Suara pecahan kaca menggema keras di dalam ruang kerja mewah milik keluarga Mahendra. Kanisha Rayya Shanika berdiri mematung di ambang pintu dengan napas memburu. Tangannya tampak gemetar hebat saat nampan makanan yang berisi secangkir kopi dan roti sandwich yang tadi ia bawa jatuh begitu saja ke lantai marmer dan membuat gelas kopi itu pecah tanpa sempat ia pedulikan. Dadanya terasa sesak. Bukan karena ia berlari terlalu cepat menuju ruangan itu, melainkan karena apa yang baru saja dilihatnya.
Di balik meja kerja besar berwarna hitam itu, sang suami—Arven Mahendra—terlihat buru-buru melepaskan pelukannya dari seorang wanita. Kancing atas kemeja pria itu terbuka berantakan sementara lipstik merah samar masih membekas jelas di kerah kemeja putihnya. Sedangkan wanita yang bersama Arven, Kanisha mengenalnya dengan sangat baik.
Selena Wijaya.
Sekretaris pribadi suaminya sendiri. Wanita yang selama ini selalu terlihat sopan dan profesional di depan dirinya. Wanita yang bahkan sering makan malam bersama mereka ketika pekerjaan Arven sedang padat.
Dan sekarang, Wanita itu berdiri di ruang kerja suaminya dengan gaun ketat berwarna hitam, rambut berantakan, serta wajah panik karena ketahuan selingkuh.
Hancur.
Itu satu-satunya kata yang mampu menggambarkan perasaan Kanisha saat ini.
“A-Apa yang kalian lakukan…?” tanya Kanisha dengan suaranya yang lirih.
Begitu lirih sampai terdengar seperti bisikan yang nyaris patah. Arven mengembuskan napas kasar sambil merapikan lengan kemejanya. Tidak ada raut panik berlebihan di wajah pria itu, tidak ada rasa bersalah seperti yang diharapkan Kanisha. Justru ekspresi dingin yang membuat hati Kanisha terasa semakin remuk.
“Kanisha—”
“Jawab aku!”
Bentakan itu keluar begitu saja dari mulut Kanisha. Untuk pertama kalinya selama lima tahun pernikahan mereka, Kanisha membentak suaminya sendiri. Air matanya mulai jatuh tanpa bisa ditahan lagi.
“Aku nanya sama kamu, mas… Apa yang kalian lakukan disana?!”
Selena terlihat gugup. Wanita itu buru-buru mengambil tasnya yang terjatuh di sofa.
“Pak Arven… saya pergi dulu.”
“Tunggu sebentar, Selena.” panggil Arven yang membuat Selena langsung terdiam.
Kanisha sampai tertawa kecil mendengarnya.
Tawa yang terdengar menyakitkan.
“Hebat…” lirih Kanisha dengan napas bergetar. “Bahkan sekarang dia nurut banget sama kamu, mas.”
“Kanisha, kita bisa ngomong baik-baik.”
“Baik-baik?” ulang Kanisha tak percaya. “Aku mergokin suamiku selingkuh di rumah kita sendiri dan mas masih minta buat ngomong baik-baik sama aku?”
Suasana ruangan itu terasa begitu menyesakkan. Lampu kristal di langit-langit masih menyala terang, tapi Kanisha merasa dunianya mendadak gelap gulita. Ia menatap Arven lekat-lekat. Pria itu masih setampan dulu, masih sama seperti lelaki yang membuatnya jatuh cinta bertahun-tahun lalu. Lelaki yang dulu bersumpah akan mencintainya seumur hidup. Tapi malam ini, semua terasa asing.
“Apa kurangnya aku, mas…?”
Pertanyaan itu akhirnya keluar juga dengan pelan, rapuh dan penuh luka dari bibir Kanisha. Arven memijat pelipisnya seolah lelah menghadapi situasi ini.
“Hentikan Kanisha! Jangan bikin drama di rumah ini.”
