Indonesia
NovelToon NovelToon

PEMURNIAN MUTLAK

BAB 1: Sampah Klan Lin

Di sudut halaman belakang kediaman klan yang sudah mulai reyot, seorang pemuda berusia enam belas tahun sedang berlutut di atas lumpur.

Namanya Lin Fan.

Baju linen tipisnya basah kuyup, menempel pada tubuh kurusnya yang penuh dengan memar biru dan ungu. Napasnya tersengal-sengal, setiap tarikan napas terasa seperti ada ribuan jarum kecil yang menusuk paru-parunya. Bukan karena sakit fisik semata, tapi karena penghinaan.

"Dasar sampah! Apakah kau pikir dengan berlutut di sini selama tiga hari, Meridianmu yang tersumbat itu akan terbuka sendiri?"

Suara dingin dan merendahkan itu datang dari seorang pemuda berbaju sutra merah muda, berdiri di bawah payung besar yang dipegang oleh dua pelayan. Wajahnya tampan, namun matanya menyiratkan kekejaman yang dingin. Itu adalah Lin Hu, sepupu Lin Fan, dan juga salah satu genius termuda di Clan Lin saat ini. Ia baru saja mencapai Tahap Qi Level 5 minggu lalu.

Lin Fan tidak menjawab. Ia hanya menunduk, kedua tinjunya mengepal erat hingga kuku-kukunya menembus telapak tangan, mengeluarkan darah yang segera hanyut terbawa air hujan.

"Ayahku berkata, Clan Lin tidak membutuhkan orang lemah," lanjut Lin Hu, melemparkan sebuah bungkusan kertas ke arah wajah Lin Fan. Bungkusan itu jatuh tepat di depan hidung Lin Fan, isinya tersebar: roti basi dan beberapa buah busuk. "Makan ini. Mungkin besok kau bisa mengumpulkan cukup tenaga untuk membersihkan kandang kuda. Itu satu-satunya tempat yang cocok untuk 'Sampah Klan' sepertimu."

Para pelayan di sekitar sana tertawa cekikikan. Beberapa bahkan meludah ke arah Lin Fan sebagai tanda jijik.

Di dunia kultivasi Benua Azure, kekuatan adalah segalanya. Mereka yang memiliki bakat alami untuk menyerap Qi Langit dan Bumi dihormati layaknya dewa. Sementara mereka yang terlahir dengan Meridian Tersumbat—saluran energi dalam tubuh yang tertutup rapat—dianggap lebih rendah dari hewan ternak. Mereka tidak bisa berkultivasi, tidak bisa memperkuat tubuh, dan akan mati tua seperti manusia biasa yang tak berdaya.

Lin Fan adalah salah satu dari mereka. Atau setidaknya, itulah yang dipercaya semua orang.

Setelah Lin Hu dan rombongannya pergi dengan tawa yang masih bergema, Lin Fan akhirnya bergerak. Dengan tangan gemetar, ia mengambil roti basi itu. Perutnya perih karena lapar, tetapi harga dirinya jauh lebih perih.

"Aku bukan sampah," batin Lin Fan, suaranya bergetar bukan karena dingin, tapi karena amarah yang tertahan. "Aku hanya belum menemukan jalanku."

Ia menyeret tubuhnya yang lelah menuju gubuk kecil di ujung halaman. Gubuk itu dulunya tempat penyimpanan alat berkebun, kini menjadi tempat tinggalnya setelah ibunya meninggal tiga tahun lalu dan ayahnya hilang misterius dalam misi pencarian bahan obat. Sejak itu, Lin Fan kehilangan perlindungan.

Di dalam gubuk yang pengap dan lembab itu, Lin Fan duduk bersila di atas tikar jerami yang sudah rapuh. Ia menutup matanya, mencoba melakukan apa yang telah ia lakukan setiap malam selama sepuluh tahun terakhir: Meditasi.

Meskipun meridiannya tersumbat, Lin Fan tetap berusaha merasakan aliran Qi di udara. Ia tahu itu sia-sia. Qi yang masuk ke tubuhnya akan bocor keluar sebelum sempat disimpan di Dantian (pusat energi di perut bawah). Namun, berhenti mencoba berarti menerima takdir sebagai sampah selamanya. Dan Lin Fan menolak itu.

Satu jam berlalu. Dua jam.

