Matahari baru saja naik beberapa jengkal di ufuk timur, tetapi hawa panas sudah mulai terasa di kulit. Damar berjalan menyusuri jalanan tanah desa dengan langkah yang agak diseret. Kaos oblongnya yang berwarna putih sudah berubah mangkrak menjadi abu-abu kecokelatan, penuh dengan noda tanah kering di bagian pinggirnya. Celana jin longgar yang dipakainya pun sudah berlubang di bagian lutut, ditambal seadanya dengan benang yang warnanya bahkan tidak senada. Dengan kacamata berbingkai hitam tebal yang terus melorot di hidungnya, penampilan Damar memang selalu berhasil mengundang perhatian, tapi perhatian yang sayangnya tidak pernah bernada positif.
"Woi, Damar! Sini lu!" teriak sebuah suara cempreng dari arah gardu ronda.
Damar menghentikan langkahnya, lalu menoleh. Di sana ada Jaka dan dua temannya yang sedang asyik merokok sambil minum kopi sasetan. Damar membetulkan letak kacamatanya dengan ujung telunjuk.
"Iya, Bang Jaka? Ada apa?" tanya Damar pelan, nyaris tenggelam oleh suara mesin motor yang lewat.
"Sini dulu, jangan buru-buru. Elu mau ke mana pagi-pagi begini dengan bentukan kayak gembel begitu?" Jaka terkekeh, menyikut temannya yang langsung ikut tertawa terbahak-bahak.
"Mau ke rumah Pak RT, Bang. Katanya ada rumput liar yang perlu dibersihkan di kebun belakangnya," jawab Damar jujur, sambil menunduk menatap sandal jepitnya yang tipis sebelah.
Jaka mengembuskan asap rokoknya ke udara, menatap Damar dari atas sampai bawah dengan tatapan merendahkan. "Halah, kerjaan lu dari dulu kagak berubah ya? Kalau kagak bersihin rumput, ya angkat-angkat karung. Kagak cape apa hidup miskin melulu? Penampilan juga dibenerin napa, culun amat jadi cowok."
"Ya mau bagaimana lagi, Bang. Yang penting halal dan bisa buat makan hari ini," kata Damar, mencoba tersenyum meski hatinya agak sepet mendengar ucapan itu.
"Halal sih halal, Mar. Tapi ya minimal modal dikit napa biar kagak kelihatan kayak keset rusak. Lu tuh laki-laki, tapi lemes banget, pantesan kagak ada cewek desa yang mau melirik lu," sahut teman Jaka yang berambut gondrong, menimpali dengan nada mengejek yang kental.
"Sudah lah, Bang. Saya permisi dulu, takut Pak RT nungguin," ucap Damar berusaha menyudahi obrolan yang tidak mengenakkan itu.
"Ya sana gih, hus! Bersihin yang bersih ya, jangan sampai ada ular yang gigit lu. Tar kalau lu mati, kasihan tanah desa malah ketularan apes," usir Jaka sambil melambaikan tangan seperti mengusir ayam.
Damar kembali melangkah, mengabaikan tawa yang kembali pecah di belakang punggungnya. Perlakuan seperti itu sudah makanan sehari-harinya di desa kecil ini. Statusnya sebagai pemuda miskin tanpa pekerjaan tetap membuatnya menjadi sasaran empuk untuk dijadikan bahan bercandaan. Ia berjalan melewati deretan rumah warga hingga akhirnya sampai di pagar bambu milik Pak RT.
"Kulanuwun, Pak RT," panggil Damar dari luar pagar.
Seorang pria paruh baya dengan sarung yang dikalungkan di leher keluar dari pintu samping rumah. "Oh, Damar. Sudah datang kamu? Masuk, Mar, langsung ke belakang saja ya."
"Baik, Pak. Alat-alatnya di tempat biasa?" tanya Damar sembari membuka gerbang bambu.
