Indonesia
NovelToon NovelToon

Sistem: Suplai Tak Terbatas

Bab 1 - Ditinggalkan Mati di Reruntuhan

"Bongkar kantong depan jaketnya."

Suara parau itu memecah sunyi jalan raya yang hancur berantakan. Tidak ada nada penyesalan di sana. Sepenuhnya datar dan tanpa beban.

Tangan bersarung taktis merogoh kasar saku Wan Chen dan merampas kotak penyaring air hasil jarahan hari ini. Tarikan pada jaket pelindungnya membuat tubuhnya tersentak paksa. Gerakan itu kembali memicu darah hangat menyembur dari sisi kiri pinggangnya.

Ia membuka kelopak matanya yang mulai terasa seberat besi. Memandang ujung sepatu bot lars hitam yang berdiri persis di depan tulang hidungnya.

Pria berbadan tegap dengan balutan zirah ringan jongkok di depannya. Ketua kelompok pemburu sementara itu menatap wajah Wan Chen. Di tangannya menggenggam dua buah inti kristal monster yang barusan dicungkil paksa dari tas punggung Wan Chen.

"Bagus," puji si ketua itu pada anak buahnya yang selesai menyapu bersih suplai bertahan hidup. Ia lalu kembali menatap mata Wan Chen. "Kau paham posisimu sekarang kan, Chen?"

Wan Chen mencoba mengambil napas. Namun yang masuk hanya serpihan abu pekat dari reruntuhan sektor luar. Tidak ada kata yang bisa diucapkan. Tenggorokannya terasa diisi oleh pasir basah.

Ketua pemburu itu menepuk pinggiran helm pelindung Wan Chen pelan menggunakan laras senapannya.

"Dunia sudah sinting," keluh pria itu datar, hampir seperti seorang kawan yang sedang bercerita santai. "Luka robekmu terlalu dalam, kawan. Kalau kami pakai serum penyembuh buat nutup ususmu, besok kelompok kita yang bakal kelaparan."

Anggota pemburu lain meludah ke sisi aspal berlubang, tepat satu jengkal dari telinga Wan Chen.

"Kita tinggalin saja dia. Aroma darah segar cepat atau lambat bakal pancing gerombolan pemakan bangkai. Kita kehabisan waktu, Ketua."

Pria tegap itu berdiri meluruskan pinggangnya. Menggendong ransel yang kini ukurannya membengkak karena gabungan hasil jarahan mereka semua.

"Maaf," tutup sang ketua ringkas. Bukan sebuah permintaan maaf penuh empati. Cuma formalitas basa-basi murah sesama manusia di ujung dunia.

Tiga pria berbalut debu itu berbalik lalu menghilang ke balik kabut polusi kuning. Sosok mereka perlahan larut di antara puing beton tua, meninggalkan Wan Chen seorang diri tanpa air dan obat.

Aspal hancur di bawah tubuh Wan Chen terasa luar biasa dingin.

Ia memuntahkan cairan amis kemerahan dari sela bibirnya. Gemetar kecil mulai menjalar di jari-jarinya. Mati rasa merambat cepat dari ujung kaki merambat naik menuju tulang punggung.

Pria ini tidak berteriak histeris memanggil mereka kembali. Mengais-ngais tanah berlumpur memohon diselamatkan cuma membuang oksigen percuma. Tenaganya terlalu sedikit sekadar untuk marah pada keadaan yang menimpanya.

Lagi pula, ia bukan anak kemarin sore yang baru turun ke padang gurun rongsokan ini.

'Lagi-lagi,' rutuk Wan Chen dalam hati. Kepalanya menyandar lemah pada sisa bumper mobil rongsok.

Tusukan dari punggung bukan cerita baru baginya. Ditinggal mati demi keuntungan logistik sudah menjadi prosedur standar. Nyeri di perutnya kalah telak oleh rasa muak yang mengendap di benaknya.

Pola hidupnya bagai lingkaran setan. Dikhianati atasan saat bekerja di sektor dalam, dijual kolega demi hutang, dan kini dijadikan tumbal buang waktu oleh kelompok sementara. Hidup sepertinya memang punya obsesi pribadi untuk memastikan ia selalu menginjak lubang kotoran.

