu, sudahlah dan jangan dipikirkan lagi." Arumi segera menarik bu Ningsih menjauh karena dia tahu keadaan menjadi semakin tidak terkendali.
"Tolong berhenti karena sekarang kepala ku sudah sangat sakit." pak Hardi memegangi kepala dia sendiri.
Bu Ningsih berusaha untuk mengatur nafas karena dia tahu pak Hardi memiliki darah tinggi sehingga bila terus seperti itu maka bisa saja nanti tekanan tensi semakin tidak karuan, walau dia juga menyadari bahwa permasalahan antara jelek dan cantik ini tidak akan pernah bisa selesai di dalam rumah mereka sampai kapan saja.
selamat siang semuanya, jangan lupa like dan komentar kalian ya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!