Leonardo De Luca tidak pernah percaya pada takdir, ia hanya percaya pada kontrol. Di usianya yang ke-32, ia telah mengonsolidasikan kekuasaan klan De Luca di seluruh Madrid. Dari penyelundupan logistik di pelabuhan hingga pencucian uang melalui real estat mewah, semua berada di bawah jemarinya. Namun, ada satu kontrol yang hilang dari hidupnya: kontrol atas tubuhnya sendiri.
Malam itu, di penthouse pribadinya yang menghadap gemerlap lampu kota Madrid, Leonardo berdiri telanjang di depan kaca besar. Tubuhnya atletis, hasil dari latihan fisik militer yang disiplin setiap pagi. Perutnya rata dengan otot yang keras, bahunya lebar, dan wajahnya memiliki garis rahang yang sanggup membuat fotografer mode mana pun memohon untuk mengambil gambarnya. Namun, bagi Leonardo, tubuh ini hanyalah mesin yang rusak.
Satu dekade lalu, sebuah serangan bom mobil oleh kartel saingan tidak hanya membunuh ayahnya, tetapi juga mengirim serpihan logam ke area panggulnya. Secara medis, sarafnya telah pulih setelah operasi bertahun-tahun. Dokter spesialis terbaik di Swiss menyatakan bahwa secara fisiologis, tidak ada yang salah. Namun, secara psikologis, Leonardo mati. Kejantanan yang seharusnya menjadi simbol kekuatannya tidak pernah lagi bereaksi terhadap rangsangan apa pun.
"Masuk," suara Leonardo berat dan tanpa emosi.
Pintu kamar terbuka. Seorang wanita muda bernama Sofia, seorang model papan atas yang baru dikencaninya selama tiga minggu, melangkah masuk. Sofia adalah wanita ke-12 dalam daftar "eksperimen" Leonardo tahun ini. Leonardo tidak mencari cinta; ia mencari reaksi biologis. Ia memacari wanita-wanita tercantik di dunia hanya untuk satu tujuan: menguji apakah ada satu di antara mereka yang bisa menghancurkan kutukan mati rasa di selangkangannya.
"Leo..." Sofia berbisik, mendekat dengan pakaian dalam sutra yang sangat minim. Ia adalah wanita yang diinginkan jutaan pria, namun bagi Leonardo, dia tidak lebih dari sekadar objek uji coba.
"Lakukan tugasmu," perintah Leonardo dingin. Ia duduk di kursi kulitnya, membiarkan wanita itu mencoba segala cara.
Satu jam berlalu. Sofia menggunakan seluruh keahliannya. Ia mencium, menyentuh, dan mencoba membangkitkan gairah pria di depannya dengan penuh keputusasaan. Leonardo hanya diam, menatap lurus ke arah jendela, memegang segelas wiski tanpa es. Ia merasakan sentuhan tangan Sofia, ia merasakan kehangatan kulit wanita itu, tapi tidak ada sinyal yang terkirim ke otaknya. Tidak ada gairah. Tidak ada ereksi. Kosong.
"Aku tidak bisa, Leo... Kau seperti patung es," isak Sofia akhirnya. Ia merasa terhina. Sebagai wanita yang terbiasa dipuja, diabaikan secara seksual oleh pria yang ia kencani adalah pukulan telak bagi harga dirinya.
Leonardo menghela napas panjang, lalu meletakkan gelas wiskinya. "Kau gagal, Sofia. Marco akan mengantarmu pulang. Cek senilai lima puluh ribu Euro akan dikirim ke rekeningmu besok pagi sebagai biaya putus hubungan."
"Kau membeliku?" tanya Sofia tajam.
"Aku membayar waktumu. Sekarang keluar," balas Leonardo tanpa menoleh.
Begitu Sofia pergi, Leonardo membanting gelasnya ke lantai hingga hancur berkeping-keping. Amarahnya meledak dalam kesunyian. Ia adalah raja Madrid, pria yang ditakuti oleh menteri dan penjahat kelas kakap, namun ia merasa seperti pecundang setiap kali berada di atas ranjang. Ketidakmampuannya ini adalah rahasia negara yang ia jaga ketat. Jika musuh-musuhnya tahu bahwa sang Singa De Luca impoten, mereka akan menganggapnya lemah.