"Iya, sabit sama cangkul kecil ada di dekat kandang ayam. Kamu babat saja semuanya sampai bersih ya. Itu rumput gajah sudah tinggi-tinggi banget," ujar Pak RT sambil menunjuk ke arah kebun belakangnya yang cukup luas.
"Siap, Pak RT. Nanti kalau sudah selesai, saya kabari," kata Damar.
"Yo wis, kerjakan yang bener. Jangan malas-malasan, Mar," sahut Pak RT sebelum masuk kembali ke dalam rumahnya.
Damar berjalan ke belakang, mengambil sabit yang sudah agak berkarat, lalu mulai berjongkok di hadapan semak-semak. Satu per satu rumput liar ia potong dengan gerakan konstan. Keringat mulai bercucuran dari dahi, membasahi kacamatanya yang berulang kali harus ia lap menggunakan kaosnya yang sudah kotor. Pekerjaan ini melelahkan dan upahnya tentu tidak seberapa, tetapi Damar tidak punya pilihan lain untuk menyambung hidup.
Hampir tiga jam Damar berkutat dengan rumput-rumput itu sampai matahari tepat berada di atas kepala. Setelah memastikan semuanya bersih dan rapi, ia mencuci tangan dan kakinya di sumur luar, lalu berjalan menuju teras depan rumah Pak RT untuk melaporkan pekerjaannya. Di sana, ternyata Pak RT sedang mengobrol dengan Bu RT yang baru saja pulang dari pasar.
"Pak RT, rumputnya sudah bersih semua. Sudah saya kumpulkan juga di pojokan dekat tempat sampah," kata Damar sambil berdiri di dekat tangga teras.
Pak RT menoleh, lalu merogoh kantong celananya. Ia mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu rupiah yang sudah agak lecek dan menyodorkannya kepada Damar. "Ini upahmu, Mar. Cukup kan?"
Bu RT yang melihat itu langsung menyenggol lengan suaminya. "Bapak ini gimana sih, bersihin kebun segede gitu cuma dikasih segitu? Ditambahin lah, Pak, kasihan si Damar."
Pak RT merengut, tampak agak keberatan. "Halah Bu, cuma bersihin rumput liar saja kok diminta mahal-mahal. Di kota saja tenaga kasar murah. Lagian Damar kan kerjanya juga santai tadi."
Damar segera menerima uang itu dengan kedua tangannya sambil membungkuk. "Sudah, Bu RT, tidak apa-apa. Segini juga sudah alhamdulillah, sangat cukup buat saya beli beras hari ini. Terima kasih banyak ya, Pak RT, Bu RT."
Bu RT menghela napas panjang, menatap Damar dengan pandangan iba sekaligus gemas dengan kepasrahan pemuda itu. "Ya ampun, Damar... kamu itu ya, terlalu nerimo. Makanya orang-orang di desa ini sering nginjak-nginjak kamu. Penampilan kamu juga diurus, lecek banget begitu, kayak orang kagak pernah mandi."
"Hehe, iya Bu. Nanti kalau ada rezeki lebih, saya beli baju baru," jawab Damar santai, mencoba mencairkan suasana meskipun ia tahu ucapan Bu RT ada benarnya.
"Ya sudah, Mar. Pulang sana, mandi yang bersih," kata Pak RT memotong pembicaraan istrinya.
"Baik, Pak, Bu. Saya permisi dulu. Assalamu'alaikum," pamit Damar.
"Wa'alaikumsalam," jawab mereka berdua berbarengan.
Dengan uang lima puluh ribu di kantong celananya, Damar berjalan menuju warung kelontong milik Mbak Sri di dekat pertigaan jalan desa. Perutnya sudah berbunyi sedari tadi, mengingatkan bahwa ia belum sarapan sama sekali sejak pagi.
"Mbak Sri, beli beras sekilo sama telur dua butir ya," kata Damar begitu sampai di depan etalase warung.
