"Happy Anniversary ke-3 Baby." Ucap Dafa dengan senyum manis. Kiana Mahira menyambutnya dengan pelukan hangat.
"Happy anniversary juga Baby. Jadi kapan kita menikah?" Tanya Kiana langsung ke intinya. Menurutnya tiga tahun menjalin hubungan dengan Dafa itu sudah cukup untuk mereka saling mengenal. Tanpa Kiana sadari kekasihnya yang tampan berwajah tenang itu sedang merencanakan sesuatu yang licik malam ini.
Dafa tersenyum manis menatap Kiana, mengusap lembut kepala Kiana seolah semua akan baik-baik saja. "Sabar dulu ya baby, tahun ini aku pasti menikahimu. Kalau bisnisku sudah lancar kita akan segera urus pernikahan."
"Emm, baiklah aku mengerti. Tapi beneran ya uang yang kamu pinjam dari tabunganku itu akan berkembang," Ujar Kiana masih ingin kepastian lebih.
"Iya Baby, sudah jangan bahas hal lain dulu. Aku membeli stroberi milkshake untukmu, minumlah." Ucap Dafa sembari menyodorkan minuman kesukaan Kiana itu. Tanpa ragu Kiana menerima dan meneguknya. Kiana tidak tahu di dalam minuman itu tercampur obat yang akan membuatnya kehilangan kesadaran.
Satu..dua..tiga..
Kiana ambruk satu menit setelah meminum itu. Dafa tersenyum licik, "Maaf Baby aku terpaksa melakukan ini, aku tidak mau mati."
Setelah memastikan Kiana terkapar tidak berdaya, Dafa menghubungi Adnan, pria tua rentenir yang meminta jaminan Kiana agar menganggap hutang Dafa sebesar 100 juta itu lunas.
1 Jam kemudian...
Malam di sudut ibu kota selalu menyisakan sisi kelam yang pekat. Di dalam sebuah ruangan VIP kelab malam yang remang-remang dan berbau alkohol bercampur asap rokok, Kiana Mahira terbangun dari pingsannya, merasa dunianya perlahan runtuh. Kepalanya berputar hebat, pandangannya mengabur, dan tubuhnya mendadak kehilangan semua energi.
"A-aku dimana?" Suara Kiana sangat lemah.
"Sudah bangun sayang, Minumlah ini gadis manis, malam ini kamu milikku." Ucap seorang pria tua yang menjadi bos rentenir kepada Kiana Mahira.
Pria bertubuh tambun dengan senyum menjijikkan itu mendekatkan gelas berisi cairan pekat ke bibir Kiana. Kiana, gadis muda berkulit putih, rambut panjang, memiliki mata yang indah itu terkulai lemas karena mulai terpengaruh alkohol yang terpaksa dia minum itu. Setiap tetes cairan itu terasa seperti racun yang membakar tenggorokannya, sekaligus mengikis kesadarannya secara perlahan.
Kiana yang setengah sadar itu tahu dia jebak. Dia masih ingat tadi Dafa memberinya minuman lalu dia pingsan dan berakhir bangun di tempat seperti ini. Kiana tidak pernah menyangka, hidupnya yang tenang akan hancur dalam satu malam karena pengkhianatan orang paling dia percaya. Tapi Kiana tidak akan menyerah semudah itu.
"Lepaskan... lepas..." gumam Kiana, suaranya parau dan hampir habis.
"Hahaha! Lepaskan? Kekasihmu sudah menjualmu padaku, Sayang. Jadi, nikmati saja malam ini. Singkirkan tanganmu yang gemetar itu," bisik pria tua itu, jemari kasarnya yang keriput mulai berani menyentuh pundak Kiana yang sedikit terbuka karena cardigan yang dia pakai sedikit terlepas memperlihatkan baju dalaman tali tipis yang dia kenakan.
Sentuhan menjijikkan itu seketika memicu adrenalin di dalam tubuh Kiana. Rasa jijik dan amarah yang meledak mengalahkan rasa lemasnya untuk sesaat. Kiana dengan kesadaran yang masih tersisa, mengumpulkan seluruh tenaga di kakinya, lalu menendang pria tua bangka itu tepat di selangkangannya dengan sekuat tenaga.
Brak!
"Akhhh! Keparat! Selangkanganku!" teriak bos rentenir itu histeris, langsung jatuh bertelut di lantai sambil memegangi bagian vitalnya yang kesakitan. Wajahnya memerah padam menahan nyeri luar biasa akibat tendangan maut Kiana.
Dua anak buah sang rentenir yang berjaga di sudut ruangan langsung panik melihat bos mereka tumbang.
"Bos! Anda tidak apa-apa?!"
"Kejar gadis itu! Cepat!" raung si bos dengan suara melengking menahan sakit.
Namun, anak buahnya tidak mengejar karena lebih mementingkan bos mereka yang kesakitan karena tendangan maut Kiana. Mereka sibuk memegangi dan membantu bos mereka yang berguling-guling di lantai, memberikan celah emas yang tidak disia-siakan oleh Kiana.
Dengan napas terengah-engah dan air mata yang mulai menetes, Kiana membenarkan letak cardigannya lalu berlari keluar dari ruangan laknat itu. Dia menerobos kerumunan orang yang sedang berdansa, keluar menuju jalanan malam yang dingin. Kiana berlari sekuat tenaga, mengabaikan rasa pusing yang semakin mencengkeram kepalanya. Rasa takut menjadi santapan pria tua itu jauh lebih besar daripada rasa sakit di tubuhnya.
