Indonesia
NovelToon NovelToon

Transmigrasi Leader Mafia Ke Tubuh Istri Culun

Awal Mula

"A-aku hamil," ucap Kalina.

Kalina Alisha, wanita cantik berusia 24 tahun, saat ini sedang duduk berhadapan dengan sahabat kecilnya di apartemen mewah miliknya.

Sahabatnya itu, Clarissa Anggreni, hanya menatap datar wajah Kalina seraya melipat kedua tangannya di dada.

"Kau hamil, Kal?" ulang Clarissa dengan suara tenang, seolah kehamilan sahabatnya bukanlah hal mengejutkan.

"I-iya," jawab Kalina ketakutan.

"Anak siapa?" Clarissa meneguk wine di tangannya. Tatapan mata elangnya tajam, hawa dingin yang terpancar membuat nyali Kalina menciut.

"A-aku hamil, a-anaknya..."

"Setan?"

"Clarissa, aku serius!"

"Aku pun serius. Kau hamil anak siapa, Kal? Kau ini jomblo, nggak punya pacar. Kecuali kalau kau..."

"Kalau apa?" potong Kalina.

"Kalau kau main gila di belakangku!" Clarissa tersenyum sinis.

Kalina menunduk, meremas ujung pakaiannya. "Aku hamil anaknya Rafael."

Keheningan mencekam. Hawa dingin berganti panas membara, padahal AC menyala deras.

"Hahaha..." Clarissa tertawa keras, lalu tiba-tiba berhenti. Wajahnya berubah dingin. "Rafael? Calon suamiku, Kalina? Kau hamil anak dari tunanganku sendiri?"

"Maafkan aku, Clari..."

"Kau tega menghianati aku?" Clarissa bersandar di sofa, raut wajahnya berubah sedih.

---

Clarissa Anggreni – pemimpin mafia The Phantom Crown, dijuluki Queen of Damnation. Wajahnya cantik namun seram. Mata cokelat gelap, hidung mancung, bibir mungil alami, kulit putih bercahaya. Di usianya yang ke-26, ia adalah ratu kematian yang ditakuti.

"Clari, maaf... aku nggak bermaksud menikungmu," isak Kalina.

"Kau memang nggak menikung, Kal. Tapi kau menghianatiku!"

"Maaf..."

"Maaf?" Clarissa tersenyum miring. "Kau tahu balasan untuk penghianat?"

"A-aku tahu. Aku menyesal."

"Siapa yang pertama menggoda? Kau atau Rafael?"

"Tidak, Clari! Aku nggak mungkin menggoda calon suami sahabatku sendiri..."

"Lalu kenapa kau bisa hamil?"

"Itu karena malam itu kami berdua..."

"PRANGG!"

"AAARGH!" Kalina memekik saat gelas dilemparkan ke kepalanya.

"Persetan dengan malammu! Intinya kalian berdua penghianat!" sentak Clarissa.

Darah mengucur dari kepala Kalina. Clarissa mengeluarkan pistol dari balik jaket kulitnya.

"Ini artinya kalian bersiap untuk mati."

"N-Clari... tolong taruh pistol itu..."

"Ada kata-kata terakhir?"

"Clarissa, tenang dulu! Aku bisa jelaskan—"

"Omong kosong!"

"Lihat ke belakang! Ada Rafael!"

Clarissa setengah tak percaya, tapi entah kenapa ia menoleh.

DOR.

Peluru menembak perutnya. Rafael, kekasihnya sendiri, berdiri di balik pintu dengan pistol berasap.

"A-ah... Rafael..." lirih Clarissa.

Dor. Dor.

Kalina melepaskan dua tembakan dari pistol yang ia sembunyikan di balik bantal.

"AAARGH!"

BRUKK.

Tubuh Clarissa ambruk ke lantai. Darah menggenang, tapi ia masih sadar.

"Kerja bagus, sayang," ucap Rafael pada Kalina.

"Ya... nggak sia-sia aku belajar menembak."

Dengan napas terakhirnya, Clarissa bergumam lirih, "Lihat saja... aku akan membalas kalian berdua... dari alam mana pun..."

---

"Tidak ada yang namanya malam pertama!"

"Kau hanya istri di atas kertas!"

"Kau harus melayaniku... tapi bukan sebagai istri. Sebagai pelayan!"

Kalimat itu berputar terus di benak Alisha Kirana Maharani. Gadis lugu berusia 22 tahun, berpenampilan nerd dengan rambut dua kepang dan kacamata bundar besar. Pakaiannya norak—bukan karena tak mengerti mode, tapi karena ia nyaman.

Pagi itu, ia memakai sweater kuning menyala dan rok payung hijau.

"Alisha, mana pakaianku!"

"I-iya Tuan, sebentar!"

Alisha berlari mengambil jas, kemeja putih, dan dasi hitam dari lemari. Matanya mencuri pandang ke arah Giovan Salvatore Vizcaya – suaminya yang hanya bermodal kimono.