Mbak Sri yang sedang asyik menghitung uang kembalian mendongak, lalu mengernyitkan dahi begitu melihat Damar. "Aduh, Damar. Lu kalau datang ke warung bau matahari banget sih, Mar. Minggir dikit napa, jangan deket-deket toples kerupuk gue, tar kerupuk gue layu kena bau lu."
Damar langsung mundur dua langkah, merasa agak kikuk. "Maaf, Mbak. Tadi habis kerja di tempat Pak RT, belum sempat pulang ke rumah."
Mbak Sri mendengus sambil mengambil kantong plastik hitam. "Nih, beras sekilo sama telur dua. Totalnya dua puluh lima ribu. Uangnya mana?"
Damar menyerahkan uang lima puluh ribuan tadi. Mbak Sri menerimanya, lalu memberikan uang kembalian dengan gerakan cepat seolah enggan berlama-lama berinteraksi dengan Damar.
"Nih kembaliannya. Lu tuh ya Mar, udah umur segini masa kerjanya serabutan melulu sih? Kagak berniat cari kerjaan yang bagusan apa di kota? Biar kagak culun dan kucel begini terus. Malu-maluin warga desa tahu kagak, ada pemuda yang penampilannya kayak begini," omel Mbak Sri panjang lebar tanpa diminta.
"Belum ada modal buat ke kota, Mbak. Cari kerja di sana juga susah kalau kagak punya ijazah tinggi," jawab Damar pelan sambil memasukkan belanjaannya ke dalam kantong.
"Ya makanya usaha, jangan cuma nerimo nasib jadi kuli rumput terus. Dah sana, gantian sama pembeli lain," usir Mbak Sri saat melihat ada ibu-ibu lain yang datang.
Damar hanya mengangguk kecil. "Terima kasih, Mbak Sri."
Damar melanjutkan perjalanannya menuju gubuk kecilnya yang terletak di ujung desa, dekat dengan area pekuburan. Sepanjang jalan, beberapa warga yang berpapasan dengannya ada yang membuang muka, dan ada juga yang berbisik-bisik sambil menunjuk-nunjuk penampilannya. Damar sudah kebal. Baginya, kata-kata cacian dan pandangan merendahkan dari orang-orang desa sudah berubah menjadi latar belakang suara yang biasa ia dengar setiap hari.
Sesampainya di rumah, Damar membuka pintu kayu yang sudah lapuk dan mulai berderit keras. Rumah berukuran empat kali enam meter itu tampak sepi dan kosong, hanya ada sebuah tikar pandan yang sudah robek di sudut ruangan dan sebuah meja kayu kecil berkaki tiga yang diganjal dengan batu bata.
Damar meletakkan kantong belanjaannya di atas meja tersebut, lalu berjalan ke arah cermin kecil yang tergantung miring di dinding dekat dapur. Ia menatap pantulan dirinya sendiri di cermin yang permukaannya sudah buram dan berdebu itu. Wajahnya tampak kusam, rambutnya acak-acakan tidak beraturan, dan kacamata bulatnya dipenuhi bercak keringat yang mengering.
Ia menghela napas panjang, lalu melepas kacamatanya dan menyeka wajahnya dengan ujung kaos oblongnya yang kotor.
"Nasib begini amat ya, tiap hari cuma bisa jadi bahan omongan orang," gumam Damar pada dirinya sendiri.
Ia terdiam sesaat, memandangi ruangan rumahnya yang sunyi. Rasa lelah yang teramat sangat tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuhnya, bukan hanya lelah fisik karena mencangkul rumput di bawah terik matahari, melainkan lelah hati karena terus-menerus dianggap tidak ada harganya oleh lingkungan sekitar. Damar membalikkan badan, lalu melangkah lesu menuju dapur untuk menyalakan kompor minyaknya yang sudah tua demi memasak beras yang baru saja ia beli.
