Ada gadis yang bernama Lisa Wijaya.
Seorang gadis remaja berumur 17 tahun, bersetatus sebagai siswi disalah satu sekolah Menengah Atas yang kini duduk dibangku kelas XI.
Memiliki paras wajah yang anggun nan cantik, dia memiliki sifat yang manja namun itu dulu, saat ini dia dicap sebagai siswi yang selalu terlambat disekolah, dan selalu terlibat masalah disekolah.
Akan tetapi dengan kepintarannya yang di atas rata-rata dia juga terkenal sebagai siswi yang cerdas, juga berasal dari keluarga berada. Namun tak menutup kemungkinan gadis tersebut untuk hidup tak bahagia, semenjak dia mengetahui sandiwara dan kebohongan yang di buat oleh kedua orang tuanya sendiri yang membuatnya selalu terluka dengan tumbuh menjadi gadis dewasa yang kurang kasih sayang.
Hal tersebut membuatnya berubah dari gadis manja menjadi gadis yang tangguh, semenjak itu juga kedua orang tuanya selalu sibuk dengan urusan bisnisnya.
Suatu ketika dia menjadi sebuah bahan perjodohan dengan anak kerabat kedua orang tuanya hanya demi sebuah bisnis, fikirnya. Akan tetapi siapa sangka justru kejadian tersebutlah yang mampu menguatkannya, dari scandal yang di buat oleh kedua orang tuanya tersebut.
Sedangkan seorang laki laki remaja yang bernama Roy atmaja.
Seorang pemuda berumur 18 tahun yang juga merupakan salah satu siswa di salah satu sekolah Menengah Atas, dia cukup populer dan banyak di gilai oleh para siswi-siswi di sekolahnya, selain jabatannya sebagai seorang ketua OSIS di sekolah tersebut, dia juga cukup populer karena paras wajah yang tampan yang dimilikinya.
Berkulit putih, hidung mancung, dan postur tubuh yang tinggi membuatnya nyaris sempurna. Akan tetapi hingga sekarang ia menduduki bangku kelas 3 SMA tidak ada yang mampu menaklukan hati sang pujaan para siswi tersebut, terlebih sikap dingin dan cuek yang dimiliki lelaki tersebut, sangat sulit bagi para pengagumnya untuk mendekatinya.
Dia merupakan anak dari rekan kerja kedua orang tua lisa yang juga menjadi korban bahan perjodohan kedua orang tuanya, dia tak habis fikir dengan jalan fikiran kedua orang tuanya.
Akan tetapi dia tidak menolaknya karena dia merupakan anak yang penurut dan sangat menyayangi bunda nya. Karena kejadian tersebut pun memaksanya untuk berjanji selalu menjaga, dan membahagiakan seorang gadis bernama Lisa Wijaya yang di nikahinya itu.
*****
Mentari pagi telah bersinar, burung-burung telah berkicau saling bersiul, sedangkan sinar mentari pagi lolos di selah-selah jendela,dan menyinari wajah cantik seorang gadis yang tengah tertidur lelap, cahayanya yang terang tersebut mampu mengusik tidur lelapnya.
"Euuuuugggh...," lenguh gadis tersebut, saat cahaya matahari menyinari wajah cantiknya.
Gadis itu adalah lisa Wijaya semata wayang keluarga wijaya tersebut.
"Bangun sayang ini udah jam berapa, kamu harus pergi kesekolah hari ini, ayo cepat mandi dan siap-siap," tukas mami Rina, yang tak lain Ibu kandung dari lisa.
"Bunda lisa masih ngantuk nih, 5 menit lagi yah,bun," jawab lisa kembali menutup matanya.
"Engga, boleh lisa,ini udah hampir jam 7 loh, hari ini adalah hari pertama kamu masuk sekolah, kamu harus berubah nak," ucap Rina yang terus mencoba membangunkan anak semata wayangnya itu.
"Pokonya bunda engga mau tau ya, Bunda tunggu dibawah 10 menit lagi untuk sarapan, Ayah kamu sudah menunggu dibawah," sambung Rina, lalu bergegas pergi meninggalkan lisa didalam kamar.
"Hiss Bunda, iyaiya lisa mandi nih sekarang," Lisa segera bangun, lalu bergegas untuk kekamar mandi.
