Indonesia
NovelToon NovelToon

PECUNIA ABSOLUTE: The True Heiress Buys Her Destiny

BAB 1: PENJEMPUTAN DI ATAS KERETA BESI

Bab 1: Penjemputan Di Atas Kereta Besi

Dingin. Rasa dingin yang pekat dan menggigit adalah sensasi terakhir yang terekam oleh indra peraba Valerie Vespera sebelum kesadarannya direnggut paksa oleh kegelapan abadi.

Dia ingat betul bagaimana detik-detik terakhir di kehidupan pertamanya berjalan seperti sebuah film terkutuk yang diputar dengan kecepatan lambat. Tubuhnya terhempas hebat di dalam kabin mobil yang ringsek, sebelum akhirnya dia merangkak keluar dengan sisa tenaga yang ada, menyeret kakinya di atas aspal jalanan yang basah dan kasar. Malam itu hujan badai mengguyur ibu kota dengan brutal. Darah segar mengalir dari pelipisnya, menyatu dengan air hujan, menciptakan genangan merah yang mengerikan di bawah tubuhnya yang gemetar. Rem mobilnya telah disabotase.

Namun, yang jauh lebih mematikan daripada hantaman besi mobil malam itu adalah kenyataan tentang siapa yang berdiri di hadapannya saat dia sekarat.

Di bawah temaram lampu jalanan yang remang-remang, dua orang melangkah mendekat di bawah lindungan sebuah payung hitam besar. Adrian Maximiliano dan Alethea Belmont.

Adrian, pria yang berstatus sebagai tunangannya—pria yang selalu Valerie prioritaskan di atas segalanya—menatap tubuh bersimbah darah Valerie dengan pandangan yang teramat dingin. Tidak ada kepanikan, tidak ada rasa bersalah, hanya ada kilat kepuasan dan rasa muak yang mendalam di sepasang matanya. Sementara di sampingnya, Alethea—si gadis palsu yang merebut posisi Valerie sebagai putri kesayangan di keluarga Elrod—menangis histeris dengan tangan menutupi mulut.

Namun, Valerie tidak buta. Di balik air mata buaya dan akting rapuhnya yang menjijikkan itu, Valerie melihat seulas senyuman kemenangan yang luar biasa licik terukir di bibir Alethea.

"Maafkan kami, Valerie. Tapi andai saja kamu tidak kembali ke keluarga Elrod dan tidak mencoba merebut apa yang sudah menjadi milik Alethea, kamu tidak akan berakhir mengenaskan seperti ini," bisik Adrian malam itu. Suaranya terdengar begitu tenang di antara gemuruh petir. Pria itu kemudian menggandeng pinggang Alethea, berbalik pergi tanpa menoleh lagi, membiarkan Valerie mati perlahan dalam kesendirian yang menyakitkan.

Valerie mati sebagai seorang pecundang sejati. Dia mati setelah menghabiskan tiga tahun kehidupan pertamanya dengan sia-sia—mengemis kasih sayang dari orang tua kandungnya yang sedingin es, bertingkah kekanak-kanakan karena cemburu pada Alethea yang selalu dipuja bak malaikat, dan akhirnya dijebak hingga diusir oleh keluarganya sendiri atas fitnah keji yang rancang dengan rapi oleh Alethea.

Kasih sayang keluarga... cinta seorang tunangan... semuanya adalah racun tak kasat mata yang membunuhku, batin Valerie di ambang kegelapan terakhirnya. Jika... jika aku diberikan kesempatan kedua oleh takdir... aku bersumpah tidak akan sudi mengemis hal menjijikkan seperti itu lagi. Aku hanya akan percaya pada satu hal di dunia ini. Kekuatan uang yang mutlak.

Uhuk! Uhuk!

Valerie tersentak hebat. Paru-parunya mendadak mengembang secara paksa, menghirup oksigen dengan begitu rakus seolah dia baru saja ditarik keluar dari dalam dasar samudra yang hampa udara. Jantungnya berdegup kencang bak genderang perang yang bertalu-talu di dalam rongga dadanya.

Napasnya memburu, pendek-pendek dan tidak teratur. Kedua tangannya yang gemetar hebat langsung meraba area dadanya, lehernya, lalu pelipisnya. Dia mencari luka robek bekas pecahan kaca, sisa darah yang mengering, atau rasa sakit yang mematahkan tulang-tulangnya.

Tidak ada. Sama sekali tidak ada luka.

Kulitnya terasa utuh, halus, namun agak kasar di bagian telapak tangan—khas tangan seorang pekerja paruh waktu. Valerie menurunkan pandangannya. Tubuhnya dibalut oleh sebuah sweter rajut berwarna biru pudar yang ukurannya agak terlalu besar, dipadukan dengan celana jins longgar yang warnanya sudah mulai memutih karena terlalu sering dicuci. Baju ini... baju usang ini adalah miliknya saat dia masih tinggal di panti asuhan pinggiran kota.

Valerie mengerutkan kening. Pandangannya yang awalnya kabur dan berputar perlahan mulai menemukan titik fokus. Dia sama sekali tidak sedang berbaring di atas aspal jalanan yang basah di bawah guyuran hujan badai.

Dia sedang duduk di atas jok kulit berwarna hitam yang sangat empuk dan beraroma premium. Tubuhnya bergerak mengikuti guncangan halus dari sebuah mobil mewah bermerek Rolls-Royce yang sedang melaju dengan kecepatan stabil, membelah jalanan kota metropolitan yang padat di sore hari yang cerah. Aroma parfum mobil yang mahal, maskulin, dan menenangkan menyeruak masuk ke indra penciumannya.

