Indonesia
NovelToon NovelToon

Apocalyps Girl

CHAPTER 1 — TERLAHIR KEMBALI

CHAPTER 1 — TERLAHIR KEMBALI

"Bagus. Bagus sekali! Selama delapan tahun aku bertahan hidup dari zombie, ternyata aku mati karena sahabatku sendiri!"

Lily berteriak ke arah langit yang mendung. Suaranya dipenuhi amarah, kebencian, dan penyesalan.

Perlahan, tubuhnya ditelan oleh gerombolan zombie. Ia memejamkan mata, menahan rasa sakit saat gigi-gigi tajam para zombie merobek tubuhnya. Hal terakhir yang dilihatnya sebelum kesadarannya menghilang adalah lautan zombie yang terus bergerak ke arahnya.

Tepat sebelum kesadarannya benar-benar lenyap, sebuah suara asing terdengar di dalam kepalanya.

Ding!

[Berhasil menganalisis subjek dengan tingkat dendam yang sangat tinggi.]

[Apakah tuan rumah ingin mengikat sistem?]

[Ya/Tidak]

Dalam keadaan setengah sadar, Lily secara refleks memilih "Ya".

Sesaat kemudian, semuanya berubah menjadi gelap gulita.

---

Sinar matahari pagi menembus celah tirai sebuah mansion mewah dan menyinari wajah cantik seorang gadis yang sedang tertidur. Alisnya berkerut seolah mengalami mimpi buruk yang mengerikan.

Tiba-tiba, gadis itu membuka matanya lebar-lebar dan duduk tegak.

"Hah... hah... hah..."

Napasnya memburu. Keringat dingin membasahi dahinya.

Setelah berhasil menenangkan diri, ia melihat sekeliling dengan linglung.

"Eh?"

Bukankah dia sudah mati setelah didorong sahabatnya ke tengah gelombang zombie?

Lalu... di mana ini?

Sebelum sempat memahami situasinya, sebuah jendela transparan muncul di hadapannya, diikuti suara mekanis yang dingin.

Ding!

[Berhasil mengikat sistem dengan jiwa tuan rumah.]

[Apakah ingin menerima Hadiah Pemula?]

[Ya/Tidak]

Lily terkejut bukan main.

"Apa ini?"

Matanya membelalak.

"Jangan-jangan... ini jari emasku setelah terlahir kembali?"

Tanpa ragu, ia memilih "Ya".

Ding!!!

[Selamat, tuan rumah mendapatkan Ruang Dimensi Tanpa Batas.]

[Selamat, tuan rumah mendapatkan 3 Butir Pil Kecantikan.]

[Selamat, tuan rumah mendapatkan Elemen Api, Air, Tanah, Petir, Tanaman, Cahaya, dan Kegelapan.]

Lily terdiam. Matanya membelalak melihat hadiah yang diberikan sistem.

Sebelum sempat bergembira lebih lama, pintu kamarnya diketuk.

Tok.

Tok.

Tok.

"Sayang, my honey, wake up. Apa kamu tidak sekolah?"

Suara lembut seorang wanita terdengar dari balik pintu.

Tubuh Lily langsung membeku.

Itu adalah suara ibunya, Grace Abraham.

Mata Lily perlahan memerah.

Di kehidupan sebelumnya, Mommy, Daddy, dan kedua kakaknya meninggal pada masa-masa awal kiamat. Selama delapan tahun terakhir, ia selalu merindukan kehangatan keluarganya.

"Sayang? Kamu sudah bangun?"

Panggilan kedua dari sang ibu membuat air mata Lily jatuh tanpa sadar.

Ia segera beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu.

Tanpa mengatakan apa pun, Lily langsung memeluk ibunya erat-erat.

Grace terkejut.

"Hey, honey. Ada apa? Apa kamu sakit?"

Nada suaranya dipenuhi kekhawatiran.

"Kalau memang tidak enak badan, tidak perlu sekolah hari ini."

Lily menggeleng sambil menghapus air matanya.

"Aku tidak apa-apa, Mom. Aku cuma mimpi buruk."

Meski merasa ada yang aneh, Grace tetap mengangguk.

"Baiklah. Kalau ada yang sakit, bilang pada Mommy, ya?"

Wanita itu lalu mengelus rambut putrinya dengan lembut.

"Sekarang mandi dan bersiaplah. Setelah itu sarapan. Mommy tunggu di bawah."