Kalimat itu terasa seperti tamparan keras bagi Kanisha. Drama? Jadi rasa sakitnya dianggap drama? Kanisha menunduk sesaat sambil mengusap air matanya yang terus mengalir. Namun percuma, semakin ia tahan, semakin deras tangisannya jatuh.
“Sudah berapa lama…?” Arven terdiam sementara Kanisha menatap wajah suaminya dengan matanya yang merah dan basah. “Aku tanya sama kamu…” suaranya pecah. “Sudah berapa lama kalian menjalin hubungan dibelakang ku?”
Selena terlihat semakin tidak nyaman. Wanita itu beberapa kali melirik Arven, seolah meminta pria itu tidak mengatakan apa-apa. Tapi Arven justru menjawab dengan nada datar.
“Empat tahun.”
Deg, Kanisha merasa tubuhnya limbung. Empat tahun? Bibirnya terbuka perlahan, tapi tidak ada suara yang keluar. Empat tahun, itu artinya suaminya selingkuh hampir selama pernikahan mereka. Artinya selama ini ia hidup dalam kebohongan.
Selama empat tahun itu Arven pulang ke rumah, tidur di sampingnya, makan bersama dirinya, tersenyum seolah semuanya baik-baik saja, Padahal diam-diam pria itu membagi cintanya dengan wanita lain. Kanisha sampai harus berpegangan pada sisi pintu karena lututnya terasa lemas.
“Empat… tahun…?”
Arven mengangguk singkat tanpa rasa bersalah sedikit pun dan itu jauh lebih menyakitkan daripada perselingkuhan itu sendiri.
“Aku bahkan…” napas Kanisha tersendat. “Aku bahkan nggak pernah curiga sama sekali…”
“Tapi sekarang kamu udah tahu.”
Jawaban dingin itu membuat air mata
Kanisha semakin deras.
“Kenapa…?” tanya Kanisha lirih. “Kenapa kamu lakuin ini sama aku, mas?”
Arven tidak langsung menjawab sedangkan Selena memilih berdiri diam seperti orang yang tidak ingin ikut campur, walaupun jelas-jelas dialah penyebab kehancuran rumah tangga mereka. Kanisha menatap wanita itu dengan tatapan penuh luka.
“Kamu…” suara Kanisha bergetar. “Kamu tahu dia suamiku, Selena. Kenapa kamu tega bermain api dengan suamiku!!!”
Selena menunduk.
“Saya nggak pernah berniat—”
“Kalau nggak berniat, kamu nggak mungkin ada di sini!”
Bentakan Kanisha membuat Selena terdiam. Kanisha benar-benar merasa dadanya sakit. Ia begitu mempercayai wanita itu selama ini dan bahkan pernah membelanya ketika beberapa karyawan kantor membicarakan kedekatan Selena dengan Arven. Bodohnya dirinya, benar-benar bodoh.
“Aku selalu percaya sama kalian…” gumam Kanisha pelan sambil tertawa pahit. “Aku bahkan mikir kalau mas terlalu cinta sama aku buat selingkuh.”
Arven mendecakkan lidah dengan pelan.
“Udah selesai nangisnya?”
Kanisha langsung menatap suaminya dengan tak percaya.
“Apa?”
“Aku capek.”
Jawaban itu terasa begitu kejam. Kanisha melangkah mendekati Arven perlahan sementara air matanya masih terus jatuh.
“Aku mohon mas…” ucapnya lirih. “Kita bisa benerin semuanya.” Arven mengernyit, Kanisha meraih tangan pria itu dengan gemetar. “Aku nggak peduli soal malam ini. Aku bisa lupain semuanya kalau kamu mau berhenti.” tangisnya pecah lagi. “Tolong akhiri hubungan kamu sama dia, mas.”
“Kanisha—”
“Aku serius…” katanya cepat. “Kita mulai lagi dari awal. Aku bakal berusaha jadi istri yang lebih baik buat kamu.”