'Gila. Kalau aku di posisi mereka, aku juga pasti memungut tas itu,' pikirnya tenang. Akal sehatnya berjalan kejam membedah situasi. 'Benda mati jauh lebih berguna daripada orang mati.'

Tidak ada kekecewaan puitis pada sifat umat manusia. Idealisme jadi pelindung dunia dari kehancuran cuma omong kosong pemerintah sentral untuk mencari tentara budak. Pahlawan itu spesies punah.

Bertahan hidup satu hari ekstra sudah terasa seperti memenangkan undian lotre. Tapi hari ini dewi Fortuna sepertinya enggan memanggil nomor seri miliknya.

Harapan hanyalah jalan tol menuju rasa sakit yang berlipat ganda. Menggantungkan nyawa pada belas kasihan komplotan berandalan adalah lelucon paling tolol sedunia. Ia tahu persis risikonya saat mengiyakan kontrak bodoh itu.

Ia menatap kelam ke atas. Langit ungu berawan limbah menjadi layar tancap terakhir sebelum nyawanya redup terbawa angin. Tubuhnya dibiarkan kaku. Pasrah menunggu waktu tutup buku secara resmi.

Angin yang bertiup dari utara membawa sisa-sisa badai pasir kering.

Rambut Wan Chen bergesekan pelan dengan aspal yang retak. Tiupan udara menyambar cairan kental yang masih merembes di pinggangnya, mengikat bau anyir dan mengaraknya pergi ke setiap penjuru reruntuhan.

Suara kerikil jatuh tiba-tiba terdengar.

Asalnya dari arah gundukan puing jembatan layang sekitar lima belas meter di depannya. Tidak ada derap langkah kaki sepatu bot. Suaranya murni gesekan kuku keras menggores lempengan seng bekas.

Langkah berat berdentum memukul aspal.

Satu wujud merangkak pelan keluar dari balik bayangan beton lapuk. Seekor anjing mutasi, meski memanggilnya anjing terlalu sopan. Makhluk gempal seukuran anak sapi itu nyaris tidak memiliki sisa kulit berbulu.

Serat ototnya melepuh kehitaman memamerkan tulang rusuknya yang menonjol keluar. Bagian wajahnya terbelah simetris hingga rahang, mengekspos deretan gigi tajam basah yang meneteskan nanah bercampur ludah pekat.

Makhluk itu berdiri diam. Hidung berongganya mengendus udara liar-liar.

Bola matanya memutih rata akibat katarak radiasi, namun moncongnya terkunci tepat pada arah hembusan angin pembawa bau karat. Ia tahu makan malam sedang terhidang tanpa perlawanan.

Geraman kasar keluar dari pita suaranya yang rusak. Bunyi serak menyerupai gergaji mesin macet menggema di sekitar telinga Wan Chen.

Di tempatnya berbaring, Wan Chen mengerlingkan sisa tenaga pandangannya ke depan. Matanya separuh terpejam, tapi cukup untuk menonton siapa algojonya malam ini.

Bahkan napasnya tetap teratur lambat. Tak ada lonjakan kepanikan. Tak ada air mata di ujung kelopaknya. Emosinya benar-benar sudah hangus. Mati digigit monster liar di ujung dunia adalah kematian klise murahan, dan ia siap membayarnya lunas.

Hewan menjijikkan itu merendahkan bahu busuknya.

Kaki belakangnya yang tebal ditekuk kuat, mencengkeram aspal hingga meninggalkan goresan serpihan debu. Otot-otot lehernya menegang layaknya pegas baja sebelum dilepas maju.

Wan Chen menonton proses itu secara detail. Otaknya langsung mengalkulasi lintasan gigitan.

'Leher. Langsung incar saja tenggorokanku biar cepat selesai,' pintanya tanpa sadar di ujung kesadaran. Digigit di leher memakan waktu hitungan detik sebelum otak kehabisan darah. Cepat dan brutal.