"Baik, Mom."

Setelah ibunya pergi, Lily kembali ke kamar dan berdiri di depan cermin.

Ia hampir tidak mengenali dirinya sendiri.

Di kehidupan sebelumnya, rambutnya kusut, kulitnya kering, dan tubuhnya kurus karena bertahun-tahun bertahan hidup di dunia pasca-apokaliptik.

Namun sekarang, kulitnya kembali putih dan sehat. Tubuhnya juga tampak segar seperti sebelum kiamat terjadi.

Saat sedang memperhatikan pantulan dirinya, Lily tiba-tiba teringat hadiah dari sistem.

"Sistem, bagaimana cara mengambil hadiahnya?"

(Ding!!! Nona dapat mengambil hadiah melalui Penyimpanan Sistem.)

‎Suara sistem terdengar dingin seperti biasanya.

‎Lily segera meminta sistem mengeluarkan satu Pil Kecantikan.

‎Saat itu ia sudah berada di kamar mandi.

‎Seketika, sebuah pil muncul di telapak tangannya.

‎Tanpa berpikir panjang, Lily langsung menelannya.

‎Tidak lama kemudian, bau tidak sedap mulai tercium.

‎Lily menunduk dan membelalakkan matanya.

‎Cairan hitam pekat perlahan keluar dari pori-pori tubuhnya.

‎"Ewww! Bau banget! Gilakkk! Huekkk!"

‎Lily hampir muntah saat mencium bau busuk yang berasal dari tubuhnya sendiri.

‎Tanpa membuang waktu, ia segera mandi dan membersihkan seluruh tubuhnya.

‎Setelah selesai mandi, Lily membuka lemari pakaiannya.

‎Namun saat melihat isi lemari tersebut, ia mendengus kesal.

‎Sebagian besar pakaian yang ia miliki berukuran sangat besar dan memiliki model yang kuno.

‎Rok panjangnya bahkan hampir mencapai mata kaki.

‎Hal itu karena saat sekolah dulu Lily sering berpenampilan seperti seorang nerd.

‎Lebih parah lagi, gaya berpakaian itu muncul karena saran sahabatnya.

‎Sahabatnya pernah mengatakan bahwa laki-laki lebih menyukai perempuan yang polos dan sederhana.

‎Mengingat hal itu, Lily langsung kesal pada dirinya sendiri.

‎Bagaimana mungkin ia bisa begitu mudah mempercayai orang yang akhirnya mengkhianatinya?

‎Pada akhirnya, Lily memilih mengenakan seragam sekolah yang baru dan lebih pas di tubuhnya.

‎Setelah selesai berpakaian, ia berdiri di depan cermin sekali lagi.

‎Ketika melihat pantulan dirinya, Lily hanya bisa melongo.

‎"Oh my God..........."

CHAPTER-2 BERANGKAT SEKOLAH

"Oh my God! Mukaku cantik banget, gilak!" teriak Lily dengan gembira saat melihat pantulan dirinya di cermin.

Wajah Lily yang tadinya agak kurus kini terlihat lebih berisi. Bibirnya semerah ceri, rambutnya bergelombang indah, dan tubuhnya juga tampak lebih berisi di beberapa bagian.

Puas mengagumi perubahan dirinya, Lily segera mengenakan seragam sekolah dan memoles wajahnya dengan sedikit makeup. Setelah selesai, ia turun ke lantai satu.

Saat berada di tangga, matanya kembali berembun ketika melihat Daddy, kedua abangnya, dan kakaknya. Namun, buru-buru ia menahan air matanya.

Begitu sampai di bawah, semua orang langsung menoleh dan melongo melihatnya.

"Hehehe, pagi Mom, Dad, Kak, Bang."

Yang pertama sadar adalah sang kakak, Azalea Mahendra.

"Lo cantik banget kalau begini. Jauh lebih bagus daripada biasanya yang kayak orang zaman kuno," ujarnya terus terang.

Lily tidak bisa membantah karena penampilannya sebelumnya memang sedikit kuno.

Melihat suasana yang canggung, sang kepala keluarga, Mike Tison Mahendra, berdeham pelan.

"Ehem. Lily, ayo duduk dan habiskan sarapanmu."

"Baik, Dad."

Lily pun duduk di samping sang Mommy.

Setelah semua selesai makan, Daddy kembali berbicara.

"Honey, hari ini kamu berangkat sama abangmu dulu ya. Daddy ada meeting penting. Tidak apa-apa, kan?"

