Pagi itu berbau deterjen dan pengkhianatan.
Raina tidak tahu bagian mana yang lebih menyakitkan... aroma lavender dari cairan pencuci yang ia tuang ke ember, atau selembar kertas kecil yang tiba-tiba meluncur keluar dari kantung celana abu-abu milik Robby dan jatuh tepat di telapak tangannya.
Ia berdiri di depan mesin cuci. Matahari baru saja naik setinggi pohon rambutan di halaman. Suasana masih sepi, Robby sudah berangkat kerja sejak pukul tujuh, dan rumah terasa seperti kotak kosong yang terlalu besar untuk satu orang.
Raina sendirian.
Dan di tangannya, selembar struk hotel terlipat dua.
Ia menatapnya beberapa detik sebelum membuka lipatannya.
Grand Serena Hotel & Resort.
Check-in: Jumat, 14 Maret. Check-out: Sabtu, 15 Maret.
Deluxe Room — Rp 1.450.000 per malam.
Atas nama: Robert Saputra.
Tanggal itu Robby bilang ada pelatihan tim di luar kota. Semalam, dua malam, ia tidak pulang. Raina ingat menghabiskan Jumat malam sendirian dengan semangkuk mie instan dan serial televisi yang tidak benar-benar ia tonton.
Grand Serena bukan hotel murahan. Dan Grand Serena ada di kota yang sama dengan kota mereka.
Raina melipatnya kembali dengan rapi. Ia letakkan struk itu di tepi mesin cuci. Kemudian ia melanjutkan memilah pakaian, satu per satu, dengan tangan yang tetap bergerak meski kepalanya sudah berhenti berfungsi normal.
Kemeja putih Robby.
Yang ini terakhir dipakai kapan? Ia mengangkatnya, memeriksa kerah.. kebiasaan lama, karena Robby punya alergi di leher dan kadang perlu dikucek terlebih dahulu sebelum masuk mesin.
Raina membeku.
Di bawah kerah, samar tapi jelas bagi mata yang tahu mencarinya... garis merah muda pudar. Bukan noda makanan, bukan tinta. Bentuknya terlalu sempurna, terlalu berbentuk, untuk menjadi sesuatu yang tidak disengaja.
Bekas bibir.
Raina mendekatkan kemeja itu ke hidungnya. Di balik bau keringat dan sedikit bau parfum Robby yang ia kenal... ada sesuatu yang lain. Manis. Floral. Bukan parfumnya, bukan parfum Raina, bukan sesuatu yang pernah ia beli atau ia kenakan.
Ia menurunkan kemeja itu perlahan.
Kemudian duduk di lantai kamar mandi, punggung bersandar ke mesin cuci yang mulai bergemuruh, dan menatap ubin putih di depannya.
Yang aneh adalah... ia tidak menangis.
Dadanya sesak, ya. Ada sesuatu yang terasa seperti kepalan tangan di tengah rongga dadanya, sesuatu yang dingin, berat dan menekan. Tapi matanya kering. Ia menunggu air mata itu datang... sudah terbiasa, Raina selalu menangis saat terharu menonton film, menangis bahkan karena iklan susu di televisi yang menampilkan ibu dan anak.
Tapi untuk ini, tidak ada.
Mungkin karena jauh di dalam dirinya, bagian yang paling jujur dari Raina sudah tahu. Sudah lama tahu.
Ia mulai mengingat.
Tiga bulan lalu, Robby mulai sering pulang malam. Alasannya selalu masuk akal: proyek deadline, klien dari luar kota, rapat dadakan yang tidak bisa ditinggal. Raina tidak pernah mempertanyakan. Ia percaya.
Lalu dua bulan lalu, Robby tiba-tiba mengganti kata sandi ponselnya.
Raina pikir itu normal.
Sebulan lalu, saat mereka makan malam bersama dan Raina menyentuh lengan Robby untuk mengambil remote televisi, Robby menarik tangannya cepat, refleks, seperti disentuh sesuatu yang panas. Lalu tersenyum canggung dan bilang, "Kaget aja."
Raina pikir itu juga normal.
Tiga minggu lalu, ada nama kontak baru yang muncul di daftar panggilan Robby yang sempat terbuka di meja makan "Pak Hendra - Klien" yang rupanya menelepon hampir setiap hari, selalu di atas pukul delapan malam. Robby selalu mengangkat telepon itu di luar ruangan, di teras, kadang sampai ke halaman. Raina tidak bertanya. Ia pikir itu urusan pekerjaan.
Sekarang, duduk di lantai kamar mandi dengan struk hotel di tepi mesin cuci dan kemeja dengan bekas lipstik di tangannya, Raina menyusun semuanya seperti puzzle.
Dan gambar yang terbentuk sangat jelas.
"Bodoh,"pikirnya. Bukan untuk Robby, tapi untuk dirinya sendiri. "Kamu bodoh, Raina!"
Ia bangkit. Menyelesaikan cucian. Memasukkan semua pakaian ke mesin, menekan tombol, menunggu mesin mulai berputar. Ia menyimpan struk hotel itu di dalam laci mejanya, di bawah tumpukan buku catatan lama yang tidak pernah dibuka siapapun.
Kemudian ia masak. Nasi. Sayur asem. Tempe goreng.