Tidak ada perubahan. Tubuhnya tetap lemah. Qi alam sekitarnya menari-nari di luar kulitnya, mengejek ketidakmampuannya untuk menjinakkannya.

"Hah..." Lin Fan membuka matanya, menghela napas panjang yang penuh keputusasaan. Air mata bercampur dengan air hujan di pipinya. "Apakah benar-benar tidak ada harapan? Apakah aku ditakdirkan untuk hidup sebagai budak di rumah keluargaku sendiri?"

Tiba-tiba, petir menyambar keras di luar, menerangi langit malam yang gelap gulita. Cahaya putih sesaat menerangi sudut gelap gubuknya, menyoroti sebuah benda kecil yang terjatuh dari saku baju robeknya saat ia dipukuli tadi siang.

Itu adalah sebuah manik giok hitam.

Benda itu tidak terlihat istimewa. Permukaannya kasar, berwarna hitam pekat seperti arang, dan ukurannya hanya sebesar kelingking. Lin Fan memungutnya pagi ini di reruntuhan perpustakaan lama Clan Lin yang terbakar setengah abad lalu. Ia tertarik karena manik itu terasa hangat aneh di tengah dinginnya pagi itu, jadi ia menyimpannya tanpa berpikir panjang.

Sekarang, di bawah sorotan cahaya redup lampu minyak, manik itu tampak berdenyut.

Dug.

Lin Fan mengedipkan mata. Ia merasa pendengarannya salah.

Dug. Dug.

Denyutan itu semakin jelas, seirama dengan detak jantungnya. Tanpa sadar, Lin Fan membawa manik itu lebih dekat ke dadanya. Saat kulit jarinya menyentuh permukaan giok yang kasar, sebuah sensasi dingin yang menusuk langsung mengalir masuk melalui pori-pori tangannya.

"Brrr!" Lin Fan menggigil. Dingin itu bukan dingin es biasa, melainkan dingin yang tajam, murni, dan menakutkan.

Tiba-tiba, manik giok itu pecah.

Tidak meledak dengan suara keras, melainkan hancur menjadi debu hitam halus yang langsung meresap ke dalam kulit telapak tangan Lin Fan.

"Apa-apaan ini?!" Lin Fan panik, mencoba menggosok tangannya, tetapi debu itu sudah lenyap.

Detik berikutnya, dunia di sekitarnya berubah.

Rasa sakit di sekujur tubuhnya menghilang digantikan oleh sensasi panas yang mengalir deras dari tangannya, naik melewati lengan, bahu, dan menuju dada. Panas itu berkumpul di Dantian-nya, tempat yang selama ini kosong dan dingin.

Ling!

Sebuah suara nyaring bergema di dalam kepalanya, seperti lonceng kristal yang jernih.

Di dalam kesadarannya, Lin Fan melihat sesuatu yang mustahil. Di tengah Dantian-nya yang gelap, sebuah cahaya putih kecil muncul. Cahaya itu berputar perlahan, menciptakan pusaran angin mini.

Dan kemudian, ia merasakan itu.

Untuk pertama kalinya dalam enam belas tahun hidupnya, Lin Fan merasakan aliran Qi Langit dan Bumi masuk ke dalam tubuhnya. Bukan sekadar menyentuh kulit, tapi masuk, mengalir melalui meridiannya yang tersumbat, dan membersihkannya.

Rasa sakit yang tajam terjadi saat Qi itu memaksa jalur-jalur energi yang tertutup itu terbuka satu per satu. Lin Fan ingin berteriak, tetapi ia menahan diri. Ia menyadari bahwa ini adalah kesempatan sekali seumur hidup. Jika ia berhenti sekarang, ia mungkin akan mati karena ledakan energi. Jika ia terus bertahan, ia mungkin bisa mengubah nasibnya.

"Gigit gigimu, Lin Fan! Jangan menyerah!" bisiknya pada diri sendiri, keringat dingin bercucuran di dahinya meskipun tubuhnya terasa panas membakar.

Satu jam berlalu. Jalur meridian pertama di lengan kirinya terbuka.

Dua jam berlalu. Jalur meridian di kakinya terbuka.

Fajar mulai menyingsing di luar gubuk. Hujan telah reda, meninggalkan udara pagi yang segar dan berembun.