"Nggak apa-apa kok, Dad. Santai aja. Tapi tanya dulu, Abang mau bawa Lily atau nggak."

Alasannya sederhana. Sang abang terkenal dingin setengah mati.

"Alex, sekalian antar adikmu ya," kata Daddy.

"Hm, tunggu di depan."

Jawaban singkat itu datang dari Alex Putra Mahendra

Tak lama kemudian mereka sudah berada di luar rumah.

"Pergi dulu ya, Mom. Bye!"

Lily menyalami tangan sang ibu. Saat mendekati motor, Alex langsung menyodorkan helm berwarna pink kepadanya.

Lily menerimanya dengan senang hati.

Tak lama kemudian mereka pun berangkat ke sekolah.

(oh iya Azalea tu sudah kuliah ya )

---

Sesampainya di sekolah, Lily segera turun dari motor.

"Aku langsung ke kelas ya, Bang."

Tanpa menunggu jawaban, Lily langsung berjalan menuju kelas yang masih cukup sepi.

Tak lama kemudian satu per satu siswa mulai berdatangan. Banyak yang tampak kebingungan melihat kehadiran Lily.

Kringggg!

Bel masuk berbunyi.

Para siswa langsung duduk di bangku masing-masing. Tak lama kemudian guru pun masuk ke kelas.

"Oke, anak-anak. Hari ini kita akan memulai pelajaran Biologi. Tapi sebelum itu, mari kita absen dulu."

Satu per satu nama dipanggil hingga akhirnya nama Lily disebut.

"Lily Mahendra."

"Hadir, Bu."

Lily langsung mengangkat tangannya.

Seketika seluruh siswa, guru, bahkan sahabatnya sendiri terkejut.

Pasalnya, selama ini Lily selalu berpenampilan nerd atau cupu.

Setelah berhasil mengendalikan keterkejutannya, sang guru melanjutkan pelajaran.

"Baik, anak-anak. Silakan buka buku paket halaman 142."

---

Kringggg!

Bel istirahat berbunyi.

"Baik, anak-anak. Kita akhiri pelajaran sampai di sini. Oh iya, tugas minggu lalu tolong dikumpulkan. Lily, bantu Ibu membawa buku tugas teman-temanmu ya."

"Baik, Bu."

Setelah itu guru pun keluar dari kelas.

Seketika kelas menjadi riuh.

Saat sedang asyik melamun, Lily dikejutkan oleh suara yang sangat familiar.

"Lily."

Ternyata itu adalah Cici Karina, sahabatnya.

Dengan enggan, Lily menatap Cici seolah bertanya, "Ada apa?"

Melihat sikap Lily yang dingin, Cici tampak terkejut. Biasanya Lily selalu terlihat senang ketika ia mendekat.

Namun kali ini berbeda.

"Lily, kenapa kamu mengubah penampilanmu seperti ini? Kamu lupa kalau Devano nggak suka cewek nakal?"

Nada bicaranya terdengar lembut seperti biasa.

Namun Lily bisa melihat jelas rasa iri di mata Cici saat melihat perubahan dirinya.

"Oh, cuma lagi pengen aja."

Lily berdiri dari kursinya.

"Ya sudah ya, aku mau ke kantin dulu. Bye."

Tanpa melihat ke belakang, Lily langsung pergi meninggalkan kelas.

Sementara itu, Cici hanya bisa berdiri dengan wajah syok.

---

Saat sedang berjalan menuju kantin, suara sistem tiba-tiba terdengar di kepalanya.

(DING!)

(Misi baru telah diberikan!)

(Selamatkan seorang wanita yang akan terkena bola basket.)

(Hadiah: Rahasia.)

(Misi sedang berlangsung...)

Tanpa membuang waktu, Lily langsung berlari menuju lapangan basket.

Saat hampir sampai, ia melihat sebuah bola basket melayang dengan kecepatan tinggi ke arah seorang siswi yang sedang berjalan tanpa memperhatikan sekitar.

Tanpa berpikir panjang, Lily langsung berlari.

"AWASSSSS!"

Teriakannya membuat seluruh perhatian orang-orang di sekitar langsung tertuju padanya dan wanita tersebut.

Tepat sebelum bola mengenai kepala wanita itu, Lily langsung memeluknya dan menjatuhkan diri ke samping.

Bruk!

Mereka berguling di atas lapangan.

