Setiap hari Senin sampai Sabtu, Nova dan Ain selalu pulang bersama menggunakan jasa travel milik Pak Joko. Sopir yang selalu mengantar mereka adalah Hamid. Awalnya hanya hubungan biasa antara penumpang dan sopir. Hamid selalu bersikap sopan, membantu menaikkan tas, selalu menyapa dengan senyum ramah. Ia pandai bicara, sering membuat dua wanita itu tertawa lepas di dalam mobil.
Nova yang selama ini merasa suaminya dingin dan jarang memperhatikan, mulai merasa nyaman. Hamid selalu memuji kecantikannya, mengatakan bahwa wanita seindah dia seharusnya selalu diperlakukan seperti ratu. Sedangkan Ain, yang selama ini jarang mendapatkan perhatian dari siapa pun, merasa sangat dihargai saat Hamid sering menanyakan kabarnya, memuji sifat baiknya, dan bilang bahwa dia wanita yang tulus meski penampilannya tidak seindah Nova.
"Ain, kamu itu wanita berhati emas. Banyak orang cantik tapi hatinya busuk, tapi kamu... kamu istimewa," kata Hamid suatu sore saat mereka berdua duduk di kursi depan menunggu Nova yang sedang membeli minuman.
Ain tersipu malu, jantungnya berdebar kencang. Untuk pertama kalinya ada pria yang mengatakan hal manis padanya. Ia tidak sadar, itu semua hanyalah taktik Hamid untuk menarik perhatiannya.
Sementara itu, di kursi belakang, Nova juga sudah mulai sering berbagi cerita tentang masalah rumah tangganya pada Hamid. Dan Hamid selalu menjadi pendengar yang baik, bahkan sering berkata, "Kalau saya jadi suamimu, Nova... saya tidak akan pernah membuatmu menangis."
Kalimat itu seperti racun yang perlahan masuk ke dalam hati mereka berdua, membuka pintu untuk hal yang salah.
Semakin lama, hubungan mereka semakin dekat. Hamid mulai berani mengirim pesan pribadi, memanggil dengan panggilan sayang, bahkan mulai mencari alasan untuk bertemu di luar jam kerja.
Pertama yang jatuh ke dalam pelukan Hamid adalah Nova. Suatu hari hujan deras, mobil mogok di tengah jalan. Hamid mengajak Nova masuk ke warung kecil yang sepi, di sana untuk pertama kalinya mereka berciuman dan berjanji untuk saling mencintai. Nova merasa menemukan kembali kebahagiaan yang hilang, tanpa memikirkan bahwa dia sedang mengkhianati suaminya.
Beberapa bulan kemudian, Hamid mulai mendekati Ain dengan lebih agresif. Ia tahu Ain sangat membutuhkan kasih sayang, maka ia memberikan apa yang Ain inginkan. Ia bilang kalau ia mencintainya, kalau Ain lebih tulus dari siapa pun, bahkan berjanji akan menikahinya suatu hari nanti. Ain yang polos langsung percaya, ia memberikan seluruh hatinya, bahkan tubuhnya, kepada Hamid. Ia merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia.
Tanpa mereka sadari, Hamid menjalin hubungan dengan keduanya secara bersamaan. Saat bersama Nova ia bilang tidak mencintai Ain, dan saat bersama Ain ia bilang Nova hanya teman biasa. Ia pandai memutar kata-kata, membuat keduanya percaya bahwa dialah satu-satunya wanita di hatinya.
Hubungan terlarang itu berlangsung diam-diam selama setahun penuh. Mereka sering bertemu di kamar sewaan yang disiapkan Hamid, di tempat sepi, atau bahkan di dalam mobil saat malam hari. Dosa demi dosa terus dilakukan, tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Awal mula terbongkarnya semua ini bermula dari kecerobohan Hamid. Suatu hari ia lupa menghapus pesan di ponselnya. Saat sedang mengantar Nova, ponselnya berbunyi terus menerus. Nova yang penasaran mengambil ponsel itu saat Hamid sedang keluar membeli bensin.
Darahnya mendidih saat membaca pesan-pesan mesra dari Ain.
"Sayang, kapan kita bertemu lagi? Aku rindu pelukanmu."
"Hamid, kamu janji kan akan selalu ada buat aku?"
