"Lepaskan aku! Kau mau bawa aku ke mana? Lepas!"
Dami memberontak ketika tubuhnya tiba-tiba di bopong paksa oleh Jeremy. Ia sedang mengintai sebuah markas mafia yang menjadi sasaran balas dendam berikutnya. Namun tidak di sangka-sangka Jeremy berada di lokasi yang sama dengannya.
Dami menggerakkan tenaga sepenuhnya. Namun serangan tadi tiba-tiba dan Jeremy langsung menekan titik yang melumpuhkan kekuatannya, membuatnya menjadi lemas seketika. Jeremy sialan.
"Lepas Jeremy!" Dami terus memberontak. Sayangnya Jeremy bukan lagi Jeremy yang akan kalah darinya, dia sudah belajar dari kesalahan.
"Melepaskanmu sekarang? Jangan harap."
Ia di masukan ke dalam mobil hitam mewah. Jeremy duduk di jok tengah, sopir pria itu sudah siap-siap menyalakan mesin meninggalkan tempat itu. Dami memberontak lagi, berusaha melepaskan diri tapi tubuhnya yang sudah dibuat lemah itu tidak berhasil melawan kekuatan Jeremy.
"Kekuatanmu sudah kelumpuhkan, jangan melawan lagi."
Asli. Lagi-lagi Asli. Dami tidak suka dipanggil Asli lagi. Baginya, nama itu dan orangnya sudah lama mati. Ia menatap Jeremy tajam.
"Kau mau bawa aku ke mana?!"
"Tentu saja ke rumahku."
"Aku sudah menikah Jeremy, jangan main-main denganku."
Jeremy tersenyum miring menatap wanita itu.
"Aku sudah bilang tidak peduli kau menikah atau tidak, kau tetap milikku kan? Kau lupa?"
Astaga. Sinting.
"Kau gila."
"Ya, kau yang membuatku gila."
Dami menatap pria itu dengan tatapan tidak percaya. Sopir yang menyetir mobil itu hanya diam membisu, matanya lurus menatap jalanan di depannya, seolah tak mendengar pertengkaran panas yang terjadi di kursi belakang. Ia sudah terbiasa dengan tingkah majikannya yang obsesif, tahu betul bahwa tak ada satu pun atau apa pun yang bisa mengubah pendirian Jeremy begitu keinginannya sudah bulat.
Dami mendengus kasar, dadanya naik turun menahan amarah yang meluap. Tubuhnya masih terasa lemas luar biasa akibat tekanan tepat di titik saraf yang dilakukan Jeremy tadi, membuat setiap usahanya untuk bergerak atau melawan terasa sia-sia belaka. Ia menatap tajam ke arah pria yang duduk bersandar santai di sampingnya itu, pria yang tampak begitu tenang dan bangga seolah baru memenangkan sesuatu.
"Kau benar-benar sudah gila, Jeremy," ucap Dami lagi, suaranya rendah namun penuh penekanan.
"Aku istri orang lain sekarang. Kau tidak bisa sembarangan membawaku pergi seperti barang milikmu sendiri! Aku dan dokter Bima sudah berjanji di depan hukum dan semua orang."
Jeremy memutar kepalanya perlahan, menatap wanita itu dengan sorot mata yang gelap, dalam, dan penuh kepemilikan yang tak terbantahkan. Ia mengulurkan tangan, jari-jemarinya yang panjang menyentuh ujung rambut Dami, lalu mengelusnya pelan, gerakan yang terasa begitu lembut namun mengerikan bagi Dami.
"Hukum? Janji?" Jeremy tertawa kecil, suara rendah yang terdengar sinis dan meremehkan.
"Asli ... kau tahu betul aku tidak pernah peduli pada aturan buatan manusia. Dan soal janji... ingatlah siapa yang pertama kali mengikat janji denganmu. Siapa yang dulu kau kejar, kau cintai, dan kau katakan akan menjadi miliknya selamanya? Itu aku. Bukan laki-laki itu."
Ia mendekatkan wajahnya, membuat Dami refleks mundur hingga punggungnya menempel ke pintu mobil. Napas hangat Jeremy menerpa wajah wanita itu, matanya menelusuri setiap inci wajah Dami dengan tatapan lapar dan rindu yang sudah tertahan lama.
"Pernikahanmu dengan pria baik-baik itu hanyalah sebuah sandiwara konyol di mataku. Kau bisa membiarkan pria itu menyebutmu istrinya, tapi ingat ... Kau tidak akan pernah berhenti menjadi milikku. Tubuhmu, pikiranmu, hatimu ... semuanya milikku.