Dia terus berlari tanpa arah, menjauh dari pusat keramaian, sampai akhirnya dia berhenti di jalan jembatan yang sepi. Napasnya memburu, paru-parunya terasa terbakar. Kiana bersandar pada pembatas besi jembatan, mencoba menghirup udara malam sebanyak-banyaknya. Namun, kondisinya yang mabuk berat membuatnya limbung. Efek alkohol yang tadi sempat tertahan oleh rasa takut, kini berbalik menyerangnya dengan berkali-kali lipat lebih parah. Kesadarannya benar-benar berada di ambang batas.
"Dafa... tega kamu..." isak Kiana lirih.
Pandangannya berputar 360 derajat. Bumi seolah berguncang hebat di bawah kakinya. Kiana kehilangan keseimbangan tubuhnya. Dia oleng ke belakang, menabrak pembatas yang rendah, dan hampir jatuh dari atas jembatan itu menuju sungai gelap di bawahnya. Kiana memejamkan mata, bersiap pasrah jika malam ini adalah akhir dari hidupnya yang malang.
Set!
Sebuah tangan menggenggamnya menahanya agar tidak terjatuh. Cengkeraman tangan itu begitu kuat, kokoh, dan hangat, langsung menarik tubuh Kiana kembali ke pijakan yang aman dalam satu sentakan.
Pemilik tangan itu adalah Ardan Arkatama. Pria tinggi, bertubuh tegap, berwajah tampan yang kebetulan sedang berada di sana untuk mencari ketenangan diri menikmati angin malam yang seakan bisa menyapu pikiran beratnya. Ardan sedang menghadapi tekanan batin yang luar biasa dari kakeknya yang terus menuntutnya untuk segera menikah dan memberikan pewaris bagi keluarga Arkatama, sementara dia harus merahasiakan rahasia besar tentang vonis kemandulannya dari dunia luar.
Saat sedang melamun menatap kegelapan malam, Ardan tiba-tiba dikagetkan oleh seorang gadis yang berjalan sempoyongan dan hampir terjun bebas dari jembatan. Refleksnya sebagai pria terlatih membuatnya bergerak cepat menyelamatkan gadis itu.
Namun, Kiana yang emosinya sedang tidak stabil langsung panik begitu merasakan sentuhan fisik.
"Lepaskan aku, namaku Kiana Mahira! Aku bukan Dafa! Aku bukan yang hutang padamu! Jangan sentuh aku!" Kiana meronta mengira Ardan orang jahat. Dia memukul-mukul dada bidang Ardan dengan tangannya yang lemas, mengira pria di hadapannya adalah anak buah rentenir yang berhasil mengejarnya.
Ardan mengernyitkan dahi tebalnya. Dia menangkap kedua pergelangan tangan Kiana dengan mudah. Dari jarak sedekat ini, Ardan mencium aroma alkohol dari Kiana. Bau yang cukup kuat tercium dari napas gadis itu.
"Hei! Diamlah! Aku bukan penagih utang," ujar Ardan dengan suara baritonnya yang berat dan dingin. Dia mencoba mengguncang tubuh Kiana sedikit, mencoba menyadarkan Kiana dari pengaruh zat memabukkan itu. "Lihat aku. Kamu aman. Berhenti meronta atau kita berdua akan jatuh."
Namun saat mereka berhadapan, Kiana membuka mata lebar-lebar. Efek alkohol membuat halusinasinya bekerja dengan liar. Di bawah temaram lampu jembatan, wajah tampan Ardan yang memiliki rahang tegas, hidung mancung sempurna, dan mata elang yang tajam terlihat begitu tidak nyata di mata Kiana. Rasa takutnya mendadak menguap, digantikan oleh binar kekaguman yang polos.
"Wah... kamu tampan sekali," bisik Kiana dengan suara mendayu, matanya berkedip lambat. "Aku sudah mati ya? Kamu mas Bidadari surga ya?"
Ardan terpaku. Dia sudah biasa dipuji oleh banyak wanita, tapi tidak pernah ada wanita yang menatapnya dengan pandangan sebersih dan selucu ini dalam kondisi mabuk berat.
Kiana yang sudah kehilangan kesadaran tertawa kecil sembari dengan tidak sopan membelai rahang Ardan. Jemari lentiknya yang dingin menyusuri kulit wajah Ardan, bergerak naik ke pipi hingga ke bibir pria itu.
"ehehmmm.. Kamu sangat tampan, bibirmu lembut sekali." Ucap Kiana tanpa rasa takut.
Ardan menghela napas kasar, memegang tangan lancang Kiana. "Singkirkan tanganmu, Nona. Kamu mabuk berat. Di mana rumahmu? Aku akan memanggilkan taksi." Ardan menggoyangkan bahu Kiana menyuruh wanita itu sadar.
Tapi Kiana semakin lancang. Alih-alih mendengarkan, dia justru menarik kerah kemeja Ardan agar menunduk, mengikis jarak di antara mereka hingga tidak ada ruang tersisa, lalu mencium bibir pria ini dengan berani.
Cup.
Mata Ardan membelalak kaget. Sentuhan bibir Kiana yang lembut, basah, dan manis secara instan mengirimkan sengatan listrik aneh yang menjalar ke seluruh saraf tubuhnya. Jantung Ardan bertalu keras.
"Emhh.." Ardan menggeram keras. Lalu refleks mendorong Kiana meski tidak melepaskannya karena kalau di lepas Kiana akan jatuh tersungkur. Dia memegang kedua pinggang Kiana dengan erat, menahan tubuh gadis itu agar tetap tegak sementara napasnya sendiri mulai memburu.
"Sialan... Sadarlah, kamu akan menyesal jika melakukan ini padaku," ancam Ardan, suaranya kini bergetar, tidak lagi sedingin tadi. Ada kilat gairah yang mulai tersulut di matanya. Pria mana yang tidak goyah jika tiba-tiba diserang dengan begitu intim oleh gadis secantik Kiana?