Selena tampak tidak suka mendengar itu sedangkan Arven justru menarik tangannya perlahan dari genggaman Kanisha. Gerakan sederhana itu terasa begitu dingin.
“Kita nggak bisa mulai dari awal lagi, Kanisha.”
Kanisha menggeleng cepat.
“Bisa.”
“Nggak bisa.”
“Kenapa nggak bisa?!” suaranya meninggi karena panik. “Aku masih sayang sama kamu, mas…”
Arven mengembuskan napas panjang, Tatapan pria itu berubah datar seolah rasa cintanya memang sudah habis.
“Aku udah bosan sama kamu, Kanisha.”
Kalimat itu sukses membuat dunia Kanisha runtuh untuk kedua kalinya malam ini.
“Apa…?”
“Aku bosan sama kamu.”
Tidak ada emosi dalam suara Arven dan justru karena itulah ucapan itu terasa jauh lebih menyakitkan. Kanisha sampai kehilangan kemampuan untuk berbicara selama beberapa detik. Bosan? Setelah lima tahun bersama? Setelah semua yang sudah mereka lewati?
“Tidak mungkin…” lirih Kanisha sambil menggeleng pelan. “Kamu pasti lagi bercanda kan, mas?”
“Aku serius.”
“Enggak…” Kanisha mundur selangkah. “Enggak, kamu nggak bisa ngelakuin ini sama aku, mas.”
“Aku udah lama ngerasain ini, Kanisha.”
Air mata Kanisha jatuh semakin deras. Ia benar-benar tidak siap mendengar semuanya langsung dari mulut suaminya.
“Aku capek pulang ke rumah dengan suasana yang itu-itu aja,” lanjut Arven dingin. “Kamu terlalu membosankan, Kanisha.”
Kanisha menatap pria itu dengan wajah pucat.
Membosankan? Dirinya? Selama ini ia bangun paling pagi untuk menyiapkan semua kebutuhan Arven. Ia mengurus rumah, menunggu pria itu pulang setiap malam, merelakan karirnya hanya untuk menjadi istri yang baik hingga mendukung semua pekerjaan Arven. Dan sekarang ia disebut membosankan oleh suaminya sendiri?
“Aku ngelakuin semuanya buat kamu, mas.” suara Kanisha bergetar hebat. “Selama ini aku selalu berusaha jadi istri yang baik.”
“Dan aku nggak pernah minta kamu untuk melakukan semua itu untuk aku.”
Jawaban itu menghantam Kanisha tanpa ampun. Wanita itu sampai terisak pelan sambil menutup mulutnya sendiri. Sakit, Kanisha merasakan dadanya terasa sangat sakit. Selena yang sejak tadi diam akhirnya melangkah mendekati Arven perlahan dan hal itu membuat Kanisha merasa semakin dipermalukan.
“Pak Arven…” suara Selena lembut. “Mungkin sebaiknya saya pulang dulu.”
Namun sebelum Arven menjawab, Kanisha lebih dulu berbicara.
“Apa kamu seneng sekarang?” Selena menegang sementara Kanisha menatap wanita itu dengan penuh air mata. “Apa kamu puas udah ngerebut suami orang?”
“Bu Kanisha, saya nggak pernah bermaksud untuk_”
“DIAM!!! TUTUP MULUTMU ITU, jangan panggil aku dengan mulutmu yang kotor itu.” bentak Kanisha sambil menangis. “Jangan pura-pura baik sama aku setelah apa yang kamu lakukan sama suami aku!”
Ruangan itu kembali sunyi. Kanisha benar-benar merasa hancur, ia bahkan merasa sulit bernapas sekarang. Sementara Arven terlihat mulai kehilangan kesabaran.
“Cukup, Kanisha. Hentikan drama ini sekarang juga!!!”