Giovan, 29 tahun. Tubuh tinggi kekar, wajah tampan dengan rahang tegas, sorot mata tajam, dan bulu halus di dada bidang. Makhluk sempurna yang dipaksa menikahi gadis kampung karena perjodohan dari kakeknya, Edward Raditya Vizcaya.

"Kau lelet sekali!" kesal Giovan.

"S-sudah, Tuan."

Giovan mengabaikannya dan menelepon selingkuhannya. "Iya sayang, 15 menit lagi aku jemput. Love you more."

Alisha tersenyum samar. Ia tak punya keberanian menegur. Pernikahan ini bukan karena cinta, tapi keuntungan. Ia dapat pria kaya, Giovan dapat kursi kepemimpinan Vizcaya Group.

"Pergi! Mataku sakit melihat penampilanmu!"

Alisha menunduk. "Baik, Tuan."

---

Di meja makan, keluarga Vizcaya berkumpul.

Edward Raditya Vizcaya (80 tahun) – patriarch, pemilik Vizcaya Group dan sindikat The Phantom Crown yang sebenarnya.

Bramantya Raditya Vizcaya (55 tahun) – putra sulung Edward, ayah Giovan. Istrinya Carissa Elvina Vizcaya.

Farrel Adipati Vizcaya (52 tahun) – putra kedua Edward, istri Fiona Octavia Vizcaya. Mereka punya dua putra: Fabian Adimatya Vizcaya (28 tahun, dingin seperti Giovan) dan Rayhan Adimatya Vizcaya (25 tahun, pengangguran stylish).

Christian Lauren Vizcaya (48 tahun) – putra bungsu Edward, menikah dengan Bram Nazar Vizcaya, dikaruniai tiga anak: Arshaka Pratama Vizcaya (25 tahun), Kayla Laura Vizcaya (24 tahun), dan Cerys Lamura Vizcaya (20 tahun).

"Selamat pagi, cucuku," sapa Edward pada Alisha.

"Pagi, Kakek."

Giovan datang. Alisha dengan sigap mengambilkan makanannya.

Usai sarapan, Edward berkata, "Alisha. Nanti malam kau harus berdandan cantik. Kakek sudah siapkan gaun dan perhiasan. Karena nanti malam, Kakek akan menyerahkan perusahaan kedua untukmu."

Alisha melebarkan mata. "M-maksud Kakek?"

"Nanti malam kau juga akan tahu."

Edward melirik semua keluarga. "Kalian bantu Alisha mempersiapkan diri. Mengerti?"

"Hm."

Setelah Edward pergi, sikap asli keluarga Vizcaya keluar.

"Rapihkan meja! Cuci piring!" perintah Carissa.

"Iya, Nyonya."

"Setelah itu pijitin aku!" ucap Christian.

"Baik."

"Jangan lupa bersihkan semua!" seru Kayla dan Cerys.

Emeline (ibu Giovan) hanya menggeleng. Ia tak mau ikut campur.

---

Siapa dulu cita-citanya nikah sama konglomerat? Nanti nasibmu kayak Alisha. Minimal kalau mau nikah sama orang kaya, kamu juga harus setara, ya! Biar nggak diremehkan.

"Prang! Sekalian cucikan ini!" bentak pelayan senior.

Satu jam Alisha mencuci piring. Pelayan junior bernama Anita menarik rambutnya.

"AWWW! Sakit, Anita!"

"Makanya jangan membantah!"

---

Malam harinya.

Alisha di-makeup tipis. Gaun putih panjang dengan belahan di bawah membuat kaki jenjangnya terlihat. Rambut disanggul manis.

"Wow, so beautiful!" puji penata rias.

"Terima kasih."

"Nyonya jauh lebih cantik tanpa kacamata."

Alisha tersenyum. Ia menatap cermin. Ternyata aku cantik.

Ceklek.

Pintu terbuka. Seorang pria bertopeng masuk.

"S-siapa kamu?"

"Alisha... aku tidak akan membiarkanmu menjadi pewaris utama keluarga ini."

"M-maksudmu?"

DOR!

"ARGH!" Alisha memegangi tangannya yang tertembak.

"Aku malaikat maut yang akan membunuhmu!"

DOR!

Tembakan kedua mengenai dadanya.

BRUKK!

---

Edward mencari Alisha. "Mana dia?"

"Masih berdandan, Kakek," jawab Giovan.

"Panggilkan. Acara sebentar lagi."

Giovan melangkah.

BRUKK! HAP!

Ia jatuh tertimpa tubuh Alisha yang terjun dari lantai paling atas.

"A-Alisha..." lirih Giovan, kaget bukan kepalang.

"AAAHHH!" Semua tamu berteriak melihat tubuh Alisha berlumuran darah.

Edward pucat pasi. Keluarganya panik.

BRUKK!