"Kau tidak punya hak!" seru Dami berusaha meninggikan suara meski tubuhnya lemas.
"Itu masa lalu, Jeremy! Semuanya sudah berubah! Aku bukan lagi gadis bodoh yang mau dipermainkan olehmu, dan kau bukan lagi pria yang aku kagumi. Aku punya hidupku sendiri, aku punya suami, dan aku punya tujuan hidup yang tidak ada hubungannya denganmu!"
Jeremy berhenti tersenyum. Wajahnya berubah menjadi dingin dan mengerikan. Ia meraih dagu Dami dengan kuat namun tidak menyakiti, memaksanya menatap lurus ke dalam manik matanya.
"Ucapkan itu sekali lagi, Asli. Katakan kau sudah tidak peduli padaku, katakan aku tidak ada artinya lagi bagimu ... sambil menatap mataku," tantang Jeremy dengan suara berat dan parau.
Dami terdiam lama. Alih-alih menatap mata Jeremy, ia justru membuang muka. Jeremy mendengus pelan.
"Aku lihat jelas tatapanmu di pernikahan itu. Aku melihat bagaimana matamu berubah saat kau melihatku. Kau berusaha bersandiwara bahagia di sampingnya, tapi hatimu ... Kau tidak akan pernah bisa membohongiku, Asli.
Dami terdiam. Mulutnya terkunci rapat. Ia tak sanggup menjawab, tak sanggup membantah meski ia tahu ia harusnya marah. Kata-kata Jeremy menancap tepat di hatinya, membongkar keraguan yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat.
"Lihat... kau diam saja," bisik Jeremy lagi, senyum miring yang mengerikan kembali terukir. Ia melepaskan dagu Dami, lalu bersandar kembali dengan tenang seolah tak ada apa-apa yang terjadi.
Mobil itu terus melaju sampai ke sebuah Penthouse mewah. Bukan Penthouse yang terakhir kali pria itu membawanya pada saat menganggapnya dirinya masih lawan, bukan Asli. Ini tempat yang lain, yang jauh lebih besar dan lebih banyak pengawalnya.
Dami heran sekali begitu mobil memasuki halaman luas yang dikelilingi oleh banyak sekali pengawal terlatih itu.
Apa dia ingin menetap di negara ini?
Gumamnya dalam hati. Kalau benar, itu akan jauh lebih sulit baginya untuk bebas dari laki-laki yang dulunya bersikap sangat dingin padanya ini, tapi sekarang justru berbanding terbalik. Semua pria berjas hitam-hitam dan pelayan yang berdiri di depan pintu masuk utama rumah itu segera membungkuk hormat begitu sopir membuka pintu mobil dan Jeremy turun lebih dulu.
"Selamat datang, tuan Jeremy."
Dami masih bertahan di mobil, tidak ikut keluar. Lebih tepatnya tidak mau. Tapi Jeremy dengan mudah menariknya turun, karena tubuhnya saat ini lemah.
"Turun, sayang."
Asli menatapnya penuh permusuhan.
"Jangan pegang-pegang!" Tukasnya ketika tangan Jeremy melingkar di pinggangnya. Bukannya melepaskan, tangan pria itu justru makin menekan dan membawanya masuk ke dalam rumah besar itu.
Para pelayan perempuan saling bertukar pandang, mereka semua adalah pelayan baru, tentu saja penasaran siapa wanita yang di bawa oleh tuan besar mereka ke rumah ini. Karena tidak pernah ada seorang pun wanita yang menginjakan kaki di rumah ini selain para pelayan dan wanita itu.
Di dalam sana, saat mereka hampir mencapai ruang tamu yang besar. Dami tiba-tiba menggigit tangan Jeremy dan berlari kencang menaiki tangga. Kekuatannya boleh saja di tekan, tapi dia masih bisa menggigit dan berlari bukan.
"Kemari Asli, kau tidak akan bisa kabur dari sini tanpa persetujuanku." kata Jeremy tenang.
Belum sempat Dami melangkah jauh menaiki anak tangga yang lebar dan mewah itu, sebuah cengkeraman kuat tiba-tiba melingkar di pinggangnya, mengangkat tubuhnya mudah seolah ia hanyalah sehelai kain ringan. Teriakan kagetnya teredam saat ia terhempas ke dada bidang milik Jeremy yang berbau wangi mahal dan maskulin yang dulu sangat ia kenal.