"Aku sayang kamu lebih dari apa pun, meski orang lain bilang aku tidak cantik, tapi bagimu aku paling istimewa kan?"
Nova gemetar, matanya memerah menahan amarah. Ternyata pria yang ia cintai, yang sudah ia khianati suaminya demi dia, ternyata membagi cintanya dengan orang lain. Dan yang lebih menyakitkan... orang itu adalah sahabatnya sendiri, Ain.
Saat Hamid kembali, Nova langsung melempar ponsel ke wajahnya.
"Kamu penipu! Kamu bajingan! Selama ini kamu mainkan aku dan Ain ya? Kamu pikir kami apa? Mainan?" teriak Nova histeris.
Hamid kaget, wajahnya pucat pasi. Ia mencoba membela diri, "Bukan begitu Nova, dengarkan aku... Ain itu hanya teman, aku cuma kasihan sama dia karena dia tidak pernah dapat kasih sayang..."
"KASIHAN?!" potong Nova, "Kamu tidur dengannya karena kasihan? Kamu bilang cinta padanya karena kasihan? Kamu sudah membuat kami berdua jadi wanita murahan!"
Pertengkaran itu pecah di pinggir jalan, membuat orang-orang sekitar menoleh melihat ke arah mereka. Nova menangis sambil berlari pergi, bertekad untuk memberitahu Ain semua kebenaran. Ia merasa malu, marah, dan hancur karena sudah dibohongi begitu lama.
Sore itu, Nova mengajak Ain bertemu di tempat biasa mereka makan bakso. Ain datang dengan wajah ceria, tidak tahu apa yang sedang menantinya.
"Ain... ada yang harus aku katakan," ucap Nova dengan suara gemetar.
"Apa itu Nov? Kamu kelihatan aneh sekali," jawab Ain sambil tersenyum.
"Kamu... kamu punya hubungan sama Hamid kan?" tanya Nova langsung ke pokok permasalahan.
Wajah Ain langsung berubah merah padam, matanya membulat kaget. "Kamu... kamu tahu dari mana?"
"Aku tahu semuanya Ain! Hamid itu sudah punya istri dan anak! Dan yang lebih parah... dia juga menjalin hubungan denganku sejak setahun yang lalu! Kami berdua sama-sama dibohongi, sama-sama dimainkan seperti boneka!"
Dunia Ain terasa runtuh seketika. Kepalanya terasa berputar, napasnya sesak. "Tidak mungkin... dia bilang aku satu-satunya di hatinya... dia bilang akan menikahiku... dia bilang tidak ada wanita lain selain aku..."
"Itu semua bohong Ain! Dia pembohong besar! Dia tidak cinta siapa-siapa selain dirinya sendiri! Dia cuma mau main-main dengan kita, dia tidak akan pernah meninggalkan keluarganya!"
Ain menangis sejadi-jadinya. Ia merasa sangat hina, sangat memalukan. Ia yang selalu merasa kurang cantik, merasa tidak berharga, ternyata hanya dijadikan pelampiasan saja. Ia merasa najis, merasa kotor karena sudah melakukan hal terlarang itu.
"Kenapa dia lakukan ini padaku... kenapa aku harus sebodoh ini..." isak Ain.
Dua sahabat itu menangis bersama-sama, hancur lebur karena kenyataan pahit yang baru mereka ketahui. Rasa malu begitu besar membungkus hati mereka, takut kalau sampai orang lain tahu, takut nama baik mereka hancur, apalagi mereka berdua adalah guru, orang yang seharusnya menjadi contoh dan teladan.
Seminggu setelah kejadian itu, Ain merasakan ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Ia terlambat datang bulan lebih dari sebulan, sering mual dan muntah, badannya terasa lemas terus menerus. Dengan perasaan takut dan gelisah, ia membeli alat tes kehamilan.
Dan hasilnya... POSITIF.
Ain jatuh terduduk di lantai kamar mandi, tangannya menutup mulut agar tidak berteriak. Ia hamil anak Hamid. Anak dari pria yang sudah menipu dan menghancurkan hidupnya. Ia belum menikah, ia seorang guru yang dihormati banyak orang, kalau sampai orang tahu ia hamil di luar nikah, hidupnya selesai sudah. Ia akan dicemooh, diusir dari pekerjaannya, dianggap wanita jahat dan tidak bermoral.