Denting debu menyapu. Mahluk lapar itu menerjang ke depan dengan satu tolakan bertenaga kuda.

Bayangan tubuh besarnya langsung menutupi seluruh tubuh Wan Chen. Mulut penuh taring itu menganga maksimal, menukik turun dengan akurasi presisi membidik pangkal leher sang mangsa.

Tinggal jarak satu telapak tangan tersisa antara taring busuk itu dengan arteri nadi Wan Chen. Udara tersapu kencang. Ia menutup matanya sesaat.

Tapi rasa sakit yang dijanjikan tak kunjung robek.

Keheningan menyergap. Suara deru angin seketika padam ditelan ruang kosong. Bunyi aspal retak menghilang. Dunia terpotong rapi.

Wan Chen membuka kelopak matanya pelan. Menganga kecil menyaksikan pemandangan tak wajar di depan hidungnya.

Taring tajam meneteskan liur kental itu membeku di udara. Menempel kaku tepat satu sentimeter dari batang lehernya. Otot rahang hewan itu tegang tak bergerak, seolah gravitasi telah disuntik mati. Serpihan kerikil dan debu sisa lompatan bergelantungan tak masuk akal di atas aspal.

Paku tak terlihat tiba-tiba menembus pangkal otaknya.

Hantaman gelombang kejut menyentak langsung dari dalam tempurung kepala Wan Chen. Tidak lewat gendang telinga. Langsung merobek ruang hampa pikirannya.

[Prosedur Kegagalan Kesintasan terdeteksi.]

Suara itu membius, dingin, sepenuhnya tanpa belas kasihan sintetik. Tidak ada intonasi ramah ala program panduan standar. Hanya pernyataan telanjang yang mendesak.

Cahaya ungu neon retak dari batas kornea matanya. Membelah visinya yang mengabur oleh pendarahan parah.

[Penolakan Nasib Kematian mencapai 100%. Kompatibilitas Sistem terbuka.]

Rentetan piksel kotak biru meletup berhamburan. Memblokir moncong monster di atas kepalanya dengan antarmuka digital yang berpendar tajam memaksa atensinya.

Bab 2 - Kebangkitan di Ambang Maut

Taring membusuk itu terpaku utuh di udara. Setetes liur kental menggantung mati, menolak jatuh menimpa jaket pelindung Wan Chen yang terburai.

Suara geraman buas yang sedetik lalu memekakkan telinga kini mereda total. Udara mendadak kehilangan fungsinya sebagai penghantar suara. Rentetan desibel mematikan itu berubah jadi dengung rendah. Bunyinya mirip pita kaset rusak yang tersangkut paksa di dalam pemutar tua.

Waktu kehilangan otoritasnya di sudut jalan hancur ini.

[Sistem: Suplai Tak Terbatas. Inisiasi selesai.]

Pemberitahuan itu tidak turun perlahan dari langit. Suara itu menggema presisi tepat di balik tulang tengkorak Wan Chen. Kosong melompong tanpa emosi. Tidak ada sapaan hangat, apalagi nada peduli standar. Cuma konfirmasi mekanis yang dingin mendesak.

Kelopak mata pria itu berkedip. Sangat pelan, seolah cairan pelumas di korneanya telah mengering dan membeku. Paru-parunya secara sepihak menolak bekerja menyedot debu aspal di sekitarnya.

Menyusup paksa merobek pandangan terbatasnya, selembar panel cahaya biru pucat meletup. Layar holografis itu mengaburkan wajah mengerikan anjing mutasi yang moncongnya masih terbuka lebar mengincar pangkal leher.

Wan Chen sama sekali tidak meronta panik. Ia hanya menatap pasif rentetan karakter asing yang mulai berkedip di layar retina matanya.

Antarmuka sistem itu luar biasa kaku dan minimalis. Tidak ada bingkai estetik berlebihan atau simbol dewa pelindung yang megah. Murni untaian teks monokrom melayang mengangkangi hukum gravitasi.

Otaknya dipaksa membaca aliran data medis yang turun sederas air bah kotor.

