Indonesia
NovelToon NovelToon

Setelah Cerai Dokter Itu Berkuasa

Episode 1

Bab 01

Naira Salsabila masuk ke gedung Mahendra Health Group dengan rantang stainless di tangan.

Satpam di lobi sudah mengenalnya. Mereka menunduk sopan, tetapi tidak ada yang benar-benar menyapa. Selama lima tahun menjadi istri Dimas Mahendra, Naira lebih sering datang lewat pintu belakang. Kadang membawa makan siang, kadang membawa obat, kadang membawa dokumen yang diminta suaminya tengah malam.

Hari itu ia datang lewat pintu depan.

Ia tidak tahu kenapa dadanya terasa lebih berat dari biasanya.

"Bu Naira, Pak Dimas ada rapat," kata resepsionis dengan senyum kaku.

"Aku hanya mau menaruh ini," jawab Naira.

Resepsionis melirik rantang di tangan Naira. Bau rempah hangat keluar tipis dari celah tutupnya. Bukan masakan rumah biasa. Di dalamnya ada sup herbal yang ia racik sendiri dari bahan langka yang baru tiba subuh tadi dari Makassar, bahan yang harus disimpan dalam suhu rendah dan direbus dengan takaran sangat hati-hati.

Dimas menderita migrain berat sejak tiga tahun lalu. Dokter spesialis saraf pernah menyarankan tindakan lebih lanjut, tetapi Dimas selalu menolak. Ia tidak suka terlihat lemah.

Jadi Naira yang menanggung sisanya.

Ia membaca ulang hasil pemeriksaan, menyesuaikan obat, mengatur makanan, dan menjaga agar Dimas tetap terlihat sempurna di depan publik.

Di mata keluarga Mahendra, semua itu hanya tugas istri.

Naira naik lift ke lantai dua puluh delapan. Pintu ruang direksi tidak tertutup rapat. Dari celahnya terdengar suara perempuan tertawa pelan.

Tangan Naira berhenti di gagang pintu.

"Mas Dimas, ini serius untukku?"

Suara itu milik Clara Larasati.

Naira mengenal suara itu bahkan sebelum melihat wajahnya. Clara, perempuan yang selalu disebut Bu Ratna sebagai "hampir jadi menantu terbaik". Clara, cinta lama Dimas. Clara, dokter muda yang baru kembali dari program fellowship singkat di Singapura dan sejak itu diperlakukan seolah-olah ia satu-satunya perempuan berpendidikan di Jakarta.

Naira mendorong pintu.

Di dalam, Dimas berdiri di samping meja kerjanya. Kemeja putihnya rapi, jam mahal di pergelangan tangannya berkilat tertimpa lampu. Di hadapannya, Clara memegang sebuah amplop tebal berwarna biru tua.

Naira mengenali logo di amplop itu.

Kongres Bedah dan Genomik Nusantara.

Undangan itu ditujukan untuknya.

"Naira?" Dimas menoleh. Dahinya sedikit berkerut, bukan karena terkejut melihat istrinya, melainkan karena terganggu. "Kamu datang?"

Naira menatap amplop di tangan Clara.

Clara mengikuti arah pandangannya, lalu tersenyum. Manis. Terlalu manis.

"Mbak Naira, maaf ya. Aku tidak tahu Mbak juga ke sini."

"Itu undangan apa?" tanya Naira.

Dimas menarik napas pendek. "Nanti saja dibahas."

"Aku tanya itu undangan apa."

Ruangan mendadak hening.

Di sofa, Rendi, asisten pribadi Dimas, mengangkat wajah dari tablet. Matanya bergerak dari Naira ke Clara, lalu kembali ke Naira dengan ekspresi menahan senyum.

Clara memeluk amplop itu ke dada. "Mas Dimas bilang ini kesempatan bagus untukku. Kongres ini dihadiri banyak dokter senior dan peneliti. Aku sedang butuh jaringan untuk riset residensiku."

"Mas Dimas bilang?" Naira mengulang pelan.

Dimas mengusap pangkal hidung. "Naira, jangan mulai."