Lin Fan membuka matanya. Matanya yang biasanya kusam dan lelah, kini bersinar dengan ketajaman yang asing. Ia mengangkat tangannya, mengepalkannya, dan merasakan kekuatan yang sebelumnya tidak pernah ia kenal.

Ia tidak tiba-tiba menjadi ahli bela diri. Tubuhnya masih kurus. Namun, ia bisa merasakan aliran energi di dalam dirinya. Sebuah aliran kecil, tipis, tapi nyata.

"Tahap Qi Level 1?" gumamnya dengan suara serak, tidak percaya.

Dia telah berhasil memasuki gerbang kultivasi. Dia bukan lagi orang biasa. Dia adalah Kultivator.

Tepat saat itu, pintu gubuknya didorong kasar hingga terbuka. Seorang pelayan tua berwajah masam berdiri di ambang pintu, memegang sebuah sapu.

"Hei, Sampah! Bangun! Matahari sudah tinggi! Kandang kuda belum dibersihkan, dan jika Tuan Muda Lin Hu melihat kotoran kuda masih ada di sana, dia akan membuatmu memakan sisa makanannya!"

Lin Fan menatap pelayan itu. Dulu, tatapan seperti ini akan membuatnya menunduk takut. Tapi hari ini, ada sesuatu yang berbeda di dasar mata Lin Fan. Sebuah ketenangan yang dingin, seperti permukaan danau yang dalam sebelum badai datang.

Ia bangkit berdiri. Kakinya masih goyah, tetapi posturnya tegak.

"Aku akan membersihkannya," kata Lin Fan tenang. Suaranya datar, tanpa getaran ketakutan.

Pelayan itu sedikit terkejut dengan perubahan sikap pemuda itu, namun segera cemberut. "Cepat! Jangan bermimpi siang bolong!"

Saat pelayan itu berbalik pergi, Lin Fan menatap telapak tangannya yang masih terasa hangat sisa penyerapan manik giok. Ia tersenyum tipis, senyuman yang tidak mencapai matanya.

Lin Hu... Clan Lin... Tunggu saja.

Permainan baru saja dimulai.

BAB 2: Membersihkan Kandang

Pagi itu di Kota Qingyun terasa lebih dingin dari biasanya, meskipun matahari sudah mulai naik. Embun pagi masih menempel pada dedaunan, menciptakan kilauan seperti berlian kecil yang memantulkan cahaya keemasan. Namun, bagi Lin Fan, keindahan alam ini hanyalah latar belakang bagi realitas pahit yang harus ia hadapi.

Ia berdiri di depan kandang kuda utama Clan Lin. Bau kotoran hewan, jerami busuk, dan keringat kuda bercampur menjadi aroma menyengat yang membuat kebanyakan orang ingin muntah. Bagi Lin Fan, ini adalah rumahnya selama tiga tahun terakhir.

"Dasar sialan," gumam Lin Fan pelan sambil menggulung lengan bajunya yang sudah compang-camping. Ia mengambil sekop kayu yang gagangnya sudah licin karena sering dipakai.

Tugasnya sederhana namun melelahkan secara fisik: membersihkan kotoran dua belas ekor kuda perang, mengganti jerami, dan memberi mereka makan. Biasanya, pekerjaan ini memakan waktu hingga siang hari karena Lin Fan tidak memiliki kekuatan fisik yang memadai. Tubuhnya yang kurus sering kali gemetar saat mengangkat ember air berat.

Namun hari ini berbeda.

Lin Fan menutup matanya sejenak, menarik napas dalam-dalam. Ia mencoba mengingat sensasi semalam. Sensasi aliran Qi yang hangat di Dantian-nya. Meskipun alirannya sangat tipis—hanya seperti benang sutra halus—ia bisa merasakannya berdenyut pelan.

“Jika aku bisa mengalirkan sedikit Qi itu ke otot-ototku...” batinnya.

Ia fokus. Dengan susah payah, ia membayangkan energi putih kecil itu mengalir dari perut bawahnya, turun melalui kakinya, dan memperkuat otot betisnya. Rasanya aneh, seperti ada arus listrik lemah yang menggelitik saraf-sarafnya.

Ketika ia membungkuk untuk mengambil sekop, ia merasakan perbedaan. Beban tubuh terasa lebih ringan. Otot-ototnya merespons dengan cepat, tanpa rasa nyeri yang biasa ia alami di punggung bawah.