[Status Inang: Kritis.]

[Pendarahan Arteri: Berlangsung progresif.]

[Kelelahan Ekstrem: Tenggat kematian diproyeksikan dalam 42 detik.]

[Menopang kehidupan Inang...]

'Empat puluh dua detik,' batin Wan Chen. Sudut bibirnya yang pecah-pecah berkedut membentuk lengkungan miring sebentar. 'Program ini kelewat optimis menilai sisa umurku.'

Menggeser kasar panel notifikasi sekarat itu dari pandangan utama, sebuah kotak baru mendesak maju. Dua baris kata bercahaya tebal memonopoli sisa area penglihatannya.

[Duplikasi. Penyimpanan Dimensional.]

Sensasi sengatan listrik berdosis tinggi mendadak menghantam pangkal otaknya tanpa permisi. Ratusan baris informasi diunggah paksa menembus jaringan saraf korteksnya.

Rasa mual seketika bergolak, bercampur baur dengan bau karat darah meremas isi perutnya sekaligus. Pusing pening yang merambat naik mengalahkan rasa kebas dari ususnya yang berhamburan di balik pakaian taktis.

Menganga kecil, ia menumpahkan segumpal darah hitam kental dari pangkal kerongkongannya. Cairan itu melayang. Tertahan kaku dan mengambang beberapa sentimeter di atas pelat dadanya yang penyok.

Dunia di luar sistem kotak biru ini benar-benar sedang diputus sementara.

Pemahaman tentang dua fungsi absolut itu langsung mengakar permanen. Wan Chen mencernanya dalam sekejap tanpa perlu membalik halaman buku panduan tebal. Fungsi pertama bisa menggandakan materi fisik yang disentuh. Fungsi kedua menyimpan benda hidup atau mati ke dalam saku ruang hampa tanpa batas.

Cara kerja, batasan toleransi, dan mekanisme operasinya tercetak lugas layaknya memori masa kecil.

Bagi warga sipil biasa, merasakan sistem ajaib turun tangan di detik terakhir napas pasti dianggap anugerah langit. Waktunya memuji dewi nasib atau menangis tersedu-sedu meratapi keagungan takdir.

Namun Wan Chen dipahat dari cetakan yang berbeda.

Logika merampas alih kendali sistem saraf pusat secara total. Otaknya yang ditempa puluhan tahun oleh kebrutalan dan pengkhianatan jalanan mulai membedah situasi seolah sedang duduk di bangku kasir. Ia mengabaikan decak takjub yang hanya membuang waktu.

Ia langsung mencoret rasa syukur. Terima kasih pada entitas gaib tidak bisa ditukar dengan sebotol cairan disinfektan.

'Berapa tetes darahku yang tersisa? Cuma hitungan satu fungsi yang bisa mencekik leher anjing gila ini sekarang,' hitungnya teliti di dalam hati. Pertimbangan ini murni soal efisiensi untung rugi nyawa.

Perhatiannya menukik pada panel Duplikasi. Deretan syarat pemicu utamanya terpampang lugas, tanpa perlu dibaca dua kali. Aktivasi butuh bahan bakar berupa cadangan energi inang. Sistem juga mewajibkan ada subjek material yang utuh untuk disalin massal.

'Ditolak,' rutuk Wan Chen cepat, membuang opsi itu ke tempat sampah di kepalanya.

Menahan kesadaran saja ia harus meminjam oksigen. Memaksakan sisa denyut jantung untuk menggandakan kerikil aspal di dekat kakinya sama saja meneken surat bunuh diri. Lagipula, memakai energi itu untuk menduplikasi anjing rongsokan kelaparan yang menindih wajahnya hanya akan mendatangkan dua tukang jagal. Keputusan dungu.

Fokus matanya terkalibrasi penuh pada opsi sebelahnya. Penyimpanan Dimensional. Gudang ruang hampa kasat mata yang mengeksploitasi anomali fisika massa.