Di meja makan
"Mana lisa,bun,kok gak kelihatan" tanya Wijaya, yang tak lain adalah suami dari Bunda Rina , Ayah kandung lisa.
"Kenapa tidak ikut turun bersama Bunda" tanyanya lagi kepada istrinya.
"Dia masih mandi,yah banguninnya susah banget," keluh Rina kepada suaminya.
"Anak itu, selalu saja begitu. Tidak ada perubahan sama sekali, sepertinya ayah harus bertindak lebih tegas lagi,"
Ya, sebenarnya lisa tidak terlalu dekat dengan sang ayah, selain tegas dan sibuk dengan urusan bisnisnya, ayahnya juga merupakan sosok yang terkesan pemaksa, apapun yang dikatakannya harus dituruti.
"Yah,udah, kasian liaa" Mohon Rina kepada suaminya.
"Mami ini, selalu saja membela anak itu,"
Tap..tap.. tap..
Seorang gadis cantik memakai seragam sekolah lengkap, menuruni anak tangga menuju meja mekan,disana sudah ada Rina dan Wijaya yang menunggunya.
"Pagi bun, pagi yah, bi" sapa gadis tersebut kepada ayah,bunda dan bi mi yang tak lain adalah pembantu rumah tangga dirumah itu.
"Pagi sayang."
"Pagi juga non."
Lisa duduk dikursi tepat dihadapan sang Bunda, lisa sejenak melirik ke arah ayahnya, yang kini tengah melihatnya dengan tatapan tajam.
"Lisa.... mau sampai kapan kamu seperti itu," ucap Wijaya, sambil menatap tajam putrinya.
"Yah,udah kasian lisa, biarin lisa sarapan dulu ya yah,dia harus pergi kesekolah hari ini," ucap Rina mencoba menenangkan situasi yang sedikit panas,sambil mengusap bahu suaminya.
"Apa pedulinya ayah,toh ayah engga pernah peduli sama lisa selama ini" jawab lisa dengan santai, sambil mengambil sarapannya.
"Lisa, kenpa kamu berbicara seperti itu, kamu disekolahkan supaya punya Pendidikan, dan saat berbicara dengan orang yang lebih tua kamu punya sopan santun serta etika. Terlebih saat berbicara dengan orang tua kamu sendiri," ujar Wijaya terlihat sangat marah kepada lisa.
"Jujur ayah kecewa dengan sikap kamu lisa, ayah malu memiliki anak perempuan tidak beretika seperti kamu," sambung Wijaya lalu dia meletakkan sendok yang tengah di pegangnya tadi, dan berniat untuk pergi meninggalkan meja makan.
"Sopan santun seperti apa yang ayah maksud ini?" tanya lisa, sambil menyeritkan sebelah alisnya.
Wijaya mengurungkan niatnya, saat mendengar perkataan lisa.
"Apa hak ayah bilang seperti itu, apa selama ini ayah menganggap lisa ini sebagai anak ayah,apa ayah ada disaat lisa butuh ayah,apa ayah mengajarkan semua itu padaku, tidak yah..tidak...," sambung lisa,dengan suara tinggi dan sedikit berteriak.
PLAKKKK...
Suara tamparan menggema diruang makan pagi itu, semua itu adalah ulah Wijaya yang menampar pipi lisa.
"Ayah...ayah apa-apaan sih," marah Rina kepada suaminya, saat suaminya itu menampar pipi sang putri.
Lisa hanya duduk mematung ditempatnya, sambil memegang pipinya yang mulai memerah, akibat tamparan dari sang
Ayah.
Tak lama lisa mulai beranjak dari duduknya, dan mulai berbicara.
"Liaa pamit bun,yah" ucap lisa bergegas pergi meninggalkan sarapannya yang belum sempat dia sentuh, dia berjalan dengan pandangan kosong, serta air mata yang menggenang di kedua pelupuk matanya.
"Lisa.....," panggil Rina dengan suara lembut.
Lisa terus saja berjalan menuju pintu utama, tanpa menghiraukan panggilan dari sang Bunda, hingga dia keluar dari rumah tersebut, dan pergi ke sekolah menggunakan mobil pribadi di antar oleh mang jarot, yang merupakan supir keluarga wijaya tersebut.