Setelah semuanya aman, Lily segera duduk dan memeriksa keadaan wanita itu.

"Kamu nggak apa-apa?"

Wanita itu tersenyum lembut.

"Nggak apa-apa kok. Cuma lecet sedikit. Makasih ya."

Lily langsung menghela napas lega.

"Syukurlah."

"Kamu mau ke UKS dulu nggak?" tanya Lily.

"Nggak usah. Cuma luka kecil kok."

Wanita itu tersenyum.

"Oh iya, nama kamu siapa?"

"Oh, namaku Lily Mahendra. Kalau kamu?"

"Namaku Aurora Sclear. Salam kenal ya."

"Salam kenal juga."

Setelah memastikan Aurora baik-baik saja, Lily pun pamit.

"Oh, kalau begitu aku pergi dulu ya. Lain kali kalau jalan, hati-hati."

Aurora hanya tersenyum dan melambaikan tangannya.

---

Saat sedang berjalan di lorong sekolah, notifikasi sistem kembali berbunyi.

(DING!)

(Misi berhasil diselesaikan.)

+Apakah Tuan Rumah ingin membuka hadiah misi?)

(YA / TIDAK)

Lily segera menekan pilihan YA pada layar transparan sistem.

(DING!)

(Selamat! Tuan Rumah memperoleh uang sebesar 3 triliun rupiah.)

(Selamat! Elemen Air telah berhasil dibangkitkan.)

(Selamat! Anda mendapatkan efek ×3 untuk setiap barang yang masuk ke Ruang Dimensi Sistem.)

Lily hanya bisa menahan napas melihat hadiah yang sangat luar biasa itu.

Setelah menenangkan diri, ia kembali berjalan menuju kelas.

---

Beberapa jam kemudian...

KRINGGGG~~~

Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi.

Saat ini Lily sudah berada di area parkiran.

Rencananya, ia akan meminta izin kepada Alex untuk pergi sebentar. Tentu saja tujuan sebenarnya adalah mulai menimbun persediaan makanan untuk menghadapi kiamat zombie di masa depan.

Tak lama kemudian Alex muncul.

"Maaf lama. Tadi aku ada urusan."

"Oh, nggak apa-apa kok."

Lily tersenyum.

"Oh iya, Bang. Aku pulang sendiri ya naik taksi. Soalnya ada barang yang mau kubeli."

"Kan bisa sama Abang."

"Emm... aku mungkin lama. Barangnya juga banyak. Takut nggak muat di motor."

Alex berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk.

"Hm. Tapi jangan lama-lama. Nanti dimarahi Mommy."

"Okeeeee, Bang. Bye!"

Setelah berpamitan, Lily langsung keluar gerbang sekolah dan masuk ke taksi yang sudah ia pesan.

"Ayo Pak, ke Mall Kota."

"Siap, Non."

Tak lama kemudian mereka pun sampai di tujuan.

"Berapa, Pak?"

"Seratus tujuh puluh empat ribu, Non."

Lily memberikan dua lembar uang seratus ribu.

"Kembaliannya buat Bapak aja."

Tanpa menunggu jawaban, Lily langsung masuk ke dalam mall.

"Hmm... ke mana dulu ya?"

Ia berpikir sejenak.

"Ah, ke toko pakaian dulu saja."

Lily langsung berjalan menuju sebuah toko pakaian.

"Selamat datang, Kak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya pegawai toko.

"Tolong siapkan sepuluh set pakaian musim dingin, sepuluh set pakaian musim panas, dua puluh kaos berbagai warna, pakaian untuk anak-anak, bayi, orang tua, lansia, pokoknya semua deh. Oh iya, siapkan juga beberapa baju sehari-hari."

Begitu mendengar pesanan itu, pegawai toko langsung terbengong.

Pasalnya, Lily membeli pakaian dalam jumlah yang sangat banyak, padahal ia masih mengenakan seragam sekolah.

"Mbak?"

"..."

"Mbak?"

"..."

"MBAK!"

Pegawai itu langsung tersadar.

"Maaf, Kak!"

Ia segera meminta maaf dan mulai menyiapkan seluruh pesanan Lily.

Setelah semua selesai dihitung, kasir pun menyebutkan total belanja.

"Total belanja Kakak adalah Rp145.567.000. Karena Kakak berbelanja dalam jumlah besar, Kakak mendapatkan diskon 10%."

Lily mengangguk.