Tangannya bergerak sendiri sementara kepalanya ada di tempat lain.
---
Siang hari berjalan lambat.
Raina duduk di kursi teras dengan segelas teh yang sudah dingin, menatap jalanan perumahan yang lengang. Perumahan Griya Asri blok C, nomor 14. Mereka sudah tinggal di sini lima tahun, sejak setahun setelah menikah. Rumah mungil dengan cat kuning gading yang sudah mulai memudar di sudut-sudutnya.
Dari teras, Raina bisa melihat rumah nomor 9 di seberang jalan... bercat putih, pagar kayu yang sudah sedikit kusam, tapi halaman depannya selalu bersih. Yang mencolok bukan rumahnya, melainkan penghuninya.
Monica.
Ibu rumah tangga biasa, bersuami Hadi... pria pendiam yang kerjanya tidak jelas, kadang proyek bangunan, kadang bantu-bantu warung, kadang tidak terlihat keluar rumah berhari-hari. Dari segi penghasilan, pasangan itu tidak seharusnya mencolok.
Tapi Monica mencolok.
Rambutnya selalu dirawat... lurus, mengkilap, seperti baru keluar dari salon mahal setiap minggunya. Tas-tasnya berganti-ganti. Sepatunya bukan produk pasar. Kulitnya terawat, yang pastinya membutuhkan lebih dari sekadar sabun mandi biasa.
Sekarang ia duduk di teras, menatap rumah nomor 9, dan merasakan sesuatu yang tidak enak mengendap di perutnya.
Monica selalu menyapa Robby dengan ceria setiap kali mereka berpapasan di jalan. Robby selalu membalasnya dengan terlalu ramah... Raina ingat sekarang, ingat dengan detail yang dulu ia abaikan. Tawa Robby yang sedikit lebih ringan. Langkahnya yang sedikit lebih lambat saat lewat depan rumah nomor 9.
Hal-hal kecil yang dulu tidak berarti apa-apa.
Sekarang terasa seperti tulisan yang sudah ada sejak lama, tapi Raina baru belajar membacanya hari ini.
Pukul empat sore, ponselnya bergetar.
Dari suaminya, Robby.
Ia mengangkat telepon.
"Halo."
"Rain, aku kayaknya bakal telat pulang malam ini. Ada lembur dadakan, klien minta revisi proposal sebelum besok pagi."
Suara Robby terdengar datar. Bukan lelah tapi datar. Seperti seseorang yang sedang membaca kalimat dari kertas.
Raina menarik napas pelan. "Oh. Ya sudah."
"Maaf ya. Kamu makan duluan aja."
"Oke."
Ia tutup telepon. Menatap layarnya yang kembali gelap.
Lembur. Klien. Revisi proposal.
Kalimat-kalimat itu tersusun terlalu rapi. Terlalu siap. Robby bahkan tidak pernah menelepon hanya untuk bilang ia akan terlambat, biasanya cukup pesan singkat. Tapi malam ini ia menelepon, seolah suara adalah bukti yang lebih meyakinkan dari sekadar teks.
Raina justru merasa sebaliknya.
Malam itu ia makan sendirian. Nasi yang ia masak tadi pagi, sayur yang sudah sedikit basi rasanya tapi masih bisa dimakan, tempe goreng yang terlalu asin karena tangannya tidak fokus saat memasak.
Televisi menyala tapi tidak ada yang ditonton.
Pukul sebelas malam, lampu di rumah nomor 9 masih menyala. Raina melihatnya dari jendela kamar yang ia buka sedikit, entah sejak kapan ia punya kebiasaan baru memperhatikan rumah itu.
Pukul dua belas lewat tiga puluh, ia mendengar suara kunci di pintu depan.
Robby masuk dengan langkah yang hati-hati... pelan, seperti seseorang yang tidak ingin membangunkan siapapun. Raina berbaring di tempat tidur dengan mata tertutup, napas diatur seperti orang tidur, mendengarkan setiap suara.
Gesper dibuka. Baju dilepas... ia mendengar bunyi lempar halus ke kursi sudut. Lalu suara langkah ke kamar mandi, air mengalir selama cukup lama... mandi, bukan sekadar cuci tangan.
Mandi sebelum tidur setelah pulang tengah malam.
Robby bukan tipe yang mandi malam kecuali sepulang dari tempat olahraga atau perjalanan jauh. Dan ia tadi bilang lembur di kantor.
Raina mendengarkan.
Ketika Robby akhirnya berbaring di sebelahnya, dalam dua menit napasnya sudah teratur. Tidur.
Kelelahan.
Tentu saja kelelahan.
Raina membuka matanya, menatap langit-langit kamar yang gelap.
Ia menunggu dua puluh menit lagi,memastikan napas di sebelahnya benar-benar napas tidur, bukan napas orang yang sedang berpura-pura. Kemudian, perlahan, ia membalikkan badan.
Robby tidur telentang. Mulutnya sedikit terbuka. Wajahnya dalam gelap terlihat seperti wajah yang ia kenal... rahang yang sama, hidung yang sama, lekukan di sudut bibirnya yang sama dengan yang pernah ia tatap selama berjam-jam di awal mereka pacaran.
Ponsel Robby terletak di kasur, tepat di sebelah tangannya yang terbuka.