"Undangan itu atas namaku."

Clara terdiam sebentar. Hanya sebentar. Setelah itu wajahnya berubah pucat, seolah-olah ia yang tersakiti.

"Mbak, aku benar-benar tidak tahu. Mas Dimas cuma bilang ada undangan yang tidak terpakai."

"Tidak terpakai?"

Dimas akhirnya menatap Naira penuh. "Kamu mau pakai untuk apa?"

Naira merasakan jari-jarinya mengencang pada pegangan rantang.

"Untuk menghadiri kongres."

Rendi tertawa kecil. Ia tidak menutupinya cukup cepat.

Dimas menoleh tajam. "Rendi."

"Maaf, Pak." Rendi menunduk, tetapi sudut bibirnya masih bergerak. "Saya cuma kaget. Bu Naira mau ikut kongres dokter?"

Clara menunduk, suaranya lembut. "Mbak Naira, kalau memang Mbak mau ikut sebagai pendamping Mas Dimas, mungkin bisa daftar umum. Tapi undangan pembicara ini sayang kalau tidak dipakai orang yang memang bekerja di bidangnya."

Kalimat itu halus.

Tapi setiap katanya punya gigi.

Naira menatap perempuan itu. "Kamu tahu isi undangannya?"

Clara ragu. "Tentu. Di sini tertulis akses pembicara untuk sesi pengembangan terapi gen."

"Dan menurutmu itu cocok untukmu?"

Wajah Clara memerah. "Aku dokter, Mbak."

"Aku tidak bertanya kamu dokter atau bukan."

Dimas meletakkan tangan di meja. "Cukup, Naira. Clara sedang membangun kariernya. Kamu tahu dunia medis sekarang keras. Satu kesempatan seperti ini bisa mengubah masa depannya."

Naira hampir tertawa.

Masa depan Clara.

Lalu masa depan ibunya?

Lalu nama Dr. Sari Anggraini yang lima tahun terakhir dikubur di bawah tuduhan manipulasi data?

Lalu penelitian yang Naira kerjakan diam-diam di ruang bawah tanah rumah mereka, setiap malam setelah keluarga Mahendra tidur, setelah ia selesai memasak, mencuci, dan berpura-pura tidak mendengar Bu Ratna menyebutnya istri tidak berguna?

Undangan itu bukan sekadar tiket masuk.

Itu pintu pertama untuk membersihkan nama ibunya.

"Dimas," kata Naira, suaranya rendah. "Aku minta undangan itu."

Dimas menatapnya seperti menatap anak kecil yang meminta mainan mahal. "Kamu tidak akan mengerti acaranya."

Rendi menambahkan, "Maaf, Bu. Kongres itu bukan seminar kesehatan ibu rumah tangga."

Clara menggigit bibir. "Rendi, jangan begitu."

Tapi ia tidak mengembalikan amplop itu.

Naira meletakkan rantang di meja. Tutupnya bergetar kecil saat menyentuh kaca.

"Lima tahun," katanya. "Lima tahun aku diam setiap kali kalian menganggap aku tidak tahu apa-apa."

Dimas mengerutkan kening. "Kamu terlalu sensitif."

"Tidak. Aku terlalu sabar."

Clara bergerak mendekat, membawa amplop itu dengan kedua tangan.

"Mbak, kalau ini memang milik Mbak, aku kembalikan. Aku tidak mau jadi penyebab pertengkaran."

Naira mengulurkan tangan.

Sesaat sebelum jarinya menyentuh amplop, Clara tersandung kaki kursi.

Atau berpura-pura tersandung.

Amplop itu lepas. Jatuh tepat ke dalam rantang yang tutupnya belum Naira pasang kembali. Sup herbal panas membasahi kertas biru tua, meresap cepat ke bagian logo dan nama penerima.

"Aduh!" Clara menutup mulut. "Mbak, maaf. Aku benar-benar tidak sengaja."

Naira menatap undangan yang basah.

Nama di sana mulai luntur.

Dimas hanya berkata, "Sudahlah. Nanti aku minta sekretaris cari undangan lain."

Naira mengangkat wajah.