Di kursi kemudi depan, pembatas kaca transparan memisahkan kabin belakang dengan seorang pria paruh baya berjas hitam rapi yang sedang menyetir. Pria itu sesekali melirik ke arah kaca spion tengah, menatap Valerie dengan pandangan yang sulit diartikan—sebuah perpaduan antara formalitas profesional dan sedikit rasa risih yang terselubung.

Itu adalah Supir Thomas. Kepala pelayan sekaligus supir kepercayaan dari kediaman utama keluarga Elrod.

Valerie menolehkan kepalanya ke samping kiri. Di atas jok kulit mewah itu, sebuah tas ransel berbahan kain kanvas usang yang jahitannya sudah mulai lepas di beberapa sudut tergeletak dengan menyedihkan. Valerie dengan gerakan refleks yang cepat langsung meraba saku sweter rajutnya. Jemarinya menyentuh sebuah benda persegi panjang yang keras.

Dia mengeluarkan sebuah ponsel pintar model lama yang layarnya sudah retak seribu di bagian sudut kanan atas. Valerie menekan tombol daya dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Layar ponsel itu menyala, menampilkan sebuah tanggal dan tahun yang membuat seluruh aliran darah di tubuh Valerie mendadak berhenti mengalir.

14 Juni.

Tepat lima tahun sebelum hari kematiannya.

Darah Valerie yang sempat membeku seketika mendidih oleh gelombang emosi yang bergejolak, namun sedetik kemudian, akal sehatnya menarik paksa emosi itu jatuh, membekukannya menjadi sebuah rasa dingin yang teramat menenangkan. Sepasang matanya yang awalnya melebar karena syok kini menyipit, memancarkan aura yang tajam.

Ini adalah hari itu. Hari di mana dinasti konglomerat Elrod menjemputnya dari panti asuhan kumuh di pinggiran kota, setelah sebuah tes DNA resmi membuktikan bahwa Valerie adalah anak kandung mereka yang sah—yang tertukar dua puluh tahun lalu karena kelalaian fatal pihak rumah sakit saat proses persalinan.

Di kehidupan lalunya, hari ini adalah awal dari neraka dunia yang dia ciptakan sendiri. Di dalam kabin mobil yang sama ini, Valerie muda menangis haru sampai matanya sembap. Dia memeluk tas ransel usangnya dengan hati yang dipenuhi rasa syukur yang luar biasa, merasa bahwa Tuhan sangat baik karena akhirnya memberikan dia orang tua yang kaya raya. Dia datang ke rumah Elrod dengan hati yang penuh dengan harapan kosong, merencanakan bagaimana dia akan menjadi anak yang penurut, manis, dan berbakti agar bisa mendapatkan pelukan hangat dari ibu kandungnya.

Semua harapan bodoh itu hancur berkeping-keping dalam hitungan jam setelah dia menginjakkan kaki di rumah mewah tersebut. Di sana, posisi anak emas, putri kesayangan, dan permata keluarga sudah diisi secara permanen oleh Alethea Belmont.

Sebuah senyuman dingin, tipis, dan teramat tajam terukir di bibir Valerie. Dia menatap pantulan dirinya di kaca mobil yang dilapisi kaca film gelap. Wajahnya di usia dua puluh tahun ini masih terlihat sangat polos, dengan pipi yang agak tirus karena kurang gizi, namun sepasang matanya kini tidak lagi memancarkan binar kenaifan. Matanya hitam, pekat, sepasang mata milik seorang wanita yang telah mencicipi pahitnya kematian akibat pengkhianatan.

"Nona Valerie," suara Supir Thomas terdengar melalui pengeras suara kecil di kabin belakang, memecah keheningan yang mencekam. "Kita akan tiba di kediaman utama keluarga Elrod dalam waktu lima belas menit lagi. Tuan Besar dan Nyonya sudah menunggu di ruang utama bersama dengan Nona Alethea. Saya harap..." Thomas sengaja menggantung kalimatnya, berdeham pelan sebelum melanjutkan dengan nada yang agak mendikte. "...Saya harap Anda bisa menjaga sikap Anda nanti. Tolong jangan membuat keributan atau bertingkah aneh yang bisa memicu stres Nyonya Victoria. Kondisi jantung Nyonya sedang kurang baik belakangan ini."

Kalimat yang persis sama. Kata demi kata yang diucapkan Thomas sama sekali tidak berubah dari kehidupan pertamanya. Pria tua ini memperingatkan Valerie seolah-olah Valerie adalah seekor monster liar dari hutan kelaparan yang siap merusak kedamaian dan keharmonisan keluarga Elrod yang suci. Di kehidupan lalu, Valerie akan merasa sangat tersinggung, sedih, dan langsung menciut ketakutan mendengar peringatan kasar itu.

Namun sekarang? Valerie bahkan tidak sudi mengalihkan pandangannya dari jendela mobil. Dia menyandarkan punggungnya dengan santai ke jok kulit mewah tersebut, menyilangkan kakinya dengan gerakan yang teramat anggun—sebuah gestur berkelas yang membuat Supir Thomas diam-diam mengerutkan kening karena terkejut saat melihatnya dari kaca spion.

"Fokus saja pada kemudimu, Thomas," jawab Valerie dengan nada suara yang sangat datar, rendah, namun memiliki bobot intimidasi yang kuat. "Tugasmu di sini hanya menyetir dan memastikan mobil ini sampai dengan selamat. Bukan mendikte atau menceramahiku soal bagaimana cara aku bersikap di depan orang asing."

Thomas tersentak hebat di kursi kemudi depan. Dia tidak menyangka bahwa gadis panti asuhan yang awalnya kelihatan sangat gugup, gemetar, dan ketakutan saat pertama kali melangkah masuk ke dalam mobil ini bisa mengeluarkan kalimat setajam itu dengan aura sedingin es. Thomas merasakan tenggorokannya mendadak kering. Dia langsung menutup mulutnya rapat-rapat, tidak berani mengeluarkan suara lagi sepanjang sisa perjalanan.