"Kakek!!!" pekik Bramantya.

Edward Raditya Vizcaya ambruk terkena serangan jantung.

Kekacauan total.

---

Di tengah genangan darah, tubuh Alisha yang tak bernyawa itu tiba-tiba... menghela napas panjang.

Matanya terbuka.

Bukan sorot polos Alisha lagi.

Tapi tatapan tajam, dingin, dan penuh kebencian milik Clarissa Anggreni – ratu mafia yang baru saja mati ditembak sahabat dan kekasihnya.

"Di mana... ini?" bisiknya dalam hati.

Ia melihat tubuh barunya. Gaun putih berlumuran darah. Luka tembak di dada.

Dan di depan matanya... ada Rafael. Wajah yang sama. Tapi sekarang dipanggil Giovan.

Senyum tipis mengembang di bibir Clarissa—yang sekarang ada di dalam tubuh Alisha.

"Rafael... Kalina... Kalian pikir kalian bisa bebas?"

"Aku akan menghancurkan kalian. Perlahan."

BERSAMBUNG...

---

Hidup Kembali

Mereka Segera membawa Alisha ke rumah sakit, begitupun dengan Edward yang pingsan.

"Lihat, saking sayangnya pada Alisha. Daddy-mu itu sampai ikutan pingsan!" seru Emeline sambil melipat kedua tangannya di dada.

Saat ini keduanya tengah menunggu di depan kamar rawat Edward.

Bramantya menghela napasnya. "Sudahlah kau bisa diam saja tidak?! Doakan saja semoga daddy-ku cepat sadar," ujar Bramantya pada istrinya.

Emeline akhirnya mengangguk patuh. Jujur saja, sebenarnya sikap Edward yang terlalu menyayangi Alisha membuat para menantunya iri, termasuk Emeline.

"Dad!" panggil Giovan yang berlari mendekati Bramantya.

Bramantya dan Emeline sama-sama membalikkan tubuhnya. "Bagaimana keadaan Alisha, Gov?" tanya Bramantya.

Giovan menggeleng kecil. "Dokter bilang Alisha mengalami koma."

"Apa?!" pekik Emeline.

Wajah Giovan terlihat biasa saja. Pria itu seakan tidak peduli dengan keadaan yang menimpa sang istri.

"Bagaimana keadaan Kakek?" tanya Giovan balik.

"Kakekmu masih belum sadar. Mungkin sebentar lagi dia baru bangun," jawab Bramantya.

Giovan mengangguk sekilas. "Kalau begitu, aku izin pergi dulu ya, Dad, Mom."

Emeline mengerutkan alisnya. "Mau pergi ke mana, Gov?"

"Apartemen Elena. Tadi dia meneleponku dan bilang..."

Ucapan Giovan terhenti karena Emeline memotong pembicaraannya.

"Giovan! Istrimu sedang sekarat dan kamu malah mau menemui wanita lain?!" tanya Emeline tak percaya.

Walau Emeline kurang suka pada Alisha, tapi wanita cantik itu tetap tidak setuju jika anaknya berselingkuh.

"Mom, kasihan Elena, dia..."

"Dia apa?! Dia bukan siapa-siapa kamu! Ingat, Giovan, kamu itu sudah menikah!" potong Emeline.

"Aku tidak cinta sama Alisha, Mom!"

"Cinta atau enggaknya, kalau kamu sudah bersumpah di depan Tuhan, itu artinya kamu sudah harus setia padanya!"

"Mom, please aku..."

Ucapan Giovan terhenti karena melihat pintu yang terbuka.

Ceklek.

Pintu kamar Edward terbuka oleh seorang suster. "Permisi, saya ingin menyampaikan jika Tuan Edward sudah sadarkan diri."

Mendengar daddy-nya sudah sadar, Bramantya segera masuk, diikuti oleh Emeline dan juga Giovan.

"Dad!"

"Kakek!"

Edward menatap anak dan juga cucunya tersebut. "Alisha, bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Ed.

Mendengar pertanyaan dari Edward, membuat Emeline tersenyum tipis. Sedangkan Bramantya dan Giovan saling tatap satu sama lain.

"Gov, bagaimana keadaan istrimu?" tanya Edward.

Giovan menundukkan kepalanya untuk menyentuh lengan kakeknya.

"Alisha ada kok, Kakek. Dia lagi di ruangannya," jawab Giovan.

"Apakah dia baik-baik saja?"

"Um, dia..."

Giovan mencari jawaban yang tepat agar tidak membuat Kakeknya khawatir.

"Dia kenapa, Gov?"

"Dia..."

"Jawab, Giovan Salvatore!"

Giovan menarik napasnya dalam-dalam. "Alisha mengalami koma, Kakek."

"Apa?!"

---

Edward menatap sendu menantu kesayangannya itu. Wajah Alisha terlihat pucat pasi dengan alat-alat dokter yang menempel di tubuhnya.