Hari ini, adalah hari pertama Lisa masuk kesekolah dengan setatus yang sama, namun dengan kelas yang berbeda.
Lisa pergi kesekolah diantar oleh supir pribadi keluarganya, setelah menempuh jarak lumayan jauh, akhirnya lisa sampai disekolahnya, seperti biasa gadis itu pasti akan terlambat lagi, sama seperti sewaktu dia masih kelas X dulu
Lisa turun dari mobilnya dan berjalan menuju gerbang sekolah yang telah dijaga oleh satpam sekolah, setelah gadis itu bernegosiasi akhirnya diberi izin masuk oleh satpam, berhubung hari ini dia hanya telat beberapa menit saja, dari waktu yang telah di tetapkan.
Gadis itu berjalan dengan gaya santainya, meskipun dia tau datang dalam keadaan terlambat lagi kali ini,dia berjalan ditengah-tengah lorong sekolah yang sepi, karena sekarang adalah jam appel pagi di lapangan.
Prokk... prokk...
Suara tepukkan tangan dari seseorang, tepat dibelakangnya.
"Lisa Wijaya," ujar orang tersebut menyebut namanya, dengan nada mengejek.
"Gadis pembuat onar di SMA NEGERI HARAPAN," sambung orang tersebut.
Gadis hanya diam tak menanggapi perkataan orang tersebut, lalu dia bergegas untuk melanjutkan langkah kakinya menuju kelasnya tanpa memperdulikan orang tersebut, namun tiba-tiba pergelangan tangannya dicekal oleh orang dibelakangnya tersebut.
"Mau kemana loe, tau kan loe masuk terlambat lagi," ucap orang tersebut dengan sinis.
"Bukan urusan loe, lepasin tangan gue," sahut gadis itu dengan acuh, sambil menarik tangannya dari genggaman orang tersebut.
Ya, lelaki tersebut adalah Rendy, seorang wakil ketua OSIS yang juga cukup populer disekolah Harapan ini, dia hampir sama dengan sosok sang ketua OSIS Roy Atmaja, memiliki karakter dingin namun penuh pesona.
Hari itu Rendy yang sedang bertugas berkeliling koridor mencari siswa dan siswi yang terlambat, tidak sengaja melihat Lisa yang tengah berjalan dengan santainya di lorong-lorong kelas.
"Loe itu gak ada bosannya ya, datang terlambat, buat masalah hampir tiap hari kaya gini terus. Sebenarnya loe itu cewek beneran bukan sih," Ujar Rendy, yang mulai jengah dengan sikap Lisa yang tidak pernah berubah.
Gadis itu hanya berdiri santai, dengan arah pandangan kearah lain.
"Ikut gue," Perintah Rendy sambil kembali menarik tangan Lisa.
"Engga, gue gak mau," sahut Lisa ketus.
Ditengah-tengah pembicaraan mereka, datanglah seorang lelaki berpostur tubuh sedang, berhidung mancung dan sangat manis, sambil mengucah gula-gula karetnya, dan membawa sebatang kayu kecil di tangannya.
"Ada apa sih Ren? masih pagi nih loe udah marah-marah aja, ini cewek siapa lagi," tanya Arya kepada Rendy.
Royadalah salah satu dari anggota osis di sekolah tersebut.
"Loe lihat aja sendiri, apa yang buat gue kesel sekarang," jawab Rendy, sambil melirik sinis kearah Lisa.
"Aduh dede Lisa,bisa gak sih sehari aja loe gak usah berurusan sama kita," ucap Arya malas.
"Buruan loe ikut gue, loe harus dapat hukuman hari ini. Awas loe kabur," ucap Rendy sambil menatap sinis Lisa.
"Engga, kalau gue bilang engga ya engga dong," jawab Lisa penuh penekanan.
Tap..Tap...
Suara langkah sepatu mendekat kearah mereka.
"Ada apa ini," terdengar suara bariton dari seseorang tersebut.
Roy Atmaja, sang ketua OSIS disekolah Harapan tersebut berjalan dengan gaya coold nya kearah mereka, tatapan matanya yang tajam, dan rahang yang kokoh disertai dengan wajah yang sangat tampan terkesan sempurna, dan berkarisma.
"Roy,Nih loe lihat cewek ini, loe taukan siapa dia? bosen gue," jawab Rendy tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Lisa.