Keesokan paginya, Leonardo berada di kantor pusat De Luca Corp. Laporan keuangan menunjukkan pertumbuhan 15%, namun suasana hatinya tetap buruk. Pintu kantornya terbuka tanpa ketukan, menunjukkan hanya satu orang yang berani melakukannya: Donna Isabella, ibunya.
"Kau memulangkan gadis Brasil itu lagi?" tanya Isabella langsung, duduk di depan meja kerja Leonardo.
"Dia orang Italia, Bunda. Dan ya, dia tidak berguna," jawab Leonardo pendek sambil menandatangani berkas.
"Berapa banyak lagi wanita yang harus kau 'uji coba', Leo? Kau memperlakukan mereka seperti mobil yang sedang kau tes mesinnya," Isabella menghela napas. "Masalahmu bukan di selangkanganmu, tapi di kepalamu. Kau terlalu terobsesi pada kekuasaan sampai kau lupa bagaimana menjadi manusia."
"Aku tidak butuh ceramah psikologi, Bunda."
"Aku tidak memberi ceramah. Aku memberi perintah. Hari ini adalah peringatan sepuluh tahun kematian ayahmu. Kau tahu tradisinya. Kau harus pergi ke kapel keluarga dan membawa bunga mawar merah segar. Dan jangan suruh pengawalmu. Kau yang harus memilihnya sendiri sebagai bentuk penghormatan."
Leonardo memijat pelipisnya. Tradisi ini adalah satu-satunya hal yang tidak bisa ia bantah. "Baiklah. Aku akan pergi siang ini."
"Bagus. Ada toko bunga baru di jalan belakang distrik tua. Pemiliknya orang asing, seorang gadis Inggris. Dia punya mawar terbaik yang pernah kulihat. Pergilah ke sana, pilih sendiri, dan berhentilah bersikap seperti mesin pembunuh selama satu jam saja."
Leonardo hanya mengangguk kaku. Ia tidak peduli siapa penjual bunganya. Baginya, mawar hanyalah tanaman mati yang akan membusuk dalam beberapa hari.
Tepat pukul dua siang, Leonardo mengendarai Range Rover hitamnya sendiri, tanpa iring-iringan pengawal yang mencolok, meski tim keamanannya tetap memantau dari jarak dua blok. Ia berhenti di depan toko kecil bernama "The English Rose". Toko itu terlihat kontras dengan bangunan tua di sekitarnya; catnya putih bersih dengan banyak kaca besar yang memperlihatkan tanaman hijau di dalamnya.
Leonardo melangkah masuk. Lonceng kecil di atas pintu berbunyi. Aroma tanah basah dan wangi bunga yang sangat kuat menyambutnya. Ia melihat seorang wanita sedang membelakanginya, sibuk memotong duri mawar di meja kerja kayu yang kasar.
Wanita itu mengenakan kaos putih polos yang agak ketat dan celana jins yang terkena noda air. Rambutnya pirang gelap, diikat asal-asalan dengan pensil yang terselip di sanggulnya.
"Satu menit! Aku sedang menyelesaikan pesanan buket pengantin," suara wanita itu terdengar jernih dengan aksen Inggris yang kental dan lugas.
Leonardo berdiri diam. Ia memperhatikan cara wanita itu bekerja. Gerakannya efisien, tidak ada gerakan yang sia-sia. Tiba-tiba, wanita itu berbalik untuk mengambil pita di dekat posisi Leonardo berdiri.
Wanita itu berhenti mendadak saat melihat pria setinggi 190 cm dengan setelan jas mahal berdiri di tokonya. Namanya Olivia. Wajahnya tidak menggunakan riasan tebal, hanya sedikit pelembab bibir. Matanya biru tajam, menatap Leonardo dengan rasa ingin tahu tanpa rasa takut yang biasanya ia temui pada orang lain.
"Ada yang bisa kubantu, Tuan?" tanya Olivia.
Pada saat itu, sesuatu yang sangat aneh terjadi pada Leonardo. Saat matanya bertemu dengan mata biru Olivia, ia merasakan sensasi panas yang tiba-tiba menusuk tulang belakangnya. Itu bukan sekadar rasa kagum. Itu adalah sengatan listrik yang sangat nyata.