Ia mencoba menghubungi Hamid, ingin meminta tanggung jawab, tapi nomor Hamid sudah tidak aktif. Ternyata Hamid sudah tahu semua rahasianya terbongkar, ia langsung menghilang, pindah rumah, berhenti bekerja, dan pergi entah ke mana tanpa meninggalkan jejak. Ia membuang dua wanita yang sudah ia hancurkan begitu saja seperti sampah.
Ain datang menemui Nova sambil memegang perutnya yang mulai sedikit membesar. "Nov... aku hamil... anak Hamid... apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku malu sekali... aku tidak sanggup menanggung aib ini..."
Nova juga terkejut dan sedih melihat nasib sahabatnya. "Ain... ini bukan salahmu sepenuhnya, kamu dibohongi sama dia... tapi kalau kamu lahirkan anak ini, nama baikmu akan hancur selamanya. Kamu akan dihina semua orang, keluargamu juga akan malu karena kamu..."
"AKU TAHU!!" teriak Ain sambil menangis, "Aku tahu aku salah, aku tahu aku berdosa besar! Aku sudah hancur, aku sudah tidak punya harga diri lagi! Aku benci diriku sendiri, aku benci Hamid, aku benci semuanya!"
Rasa malu, rasa takut, rasa bersalah dan putus asa memenuhi hati Ain setiap hari. Ia tidak berani keluar rumah, takut orang melihatnya, takut ada yang tahu rahasia besarnya. Ia merasa hidupnya sudah berakhir, tidak ada jalan keluar lain selain menghilangkan janin itu.
Hati Ain sudah mati rasa. Ia tidak mau anak itu lahir ke dunia dan harus menanggung dosa orang tuanya, juga tidak mau aibnya terbongkar dan membuat keluarganya malu besar. Dengan hati yang hancur dan penuh penyesalan, ia memutuskan untuk menggugurkan kandungannya.
Ia mencari orang yang bisa membantu diam-diam, tanpa sepengetahuan siapa pun. Nova awalnya melarang, tapi melihat Ain yang sudah tidak waras karena stres dan rasa malu, akhirnya ia pasrah dan menemani Ain.
Hari itu adalah hari paling gelap dan menyakitkan dalam hidup Ain. Di sebuah rumah sepi yang jauh dari keramaian, ia merasakan sakit luar biasa, bukan hanya di tubuhnya tapi jauh lebih sakit di hatinya. Ia menangis sekuat tenaga saat darah mengalir keluar bersama janin yang baru tumbuh itu.
"Maafkan aku nak... maafkan ibu... ibu tidak punya pilihan lain... maafkan aku..." isaknya sambil memegangi perutnya yang kosong kembali.
Sakit fisiknya sembuh setelah beberapa minggu, tapi luka di hatinya tidak akan pernah bisa hilang. Ia merasa telah membunuh darah dagingnya sendiri karena kebodohan dan kesalahannya. Ia merasa najis, merasa tidak pantas hidup, merasa sangat memalukan di hadapan Tuhan dan semua orang.
Sementara itu, Nova juga tidak kalah hancur. Ia mengaku pada suaminya tentang semua kesalahannya. Suaminya sangat marah dan kecewa, selama berbulan-bulan mereka tidak saling bicara. Rumah tangganya hampir runtuh, nama baiknya sempat tercium oleh tetangga, membuat ia sering dicibir diam-diam.
Dua wanita itu yang dulunya dikenal sebagai guru yang baik dan sopan, sekarang hidup dalam bayang-bayang rasa malu dan penyesalan yang mendalam. Mereka kehilangan harga diri, kehilangan ketenangan hati, semua karena terbuai kata-kata manis seorang penipu.
Setelah setahun berlalu, Hamid muncul kembali. Ia berpikir semua sudah tenang dan orang sudah lupa. Tapi ternyata berita itu sudah menyebar luas. Orang-orang sudah tahu kelakuannya yang buruk.
Saat ia mencoba menemui Nova dan Ain untuk meminta maaf, ia disambut dengan kebencian yang membara.
"JANGAN DEKATI KAMI LAGI!" bentak Ain dengan mata yang tajam, "Kamu sudah hancurkan hidup kami berdua! Kamu buat aku membunuh anakku sendiri! Kamu buat kami jadi bahan tertawaan semua orang! Kamu bajingan yang tidak punya hati!"