Raina menatapnya.
Kemudian, dengan napas yang ditahan setengahnya, ia meraih ponsel itu.
Layar menyala tanpa password.
Raina ingat, Robby seminggu terakhir mengeluh jari-jarinya pegal karena terlalu banyak mengetik, dan ia sempat bilang sebentar nanti dikurangi dulu passwordnya biar gampang. Rupanya belum sempat dikunci lagi.
Atau lupa.
Raina membuka daftar aplikasi. WhatsApp...ia buka, gulir percakapan. Semua terlihat biasa: grup kantor, pesan dari ibunya, pesan dari temannya Dicky dan terakhir riwayat chat dengan Raina sendiri yang terakhir diisi pesan tadi sore.
Normal.
Ia membuka email. Juga normal... notifikasi dari marketplace, newsletter kantor, satu email dari klien tentang proposal yang memang ada. Barang bukti yang justru membuat semuanya terlihat terlalu rapi, seperti panggung yang sudah disiapkan.
Ia hampir meletakkan ponsel kembali.
Hampir.
Matanya berhenti di sebuah ikon yang tidak langsung ia kenali... bukan aplikasi yang umum, bukan yang biasa ia lihat di ponsel siapapun. Ikonnya polos, abu-abu, bentuknya seperti gembok kecil. Tidak ada nama tertulis di bawahnya.
Raina menekan ikon itu.
Aplikasi terbuka... semacam aplikasi pesan instan, tapi bukan yang umum. Tampilannya gelap, minimalis. Ada satu percakapan aktif.
Kontak tersimpan hanya dengan satu huruf: M.
Raina menggulir ke atas.
Ia membaca dalam gelap, layar di kecerahan paling rendah yang masih bisa terbaca, mulut terkatup rapat.
Kalimat-kalimat itu pendek-pendek tapi cukup untuk menghancurkan satu per satu hal yang ia bangun selama ini. Ada tawa yang ia bukan bagian di dalamnya. Ada rencana yang dibuat tanpa sepengetahuannya. Ada nama panggilan yang terdengar seperti nama yang diciptakan untuk dunia lain... dunia yang tertutup bagi Raina.
Dan satu pesan, dikirim tadi malam pukul sebelas lewat empat puluh:
"Makasih malamnya. Tadi enak banget."
Dibalas Robby pukul dua belas lewat lima:
"Aku yang makasih."
Raina menggeser ke profil kontak M.
Foto profil kecil, setengah wajah, tapi cukup.
Rambut hitam lurus. Senyum yang Raina pernah balas dengan senyum di depan pos satpam. Wajah yang tiap hari bisa dilihat dari balik jendela kamarnya.
Monica.
Istri Hadi.
Rumah nomor 9.
Raina meletakkan ponsel kembali ke tempatnya... pelan, tepat di posisi semula, dengan presisi yang hanya mungkin dilakukan oleh seseorang yang sedang mengerahkan seluruh kendalinya untuk tidak melakukan hal lain.
Kemudian ia berbaring lagi, menarik selimut sampai ke dagu, dan menatap langit-langit yang sama yang sudah ia tatap sepanjang malam.
Di sebelahnya, Robby tidur nyenyak setelah mandi yang menghapus bukti.
Di seberang jalan, di rumah bercat putih itu, ada seorang perempuan bersuami yang rupanya juga tidak merasa cukup dengan apa yang sudah dimilikinya.
Dan di sini... di bawah selimut yang sama, di kasur yang sama, Raina berbaring dengan mata terbuka dan dada yang tidak bergerak seperti seharusnya.
Ia tidak menangis.
Matanya kering.
Raina bangun pukul lima.
Bukan karena alarm, ia memang tidak tidur dengan benar. Sepanjang malam ia hanya berpindah-pindah antara berbaring dengan mata terbuka dan setengah terkantuk yang tidak bisa disebut tidur. Tapi ketika subuh masuk dari celah jendela, ia bangkit seperti biasa, ke kamar mandi seperti biasa, lalu ke dapur seperti biasa.
Karena itulah yang harus ia lakukan sekarang.
Seperti biasa.
Ia menanak nasi, menggoreng telur, merebus air untuk kopi. Tangannya bergerak dengan hafalan yang sudah tertanam bertahun-tahun.
Raina meletakkan cangkir kopi di meja makan tepat ketika Robby muncul dari lorong kamar.
Ia duduk di kursi seberang, menyendok telur ke piringnya sendiri, dan menatap Robby dengan wajah yang sudah ia latih sejak subuh tadi... wajah biasa, wajah pagi hari, wajah perempuan yang semalam tidur nyenyak dan tidak tahu apa-apa.
Robby duduk, menarik cangkir kopinya, menyeruput sekali, lalu mengeluarkan ponselnya dan meletakkannya di samping piring.
Raina makan.
Robby minum kopi sambil menatap layar ponselnya. Jempolnya bergerak, menggulir sesuatu. Lalu... senyum. Bukan senyum kecil yang samar, tapi senyum yang naik sampai ke sudut matanya, senyum yang keluar tanpa sadar dari seseorang yang sedang membaca sesuatu yang menyenangkan.
Raina menatapnya tiga detik.
Lalu menunduk kembali ke piringnya.