“Nggak bisa, mas!” sahutnya cepat. “Aku punya hak buat marah!”
“Kamu bikin semuanya makin ribet.” ujar Arven tanpa perasaan dan membuat Kanisha tertawa kecil di sela tangisnya.
“Ribet?” ulangnya lirih. “Yang selingkuh itu kamu, mas…”
Arven mengalihkan pandangannya sebentar sebelum akhirnya berkata pelan namun menusuk.
“Selena lebih ngerti aku dibanding kamu.”
Kanisha membeku. Matanya langsung menatap Arven tanpa berkedip. Pria itu melanjutkan kalimatnya tanpa ragu sedikit pun.
“Dia tahu gimana caranya bikin aku nyaman.”
Tangis Kanisha pecah semakin keras.
“Kenapa kamu tega ngomong kayak gitu sama aku, mas?”
“Karena itu kenyataannya.” Arven menatap Selena sekilas sebelum kembali menatap Kanisha. “Selena jauh lebih menarik daripada kamu, Kanisha.” Setiap kata yang keluar dari bibir pria itu terasa seperti pisau yang menusuk berkali-kali ke dada Kanisha. “Aku nyaman sama dia.”
Kanisha menggeleng pelan. Tidak, Ia tidak mau mendengar lagi tapi Arven terus berbicara seolah tidak peduli kalau hatinya sedang hancur berkeping-keping.
“Dia lebih cantik.” Napas Kanisha tercekat. “Dia juga lebih ngerti apa yang aku mau dibanding kamu.”
Air mata terus jatuh tanpa henti di pipi Kanisha. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Ia merasa dirinya benar-benar tidak berharga.
Ruangan itu terasa begitu sunyi tapi justru dalam kesunyian itulah hati Kanisha terasa semakin bising. Semua ucapan Arven terus terngiang di kepalanya. Membosankan, tidak menarik dan kalah dari selingkuhannya sendiri. Kanisha sampai merasa sulit berdiri tegak sekarang. Kakinya lemas, dadanya sesak seperti diremas kuat-kuat tanpa ampun. Namun di tengah rasa hancur itu, ada sesuatu yang perlahan berubah di dalam dirinya.
Rasa kecewa, rasa sakit dan kemarahan. Kanisha menatap Arven cukup lama sekali. Matanya merah karena terlalu banyak menangis, tetapi untuk pertama kalinya malam itu, ada tatapan berbeda di sana. Tatapan terluka yang perlahan berubah menjadi kecewa.
“Jadi itu alasan kamu selingkuh?”
Suara Kanisha terdengar jauh lebih pelan. Ia tidak lagi berteriak ataupun histeris. Justru nada tenang itulah yang membuat Arven sedikit mengernyit.
“Kalau memang iya, kenapa?”
Kanisha tertawa kecil. Tawa pahit yang terdengar menyedihkan.
“Kamu bilang aku membosankan.” Air matanya jatuh lagi. “Kamu bilang dia lebih cantik, lebih ngerti kamu…” Wanita itu menarik napas panjang walaupun dadanya terasa sakit. “Tapi selingkuh tetap salah, mas.” Arven langsung mengalihkan pandangannya dari Kanisha sedangkan Selena tampak tidak nyaman mendengar ucapan Kanisha. “Kalau kamu udah nggak cinta sama aku…” lanjut Kanisha lirih. “Kalau kamu udah capek sama rumah tangga ini, kamu bisa ngomong baik-baik sama aku, mas.” Tangis Kanisha pecah lagi. “Kamu bisa minta cerai…”
Suasana ruangan kembali sunyi.
“Aku mungkin bakal hancur…” Kanisha tersenyum pahit. “Tapi setidaknya aku nggak dipermalukan kayak gini.”
Arven mengepalkan tangannya pelan sementara Kanisha menatap pria itu dengan mata berkaca-kaca.