Tanpa bertanya lagi,Roy cukup tau bahwa gadis di hadapannya ini, adalah siswi yang terlambat masuk hari ini, oh tidak bukan hanya hari ini, namun hampir setiap hari.
Roy memandang lekat wajah Lisa yang tampak terlihat santai itu, sama sekali tidak ada raut ketakutan diwajahnya.
"Ikut gue," ucap Roy datar, lalu membalikan badannya dan berjalan kearah menuju ruang OSIS.
Seketika lamunan Lisa buyar, ketika mendengan suara bariton yang dingin, dan menusuk dari sang ketua OSIS dihadapannya itu.
Lisa Masih mematung di tempatnya, Roy yang telah sedikit menjauh dari mereka, harus kembali berbalik arah dan menatap Lisa yang masih berdiri disana, dengan langkah gontai dan tatapan tajamnya,roy berjalan kembali mendekat kearah mereka.
Kini Roy tengah berdiri tepat di hadapan Lisa, masih dengan pembawaan yang tenang tanpa ada amarah terpancar di wajar sang ketua OSIS tersebut.
Jangan panggil Lisa kalau dia takut dengan lelaki yang tengah berdiri di hadapannya ini.
"Mau jalan sendiri atau perlu paksaan," tanya laki laki itu, dengan suara santai namun berkesan datar.
"Gue engga mau berurusan sama kalian," jawab Lisa dengan tatapan malas.
"Oke."
"Ren, Ya, bawa dia keruangan OSIS dan kasih dia hukuman yang setimpal." sambung Roy sambil berjalan pergi dari tempat itu.
"Oke siap" sahut kedua sahabatnya bersamaan.
"Ayo ikut gue, cepetan." ucap Rendy sambil kembali menarik tangan Lisa, diikuti Arya yang memukul-mukul kaki Lisa, menggunakan kayu yang dia pegang tadi.
"Lepasin, gue bisa jalan sendiri dan loe juga ngapain pake bawa kayu segala sih, gue ini manusia bukan hewan ternak," sahut Lisa sambil menarik tangannya, dan menatap tajam kepada kedua orang yang ada didepan dan belakang nya.
"Heran gue, dia yang salah ko jadi kita yang dimarahin sama dia," kata arya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.
Diruang OSIS, Lisa diberi hukuman oleh Rendy untuk membersihkan gudang sekolah semasa jam istirahat nanti.
Setelah dari ruang OSIS, lisa berbegas masuk kedalam kelasnya, beruntung guru yang akan mengajar pelajaran hari ini belum masuk kekelasnya.
"Huuuuh," dengus Lisa sambil menyimpan tasnya diatas meja.
"Loe kenapa Lis, jangan bilang loe cari masalah dan berurusan lagi sama pengurus OSIS,?" tanya Wanda sabahat Lisa.
Sedangkan Lisa yang di tanya hanya diam sembari memainkan phonselnya.
"Ayo jawab Lis," desak Sinta, yang juga merupakan sahabatnya.
"Biasalah," jawab Lisa santai, tak lama kemudian, guru pun masuk keruang kelas untuk mengajar.
Teng...teng..teng...
Saat jam istirahat tiba, Lisa langsung menuju kearah gudang, dimana dia harus menjalankan hukumannya dari Rendy.
Tak lama setelah Lisa selesai membersihkan gudang tersebut, terdengar suara langkah kaki yang lumayan terdengar banyak, lebih pantasnya langkah kaki untuk beberapa orang.
"Dasar cewek pembuat onar, emang enak dapat hukuman." ujar orang tersebut, dengan nada meremehkan.
Ya, mereka adalah Clara dan gengknya. Clara merupakan salah satu dari anggota OSIS di sekolah tersebut.
Dia memang tidak menyukai Lisa pasalnya gadis itu adalah gadis pembuat masalah, namun memiliki penggemar yang banyak, hampir semua murid laki-laki yang menurut Clara tampan,pasti menyukai Lisa.
"Iya, kasian deh loe," sambung lila salah satu teman Clara.
Tak ada respon apapun dari Lisa, dan akhirnya mereka memutusakan untuk pergi.