Asap tipis membubung dari kompor minyak tanah tua di sudut dapur. Damar mematikan apinya begitu air di dalam panci kecil mulai mendidih. Ia menuangkan bubur encer yang baru saja dimasak ke dalam dua mangkuk seng yang sudah terkelupas catnya. Aroma beras murah bercampur sedikit garam menyeruak, aroma sederhana yang menjadi penopang hidup mereka saban hari.
"Uhuk... Uhuk! Uhuk!"
Suara batuk kering berkepanjangan terdengar dari balik tirai kain yang menjadi pembatas antara dapur dan kamar tidur. Damar buru-buru menyapu keringat di pelipisnya, lalu mengambil salah satu mangkuk bubur beserta segelas air hangat.
"Ibu? Sudah bangun?" panggil Damar pelan sambil mendorong tirai kusam itu.
Di atas pembaringan berakar kayu yang beralaskan kasur kapuk tipis dan berdebu, seorang wanita paruh baya tampak berusaha duduk. Wajahnya pucat pasi, matanya cekung, dan badannya kurus kering hingga tulang-tulangnya menonjol di balik daster lusuh yang dipakainya.
"Eh, Damar... Sudah pulang, Le?" tanya Bu Rahmi, ibunya, dengan suara serak dan napas yang agak terengah-engah.
"Sudah dari tadi, Bu. Ini Damar buatkan bubur hangat. Ibu makan dulu ya, mumpung masih panas," ujar Damar lembut sambil duduk di tepi dipan kayu yang berderit menahan bebannya.
Bu Rahmi tersenyum tipis, matanya menatap sendok seng yang disodorkan anak tunggalnya itu. "Kamu sudah makan belum, Mar? Jangan cuma mikirin Ibu."
"Sudah, Bu. Tadi Damar disuguhi makan di rumah Pak RT habis tebas rumput," bohong Damar tanpa ragu sedikit pun demi menyembunyikan kenyataan bahwa porsi beras tadi memang sengaja ia bagi lebih banyak untuk ibunya.
"Alhamdulillah kalau begitu. Pak RT kasih upah berapa hari ini, Le?" tanya Bu Rahmi lagi setelah menelan satu sendok bubur encer tersebut.
"Lima puluh ribu, Bu. Cukup kok buat beli beras sama telur tadi di warung Mbak Sri," jawab Damar sambil meniup sendok berikutnya.
Bu Rahmi menghela napas panjang, tatapannya menyusuri dinding bambu rumah mereka yang sudah banyak berlubang dan rapuh. Di beberapa bagian, anyaman bambu itu sudah menghitam dan lapuk dimakan usia. Jika angin malam berembus kencang dari arah sawah yang membentang tepat di belakang rumah, angin dingin itu meluncur bebas masuk lewat celah-celah dinding, membuat ibunya makin sering kumat batuknya.
"Maafkan Ibu ya, Mar... Karena Ibu sakit-sakitan begini, kamu jadi harus kerja keras sendirian dari kecil. Mana bapakmu sudah lama meninggal, tidak ada yang bisa bantu kamu," ucap Bu Rahmi dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Damar menggeleng cepat. Ia membetulkan letak kacamatanya yang melorot, lalu tersenyum menenangkan. "Ibu ngomong apa sih? Sudah jadi kewajiban Damar buat merawat Ibu. Lagipula Damar masih kuat kok, cuma bersihin rumput sama angkat karung mah gampang."
"Tapi Ibu sedih dengar omongan tetangga, Mar. Kemarin waktu Ibu masih kuat jalan ke depan, ada yang bilang kamu itu kasihan, umur segini cuma bisa kerja serabutan dan hidup di rumah yang mau roboh begini..."
"Alah, Ibu tidak usah dengerin omongan orang desa," potong Damar cepat. "Mereka kan cuma bisa ngomong, kagak bisa bantuin kita juga. Yang penting kita kagak minta-minta dan tidak merugikan siapapun."
