"Apa ini? Nggak enak banget!"
Kira Samadi sedang mengunyah sesuap singkong tumbuk. Kemudian, dia meletakkan sendok nya karena seperti makan gula saja.
Sekarang dia akan menampar siapa pun yang berani memberitahu nya bahwa melewati dimensi adalah hal bagus.
Kira sudah melewati dimensi ke Kerajaan Nayara yang mirip dengan Kerajaan Avalon. Pemilik tubuh sebelum nya berasal dari keluarga kaya.
Sewaktu orang tua nya masih hidup, dia selalu sarapan bubur. Makan siang nya adalah nasi dengan lauk, sedangkan makan malam nya adalah mi gandum dan roti pipih.
Berhubung harus bersekolah di ibu kota provinsi, dia baru pulang ke rumah setiap tujuh hari sekali. Pada saat itu, dia pun bisa memuaskan nafsu makan nya.
Rakyat biasa pada umum nya hanya makan sehari dua kali. Makanan mereka juga hanyalah bubur atau singkong karena mereka tidak sanggup membeli daging ataupun beras. Hanya pada saat Tahun Baru dan punya uang berlebih, mereka baru bisa menikmati daging dan nasi.
Biasa nya, hanya orang kaya, bangsawan atau pejabat yang bisa menikmati daging dan nasi.
Saat memikirkan ayam, ikan, daging dan telur yang di sia-siakan di dunia, Kira pun menjadi kesal, Kira sedang tenggelam dalam pikiran nya. Tiba tiba, terdengar suara seseorang yang terdengar ketakutan.
"Suamiku, maaf. Kita sudah kehabisan beras. Cendekiawan seperti mu jadi harus makan singkong tumbuk, padahal baru sembuh."
Saat melihat gadis cantik yang berdiri dengan takut di depan kamar nya, mata Kira langsung berbinar.
Gadis yang anggun dan cantik itu terlihat berusia sekitar 19 - 20 tahun. Perawakan nya tinggi dan langsing, tinggi nya mungkin mencapai 1,7 meter.
Dia mengenakan baju hijau yang dipadu dengan rok biru dan sepatu kain bercorak. Pakaian nya sangat sederhana, wajah nya juga tidak di rias. Namun, dia terlihat sangat cantik dan juga lembut.
Hanya saja, wajah nya terlihat sangat pucat. Rambut nya juga sangat tipis dan kusam. Dia terlihat seperti orang yang kekurangan gizi saja.
Gadis itu bernama Wulan Sunardi. Dia adalah istri pemilik tubuh sebelum nya dan merupakan wanita tercantik di Kabupaten Uwal.
Awal nya, pemilik tubuh sebelum nya sudah tidak mempunyai kesempatan untuk menikahi nya.
Pada saat itu, Keluarga Sunardi hampir dibantai, Jadi mereka ingin menikah kan putri mereka agar tidak terlibat masalah.
Namun, tidak ada orang di kabupaten ini yang berani menikahinya selain pemilik tubuh sebelumnya yang keras kepala itu.
Pada hari pernikahan mereka, Keluarga Sunardi mendapat kabar bahwa ayah Wulan berhasil memutar balikkan situasinya. Keluarga Sunardi pun hendak membatalkan pernikahan mereka.
Namun, Wulan menolak nya dengan tegas. Dia merasa suami istri harus melewati suka dan duka bersama sampai akhir hayat. Entah karena emosi akibat Keluarga Sunardi hendak membatal kan pernikahan atau ada yang salah dengan pemilik tubuh sebelum nya.
Mereka sudah menikah selama tiga tahun, tetapi masih belum berhasil berhubungan intim!
Kemarin, pemilik tubuh tiba tiba sakit dan koma. Pagi ini, Kira sudah melewati dimensi dan menempati tubuh orang ini.
Saat melihat ada sesuatu di hidung mungil gadis itu, Kira pun bangkit dan mengulurkan tangan nya.
"Ah!"
Wulan langsung berjongkok dan melindungi kepala nya sambil menangis.
"Suamiku, jangan pukul aku! Semua mas kawin sudah benar-benar habis terjual."
Tangan Kira pun berhenti dl udara.
Berhubung pemilik tubuh sebelum nya memiliki disfungsi seksual, sifat nya pun berubah drastis.