Tapi Kiana yang sudah gila tidak mundur. Pengaruh alkohol telah menghilangkan seluruh urat malunya. Yang dia tahu, pria di depannya ini terasa sangat hangat dan nyaman, berbanding terbalik dengan dunia luar yang baru saja mengkhianatinya. Dia justru memeluk Ardan dan mengusap-usapkan dirinya pada tubuh tegap pria itu. Kiana menenggelamkan wajahnya di leher Ardan, menghirup aroma maskulin khas pria itu yang entah kenapa terasa begitu menenangkan.
Pergesekan itu menjadi bumerang bagi Ardan. Melalui kemeja tipisnya, Ardan dapat merasakan dada kenyal milik Kiana yang membuatnya sebagai pria normal langsung on. Sentuhan lembut namun menuntut dari Kiana meruntuhkan benteng pertahanan Ardan yang terkenal kokoh.
Ardan yang sedang frustasi karena tuntutan pernikahan dari kakeknya, sementara dia merahasiakan kemandulannya itu, mendadak tidak bisa berpikir jernih. Pikirannya buntu. Tekanan mental yang dia pendam berhari-hari seolah menemukan jalan keluar lewat gairah yang membakar ini. Ardan egois malam ini. Dia hanya berpikir wanita ini yang memancingnya lebih dulu, jadi dia tidak perlu merasa bersalah untuk melayaninya.
"Kamu sendiri yang memulainya, Kiana Mahira. Jangan salahkan aku jika besok kamu menangis, merutuki kebodohanmu sendiri." bisik Ardan dengan suara rendah yang berbahaya.
Tanpa membuang waktu lagi, Ardan menarik Kiana menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh di pinggir jembatan. Dia membuka pintu belakang, mendorong tubuh Kiana ke dalam jok kulit yang luas, dan ikut masuk sebelum mengunci pintu rapat-rapat. Di dalam sana tidak ada keraguan, mereka melakukannya. Kiana yang kehilangan akal sehat terus menuntut kehangatan, sementara Ardan yang dikuasai gairah dan frustrasi memimpin permainan dengan dominan. Pakaian mereka terlepas satu demi satu, menyisakan kulit yang saling bersentuhan di dalam kehangatan mobil yang kedap suara.
Namun, saat permainan bermula dan Ardan melakukan penetrasi pertamanya, dia menyadari sesuatu yang membuat gerakannya membeku sesaat. Ada hambatan yang nyata, sebuah robekan alami yang menandakan sebuah kesucian yang belum pernah tersentuh oleh pria mana pun. Gadis di bawahnya ini masih murni.
"Akhh.. mas bidadari... pelan-pelan.. sakit.." rintih Kiana perih, air mata mengalir dari sudut matanya yang terpejam, rasa sakit itu sempat menembus dinding mabuknya untuk sesaat. Dia mencengkeram erat bahu kokoh Ardan, menyalurkan rasa sakit yang baru pertama kali dia rasakan.
Ardan terpaku. Sial, dia salah menilai gadis ini. Dia mengira Kiana adalah wanita kelab malam biasa yang sengaja menggoda pria kaya. Namun, melihat bercak merah dan rintihan polos itu, ego kelaki-lakian Ardan bergetar hebat. Ada rasa bersalah yang menusuk nuraninya, tetapi gairah yang telanjur membakar di puncaknya membuat Ardan tidak bisa berhenti. Dia menunduk, mengecup air mata Kiana, turun ke bibir memberi sensasi kenyamanan, lalu melanjutkan gerakannya dengan lebih lembut namun tetap bertenaga.
"Akh.. Emmh.." Hanya suara desahan dan lenguhan yang memenuhi ruang sempit dalam kabin mobil mewah itu.
Di bawah rembulan yang bersinar terang malam itu, di dalam mobil mewah yang terparkir di jembatan sepi, mereka berdua melakukan sebuah dosa yang di dasari karena sebuah tekanan masalah masing-masing. Kiana dengan keputusasaan karena dikhianati, dan Ardan dengan rasa frustrasi atas takdir hidupnya.
"Arrkkhh.. Eemmh.." Ardan memacu gairah itu hingga mencapai puncaknya. Dan ketika ledakan kenikmatan itu tiba, Ardan tanpa ragu menumpahkan benihnya ke dalam rahim Kiana hingga tak tersisa. Mengapa dia harus ragu? Di dalam kepalanya yang egois, Ardan mengingat satu fakta medis yang selama ini menjadi kutukannya, dia mandul.
Setelah gairah yang terpuaskan itu, Ardan memakai kembali bajunya. Satu per satu kancing kemejanya dikembalikan ke tempatnya, disusul dengan celana kain mahalnya yang sempat teronggok di lantai mobil. Dia melirik ke gadis yang bernama Kiana itu yang kini sudah terkulai lemas tertidur. Wajah gadis itu tampak begitu polos di bawah temaram lampu kabin yang redup, dengan sisa-sisa air mata yang mengering di sudut matanya yang indah.
Ardan menghela napas berat. Ada rasa bimbang yang sempat mampir di kepalanya. Namun, egonya sebagai seorang pria berkuasa kembali mengambil alih. Ardan tidak memakaikan baju Kiana kembali, merasa itu bukan kewajibannya dan hanya akan mengganggu tidur lelap gadis yang kelelahan tersebut. Tapi dia hanya menyelimutkan jas miliknya, membiarkan wanita itu tidur untuk mengumpulkan kesadarannya sesaat. Kain jas tebal itu kini membungkus tubuh polos Kiana, menyebarkan aroma parfum maskulin khas Ardan yang kuat.