"Cari undangan lain?"

"Itu hanya kertas."

Hanya kertas.

Naira menatap pria yang pernah ia cintai sampai menolak pulang ke keluarganya sendiri. Pria yang ia rawat saat sakit, ia bantu saat bangkrut, ia lindungi harga dirinya di depan semua orang.

Ternyata di matanya, semua yang berharga bagi Naira selalu bisa disebut hanya.

Hanya kertas.

Hanya masakan.

Hanya istri.

Naira mengambil amplop basah itu dari rantang. Sup menetes ke lantai.

Clara mundur setengah langkah, masih dengan wajah bersalah yang terlalu rapi.

"Mbak Naira, aku..."

"Diam."

Satu kata itu membuat Clara berhenti.

Dimas berdiri tegak. "Jaga bicaramu."

Naira menoleh kepadanya. "Besok sore jam tiga, Papa pulang ke Jakarta."

Dimas terdiam.

"Kamu pernah janji akan menjemputnya denganku," lanjut Naira. "Aku minta kamu datang."

"Naira, sekarang bukan waktunya..."

"Besok jam tiga."

Dimas menatap amplop basah di tangan Naira, lalu wajah Clara yang mulai berkaca-kaca. Setelah beberapa detik, ia mengangguk.

"Baik. Aku datang."

Naira menatapnya lama.

Ia ingin percaya.

Satu kali lagi.

Satu kesempatan terakhir.

Lalu ia membawa undangan yang rusak itu keluar dari ruangan, meninggalkan sup obat di meja Dimas. Tidak ada yang mengejarnya.

Di lift, Naira melihat bayangannya di pintu logam.

Wajahnya tenang.

Terlalu tenang untuk seorang perempuan yang baru saja menyaksikan salah satu pintu masa depannya dilempar ke dalam sup.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari nomor tak dikenal.

Papa sudah mendarat besok. Anak buah menunggu perintahmu, Naira.

Naira menutup mata sebentar.

Lalu ia mengetik satu kalimat.

Jangan muncul dulu. Aku ingin melihat, besok dia memilih siapa.

Di ruang direksi, Dimas menatap rantang yang ditinggalkan Naira. Sup di dalamnya sudah tercampur serpihan kertas biru, tetapi aroma obatnya tetap naik pelan. Migrainnya yang sejak pagi menusuk mulai mereda hanya karena mencium bau itu.

"Mas, aku benar-benar minta maaf," kata Clara.

Dimas tidak langsung menjawab. Ia melihat nama yang luntur di amplop basah.

Dr. Naira Salsabila.

Saat ia hendak mengambil amplop itu, Clara lebih dulu menutupinya dengan tisu.

"Kotor, Mas. Biar aku buang."

Dimas menarik tangannya kembali. Satu kesempatan kecil untuk bertanya lewat begitu saja.

Episode 2

Bab 02

Malam itu rumah keluarga Mahendra terasa lebih ramai dari biasanya.

Bu Ratna mengadakan makan malam kecil untuk menyambut Clara. Katanya Clara baru kembali ke Jakarta dan perlu disambut seperti keluarga sendiri. Meja makan penuh, dari sop buntut, ayam panggang, tumis buncis, sampai kue lapis yang biasanya hanya keluar saat ada tamu penting.

Naira duduk di ujung meja.

Tempat itu memang selalu untuknya.

Bukan karena ia dihormati, melainkan karena dari sana ia paling dekat ke dapur. Kalau ada lauk kurang, air habis, atau Bu Ratna tiba-tiba ingin sambal tambahan, Naira bisa berdiri tanpa membuat kursi lain bergeser.

"Clara, kamu tambah lagi," kata Bu Ratna sambil memindahkan potongan ayam terbaik ke piring Clara. "Kamu kurusan. Pasti terlalu sibuk di rumah sakit."

Clara tersenyum sopan. "Terima kasih, Tante."

"Jangan panggil Tante. Panggil Mama saja. Dari dulu kamu sudah Mama anggap anak sendiri."

Sendok di tangan Naira berhenti sesaat.