Membongkar arsip penggunaan di memori barunya, ia mendapati syarat fitur ini terlampau mentah. Sistem hanya mewajibkan titik kontak. Selama kesadarannya memfokuskan perintah, benda apa pun yang menyentuh kulitnya akan diisap ke dimensi lain tanpa perlu mengukur volume maupun bobotnya. Ruang itu tunduk mutlak pada komando inangnya.

Gagasan sinting pelan-pelan merangkai pondasi kerangka di otaknya yang dehidrasi. Saku dimensi ini bukan sekadar karung rongsok bervolume besar buat membuang limbah. Fitur penarik ini bisa beralih fungsi menjadi proyektor peluru jika manipulasi objek yang disentuh dimainkan tepat sasaran.

Menarik benda masuk. Mengeluarkan benda tepat di titik krisis.

Bola mata Wan Chen bergulir memutar ke sudut kanan bawah pandangannya. Otot-otot pangkal lehernya ditahan kuat agar posisinya tak goyah sedikitpun.

Objek itu terbaring sepuluh sentimeter dari pergelangan tangannya yang mulai membiru. Sebilah pisau tempur usang dengan baja berkarat yang telah separuh patah. Rongsokan tajam itu dibuang mantan komandan regunya beberapa jam lalu karena dianggap hanya menambah beban sebelum mereka melenggang kabur.

'Benda mati selalu lebih patuh diajak kerja sama,' desis pria itu datar di ruang pikirannya. Penilaian yang sarat akan pengalaman dibuang berulang kali.

Menguras sisa tenaga terakhir, saraf motoriknya dipaksa merespons satu instruksi. Ujung telunjuk dan jari tengahnya merangkak milimeter demi milimeter di atas aspal sedingin es. Beberapa detik kemudian, ujung jarinya menyentuh gagang kasar pisau di sampingnya.

Jari-jarinya mengait benda itu erat.

Mendadak, bunyi kesunyian meledak di sekitarnya.

Hampa suara buatan sistem itu lenyap ditarik mundur. Udara bergerak menampar wajahnya. Hawa busuk perpaduan nanah infeksi dan liur mendidih hewan mutan itu langsung menyerbu rongga hidung Wan Chen dengan beringas. Aturan waktu kembali memberlakukan dominasinya dengan brutal.

Geraman melengking mirip mesin pemotong logam rusak kembali menyayat telinga. Anjing radiasi itu meluncur meneruskan sambaran yang tertunda. Mulut berbusanya menukik ke arteri leher mangsanya dengan kekuatan yang cukup untuk merobek daging dan tulang sekaligus.

Jarak lintasan kematian yang tersisa hanya seukuran buku jari.

Pria yang dihimpit takdir itu tidak bereaksi berlebihan. Tidak ada percobaan berguling mengelak yang sia-sia. Ia tidak repot-repot memejamkan mata membuang pandang dari mautnya. Garis wajah Wan Chen setenang bongkahan beton mati di sekitarnya.

Telapak tangan kanannya mengunci cengkeraman penuh pada gagang patah itu. Sisa kulit sintetis membungkus pinggiran logam tajam yang bergerigi.

Ia mendongak tajam, menatap lurus menembus bola mata katarak makhluk di atas hidungnya.

'Gudang terbuka,' titahnya tanpa suara, memberikan komando murni ke sistem yang bersarang di ubun-ubunnya.

Fungsi Penyimpanan Dimensional merespons serentak.

Ruang hampa di sekitar dada Wan Chen bergetar hebat. Udara seolah patah. Pendar cahaya biru melengkungkan dimensi di sekelilingnya, memelintir segala yang berada sejengkal dari kulitnya. Ruang itu berputar kacau tepat saat gigi monster menerobos radius hisapnya.

Bab 3 - Uji Coba Penyimpanan Dimensional

Udara di depan wajahnya terpelintir kacau. Cahaya biru pucat merobek paksa hukum fisika di sudut jalan ini, tepat saat barisan gigi membusuk itu meluncur turun mengincar batang leher.

Wan Chen tidak membuang sisa napasnya untuk berteriak.

Ia menempelkan sebelah tangannya pada bongkahan puing beton yang sejak tadi menopang punggungnya. Benda mati itu terasa kasar. Sangat dingin di balik sarung tangannya yang berlumuran darah.