"Maafkan aku Ain... aku salah, aku sangat menyesal..." kata Hamid dengan kepala tertunduk.
"Maaf?!" potong Nova, "Maaf tidak bisa mengembalikan apa yang sudah hilang! Maaf tidak bisa menghapus rasa malu yang kita rasakan setiap hari! Kamu pikir kami mau apa dari kamu? Kami cuma ingin kamu hilang dari hadapan kami selamanya! Kamu adalah noda hitam in hidup kami!"
Orang-orang di sekitar juga mulai marah saat tahu Hamid datang kembali. Mereka memakinya, mengusirnya, bahkan beberapa orang yang marah ingin memukulnya. Hamid akhirnya lari terbirit-birit, tidak ada tempat baginya untuk berlindung. Istrinya sudah menceraikannya, anak-anaknya tidak mau mengenalnya lagi, tetangga membencinya, semua orang menjauhinya. Ia hidup sebatang kara, miskin dan penuh penyesalan yang tidak ada gunanya.
Sedangkan Nova dan Ain, meski sudah mendapatkan maaf dari keluarga dan lingkungan, tapi bekas luka itu tetap ada. Mereka belajar pelajaran paling pahit dalam hidup: bahwa cinta yang datang dari jalan yang salah hanya akan membawa kehancuran, rasa malu, dan penyesalan seumur hidup.
Mereka sadar, dosa yang mereka lakukan sangat besar, dan mereka harus menanggung akibatnya seumur hidup. Ain menjadi pendiam dan tertutup, tidak pernah mau dekat dengan pria mana pun lagi. Nova berusaha memperbaiki rumah tangganya dengan susah payah, berusaha kembali menjadi wanita yang baik dan setia.
Kisah mereka menjadi pelajaran bagi semua orang, bahwa dusta dan perselingkuhan tidak akan pernah membawa kebahagiaan, yang ada hanya air mata, rasa malu, dan kehancuran yang sulit diperbaiki.
Dua tahun berlalu. Ain dan Nova sudah berusaha bangkit kembali, mencoba menjalani hidup seperti biasa. Tapi nama buruk itu seakan menempel kuat, tidak mudah hilang begitu saja.
Ain masih mengajar di sekolah yang sama, tapi sikap teman sejawat dan orang tua murid berubah. Dulu mereka selalu menyapa dengan hormat, sekarang sering melihatnya dengan tatapan sinis, berbisik-bisik saat ia lewat.
"Itu dia wanita yang hamil di luar nikah terus menggugurkan kandungannya..."
"Katanya guru, tapi kelakuannya tidak ada bedanya dengan wanita jalanan..."
"Kasihan orang tuanya, punya anak tapi malah bikin malu keluarga..."
Kalimat-kalimat tajam itu sering terdengar di telinga Ain, membuat hatinya perih setiap hari. Ia selalu menunduk berjalan, tidak berani menatap mata orang lain. Setiap kali melihat anak kecil, bayangan janin yang pernah ia kandung selalu muncul di pikirannya, membuat dadanya sesak dan matanya basah. Ia sering bangun tengah malam sambil menangis, meminta ampun kepada Tuhan, merasa dosanya terlalu besar untuk diampuni.
Sementara Nova, meski suaminya Pak Budi sudah mau menerima kembali, tapi rumah tangga mereka tidak pernah sama lagi. Kepercayaan yang hancur tidak bisa disatukan kembali seperti semula. Pak Budi selalu curiga, sering memeriksa ponsel Nova, melarangnya pergi ke mana-mana, bahkan kadang melontarkan kata-kata kasar saat sedang marah.
"Kamu pikir aku masih percaya sama kamu? Dulu kamu juga terlihat baik-baik saja, ternyata di belakangku kamu main dengan sopir travel! Siapa tahu sekarang kamu masih punya pria lain!" bentak Pak Budi suatu hari saat mereka bertengkar.
Nova hanya diam menangis, tidak bisa membela diri. Ia tahu semua ini adalah akibat dari kesalahannya sendiri. Ia menerima semua cacian dan perlakuan dingin itu sebagai hukuman yang pantas ia dapatkan. Ia hidup seperti orang yang dihukum seumur hidup, tidak pernah merasa tenang dan bahagia lagi.