"Giovan, cari tahu siapa orang yang melakukan ini semua pada Alisha. Hukum dia seberat-beratnya!"

Giovan mengangguk patuh. "Siap, Kakek."

"Kirimkan juga keamanan untuk berjaga di depan pintu kamar Alisha dan sediakan dua suster untuk merawatnya," titah Ed.

"Laksanakan, Kakek."

Edward menatap ke arah Giovan. "Kau harus perhatikan dia dengan baik. Kakek tidak mau hal buruk terjadi padanya."

"Iya, Kakek."

"Antar Kakek pulang, Kakek ingin istirahat."

"Hm, ayo."

---

Setelah mengantar kakeknya pulang, Giovan tidak langsung kembali ke rumah sakit. Pria itu justru membelokkan setir mobilnya menuju apartemen kekasihnya.

Ting. Tong.

Ceklek.

Seorang wanita seksi membuka pintu apartemennya. Dia adalah Elena – pujaan hati Giovan sebelum Giovan menikah dengan Alisha.

Hubungan keduanya sudah terjalin selama dua tahun, dan hubungan mereka harus kandas karena Giovan menikahi Alisha.

Tapi, keduanya tidak memutuskan untuk putus. Elena dengan suka rela bersedia menjadi selingkuhan Giovan sampai Giovan menceraikan Alisha, lalu menikahinya.

"Giovan, aku sangat merindukanmu!" ucapnya sambil memeluk tubuh Giovan.

Giovan membalas pelukan kekasihnya dengan lebih erat. "Maafkan aku, Elena. Aku harus menjaga Alisha lebih dulu."

Raut wajah Elena seketika berubah menjadi suram.

"Alisha? Jadi kau lama karena menjaganya?" tanya Elena.

Giovan mengangguk seraya masuk ke dalam apartemen Elena. "Iya, maafkan ya, sayang."

"Hm, ah, iya. Bagaimana keadaannya?" tanya Elena mencoba baik-baik saja.

"Keadaannya lumayan buruk, sampai akhirnya dia dinyatakan mengalami koma," jawab Giovan sambil duduk di sofa.

Elena tampak terkejut, lalu tak lama raut wajahnya langsung berubah menjadi sumringah sambil tersenyum lebar.

"Bagus dong, sayang! Kalau dia koma, itu artinya kita memiliki waktu yang banyak untuk berduaan!" ucap Elena sambil mengelus paha Giovan.

Giovan tersenyum tipis seraya menahan tangan Elena.

"Jangan seperti ini ya, El!" ujar Giovan.

Elena menarik kembali tangannya dan menjauhi Giovan.

"Kau selalu saja menolakku, Giovan!" seru Elena.

"Maaf, El."

"Kenapa, Giovan? Apa aku tidak seksi, makanya kau tidak tertarik?" tanya Elena.

Giovan menggelengkan kepalanya. "Bukan seperti itu, El. Aku hanya tidak ingin merusakmu. Bagaimanapun juga, aku ini suami orang, bukan suami kamu."

Hubungan keduanya memang hanya sekedar pelukan, gandengan tangan, dan jalan bersama.

Giovan selalu membatasi semua yang bertentangan dengan hubungan badan seperti ciuman, cipokan, ataupun saling raba meraba.

"Perkataanmu barusan membuatku sadar akan posisiku, Giovan!" ucap Elena dengan raut wajah sedih.

Giovan seketika gelagapan. Ia tak bermaksud membuat kekasihnya ini sedih.

"Sayang, maafkan aku ya. Aku tidak bermaksud untuk..."

"Cukup, aku ingin istirahat saja!" potong Elena yang hendak pergi ke kamarnya, tapi...

Giovan menahan tangan Elena. "Maafkan aku ya, sayang. Sebagai gantinya, bagaimana kalau kita jalan-jalan ke mal?" ajak Giovan.

"Aku tidak mood!"

"Kau ingin apa, sayang? Biar mood-mu balik lagi?" tanya Giovan sambil tersenyum.

Elena menahan senyumannya sambil berpikir. "Um, aku ingin tas Hermès keluaran terbaru!"

"Tas ya?"

"Iyaa."

"Oke, sebentar."

Giovan segera mengambil dompetnya dan menyerahkan sebuah kartu ATM-nya pada Elena.

"Gunakan ini. Beli apapun yang kamu mau," ucap Giovan sambil menyerahkan kartu black card-nya.

Senyum Elena langsung mengembang. Wanita itu segera memeluk tubuh Giovan.

"Terima kasih, sayang!"

"Sama-sama."

---

Di ruang rawat Alisha.

Dua orang suster tengah berjaga di dekat ranjang Alisha.

"Beruntung sekali Nona Alisha menikah dengan keluarga Viscount. Padahal dia sendiri saja dari kalangan bawah."

"Ciih, beruntung apanya? Yang ada tersiksa."