Valerie menarik tas ransel usangnya ke atas pangkuan. Dia membuka ritsleting tas yang sudah agak macet itu, lalu mengeluarkan sebuah buku catatan kecil bergaris yang sampulnya sudah agak lecek, bersama dengan sebatang pulpen murahan tinta hitam seharga dua ribu rupiah.

Otaknya yang sudah menjalani asam garam dunia korporat dan pergerakan bursa efek di kehidupan lalu kini mulai bekerja dengan kecepatan penuh. Memorinya tentang masa depan berputar bak rol film yang siap dieksploitasi. Valerie tidak akan membuang waktu atau energi mentalnya sedetik pun di kehidupan ini untuk memikirkan bagaimana cara merebut perhatian "Papa" atau "Mama" kandungnya. Persetan dengan kasih sayang keluarga yang fiktif itu.

Keluarga Elrod adalah salah satu dari tiga dinasti bisnis terbesar di negara ini, pikir Valerie, jemarinya mulai bergerak lincah menuliskan beberapa poin penting di atas kertas putih menggunakan pulpennya. Mereka memiliki modal likuiditas tanpa batas, jaringan koneksi politik yang menggurita, dan yang paling penting, mereka memiliki nama belakang yang legal di mata hukum negara. Jika aku kembali ke rumah itu hanya untuk menangis, merengek, dan merasa cemburu pada setiap perhatian yang didapatkan Alethea... maka aku adalah makhluk terbodoh yang pernah terlahir kembali di muka bumi.

Valerie mencatat beberapa target penting dan strategi mutlaknya untuk Volume Pertama kehidupannya yang baru:

Poin pertama, Isolasi Finansial Total. Valerie tahu betul watak Gilbert Elrod yang pelit dan otoriter. Di kehidupan lalu, sang ayah akan menggunakan uang sebagai alat untuk menjinakkan Valerie, memotong uang jajannya setiap kali Valerie dianggap "menyakiti hati" Alethea. Di kehidupan ini, Valerie memutuskan untuk tidak akan pernah menyentuh satu sen pun uang dari keluarga Elrod. Tidak ada kartu kredit, tidak ada tunjangan, tidak ada pakaian mewah pemberian mereka. Dengan menjaga mutasi rekeningnya dari keluarga Elrod tetap berada di angka nol rupiah, keluarga toksik itu tidak akan pernah memiliki hak moral atau hukum untuk mengklaim kesuksesannya di masa depan. Mereka tidak akan bisa berkata bahwa Valerie sukses karena memanfaatkan kekayaan Elrod.

Poin kedua, Merintis dari Kamar Pojok. Valerie mengingat bahwa di dompet lusuhnya saat ini, dia hanya memiliki uang tunai sebesar tiga ratus ribu rupiah—sisa upah dari hasil kerja paruh waktunya sebagai buruh pembungkus barang di toko kelontong desa panti asuhannya dulu. Angka yang sangat menyedihkan bagi seorang putri konglomerat. Namun bagi Valerie yang memiliki memori masa depan, uang tiga ratus ribu rupiah itu sudah lebih dari cukup sebagai peluru awal. Dia akan menggunakan ponsel retaknya untuk membuka akun sekuritas mikro secara online dan melakukan trading saham-saham receh (penny stocks) yang dia tahu akan mengalami lonjakan nilai ribuan persen akibat aksi akuisisi rahasia yang akan terjadi dalam waktu empat puluh delapan jam ke depan.

Poin ketiga, Membangun Kekaisaran Bayangan (Pecunia Corp). Setiap keuntungan yang dia dapatkan dari kamar pojoknya nanti akan langsung diputar ke instrumen pasar berjangka internasional dan aset digital secara anonim, menggunakan jalur hukum luar negeri yang terbebas dari radar pelacakan bisnis Elrod Corp. Begitu dia menyelesaikan misi awalnya di sini, dia akan langsung mengepalkan tangannya dan tancap gas meninggalkan rumah neraka itu dengan kekayaan mandiri yang nilainya sanggup mengguncang bursa saham utama.

Mobil Rolls-Royce hitam itu perlahan-lahan mulai melambat. Kendaraan mewah itu berbelok ke arah kiri, melewati sebuah gerbang besi raksasa setinggi empat meter yang dijaga ketat oleh beberapa petugas keamanan berjas rapi. Mobil itu menyusuri jalanan beraspal mulus yang membelah halaman rumput hijau yang sangat luas, dirawat dengan sangat presisi hingga menyerupai lapangan golf pribadi, sebelum akhirnya berhenti tepat di depan lobi sebuah rumah megah berarsitektur modern klasik yang berdiri kokoh layaknya istana pribadi di tengah ibu kota.

Thomas bergegas turun dari kursi kemudi, berjalan memutari mobil, dan membukakan pintu kabin belakang untuk Valerie dengan gerakan formal. "Kita sudah sampai di kediaman utama, Nona Valerie."

Valerie mengambil ransel usangnya, menyampirkannya di satu bahu dengan gerakan santai, lalu melangkah keluar dari dalam mobil. Angin sore yang sejuk menerpa helaian rambut hitamnya yang bergelombang. Dia berdiri tegak, mendongakkan kepalanya untuk menatap fasad bangunan mewah yang menjulang tinggi di hadapannya. Tatapan matanya tidak memancarkan rasa kagum atau minder sedikit pun; dia menatap rumah itu dengan pandangan dingin dan menilai, persis seperti seorang investor kelas kakap yang sedang menginspeksi properti sekunder yang siap dia beli atau dia hancurkan kapan saja.