"Ayo dicoba," bisiknya.

Lin Fan mulai bekerja. Gerakannya mungkin terlihat sama lambatnya bagi pengamat luar, tetapi bagi Lin Fan, setiap gerakan terasa lebih efisien. Ia tidak lagi membuang tenaga untuk gerakan yang tidak perlu. Saat ia mengangkat sekop penuh kotoran, ia menggunakan momentum pinggulnya, dibantu oleh dorongan halus dari Qi di kakinya.

Krak.

Sekop itu terangkat dengan mudah. Lin Fan terkejut. Ia hampir kehilangan keseimbangan karena terlalu kuat mendorong.

"Ternyata benar," senyum tipis muncul di bibirnya. "Qi bukan hanya untuk serangan sihir atau terbang. Qi adalah penguat tubuh paling dasar."

Selama dua jam berikutnya, Lin Fan bekerja dengan ritme yang stabil. Keringat mengucur deras dari dahinya, tetapi bukan keringat kelelahan yang menyakitkan, melainkan keringat pembersihan. Ia merasa tubuhnya menjadi lebih ringan setiap menitnya. Kotoran-kotoran yang menumpuk di pori-pori kulitnya perlahan keluar.

Saat ia sedang menyiram lantai kandang dengan air dari sumur, sebuah suara cempreng terdengar dari balik pagar.

"Wah, lihat itu. Si Sampah bahkan membersihkan kotoran pun dengan wajah serius sekali. Apakah kau berpikir jika kau membersihkan kandang dengan baik, Tuan Muda Hu akan memberimu tulang sisa?"

Lin Fan mengenali suara itu. Itu adalah Lin Xiao, seorang pemuda setingkat dengannya—atau lebih tepatnya, dulu setingkat. Lin Xiao juga memiliki bakat pas-pasan, berada di Tahap Qi Level 2, tetapi karena ia masih memiliki status "disiplin resmi" (bukan pelayan), ia merasa jauh lebih unggul dari Lin Fan.

Lin Fan tidak menoleh. Ia terus menuangkan air dari embernya. Srrrt... srrrt...

"Hei! Aku sedang bicara padamu!" Lin Xiao kesal karena diabaikan. Ia melompati pagar rendah kandang dan mendarat dengan gaya yang berusaha terlihat keren, meski agak goyah. "Kau berani mengacuhkanku, Lin Fan? Kau lupa posisimu?"

Lin Fan akhirnya menoleh. Matanya tenang, tidak ada ketakutan yang biasa dilihat Lin Xiao. Tatapan datar itu membuat Lin Xiao sedikit ciut nyalinya, meskipun ia tidak mengerti mengapa.

"Aku sedang bekerja, Lin Xiao," jawab Lin Fan singkat. "Jika kau punya waktu luang untuk mengganguku, sebaiknya kau pergi berlatih. Level 2-mu tidak akan naik jika kau sibuk mencari perhatian."

Wajah Lin Xiao memerah karena marah. "Berani-beraninya kau! Kau yang meridian-nya tersumbat, sampah tak berguna, berani menasihati aku? Aku akan mengajarimu sopan santun!"

Lin Xiao mengayunkan tinjunya ke arah wajah Lin Fan. Tinju itu lambat, tidak bertenaga, dan penuh celah. Bagi seseorang yang belum pernah bertarung, itu mungkin terlihat menakutkan. Tapi bagi Lin Fan, yang semalaman telah belajar merasakan aliran energi, gerakan itu terlihat seperti gerakan siput.

Insting Lin Fan berteriak. Hindari!

Tanpa berpikir panjang, Lin Fan menggeser kakinya ke samping. Gerakan itu kecil, hanya selangkah, tapi cukup. Tinju Lin Xiao menghantam udara kosong.

Karena momentum ayunannya yang terlalu kuat dan tidak mengenai sasaran, tubuh Lin Xiao terhuyung ke depan. Kakinya tersandung ember air yang baru saja diletakkan Lin Fan.

Gubrak!

Lin Xiao jatuh telungkup tepat ke dalam genangan air kotor dan kotoran kuda yang belum sepenuhnya bersih.

Hening.