Dia berhenti belajar untuk ikut ujian menjadi pejabat, dan hanya tahu bersenang-senang setiap hari. Oleh karena itu, keluarga mereka pun jatuh miskin.
Selain itu, pemilik tubuh sebelum nya juga menyiksa istri nya yang cantik ini. Bukan hanya mas kawin Wulan yang sudah habis dijual nya, dia juga memaksa Wulan meminjam uang dari Keluarga Sunardi agar dia bisa berfoya-foya.
Namun, Wulan malah merasa diri nya berutang budi pada pemilik tubuh sebelum nya. Wulan bukan hanya tidak meninggalkan suaminya, tetapi juga tetap melayani kebutuhan suami nya meskipun tubuh nya sudah terluka karena dipukuli suami nya.
"Suamiku, jangan pukul aku lagi! Aku bakal cari cara untuk dapat uang, lalu membelikan mu minuman dan daging!"
Wulan mendongak dan memohon sambil menangis tersedu-sedu.
"Aku nggak minum alkohol, juga nggak makan daging. Ada kotoran di hidungmu, aku cuman mau bantu kamu menyeka nya!"
Kira memapah Wulan yang gemetaran, lalu menyeka abu hitam di ujung hidung nya dengan lengan baju nya.
Namun, Wulan malah menjadi lebih takut lagi.
Dalam tiga tahun ini, suami nya bukan hanya memukul dan memaki nya saja. Kadang-kadang, suami nya juga bisa bersikap lembut. Namun, dia melakukan nya Supaya Wulan menggadaikan mas kawin nya atau meminjam uang dari Keluarga Sunardi.
Oleh karena itu, Wulan berpikir bahwa suami nya bersikap lembut hari ini karena mau meminta uang kepada nya.
Kira meminta maaf dengan suara lembut,
"Dulu, aku yang salah. Kelak, aku nggak bakal pukul kamu lagi!"
"Huhuhu!"
Wulan langsung menangis dan berkata,
"Suamiku, kamu pinjam berapa banyak uang lagi di luar sana? Waktu terakhir kali aku pulang ke rumah, kakak ku sudah bilang kalau dia nggak bakal pinjamin aku uang lagi!"
Kira tersenyum masam.
"Aku nggak pinjam uang dari luar. Aku juga nggak bakal suruh kamu pulang untuk pinjam uang lagi!"
Wulan tidak sepenuh nya percaya pada kata-kata Kira.
"Serius?"
Kira mengangguk.
"Percaya lah padaku!"
Gadis sebaik ini sangat sulit dicari, kenapa pemilik tubuh sebelum nya tidak menghargai nya?
"A... aku bakal percaya sama kamu sekali lagi!" jawab Wulan dengan takut.
Setiap kali dia percaya pada kata-kata manis suami nya, dia selalu terluka lebih dalam lagi.
Wulan berharap semoga kali ini dia benar-benar bisa memercayai suami nya.
Brak!
Pintu kayu rumah mereka tiba-tiba didobrak.
Seorang pria paruh baya berjalan masuk. Pria itu bertopi hitam, mengenakan pakaian hitam yang dipadu dengan ikat pinggang merah dan sepatu bot kain.
Saat melihat Wulan, mata pria paruh baya itu langsung berbinar. Setelah itu, dia melirik singkong tumbuk yang ada di meja dan berkata sambil tersenyum,
"Wah! Tuan Kira, kamu sudah bosan makan nasi, ya? Benar juga, kalau makan nasi sehari tiga kali, kamu juga bakal susah buang air besar karena terlalu nggak berserat."
Di zaman dahulu, sanggup makan nasi sudah merupakan hal yang sangat di banggakan.
Kira merasa pria paruh baya itu tidak asing, tetapi dia tidak bisa mengingat apa hubungan pria ini dengan pemilik tubuh sebelum nya.
"Pak Budi, kalau mau pamer kekayaan, balik saja ke Dusun Silali. Jangan pamer di Dusun Samadi!"
Wulan berdiri di depan Kira dengan ekspresi galak, seolah olah mau melindungi nya.
Setelah mendengar nama nya, Kira pun teringat siapa pria ini.
Setelah mendengar nama nya, Kira pun teringat siapa pria ini.
Budi Silali adalah seorang pejabat kecil di ību kota provinsi. Dia juga merupakan kepala desa dari Desa Silali dan orang kaya dari Dusun Silali yang lokasi nya tidak jauh dari Dusun Samadi.