Di balik pintu kaca besar yang otomatis terbuka di area lobi, Valerie bisa melihat siluet beberapa orang yang sudah berdiri menantinya di dalam ruang utama yang megah. Orang-orang yang di kehidupan lalu telah menghancurkan hidupnya sampai ke dasar terdalam.

Valerie memperbaiki posisi kerah sweter murahnya yang agak longgar, menarik napas dalam-dalam untuk mengisi paru-parunya dengan udara baru, lalu mengulas sebuah senyuman tipis yang teramat dingin—sebuah senyuman yang sarat akan ambisi mengerikan yang tersembunyi di balik wajah polosnya. Dia mulai melangkah masuk dengan ketukan sepatu kainnya yang berbunyi tegas di atas lantai teras.

Permainan dimulai, kalian semua, batin Valerie saat bayangannya mulai memasuki ruang utama rumah Elrod. Aku datang ke tempat ini bukan untuk menjadi putri penurut kalian, bukan untuk mengemis pelukan hangat kalian, tapi aku datang untuk merintis jalan dan membeli takdirku sendiri dengan kekayaan mutlak.

Bersambung....

.

.

.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

BAB 2: KAMAR POJOK BELAKANG GUDANG

Bab 2: Kamar Pojok Belakang Gudang

Ketukan sol sepatu kain murah milik Valerie Vespera menggema pelan di atas lantai marmer impor Italia yang berkilau bak cermin. Setiap langkah kaki Valerie membawa aura yang berbeda dari apa yang dibayangkan oleh para penghuni istana emas itu. Tidak ada keraguan, tidak ada binar mata kagum, dan tidak ada tubuh yang membungkuk gugup karena minder.

Di ruang tamu utama yang langit-langitnya dihiasi lampu kristal gantung seharga miliaran rupiah, sepasang suami istri paruh baya duduk di atas sofa beludru premium. Di antara mereka, seorang gadis cantik dengan gaun renda berwarna putih gading duduk dengan posisi yang sangat anggun, menggenggam sehelai saputangan kecil seolah ia adalah makhluk paling rapuh di dunia.

Gilbert Elrod dan Victoria Elrod. Orang tua kandung yang di kehidupan lalu sangat Valerie puja, namun berakhir membuangnya demi menjaga perasaan Alethea Belmont—si cewek pick-me yang sekarang sedang menunduk dengan mata berkaca-kaca.

"Jadi, ini anak itu?" suara Gilbert memecah keheningan. Dingin, berat, dan tanpa ada nada kehangatan seorang ayah yang baru pertama kali bertemu putri kandungnya setelah dua puluh tahun terpisah. Sepasang matanya menilai Valerie dari ujung rambut hingga ujung kaki, dan kerutan samar di dahinya menunjukkan rasa tidak puas yang kentara saat melihat sweter rajut pudar Valerie.

Victoria, sang ibu, hanya menghela napas panjang sembari memijat pelipisnya. "Thomas sudah memperingatkanmu untuk berganti pakaian yang lebih layak sebelum masuk ke rumah ini, bukan? Mengapa kamu masih memakai baju lusuh dari panti asuhan itu, Valerie? Kamu mempermalukan nama Elrod."

Di kehidupan pertamanya, kalimat pertama dari ibu kandungnya ini sukses membuat Valerie muda menangis tersedu-sedu di tempat. Dia akan langsung meminta maaf, merasa bersalah karena telah terlahir miskin, dan berjanji akan menjadi anak yang baik.

Namun sekarang, Valerie justru mengulas senyum tipis yang teramat hambar. Dia bahkan tidak sudi melepaskan ransel kanvasnya dari bahu.

"Baju ini dibeli dari hasil keringat saya sendiri, Nyonya Victoria," jawab Valerie. Nada suaranya datar, tanpa beban emosi, namun sebutan 'Nyonya' yang keluar dari bibirnya membuat pasang suami istri itu tersentak. "Jika kain usang ini merusak pemandangan mata Anda yang berkelas, saya bisa langsung berbalik dan pergi dari sini sekarang juga. Pintu keluar masih terbuka lebar."

"Valerie! Jaga lancangmu!" Gilbert menggebrak lengan sofa dengan wajah yang mulai memerah. Dia tidak menyangka anak yang dibesarkan di lingkungan kumuh akan memiliki keberanian untuk membalas ucapannya dengan begitu tenang dan tajam.

"Mama... Papa... tolong jangan marah pada Kak Valerie," Alethea tiba-tiba menyela, suaranya bergetar dengan nada yang sangat manis dan penuh kepedulian palsu. Gadis itu bangkit dari sofa, melangkah mendekati Valerie dengan tangan yang terulur seolah ingin merangkul. "Kak Valerie pasti masih syok dan belum terbiasa dengan lingkungan baru. Ini semua salah Alethea... andai saja Alethea bukan anak yang tertukar, Kak Valerie tidak akan menderita di panti asuhan..."

Air mata Alethea mulai menetes dengan waktu yang sangat presisi. Sebuah akting kelas atas yang selalu berhasil membuat keluarga Elrod bertekuk lutut demi melindunginya.

Melihat "putri kesayangan" mereka menangis, Victoria langsung berdiri dan menarik Alethea ke dalam pelukannya. "Ini bukan salahmu, Alethea sayang! Kamu adalah permata keluarga ini, tidak ada yang bisa menggantikan posisimu. Jangan menangis, Nak, jantung Mama bisa kambuh melihatmu sedih."

Victoria kemudian menatap Valerie dengan pandangan penuh kilat kemarahan. "Lihat apa yang kamu lakukan! Baru satu menit kamu menginjakkan kaki di rumah ini, kamu sudah membuat adikmu menangis! Di mana sopan santunmu?!"