“Perselingkuhan itu pilihan, mas.” Kalimat itu membuat Arven menegang samar. “Mas sadar nggak sih?” suara Kanisha mulai bergetar lagi. “Setiap hari aku nungguin kamu pulang…” Ia tertawa kecil di sela tangisnya sendiri. “Bahkan waktu mas bilang lembur sampai pagi, aku masih percaya sama mas.”
Arven terdiam. “Aku selalu mikir suamiku kerja keras buat keluarga kita.” napas Kanisha tersendat. “Aku nggak pernah nyangka ternyata mas ada main di belakang aku sama perempuan lain.”
Selena menunduk semakin dalam. Mungkin ia merasa malu, bersalah, atau mungkin hanya tidak nyaman karena semuanya terbongkar.
Kanisha tidak tahu dan sekarang ia juga tidak peduli.
“Aku tuh pernah nanya sama diri aku sendiri…” lirihnya pelan. “Apa aku kurang cantik? Apa aku kurang perhatian? Apa aku kurang jadi istri yang baik buat kamu, mas?” Tangannya mengepal kuat di samping tubuhnya. “Tapi sekarang aku sadar…” Kanisha mengangkat wajahnya perlahan. “Masalahnya bukan di aku.” Arven menatapnya tanpa bicara. “Masalahnya karena kamu emang memilih buat selingkuh, mas.”
Degup jantung Kanisha terasa begitu sakit saat mengatakan kalimat itu. Karena pada akhirnya inilah kenyataan yang harus ia terima bahwa pria yang sangat ia cintai ternyata memang memilih menghancurkan dirinya. Bukan karena kurang cinta, bukan karena kurang perhatian, tapi karena Arven memang menginginkan wanita lain.
“Aku nggak pernah maksa kamu buat tetap sama aku kalau kamu udah nggak bahagia, mas.” lanjut Kanisha dengan suaranya yang pecah. “Tapi kamu nggak punya hak buat ngehancurin aku sejahat ini.”
Arven terlihat mulai tidak sabar.
“Udah selesai ngomongnya?”
Kanisha tersenyum miris mendengar itu. Lima tahun pernikahan mereka ternyata berakhir hanya dengan rasa bosan dari seorang Arven Mahendra. Mudah sekali sampai membuat Kanisha merasa hidupnya benar-benar tidak ada artinya. Tiba-tiba—
“Ma…?”
Suara kecil itu langsung membuat semuanya terdiam. Kanisha menoleh cepat ke arah pintu, begitu pula Arven dan Selena. Seorang gadis kecil berdiri di sana sambil memeluk boneka kelinci berwarna putih di dadanya. Rambut hitamnya sedikit berantakan karena baru bangun tidur. Gaun tidur merah muda yang dikenakannya tampak kusut, sementara mata bulatnya menatap bingung ke arah ketiga orang dewasa di ruangan itu. Gadis kecil itu terlihat polos. Terlalu polos untuk melihat semua kekacauan ini. Kanisha langsung membeku.
“Naira…”
Gadis kecil bernama Naira Mahendra itu mengedip pelan sebelum melangkah masuk ke ruangan. Usianya baru tiga setengah tahun. Dia masih Kecil, lucu dan menjadi satu-satunya alasan Kanisha bertahan sejauh ini. Anak itu adalah anak angkat mereka.
Tiga tahun lalu, Arven yang pertama kali mengusulkan untuk mengadopsi anak dari panti asuhan. Saat itu Kanisha sebenarnya masih ingin mencoba memiliki anak kandung mereka sendiri. Ia bahkan pernah memohon pada Arven agar pria itu mau mengambil cuti beberapa bulan supaya mereka bisa fokus menjalani program kehamilan bersama. Namun Arven selalu menolak dengan alasan pekerjaan, meeting, bisnis, proyek luar negeri.
Selalu ada alasan, dan bodohnya, Kanisha terus memaklumi semuanya sampai akhirnya Arven datang membawa usulan untuk mengadopsi anak.