Setelah memastikan Kiana tertutup rapat, Ardan berpindah ke kursi depan. Dia menyandarkan kepalanya di kemudi, menatap lurus ke depan, ke arah jalanan jembatan yang masih sepi dan berkabut. Pikirannya melayang jauh, memikirkan bagaimana takdir membawanya ke dalam situasi sekotor ini. Jam digital di dasbor mobil terus berputar, merayap perlahan membelah keheningan malam yang dingin.
Waktu berlalu, dan atmosfer kegelapan mulai menipis berganti abu-abu keperakan. Sebelum fajar terbit, Kiana terbangun. Kelopak matanya yang lentik bergetar sebelum akhirnya terbuka perlahan. Hal pertama yang menyerang indranya adalah rasa sakit yang luar biasa di bagian atas kepalanya. Dia memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit, berdenyut-denyut kejam akibat efek sisa alkohol semalam. Namun, rasa sakit di kepala belum seberapa dibandingkan dengan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Tubuhnya jauh terasa lebih terasa remuk, otot-ototnya kaku, dan dia merasakan nyeri di area intinya. Rasa perih yang asing dan menusuk-nusuk.
Kiana terlonjak, mencoba untuk duduk tegak, namun gerakan itu justru membuat jas yang menyelimutinya merosot. Kiana terkejut setengah mati saat dirinya sadar tidak memakai apa-apa di balik jas wangi yang menyelimutinya. Detak jantungnya berpacu gila-gilaan, memompa adrenalin yang seketika mengusir sisa-sisa rasa kantuknya. Dengan mata membelalak panik, Kiana melihat seluruh bajunya tergeletak di kursi sampingnya tertidur. Dress sederhananya kusut, terlipat asal di sudut jok kulit.
"Astaga... apa yang terjadi?" bisik Kiana, suaranya gemetar hebat menahan tangis.
Ingatannya masih buram. Potongan-potongan kejadian semalam berputar acak seperti kepingan puzzle yang rusak. Kiana belum ingat apapun, justru panik mengira berhasil dilecehkan oleh rentenir tua itu semalam. Pikirannya langsung melompat pada skenario terburuk bahwa pria tua bangka bertubuh tambun itu telah berhasil menangkapnya dan merenggut kesuciannya.
"Gak... gak mungkin... itu tidak mungkin terjadi..." rintih Kiana mulai histeris. Dia bergerak rusuh di kursi belakang, mencoba meraih pakaiannya dengan tangan yang bergetar hebat, menimbulkan suara gesekan kain dan kepanikan yang bising.
Sampai suara berisiknya membuat Ardan bangun dari tidur yang tidak benar-benar tidur itu. Ardan, yang sejak tadi hanya memejamkan mata di kursi kemudi, langsung menegakkan tubuhnya. Suasana bising di belakangnya membuat ketenangannya terusik.
"Bisa diam tidak? Berisik sekali," suara bariton yang berat dan dingin memecah kepanikan Kiana.
Kiana tersentak. Suara itu bukan milik si rentenir tua. Suara itu terlalu berwibawa, terlalu muda, dan sangat asing. Dengan tubuh yang masih terbungkus jas hitam tebal, Kiana memundurkan tubuhnya hingga merapat ke pintu mobil, menatap ngeri ke arah kursi depan.
"Ka-kamu siapa?!" tanya Kiana dengan nada bergetar, menyembunyikan rasa takutnya yang membubung tinggi.
Ardan menoleh ke belakang, membuat wajah tampannya kembali terlihat oleh Kiana. Di bawah pencahayaan lampu mobil yang redup, garis rahangnya yang tegas, hidung mancungnya yang sempurna, dan mata elangnya yang tajam terpampang jelas.
Begitu melihat wajah itu, ingatan Kiana seperti dihantam ombak besar. Kilasan-kilasan memori semalam mendadak berputar jernih di otaknya. Jembatan sepi, rasa frustrasinya, genggaman erat pria ini yang menyelamatkannya dari maut, dan yang paling memalukan... Kiana langsung ingat kejadian semalam dia yang dengan bodohnya mencium pria yang ingin menolongnya dan berakhir di dalam mobil ini. Wajah Kiana seketika memucat, berganti merah padam karena rasa malu dan syok yang luar biasa. Dia sendiri yang memancing pria ini. Dia yang menarik kerah kemejanya.
Ardan menatap Kiana dengan pandangan datar tanpa emosi, menyadari perubahan ekspresi di wajah gadis itu. "Sudah ingat?" tanya Ardan dingin, nadanya terdengar begitu sinis. "Baguslah kalau ingatanmu sudah kembali. Aku tidak mau mendengar penyesalanmu."
Kiana hanya bisa terpaku, bibirnya kelu tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Rasa malu, bersalah, dan hancur bercampur menjadi satu di dalam dadanya.
Ardan tidak berniat memperpanjang interaksi itu. Dia memutar tubuhnya, lalu membuka pintu kemudi. Ardan keluar dari mobil memberi ruang Kiana untuk memakai bajunya. Dia tahu gadis itu butuh privasi untuk merapikan diri dari kekacauan yang mereka buat bersama.
Brak
Pintu mobil tertutup, menyisakan Kiana yang langsung menangis dalam diam, dengan cepat memakai kembali pakaiannya yang kusut.
Sementara itu, di luar mobil, angin pagi bertiup sangat dingin menusuk kulit kemeja Ardan yang sudah tidak serapi biasanya. Ardan berjalan beberapa langkah menjauh dari mobilnya, merogoh saku celana, dan mengeluarkan ponselnya. Di luar, Ardan langsung menelpon asisten pribadinya, Bimo.