Valerie menyaksikan drama keluarga yang menjijikkan itu dengan tatapan kosong. Di masa lalu, dia akan merasa cemburu setengah mati dan mencoba menjelaskan bahwa Alethea sedang berbohong. Tapi sekarang? Valerie hanya merasa mereka semua sangat bodoh dan membuang-buang waktunya yang berharga. Jarum jam terus berputar, dan sesi pasar saham dunia akan segera berganti dalam beberapa jam. Dia butuh tempat pribadi yang tenang untuk mulai bekerja.

"Saya tidak punya waktu untuk menonton sandiwara air mata," potong Valerie dengan dingin, memotong kalimat Victoria yang hendak memaki lebih lanjut. "Tunjukkan saja di mana kamar saya. Saya ingin istirahat."

Gilbert mendengus kasar, wajahnya mengeras oleh otoritas yang mutlak. "Kamar? Mengingat sikapmu yang kasar dan tidak tahu aturan ini, jangan harap kamu bisa mendapatkan fasilitas mewah di rumah ini. Demi menjaga ketenangan Alethea yang kondisi mentalnya sedang sensitif karena kedatanganmu, kamu akan ditempatkan di kamar pojok lantai dasar. Kamar di dekat gudang belakang."

Gilbert sengaja menjeda kalimatnya, bersedekap dada sembari menatap Valerie dengan pandangan merendahkan, menunggu gadis itu memohon atau mengamuk karena diberikan kamar pembantu. "Jika kamu bisa membuktikan bahwa kamu bisa bersikap penurut dan tidak membuat masalah selama beberapa bulan ke depan, Papa baru akan mempertimbangkan untuk memindahkanmu ke lantai atas."

Kamar pojok lantai dasar. Bekas gudang penyimpanan barang-barang rusak yang pengap, lembap, kotor, dan terletak di sudut paling belakang kediaman Elrod—terisolasi total dari bangunan utama. Di kehidupan lalu, keputusan ini adalah tamparan paling menyakitkan yang membuat Valerie merasa seperti sampah yang tidak diinginkan.

Namun, di kehidupan ini, mendengar keputusan Gilbert, sepasang mata hitam pekat Valerie justru berkilat dengan kepuasan yang luar biasa.

Terisolasi total? Di dekat gudang belakang yang tidak akan pernah dilewati atau diperiksa oleh siapa pun? batin Valerie. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman dingin yang teramat misterius. Sempurna. Tempat itu adalah markas paling strategis yang bisa aku minta.

"Baik. Kamar pojok belakang gudang. Saya terima," jawab Valerie tegas tanpa keraguan sedikit pun.

Gilbert dan Victoria sesaat terpaku, merasa aneh dengan respons Valerie yang justru kelihatan sangat puas alih-alih menderita. Tanpa menunggu perintah lebih lanjut, Valerie menoleh ke arah Supir Thomas yang berdiri kaku di dekat pintu lobi. "Thomas, antarkan saya ke kamar itu sekarang."

Langkah kaki Thomas membawa Valerie melewati lorong-lorong panjang yang semakin lama semakin menyempit dan temaram. Kemegahan marmer Italia perlahan digantikan oleh lantai keramik putih polos yang dingin. Bau parfum premium berganti menjadi aroma debu dan kelembapan yang pekat.

Thomas membuka sebuah pintu kayu tua yang catnya sudah mulai mengelupas di sudut lorong paling ujung. Krieeet... Suara engsel pintu yang berkarat berdecit memilukan.

Di dalam ruangan berukuran tiga kali tiga meter itu, hanya ada sebuah ranjang kayu tunggal dengan kasur tipis yang dilapisi seprei abu-abu usang, sebuah lemari pakaian kecil yang pintunya sudah miring, dan sebuah jendela kecil berteralis besi yang menghadap langsung ke arah tembok pembatas luar rumah. Debu tebal berterbangan di bawah temaram cahaya lampu bohlam kuning yang redup.

"Ini kamar Anda, Nona Valerie," ujar Thomas dengan nada formalitas yang dingin. "Mulai besok, Anda harus bangun jam lima pagi untuk bersiap berangkat ke sekolah baru Anda. Tuan Besar juga berpesan, Anda tidak akan diberikan kartu kredit tambahan atau tunjangan tunai bulanan sampai sikap Anda berubah. Semua kebutuhan pokok dan seragam sekolah sudah disiapkan di dalam lemari ini. Saya permisi."

Thomas berbalik pergi dan menutup pintu kayu itu dengan dentuman pelan, meninggalkan Valerie dalam kesunyian yang mencekam.

Valerie tidak membuang waktu. Ia tahu, uang fisik tiga ratus ribu rupiah di saku sweternya adalah modal mati jika tidak segera dikonversi. Sebelum Thomas menjemputnya tadi, Valerie sengaja menyelinap ke gerai minimarket di depan gerbang utama perumahan Elrod. Dengan tangan gemetar—bukan karena takut, tapi karena menahan amarah—ia melakukan top-up saldo melalui kasir minimarket untuk mengisi akun e-wallet miliknya. Itu adalah langkah awal yang berisiko karena ia harus menukarkan uang sisa jerih payahnya menjadi aset digital agar bisa masuk ke sistem bursa. Beruntung, sistem verifikasi akun sekuritas mikro yang ia pilih tidak menuntut KTP fisik, melainkan hanya verifikasi wajah dan data dasar yang bisa ia manipulasi secara teknis.

Valerie menurunkan tas ransel kanvasnya dari bahu, melemparnya ke atas ranjang tua yang berderit ringkih. Dia tidak memedulikan debu yang mengotori sweternya. Dengan gerakan cepat, Valerie mengunci pintu kamar dari dalam, lalu berjalan menuju jendela kecil untuk memastikan tidak ada kamera pengawas (CCTV) yang terpasang di sekitar area buangan ini.

Aman. Tempat ini benar-benar area buta yang terbebas dari radar keluarga Elrod.