Awalnya Kanisha ragu, tapi saat pertama kali melihat Naira di panti asuhan, Hatinya langsung luluh. Bayi kecil yang waktu itu baru berusia beberapa bulan itu menggenggam jari Kanisha erat sekali dan sejak saat itu, Kanisha mencintainya seperti darah dagingnya sendiri.
“Ma…”
Suara kecil Naira kembali terdengar. Gadis kecil itu berjalan pelan mendekati Kanisha sambil menyeret sandal kelincinya. Tatapan polos anak itu membuat dada Kanisha semakin sesak. Ya Tuhan, kenapa Naira harus melihat semua ini? Kanisha buru-buru menghapus air matanya sebelum berjongkok di depan putrinya.
“Hai sayang…” panggil Kanisha dengan suaranya yang ia usahakan untuk terdengar normal walaupun bergetar hebat. Meskipun begitu, kesalahan sekecil itu tak luput dari perhatian gadis kecil itu hingga membuatnya mengerutkan dahinya.
“Mama nangis ya?”
Kanisha langsung tersenyum tipis walaupun rasanya sulit sekali.
“Nggak kok sayang, mama nggak nangis.”
“Kalau mama nggak nangis, lalu kenapa mata mama jadi merah?”
Anak kecil memang selalu jujur dan kejujuran polos itu justru membuat hati Kanisha semakin hancur. Naira lalu melirik ke arah Arven yang berdiri tak jauh dari mereka.
“Papa…”
Tatapan gadis kecil itu berpindah lagi ke Selena dengan bingung, polos dan tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Kanisha buru-buru menarik tubuh kecil itu ke dalam pelukannya. Tangannya memeluk Naira erat sekali seolah takut kehilangan satu-satunya hal berharga yang masih ia punya sekarang.
Aroma bayi bercampur sampo stroberi dari rambut Naira langsung membuat air mata Kanisha kembali jatuh.
“Mama?” gumam Naira pelan karena bingung.
Kanisha menggeleng cepat sambil mengusap rambut anak itu.
“Nggak apa-apa sayang, mama disini.”
“Mama lagi sedih?”
“Nggak…”
“Terus kenapa nangis?”
Pertanyaan sederhana itu terasa seperti tusukan lain bagi Kanisha. Ia bahkan tidak tahu harus menjawab apa. Apa ia harus bilang kalau papanya baru saja menghancurkan hati mamanya? Apa ia harus bilang kalau rumah mereka mungkin tidak akan pernah sama lagi setelah malam ini? Tidak, Naira masih terlalu kecil untuk mengetahui semua itu. Kanisha memejamkan matanya sebentar sambil terus memeluk putrinya.
“Maafin mama ya nak, mama udah buat Naira sampai bangun.” bisik Kanisha lirih hampir tak terdengar.
Naira mengangkat wajah mungilnya lalu menyentuh pipi Kanisha perlahan.
“Nggak apa apa ma." Gadis kecil itu lalu menatap Kanisha dengan mata bulatnya yang jernih. “Papa udah bikin mama nangis ya?”
Ruangan itu kembali terasa sunyi. Kanisha langsung menahan napas, Arven dibuat menegang setelah mendengar pertanyaan putrinya, sedangkan Selena terlihat salah tingkah. Kanisha buru-buru menggeleng sambil tersenyum paksa.
“Nggak kok sayang,”
“Tapi mama sama papa tadi teriak-teriak…”
Kanisha memeluk Naira semakin erat. Ia tidak tahu kalau suara pertengkaran mereka sampai terdengar ke kamar anak itu.
“Mama nggak bertengkar sama papa.”
“Bohong.”
Kanisha terdiam saat Naira terlihat cemberut sambil menatap kedua orang tuanya secara bergantian.
“Naira denger sendiri kalau mama dan papa bertengkar.”
Tangis Kanisha nyaris pecah lagi. Ia benar-benar tidak ingin anak sekecil ini melihat kehancuran rumah tangga mereka.