'Tarik,' perintahnya datar di dalam kepala.

Tidak ada proses yang rumit. Tidak ada kilatan cahaya dramatis layaknya pahlawan turun dari langit. Puing seberat puluhan kilogram itu lenyap begitu saja dari eksistensi dunia nyata. Tertelan utuh ke dalam kantong dimensi tanpa dasar di balik antarmuka sistem.

Hilangnya penopang itu menciptakan ruang kosong seketika. Gravitasi bumi mengambil alih otoritasnya dengan brutal.

Tubuh Wan Chen merosot jatuh ke belakang. Posisinya ambruk terjerembap membentur aspal yang hancur.

Tepat di atasnya, rahang anjing mutasi itu menutup dengan kekuatan penuh. Suara giginya yang beradu berderak nyaring. Memecah keheningan palsu sesaat.

Gigitan itu murni merobek udara kosong.

Makhluk buas itu kehilangan titik keseimbangan mutlaknya. Momentum serangannya sendiri menyeret tubuh gempalnya terhuyung ke depan. Kaki-kaki mutannya menggaruk aspal kosong, panik mencari pijakan pada target yang tiba-tiba anjlok ke bawah.

Ia tersungkur melewati tubuh Wan Chen. Anjing itu menggeram kebingungan. Rahangnya dipenuhi busa ludah yang meleset dari sasaran. Otak hewannya yang cacat tidak mampu memproses anomali hilangnya materi secara instan.

Di bawah sana, mata Wan Chen masih setengah mati menatap langit-langit mendung. Tidak ada euforia selamat dari maut. Wajahnya sedatar aspal di bawahnya.

Otaknya yang dididik oleh kebrutalan jalanan hanya mencatat satu hal.

Sistem ini merespons murni berdasar komando saraf. Tidak ada birokrasi pergerakan.

Sambil menahan rasa mual akibat pergeseran ruang yang meremas isi perutnya, tangannya meraba permukaan jalan. Jari-jarinya menyentuh gagang pisau tempur patah yang tergeletak pasrah di dekat pinggangnya. Benda rongsokan peninggalan mantan komandannya.

'Gudang.'

Logam berkarat itu hilang. Menyublim tanpa sisa meninggalkan rasa dingin di telapak tangannya.

Sebuah ikon kecil bergambar pisau usang mendadak muncul. Berkedip redup di sudut pandangan retinanya. Melayang tenang di dalam antarmuka monokrom yang terus melaporkan status pendarahannya.

'Kecepatan pikiran,' gumam Wan Chen di kepalanya. Sisa napasnya berembus pelan dari celah gigi yang retak. 'Tidak ada jeda sama sekali. Barang masuk begitu diriku memberi lampu hijau.'

Ia tidak berniat bangun. Tulang rusuknya mungkin sudah ada yang patah jadi serpihan serbuk. Mencoba berdiri sekarang hanya akan mempercepat pendarahan arteri di perutnya. Tubuhnya sudah mencapai batas toleransi rasa sakit yang masuk akal.

Di depannya, monster radiasi itu berhasil mengerem laju jatuhnya. Kuku-kuku kotornya mencakar aspal hingga berderit panjang.

Kepala cacat itu menoleh patah-patah ke belakang. Moncongnya berkerut liar. Air liur kental menetes jatuh, membakar kerikil jalanan dengan bunyi mendesis yang menjijikkan.

Anjing itu sadar mangsanya belum mati. Hanya berpindah posisi sedikit lebih rendah.

Kemarahan murni terpancar dari matanya yang tertutup selaput katarak kuning. Makhluk itu memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat. Mengunci pandangan kembali pada sosok manusia yang terkapar tak berdaya.

"Silakan," bisik Wan Chen serak. Suaranya nyaris terdengar seperti gesekan kertas pasir. "Coba lagi."

Ia tahu pertarungan fisik adalah lelucon konyol. Menendang atau memukul tubuh mutan itu sama saja dengan meninju pelat baja berduri dengan tangan telanjang. Ototnya sudah menolak bekerja sama.