Suatu hari, kabar mengejutkan terdengar di desa mereka. Hamid sakit parah, terbaring lemah di rumah kontrakan sempit, tidak ada yang mau merawatnya. Ia menderita penyakit paru-paru basah yang sudah parah, tubuhnya kurus kering, wajahnya pucat dan penuh kerutan, terlihat jauh lebih tua dari umurnya yang sebenarnya.
Orang-orang bilang, sebelum jatuh sakit, Hamid pernah bekerja di kota lain tapi selalu gagal. Uangnya habis, teman-temannya pergi meninggalkannya, akhirnya ia terpaksa pulang kembali ke kampung halaman dalam keadaan menyedihkan.
Mendengar kabar itu, hati Ain terasa campur aduk. Ia benci Hamid karena sudah menghancurkan hidupnya, tapi di sisi lain ia merasa kasihan melihat nasib pria yang pernah ia cintai itu. Akhirnya dengan hati yang berat, Ain memberanikan diri untuk datang menemui Hamid diam-diam.
Saat masuk ke dalam ruangan yang pengap dan berbau obat-obatan itu, Ain hampir tidak mengenali pria yang terbaring di sana. Hamid yang dulu tampan, ramah, dan penuh percaya diri, sekarang tinggal kulit pembalut tulang.
Melihat Ain datang, mata Hamid berkaca-kaca. Ia mencoba bangun tapi tidak kuat.
"Ain... kamu mau datang menemuiku... padahal aku sudah buat kamu hancur..." suaranya parau dan lemah.
"Kenapa kamu lakukan semua itu dulu Hamid? Kenapa kamu bohongi aku dan Nova? Kenapa kamu hancurkan hidup kami yang tidak pernah berbuat salah sama kamu?" tanya Ain dengan suara gemetar, air mata mulai menetes.
Hamid menangis, air matanya mengalir di pipi keriputnya.
"Ain... aku bodoh... aku jahat... aku akui aku salah besar. Dulu aku merasa hidupku membosankan, istriku keras kepala, ekonomi susah, terus aku ketemu kamu dan Nova... aku merasa dihargai, merasa muda kembali. Aku suka diperhatikan oleh wanita cantik dan baik seperti kalian, jadi aku berbohong, aku berjanji hal yang tidak bisa aku penuhi... aku cuma mau memuaskan nafsuku dan egoku saja. Aku tidak pernah berpikir akibatnya akan separah ini..."
Hamid terbatuk-batuk hebat, darah keluar dari mulutnya.
"Aku pantas dapat semua hukuman ini Ain. Aku sudah kehilangan segalanya: istri, anak, pekerjaan, harga diri... aku hidup seperti orang mati yang masih bernapas. Aku menyesal setiap detik dalam hidupku, tapi penyesalanku sudah terlambat... maafkan aku Ain... maafkan aku dan Nova..."
Ain menangis sejadi-jadinya. Ia melihat pria yang pernah ia cintai, yang pernah ia benci seumur hidupnya, sekarang hancur total karena dosa-dosanya. Ia tidak bisa marah lagi, hanya rasa sedih dan kasihan yang memenuhi hatinya.
Saat Ain sedang merawat Hamid sejenak, tiba-tiba Nova datang. Ia tahu Ain datang ke sini dan langsung mengejarnya.
"Ain! Kamu gila ya?! Kenapa kamu mau datang menemui orang jahat ini?! Dia yang hancurkan hidup kita, dia yang buat kamu kehilangan anakmu, dia yang buat kita jadi bahan tertawaan semua orang! Kenapa kamu masih mau lihat wajahnya?!" teriak Nova marah, matanya merah karena amarah.
"Nov, lihatlah dia... dia sudah mendapatkan hukuman yang pantas. Dia sudah hancur, dia sedang sekarat... apa gunanya kita marah lagi? Itu tidak bisa mengembalikan apa yang sudah hilang," jawab Ain lemah.
"TIDAK BISA!!" potong Nova, "Tidak akan pernah bisa! Kamu pikir aku bisa lupa apa yang dia lakukan?! Aku hampir kehilangan suamiku, anak-anakku hampir tidak punya ibu karena aib ini! Setiap hari aku hidup dalam rasa bersalah dan rasa malu! Kamu pikir itu mudah dilupakan?!"
Saat mereka sedang bertengkar, tiba-tiba Hamid bicara dengan suara pelan.
"Nova... Ain... ada satu hal yang aku sembunyikan selama ini... hal yang paling memalukan dan paling berat di hatiku..."