Jantungnya berdebar kencang, memompa darah dengan kecepatan yang tidak normal. Dan yang paling mengejutkan—sesuatu yang membuatnya hampir tidak percaya—ia merasakan denyutan panas di area yang selama sepuluh tahun ini mati total.
Miliknya bereaksi. Hanya dengan satu tatapan. Tanpa sentuhan. Tanpa rayuan.
Leonardo terpaku. Ia mencengkeram pinggiran meja kayu dengan sangat keras hingga buku jarinya memutih. Matanya melebar, menatap Olivia seolah wanita itu baru saja menyetrumnya dengan ribuan volt listrik. Gairah itu datang dengan sangat liar, sangat primitif, dan sangat menyakitkan karena sudah terlalu lama tertidur.
"Tuan? Anda sakit? Wajah Anda sangat tegang," Olivia bertanya, mulai merasa tidak nyaman karena pria asing ini menatapnya seperti predator yang baru saja menemukan mangsa setelah kelaparan bertahun-tahun.
Leonardo menelan ludah dengan susah payah. Suaranya keluar jauh lebih serak dan rendah dari biasanya. "Mawar merah. Aku butuh semua mawar merah yang kau punya."
"Semua? Ada sekitar lima puluh lusin di gudang pendingin," Olivia mengerutkan kening. "Itu akan sangat mahal."
"Aku tidak peduli soal harga," Leonardo melangkah maju, memperpendek jarak hingga ia bisa mencium aroma mawar dan sabun mandi dari kulit Olivia. "Aku ingin semuanya. Dan aku ingin kau yang mengantarkannya ke alamatku sekarang juga."
Olivia mundur satu langkah, merasa terintimidasi oleh energi dominan pria ini. "Aku tidak melayani pengantaran besar hari ini, aku sendirian di toko—"
"Aku tidak sedang meminta, Nona..." Leonardo melirik papan nama kecil di atas meja. "...Olivia. Aku sedang memberimu instruksi. Kau akan ikut denganku sekarang."
Leonardo menyadari satu hal: wanita Inggris di depannya ini adalah kunci. Dialah satu-satunya yang berhasil membangkitkan "singa" yang telah mati di dalam dirinya. Dan bagi seorang Leonardo De Luca, jika ia menemukan sesuatu yang ia inginkan—atau sesuatu yang ia butuhkan untuk merasa utuh—ia tidak akan pernah melepaskannya.
Olivia baru saja akan protes saat Leonardo mengeluarkan dompetnya dan meletakkan segepok uang tunai di atas meja. "Itu uang mukanya. Sisanya akan dibayar saat kau sampai di rumahku. Ikut aku, atau aku akan membeli toko ini sekarang juga dan meratakannya dengan tanah hanya agar kau tidak punya alasan untuk tinggal."
Olivia terdiam, menatap uang itu, lalu menatap pria gila di depannya. Ia menyadari satu hal: hidupnya di Madrid yang tenang baru saja berakhir.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...
Olivia menatap tumpukan uang di atas meja kayu tokonya dengan perasaan campur aduk antara terhina dan terdesak. Ia baru tiga bulan di Madrid, mencoba membangun peruntungan dengan toko bunga kecil ini untuk membiayai pengobatan ayahnya di London. Ayahnya menderita komplikasi jantung dan harus tinggal dalam perawatan intensif ibunya di Inggris. Biaya medis di Inggris tidak murah, dan pengiriman uang bulanan dari Olivia adalah napas bagi mereka.
Pria di depannya ini—yang perawakannya seperti model papan atas namun memiliki aura sedingin algojo—tahu persis bagaimana cara menekan titik lemah seseorang.
"Baiklah, Tuan. Saya akan mengantarkannya. Tapi saya butuh waktu untuk mengepak semuanya ke dalam van saya," ucap Olivia tegas, mencoba mempertahankan sisa harga dirinya.