"Baik."

Tanpa ragu ia langsung membayar seluruh tagihan.

Saat sudah keluar dari toko, tiba-tiba seseorang memanggil namanya.

"Lily..."

Langkah Lily langsung terhenti.

Perlahan ia menoleh ke belakang.

Bersambung...

CHAPTER- 3 MENGUNJUNGI RUANG DIMENSI

"Lily!"

Mendengar namanya dipanggil, Lily menoleh ke belakang. Saat melihat siapa yang memanggilnya, ia sedikit bingung. Pasalnya, ada seorang laki-laki berusia sekitar dua puluh tahun yang sedang berlari ke arahnya.

Setelah jarak mereka cukup dekat, laki-laki itu langsung bertanya dengan napas terengah-engah.

"Hosh... hosh... hosh... kamu Lily, kan?"

"Iya, aku Lily. Kamu siapa ya?" tanya Lily bingung karena merasa tidak pernah melihat laki-laki itu sebelumnya.

"Ini aku, Athar. Athar Adiwijaya," ucapnya sambil memperkenalkan diri.

"Athar?! Kau Athar, anak Paman Damar, kan? Adik Mommy Grace?" tanya Lily dengan mata berbinar.

"Iya, aku Athar, anak Paman Damar. Eh, kita ke kafe yuk, ngobrol santai," ajaknya.

Namun, Lily langsung menolak dengan halus.

"Aduh, gimana ya? Aku lagi nggak bisa nih. Emm... lain kali aja deh, soalnya aku masih banyak kerjaan."

"Oh, lagi sibuk ya? Nggak apa-apa deh. Tapi nanti malam kayaknya Papi sama Mami mau datang ke rumahmu. Papi bilang dia kangen sama Tante Grace."

"Oh, oke deh. Kalau gitu sampai jumpa nanti malam. Bye!"

Lily pun pergi dan dibalas dengan lambaian tangan oleh Athar.

---

Skip, di luar mal kota.

Lily segera memesan taksi. Tidak lama kemudian, taksi yang ia pesan pun tiba.

"Dengan Nona Lily Mahendra?" tanya sopir taksi.

"Iya Pak, itu saya."

Lily langsung masuk ke dalam mobil.

"Pergi ke Pasar Ibu Kota ya, Pak."

"Siap, Non."

(Btw, belanjaan Lily masih ditenteng yaaa.)

Tidak lama kemudian, mobil taksi pun sampai di Pasar Ibu Kota.

"Berapa, Pak?" tanya Lily.

"Seratus dua puluh lima ribu aja, Non."

Setelah membayar, Lily tidak langsung masuk ke pasar. Ia terlebih dahulu menuju sebuah gang kecil untuk memasukkan belanjaannya ke dalam ruang dimensi.

Setelah semua belanjaannya masuk ke ruang dimensi, Lily pun mulai berbelanja.

Tempat pertama yang ia kunjungi adalah kios bahan pokok. Ia membeli beras, jagung, ketan hitam, ketan putih, gandum, tepung terigu, tepung ketan, tepung beras, tepung sagu, gula, dan garam.

Masing-masing dibeli sebanyak tiga ratus kilogram.

Jika ada yang bertanya, Lily hanya menjawab bahwa ia sedang membuka usaha.

Setelah itu, Lily pergi ke kios bumbu-bumbu. Ia membeli lada, ketumbar, kayu manis, asam jawa, jinten, cengkeh, pala, dan kemiri.

Masing-masing dibeli sebanyak sepuluh kilogram.

Selesai dari sana, Lily beranjak ke kios benih tanaman.

Seperti sebelumnya, Lily kembali berbelanja besar-besaran.

Ia membeli benih terong, sawi, cabai, kol, brokoli, kangkung, bayam, tomat, mentimun, gambas, labu siam, anggur, melon, semangka, serta beberapa bibit pohon seperti apel, durian, rambutan, tin, kedondong, nanas, dan manggis.

Masing-masing benih dibeli sepuluh bungkus, sedangkan bibit pohon dibeli tiga batang untuk setiap jenis.

Setelah itu, Lily pergi ke peternakan.

Ia membeli ayam petelur jantan dan betina, ayam potong jantan dan betina, ayam kampung jantan dan betina, serta beberapa bebek jantan dan betina.

Tak lupa, Lily juga membeli anak kambing, sapi, kerbau, dan kuda.