Di dalam dadanya ada sesuatu yang mengencang, seperti tali yang diputar terlalu kencang, satu putaran lagi dan ia akan putus. Tapi tangannya tetap memegang sendok dengan tenang. Kunyahan pertama, kedua, ketiga.
Kemudian ia mendongak dan berkata dengan nada yang ringan, nada perempuan yang sekadar penasaran:
"Lagi lihat apa? Dari tadi senyum-senyum."
Robby mendongak.
Setengah detik, hanya setengah detik tapi Raina melihatnya. Ada sesuatu yang bergerak di wajah Robby, sesuatu yang cepat dan tidak sempat disembunyikan. Rahangnya sedikit mengencang. Matanya berkedip sekali lebih banyak dari biasanya.
Kemudian senyum itu kembali, tapi kali ini bentuknya berbeda. lebih sadar, lebih diatur.
"Video lucu," kata Robby. Ia memutar layarnya sebentar ke arah Raina, sebuah klip pendek, orang jatuh dari sepeda, suara tawa di latar belakang. "Dikirim si Dicky. Receh banget."
"Oh." Raina mengangguk. Tersenyum tipis. "Kirim ke aku dong."
"Nanti."
Robby memutar layarnya kembali. Jempolnya bergerak lagi, tapi kali ini lebih berhati-hati... lebih terkontrol, tidak lagi membiarkan senyum naik ke permukaannya.
Raina meneruskan sarapannya.
Tidak ada video lucu yang membuat orang senyum seperti itu di pagi hari. Senyum seperti itu bentuknya berbeda... lebih hangat, lebih dalam, seperti seseorang yang baru saja menerima sesuatu yang ingin ia simpan sendiri.
Raina tahu. Ia hanya tidak mengatakan apa-apa.
Ia menunggu sampai Robby selesai makan dan meletakkan sendoknya sebelum bicara lagi.
"Rob, beras kita habis."
Robby tidak langsung menjawab. Ia menyeruput sisa kopinya. "Beli aja."
"Iya, makanya minta uang."
"Uang belanjaan bulan ini kan sudah aku kasih."
Raina meletakkan sendoknya pelan. "Itu sudah habis."
Robby akhirnya meletakkan ponselnya tidak senang. Karena merasa terganggu. "Habis buat apa? Baru tanggal dua belas."
"Buat makan, Rob. Buat sabun, buat listrik, buat..."
"Segitu aja nggak cukup?"
Raina menatapnya. "Satu juta rupiah untuk satu bulan. Kamu rasa cukup?"
"Orang lain bisa." jawab Robby santai, bahkan terlalu santai untuk ukuran seorang pria yang sudah memiliki istri.
"Orang lain dengan berapa orang di rumah? Dengan harga beras sekarang? Dengan..."
"Raina." Suara Robby turun satu nada... bukan keras, tapi menggeram seperti amarah yang tertahan. "Aku lagi nggak punya uang lebih sekarang. Kondisi lagi nggak bagus."
Raina menghitung di kepalanya. Gaji Robby enam juta sebulan. Ia tahu, karena dulu sebelum semua ini mereka masih bicara terbuka soal keuangan.
"Gaji kamu enam juta, Rob." suara Raina sedikit ia naikkan. Bukan sengaja, tapi karena rasa terkejut.
"Banyak pengeluaran." jawab Robby mengeluarkan alasan klasik yang Raina anggap basi.
"Pengeluaran apa?"
Robby mendorong kursinya mundur dan berdiri. "Kamu nggak perlu tahu detail keuangan aku."
"Aku istri kamu." Raina mulai memperjelas atau mungkin mengingat statusnya di rumah ini.
"Dan ini uang aku." Nada suaranya naik sekarang. "Sudah aku kasih jatah, masih kurang terus. Masalahnya bukan di uangnya, masalahnya di kamu yang nggak bisa atur!"
Raina tidak bergerak dari kursinya. Amarahnya langsung terpancing dengan mudah. "Satu juta untuk satu bulan itu bukan soal bisa atau nggak bisa atur, Rob. Itu memang tidak cukup."
"Tuh!" Robby menunjuk ke arah jendela... ke arah jalanan di luar, ke arah yang Raina tahu persis ke mana ujungnya. "Lihat Monica! Suaminya kerja serabutan, penghasilan nggak jelas, tapi istrinya bisa tampil cantik, rapi, keliatan terawat! Kamu? Mana pernah dandan, mana pernah keliatan usaha!"
Kata-kata itu mendarat seperti tamparan terbuka yang membekas.
Raina duduk diam selama dua detik penuh.
Kemudian, dengan suara yang lebih pelan dari yang ia sangka bisa ia keluarkan, ia menjawab.
"Bagaimana aku bisa tampil cantik, Rob, kalau uang yang kamu kasih bahkan tidak cukup untuk beli beras sampai akhir bulan?"
"Alasan!" sahut suaminya dengan ekspresi jijik saat melihat tubuhnya yang ada dibalut dengan daster sederhana.
"Itu bukan alasan. Itu matematika sederhana." Raina membantah.
"Perempuan lain bisa!" lagi, ia dibandingkan dengan istri lain.