Dia bertanggung jawab atas pajak penghasilan, pajak tanah dan pajak lain lain penduduk Desa Silali. Dia juga punya kerja sampingan sebagai rentenir.
Budi akan pergi ke rumah siapa pun yang anggota keluarga nya sakit dan tidak bisa membayar pajak, lalu meminjamkan uang kepada mereka. Dengan cara ini, dia sudah mendapatkan tanah sebanyak 20 hektar dan menjadi lumayan kaya.
"Rumah kalian? Ini rumahku. Bahkan kamu juga bakal segera jadi milikku. Buka matamu dan lihat baik-baik!"
Kemudian, Budi mengeluarkan selembar bukti pinjaman dari kantong baju nya dan membuka nya dengan sombong.
"Kira Samadi, pelajar dari Dusun Samadi meminjam uang dari Budi Silali dari Dusun Silali sebesar 30 ribu rupiah. Dalam satu bulan, Kira akan membayar utang beserta bunga sebanyak 40 ribu rupiah. Jaminan nya adalah tempat tinggal, setengah hektar tanah di sebelah timur desa dan Wulan Sunardi, istrinya ..."
Setelah melihat cap jari nya, beberapa ingatan pun muncul di benak Kira. Kira pun langsung murka.
Pemilik tubuh sebelum nya pernah mabuk dan ditarik Budi pergi berjudi di ibu kota provinsi. Setelah kalah telak, dia pun membuat perjanjian ini.
Baru saja Kira bersumpah pada Wulan, perbuatan keji pemilik tubuh sebelum nya sudah terbongkar lagi. Penduduk Provinsi Jawalu sangat miskin. Seorang buruh paling banyak juga hanya akan menghasilkan lima sampai sepuluh rupiah sehari.
Untuk membayar utang 30 ribu rupiah tanpa bunga, seorang buruh juga harus bekerja paling sedikit tiga tahun. Itu masih belum termasuk biaya kehidupan, biaya pajak yang tinggi dan kerja rodi.
Bahkan Kira yang punya gelar doktor di bidang teknik mesin dan teknik material pun kewalahan untuk menghasil kan uang sebanyak itu.
Budi menatap Wulan dengan penuh hasrat dan berkata,
"Cantik, kalau kamu ikut aku, aku jamin kamu bakal hidup enak. Kamu nggak perlu hidup menderita lagi dengan si Pemboros ini!"
Wulan menoleh ke arah Kira, air mata sudah membasahi pipi nya dan menetes ke lantai. Ternyata dia memang salah karena sudah memercayai Suami nya!
Wulan bisa menerima penyiksaan apa pun dari suami nya, tetapi dia tidak menyangka suami nya akan menggunakan diri nya sebagai jaminan! Pada saat ini, hati nya benar benar hancur.
Kira tidak tahu harus bagaimana menghibur Wulan, Dia pun menatap Budi yang sombong dan berkata,
"Bawa pergi surat perjanjianmu itu!"
"Berengsek! Kamu nggak mau bayar utang?"
Budi langsung murka.
"Aku bisa pulang ke Dusun Silali dan suruh puluhan orang untuk datang dan memukul mu sampai cacat! Pemimpin daerah juga bakal kasih aku rumah, tanah dan istrimu padaku! Sudah ada bukti masih berani mengelak? Kamu sudah bosan hidup, ya!"
Wulan menarik lengan baju Kira dan berkata,
"Suamiku, kita harus bayar utang. Aku bakal pulang ke rumah untuk pinjam uang!"
Jika tidak membayar utang, suami nya akan ditarik ke pengadilan daerah dan dipukul.
"Wulan, kamu nggak perlu pinjam uang sama keluargamu. Aku bisa selesaikan masalah ini!"
Kira tertegun sejenak. Dia tidak menyangka Wulan masih bersedia membantu pemilik tubuh sebelum nya padahal diri nya sudah digunakan sebagai jaminan.
Budi menatap Kira tatapan meremehkan.
"Kamu cuman tahu foya-foya, gimana kamu mau selesaikan masalah ini! Kalau kamu nggak bayar 40 ribu rupiah itu hari ini, aku nggak bakal pergi."
Kira menunjuk ke tanggal surat perjanjian dibuat dan berkata,
"Buka matamu lebar lebar! Memang nya sudah sebulan?"