"Hah, tersiksa?"

"Hm. Aku dengar-dengar, katanya Tuan Giovan itu tidak mencintai Nona Alisha."

"Iya kah?"

"Iya! Katanya juga Tuan Giovan diam-diam masih menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya yang model itu!"

"Hah, masa sih! Kalau iya, kasihan banget Nona Alisha."

"Ughh..." Alisha merintih pelan. Suaranya nyaris tak terdengar di tengah kesunyian kamar yang hanya diisi suara mesin monitor jantung.

Tiba-tiba saja, layar monitor jantung menunjukkan penurunan detak jantung Alisha secara drastis.

Tut... tut... tut...

Kedua suster yang berjaga di sana saling tatap satu sama lain. "Cepat, panggilkan dokter!"

"Iyaa!"

Salah satu suster itu segera berlari keluar untuk mencari dokter. Sedangkan satunya lagi berusaha memeriksa keadaan Alisha.

Tut...

Mata Alisha tiba-tiba saja terbuka lebar hingga membuat suster itu terkejut.

"AAHKK!" teriak sang suster yang terjatuh ke lantai.

Alisha duduk di atas bangkar tempat tidurnya. Ia merenggangkan semua tubuhnya yang terasa kaku.

"Hais, ternyata aku selamat," gumamnya.

Suster yang terjatuh tadi segera bangkit dan mendekati Alisha. "Nona, Anda sudah sadar?"

"Kau punya mata, kan? Lihat, apa aku sudah sadar atau belum?!"

Suster tersebut tampak terkejut dengan respons Alisha yang terbilang galak.

"M-maaf, Nona. Saya hanya sekedar memastikan saja."

"Hm."

Mata Alisha mengedar.

"Nona Alisha mencari apa?" tanya suster.

"Saya mencari... Tunggu, kau panggil aku siapa?"

"Nona Alisha."

"Haduh, siapa Alisha?!"

Suster itu tampak mengerutkan alisnya dengan raut wajah bingung.

"Tentu saja Anda, Nona Alisha Senja Viscount."

"Viscount? Marga siapa itu? Margaku Chester!"

"Itu nama marga suami Anda, Nona."

"Wait, suami? Aku belum menikah!"

Ceklek.

Tak lama, dokter dan suster yang menjaga Alisha datang.

"Syukurlah, Anda sudah sadar, Nona," ucap dokter.

"Iya, Dok. Nona Alisha memang sudah sadar, tapi..."

"Aku bukan Alisha! Namaku Clarissa!" bantahnya.

Dokter dan kedua suster tersebut saling tatap satu sama lain. "Nona, biar saya periksa dulu, ya."

"Hm."

---

Giovan yang sedang menemani Elena berbelanja, mendadak harus segera pergi saat keluarganya mengabarkan jika Alisha sadar.

"Ish, kita baru saja jalan loh, Gov! Masa kamu sudah mau pergi begitu saja!" seru Elena yang kesal.

"Maaf ya, sayang. Tapi aku benar-benar harus pergi," ucap Giovan.

"Kenapa harus buru-buru banget sih!"

"Alisha sudah sadar, El. Papa memintaku untuk kembali ke rumah sakit."

Mendengar nama Alisha, lagi-lagi Elena merasa kesal. "Ah, ya sudah. Sana pergi!"

"Maafkan aku, sayang. Aku janji, di hari libur nanti kita akan pergi jalan-jalan bersama."

"Hm," Elena hanya berdehem singkat menanggapi ucapan Giovan sambil melipat kedua tangannya di dada.

"Maafkan aku ya, El."

Giovan mengelus pipi kekasihnya sekilas dan langsung pergi begitu saja meninggalkan Elena sendirian di tengah mal yang ramai.

"Apa-apa Alisha, Alisha aja terus!"

"Aargh, ini semua gara-gara dia!"

"Gadis miskin itu. Lihat saja nanti!"

---

Bersambung

Berubah

Ceklek.

Giovan membuka pintu kamarnya dan membawa koper Alisha masuk, disusul dengan gadis itu di belakangnya.

Alisha memperhatikan sekitar kamar tidurnya Giovan. Semua desain kamar Giovan tidak jauh dari warna hitam, abu-abu, dan warna silver.

Cklek.

"Ini kamarmu," ucap Giovan dengan suaranya yang bariton.

Alisha mengalihkan tatapannya saat mendengar suara Giovan. Dia melihat pria itu membuka sebuah pintu yang ternyata menghubungkan kamar ini dengan kamar sebelah.

"Walaupun kau amnesia, aku akan mengingatkanmu kembali tentang siapa kamu dan..."

Ucapan Giovan terhenti karena Alisha main menyelonong masuk ke dalam kamarnya.

Mata Clarissa menyipit melihat isi kamar Alisha yang seperti taman kanak-kanak. Di mana semua perpaduan warna mejikuhibiniu ada di dalam kamar tersebut.