"Perempuan lain dapat uang berapa dari suaminya?" Raina akhirnya berdiri juga, bukan hanya karena marah, tapi karena duduk terasa seperti menyerah. "Kamu tahu Monica dapat uang dari mana untuk tampil seperti itu? Kamu yakin itu dari gaji Hadi yang kerjanya serabutan?"
Sesuatu bergerak lagi di wajah Robby... cepat, tidak sempat ditangkap kalau tidak tahu harus mencarinya.
"Maksud kamu apa?" Robby mulai ahli dalam mengembalikan ekspresi wajahnya yang sempat terkejut beberapa detik.
"Tidak ada." Raina menarik napas, lelah. Karena amarah yang tidak berarti apa-apa. "Aku cuma bilang, jangan bandingkan kondisi orang kalau kamu tidak tahu kondisinya yang sebenarnya."
Robby menatapnya beberapa detik. Rahangnya mengencang. Kemudian ia mengambil kunci mobil dari meja, meraih tasnya dari sandaran kursi, dan berjalan ke pintu.
"Boros dan nggak tahu terima kasih," katanya tanpa menoleh. "Itu masalah kamu."
Pintu ditutup pelan, tapi rasanya seperti lebih keras dari bantingan.
Raina berdiri di dapur, menatap meja makan yang masih berantakan, cangkir kopi Robby yang masih ada sisa di dasarnya, piring yang belum dicuci.
Ia kehabisan kata-kata.
Bukan karena tidak punya yang ingin dikatakan... terlalu banyak yang ingin ia katakan, justru itu masalahnya. Semuanya berdesakan di kerongkongannya sampai tidak ada satu pun yang bisa keluar dengan benar.
Ia duduk kembali di kursinya.
Menatap meja.
Diam.
---
Sepuluh menit kemudian, Raina mulai mengingat potongan ingatan semalam.
Sebelum tidur... Raina ingat ia sempat melihat sekilas notifikasi di layar ponsel Robby yang menyala sendiri ketika diletakkan di kasur. Ia tidak sempat membacanya dengan jelas. Hanya sekilas, hanya sepotong.
Notifikasi dari aplikasi perbankan.
Ia meletakkan piring terakhir di rak pengering, mengeringkan tangannya, dan berjalan ke kamar tidur.
Lemari pakaian Robby selalu sedikit berantakan di laci bawah... ia tahu itu, karena ia yang membereskannya setiap minggu. Tapi ada satu laci yang Robby sering kunci dengan gembok kecil, laci paling bawah, yang katanya berisi dokumen pekerjaan yang tidak boleh sembarangan dibuka.
Raina tidak pernah membukanya.
Sampai sekarang ia menyadari bahwa gembok kecil itu sudah tidak tergantung di tempatnya... mungkin lupa dikunci tadi pagi, mungkin memang tidak terkunci, mungkin Robby sedang tergesa-gesa.
Ia menarik laci itu.
Di dalam ada beberapa amplop, satu map plastik biru, dan di bawah tumpukan kertas... selembar bukti transfer yang tertekuk di sudutnya, seperti seseorang yang menyembunyikannya dengan terburu-buru.
Raina mengambilnya.
Kertas itu tipis, jenis yang keluar dari mesin ATM atau dicetak dari aplikasi perbankan. Tanggalnya dua minggu lalu.
Transfer Berhasil
Nominal: Rp 10.000.000
Kepada: Monica Andita
Catatan: ...
Raina membaca angka itu tiga kali.
Sepuluh juta rupiah.
Dua minggu lalu.
Di bulan yang sama Robby bilang kondisi keuangan sedang tidak bagus. Di bulan yang sama Raina diberi satu juta rupiah untuk bertahan selama tiga puluh hari. Di bulan yang sama beras mereka habis sebelum tanggal lima belas dan Robby baru saja berdiri di dapur ini, menunjuk ke arah rumah Monica, dan mengatakan bahwa Raina tidak tahu cara mengatur uang.
Sepuluh juta rupiah.
Untuk Monica Andita.
Istri Hadi yang kerjanya serabutan, yang entah dari mana bisa membeli tas mahal dan merawat kulitnya seperti perempuan di iklan televisi.
Raina melipat bukti transfer itu.
Dan untuk pertama kalinya sejak kemarin pagi... sejak struk hotel itu jatuh ke telapak tangannya, ada sesuatu yang bergerak di dalam dadanya. Bukan sedih. Bukan lagi rasa tertampar yang pelan dan dingin seperti semalam.
Ini berbeda.
Ini panas.
Raina berdiri di depan lemari Robby, menatap laci yang sudah tertutup kembali, dan merasakan sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan... sesuatu yang terasa seperti api kecil yang baru saja diberi bahan bakar yang cukup untuk tidak padam dalam waktu dekat.
Untuk istrinya satu juta rupiah, dan itu pun masih dianggap boros.
Untuk perempuan di seberang jalan sepuluh juta rupiah, dan itu rupanya masih belum cukup untuk disebut pengeluaran.
Raina menarik napas panjang, dalam, pelan, terkontrol.
Kemudian ia keluar dari kamar, kembali ke dapur, dan mulai menyapu lantai.
Karena itulah yang harus ia lakukan sekarang.
Bergerak. Berpikir. Menyusun.
Sambil tersenyum, sampai waktunya tiba untuk berhenti atau membalas dendam.