"Tidak perlu van bututmu. Anak buahku akan mengurus bunganya. Kau ikut di mobilku," potong Leonardo tanpa kompromi. Ia memberikan isyarat tangan, dan tiba-tiba dua pria berbadan tegap dengan pakaian safari hitam muncul entah dari mana, mulai mengangkut ember-ember mawar merah ke dalam truk pendingin yang mendadak terparkir di depan toko.
Olivia terperangah. Kecepatan dan koordinasi ini bukan cara kerja pelanggan biasa. Namun, sebelum ia sempat memprotes, tangan besar Leonardo sudah berada di punggung bawahnya, menuntunnya keluar toko dengan tekanan yang posesif.
Selama perjalanan di dalam mobil Range Rover yang kedap suara, Olivia merasa sesak. Bukan karena ruangannya sempit, tapi karena energi yang terpancar dari pria di sampingnya. Leonardo mengemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mencengkeram kemudi begitu kuat hingga urat-urat di lengannya menonjol. Mata pria itu sesekali melirik ke arah leher Olivia, seolah-olah ia sedang menahan diri untuk tidak menerkamnya saat itu juga.
Leonardo sendiri sedang bertarung dengan kewarasannya. Denyutan di bawah perutnya tidak kunjung reda. Sepuluh tahun ia merasa seperti kasim yang tidak berguna, dan sekarang, hanya dengan mencium aroma sabun mandi dan mawar dari tubuh wanita ini, ia merasa seperti remaja yang baru mengenal gairah. Ia ingin menghentikan mobil ini di pinggir jalan dan membuktikan bahwa "reaksinya" bukan sekadar halusinasi.
Mobil itu melaju keluar dari hiruk-pikuk kota, mendaki perbukitan eksklusif di pinggiran Madrid yang dijaga ketat oleh gerbang-gerbang besi raksasa.
"Ini... ini daerah apa?" tanya Olivia cemas saat melihat menara pengawas dan pria-pria bersenjata di gerbang utama.
"Rumahku," jawab Leonardo pendek.
Mobil berhenti di depan sebuah mansion megah bergaya kolonial Spanyol dengan pilar-pilar batu raksasa. Olivia turun dengan kaki gemetar. Ia belum pernah melihat rumah semegah ini kecuali di film. Namun, ketakutannya sedikit mereda ketika seorang wanita paruh baya dengan gaun anggun dan senyum hangat melangkah keluar dari pintu jati raksasa itu.
"Oh, kau sudah datang! Dan kau membawa gadis manis ini!" seru Donna Isabella. Ia menghampiri Olivia dan langsung menggenggam tangannya, sebuah keramahan yang sangat kontras dengan putranya yang kaku.
"Ibu, ini Olivia. Pemilik toko bunga yang Ibu maksud," ucap Leonardo, suaranya sedikit melunak namun matanya tetap mengunci sosok Olivia.
"Panggil aku Isabella, Nak. Terima kasih sudah mau repot-repot mengantar mawar ini secara pribadi," ucap Isabella tulus. Ia menuntun Olivia masuk ke dalam aula besar yang dipenuhi lukisan minyak kuno dan lampu gantung kristal. "Ayo, duduklah sebentar. Pelayan akan menyiapkan teh. Leonardo, jangan berdiri di sana seperti patung, bantu anak buahmu menyusun bunga itu di kapel!"
Leonardo mendengus, namun ia menuruti ibunya. Ia ingin menjauh sejenak untuk menenangkan gairah di tubuhnya yang mulai menyakitkan.
Di ruang tamu yang mewah, Isabella mengajak Olivia mengobrol dengan hangat. "Katakan padaku, Olivia, apa yang membuat gadis Inggris sepertimu pindah ke Madrid dan membuka toko bunga sendirian?"
Olivia menyesap tehnya dengan canggung. "Saya ingin mencari suasana baru, Isabella. Dan jujur saja, saya butuh penghasilan lebih untuk keluarga saya di Inggris."
"Keluargamu? Apa kau punya saudara di sana?"
"Tidak, saya anak tunggal. Ayah saya sedang sakit di London, ada masalah dengan jantungnya. Ibu saya yang merawatnya di sana sepanjang waktu. Itulah sebabnya saya harus bekerja keras di sini," jelas Olivia dengan nada sedih yang tulus.