"Cabut guys bosen gue di sini lihatin muka kampungan, si pembuat onar, dahh.. selamat menikamati hukuman," ujar clara sambil tersenyum mengejek.
"Woy.. Loe kira gue mau lihat muka receh loe itu cihhh," ucap Lisa dengan sedikit berteriak.
Ejekan Lisa mampu membuat Clara terhenti, saat mendengar Lisa merespon ucapannya.
"Hey cewek murahan, kali ini gue lagi males berdebat sama loe," ucap Clara yang hendak melanjutkan langkahnya untuk pergi
Perkataan Clara barusan, mampu menyulut emosi Lisa yang sejak tadi dia tahan.
"Maksud loe apa ngomong kaya gitu haaa," ucap Lisa sambil menarik tangan Clara, alhasil Clara berbalik kearahnya.
"Ya tentu saja loe murahan, rela dihukum terus, hanya demi bisa dekat dengan para most wanted disekolah ini. Udahlah gue udah tau ko akal-akalan loe ini," Tuding Clara dengan senyum mengejek.
Lisa benar-benar tak bisa menahan emosinya lagi kali ini.
Brakkk....
"Jaga omongan loe," Kesal lisa setengah berteriak, sambil menendang kursi dihadapannya.
Tanpa sengaja kursi yang ditendang olehnya, mengenai kaki Clara.
"Awwwsss...," ringis Clara.
Entah dari mana dan sejak kapan, Roy dan juga Rendy, sudah berdiri tak jauh di belakang mereka semua.
"Bawa Clara ke UKS," perintah Roy kepada lila dan teman Clara lainnya.
Setelah kepergiaan Clara bersama teman-temannya, Roy beralih menatap lisa biasanya dengan tatapan tajam,tapi kali ini tanpa expresi apapun.
Setelah itu, Roy pergi meninggalkan gudang tanpa mengucap sepatah kata apapun kepada lisa.
"Baru juga selesai masalah satu, sudah buat masalah baru lagi," ucap Rendy sinis, dan berbegas pergi mengikuti Roy.
Setelah kepergian Roy dan Rendy, gadis itu beranjak pergi menuju kantin, kebetulan dia merasa sangat kehausan setelah mengerjakan hukumannya tadi.
"Lisa ..sini," teriak Sinta, sambil melambaikan tangannya ketika dia melihat lisa berjalan memasuki area kantin.
"Gimana udah selesai kan, ini tadi gue udah pesenin loe es jeruk diminum gih," ujar Wanda sambil menyodorkan gelas berisi es jeruk tersebut.
"Thanks ya guys,"
Drrrtttt...Drrtttt
Baru setengah tegukan meminum es jeruknya, phonselnya bergetar tanda notifikasi pesan masuk. Lisa membuka pesan tersebut, tiba-tiba raut wajahnya berubah menjadi sendu, dan moodnya menjadi buruk, pesan tersebut tak lain dari Bundanya, yang memberi tahu bahwa dirinya dan sang suami hari ini akan pergi keluar kota selama beberapa hari kedepan, untuk urusan bisnisnya.
"Nasib gue gini banget ya, punya orang tua lengkap tapi gak pernah bisa ngerasain kasih sayang, sekedar berkumpul aja susah walaupun cuman sekejap," ucap lisa di dalam hatinya.
Setengah bel berbunyi lisa dan teman-temannya bergegas kembali kekelas, berhubung pelajaran berikutnya akan segera dimulai sebentar lagi.
Saat jam pulang tiba, roy berjalan memasuki kelas lisa. Hal itu tentunya mengundang perhatian banyak pasang mata siswi-siswi dikelas tersebut.
"Kak Roy," sapa Wanda sambil tersenyum manis, pasalnya Wanda juga sama seperti siswi lain yang juga mengidolakan Roy tapi laki laki itu hanya menanggapinya dengan senyum tipis.
"Loe ikut gue keruangan OSIS sekarang," ucap Roy datar, sambil menatap kearah lisa.
"Apa lagi sih, buruan gue mau balik," ujar lisa dengan malas.
Roy berjalan pergi menuju pintu keluar kelas, diikuti lisa di belakangnya.