Kedua wanita itu diam dan menatapnya.
"Sebenarnya... aku tidak cuma punya kalian dua. Selama aku menjalin hubungan sama kalian, aku juga punya hubungan dengan tiga wanita lain di tempat yang berbeda. Aku penipu sejati... aku tidak cinta siapa-siapa, aku cuma mau mengambil keuntungan dari kalian. Aku minta uang, aku minta barang-barang, aku manfaatkan kasih sayang kalian yang tulus untuk keuntunganku sendiri..."
Kalimat itu seperti petir menyambar di telinga Nova dan Ain. Ternyata mereka bukan satu-satunya korban, Hamid sudah melakukan hal yang sama pada banyak wanita lain. Mereka merasa semakin hina, merasa semakin bodoh karena sudah percaya pada kata-kata manis penipu ulung itu.
"Kamu... kamu benar-benar manusia paling jahat yang pernah aku kenal..." kata Nova dengan suara dingin, matanya penuh kebencian dan rasa jijik.
"Maafkan aku... aku tahu aku tidak pantas diampuni... aku cuma mau mengaku sebelum aku mati, supaya hatiku sedikit lebih lega..." Hamid menangis lagi, napasnya semakin sesak.
Tiga hari setelah itu, kabar menyebar bahwa Hamid sudah meninggal dunia. Tidak ada keluarga yang mau datang mengurusnya, tidak ada teman yang mau mengantarnya ke pemakaman. Hanya tetangga sekitar yang merasa kasihan, akhirnya memakamkannya dengan sederhana di pemakaman umum, tanpa doa yang panjang, tanpa air mata kerabat.
Nova dan Ain tidak datang ke pemakaman. Bagi mereka, Hamid sudah mati jauh sebelum napas terakhirnya keluar. Ia mati saat ia memilih jalan dosa dan kebohongan itu.
Namun kematian Hamid membawa perubahan besar dalam hati kedua wanita itu. Mereka sadar, meski Hamid adalah penyebab utama semua kesengsaraan ini, mereka juga punya bagian salah karena melanggar batas, karena melupakan aturan agama dan norma masyarakat.
Ain mulai rajin pergi ke tempat ibadah, berdoa dan meminta ampun setiap hari. Ia berjanji akan menjalani hidup dengan benar, menjadi wanita yang baik dan bermoral, untuk menebus dosa-dosanya yang lalu. Perlahan tapi pasti, orang-orang mulai melihat perubahannya. Ain yang dulu pendiam dan murung, sekarang menjadi wanita yang lembut, sabar, dan selalu siap membantu orang lain. Nama buruknya perlahan mulai tergantikan dengan nama baik yang baru ia bangun dengan susah payah.
Nova juga berusaha memperbaiki diri sepenuhnya. Ia menjadi istri yang lebih baik, lebih sabar, lebih setia. Ia menerima segala kekurangan suaminya, berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anak dan keluarganya. Meskipun bekas luka itu masih ada, tapi rumah tangganya mulai terasa lebih hangat dan damai. Pak Budi juga perlahan mulai bisa melupakan masa lalu, percaya kembali pada istrinya.
Setelah lima tahun berlalu, Ain dan Nova bertemu kembali di sebuah acara pernikahan teman lama. Keduanya sudah terlihat berbeda. Ain terlihat lebih tenang dan berwibawa, meski belum menikah tapi ia bahagia dengan hidupnya. Ia sudah diangkat menjadi kepala sekolah, dihormati dan disayangi oleh murid-murid serta orang tua murid. Nova juga terlihat lebih bahagia, rumah tangganya sudah damai, anak-anaknya tumbuh menjadi anak yang baik dan pintar.
Mereka duduk berdua di sudut ruangan, mengenang masa lalu yang kelam itu.
"Kamu tahu Nov... dulu aku pikir hidupku sudah selesai, aku pikir aku tidak akan pernah bisa bangkit lagi. Tapi ternyata Tuhan masih kasih aku kesempatan untuk berubah dan memperbaiki diri," kata Ain sambil tersenyum tipis.