Valerie duduk di tepi ranjang, meraba saku sweternya, dan mengeluarkan ponsel pintar berlayar retak seribu miliknya. Dia menyalakan daya ponsel tersebut. Sinar dari layar digital memantul di sepasang bola mata Valerie yang kini memancarkan aura kegelapan dan ambisi yang mengerikan.

Jemari Valerie yang ramping bergerak dengan kecepatan tinggi di atas layar yang retak. Dia membuka peramban rahasia, mengakses situs pendaftaran sekuritas mikro online yang legal, dan memasukkan seluruh data identitas aslinya yang belum tersentuh oleh sistem hukum korporasi Elrod Corp.

Melalui aplikasi e-wallet, Valerie melakukan deposit modal terakhirnya itu ke dalam akun trading yang baru saja aktif.

Saldo Akun: Rp300.000,00.

Mata Valerie menyipit tajam saat dia membuka papan bursa saham spekulatif lokal. Otaknya yang menyimpan memori masa depan berputar dengan kecepatan penuh, memanggil kembali data-data pergerakan bursa efek yang terjadi tepat lima tahun lalu di tanggal ini.

"Besok pagi, tanggal 15 Juni," gumam Valerie, suara rendahnya terdengar begitu dingin di dalam kamar yang pengap. "Perusahaan semikonduktor raksasa asal Korea Selatan secara rahasia akan menandatangani kontrak akuisisi atas emiten kecil berkode INOV (PT Inovasi Semesta Tbk). Berita itu baru akan bocor ke publik pada jam dua siang."

Saat ini, saham INOV dianggap sebagai saham sampah atau penny stock yang harganya tertidur mati di angka terendah regulasi bursa: Rp50 per lembar saham. Tidak ada satu pun investor waras yang mau menyentuh saham mati tersebut saat ini.

Namun Valerie tahu, begitu berita akuisisi itu meledak besok siang, saham INOV akan langsung mengalami lonjakan nilai yang tidak masuk akal selama beberapa minggu ke depan.

Dengan ketukan jemari yang mantap tanpa keraguan, Valerie memasukkan seluruh modal Rp300.000 rupiah miliknya untuk memesan antrean beli di saham INOV pada harga Rp50 per lembar saham untuk pembukaan bursa esok pagi. Uang tiga ratus ribu rupiah itu berhasil membeli tepat 60 lot (6.000 lembar saham) INOV.

Klik. Transaksi pemesanan berhasil dikunci.

Valerie menyandarkan punggungnya ke dinding kamar yang dingin, menatap langit-langit kamar gudang dengan seulas senyuman yang sangat mengerikan—sebuah senyuman yang menandai lahirnya sang penguasa finansial bayangan.

"Isolasi total. Rp0 dari keluarga Elrod. Bagus," bisik Valerie Vespera pada kegelapan malam. "Kalian pikir kalian sedang menghukumku dengan membuangku di kamar gudang ini? Justru dari kamar pojok yang kotor inilah, aku tidak akan menyisakan hak moral atau hukum sedikit pun bagi kalian untuk mencicipi triliunan rupiah yang akan aku hasilkan. Nikmati sisa kejayaan kalian, Elrod... karena roda takdirku sudah mulai berjalan."

Bersambung....

.

.

.

.

.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

......................

BAB 3: MALAM PERTAMA DI NERAKA EMAS & PERSIAPAN MENUJU SEKOLAH ELIT

Bab 3: Malam Pertama Di Neraka Emas & Persiapan Menuju Sekolah Elit

Suara jangkrik dari arah taman belakang terdengar bersahut-sahut, menyelinap masuk melalui celah jendela kecil berteralis besi di kamar pojok lantai dasar. Malam telah larut, dan jam dinding kuno di lorong pelayan baru saja berdentang sebanyak sebelas kali. Di lantai dua bangunan utama, keluarga Elrod mungkin sedang menikmati tidur nyenyak di atas kasur bulu angsa yang empuk, atau mungkin Alethea sedang tersenyum puas di dalam kamar mewahnya karena berhasil menendang sang putri kandung asli ke tempat pembuangan.

Sementara di sini, di ruangan berukuran tiga kali tiga meter yang pengap, Valerie Vespera masih terjaga.

Udara malam yang dingin terasa menusuk kulitnya lewat sela-sela sweter rajut birunya yang longgar. Debu-debu halus yang beterbangan di udara sempat membuatnya terbatuk kecil beberapa kali, namun sepasang mata hitam pekat milik Valerie tetap terkunci lurus pada layar ponsel pintarnya yang retak seribu. Cahaya biru dari ponsel itu memantul di wajahnya yang tirus, memancarkan kilat kalkulatif yang sangat dingin.

Kruk...

Perut Valerie berbunyi nyaring. Dia meremas bagian tengah tubuhnya itu dengan sebelah tangan tanpa mengubah ekspresi wajahnya sedikit pun. Sejak menginjakkan kaki di rumah ini sore tadi, tidak ada satu pun pelayan yang datang mengetuk pintunya untuk mengantarkan makanan. Valerie tahu ini bukan karena para pelayan teledor. Di kehidupan lalunya, atas hasutan dan akting ketakutan Alethea—yang mengisyaratkan kepada kepala pelayan bahwa Valerie adalah gadis panti asuhan yang temperamental dan tidak suka diganggu—para pelayan sengaja mengisolasi Valerie demi mengambil hati si anak emas palsu.

Di kehidupan pertamanya dulu, Valerie muda akan menangis kelaparan di sudut ruangan ini. Dia akan merasa terhina, lalu nekat menggedor pintu dapur utama sambil marah-marah, yang berakhir dengan dirinya dicap sebagai "gadis liar tak tahu tata krama" oleh kakak-kakak kandungnya karena berani membentak pelayan di malam hari.