Rasa penasaran menyeruak dari kedua sahabat lisa, mereka bingung pasalnya lisa telah menyelesaikan hukumannya hari ini. Lalu untuk apa lagi Roy memanggil lisa, itulah yang sedang difikirkan Wanda dan Sinta sekarang, karena mereka berada dikantin sejak tadi, jadi mereka tidak tahu menahu tentang pertengkaran lisa dan Clara saat digudang tadi.
*******
Tepatnya di ruang OSIS, sudah ada Clara, Rendy, Arya dan juga anggota OSIS lainnya disana, mereka semua tengah duduk menunggu kedatangan Roy dan lisa.
Lisa hanya diam tak tau apa yang akan dilakukan ketua OSIS itu kepadanya, dia memang mengakui dirinya bersalah, namun dia tidak sengaja melakukan itu.
Beberapa menit diam, akhirnya Roy mulai angkat bicara.
"Loe tau kan peraturan disekolah ini, bahwa tidak boleh ada yang melalukan tindak kekerasan," ucap Roy memulai pembicaraan dengan nada tegas.
"Yang loe lakuin itu sudah melanggar peraturan sekolah, loe ngertikan?" tanya Roy, namun gadis itu masih tetap saja diam.
"Karena loe yang salah, jadi gue ingin loe minta maaf sama Clara, dan berjanji tidak akan pernah mengulangi perbuatan loe hari ini," perintah Roy kepada lisa.
Lisa yang dari tadi hanya diam saja, sekarang gadis itu mulai ikut berbicara karena merasa dirinya dizholimi disini.
"Engga, gue gak mau. Mending gue diskors dari sekolah, dari pada harus minta maaf sama mak lampir kaya dia, lagi pula gue gak akan kaya gini kalau dia gak mulai duluan," jawab lisa sambil menunjuk Clara, lalu beralih menatap tajam kearah Roy.
Sejenak laki laki itu terdiam, orang-orang yang berada diruangan tersebut juga ikut diam menyaksikan kedua orang yang tengah berdebat itu.
Roy mengambil amplop dari laci mejanya, lalu dia menuliskan sesuatu diamplop tersebut.
Hening, sampai akhirnya Roy mulai angkat bicara lagi.
"Oke, karena loe yang minta, nih gue kasih surat panggilan untuk orang tua loe, sebelum loe bener-bener kena skors," tutur Roy yang mulai jengah menghadapi kelakuan lisa.
Lagi-lagi orang tua, hati lisa sedikit ngilu saat membahas kata orang tua, lisa jadi teringat kepada kedua orang tuanya yang selalu sibuk dengan bisnis dan melupakannya sesuatu yang sedang membutuhkan mereka, bagaimana bisa orang tuanya datang apa lagi untuk hal buruk seperti ini, untuk yang positif saja orang tuanya tidak bisa.
"Oke. buruan mana suratnya," ucap lisa sambil mengambil surat tersebut, dan bergegas pergi dari ruangan sambil membanting keras pintu ruang OSIS tersebut.
Roy hanya menarik nafas dalam, lisa sangat keras kepala fikirnya.
"Hey loe belum minta maaf sama gue," teriak Clara,tapi tak di indahkan lisa,gadis itu terus saja meninggalkan ruangan OSIS itu.
Pasalnya Clara sengaja membesar-besarkan masalahnya dengan berencana ingin mempermalukan lisa didepan anak OSIS, dengan meminta Roy agar gadis itu mau meminta maaf kepadanya.
Sesampainya lisa dirumah, lisa disambut oleh bi mi.
"Sore non, non udah pulang ya, ayo non ganti baju terus makan ya, bibi udah siapin makanan untuk non," kata bi mi dengan lembut.
"Iya bi, makasih ya. Oiya,bunda sama ayah udah berangkat ya bi,?"
"Sama-sama non. Iya non tuan dan nyonya sudah berangkat sekitar 3 jam yang lalu non,"
"Gitu ya, yaudah aku keatas dulu ya bi." pamit lisa, sambil berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Iya non, silahkan."
Didalam kamar, lisa duduk dibalkon kamarnya sambil termenung fikirannya menerwarang jauh, dalam fikiran gadis itu sekarang apa segitu gak berartinya hidup dia dimata orang tuanya sendiri, bahkan kedua orang tuanya pergi tanpa menunggunya pulang terlebih dahulu, tanpa diminta air mata lisa luruh begitu saja membasahi wajah cantiknya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!