Subuh belum sepenuhnya pergi ketika Hadi membuka matanya.
Kamar masih gelap... gorden tebal yang Monica beli bulan lalu, katanya supaya tidurnya lebih nyenyak, memblokir hampir semua cahaya dari luar. Hadi berbaring sebentar, menatap langit-langit, mendengarkan suara lingkungan yang pelan-pelan mulai hidup. Suara motor di kejauhan. Suara ayam tetangga. Suara kehidupan normal yang berjalan seperti biasa di luar sana.
Di dalam kamar ini, di sebelahnya Monica masih tidur.
Ia miring ke kanan, menatap istrinya dari belakang, rambut hitam lurus yang tergerai di bantal, bahu yang naik turun pelan. Cantik. Monica memang selalu cantik, bahkan tidur pun cantik, dan dulu... dulu sekali, ketika semuanya masih berbeda, Hadi sering terbangun lebih awal hanya untuk menatapnya seperti ini.
Sekarang ia menatapnya dan merasakan sesuatu yang lebih mirip kelelahan.
Ia bangkit, duduk di tepi kasur, mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Pukul enam pagi, Hadi sudah mandi dan duduk di tepi kasur lagi, kali ini sudah berpakaian. Perutnya kosong, ia tidak menemukan apapun di dapur selain air mineral dan sisa kerupuk dalam toples yang sudah melempem. Monica belum belanja sejak tiga hari lalu.
Ia menoleh ke istrinya yang masih tidur.
"Mon." panggilnya lembut, sambil menepuk pelan bahu istrinya.
Tapi tidak ada respons.
"Monica." Ia memanggil kembali. Kali ini bukan hanya menyentuh bahunya pela .Tapi sedikit ia goyangkan.
Monica bergerak, hanya menggeser badannya menjauhi sentuhan Hadi, menarik selimut lebih tinggi ke dagunya.
Hadi menarik napas, lelah. Selalu seperti ini, Monica ketika dibangunkan. "Mon, bangun. Aku belum sarapan."
"Hmm." jawabnya hanya dengan deheman saja.
"Masak dulu, ya. Atau minimal bikin nasi goreng..." pinta Hadi, yang hampir... bahakan bisa dihitung menggunakan jari. Berapa kali Monica memasakkan nya sarapan.
"Hadi." Suara Monica keluar dari balik selimut, berat dan tidak ramah. "Jam berapa sekarang?"
"Enam."
"Masih pagi."
"Tapi aku mau kerja."
Monica akhirnya berbalik, menatap Hadi dengan mata yang setengah terbuka dan ekspresi yang tidak menyembunyikan ketidaksukaannya. "Lalu?"
"Tolong masak dulu." pintanya memelas.
Hening tiga detik.
Kemudian Monica mendorong selimutnya dan duduk. Bukan pelan, tapi sedikit keras.
"Kamu minta aku masak?" serunya dengan suara meninggi.
"Iya, Mon. Sarapan. Sederhana saja..." pintanya lagi. Berharap kali ini Monica mau memasak untuknya.
"Aku bukan pembantu kamu, Hadi." sinisnya.
Kata-kata itu keluar datar, bukan berteriak, tapi justru karena itu lebih membekas.
Hadi menatap istrinya. "Aku tidak bilang kamu pembantu. Aku minta tolong dimasakkan sarapan. Itu hal biasa antara suami dan istri."
"Masak sendiri kalau mau makan." Monica berbaring lagi, menarik selimutnya.
Hadi berdiri dari kasur. Ia berjalan ke jendela, membuka gorden sedikit agar cahaya pagi masuk, Monica mendesis pelan tapi tidak berkata apa-apa. Ia berdiri di sana sebentar, menatap jalanan Griya Asri yang mulai bergerak, dan menenangkan sesuatu yang bergetar di dadanya.
"Kamu pulang jam berapa semalam?"tanyanya tanpa menoleh.
"Tidak tahu." jawabnya cuek. Tanpa peduli dengan perasaan suaminya.
"Mon." Hadi memanggil lagi.
"Kenapa?"
Hadi berbalik, menatap istrinya. "Aku serius bertanya. Jam berapa kamu pulang? Waktu aku tunggu sampai jam sebelas, kamu belum ada."
Monica menatapnya dari balik selimutnya, malas. "Itu bukan urusan kamu."
"Tapi kamu istriku." sahut Hadi menekan jelas kata istri untuk mengingatkan Monica tentang hubungan mereka.
"Dan kamu suamiku. Lalu kenapa?" Nada suaranya naik satu oktaf, bukan marah, tapi semacam tantangan. "Mau apa? Mau marahi aku? Mau larang aku keluar?"
"Aku hanya ingin tahu kamu di mana." Hadi ikut menaikkan intonasi suara.
"Tidak perlu tahu."
Sesuatu di dalam dada Hadi mengencang. Ia sudah mengenal perasaan ini... sudah terlalu sering ia rasakan dalam dua tahun terakhir, sejak Monica berubah menjadi seseorang yang tidak lagi ia kenali sepenuhnya. Ia biasanya berhasil menahannya. Biasanya... tapi kali ini...