Budi langsung terkejut. Dia datang menagih utang karena mendapat kabar bahwa Kira sakit keras. Begitu mereka ribut, dia pun lupa bahwa masih tersisa tiga hari sebelum Kira harus membayar lunas utang.
Budi pun menjawab dengan kesal,
"Aku nggak percaya kamu bisa dapat 40 ribu rupiah dalam tiga hari!"
Kira bertanya balik,
"Gimana kalau bisa?
Budi langsung menunjukkan ekspresi licik,
"Kalau kamu bisa, aku nggak bakal terima bunga nya. Tapi kalau nggak bisa, kamu harus jual diri untuk jadi budak ku, Gimana?"
Wulan langsung terkejut dan mencegahnya.
“Suamiku, kamu nggak boleh setuju!"
Budi sangat licik. Dia ingin Kira menjual diri menjadi budak nya.
Namun, Budi sudah murka. Dia pun menuliskan dua surat perjanjian dan mengeluarkan tinta merah.
“Cepat tanda tangan!"
"Oke!"
Setelah tanda tangan dan menempelkan cap jari, Budi pun pergi dengan puas.
Budi yakin dengan koneksi dan karakter Kira selama ini, dia tidak mungkin bisa menghasilkan 40 ribu rupiah dalam tiga hari.
Meskipun keluarga Wulan kaya, mereka tidak mungkin meminjamkan uang kepada Kira. Sebab, mereka ingin Wulan meninggalkan Kira.
Dengan taruhan ini, Budi bukan hanya bisa mendapatkan budak muda, tetapi juga bisa menjual nya dan mendapatkan puluhan ribu rupiah lagi.
Selain itu, dia juga sudah selangkah lebih dekat untuk mengumpulkan 50 hektar tanah.
Di dalam rumah, sepasang suami istri itu saling memandang.
"Wulan!"
Kira ingin menghibur Wulan, tetapi Wulan malah langsung menyeka air matanya dan masuk ke dalam kamar.
Kira tahu Wulan sudah terluka.
"Suamiku!"
Tidak lama kemudian, Wulan berlari keluar dari kamar nya. Dia membuka sebuah tas kecil dengan ekspresi tidak rela dan berkata,
"Ayo kita pergi ke ibu kota provinsi untuk gadai gelang ini. Habis itu, aku bakal mohon ke Kakak untuk pinjamkan kita uang. Kita pasti bisa kumpulkan 40 ribu rupiah!"
kira menggeleng.
"Aku saja yang cari cara untuk dapatkan 40 ribu rupiah ini!"
Gelang giok putih ini adalah warisan dari ibu Wulan.
Pemilik tubuh sebelum nya sudah pernah memukul Wulan hingga batuk darah demi gelang ini, tetapi Wulan tetap tidak mengeluarkannya.
Hari ini, Wulan malah mengeluarkan nya untuk membayar utang pemilik tubuh sebelum nya.
Wulan langsung terisak,
“Kamu punya cara apa? Jumlahnya 40 ribu rupiah, bukan 400 rupiah!"
Kira pun langsung mencari ingatan pemilik tubuh sebelumnya.
"Aku pikir pikir dulu!"
Bagi para petani, 40 ribu rupiah adalah utang yang tidak mungkin bisa dibayar seumur hidup mereka.
Namun, Kira mempunyai gelar doktor di bidang teknik mesin dan teknik material. selain itu, dia juga memiliki pengalaman dan pengetahuan yang melampaui orang orang di era ini.
"Dulu, aku nggak kasih gelang ini ke kamu karena gelang ini adalah peninggalan Ibu!"
Wulan lanjut terisak.
"Tapi kamu sudah nggak punya jalan keluar. Aku nggak bisa biarkan kamu menjual diri menjadi budak. Hidup seorang budak sangat sulit dan bahkan nggak sebagus gelandangan!"
Dİ Kerajaan Nayara, masyarakat dibagi dalam beberapa golongan.
Orang yang tidak mempunyai rumah maupun tanah akan dianggap gelandangan oleh pemerintah. Statusnya lebih rendah dari rakyat jelata. Sementara status budak bahkan lebih rendah dari gelandangan lagi.
Kira tidak memperhatikan apa yang di katakan Wulan. Dia sedang berusaha keras untuk mencari ingatan pemilik tubuh sebelum nya.