"Kelaparan egois ini tidak akan membunuhku," bisik Valerie pada kesunyian malam. Suaranya terdengar begitu datar, tanpa ada nada mengasihani diri sendiri. "Tapi kemiskinan dan ketergantungan pada belas kasihan Elrod yang akan membunuhku secara perlahan."

Valerie mengabaikan rasa perih di lambungnya. Fokus utamanya malam ini adalah mengamankan posisi finansialnya sebelum fajar menyingsing. Dia membuka kembali aplikasi brokernya untuk memastikan antrean beli saham INOV (PT Inovasi Semesta Tbk) miliknya sudah terkunci di sistem bursa sebelum pasar dibuka esok pagi.

Saldo digital akun anonimnya tertulis jelas: Rp0,00 (Setelah dikonversi seluruh Rp300.000,00 miliknya ke dalam bentuk 60 lot saham di harga Rp50 per lembar).

Bagi orang-orang di rumah ini, tiga ratus ribu rupiah mungkin tidak cukup untuk membeli sebotol air mineral premium yang biasa disajikan di meja makan Gilbert Elrod. Tapi bagi Valerie, tiga ratus ribu ini adalah benih dari sebuah kekaisaran finansial yang akan menelan Elrod Corp bulat-bulat.

"Besok pagi jam sembilan, pasar akan dibuka. Dan jam dua siang, dunia keuangan kalian akan berguncang," gumam Valerie dengan senyuman tipis yang teramat tajam. Dia mematikan layar ponselnya, meletakkannya di samping bantal usangnya, lalu memejamkan mata. Dia butuh menghemat energi. Besok adalah hari pertamanya menginjakkan kaki di SMA Elit Garuda, dan dia harus tampil prima untuk menghadapi panggung sandiwara baru.

Keesokan paginya, Valerie terbangun tepat saat jam dinding tua di lorong pelayan berdentang lima kali. Tubuhnya terasa agak kaku karena tidur di atas dipan kayu yang keras tanpa alas kasur yang layak, namun matanya langsung terbuka lebar penuh kesadaran. Tidak ada setitik pun rasa kantuk atau malas di sepasang mata hitam itu.

Dia bangkit, berjalan ke kamar mandi umum pelayan di bagian belakang dengan membawa handuk kecil dari pantinya, membersihkan diri dengan air dingin yang menyegarkan, lalu kembali ke kamar untuk bersiap.

Valerie membuka lemari pakaian kecil yang miring di sudut kamar. Di dalamnya, sudah tergantung sepasang seragam sekolah SMA Elit Garuda. Sebuah kemeja putih berbahan premium dengan lambang rajutan elang emas di dada kiri, dipadukan dengan rok lipit bermotif tartan berwarna biru dongker. Namun, saat Valerie memakainya, kemeja itu terasa agak longgar di tubuhnya yang tirus akibat kurang gizi selama di panti.

"Formalisasi status sosial yang menggelikan," komentar Valerie pendek saat berkaca di cermin kecil yang buram.

Dia menyisir rambut hitam bergelombangnya dengan rapi, lalu menyampirkan tas ransel kain kanvas usangnya di satu bahu. Dia sengaja tidak memakai perhiasan atau riasan apa pun. Di dalam tasnya, selain buku catatan kecil dan pulpen dua ribu rupiah, hanya ada ponsel retak seribu yang kini menjadi senjata paling mematikan di tangannya.

Saat Valerie melangkah keluar dari lorong belakang menuju area lobi depan untuk berangkat, dia berpapasan dengan ibunya, Victoria Elrod, dan Alethea yang sudah tampil sangat memukau. Alethea mengenakan seragam sekolah yang sudah dimodifikasi oleh penjahit pribadi keluarga agar pas di tubuhnya yang sintal, lengkap dengan tas ransel bermerek Chanel seharga puluhan juta rupiah dan sepatu kulit mengkilap.

Begitu melihat Valerie berjalan dengan seragam yang agak longgar dan tas kanvas usangnya, Alethea langsung memasang wajah terkejut yang dramatis. Dia buru-buru menggandeng lengan Victoria dengan manja.

"Mama... lihat Kak Valerie. Seragamnya kok kelihatan kebesaran begitu ya?" suara Alethea terdengar begitu lembut, penuh perhatian yang dibuat-buat, namun nadanya sengaja dikeraskan agar para pelayan yang sedang menyapu lobi bisa mendengar. "Apa Alethea boleh membelikan Kak Valerie tas baru sepulang sekolah nanti? Alethea gak tega lihat Kak Valerie pakai tas usang itu ke sekolah kita... nanti teman-teman di Garuda bisa menggunjingkan nama baik keluarga Elrod..."

Victoria menghela napas panjang, menatap Valerie dengan pandangan yang rumit dan dipenuhi rasa risih yang mendalam. "Valerie, kalau kamu butuh barang-barang baru, kamu bisa bilang ke Mama. Jangan sengaja memakai barang usang dari panti asuhanmu itu ke sekolah. Papa dan Mama tidak pernah melarangmu membeli sesuatu, asalkan kamu tahu tempat."

Kalian tidak melarang, tapi kalian juga tidak pernah memberi saya fasilitas, akses kartu, atau uang sepeser pun sejak saya tiba kemarin, batin Valerie dingin. Di kehidupan lalu, Valerie yang berdarah panas akan langsung berteriak protes karena merasa disudutkan. Dia akan berteriak: "Gimana gue mau beli tas baru kalau Mama bahkan gak ngasih uang sepeser pun dari kemarin?!" Dan tebak apa yang terjadi? Alethea akan menangis, lalu Christian atau Nicholas akan datang membentak Valerie karena dianggap tidak sopan pada ibu kandungnya.