Nada sambung berbunyi tiga kali sebelum akhirnya terdengar suara parau dari seberang sana. 📞 "Halo pak,"
"Halo, Bimo. Kemari sekarang juga. Bawa uang cash 10 juta, aku sudah mengirim lokasinya," perintah Ardan tanpa basa-basi, suaranya mutlak tidak menerima bantahan.
Bimo di seberang telepon dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya di pagi itu, mengerang pelan sambil mengucek matanya. Jam dinding di kamarnya bahkan belum menunjukkan angka empat, dan bosnya sudah memberikan perintah yang tidak masuk akal.
📞 "Ini masih pagi buta, Pak..." gumam Bimo dengan suara khas orang baru bangun tidur. Bimo sembari menjawab telepon itu sembari membuka pesan di ponselnya, melihat koordinat lokasi yang dikirimkan oleh sang bos. Matanya yang mengantuk langsung melebar begitu melihat titik merah di aplikasinya.
📞 "Pak... Anda berada di tempat yang cukup sepi. Anda tidak sedang dirampok kan? Kenapa di pagi buta seperti ini Anda meminta uang cash 10 juta?" tanya Bimo panik, suaranya mendadak melengking penuh kekhawatiran. Lokasi jembatan itu terkenal sepi dan rawan di jam-jam rawan seperti ini.
Ardan berdecak kesal, memijat pelipisnya yang mendadak pening mendengarkan kecerewetan asistennya. "Sudah jangan banyak bicara. Cepat kemarilah. Aku beri waktu dua puluh menit."
Mendengar nada suara Ardan yang mulai meninggi dan tidak ingin didebat, Bimo langsung menegakkan tubuhnya di atas kasur. 📞 "Baik, Pak. Saya segera kesana sesuai perintah Anda. Saya cari ATM atau membuka brankas kantor dulu."
Telepon ditutup sepihak oleh Ardan. Pria itu memasukkan kembali ponselnya ke saku, lalu bersedekap dada sambil bersandar di bagian depan mobilnya, menunggu dengan tidak sabar.
***
20 menit berlalu tepat, sebuah mobil sedan perak membelah kabin pagi dan berhenti tepat di belakang mobil Ardan. Pintu terbuka, dan Bimo keluar dengan langkah tergesa-gesa, wajahnya tampak cemas dengan rambut yang sedikit acak-acakan karena terburu-buru. Bimo sampai di sana dengan sebuah amplop cokelat tebal di tangannya.
Ardan melirik asistennya itu dengan pandangan datar. Di sisi lain, Kiana masih belum keluar dari mobil. Gadis itu masih menyiapkan diri untuk berhadapan dengan pria yang semalam dia panggil mas bidadari dengan lancang. Di dalam mobil, Kiana terus meremas jemarinya, menahan rasa takut dan gemetar yang belum sepenuhnya hilang.
"Pak Ardan! Anda tidak apa-apa kan?" Bimo setengah berlari menghampiri bosnya, matanya menyapu seluruh tubuh Ardan untuk memastikan tidak ada luka. "Ini uangnya, Pak. Mana penjahatnya? Mau saya panggilkan polisi?" tanya Bimo bertubi-tubi sambil menyodorkan amplop cokelat tersebut.
Bertepatan dengan itu, pintu belakang mobil Ardan terbuka perlahan. Kiana akhirnya keluar dari mobil.
Bimo kaget melihat ternyata bosnya bersama seorang wanita. Matanya melotot sempurna, mulutnya sedikit menganga menatap sosok gadis yang baru saja keluar dari kursi belakang mobil mewah bosnya yang terkenal anti-wanita itu.
Kiana terlihat berantakan meski dia sudah mencoba merapikan penampilannya. Rambut panjangnya yang indah sedikit kusut, cardigannya terlihat tertekuk karena semalam ditaruh begitu saja dan wajahnya pucat pasi tanpa riasan dengan mata yang sedikit sembap. Kiana melangkah mendekat dengan kepala tertunduk, tidak berani menatap langsung ke arah dua pria di depannya.
Kiana mendekat ingin minta maaf, bibirnya baru saja terbuka untuk mengucapkan kata penyesalan atas kelancangannya semalam. "Maaf... soal semalam, saya—"
Tapi sebelum itu, Ardan memotong kalimatnya dengan dingin. Dia merebut amplop cokelat dari tangan Bimo, lalu memberinya uang cash 10 juta itu langsung ke hadapan Kiana.
Kiana tertegun, menatap amplop tebal di tangan Ardan dengan pandangan tidak mengerti.
"Ambil ini," ucap Ardan, suaranya terdengar seperti perintah mutlak tanpa bantahan. Ardan mengatakan lupakan kejadian semalam, anggap itu tidak pernah terjadi, anggap kita tidak pernah bertemu. "Aku rasa uang itu cukup untukmu. Pergilah dan beli obat atau apa pun yang kamu butuhkan."
Kiana merasa dadanya sesak, seperti dihantam batu besar. Dia bukan wanita bayaran, dan dia tidak melakukan ini demi uang. Uang ini terasa seperti sebuah hinaan bagi harga dirinya yang sudah hancur. Kiana sedikit merasa tertekan dengan perkataan itu, matanya berkaca-kaca menatap Ardan.
Namun, Ardan belum selesai dengan kalimatnya. Dia menatap Kiana dengan kilat mata yang tajam, memberikan peringatan keras. "Dan satu hal... aku tidak mau suatu hari nanti kamu datang denganku, mencari perhatian, atau menuntut hal konyol dengan alasan palsu tentang kehamilan."
Sebelum Kiana sempat membalas, Ardan melanjutkan dengan suara yang lebih rendah, namun sarat akan kepahitan yang tersembunyi. "Karena aku mandul. Jadi, jangan pernah bermimpi untuk menggunakan alasan anak untuk menjebakku."