Dimas melihatnya, tetapi tidak berkata apa-apa.

Di sisi lain meja, adik Dimas, Vina, tertawa kecil. "Memang beda ya, Ma, perempuan yang punya karier. Aura Clara tuh rapi banget. Kalau jalan di rumah sakit pasti semua orang hormat."

Bu Ratna melirik Naira. "Ya, orang berpendidikan memang kelihatan."

Naira mengambil air putih.

Ia sudah mendengar kalimat seperti itu ratusan kali. Biasanya ia diam. Diam terasa lebih mudah daripada menjelaskan kepada orang yang tidak pernah ingin tahu.

Tapi malam ini, diamnya terasa seperti benda asing di tenggorokan.

"Mas Dimas," panggil Bu Ratna. "Besok kamu antar Clara ke rumah sakit, ya? Mobilnya masih di bengkel, kan?"

Clara cepat menggeleng. "Tidak usah, Ma. Aku bisa pesan mobil online."

"Jangan. Anak perempuan pulang-pergi sendiri itu tidak baik. Apalagi dokter muda seperti kamu."

Dimas menatap Clara. "Jam berapa?"

Naira meletakkan gelasnya.

Suara kecil itu cukup membuat Dimas menoleh.

"Besok jam tiga," kata Naira.

Suasana meja makan berubah tipis. Tidak berhenti, hanya melambat.

Dimas mengerutkan kening. "Aku ingat."

"Bagus."

Vina memutar mata. "Apa sih, Kak? Baru juga Mas Dimas ditanya Mama, kamu sudah pasang muka begitu."

Bu Ratna menyeka bibir dengan tisu. "Memangnya besok ada apa?"

Naira menjawab sebelum Dimas sempat bicara. "Papa saya pulang."

Bu Ratna mengangkat alis. "Papa kamu?"

Cara ia mengucapkan dua kata itu membuat Naira tahu apa yang sedang dipikirkan perempuan itu.

Orang tua yang selama ini tidak pernah datang.

Mungkin miskin.

Mungkin merepotkan.

Mungkin pulang karena mendengar menantunya sudah sukses.

Vina bahkan tidak berusaha menyembunyikan senyumnya. "Oh, yang katanya kerja di luar negeri itu? Kerja apa memangnya?"

"Urusan keluarga," jawab Naira.

"Keluarga kita juga perlu tahu," kata Bu Ratna. "Kalau besok dia datang ke sini, jangan sampai membuat malu."

Dimas menurunkan sendoknya. "Ma."

Bu Ratna menatap putranya. "Apa? Mama cuma bilang. Selama lima tahun menikah, besan kita itu tidak pernah datang. Tidak pernah telepon. Tidak pernah kirim apa-apa. Wajar kalau Mama bertanya."

Clara menunduk, seolah tidak ingin ikut campur. Tapi jemarinya terus bergerak pelan di tepi gelas, tanda ia mendengarkan semua.

Naira menatap Bu Ratna. "Papa tidak akan datang ke rumah ini."

"Lho, kenapa?" Vina tertawa. "Malu?"

"Karena tidak perlu."

Bu Ratna meletakkan tisu. "Naira, nada bicaramu akhir-akhir ini makin tidak enak. Jangan mentang-mentang Dimas terlalu sabar."

Naira ingin tertawa.

Dimas terlalu sabar?

Lima tahun ia bangun sebelum subuh, mengurus rumah, menemani Bu Ratna ke dokter, menyiapkan obat Dimas, menjaga agar nama keluarga Mahendra tetap bersih setiap kali ada krisis. Lima tahun ia menelan semua hinaan karena ia dulu percaya rumah tangga harus dijaga.

Dan malam ini, yang sabar tetap Dimas.

"Ma, sudah," kata Dimas akhirnya. "Besok aku antar Naira."

Naira menatapnya.

Kalimat itu sederhana. Tapi dadanya yang sejak siang tertahan sedikit mengendur.

Mungkin masih ada sisa.

Mungkin Dimas masih ingat bahwa ia pernah berjanji.