Seluruh area kandang menjadi sunyi senyap. Para pelayan lain yang sedang bekerja di dekat sana menahan napas, mata mereka membelalak ketakutan. Mereka baru saja menyaksikan "Sampah Klan" menghindari serangan dan membuat seorang Disiplin Resmi jatuh ke dalam kotoran.

Lin Xiao bangkit perlahan. Wajahnya tertutup lumpur coklat dan potongan jerami. Baunya sangat buruk. Matanya menyala dengan kemarahan yang membabi buta.

"KAU...!" teriak Lin Xiao, suaranya melengking tinggi. "Kau sengaja! Kau menjegaliku! Penjaga! Panggil Penjaga!"

Dua penjaga berseragam hitam segera berlari mendekat. Mereka adalah anggota keamanan clan, setidaknya berada di Tahap Qi Level 3 atau 4. Mereka melihat Lin Xiao yang berlumuran kotoran, lalu menatap Lin Fan yang berdiri tegak dengan sekop di tangan.

"Apa yang terjadi di sini?" tanya salah satu penjaga, wajahnya keras.

Lin Xiao menunjuk Lin Fan dengan jari gemetar. "Dia! Dia menyerangku! Dia menggunakan teknik curang! Tangkap dia! Pukul dia sampai dia tidak bisa bangun!"

Penjaga itu menatap Lin Fan. "Lin Fan, apakah ini benar? Kau menyerang sesama anggota klan?"

Lin Fan meletakkan sekopnya perlahan. Ia tahu, jika ia melawan sekarang, ia akan kalah telak. Level 1-nya belum cukup kuat untuk melawan Level 3, apalagi dua orang. Selain itu, Manik Gioknya adalah rahasia terbesar. Jika ia menunjukkan kemampuan berlebihan, ia akan diselidiki, dan manik itu bisa disita.

Ia harus pintar. Ia harus bermain sebagai korban, bukan penindas.

Lin Fan menundukkan kepalanya, pura-pura gemetar. "Tidak, Penjaga. Aku tidak menyerang. Aku hanya... aku hanya menghindar. Tuan Muda Lin Xiao memukulku, dan aku takut, jadi aku mundur. Tidak sengaja beliau tersandung ember."

"Bohong!" seru Lin Xiao. "Dia bergerak cepat! Mustahil sampah sepertimu bisa bergerak secepat itu!"

Penjaga itu mengerutkan kening. Ia melihat posisi ember dan jejak kaki Lin Fan. Memang, tampak seperti Lin Xiao yang kehilangan keseimbangan sendiri. Namun, status Lin Xiao lebih tinggi. Dalam Clan Lin, kebenaran seringkali ditentukan oleh siapa yang lebih berkuasa, bukan fakta.

"Lin Fan," kata penjaga itu dengan nada dingin. "Meskipun kau mengklaim itu kecelakaan, menyebabkan Tuan Muda Lin Xiao jatuh adalah kesalahanmu. Sebagai hukuman, jatah makan malammu dibatalkan. Dan kau akan membersihkan seluruh halaman depan kediaman utama sebelum matahari terbenam. Jika ada satu daun pun yang tertinggal, kau akan dipukul cambuk."

Lin Fan mengepalkan tangan di balik punggungnya, kuku-kukunya kembali menusuk telapak tangan. Hukuman yang tidak adil. Seperti biasa.

"Aku menerima hukuman," kata Lin Fan pelan.

Lin Xiao tertawa puas, meskipun wajahnya masih kotor. "Bagus. Belajarlah tempatmu, sampah. Lain kali, jangan coba-coba melawan atasanmu."

Lin Xiao berjalan pergi dengan langkah terhuyung-huyung, diikuti oleh para penjaga yang mencoba menahan tawa melihat penampilan tuannya yang mengenaskan.

Setelah mereka pergi, Lin Fan menghela napas panjang. Ia menatap genangan air kotor tempat Lin Xiao jatuh tadi. Di permukaan air yang keruh, ia melihat pantulan wajahnya sendiri. Wajah yang lelah, kotor, tapi matanya... matanya dingin seperti es.

"Level 2..." batin Lin Fan. "Lin Xiao membutuhkan waktu lima tahun untuk mencapai Level 2. Aku baru saja memulai hari pertamaku di Level 1, dan aku sudah bisa menghindarinya."

Ia tersenyum miring.