Kali ini, Valerie hanya berdiri tegak dengan postur yang sempurna. Wajahnya sedingin es mati saat menatap lurus ke mata Victoria.

"Tidak usah, Nyonya Victoria," jawab Valerie dengan nada suara yang sangat tenang dan formal. Panggilan 'Nyonya' itu kembali membuat dada Victoria terasa seperti dihantam batu besar. "Tas ini masih berfungsi dengan baik untuk membawa buku. Saya tidak suka membuang-buang waktu dan energi untuk memikirkan gengsi dari sebuah merek yang fungsinya sama saja."

Victoria tersentak, wajahnya mengeras karena egonya sebagai sosialita kelas atas merasa tersinggung oleh ketidaktertarikan Valerie. "Ya sudah kalau itu maumu! Oh, iya, hari ini mobil jemputan utama hanya cukup untuk Alethea dan teman-teman gengnya karena mereka ada proyek kelompok yang harus dibawa pagi ini. Kamu bisa naik bus umum atau taksi sendiri di depan gerbang kompleks."

Alethea yang berdiri di balik punggung Victoria diam-diam menyunggingkan senyum kemenangan yang sangat tipis. Dia tahu betul bahwa kompleks perumahan elite keluarga Elrod ini sangat luas dan eksklusif. Untuk mencapai halte bus atau pangkalan taksi terdekat di luar gerbang utama, Valerie harus berjalan kaki sejauh hampir lima kilometer di bawah terik matahari pagi yang mulai menyengat.

Di kehidupan pertamanya, Valerie akan menangis mendengar keputusan tidak adil ini. Dia akan memohon-mohon agar bisa disempit-sempitkan di dalam mobil, namun abang keduanya, Christian, langsung mendorongnya menjauh dan menutup pintu mobil tepat di depan wajahnya.

Sekarang? Valerie bahkan tidak berkedip. Dia hanya mengangguk kecil dengan ekspresi datar yang abai. "Baik."

Tanpa membuang kata-kata atau menunggu pamit, Valerie langsung berbalik badan. Dia melangkah mandiri dengan punggung tegak lurus melewati pintu besar kediaman Elrod. Langkah kakinya yang dibalut sepatu kain tipis bergesek konstan dengan aspal jalanan kompleks yang sepi. Angin pagi menerpa rambut hitamnya yang terurai, dan setiap meter jarak yang memisahkannya dari rumah Elrod justru terasa seperti langkah menuju kebebasan mutlaknya.

Sambil berjalan kaki menyusuri jalanan kompleks yang dikelilingi pohon-pohon palem mewah, Valerie merogoh ponsel pintarnya. Jam digital di layar menunjukkan pukul 09.02 pagi.

Pasar saham telah resmi dibuka dua menit yang lalu.

Valerie membuka aplikasi brokernya dengan detak jantung yang sangat stabil. Begitu grafik berkode INOV muncul di layarnya, sepasang mata Valerie langsung berkilat penuh kemenangan yang mengerikan.

Grafik saham INOV yang tadinya berupa garis lurus horizontal mati di angka Rp50 selama berbulan-bulan, mendadak melesat vertikal ke atas membentuk garis hijau tebal yang memotong papan bursa. Meskipun berita resmi baru akan dirilis jam dua siang nanti, namun beberapa investor institusi besar tingkat tinggi tampaknya sudah mulai mencium pergerakan insider trading dan langsung melakukan aksi borong tanpa ampun.

Harga saham INOV pagi ini langsung melonjak:

Rp50 $\rightarrow$ Rp58 $\rightarrow$ Rp67... dan terus meroket hingga terkunci di batas tertinggi harian, Auto Rejection Atas (ARA) pada kenaikan +35% di harga Rp67,5 per lembar saham.

Karena tidak ada satu pun orang yang mau menjual sahamnya di tengah sentimen gila ini, antrean beli melonjak hingga jutaan lot. Dan Valerie Vespera adalah salah satu dari sedikit orang di dunia yang sudah mengamankan posisi paling bawah di harga Rp50 sejak tadi malam.

Valerie melakukan kalkulasi cepat di dalam kepalanya. Sesuai dengan memori masa depannya, saham INOV akan terus mengalami ARA berjilid-jilid setiap hari tanpa henti selama dua minggu berturut-turut. Uang tiga ratus ribu rupiah milik Valerie yang dibelikan 60 lot saham, dalam waktu singkat akan mengalami efek bola salju yang sangat masif murni dari kapitalisme pasar.

Valerie menghentikan langkah kakinya tepat di depan gerbang kompleks luar. Dia menatap layar ponselnya yang menampilkan portofolio hijaunya yang mulai mekar, lalu beralih menatap langit pagi yang cerah di atas kota metropolitan.

Sebuah senyuman dingin yang teramat anggun dan menakutkan terukir di bibir indahnya.

"Selamat menikmati ilusi kemenangan kalian untuk sementara waktu, keluarga Elrod. Manjakanlah ular kecil kalian yang bernama Alethea itu dengan seluruh kemewahan yang kalian miliki," bisik Valerie dengan nada suara yang penuh dengan racun kemenangan yang tenang. "Karena dari dalam kamar pojok bekas gudang yang kalian berikan, aku akan memastikan bahwa nama Valerie Vespera adalah nama terakhir yang akan meruntuhkan seluruh martabat finansial dan merobek takhta bisnis kalian di dunia ini."

Dengan langkah yang mantap dan dipenuhi oleh aura dominasi yang tak kasat mata, Valerie melangkah masuk ke dalam bus kota yang baru saja berhenti di depannya, bersiap untuk menginjakkan kaki di SMA Elit Garuda sebagai awal dari penulisan ulang takdirnya yang absolut.

Bersambung....

.

.

.

.

.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

......................

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!