Teknologi dl kerajaan Nayara mirip dengan Dinasti Negara Avalon.
Kira yang mempunyai gelar doktor di bidang teknik mesin dan teknik material pasti bisa menciptakan sesuatu yang baru. Namun, desa kecil ini bahkan tidak mempunyai toko besi. Orang yang sangat berbakat sekali pun tidak akan bisa maju di desa iní.
"Tapi ini benar benar yang terakhir kali, ya. Kelak, Kakak pasti nggak bakal bantu kita lagi"
Wulan menyeka air matanya, lalu mendongak.
“Kalau kamu pinjam uang dari luar lagi, aku benar-benar sudah nggak bisa bantu! Kalau kamu jadi gelandangan, aku bakal temani kamu jadi gelandangan."
"Eh, ketemu cara!"
Mata Kira langsung berbinar. Dia mengambil sebungkus tepung kedelai, lesung batu dan cangkul, lalu keluar dari rumah dengan menjinjing keranjang bambu.
"Suamiku? Kamu mau kemana?"
Wulan sangat heran.
Biasa nya, Wulan yang selalu bercocok tanam. Suami nya tidak pernah melakukan hal itu.
Lagi pula, musim panen sudah berakhir, Untuk apa suami nya mengambil alat bertani?
Dusun Samadi mempunyai tanah yang datar, Di luar desa, ada Sungai Jinggo yang jauh nya 400 meter dan gunung yang jauh nya 13 kilometer,
Di dusun ini, ada lima puluh keluarga yang semua nya bermarga Samadi, Mereka semua berasal dari leluhur yang sama.
Setelah musim panen berakhir, penduduk harus membayar pajak penghasilan dan pajak tanah. Para bandit juga akan datang untuk meminta hasil panen mereka. Bahan pangan yang di simpan para penduduk biasa nya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, apalagi harus bertahan sampai musim panen berikutnya.
Jadi, tidak ada penduduk yang menganggur. Jika tidak pergi bekerja, mereka akan menjahit di rumah atau mengumpulkan sayuran liar.
Begitu sampai di tanah kosong di luar dusun, Kira pun mulai mencangkul. Dia mengambil sehelai demi sehelai rumput, mencuci nya di air dalam ember, lalu mulai menumbuk nya.
"Bukan nya itu Kira? Kenapa dia numbuk rumput?"
"Pasti rumah nya sudah kehabisan makanan. Dengar dengar, dia berutang 40 ribu rupiah sama Pak Budi. Kalau dia tidak bisa bayar tiga hari lagi, rumah, istri dan tanah nya bakal jadi milik Pak Budi!"
"Dasar Pemboros! Padahal ayah nya sudah tinggalkan begitu banyak harta buat dia, tapi semua nya sudah habis difoya foya. Sekarang dia sampai harus makan rumput lantaran kelaparan. Mampus!"
Saat melihat Kira yang menumbuk rumput, beberapa wanita yang keluar untuk memetik sayuran liar pun menghujat nya.
Pemilik tubuh sebelum nya tidak bekerja dan jarang berolahraga. Jadi, stamina nya sangat buruk.
Setelah menggali sesaat, Kira pun bersandar pada cangkul nya sambil terengah engah.
"Kira, rumah mu sudah nggak ada makanan, ya? Kok mencangkul rumput? Rumput ini nggak bisa dimakan Iho. Ngemis saja sama warga dusun! Kamu toh seorang pelajar, orang orang pasti bakal kasih kamu makan kok."
Seorang pemuda yang terlihat seperti preman berjalan mendekati Kira.
Pakaian nya terlihat kotor, sepatu kain nya juga sudah robek. Dia menatap Kira sambil melipat tangan nya di depan dada.
"Tony, bantu aku gali rumput ini dulu. Nanti aku pasti bagi hasil nya ke kamu!"
Kira memohon dengan terengah engah.
Tony Samadi adalah gelandangan di dusun mereka. Dia tidak bekerja dan hanya suka berkeliaran.
Dulu, asalkan bertemu dengan pemilik tubuh sebelum nya, Tony selalu menyanjung nya. Bagaimanapun juga, pemilik tubuh sebelum nya adalah seorang pelajar yang mungkin akan menjadi pejabat.