Perbedaan antara mereka bukan lagi bakat. Sekarang, perbedaannya adalah metode. Lin Xiao mengandalkan obat-obatan mahal dan instruktur yang malas. Lin Fan memiliki Manik Giok yang bisa memurnikan Qi-nya menjadi esensi berkualitas tinggi.

Qi Lin Fan mungkin sedikit, tapi kualitasnya murni. Qi Lin Xiao banyak, tapi kotor dan tidak stabil.

Dalam jangka panjang, Lin Fan tahu siapa yang akan menang.

Ia mengambil sekopnya kembali. Halaman depan kediaman utama sangat luas. Membersihkannya sendirian sebelum matahari terbenam adalah tugas yang mustahil bagi manusia biasa. Tapi Lin Fan bukan lagi manusia biasa sepenuhnya.

Ia duduk bersila di sudut kandang, menutup mata, dan mulai menyerap Qi dari udara pagi yang masih tersisa. Ia harus mengumpulkan energi sebanyak-banyaknya. Malam ini, ia tidak akan tidur. Ia akan berlatih.

Dan besok, dia akan menemukan cara untuk mendapatkan pil pertama yang bisa mempercepat kultivasinya. Karena ia tahu satu hal: Di Clan Lin, jika kau tidak kuat, kau akan ditindas.

Lin Fan membuka matanya. Cahaya determinasi menyala di pupilnya.

"Siapkan dirimu, Lin Hu. Siapkan dirimu, Clan Lin. Sampah yang kalian buang hari ini, akan menjadi mimpi buruk kalian besok."

BAB 3: Rahasia di Balik Sampah

Matahari mulai condong ke barat, menandakan waktu sore telah tiba. Halaman depan kediaman utama Clan Lin sangatlah luas, membentang seluas lapangan sepak bola, dipenuhi oleh pohon-pohon hias berdaun lebat yang terus menggugurkan daunnya. Bagi orang biasa, membersihkan ribuan helai daun dan debu dalam waktu tiga jam adalah tugas yang mustahil.

Namun, Lin Fan tidak berniat melakukannya seperti orang biasa.

Ia berdiri di tengah halaman, memegang sapu ijuk yang kasar. Di sekelilingnya, beberapa pelayan lain sedang bekerja dengan santai, sesekali mencuri pandang ke arah Lin Fan dengan tatapan kasihan atau ejekan. Mereka yakin Lin Fan akan dihukum cambuk malam nanti karena tidak mungkin selesai tepat waktu.

Lin Fan menutup matanya sejenak. Ia menarik napas dalam, merasakan aliran Qi tipis di Dantian-nya. Energi itu masih sangat sedikit, hanya setetes embun di lautan luas. Namun, kualitasnya murni. Putih bersih, tanpa kotoran.

“Jika aku tidak bisa menggunakan kekuatan besar, aku harus menggunakan otakku,” batinnya.

Ia mengingat gerakan angin yang ia rasakan saat menghindari tinju Lin Xiao pagi tadi. Angin mengalir mengikuti jalur hambatan terkecil. Sapu juga sama. Alih-alih menyapu dengan tenaga otot lengan yang cepat lelah, Lin Fan mencoba mengalirkan sedikit Qi ke pergelangan tangannya dan ujung sapu.

Tujuannya bukan untuk memperkuat pukulan, tapi untuk menciptakan getaran halus.

Getar.

Ujung-ujung ijuk sapu bergetar sangat cepat, hampir tak terlihat mata. Saat Lin Fan mengayunkan sapunya, getaran itu membantu memisahkan debu dari permukaan batu paving dengan lebih efektif. Daun-daun kering pun seolah-olah "terangkat" sedikit oleh arus udara mini yang dihasilkan getaran tersebut, membuatnya lebih mudah dikumpulkan.

Gerakan Lin Fan berubah. Tidak lagi kaku dan menghentak-hentak, melainkan mengalir seperti air. Ayunan sapunya berirama dan minim pemborosan energi.

Satu jam berlalu.

Separuh halaman sudah bersih.

Dua jam berlalu.

Tiga perempat halaman sudah bersih.

Para pelayan yang tadi mengejek kini mulai berbisik-bisik dengan wajah bingung.

"Hei, lihat Lin Fan. Apakah dia menggunakan teknik sihir? Kenapa dia bergerak begitu cepat tapi tidak tampak kelelahan?"