Maka, Wan Chen menawarkan sebuah kompromi.

Ia menggeser perlahan lengan kirinya menjauh dari batang tubuh. Dibiarkan terentang pasrah di atas aspal kotor. Sama sekali tidak ditarik untuk melindungi area vital. Murni seonggok daging segar yang disajikan di atas piring terbuka.

Itu umpan. Umpan yang sangat murahan.

Tapi otak binatang buas yang didorong oleh rasa lapar tidak didesain untuk mencurigai trik murahan. Insting predator hanya melihat daging yang paling mudah dikoyak lebih dulu.

Raungan kasar kembali meledak merobek udara. Anjing itu menerjang balik. Kali ini tanpa keraguan sedikitpun.

Otot-otot kaki belakangnya menolak bumi dengan daya ledak tinggi. Tubuh anjing itu melontar bagai peluru kendali daging busuk. Mulutnya menganga luar biasa lebar. Jauh melampaui kapasitas engsel rahang normal. Target utamanya kini beralih pasti pada lengan kiri yang tidak terlindungi.

Jarak mereka terkikis dalam hitungan detik yang terasa melambat.

Tiga meter. Angin berembus kasar membawa debu.

Dua meter. Bau nanah infeksi kembali menyengat rongga hidungnya.

Satu meter.

Hawa panas dari mulut monster itu terasa membakar pori-pori kulit lengannya yang terbuka. Taring-taring kuning itu nyaris menancap di permukaan jaketnya.

Wan Chen sama sekali tidak berkedip. Garis wajahnya kaku bagai manekin kayu. Ia tidak menarik tangannya yang dijadikan umpan.

Ia hanya mengangkat pelan tangan kanannya yang sejak tadi kosong melompong.

Gerakannya tidak provokatif. Tidak ada ayunan ancaman. Lengan kanannya sekadar naik ke udara secara pasif, mengarah lurus menyongsong rahang bawah monster yang terbuka sangat lebar itu. Posisinya begitu pasrah, seolah ia ingin mengelus langit-langit mulut binatang itu dengan telapak tangan kosong.

'Keluarkan.'

Perintah internal itu dieksekusi oleh sistem tanpa ruang negosiasi.

Tepat satu jengkal di depan wajah Wan Chen, ruang hampa kembali meludah. Antarmuka di layar matanya berkedip satu kali. Pendar biru tipis menyayat udara.

Pisau tempur patah itu termaterialisasi seketika di realita. Tidak butuh waktu untuk ditarik dari sarung. Tidak butuh waktu untuk diayunkan dari bawah. Logam karatan itu muncul dalam posisi sudah tergenggam erat di tangan kanan Wan Chen, persis di jalur lintasan mulut anjing yang sedang melesat maju.

Bilah kasarnya mengarah vertikal. Tegak lurus menantang maut.

Semuanya terjadi sebelum kelopak mata sempat menutup rapat.

Wan Chen sama sekali tidak menusuk. Ia tidak membuang tenaga dorong sebiji pun. Lengannya hanya berfungsi sebagai pilar statis yang menahan pangkal gagang pisau.

Kecepatan terjangan monster itu sendiri yang merangkap sebagai algojonya. Anjing mutasi itu secara sukarela menelan bilah baja berkarat tersebut dengan kekuatan penuh dari momentum lompatannya sendiri.

Ujung pisau patah itu menembus keras langit-langit mulut makhluk itu. Terus merobek paksa naik menembus jaringan lunak, menghancurkan tulang rawan di rongga hidung bagian dalam, dan berhenti telak saat menabrak keras tempurung otak atasnya.

Darah hitam menyembur deras dari hidung dan celah mulut yang terkoyak. Menyiram pelat dada Wan Chen bagai guyuran oli kotor yang masih hangat.

Suara tulang kepala retak beradu dengan daging yang robek menggema bersamaan. Laju brutal tubuh monster itu berhenti seketika. Tersangkut mati pada sebilah rongsokan besi di tangan kanannya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!