Dalam sekejap, posisi mereka berubah, dan kini Dami tergolek lemas tergendong di pelukan pria itu, kakinya menggantung tak berdaya. Ia memukuli dada Jeremy dengan tangan yang masih gemetar dan lemah, namun pukulan itu sama sekali tak mempan, bahkan terasa seperti belaian saja bagi sang pemilik rumah itu.
"Kau pikir tangga setinggi ini bisa jadi penghalang bagimu?" gumam Jeremy rendah tepat di samping telinganya, nada suaranya santai namun bergetar karena kegembiraan akan penaklukan ini.
Tanpa peduli tatapan heran para pelayan yang masih berdiri terpaku di lantai bawah, Jeremy berjalan tegap menuju ujung lorong lantai dua, menuju ruangan paling besar dan paling mewah di rumah itu. Pintu kayu kokoh itu terbuka lebar, dan begitu mereka masuk, pintu itu kembali tertutup rapat diikuti bunyi kunci yang terkunci otomatis.
Tanpa basa-basi, Jeremy membanting tubuh mungil itu ke atas permukaan kasur besar yang empuk dan beralaskan kain sutra putih bersih. Dami memantul sedikit sebelum akhirnya terkapar di sana, napasnya memburu, matanya melotot penuh amarah dan kewaspadaan. Belum sempat ia bangkit kembali, tubuh tegap Jeremy sudah jatuh menindihnya, mengunci kedua sisi kepalanya dengan kedua lengan kekarnya, membuatnya benar-benar terperangkap dan tak punya jalan keluar lagi.
"Kau gila Jeremy! Lepaskan aku! Lepaskan!" teriak Dami, suaranya melengking penuh kemarahan dan rasa malu yang membakar.
Ia meronta sekuat tenaga, menggerakkan pinggang dan kakinya berusaha mendorong beban berat di atasnya itu, namun tubuhnya yang masih lumpuh akibat tekanan saraf tadi tak memiliki tenaga apa-apa. Ia terasa sangat kecil dan tak berdaya di bawah kekuasaan pria yang kini matanya menyala penuh api hasrat dan kepemilikan itu.
Jeremy sama sekali tak mempedulikan teriakan atau perlawanannya. Ia menatap bibir Dami yang merah dan mengerucut karena marah itu dengan pandangan yang sangat lapar. Sudah terlalu lama ia menahan diri, sudah terlalu lama ia menahan rasa rindu yang menyiksa ini.
Semua rasa sakit, cemburu, dan kerinduan yang menumpuk bertahun-tahun meledak seketika. Tanpa peringatan lagi, ia menundukkan wajahnya dan membungkam bibir Dami dengan sebuah ciuman yang sangat ganas, mendominasi, dan penuh tuntutan.
Bibirnya menindih bibir Dami dengan kasar, mengigit dan menyedotnya seolah ingin memakan bibir itu mentah-mentah, namun cukup hati-hati agar tidak melukai kulit halus itu. Dami yang kaget dan marah pun tak tinggal diam, ia langsung membalas dengan menggigit bibir bawah Jeremy sekuat tenaga sampai rasa asin darah mulai terasa memenuhi mulut mereka berdua. Namun bukannya kesakitan atau marah, Jeremy malah tertawa kecil yang terdengar mengerikan di sela-sela ciuman itu. Ia sama sekali tak mundur, malah semakin agresif.
Tangan kasarnya yang lebar kini bergerak lancang ke bawah, menyusup masuk ke balik kain baju yang Dami kenakan, dan tanpa ragu lagi meremas gundukan lunak dan kenyal itu dengan kuat.
Dami tersentak hebat, matanya membelalak penuh rasa malu yang luar biasa. Ia berusaha menepis tangan itu, namun sia-sia. Tangan Jeremy begitu mahir dan berani, bergerak seolah itu adalah haknya.
Dengan gerakan cepat dan terampil, Jeremy menarik naik kaos yang Dami kenakan hingga terlipat di atas leher wanita itu, lalu dengan satu tarikan cepat, ia membuka kaitan bra di punggungnya. Seketika itu juga, kedua gundukan indah Dami terpampang jelas di depan mata Jeremy yang kini terlihat semakin gelap dan berbahaya.