"Mungkin dia cuma beruntung angin membantu menerbangkan daunnya," sahut yang lain, meski ragu-ragu.

Lin Fan tidak peduli dengan gosip mereka. Keringat memang mengucur, tetapi tubuhnya terasa ringan. Penggunaan Qi untuk hal-hal kecil seperti ini ternyata juga membantu melatih kontrolnya. Setiap kali Qi habis, ia merasa Dantian-nya sedikit lebih "lapar", memaksanya untuk menyerap Qi alam lebih cepat saat ia berhenti sejenak. Ini adalah siklus latihan yang sempurna.

Tepat saat matahari menyentuh ufuk barat, Lin Fan meletakkan sapunya di sudut halaman terakhir. Seluruh area depan kediaman utama bersih kinclong. Tidak ada satu pun daun atau debu yang tertinggal.

Ia menghela napas lega, lalu duduk bersandar pada pilar kayu besar, memejamkan mata untuk memulihkan stamina.

"Wah, wah. Luar biasa."

Suara tepuk tangan lambat terdengar. Lin Fan membuka matanya. Seorang pria paruh baya dengan jubah biru tua berdiri di sana. Wajahnya keriput, namun matanya tajam dan penuh kewibawaan. Itu adalah Paman Lin Guo, kepala pelayan kediaman utama, dan juga seorang kultivator Tahap Fondasi Awal yang sudah pensiun dari tugas tempur.

Lin Fan segera bangkit dan membungkuk hormat. "Paman Guo."

Lin Guo menatap halaman yang bersih, lalu menatap Lin Fan. "Penjaga melaporkan bahwa kau menyelesaikan tugas ini dalam waktu singkat. Dan kau melakukannya sendirian. Bagaimana caranya? Kau bahkan tidak memiliki kekuatan fisik yang memadai."

Lin Fan menunduk, menjaga ekspresinya tetap rendah hati. "Hamba hanya menemukan cara menyapu yang lebih efisien, Paman. Hamba belajar dari cara angin membersihkan debu di jalan."

Jawaban itu ambigu, namun masuk akal secara filosofis bagi seorang kultivator. Lin Guo mengangkat alis, terkesan. Ia tahu Lin Fan adalah "sampah" dengan meridian tersumbat. Fakta bahwa pemuda ini bisa berpikir keluar dari kotak dan menyelesaikan tugas mustahil menunjukkan kecerdasan yang langka.

"Cerdas," gumam Lin Guo. "Kekuatan fisik bisa dilatih, tapi otak yang cerdas adalah bakat alami. Karena kau berhasil, hukuman cambuk dibatalkan. Sebagai gantinya..."

Lin Guo merogoh saku jubahnya dan melemparkan sebuah benda kecil ke arah Lin Fan.

Lin Fan menangkapnya dengan refleks. Benda itu dingin dan keras. Sebuah pil berwarna hijau pucat, sebesar kacang polong.

"Pil Kondensasi Qi Grade Rendah," kata Lin Guo datar. "Ini adalah pil sisa dari batch produksi bulan lalu. Kualitasnya biasa saja, banyak kotorannya, tapi masih bisa membantu pemula mengumpulkan Qi. Anggap ini hadiah atas kerja kerasmu hari ini. Jangan bilang siapa-siapa."

Lin Fan terpaku. Pil Kondensasi Qi!

Bagi anggota klan biasa, pil ini dijual dengan harga 5 Batu Spirit Rendah. Bagi Lin Fan yang miskin, ini adalah harta karun. Namun, yang membuat jantungnya berdebar kencang bukan karena nilai moneternya, melainkan karena efek samping pil murah.

Pil grade rendah biasanya mengandung banyak residu racun atau ketidakmurnian. Jika diminum oleh kultivator biasa, mereka harus menghabiskan waktu berhari-hari untuk membuang kotoran tersebut dari tubuh. Tapi bagi Lin Fan...

Manik Giok Hitam sudah hancur dan menyatu dengannya. Kemampuan 'Pemurnian' itu masih ada di dalam darahnya.

Jika ia memakan pil ini, Manik Giok (atau sisa energinya) akan memurnikan residu pil tersebut, mengubah pil sampah menjadi esensi murni 100%. Efeknya akan berlipat ganda dibandingkan orang lain!