Sejak pemilik tubuh sebelum nya jatuh miskin, Tony bukan hanya tidak menyanjung nya lagi, tetapi malah mengejek nya.
Setelah mendengar permintaan Kira, Tony langsung memelototi nya.
“Asal kamu tahu, aku nggak bakal kelaparan ke mana pun aku pergi. Memang nya aku perlu dikasihani oleh mu?"
"Yang mau ku bagi ke kamu itu bukan rumputnya!"
Jika bukan karena badan nya terlalu lelah, kira juga tidak ingin menghiraukan Tony.
Tony memang tidak akan kelaparan karena dia sangat tidak tahu malu.
"Kamu nggak perlu jelasin lagi! Aku tahu situasi mu, kok. Jangan gali lagi, pergi saja ke rumah mertuamu dan minta maaf. Sebenarnya, harga diri itu bukan apa apa. Kalau sudah jadi gelandangan, kamu bakal nyesal!"
Tony yang sudah berpengalaman memberi nasihat kepada Kira.
Melihat Tony yang tidak mau membantu nya, Kira pun tidak menghiraukan nya lagi dan terus menggali.
Berhubung Kira tidak mau mendengar nasihatnya, Tony juga langsung pergi. Sebelum pergi, dia berkata,
"Kalau nggak mau dengar nasihat orang, yang rugi juga kamu sendiri!"
Berselang satu jam kemudian,
"Kira, rumput itu nggak bisa dimakan. Ayo ikut aku! Aku kasih kamu sedikit makanan dulu!"
Saat menjelang siang, seorang pria paruh baya menghampiri Kira.
Pria ini berperawakan tinggi dan kurus. Dia mengenakan baju lengan pendek dan bertelanjang kaki. Mata nya memancarkan keramahan.
kira menggeleng sambil tersenyum.
"Paman Basan, aku gali rumput ini bukan untuk di makan!"
Basan Samadi dulunya bernama Hasan Samadi. Dia mengubah nama nya setelah masuk militer.
Lima tahun yang lalu, dia sudah kembali dari militer. Basan juga merupakan kerabat Kira.
Sebelum masuk militer, Basan sudah mempunyai dua putra.
Sepulang dari militer, mereka dikaruniai dua putri lagi.
Berhubung tanah rumah mereka tidak cukup besar, Basan menyewa satu hektar tanah lagi untuk bertani. Keuangan mereka juga tidak terlalu bagus.
Jika Kira menerima pemberian Basan, keluarga Basan juga akan jadi kekurangan.
"Memang nya kenapa kalau makan rumput! Semua senior di dusun juga pernah hidup susah!" ujar Basan.
Basan mengira Kira malu untuk mengakui bahwa keluarga mereka sudah kehabisan makanan karena dia adalah seorang pelajar.
kira pun menjawab sambil tersenyum,
“Paman Basan, tenagaku sudah habis, Boleh bantu aku gali sebentar nggak?"
"Kamu lemah banget! Cuman gali rumput ini saja sudah begitu capek. Kamu harus banyak olahraga!" ucap Basan sambil menggeleng.
Kemudian, dia meraih cangkul Kira dan mulai menggali.
Satu jam kemudian, sebidang besar tanah sudah kosong karena digali. Ember dan keranjang bambu milik Kira juga sudah terisi penuh dengan rumput itu.
Kira langsung kegirangan.
'Dulu, anak ini cuman tahu foya foya. Sekarang sudah miskin, rumput pun jadi kayak harta!'
Basan menatap Kira dengan kasihan, lalu meletakkan cangkul nya dan pergi.
Pekerjaan yang tersisa sudah tidak terlalu sulit. kira hanya perlu membersihkan rumput nya, lalu menghaluskan nya dalam lesung batu.
Setelah bekerja hingga seluruh badan nya sakit, Kira baru mengumpulkan seember rumput yang sudah di haluskan.
Dia pun menjinjing ember itu sampai ke Sungai Jinggo sambil sesekali beristirahat selama perjalanan.
Kira memilih tempat yang sekiranya ada banyak ikan, lalu menabur tepung kedelai ke dalam sungai.
Setelah ada umpan, ikan nya menjadi semakin banyak. Kira pun menuangkan serpihan rumput ke dalam sungai dengan hati-hati.
Seiring dengan serpihan rumput yang menyebar, satu demi satu ikan pun mulai mengapung.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!