"Masih kencang sekali... indah, persis seperti ingatanku," gumam Jeremy takjub, matanya tak berkedip menatap pemandangan itu. Tangannya kembali bekerja, meremas dan memainkan gundukan itu dengan gerakan yang membuat Dami merasa malu sekali, namun ada rasa aneh yang mulai menjalar di tubuhnya, karena sensasi baru yang tiba-tiba menyerang.
"Katakan padaku," ucap Jeremy pelan namun penuh tekanan, jarinya memutar-mutar puting yang mulai menegang itu,
"Pria itu ... apa dia sudah menyentuhmu di sini?"
Wajah Dami memerah padam, campuran antara marah, malu, dan rasa gengsi yang tinggi. Ia menatap tajam ke arah Jeremy, berusaha menyembunyikan kegugupannya di balik topeng kebencian.
"Kami suami istri yang sah. Tebak saja sendiri!" tukasnya berbohong, berusaha terlihat tenang dan mengejek meski jantungnya berdebar-debar kencang. Ia berharap kata-kata itu akan membuat Jeremy mundur atau marah dan berhenti.
Namun pria itu hanya tersenyum miring, senyum yang penuh keyakinan dan keangkuhan. Ia sama sekali tak terpengaruh oleh jawaban itu. Jauh di lubuk hatinya, entah kenapa, ia merasa Dami berbohong. Ia mengenal tubuh wanita ini lebih dari siapa pun, ia tahu reaksi-reaksi kecilnya, dan ia yakin belum ada tangan lain yang pernah menyentuh ini selain dirinya. Apalagi masih kencang sekali begini. Entahlah, tapi dia ingin meyakini itu.
"Benarkah?" bisiknya dingin, lalu tanpa aba-aba lagi, kepalanya menunduk turun. Mulut hangat dan basah itu langsung mendarat di salah satu puting yang menegang itu, menyedotnya dalam sekali sentakan.
"Ah...! Jeremy! Lepas... ahh..."
Dami tersentak hebat, punggungnya melengkung otomatis terangkat ke atas kasur, jari-jemarinya mencengkeram sprei kasur dengan kuat. Ia berusaha berteriak melarang, namun suara yang keluar malah berubah menjadi desahan tertahan yang membuatnya makin malu setengah mati.
Jeremy mengigit pelan, menjilat, dan memainkannya dengan lidahnya dengan penuh rasa suka dan kepemilikan. Sensasi panas, geli, dan nikmat yang aneh menjalar di dada Dami, membuat seluruh persendian tubuhnya terasa lemas bukan kepalang. Sialan ... kenapa rasanya begini? Kenapa sentuhan pria yang sekarang ia musuhi ini sensasinya aneh sekali?
Dami memejamkan matanya rapat-rapat, berusaha menahan desahan-desahan yang hampir lolos. Pria ini benar-benar sudah gila. Dia bukan lagi Jeremy yang dingin, kaku, dan penuh aturan dulu. Jeremy di atasnya ini adalah pria yang sudah gila entah kenapa. Dan Dami sadar, saat ini ia benar-benar tak berdaya, terjebak di antara rasa kuat yang memusuhi, ingin melupakan lelaki ini, dan sensasi tubuh yang seolah masih mengingat masa lalu mereka delapan tahun lalu.
"Lepaskan aku, Jeremy. Lepas ahh!"
Kini tangan pria itu sudah turun ke bawah sana, menyusup masuk ke dalam jeans yang ia kenakan, menggapai bagian terdalam tubuhnya.
Astaga. Dami merasa dia benar-benar akan gila.
"Mau lepas? Jangan harap."
Lalu jeans-nya di lucuti paksa.
Dami sudah telanjang bulat di depan Jeremy. Ia berusaha meronta dengan sisa-sisa tenaganya. Menendang, mencakar, namun semua itu sia-sia belaka. Sepertinya tenaga Jeremy sudah jauh lebih kuat sejak terakhir kali mereka saling gelud. Meski dia memang dalam keadaan dilumpuhkan kekuatannya, tapi Dami bisa merasakan kekuatan Jeremy yang berkembang pesat sekali.
"Jangan berani menyentuhku, kalau kau berani ... Aku ... Agkh!"
Lagi-lagi Jeremy tidak peduli dengan ancaman Dami. Tangannya sudah menggosok bagian di bawah sana dengan lancang. Bagian yang paling intim dalam tubuhnya yang bahkan belum di sentuh oleh siapapun selain dirinya sendiri.