Bu Ratna mendengus. "Kalau memang harus. Tapi jangan lama-lama. Clara juga ada urusan."

"Tidak apa, Ma," kata Clara lembut. "Aku bisa atur sendiri."

Ucapan itu membuat Bu Ratna semakin sayang padanya. "Lihat. Tidak merepotkan."

Naira kembali makan, walau nasi di piringnya sudah dingin.

Setelah makan, ia mencuci piring di dapur. Pembantu sebenarnya ada, tapi Bu Ratna selalu bilang Naira lebih telaten. Itu cara halus untuk membuatnya tetap di sana, tetap tahu posisinya.

Dimas masuk ketika ia sedang membilas gelas terakhir.

"Naira."

Ia tidak menoleh. "Ya?"

"Soal tadi siang, Clara benar-benar tidak sengaja."

Tangan Naira berhenti.

Air dari keran terus mengalir.

"Itu yang ingin kamu bicarakan?"

Dimas diam sebentar. "Aku tidak mau kamu memperbesar masalah."

Naira mematikan keran, lalu berbalik. "Undangan itu atas namaku."

"Aku tahu."

"Kamu tidak tahu."

Dimas menahan napas. "Apa maksudmu?"

"Kalau kamu tahu, kamu tidak akan memberikannya ke Clara."

"Clara butuh kesempatan. Kamu tidak pernah bilang undangan itu penting."

Naira menatapnya. "Setiap kali aku bilang sesuatu penting, kamu pernah dengar?"

Dimas membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Di dapur yang masih berbau sabun dan kaldu, wajah pria itu tampak lelah. Dulu Naira selalu luluh kalau melihat wajah lelahnya. Ia akan membuatkan teh hangat, memijat kepalanya, dan membiarkan masalah mereka tenggelam sampai besok.

Malam ini ia tidak bergerak.

"Besok jam tiga," katanya.

Dimas mengangguk. "Aku sudah bilang akan datang."

"Jangan terlambat."

Rahang Dimas mengeras. "Aku bukan anak kecil yang harus diingatkan."

"Bagus."

Ia melewati Dimas, tetapi pria itu menahan pergelangan tangannya.

"Kamu berubah."

Naira menatap tangan Dimas di pergelangan tangannya. Sentuhan yang dulu membuatnya merasa aman, sekarang hanya terasa seperti kebiasaan lama yang terlambat dilepas.

"Mungkin aku hanya berhenti menjadi orang yang kamu inginkan."

Dimas melepasnya perlahan.

Malam itu Naira tidur di sisi ranjang yang sama seperti biasa, tetapi jarak di antara mereka terasa lebih luas dari kamar itu sendiri.

Pagi berikutnya, Dimas berangkat lebih awal. Ia berkata ada rapat singkat, lalu akan menjemput Naira pukul dua lewat tiga puluh.

Naira tidak bertanya lebih jauh.

Ia membuka lemari, memilih kebaya sederhana warna biru tua yang dulu disukai ibunya. Di dalam laci paling bawah, ia mengambil foto keluarga yang sudah menguning. Foto itu selalu ia simpan jauh dari mata keluarga Mahendra.

Di foto itu, Dr. Sari Anggraini berdiri dengan jas putih. Di sampingnya, Surya Atmadja memeluk Naira kecil yang belum mengerti kenapa orang dewasa selalu menyimpan rahasia.

Naira menyentuh wajah ibunya di foto.

"Ma, Papa pulang," bisiknya.

Ponselnya bergetar.

Dimas: Rapat agak mundur. Aku tetap usahakan.

Naira membaca pesan itu lama.

Kata "usahakan" terasa dingin.

Ia mengetik balasan, lalu menghapusnya.

Tidak ada gunanya meminta seseorang memilih, kalau sejak awal ia hanya ingin datang saat mudah.

Jam dua lewat lima puluh, Naira sudah berdiri di depan rumah. Sopir keluarga bertanya apakah ia ingin menunggu di dalam mobil. Naira menggeleng.

Jam tiga tepat, Dimas belum datang.

Jam tiga lewat lima belas, ponselnya berdering.

Nama Dimas muncul di layar.