"Apa-apaan ini? Aku tidak mau tidur di sini!" ucapnya.

Sprei kasur yang bergambar Hello Kitty, hordeng yang berwarna pink, dan cat dinding berwarna hijau.

Ya Tuhan, Clarissa merasa memasuki kamar anak kecil. Padahal ini kamar Alisha asli.

"Apa maksudmu, tidak mau tinggal di kamar ini?" tanya Giovan.

Clarissa memutarkan tubuhnya untuk menghadap Giovan. "Kamar ini jelek!" jawabnya.

Giovan menarik satu sudut bibirnya. "Kau baru sadar kalau kamarmu jelek?"

"Ciih!" Clarissa berdecak sambil memutarkan kedua matanya.

Mendengar decakan Alisha, Giovan cukup terkejut karena biasanya gadis itu akan menundukkan kepalanya dan tidak pernah bersikap tidak sopan seperti ini.

"Aku ingin tidur di kamarmu saja!" ucapnya sambil berjalan keluar dari kamar Alisha.

"Apa? Tidak boleh!" ujar Giovan seraya mengejar Alisha.

Alisha yang hendak menaiki kasur Giovan jadi terhenti. "Kenapa?" tanyanya sambil duduk di sisi ranjang Giovan.

SREKK.

Giovan segera menarik tangan Alisha agar bangun dari kasurnya. "Aku tidak ingin kau tidur di sini! Ini kamarku, kamarmu itu!" tunjuk Giovan pada pintu kamar Alisha yang tadi.

Alisha melipat kedua tangannya di dada dan menatap tajam mata Giovan.

"Aku ingin tidur di sini, suka tidak suka. Bodoamat!"

BRUK.

Dia langsung melompat dan menjatuhkan tubuhnya di atas kasur Giovan.

Giovan yang melihat kelakuan Alisha seketika mengepalkan kedua tangannya.

Dengan segera ia kembali menarik tangan Alisha.

"Bangun!" seru Giovan.

"Tidak! Aku tidak mau," ujar Clarissa sambil berpegangan pada besi ranjang kasur Giovan.

"Bangun, Alisha!"

"Tidak!"

Kesabaran Giovan mulai habis, apalagi Alisha dengan sengaja menggerakkan kakinya dan membuat tubuhnya jadi terkena tendangan Alisha.

Bug. Bug. Bug.

Alisha terus menggunakan kakinya untuk menendang tubuh Giovan yang masih berusaha menarik tangannya.

"Tidak, tidak, tidak! Aku mau tidur di sini!" teriak Clarissa.

"Alisha, bangun! Kau tidak boleh tidur di ranjangku!"

Giovan sempat keheranan, kenapa gadis lemas ini mendadak kuat sehingga Giovan kesusahan untuk menarik tubuhnya yang mungil.

"Jangan tidur di sini, Alisha!"

"Bodoamat!"

Bug. Bug.

Saking kuatnya tendangan Alisha, otong Giovan sampai kena dan membuat pria itu menjerit kesakitan.

"AAHKKK!" teriak Giovan.

Pergerakan kaki Clarissa terhenti. Gadis itu segera duduk untuk melihat keadaan Giovan.

"Hei, kau kenapa?" tanya Clarissa.

Giovan menundukkan kepalanya sambil memegangi otong-nya yang berdenyut nyeri.

"Giovan, kau kenapa?"

Lihat, sekarang Alisha dengan tidak sopannya memanggil dia dengan sebutan Giovan. Ke mana panggilan "Tuan" yang sering Alisha katakan?

"Woi, Giovan!"

"Giovan, Giovan, Giovan! Panggil aku Tuan!" sentak Giovan.

Clarissa mengerutkan alisnya, lalu menggelengkan kepalanya dengan pelan.

"Tidak mau, Giovan!" ucap Alisha dengan sengaja menaik-turunkan alisnya.

Raut wajah Giovan semakin kusut, bak baju yang belum dicuci tapi sudah dijemur.

"Ada apa ini, kenapa gadis itu tidak takut dengan sentakanku?" batin Giovan.

Biasanya Alisha akan selalu menunduk takut jika Giovan sudah mengeluarkan suara dengan nada yang tinggi.

Ia menarik napasnya dalam-dalam. "Alisha, dengar perkataanku baik-baik, karena aku tidak akan mengulanginya lagi!" ucap Giovan.

Clarissa mengangguk sekilas lalu berdehem untuk menanggapi ucapan Giovan.

"Hm."

"Kau dan aku, kita berdua menikah karena terpaksa. Aku terpaksa menikahimu karena..."

"Aku tahu!" potong Clarissa sambil menatap Giovan.

Kening Giovan mengerut. "Kau ingat semuanya?"

"Ya."

"Bukannya kau amnesia?" tanya Giovan yang bingung.