Mulut Dami menganga lebar karena jemari Jeremy menekan sesuatu di bagian tengah yang berbiji seperti kacang itu. Salah satu benda paling sensitif di tubuh wanita kalau di rangsang, apalagi di rangsang dengan cara yang ...
"Berhenti Jeremy ahhh ...!"
Bukannya berhenti, tangan Jeremy semakin menjadi-jadi, mencubit dan menarik ke atas benda itu. Sial, seluruh tubuh Dami bergetar hebat dan mulai bergerak-gerak seperti cacing kepanasan karena sentuhan itu.
Apa ini? Kenapa rasanya seperti ini? Selama tiga puluh tahun hidupnya, ia tidak pernah merasakan yang seperti ini. Dulu, ia memang sempat memaksa mencium Jeremy saking tidak tahannya, namun hanya sebatas itu. Kemudian, ia mengalami kecelakaan yang mengubah seluruh hidupnya, membuatnya hanya ingin hidup untuk balas dendam pada semua orang yang menghancurkan hidupnya, dan memisahkan dia dari keluarganya.
Delapan tahun berpisah dari Jeremy, berhasil mengubah hatinya menjadi dingin. Bukan lagi perempuan manja yang terus menerus mengekor pada pria ini. Bahkan dia mengambil keputusan paling gila dalam hidupnya. Menikahi laki-laki baik hati, hanya karena balas budi. Walaupun nikah kontrak, tetap saja itu pernikahan sah menurut negara dan Agama.
Tapi sekarang... Dia justru berhubungan dengan mantan tunangannya yang gila.
"Lihat? Mulutmu menolak, tapi tubuhmu menginginkannya." gumam Jeremy tersenyum puas.
Dami yang hampir terbuai dengan sentuhan berbahaya itu kembali mendorong dan menendang, tapi lagi-lagi ia kalah.
"Melawanlah sesukamu, aku justru makin suka kau yang sekarang. Suka melawan." Kemudian kedua tangan kekar Jeremy membuka lebar-lebar paha Dami, membuat bagian yang di dalam sana terekspos dengan sempurna.
Jeremy menelan ludah, matanya berkabut. Dia baru sadar perempuan seperti apa yang telah dia sia-sia kan delapan tahun lalu karena rasa curiganya.
"Jangan lihat ke situ, sialan!" Tukas Dami sarkas, berusaha mengunci rapat kakinya tapi tidak bisa. Ia tetap mengangkang lebar di depan Jeremy dan itu membuatnya malu luar biasa. Ini pertama kalinya dia telanjang bulat seperti ini di depan laki-laki. Bahkan dengan posisi yang benar-benar memalukan.
Jeremy terkekeh.
"Kenapa, kau malu?"
Dami menelan ludah lalu menatap wajah Jeremy dengan berani.
"Malu? Aku tidak mencintaimu lagi. Kau pikir aku akan malu padamu?"
Raut wajah Jeremy langsung berubah.
"Ah, tidak mencintaiku lagi? Baiklah. Kalau begitu kau akan kubuat tidak berdaya sampai kau menyerah hanya padaku."
Tanpa aba-aba, kepala Jeremy turun dan menjilati lubang kemaluan Dami dari bawah ke atas. Perempuan itu melotot lebar dan kaget luar biasa.
"Jeremy kau... Apa yang, jangan jilat di sit, ahhhh ..."
Jilatan Jeremy begitu ganas dan tak kenal ampun, seolah ia ingin menelan seluruh rasa yang ada di sana. Lidahnya bergerak lihai, menjilat dari bawah ke atas dengan gerakan panjang dan basah, lalu tiba-tiba berhenti tepat di klitoris kecil yang kini sudah membengkak dan menegang karena rangsangan. Ia menyedotnya dalam-dalam, membuat Dami tersentak hebat, punggungnya melengkung tinggi terangkat dari kasur, dan kakinya secara refleks berusaha menutup namun malah ditekan makin lebar oleh tangan kekar Jeremy.
"Ah...! Jeremy stop ... ahhh!" jeritan Dami terputus-putus, berubah menjadi erangan panjang yang tak sanggup ia tahan lagi. Segala harga diri, kemarahan, dan rasa benci yang ia bangun selama bertahun-tahun seolah runtuh seketika di bawah sentuhan lidah pria itu. Lidah Jeremy bergerak menusuk-nusuk dengan ritme yang cepat dan tepat, memutar-mutar benda kecil yang paling sensitif itu, lalu kembali menyedotnya dengan kekuatan yang membuat seluruh tulang sumsumnya terasa meleleh.