Isabella mengangguk simpati, matanya berkilat saat melihat putranya, Leonardo, berdiri di ambang pintu aula, diam-diam mendengarkan percakapan itu sambil menatap punggung Olivia dengan tatapan yang sangat intens—tatapan yang belum pernah Isabella lihat pada putranya selama sepuluh tahun terakhir.
"Keluarga adalah segalanya, Nak," ucap Isabella lembut. "Jangan khawatir. Selama kau berada di sini, kau adalah tamu keluarga De Luca. Dan Leonardo... dia mungkin terlihat kasar, tapi dia akan memastikan semua kebutuhanmu terpenuhi."
Olivia menoleh dan mendapati Leonardo sedang memperhatikannya. Pria itu tidak tersenyum. Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di belakang kursi Olivia hingga bayangannya menutupi gadis itu.
"Bunganya sudah siap di kapel, Bunda," ucap Leonardo. Matanya lalu turun ke arah Olivia. "Dan kau, Olivia... kau tidak akan kembali ke toko itu malam ini. Ada beberapa hal yang harus kita bicarakan soal 'kontrak' pengadaan bunga jangka panjang untuk keluarga ini."
"Tapi saya harus menutup toko—"
"Toko itu sudah dijaga oleh orang-orangku. Kau akan makan malam di sini," perintah Leonardo. Ia membungkuk, wajahnya hanya beberapa senti dari telinga Olivia. "Jangan membantah jika kau ingin ayahmu di London mendapatkan perawatan terbaik yang bisa dibeli dengan uangku."
Olivia membeku. Pria ini baru saja mengancamnya dengan keselamatan ayahnya, namun dengan cara yang sangat halus dan menggoda. Ia menyadari bahwa masuk ke mansion De Luca adalah sebuah kesalahan besar, karena sekali mawar masuk ke dalam sangkar singa, ia tidak akan pernah dibiarkan keluar lagi.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...
Malam di mansion De Luca terasa lebih mencekam daripada biasanya. Gemericik air mancur di pelataran terdengar seperti detak jantung yang memacu adrenalin. Di dalam ruang makan yang luas, hanya ada Leonardo dan Olivia. Donna Isabella telah undur diri ke kamarnya, sengaja memberikan ruang bagi putranya—sebuah taktik yang Leonardo pahami sebagai restu sekaligus tekanan.
Leonardo duduk di ujung meja jati panjang, menatap Olivia yang tampak tenggelam dalam kemewahan kursi beludru di hadapannya. Gadis Inggris itu tidak menyentuh steak wagyu-nya. Ia hanya memutar-mutar gelas kristal berisi air mineral dengan jemari yang sedikit gemetar.
"Makanlah, Olivia. Kau tidak bisa melawan dunia dengan perut kosong," suara Leonardo memecah keheningan, berat dan berwibawa.
"Duniaku tidak sedang berperang, Tuan De Luca. Hanya duniaku yang mendadak terasa sempit sejak masuk ke rumah ini," balas Olivia lugas. Ia mendongak, mata birunya menatap tajam, menantang dominasi pria di depannya.
Leonardo meletakkan pisaunya. Ada gairah yang terus berdenyut di bawah permukaan kulitnya—sebuah fenomena biologis yang masih membuatnya fana sekaligus takjub. Namun, ia bukan pria bodoh. Ia telah memacari lusinan model dan sosialita yang hanya butuh lambaian cek untuk menyerahkan tubuh mereka. Olivia berbeda. Gadis ini memiliki harga diri yang keras, setajam duri mawar yang ia potong setiap hari.
Sebagai pria Spanyol yang dibesarkan dengan nilai-nama keluarga yang kolot, Leonardo tahu bahwa untuk mendapatkan wanita seperti Olivia, ia tidak bisa sekadar membelinya. Gadis Inggris menjunjung tinggi komitmen dan martabat. Jika ia hanya memaksa Olivia ke tempat tidur, ia mungkin akan mendapatkan kepuasan fisik, tapi ia akan kehilangan "kunci" yang membuat jiwanya kembali hidup.
"Ayahmu," Leonardo memulai, mengubah arah pembicaraan. "Dokter spesialis jantung terbaik di Madrid adalah teman pribadiku. Besok pagi, sebuah jet medis akan terbang ke London untuk menjemput orang tuamu. Mereka akan tinggal di villa pribadi milik keluargaku di Marbella. Udara laut akan baik untuk pemulihannya."