Clarissa menaikkan kedua bahunya. Sebenarnya Clarissa sudah ingat semuanya tentang siapa Alisha dan dia sadar jika dia hidup kembali dengan tubuh yang berbeda.

"Sudahlah, Giovan. Kau tidak usah banyak bacot. Sekarang aku ingin tidur siang!" ujar Clarissa sambil memasukkan kakinya ke dalam selimut Giovan dan menarik selimutnya.

"Bye!"

Dengan santai Clarissa memejamkan matanya dan membiarkan Giovan berdiri di sampingnya.

"Hah, ada apa ini? Ada apa dengan gadis ini?" bingung Giovan.

Tidak ingin pusing sendirian, akhirnya Giovan keluar dari kamarnya dan membiarkan Alisha tidur di kasurnya.

---

Mendengar suara pintu yang sudah tertutup, Clarissa kembali membuka matanya.

"Tugasku adalah meluluhkanmu, Giovan. Sekarang aku berhasil mengambil ranjangmu, suatu saat nanti aku pasti akan mengambil hatimu," gumam Clarissa.

Clarissa segera melepas kacamata yang sedang ia pakai.

"Hah, kacamata ini membuat kepalaku pusing saja! Sebenarnya seberapa minus mata Alisha dulu sampai memakai kacamata sebesar dugong ini!"

"Ini juga, siapa yang mengikat rambutku menjadi dua begini! Mana pakai dikepang segala lagi!"

---

Giovan menuruni tangga dan kebetulan ia melihat Kakeknya yang sedang duduk sambil menikmati kopi.

"Kakek," panggil Giovan.

"Hm, ada apa, cucuku?" tanya Ed seraya membaca kembali berkas di tangannya.

Giovan segera duduk di sebelah Ed. "Kakek, aku merasa ada yang aneh dengan Alisha."

Edward mengalihkan tatapannya pada Giovan. "Aneh bagaimana?" tanya Edward.

"Dia berubah. Aku saja sampai tidak mengenalinya!"

Edward menghela napasnya dengan kasar. "Kau lupa, Giovan? Alisha kan amnesia."

"Dia tidak amnesia, Kakek!"

"Hm, maksudmu?"

"Dia bilang, dia ingat semuanya!"

"Tapi, dokter menyatakan jika dia mengalami amnesia!"

Giovan sempat terdiam. "Apa mungkin Alisha tertukar, Kakek?"

"Hah, tertukar apanya?"

"Ya siapa tahu saja, dia mempunyai kembaran dan kembarannya itu menyamar menjadi..."

"Jangan ngaco, Gov! Alisha itu anak tunggal. Dia tidak punya kakak ataupun adik," potong Edward.

"Tapi, Kakek..."

"Sudah, Kakek sedang sibuk! Lebih baik kamu cari tahu tentang Lingga itu. Kakek curiga kalau dia yang membuat Alisha kecelakaan!"

Giovan menghela napasnya dengan kasar. "Untuk apa, Kakek? Lagian Alisha juga sudah baik-baik saja!"

"Giovan!"

"Tuan Lingga tidak mungkin seperti itu, Kakek. Jika dia ingin menyerang kita, pasti dia akan menyerang kita di saat..."

Dor. Dor. Dor.

"Maaf, Tuan. Ada penyusup yang masuk," ucap pengawal di sana.

"Apa?!"

Giovan dan Edward sama-sama bangkit dari tempat duduknya. "Kerahkan semua pengawal untuk mencarinya!"

"Dan jaga ketat kamar Ali..."

"AARGGHH!" teriak Alisha menggelegar sampai terdengar ke lantai bawah.

Edward dan Giovan sama-sama menatap ke arah atas, di mana teriakan Alisha terdengar jelas.

"Giovan, cepat cek kamar istrimu!" titah Edward.

"Iya, Kakek," ucap Giovan yang langsung berlari menaiki tangga.

---

Emeline, Fiona, dan Christian keluar bersamaan dari lift. Ketiganya tampak tergesa-gesa saat mendengar suara tembakan.

"Ada apa, Dad?" tanya Christian.

"Iya, Dad. Tadi kami mendengar suara tembakan dan jeritan seorang wanita," seru Emeline.

"Ada penyusup. Sekarang kalian bertiga ambil persiapan senjata kita dan habisi penyusup itu!"

Fiona menghela napasnya. "Yah, padahal aku baru saja manikur!" gerutunya.

Emeline dan Christian langsung menyenggol tangan Fiona dan mengode agar wanita itu diam.

"Kau ini, manja sekali, Fiona!" ujar Edward.

Fiona seketika langsung menundukkan kepalanya. "Maaf, Dad. Baik, aku akan melaksanakan perintahmu. Ayo!" ajak Fiona.

Emeline dan Christian segera mengangguk dan berlari bersama untuk mengambil senjata mereka yang berada di ruang bawah tanah.

---

Bugh.

Giovan menghentikan langkahnya saat seorang pria dengan wajah babak belur terlempar keluar dari kamarnya.