Rasanya ... luar biasa nikmat namun memalukan. Rasanya panas, geli, dan ada tekanan dahsyat yang perlahan membuncah di perut bagian bawahnya. Dami yang selama ini keras hati, yang mengira dirinya sudah mati rasa dan dingin, kini terkapar tak berdaya, kepalanya menggeleng-geleng ke kiri dan kanan tak karuan, rambutnya berantakan menyebar di bantal sutra.
Tangannya mencengkeram sprei begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, lalu beralih mencengkeram rambut hitam Jeremy seolah ingin menariknya pergi, namun di saat yang sama tangannya justru mendorong kepala pria itu makin menekan ke dalam.
"Jangan... jangan lakukan itu... ah ... aku... ahhh ..." kata-kata penolakannya tak lagi penting, tergantikan oleh desahan panjang yang nikmat. Tubuhnya bergerak-gerak liar, pinggangnya naik turun mengikuti gerakan lidah Jeremy, menggesekkan dirinya sendiri ke mulut pria itu karena dorongan naluri yang tak bisa ia kendalikan lagi.
Cairan hangat terus mengalir membasahi bibir Jeremy, menjadi bukti nyata betapa tubuh wanita ini masih sangat menginginkannya, masih sangat haus akan sentuhannya, meski mulutnya berteriak benci.
Jeremy yang merasa cairan itu makin banyak keluar, makin bersemangat. Ia merasa menang telak. Ia tahu, tak peduli seberapa keras Dami berkata benci atau berkata sudah tidak mencintai, tubuhnya tak pernah bisa berbohong. Tubuh ini meresponsnya.
Ia mempercepat gerakan lidahnya, menusuk masuk ke dalam celah paling dalam, menjilat dinding-dinding halus di sana dengan kejam namun nikmat, lalu kembali fokus menyerang klitorisnya dengan gigitan-gigitan kecil dan sedotan kuat yang membuat Dami seakan tersengat listrik berulang kali.
"Jeremy... aku... aku akan... ahhh...!" napas Dami tersendat, matanya terbelalak kosong menatap langit-langit kamar, kakinya gemetar hebat, seluruh saraf di tubuhnya seolah berkumpul menjadi satu di titik yang sedang diserang itu. Tekanan di perutnya makin memuncak, rasanya seperti mau meledak, dan saat Jeremy menyedot klitorisnya makin kuat sekali lagi sambil memijat-mijat pangkalnya dengan jari jempolnya, ledakan itu akhirnya terjadi.
"AHHHHH...!!"
Dami menjerit panjang, tubuhnya menegang kaku sejenak sebelum kemudian gemetar hebat, cairan hangat memuncrat keluar membasahi mulut dan wajah Jeremy. Pikirannya kosong seketika, seluruh tubuhnya terasa ringan namun lemas tak berdaya, terhanyut dalam gelombang kenikmatan yang dahsyat yang belum pernah sekalipun ia rasakan dalam hidupnya.
Jeremy baru mengangkat wajahnya saat Dami mulai terengah-engah hebat, dadanya naik turun deras, keringat membasahi kulit putihnya yang bersinar indah. Wajah Jeremy basah oleh cairan kewanitaannya, tapi ia sama sekali tak peduli. Ia malah menyapukan punggung tangannya ke bibir sambil tersenyum puas, senyum kemenangan yang angkuh dan penuh kepemilikan. Ia menatap Dami yang masih terkapar lemah, mata wanita itu berkaca-kaca antara sisa kenikmatan dan rasa malu yang meluap-luap.
"Kau bilang kau tidak mencintaiku lagi?" bisik Jeremy parau, mendekatkan wajahnya yang masih beraroma tubuh Dami ke wajah wanitanya. Ia mengelus pipi Dami dengan jempolnya yang basah.
"Kalau begitu, apa itu tadi? Itu adalah jawaban tubuhmu, Asli. Dan tubuhmu berkata lain."
Dami ingin membalas, ingin membantah, tapi suaranya tercekat di tenggorokan. Ia terlalu lemas, terlalu kewalahan.
Saat Jeremy berdiri dan hendak melucuti celananya, ketukan pintu di depan pintu membuatnya mengerang kesal.
"Bos, maaf. Ada ada masalah mendadak." Seru Ryan dari luar pintu. Tangan kanan yang paling dia percaya.
Brengsek.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!