Olivia terperangah. Sendok di tangannya berdenting jatuh ke piring. "Apa? Anda tidak bisa melakukan itu tanpa izin saya!"
"Aku baru saja melakukannya," sahut Leonardo tanpa emosi. "Biaya rumah sakit di London sangat mahal, Olivia. Aku tahu tabunganmu hampir habis. Aku menawarkan solusi permanen."
"Dan apa harganya?" suara Olivia bergetar. "Apa yang Anda inginkan sebagai imbalan? Tubuh saya?"
Leonardo bangkit dari kursinya. Langkah kakinya yang berat bergema saat ia berjalan mengitari meja dan berhenti tepat di belakang Olivia. Ia membungkuk, menumpukan kedua tangannya di sandaran kursi Olivia, mengurung gadis itu dalam aroma tembakau dan kayu cendana.
"Jika aku hanya menginginkan tubuh, aku punya ribuan wanita yang mengantre di luar gerbang itu," bisik Leonardo tepat di telinga Olivia. Napas panasnya membuat bulu kuduk Olivia meremang. "Aku menginginkan sesuatu yang lebih berharga. Aku menginginkan kehadiranmu di sini. Secara resmi."
Leonardo meraih tangan Olivia, membalikkan telapak tangan gadis itu dan mengecup pergelangan tangannya—tempat di mana denyut nadi Olivia berpacu liar.
"Aku butuh seorang tunangan. Reputasiku sebagai pemimpin De Luca membutuhkan stabilitas keluarga. Dan kau... kau adalah satu-satunya wanita yang membuatku merasa menjadi pria utuh kembali."
Olivia menoleh, wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. "Ini gila. Kita bahkan tidak saling kenal. Anda ingin komitmen dari orang asing?"
"Di duniaku, komitmen dimulai dengan kesepakatan," Leonardo menatap mata biru itu dengan intensitas yang mematikan. "Tinggallah di sini. Jadilah tunanganku di depan publik. Aku akan menjamin kesehatan ayahmu dan keamanan ibumu seumur hidup mereka. Tidak ada sentuhan yang tidak kau inginkan, sampai kau sendiri yang memintanya."
Olivia terdiam. Tawaran itu adalah penyelamat sekaligus jerat leher. Ia memikirkan ayahnya yang terbaring lemah di London, dan ibunya yang kelelahan. Pria ini menawarkan segalanya di atas nampan perak, namun ia meminta kebebasan Olivia sebagai gantinya.
"Kenapa saya?" tanya Olivia lirih.
Leonardo tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menarik tangan Olivia dan meletakkannya tepat di dadanya yang bidang. Di balik kemeja sutra mahal itu, Olivia bisa merasakan detak jantung Leonardo yang kuat dan tidak beraturan.
"Karena hanya kau yang bisa membuat jantung ini berdetak untuk alasan yang benar," ucap Leonardo parau. "Jadilah milikku, Olivia. Bukan sebagai pacar yang bisa kubuang, tapi sebagai wanita yang memegang kunci rumah ini."
Olivia melihat kejujuran yang menakutkan di mata pria Spanyol itu. Ia tahu, di balik kemewahan ini, ada kesepian yang dalam dan obsesi yang berbahaya. Namun, demi ayahnya, ia tidak punya pilihan lain.
"Hanya jika orang tua saya aman," bisik Olivia akhirnya.
Leonardo tersenyum tipis—sebuah senyuman kemenangan yang dingin. "Mereka akan lebih aman daripada tinggal di istana Buckingham, mi amor."
Malam itu, kontrak tak tertulis telah ditandatangani. Olivia masuk ke kamar tamu mewah dengan perasaan bahwa ia baru saja menjual jiwanya pada iblis yang paling tampan di Madrid. Sementara itu, di ruang kerjanya, Leonardo menenggak wiskinya dengan perasaan puas. Ia akan memberikan komitmen, ia akan memberikan perlindungan, karena ia tahu bahwa mawar Inggris ini adalah satu-satunya obat bagi kutukan panjang yang menyiksanya.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!