"Astaga, siapa yang membuatnya begini," gumam Giovan.

Giovan berjongkok sambil memeriksa keadaan pria tersebut dan ternyata pria itu sudah mati.

"HIYAAAA, AHKKK!"

Bugh.

Kepala Giovan menoleh ke arah kamarnya. Ia segera melangkahi pria yang sudah tewas itu untuk melihat keadaan Alisha.

BUGH.

Alisha menahan tubuh seorang pria berbadan besar dan terus memukuli perutnya dengan satu kakinya.

Bugh. Bugh.

"HIYAA!"

BUGH.

Ia menonjok pipi pria tersebut, dan langsung memutarkan tubuhnya untuk menendang perut si pria.

BRUKK.

Pria itu terkapar tak berdaya setelah habis-habisan dipukuli oleh Alisha.

"Maju!" seru Alisha pada satu teman si pria yang pingsan tadi.

Pria itu tampak ketakutan namun, ia berusaha untuk memukul Alisha.

Bug.

"Eeh, tidak kena!" ujar Alisha yang berhasil menghindar ketika pria tersebut ingin memukul wajahnya.

"Sekarang gantian, HIYAAA!"

BUGH.

"AAARGHH!"

Giovan berdiri mematung saat melihat istrinya yang culun itu mendadak menjadi badas seperti seorang pembunuh bayaran.

SREKK.

Alisha menarik rambut si teman pria itu dan meludahi rambutnya, lalu menendang perutnya hingga pria tadi mundur beberapa langkah.

"Ahhk, sialan kau jalang!" ucap si pria sambil memegang rambutnya yang terkena ludah Alisha.

"Haha, bagaimana ludahku, wangikan?" tanya Alisha seraya menaik-turunkan alisnya.

Si pria itu tampak mencium tangannya yang terkena ludah Alisha dan berlagak layaknya ingin muntah.

"Huek, bau jigong!" seru si penyusup.

"Hahaha!" Alisha tak kuasa menahan tawanya saat mendengar perkataan si pria itu.

"Sudahlah, jangan banyak bacot. Ayo maju!" ucap Alisha.

"Tidak, aku tidak mau melawan seorang wanita!"

"Ciih, tidak ingin melawan atau takut, hm?" tanya Alisha.

"Takut? Mana mungkin aku takut pada wanita!" ucapnya seraya memundurkan langkahnya.

"Oh, ya?"

Alisha semakin mendekati pria itu dan membuat si pria berlari lalu mengambil sebuah pisau buah yang berada di atas meja nakas.

"Ciih, beraninya membawa senjata tajam, ya."

"Diam kau atau kutusuk!" ancam si pria.

"Ohh, tusuk saja kalau berani!" tantang Alisha.

"HIYAA!"

Pria tersebut hendak mengarahkan pisau buah itu ke arah dada Alisha, tapi...

Bugh. Prangg..

Giovan segera menghalangi pria itu dan memukul kepalanya menggunakan lampu tidur yang berada di kamar.

"Giovan," gumam Clarissa dengan lirih.

Pria yang dipukul oleh Giovan tadi langsung pingsan di tempat.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Giovan dengan napas yang terengah-engah.

Clarissa menggelengkan kepalanya. "Tidak. Kenapa kau menolongku?"

"Karena aku takut kau terluka!"

"Ciih, aku tidak selemah itu, ya!" ujar Clarissa.

Giovan memperhatikan wajah Alisha yang tidak memakai kacamata, dan rambut gadis itu yang sedikit berantakan karena tidak dikuncir dua.

"Kenapa dia terlihat berbeda?" batin Giovan.

"Alisha, Giovan. Apa kalian baik-baik saja?" tanya Fabian – sepupu Giovan.

Alisha dan Giovan sama-sama membalikkan kepalanya untuk melihat Fabian.

"Waw, siapa pria itu? Kenapa dia terlihat tampan sekali?" batin Clarissa sambil tersenyum sendiri.

Giovan mengerutkan alisnya saat melihat istrinya cengir-cengir tidak jelas.

"Ya, kami baik-baik saja," jawab Clarissa sambil mendekati Fabian.

"Btw, kamu ini siapa, ya? Kok aku tidak pernah lihat kamu?" tanya Clarissa seraya mendekati Fabian.

Fabian tampak bingung dengan tingkah Alisha yang centil. Ia mengalihkan tatapannya pada sepupunya, Giovan.

"Gov, dia kenapa?" tanya Fabian pada Giovan.

"Amnesia. Udah, biarin aja. Tingkahnya emang agak lain," jawab Giovan.

Clarissa berdecak kesal dan menatap tajam Giovan. "Bacot!" sentaknya yang membuat Fabian dan Giovan terkejut.

"Ada apa ini? Alisha yang kukenal tidak seperti ini," batin Fabian.

---

Bersambung

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!