Naira mengangkat.

"Naira, maaf. Aku tidak bisa ke sana sekarang."

Naira menatap jalan di depan rumah.

Di kejauhan, langit Jakarta mendung.

"Kenapa?"

Suara Dimas terdengar terburu-buru. "Clara kecelakaan kecil di parkiran rumah sakit. Dia harus menangani pasien darurat juga. Aku antar dia dulu. Papa kamu bisa menunggu sebentar, kan?"

Di ujung telepon, terdengar suara Clara.

"Mas, cepat ya. Aku takut pasiennya kenapa-kenapa."

Naira menutup mata.

Dadanya tidak lagi sakit.

Aneh.

Yang ada hanya sunyi.

"Naira, kamu dengar?"

"Aku dengar."

"Aku janji setelah ini aku susul."

Naira membuka mata. "Tidak perlu."

"Jangan seperti itu. Ini keadaan darurat."

Naira menatap mobil hitam yang sudah berhenti di ujung jalan. Orang-orang berpakaian rapi turun, menunggu instruksinya. Mereka bukan sopir keluarga Mahendra. Mereka orang-orang ayahnya.

"Iya," kata Naira pelan. "Darurat."

Ia memutus sambungan.

Di layar ponsel yang menghitam, bayangannya tampak tenang.

Kesempatan terakhir itu sudah selesai.

Episode 3

Bab 03

Dimas menutup telepon dengan perasaan tidak enak.

Ia tidak langsung memasukkan ponsel ke saku. Selama beberapa detik, ia menatap layar yang sudah kembali ke daftar panggilan. Nama Naira masih ada di sana, tanpa foto, tanpa kata manis. Dulu ia menyimpan kontak istrinya dengan nama "Rumah".

Entah sejak kapan ia menggantinya menjadi Naira.

"Mas?"

Suara Clara membuat Dimas menoleh.

Perempuan itu duduk di kursi penumpang mobilnya. Rambutnya sedikit berantakan, satu tangan memegang pergelangan kaki yang tidak terlihat luka. Wajahnya pucat, tapi matanya masih jernih.

"Dia marah?" tanya Clara pelan.

Dimas menyalakan mesin. "Tidak."

"Aku jadi tidak enak. Hari ini penting untuk Mbak Naira, kan?"

Dimas menarik napas. "Ayahnya baru pulang. Bisa diatur ulang."

Clara menunduk. "Tapi aku merasa merepotkan."

Kalimat itu seharusnya membuat Dimas lega. Clara tidak pernah meminta dengan kasar. Ia selalu seperti itu, lembut, tahu diri, seolah semua orang yang membantunya melakukannya atas kemauan sendiri.

Naira berbeda akhir-akhir ini.

Naira menatapnya dengan mata yang membuat Dimas merasa seperti terdakwa.

"Kamu yakin tidak perlu ke IGD?" tanya Dimas.

"Aku baik-baik saja. Hanya kaget. Tapi pasien di lantai tiga benar-benar butuh aku. Aku tidak bisa lambat."

"Aku antar."

Clara mengangguk. "Terima kasih, Mas."

Mobil melaju keluar dari parkiran rumah sakit. Dari kaca spion, Dimas sempat melihat sebuah mobil hitam berhenti di seberang jalan. Bentuknya familiar, terlalu mewah untuk parkiran rumah sakit biasa. Beberapa pria berjas berdiri di dekatnya.

Ia tidak memperhatikan lebih jauh.

Pikirannya masih terganggu oleh suara Naira.

Tidak perlu.

Dua kata itu pendek, tapi dinginnya bertahan di telinga.

Sementara itu, Naira masuk ke mobil hitam tanpa menoleh ke rumah keluarga Mahendra.

Seorang pria paruh baya dengan setelan gelap duduk di kursi depan. Namanya Bagas, orang kepercayaan ayahnya sejak Naira kecil. Ia menoleh, matanya memerah sedikit ketika melihat Naira.

"Non Naira."

Sebutan itu sudah lama tidak ia dengar.

"Pak Bagas," jawab Naira.