Deg
Kata 'mandul' itu terngiang di telinga Kiana. Kiana hanya mengangguk patuh, tidak ingin memperpanjang perdebatan atau membela diri. Dalam kondisinya yang hancur dan tidak punya apa-apa lagi setelah dikhianati Dafa, dia tahu dia tidak berada di posisi untuk melawan seorang pria kaya raya seperti Ardan. Dia memeluk erat uang itu, merasakan kertas tebal di dalam amplop itu menekan dadanya, lalu berniat pergi dari tempat terkutuk itu.
Namun baru dua langkah Kiana berjalan, Ardan mencegahnya sebentar. "Tunggu!"
Langkah kaki Kiana terhenti saat suara dingin itu kembali terdengar.
"Ingat, jangan katakan pada siapapun soal ini, dan apapun yang sudah kamu ketahui tentangku. Termasuk apa yang baru saja aku katakan. Atau kamu akan menanggung akibatnya. Aku bisa membuat hidupmu jauh lebih sulit dari ini," ancam Ardan kejam.
Kiana mengangguk patuh sekali lagi, tanpa berani menoleh ke belakang. Air matanya menetes pelan, membasahi pipinya yang dingin terkena angin subuh. Kiana benar-benar pergi dengan langkah yang sedikit tertatih, menahan rasa perih di area intinya. Sosoknya yang ringkih perlahan menjauh, tenggelam di balik kabut pagi yang mulai menipis di ujung jembatan.
Sementara Bimo yang sejak tadi hanya memperhatikan dengan mata membelalak dan mulut terkunci, akhirnya bersuara setelah memastikan wanita itu sudah cukup jauh.
"Wah, Pak..." Bimo menggeleng-gelengkan kepalanya, menatap bosnya dengan pandangan tidak percaya sekaligus takjub. "Ini maksudnya... Anda melakukan itu dengan wanita tadi? Di dalam mobil?!"
Ardan tidak menjawab, dia hanya menatap lurus ke arah perginya Kiana dengan pandangan yang sulit diartikan.
Bimo yang terkenal bermulut ember dan akrab dengan bosnya itu terus mengoceh, merasa mendapat keajaiban dunia kedelapan. "Hebat sekali dia bisa meluluhkan Anda, Pak! Bahkan Anda tidak tertarik dengan wanita seseksi apapun yang disodorkan paman atau kakek Anda selama ini. Tapi gadis sederhana seperti dia... luar biasa."
Ardan tidak menanggapi jauh ocehan asistennya itu. Wajahnya kembali mengeras, dipenuhi topeng kedataran yang biasa dia tunjukkan pada dunia. Dia melangkah masuk ke mobilnya sendiri, membuka pintu kemudi tanpa memedulikan tatapan usil Bimo.
Sebelum menutup pintu mobil, Ardan melirik Bimo dengan tatapan membunuh. "Diamlah. Pulang dan mandilah, kamu harus sampai tepat pukul 7 di depan kamarku nanti. Jangan terlambat satu menit pun, atau aku potong bonus bulananmu."
Brak!
Pintu mobil mewah itu ditutup dengan keras, disusul dengan deru mesin yang meraung membelah kesunyian pagi. Mobil Ardan melesat pergi, meninggalkan Bimo yang melongo di tepi jembatan sambil meraba tengkuknya yang mendadak dingin.
Matahari sudah hampir bersinar sepenuhnya, membiaskan cahaya keemasan yang menembus kabut pagi saat Kiana menginjakkan kaki di rumah kos khusus putri yang terletak di dalam gang. Langkah kakinya terasa begitu berat, setiap jengkal kemajuan membuat area intinya berdenyut nyeri, sisa dari malam penuh dosa yang baru saja dia lalui. Kiana berjalan menunduk, mencoba menyembunyikan wajahnya yang pucat dan matanya yang sembap dari dunia luar.
"Kiana! Wah, dari mana aja nih semalaman tidak pulang? Kamu diajak kemana sama Dafa?"
Suara cempreng yang sangat familier itu seketika mengejutkan Kiana. Dia mendongak dan mendapati Saskia, teman dekat Kiana yang tinggal tepat di sebelah kamarnya dan juga satu pekerjaan yang sama sebagai pelayan di butik, sedang berdiri di koridor kos sambil memegang handuk.
Gadis berambut sebahu itu matanya berbinar, memancarkan binar kepo yang murni. Saskia tersenyum menggoda, mengira Kiana baru saja diajak merayakan anniversary ke-3 ke suatu tempat yang indah oleh Dafa. Di mata Saskia, Dafa adalah kekasih yang manis, jadi wajar saja jika pria itu memberikan kejutan menginap di hotel mewah atau makan malam romantis sampai Kiana tidak pulang semalaman.
Mendengar nama Dafa disebut, dada Kiana terasa seperti dihantam godam besar. Rasa sakit akibat pengkhianatan itu kembali mencuat ke permukaan, berbaur dengan rasa hina yang kini melekat pada tubuhnya.
Kiana meremas amplop yang masih ada dalam dekapannya. Jemarinya memutih, menekan kertas tebal berisi uang 10 juta dari Ardan ke dadanya seolah benda itu adalah tameng pelindung diri. Dia menatap Saskia dengan pandangan kosong, bibirnya bergetar hebat.
"Dafa... brengsek," kata Kiana lirih, suaranya nyaris tercekat di tenggorokan.
Saskia tersentak, senyum goda di wajahnya langsung lenyap digantikan kerutan dahi penuh bingung. "Hah? Kia, kamu ngomong apa? Dafa kenapa?"