"Monica." Suaranya kembali rendah sekarang, tapi lebih berat. "Kamu makin keterlaluan. Ini bukan pertama kali kamu pulang larut, tidak bilang ke mana, tidak mau bicara. Aku ini suami kamu. Minimal hargai itu."
Monica duduk lagi. Kali ini ia benar-benar duduk tegak, rambut berantakan tapi wajahnya tidak terlihat malu atau bersalah sedikitpun. "Mau dihargai?" Ia memiringkan senyumnya, sinis.
"Iya." Hadi mengangguk. karena itulah yang ia harapkan.
"Kasih aku uang." sahut Monika enteng.
Hadi terdiam.
"Semudah itu," lanjut Monica. "Kamu mau aku hormat kamu sebagai suami, kamu mau aku tanya kabar kamu, kamu mau aku ada di rumah tiap malam... kasih aku uang yang layak. Bukan recehan."
"Aku sudah kasih semua yang aku punya, Mon."
Monica tertawa pendek, tidak ada senangnya. bahkan terlihat sangat meremehkan. "Semua yang kamu punya." Ia mengulang kalimat itu seperti mengulang sesuatu yang lucu. "Tiga ratus ribu seminggu. Itu yang kamu bangga-banggakan sebagai nafkah?"
"Itu hasil kerja kerasku. Hasil keringatku!" tegasnya.
"Itu recehan, Hadi." Suaranya tajam sekarang, tidak lagi datar. "Kamu mau tahu kenapa aku tidak menghargai kamu? Karena laki-laki yang menghargai istrinya tidak akan membiarkan istrinya hidup seperti ini. Rumah biasa, uang pas-pasan, tidak bisa beli apa-apa..."
"Kita tidak kekurangan... "
"Aku kekurangan!" Monica berdiri dari kasur, melipat kedua tangan di dada. "Aku ingin lebih dari ini, Hadi. Aku menikah untuk hidup enak! bukan hidup susah bahkan melarat!"
Krak!
Kepalan tangan Hadi mendarat di pintu lemari, bukan tamparan, tapi pukulan penuh dari seseorang yang sudah menahan terlalu banyak, terlalu lama. Pintu lemari retak di sudutnya, engsel bawahnya terlepas.
Kamar menjadi hening.
Hadi berdiri dengan tangan masih menempel di permukaan lemari yang rusak, bahunya naik turun. Monica menatapnya...tidak takut, tidak kaget, hanya menatap dengan ekspresi yang lebih mirip bosan daripada apapun.
"Sudah?" tanya Monica cuek bahkan tak peduli.
Hadi menutup matanya sedetik. Lalu membukanya lagi. "Mon!" ia masih berusaha untuk sabar.
"Mau dihargai," potong Monica, suaranya kembali datar seperti sebelumnya, "kasih aku dua puluh juta sebulan. Itu baru bisa kita bicara soal menghargai."
"Dua puluh juta." Hadi mengulangnya pelan, seperti memastikan ia mendengar dengan benar.
"Minimal." Monica melangkah ke meja riasnya, duduk, mulai membuka kotak perhiasannya. "Selama kamu tidak bisa kasih itu, jangan harap aku anggap kamu sebagai suami. Kamu cuma orang yang kebetulan tinggal di rumah yang sama denganku."
Hadi menatap punggung istrinya di cermin rias. Wajah Monica di pantulan cermin terlihat tenang... benar-benar tenang, tidak ada getaran, tidak ada rasa bersalah.
Sesuatu di dalam dirinya bergolak, tangan kirinya mengepal, naik setinggi pinggang Monica...
Lalu berhenti.
Ia menurunkan tangannya.
Selangkah mundur.
Kemudian dua langkah.
"Kamu..." suaranya keluar patah di tengah. Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Monica tidak menoleh.
Hadi duduk di sofa ruang tamu, menatap lantai.
Dari balik pintu kamar yang tertutup ia mendengar suara laci dibuka tutup, suara semprotan parfum, suara yang familiar... suara Monica sedang bersiap pergi ke suatu tempat.
Dua puluh menit kemudian pintu kamar terbuka.
Monica keluar dengan gaun pendek bercorak bunga, tas kulit cokelat di bahunya, rambut diurai rapi, bibir merah muda. Ia melangkah ke arah pintu depan tanpa memperlambat langkahnya, tanpa menoleh ke arah sofa.
"Mau ke mana?" tanya Hadi.
Langkah Monica tidak berhenti.
"Mon."
Pintu depan dibuka, kemudian ditutup keras.
Hadi tinggal sendirian di ruang tamu.Ia menatap tangannya sendiri... tangan yang tadi nyaris terangkat, yang berhasil ia tahan setengah detik sebelum menjadi sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali.
Dua puluh juta sebulan.
Minimal.
Hadi mengenal Monica sejak lima tahun lalu... perempuan sederhana dari kampung sebelah, yang dulu tertawa karena hal-hal kecil, yang dulu bilang tidak butuh banyak asalkan ada cinta. Ia memperjuangkan Monica ketika keluarganya tidak setuju, ketika teman-temannya bilang terlalu terburu-buru, ketika semua tanda menunjukkan ia harus berpikir ulang.
Tapi ia tetap memilih Monica.
Dan perempuan yang ia pilih itu baru saja berjalan keluar tanpa menganggapnya ada.