"Terima kasih, Paman Guo!" Lin Fan membungkuk dalam-dalam, kali ini dengan rasa terima kasih yang tulus. Ia menyembunyikan pil itu erat-erat di dalam saku bajunya.

"Pergilah. Jangan lupa makan malammu—meskipun jatahmu dibatalkan, dapur sisa masih punya sup encer untuk pelayan. Jangan sampai kau pingsan sebelum besok pagi," kata Lin Guo sebelum berbalik pergi.

Lin Fan menunggu hingga Paman Guo hilang dari pandangan. Ia tidak pergi ke dapur. Ia lari kembali ke gubuk kecilnya di sudut halaman belakang.

Sesampainya di dalam, ia mengunci pintu rapuh itu. Ia duduk bersila di atas tikar jerami, dan mengeluarkan pil hijau pucat itu. Baunya agak apek, tanda ketidakmurnian bahan herbalnya.

Bagi orang lain, ini adalah obat kelas dua.

Bagi Lin Fan, ini adalah kunci percepatan.

Tanpa ragu, ia menelan pil itu.

Rasanya pahit dan getir di lidah. Begitu pil itu masuk ke tenggorokan, Lin Fan segera memejamkan mata dan fokus pada Dantian-nya.

Seperti yang ia duga, begitu pil itu larut di perutnya, energi Qi yang kasar dan kotor menyebar ke seluruh tubuhnya. Rasa panas yang tidak nyaman muncul, disertai gatal-gatal di kulit—tanda residu racun yang ingin keluar.

Biasanya, kultivator harus meditasi selama berjam-jam untuk mendorong kotoran ini keluar melalui keringat atau napas.

Tapi detik berikutnya, sensasi dingin yang familiar muncul dari pusat dada Lin Fan. Sisa energi Manik Giok bereaksi.

Zzzzt...

Energi kotor dari pil itu ditarik menuju pusat Dantian, disaring, dan dibuang sebagai uap hitam tipis yang keluar dari pori-pori kulit Lin Fan. Proses yang biasanya memakan waktu enam jam, selesai hanya dalam sepuluh menit.

Yang tersisa di Dantian-nya adalah kolam Qi murni berwarna putih susu, yang volumenya bertambah drastis.

Retak.

Sebuah suara halus terdengar di dalam kesadarannya. Penghalang antara Level 1 dan Level 2 retak.

Lin Fan tersenyum lebar dalam kegelapan gubuknya. Dengan satu pil sampah, ia berhasil memadatkan Qi-nya setara dengan mengonsumsi tiga pil berkualitas tinggi.

"Ini gila," bisiknya, matanya berbinar di kegelapan. "Dengan kemampuan ini, aku tidak butuh sumber daya klan. Aku bisa mengambil sampah, limbah, atau pil kadaluarsa, dan mengubahnya menjadi kekuatan murni."

Ia melihat tangannya. Otot-ototnya terasa lebih padat. Pendengarannya lebih tajam. Ia bisa mendengar detak jantung tikus di dinding sebelah.

Lin Fan menyadari satu hal penting: Dia harus merahasiakan kemampuan ini. Jika Clan Lin tahu ia bisa memurnikan pil, mereka akan menjadikannya budak seumur hidup untuk memproduksi pil mahal dan membunuhnya untuk mengambil rahasia tubuhnya.

Dia harus tetap terlihat lemah di luar, sementara di dalam, dia tumbuh seperti monster.

Besok, ada pengumuman penting di aula Clan. Ujian Bulanan. Semua disiplin di bawah usia 18 tahun wajib ikut serta. Biasanya, Lin Fan dibebaskan karena statusnya sebagai pelayan. Tapi tahun ini, rumor beredar bahwa Kepala Klan ingin mengevaluasi ulang semua anggota darah, termasuk yang dianggap gagal.

Lin Fan tahu ini jebakannya. Lin Hu pasti akan mencari alasan untuk mempermalukannya di depan umum.

"Tidak apa-apa," kata Lin Fan pada kegelapan. "Biarkan mereka meremehkanku. Kejutan terbesar dalam hidup mereka baru saja dimulai."

Ia berbaring, membiarkan tubuh barunya yang lebih kuat beristirahat. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Lin Fan tidur dengan nyenyak, tanpa mimpi buruk.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!