"Tuan Surya menunggu di rumah lama Menteng."

"Bukan bandara?"

"Beliau sudah mendarat subuh. Tidak ingin mengganggu keputusan Non."

Naira menatap keluar jendela. Pohon-pohon di pinggir jalan bergerak mundur. Jakarta sore itu padat, klakson terdengar di mana-mana, tetapi di dalam mobil, hening terasa sangat rapi.

Ayahnya sudah tiba sejak subuh.

Ayahnya bisa saja datang menjemputnya langsung, menunjukkan kepada Dimas siapa keluarga yang selama ini ia remehkan.

Tapi ayahnya menunggu.

Karena Naira meminta.

"Dia tidak datang?" tanya Bagas hati-hati.

Naira tersenyum tipis. "Dia datang ke tempat lain."

Bagas menunduk. Ia tidak bertanya lagi.

Mobil berbelok ke kawasan Menteng, lalu masuk ke halaman rumah tua berpagar tinggi. Tidak ada papan nama. Tidak ada simbol mencolok. Hanya rumah kolonial yang terawat, halaman luas, dan orang-orang yang berdiri tegak di kiri kanan jalan masuk.

Begitu Naira turun, semua menunduk.

"Selamat datang, Non Naira."

Suara itu serempak, rendah, dan penuh hormat.

Naira berhenti satu detik.

Lima tahun di rumah Mahendra, ia terbiasa dipanggil kalau air minum habis, kalau sambal kurang, kalau Bu Ratna perlu obat maag. Di sini, orang-orang yang bahkan lebih tua darinya menunduk bukan karena takut kepada suaminya, tapi karena tahu siapa dia.

Pintu utama terbuka.

Seorang pria berdiri di ambang pintu.

Rambutnya sudah lebih banyak putih, tapi punggungnya tetap tegak. Wajahnya keras, wajah orang yang terlalu lama memerintah dan terlalu jarang dibiarkan terlihat lemah. Namun saat melihat Naira, semua kekerasan itu retak.

"Naira."

Satu kata.

Kaki Naira seperti kehilangan tenaga.

Ia berjalan cepat. Lalu lebih cepat. Saat berada di depan pria itu, ia tidak sempat menjaga wajahnya lagi.

"Papa."

Surya Atmadja memeluk putrinya.

Pelukan itu tidak lembut. Terlalu kuat, seperti ia takut Naira akan hilang lagi kalau dilepas. Naira menahan napas, lalu tubuhnya perlahan menyerah.

Ia tidak menangis saat Clara menjatuhkan undangannya.

Ia tidak menangis saat Dimas memilih pergi.

Tapi di dada ayahnya, matanya panas.

"Maaf," kata Surya dengan suara serak. "Papa pulang terlambat."

Naira menggeleng. "Papa pulang."

"Siapa yang menyakitimu?"

Pertanyaan itu pelan, tetapi orang-orang di halaman seperti ikut menahan napas.

Naira melepaskan pelukan. Ia menatap ayahnya. "Aku yang akan mengurusnya."

Surya menatapnya lama.

"Kamu masih membelanya?"

"Tidak."

"Lalu kenapa Papa tidak boleh bergerak?"

"Karena kalau Papa yang bergerak, semua orang akan bilang aku menang karena nama Atmadja." Naira mengusap sisa basah di sudut matanya. "Aku ingin mereka tahu aku tidak perlu diselamatkan dari awal. Aku hanya terlalu lama memilih diam."

Surya menutup mata sebentar.

Ketika ia membukanya lagi, tatapannya kembali tajam.

"Baik. Tapi kalau mereka menyentuhmu sekali lagi..."

"Aku tahu."

"Tidak, kamu belum tahu." Surya mencondongkan tubuh sedikit. "Nama Atmadja tidak pernah meninggalkan anaknya dua kali."

Naira terdiam.

Di belakang mereka, Bagas berdiri dengan kepala tertunduk. Ia membawa sebuah map kulit hitam.

"Dokumen yang Non minta sudah siap," katanya.