Masing-masing dibeli dua ekor yang terdiri dari satu jantan dan satu betina.

Setelah dirasa cukup, Lily memberikan alamat gudang sebagai tempat pengiriman semua barang belanjaannya.

Untuk ternak, Lily sengaja menyuruh anak buah Daddy-nya membuat beberapa kandang di belakang gudang.

Setelah semuanya selesai, Lily memesan taksi dan pulang.

---

Skip, rumah keluarga Mahendra.

Saat sampai di rumah, waktu menunjukkan pukul 16.46.

Lily langsung masuk ke dalam rumah.

Baru saja sampai di ruang tengah, ia melihat Daddy, Mommy, dan kakaknya sedang duduk di ruang keluarga.

Mommy Grace yang menyadari putri bungsunya telah pulang segera bertanya.

"Honey, kamu dari mana saja? Jam segini baru pulang?"

"Aku beli sesuatu, Mom. Untuk tugas sekolah," jawab Lily sambil berjalan mendekati keluarganya.

Daddy Mike kemudian ikut bertanya.

"Sayang, kamu menyuruh anak buah Daddy membuka gudang dekat dermaga ya? Soalnya Daddy dapat laporan kalau kamu memberi perintah kepada mereka."

"Oh iya, Dad. Aku mau buka peternakan di sana. Gabut soalnya di rumah terus. Hitung-hitung mengisi waktu luang."

"Oh begitu. Kalau begitu tidak apa-apa. Sekarang kamu naik ke atas, mandi dan ganti baju."

"Oke, Dad."

Lily pun segera naik ke lantai dua menuju kamarnya.

Setelah mandi dan berganti pakaian, Lily turun kembali ke bawah.

"Dad, Mom, Lily izin ke gudang dermaga ya. Mau lihat ternak Lily."

"Iya, hati-hati ya sayang. Diantar siapa?" tanya Daddy Mike.

"Mang Jajang."

Daddy Mike pun mengangguk setuju.

---

Skip, gudang dekat dermaga.

Saat ini Lily sudah berada di gudang dekat dermaga.

Ia langsung masuk ke dalam gudang.

Begitu melihat isi gudang, matanya langsung berbinar.

Bagaimana tidak?

Gudang itu dipenuhi berbagai persediaan yang sangat berguna sebelum kiamat zombie melanda.

Dengan lambaian tangan, seluruh barang yang ada di gudang langsung masuk ke dalam ruang dimensi.

Begitu pula dengan semua ternak yang berada di belakang gudang.

Setelah semuanya selesai, Lily bertanya kepada sistem.

"Sistem, aku bisa nggak masuk ke ruang dimensiku?"

DING!!!

"Tuan bisa masuk ke ruang dimensi dengan mengucapkan kata 'masuk', dan mengucapkan kata 'keluar' saat ingin keluar," jawab sistem.

Lily memejamkan matanya lalu mengucapkan satu kata.

"Masuk."

Sesaat kemudian, angin sejuk menerpa wajahnya.

Saat membuka mata, Lily langsung terkejut.

Pemandangan di depannya sungguh luar biasa.

Terdapat air terjun yang indah, kolam spiritual yang jernih, serta padang rumput luas yang membentang sejauh mata memandang.

Di sekelilingnya berdiri pagar besi tinggi yang berfungsi agar hewan ternak tidak kabur.

Ada pula kebun sayur yang tumbuh secara otomatis dari benih-benih yang sebelumnya Lily masukkan ke ruang dimensi.

Di tengah-tengah semuanya berdiri sebuah mansion mewah yang megah.

Lily sampai terdiam cukup lama melihat pemandangan luar biasa itu.

Namun sebelum rasa terkejutnya benar-benar mereda, suara sistem kembali terdengar.

DING!!!

"Misi baru!"

"Selamatkan seorang pria yang sedang dikepung musuh."

"Hadiah: Rahasia."

"Misi sedang berlangsung."

Lily langsung bersemangat mendengar misi baru dari sistem.

Pasalnya, hadiah yang diberikan sistem tidak pernah biasa.

Tanpa membuang waktu, Lily segera memejamkan mata.

"Keluar."

Seketika udara malam yang dingin menyambutnya.

Tak lama kemudian, terdengar suara tembakan pistol dan benturan senjata dari arah tidak jauh dari gudang.

Lily segera berlari menuju sumber suara.

Saat hampir sampai, matanya langsung membelalak lebar.

"Itu kan..."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!