"Benar Ain. Kita memang salah besar, kita harus menanggung rasa malu dan kesedihan itu, tapi itu semua jadi pelajaran paling berharga. Sekarang kita tahu, apa yang salah dan apa yang benar. Cinta yang datang dari jalan yang haram tidak akan pernah membawa kebahagiaan, yang ada hanya kehancuran dan penyesalan," jawab Nova dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ya... dan yang paling penting, kita tidak boleh menyalahkan nasib atau orang lain terus-menerus. Kita juga punya tangan sendiri, punya mata sendiri, kita memilih jalan itu sendiri. Jadi kita juga harus bertanggung jawab atas akibatnya," tambah Ain.
Kisah mereka menjadi cerita pelajaran yang sering diceritakan dari mulut ke mulut, bukan lagi sebagai cerita aib, tapi sebagai kisah peringatan. Kisah tentang dua wanita baik yang hampir hancur karena terbuai kata-kata manis penipu, tapi akhirnya bangkit kembali dan menemukan jalan yang benar.
Mereka sadar, harga diri dan nama baik itu sangat mahal, butuh waktu bertahun-tahun untuk membangunnya kembali setelah hancur. Dan mereka berjanji, tidak akan pernah lagi melanggar batas, tidak akan pernah lagi menjual harga diri mereka demi cinta palsu dan janji kosong yang tidak ada jaminannya.
Enam tahun sudah berlalu sejak semua kejadian itu berlalu. Ain kini sudah menjadi Kepala Sekolah di tempat ia mengajar, dihormati dan disegani banyak orang. Hidupnya tenang, meski masih sendiri, ia merasa cukup bahagia dengan pekerjaannya dan kebaikan orang-orang di sekitarnya. Luka di hatinya sudah semakin sembuh, meski bekasnya tidak akan pernah hilang.
Suatu sore, saat sedang pulang dari sekolah, seorang wanita paruh baya dengan dua anak kecil menghadangnya di depan gerbang. Wajah wanita itu terlihat lelah dan penuh kesedihan.
"Ibu Ain... benarkah ini Ibu Ain?" tanya wanita itu dengan suara gemetar.
Ain mengernyitkan dahi, mencoba mengingat-ingat wajah itu. "Ya, saya sendiri. Ibu siapa ya? Ada keperluan apa?"
"Saya... saya Istri Hamid," jawab wanita itu pelan.
Jantung Ain seakan berhenti berdetak. Istri Hamid... wanita yang selama ini tidak pernah terlibat, tapi paling menderita karena perbuatan suaminya. Ain merasa malu luar biasa, langsung menundukkan kepalanya.
"Maafkan saya... saya tahu saya salah besar, saya tahu saya sudah menyakiti Ibu juga..." kata Ain dengan suara hampir tidak terdengar.
Tapi wanita itu malah menangis dan memegang tangan Ain. "Jangan bicara begitu Bu... saya tidak datang untuk mencari masalah atau memarahi Ibu. Saya sudah tahu segalanya, saya tahu Ibu dan Bu Nova juga korban penipuan suami saya. Saya sudah lama memaafkan kalian, karena saya tahu kalian tidak tahu kalau dia sudah punya istri dan anak."
Mata Ain membelalak kaget. Ia tidak menyangka istri Hamid akan bersikap sebaik ini.
"Terus... kenapa Ibu datang menemui saya?" tanya Ain pelan.
"Sebenarnya... setelah Hamid meninggal, hidup saya makin sulit. Ekonomi susah, saya sakit-sakitan, tidak mampu membiayai sekolah anak-anak. Saya sudah berusaha mencari kerja tapi badan saya tidak kuat. Saya tahu saya tidak pantas meminta apa-apa pada Ibu, tapi saya tidak tahu harus pergi ke mana lagi..." isak wanita itu.
Dua anak kecil di sampingnya juga ikut menangis, wajah mereka kurus dan pakaiannya sederhana. Hati Ain terasa tersayat. Anak-anak ini tidak bersalah, mereka adalah korban dari kesalahan ayahnya sendiri.
"Jangan bicara begitu Bu. Mari masuk ke dalam, kita bicara di dalam," ajak Ain lembut.
Sejak hari itu, Ain mulai membantu keluarga mantan istri Hamid. Ia memberikan uang, makanan, pakaian, bahkan memasukkan kedua anak itu ke sekolah tempat ia bekerja dengan biaya gratis. Ia merasa ini adalah cara terbaik untuk menebus dosanya, membantu orang yang paling menderita akibat kesalahan yang pernah ia lakukan bersama Hamid.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!