“Sayang…” Kanisha mengusap rambut Naira perlahan. “Mama sama papa cuma lagi ngobrol.”
“Tapi mama nangis.”
Kalimat polos itu membuat dada Kanisha semakin sesak. Ia bahkan tidak mampu menyangkalnya lagi, Naira lalu memegang tangan Kanisha.
“Jangan nangis dong, ma. Naira jadi sedih kalau lihat mama nangis.”
Air mata Kanisha jatuh membasahi pipinya.
Ia langsung memalingkan wajah sebentar agar anak itu tidak melihat dirinya menangis terlalu keras, namun Naira justru kembali memeluknya erat. Dan justru karena itulah Kanisha merasa hatinya seperti dihancurkan perlahan. Selama ini ia selalu berusaha menjaga keluarga kecil mereka tetap utuh, berusaha menjadi ibu yang baik, menjadi istri yang baik, menjadi rumah yang hangat untuk Arven dan Naira, Tapi sekarang semuanya terasa runtuh dalam satu malam.
“Mama…”
Kanisha mengusap air matanya cepat cepat lalu menatap putrinya lagi.
“Iya sayang?”
Naira menggigit bibir kecilnya sebelum berkata pelan,
“Naira nggak mau lihat mama sama papa berantem. Naira takut ma, Naira takut pa.”
Kalimat polos itu menggantung di udara begitu saja dan menghantam dada Kanisha tanpa ampun. Wanita itu langsung memeluk tubuh putri kecilnya semakin erat sambil memejamkan matanya kuat-kuat. Tangis yang tadi berusaha ia tahan akhirnya jatuh lagi membasahi pipi. Ia benci keadaan ini. Selama ini satu-satunya hal yang paling dijaga oleh Kanisha adalah keluarga kecilnya. Ia rela menahan lelah, mengubur keinginan pribadinya, bahkan melepaskan karir yang dulu sangat ia cintai hanya demi memastikan rumah tangga mereka selalu harmonis untuk Arven dan Naira.
Tapi malam ini semuanya hancur dan yang paling membuat hatinya sakit adalah kenyataan bahwa Naira harus melihat semua itu. Kanisha mengusap rambut putrinya pelan.
“Nggak apa-apa sayang…” bisik Kanisha lirih. “Mama di sini.”
Naira mengangguk kecil walaupun wajah mungilnya masih terlihat takut. Anak sekecil itu bahkan bisa merasakan ada sesuatu yang tidak baik sedang terjadi dan itu membuat Kanisha semakin sadar kalau ia tidak bisa membiarkan Naira terus berada di situ malam ini. Tidak di rumah yang penuh pengkhianatan seperti ini dan tidak di dekat Arven dan wanita simpanannya.
Kanisha perlahan berdiri sambil menggendong Naira ke dalam pelukannya. Gadis kecil itu langsung melingkarkan tangan mungilnya di leher Kanisha sambil menyandarkan kepala di pundaknya.
“Mama…” gumam Naira pelan.
“Iya sayang?”
“Mama sama papa jangan marah-marah lagi ya…”
Air mata Kanisha kembali jatuh.
“Iya sayang,” jawabnya pelan sambil mencium kepala anak itu. “Mama sama papa nggak akan marah-marah lagi.”
Setelah mengatakan itu, Kanisha akhirnya mengangkat wajahnya. Tatapannya langsung jatuh pada Arven. Pria itu masih berdiri di tempat yang sama dengan rahang mengeras sedangkan Selena terlihat gelisah sejak tadi.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara.
Sampai akhirnya Kanisha melangkah perlahan mendekati Arven. Tatapannya terlihat dingin, berbeda dengan wanita yang tadi menangis memohon agar rumah tangga mereka dipertahankan. Namun malam ini, kesabaran yang ada dalam diri Kanisha sudah hancur.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!