Kiana tidak menjawab. Dia tidak sanggup membeberkan semuanya di koridor kos yang terbuka. Kiana berjalan cepat menuju kamarnya, membuka pintu dengan tangan gemetar, lalu melangkah masuk. Saskia yang belum mengerti apa yang terjadi, tanpa ragu mengikuti Kiana masuk ke dalam kamar Kiana, lalu menutup pintunya rapat-rapat.
Begitu pintu terkunci, pertahanan Kiana runtuh total. Tubuhnya merosot bersandar di tembok. Kiana menangis lagi, air matanya luruh membasahi pipi. Dia membekap mulutnya sendiri, tidak berani bersuara keras takut tetangga kos lainnya mendengar karena ini merupakan aib buruk bagi dirinya.
Saskia yang panik melihat sahabatnya histeris langsung berlutut di depan Kiana, memegang kedua pundaknya. "Kia! Astaga, kamu kenapa? Tolong jangan bikin aku takut. Baju kamu kenapa kusut begini? Terus amplop apa yang kamu pegang itu?"
"Sas... Dafa..." Kiana terisak, napasnya tersendat-sendat. "Dafa menjualku pada rentenir tua..."
"APA?!" Saskia menjerit tertahan, menutup mulutnya sendiri dengan mata melotot horor. "M-menjual? Maksud kamu gimana?!"
"Dia punya utang judi seratus juta, Sas. Dia menjebakku, dia mencampuri minumanku pakai obat sampai aku pingsan dan terbangun di kelab semalam," cerita Kiana dengan suara parau, ingatan menjijikkan tentang bos rentenir itu membuat tubuhnya merinding. "Aku berhasil kabur... tapi..."
Kiana menjeda kalimatnya, menyembunyikan wajahnya di lutut. Rasa bersalah pada mas bidadari semalam membuat dadanya sesak.
"Tapi apa, Kiana? Rentenir itu ngapa-ngapain kamu?" tanya Saskia, suaranya sudah ikut bergetar karena takut.
Kiana menggeleng kuat-kuat di sela tangisnya. "Bukan... bukan rentenir itu. Aku berhasil menendangnya lalu kabur keluar dan berhenti jembatan sepi. Di sana, kesadaranku benar-benar hilang karena pengaruh obat dan alkohol. Aku hampir jatuh ke sungai, tapi ada seorang pria yang menolongku. Dan aku... aku justru melakukan hal bodoh dengan menggoda seorang laki-laki yang tadinya hanya berniat menolongku."
Saskia terperangah, otaknya mencoba mencerna informasi gila ini. "Kamu... sama pria penolong itu?"
Kiana mengangguk pelan, menyeka air matanya dengan kasar. "Kami melakukannya di dalam mobilnya. Aku yang mulai duluan, Sas. Aku yang gila semalam. Dan pagi ini, dia memberiku uang ini." Kiana menunjukkan amplop cokelat tebal di tangannya. "Mengatakan agar aku melupakan semuanya. Dia bilang, anggap kejadian semalam tidak pernah terjadi dan kami tidak pernah bertemu."
Saskia terdiam, menatap amplop di tangan Kiana dengan perasaan campur aduk. Dia ikut sedih, hatinya perih melihat sahabatnya yang begitu baik harus mengalami nasib setragis ini dalam satu malam. Namun, akal sehat Saskia sebagai seorang wanita langsung memikirkan konsekuensi jangka panjangnya.
Saskia berdecak, lalu dia mengatakan, "Enak saja melupakan! Dia pikir kesucian bisa dibeli pakai uang? Terus, gimana kalau kamu hamil, Kia? Meski hanya hubungan satu malam itu beresiko besar!"
Kiana terdiam sejenak. Kata-kata Saskia persis seperti apa yang ditakutkan Ardan semalam. Peringatan dingin Ardan kembali terngiang di kepalanya 'Aku tidak mau suatu hari nanti kamu datang dengan alasan palsu tentang kehamilan.'
Sebenarnya, Kiana harus merahasiakan ini karena pria itu sudah mengancamnya dengan kejam. Tapi hanya pada Saskia dia akan jujur, karena Saskia adalah satu-satunya keluarga yang dia miliki di kota besar ini.
Kiana menatap mata Saskia, mencoba meyakinkan sahabatnya sekaligus menenangkan hatinya sendiri. "Aku tidak akan hamil, Sas. Dia mengatakan dia mandul."
Saskia menaikkan sebelah alisnya, terkejut mendengar fakta medis tersebut. "Benarkah? Dia sendiri yang bilang kalau dia mandul?"
"Iya. Dia menegaskan itu padaku agar aku tidak mencari atau menjebaknya dengan alasan anak di kemudian hari," jawab Kiana lirih. Rasa lega sedikit terselip di hatinya, setidaknya dia tidak perlu takut mengandung anak dari pria asing.
"Pria aneh," gumam Saskia, masih tidak habis pikir. "Tapi tunggu... Siapa nama pria itu, Ki? Kita harus tahu identitasnya buat jaga-jaga."
Kiana menggeleng lemah. "Aku tidak tahu namanya, Sas. Dia tidak menyebutkan nama, dan aku juga terlalu takut untuk bertanya. Tapi yang pasti, melihat mobilnya, pengawalnya, dan pembawaannya... dia pria yang kaya yang bisa menghancurkan siapapun, aku yakin itu. Auranya sangat menakutkan saat mengancamku tadi."
Melihat ketakutan yang nyata di mata Kiana, Saskia tidak tega untuk bertanya lebih jauh. Dia bergeser, lalu Saskia memeluk Kiana memberinya kekuatan. Dia mengusap punggung Kiana yang masih bergetar, mencoba menyalurkan kehangatan yang tersisa.