Naira menerima map itu. Di dalamnya ada salinan sertifikat rumah yang selama ini ditempati keluarga Mahendra, dokumen kepemilikan saham awal Mahendra Health Group, dan perjanjian lisensi paten farmasi yang selama ini menjadi mesin uang perusahaan Dimas.

Semua nama pemilik aslinya mengarah pada satu garis.

Naira Salsabila Atmadja.

Ia menutup map.

"Besok aku pulang ke rumah Mahendra."

Surya langsung mengerutkan kening. "Untuk apa?"

"Mengambil yang tersisa."

"Orang-orang Papa bisa mengambilnya."

"Bukan barang." Naira menatap map di tangannya. "Harga diriku."

Surya tidak menjawab.

Ia mengenal tatapan itu. Tatapan yang dulu dimiliki Sari Anggraini ketika menghadapi komite etik yang berusaha memaksanya menarik laporan. Tatapan perempuan yang sudah memutuskan jalan dan tidak bisa digeser oleh siapa pun.

Di tempat lain, Dimas mengantar Clara sampai ruang dokter.

Clara berjalan normal begitu turun dari mobil, lalu baru sadar Dimas melihat. Ia cepat-cepat sedikit pincang.

Dimas tidak berkomentar.

"Mas, kamu sebaiknya susul Mbak Naira," kata Clara.

"Nanti."

"Aku takut dia salah paham."

Dimas memijat pelipis. Migrainnya mulai naik. Biasanya jam segini Naira sudah menyiapkan obat dan minuman hangat. Hari ini rantang obatnya tertinggal di kantor, undangannya rusak, dan ia pergi entah ke mana.

Untuk pertama kali, rumah terasa tidak otomatis menunggunya.

"Dia akan pulang," kata Dimas, entah kepada Clara atau dirinya sendiri.

Clara menatapnya. "Kamu yakin?"

Dimas terdiam.

Ia ingin menjawab ya.

Naira selalu pulang.

Setelah bertengkar dengan ibunya, setelah dihina Vina, setelah ia lupa ulang tahun pernikahan mereka, setelah ia membatalkan janji berkali-kali, Naira selalu kembali ke dapur, ke kamar, ke sisinya.

Tapi suara Naira tadi berbeda.

Tidak perlu.

Clara menyentuh lengan Dimas pelan. "Mas, maaf. Karena aku, kamu jadi..."

Dimas menarik tangannya perlahan. "Istirahat saja."

Clara menurunkan mata, tampak terluka.

Dimas melihatnya, lalu rasa bersalah yang lama kembali bekerja. Ia berkata lebih lembut, "Aku akan minta Rendi jemput kamu nanti."

"Terima kasih."

Malam itu, Dimas pulang lebih awal dari biasanya.

Ia berharap melihat Naira di ruang makan. Atau di dapur. Atau di kamar, duduk diam sambil menunggunya meminta maaf lebih dulu.

Tapi rumah sunyi.

Bu Ratna sedang menonton televisi di ruang keluarga.

"Naira mana?" tanya Dimas.

Bu Ratna tidak menoleh. "Belum pulang. Paling drama."

Vina yang duduk di karpet tertawa. "Biarin saja, Mas. Nanti juga balik kalau lapar."

Dimas berdiri di tengah ruang keluarga.

Untuk pertama kali, kalimat itu tidak terdengar lucu.

Ia naik ke kamar.

Lemari Naira masih tertutup. Meja riasnya rapi. Di atas bantal, tidak ada pesan.

Tapi di nakas, cincin pernikahan Naira tergeletak.

Dimas mengambilnya.

Dingin.

Sangat dingin.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari nomor Naira masuk.

Besok pukul sepuluh. Aku pulang untuk bicara.

Dimas mengetik cepat.

Kamu di mana?

Pesannya terkirim.

Tidak dibaca.

Dimas menggenggam cincin itu sampai telapak tangannya sakit.

Di rumah lama Menteng, Naira berdiri di depan jendela kamar. Di belakangnya, map dokumen terletak di meja. Cincin Dimas sudah tidak ada di jarinya.

Untuk pertama kali dalam lima tahun, jari manisnya terasa ringan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!