Hadi keluar dari rumah dua puluh menit kemudian.
Ia tidak naik motor, tangan di saku jaket, kepala sedikit menunduk. Berjalan ke ujung blok, berbelok ke kiri, terus sampai ke jalan kecil di belakang perumahan yang jarang dilalui orang... di antara tembok belakang perumahan dan kebun kosong yang sudah lama tidak terurus, ditumbuhi pohon-pohon besar yang akarnya mulai merayapi trotoar.
Tempat yang sepi.
Ia berhenti di bawah pohon besar di ujung jalan itu, mengeluarkan ponselnya, dan mengetik sesuatu.
Tidak lama sekitar lima menit sebuah motor matic berhenti di ujung jalan. Pengendaranya perempuan tiga puluhan, berpakaian rapi dengan rompi hitam tipis. Ia melepas helmnya dan berjalan menghampiri Hadi.
"Pagi, Pak Hadi."
"Pagi, Laras." Hadi memasukkan ponselnya kembali ke saku. "Ada update?"
Laras membuka tas selempangnya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat tipis. "Laporan minggu ini. Tim sudah cek semua poin yang diminta. Termasuk yang dari Surabaya."
Hadi mengambil amplop itu, membukanya, menelusuri isinya dengan cepat, matanya bergerak profesional, bukan seperti orang yang sedang membaca surat biasa.
"Proyek Timur bagaimana?"
"Sudah on track. Pak Reza minta konfirmasi langsung dari Pak Hadi untuk finalisasi kontrak minggu depan. Nilainya naik dari estimasi awal, sekarang di angka empat belas miliar."
"Bilang oke. Aku akan telepon beliau sore ini."
"Siap." Laras mencatat sesuatu di ponselnya. "Rekening operasional bulan ini juga sudah disiapkan. Mau ditransfer ke nomor yang biasa?"
"Iya."
*Baik, Pak!" Laras berhenti sebentar. Kemudian, dengan nada yang sedikit lebih hati-hati: "Pak Hadi Hadi baik-baik saja?"
Hadi menutup amplop itu. "Kenapa?"
"Tidak apa-apa. Wajah Bapak terlihat..." Laras tidak menyelesaikan kalimatnya.
"Aku baik." Ia melipat amplop itu dan memasukkannya ke dalam jaket. "Ada lagi?"
"Untuk sekarang tidak ada."
"Oke." Hadi mengangguk. "Hati-hati di jalan."
Di balik pohon besar dua meter dari tempat mereka berdiri, Raina tidak bernapas.
Ia pulang dari pasar pagi itu... beras setengah kilo yang ia beli dengan uang simpanan kecilnya yang hampir habis, segenggam cabai, dua butir bawang, sabun cuci piring. Kantong plastiknya tidak terlalu berat, tapi ia jinjing dengan kedua tangan seperti sesuatu yang berharga.
Ia mengambil jalan belakang karena lebih dekat dari warung bu Eti yang ada di balik blok... jalan yang jarang ia lewati, jalan yang pagi ini rupanya membawanya ke tempat yang salah waktu atau justru tepat waktu, tergantung cara memandangnya.
Ketika ia membelok ke jalan kecil itu dan melihat Hadi berdiri di ujungnya, Raina hampir memanggil... wajar saja, tapi ada sesuatu yang membuat langkahnya berhenti.
Lalu perempuan itu datang. Dan Raina mundur dua langkah ke belakang dan berdiri di balik batang pohon besar yang cukup untuk menyembunyikannya.
Ia mendengar semuanya.
Raina menatap celah di antara daun-daun, mengintip ke arah dua orang yang berdiri di ujung jalan. Hadi yang setiap hari ia lihat duduk lesu di teras rumah nomor 9, Hadi yang kata orang-orang kerjanya serabutan, Hadi yang istrinya meremehkan uang pemberiannya...
Berdiri di sini, di jalan sepi ini, berbicara tentang kontrak miliaran dengan seorang asisten yang memanggilnya Pak Hadi dengan nada hormat yang tidak bisa dibuat-buat.
Motor Laras pergi.
Hadi berdiri sendirian sebentar, menatap amplop di tangannya. Kemudian ia mendongak... dan untuk sepersekian detik, arah pandangannya hampir tepat ke pohon tempat Raina berdiri.
Raina tidak bergerak. Tidak bernapas.
Hadi menunduk lagi, memasukkan tangannya ke saku jaket, dan berjalan ke arah yang berlawanan.
Raina berdiri di balik pohon itu sendirian, kantong plastik berasnya menggantung di tangannya, jantungnya memukul lebih keras dari yang ia harapkan.
Ia menatap jalan kosong di depannya.
Di kepalanya, kepingan-kepingan yang sudah berserakan sejak kemarin pagi mulai bergerak, bergeser, saling mencari tempat, membentuk sesuatu yang belum sepenuhnya jelas tapi sudah cukup untuk membuat perutnya terasa aneh.
Monica yang tampil seperti orang kaya meski suaminya kerjanya serabutan.
Transfer sepuluh juta dari Robby ke Monica.
Dan suami yang kata semua orang miskin itu... ternyata memiliki asisten pribadi dan berbicara tentang proyek empat belas miliar di jalan belakang perumahan.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!