"Ya Tuhan, Kian... Maafkan aku ya, semalam aku gak tahu kamu dalam bahaya," bisik Saskia emosional. Tatapan matanya mendadak berubah menjadi sangat tajam dan penuh amarah saat mengingat dalang dari semua kekacauan ini. "Dan untuk Dafa... lihat saja nanti. aku akan menendangnya jika dia berani muncul disini! Pria biadab seperti dia harusnya membusuk di penjara!"
Kiana hanya bisa menangis pasrah di dalam pelukan Saskia, meratapi nasibnya yang kini berubah total hanya dalam hitungan jam.
***
Sementara itu, tiga jam kemudian di sisi lain kota, kemewahan yang kontras terlihat jelas di kediaman utama keluarga Arkatama. Sebuah mansion megah yang berdiri kokoh di kawasan elite Jakarta.
Di dalam kamarnya yang luas didominasi warna hitam dan abu-abu, Ardan sudah siap dengan setelan jas rapinya. Penampilannya pagi ini kembali sempurna. Rambutnya disisir rapi ke belakang, rahangnya dicukur bersih, dan kemeja putihnya terpasang rapi tanpa cela. Seolah-olah kekacauan di dalam mobil mewah di atas jembatan beberapa jam lalu tidak pernah terjadi.
Ardan sedang merapikan jam tangannya yang berkilau di pergelangan tangan, sampai sebuah ketukan pintu terdengar.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk," perintah Ardan dingin.
Pintu terbuka, dan Bimo masuk sambil membawa jas yang tertinggal di mobil pribadi Ardan yang tadinya dibawa pelayan yang membersihkan mobil itu. Bimo melangkah dengan hati-hati, memegang jas hitam milik Ardan dengan posisi agak menjauh dari tubuhnya sendiri.
"Pak Ardan," panggil Bimo, menghentikan langkahnya beberapa meter di depan meja rias bosnya. "Ini jas Anda yang semalam. Pelayan yang membersihkan mobil pribadi Anda tadi menemukannya tergeletak di kursi belakang."
Ardan melirik jas itu sekilas melalui pantulan cermin. Ingatannya seketika melompat pada bayangan tubuh polos Kiana yang terbungkus jas tersebut semalam.
Bimo berdehem pelan, memecah lamunan singkat Ardan. "Pak, apa jas ini langsung saya bawa saja ke tempat cuci? Atau... mau dibuang saja? Soalnya, sepertinya jas ini sudah menempel bau gadis tadi, bukan wangi parfum Anda lagi. Ada bau Alkohol dan sepertinya aroma tubuh wanita itu agak pekat di kainnya."
Ardan terdiam. Matanya menatap tajam pada jas hitam itu. Logikanya berjalan. Ardan seharusnya mengatakan buang saja, karena meski mahal, dia bisa membeli seratus jas seperti itu lagi tanpa membuat dompetnya menipis. Pria sekaya dirinya tidak pernah memakai pakaian yang sudah dianggap terkontaminasi oleh orang asing.
Tapi, entah kenapa, ego dan batinnya menolak. Aroma manis bercampur alkohol yang tertinggal di jas itu mendadak terlintas di indra penciumannya, memicu getaran aneh yang membuat dadanya terasa sesak. Ada bagian dari dirinya yang mendadak tidak rela jika jas itu dibuang atau disentuh oleh orang lain di tempat pencucian.
"Taruh saja di sana," ujar Ardan akhirnya, nadanya datar dan acuh tak acuh. Dia menunjuk ke arah sofa panjang di sudut kamar. "Aku akan membuangnya sendiri nanti."
Bimo mengerutkan kening, merasa aneh dengan keputusan bosnya yang tidak biasa. Namun, dia tidak berani membantah. "Baik, Pak."
Tentu saja itu adalah kebohongan Ardan untuk menutupi rasa gengsinya di depan sang asisten. Dia hanya tidak ingin Bimo berpikiran macam-macam tentang ketertarikannya yang aneh pada gadis semalam.
Kemudian Bimo setelah menaruh itu di sofa, kembali berdiri tegak dan mengecek tablet kerjanya. Expresi wajahnya berubah menjadi lebih serius dari sebelumnya.
"Oh iya, Pak Ardan. Ada satu hal lagi yang harus saya sampaikan sebelum Anda turun ke bawah," kata Bimo dengan nada pelan. "Pak Wirya dan Pak Arya sudah menunggu di meja makan."
Gerakan tangan Ardan yang sedang merapikan kerah jas luarannya seketika membeku. Matanya menyipit tajam menatap pantulan Bimo di cermin.
"Paman Arya? Kenapa dia ada disini pagi-pagi?" tanya Ardan dengan nada penuh selidik, suaranya mendadak berubah menjadi sangat dingin dan penuh kewaspadaan.
Hubungannya dengan sang paman, Arya Arkatama, memang tidak pernah benar-benar baik. Paman Arya selalu mengincar posisi CEO yang kini diduduki Ardan, dan kehadiran pria paruh baya itu di mansion utama sepagi ini jelas bukan untuk sekadar sarapan keluarga yang hangat.
Bimo menghela napas pendek, mengangkat bahunya sedikit dengan ekspresi pasrah. "Saya kurang tahu pasti agenda resminya, Pak. Tapi... melihat senyum beliau di bawah tadi, mungkin beliau punya kandidat wanita untuk Anda lagi, Pak. Mengingat Pak Wirya terus menekan Anda soal pernikahan dan pewaris akhir-akhir ini."
Ardan mengepalkan tangannya kuat-kuat di dalam saku celana. Tuntutan pernikahan, pewaris, dan fakta kemandulannya... tiga hal itu kembali datang menyerang kepalanya seperti gada besi, mengacaukan ketenangan yang baru saja coba dia bangun pagi ini.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!