"Tapi rumah kita ini memang sudah parah, Le..." Bu Rahmi menunjuk ke arah tiang penyangga di sudut kamar yang tampak makin miring. "Lihat tiang itu, kemarin waktu hujan deras disertai angin, bunyinya sudah kerot-kerot seperti mau patah. Ibu takut rumah ini roboh pas kita lagi tidur."
Damar mengalihkan pandangannya ke tiang kayu yang ditunjuk ibunya. Memang benar, kayu penyangga gubuk mereka sudah sangat tua dan dimakan rayap. Rumah ini berdiri terpencil di ujung desa, tepat di perbatasan antara pemukiman dan hamparan sawah milik warga. Jika musim hujan tiba, tanah di bawahnya sering becek dan membuat fondasi bambunya makin tidak stabil.
"Nanti sore Damar coba cari kayu bekas di pinggir kali ya, Bu. Buat mengganjal tiang yang miring itu biar makin kokoh," kata Damar berusaha membesarkan hati ibunya.
"Punya uang dari mana buat beli paku sama kayunya, Mar?" tanya ibunya penuh kekhawatiran.
"Tidak usah beli, Bu. Di dekat jembatan suka banyak kayu hanyut atau sisa bangunan warga yang dibuang. Nanti Damar pilih yang masih bagus," sahut Damar telaten menyuapkan sisa bubur terakhir di mangkuk.
Bu Rahmi menerima suapan terakhir itu, lalu meminum air hangat yang disodorkan anaknya. Ia menatap wajah anaknya yang kusam dan lelah, merasa bersalah karena kondisi fisiknya yang terus menurun sejak suaminya wafat lima tahun lalu akibat sakit keras.
"Sudah habis, Bu. Ibu istirahat lagi ya," ucap Damar sambil merapikan mangkuk kosong.
"Kamu tidak capek, Le? Habis dari rumah Pak RT langsung mau cari kayu?" tanya Bu Rahmi iba.
"Kagak, Bu. Damar masih segar begini kok. Ibu tidur saja, jangan banyak pikiran," balas Damar sambil menyelimuti ibunya dengan kain sarung tua yang sudah tipis.
Damar keluar dari kamar dan melangkah menuju dapur kecilnya. Ia mengambil mangkuk buburnya sendiri yang ukurannya jauh lebih sedikit, lalu memakannya dengan cepat tanpa lauk apapun. Baginya, rasa lapar sudah menjadi teman akrab yang tidak perlu terlalu diratapi.
Setelah menyapu lantai tanah yang berdebu dan mencuci dua mangkuk seng di gentong air luar, Damar melangkah ke samping rumah. Dari situ, sejauh mata memandang hanya terlihat hamparan hijau tanaman padi milik warga desa yang bergoyang tertiup angin siang. Bau lumpur dan aroma khas sawah menyengat hidungnya.
"Duh, tiang depan juga ternyata sudah rapuh begini," gumam Damar ketika tangannya menggerakkan salah satu tiang bambu di teras depan. Tiang itu goyang cukup keras hanya dengan satu dorongan tangan.
Tiba-tiba dari arah pematang sawah, muncul Pak Karto, salah seorang pemilik sawah di dekat situ yang sedang mengontrol saluran air. Pria yang memakai caping itu menghentikan langkahnya sewaktu melihat Damar sedang mengamati dinding rumahnya.
"Oalah, Damar! Lagi ngapain kamu?" teriak Pak Karto dari kejauhan sambil melambaikan tangan.
Damar menoleh dan melangkah mendekati batas sawah. "Eh, Pak Karto. Ini Pak, lagi nengok tiang rumah yang makin miring."
Pak Karto berjalan mendekat, lalu memperhatikan gubuk reyot milik Damar dari jarak dekat. Ia menggeleng-gelengkan kepala sambil menyulut rokok lintingannya.
"Buset dah, Mar. Itu rumah kamu apa kandang ayam? Kok makin miring saja ke arah sawah?" celetuk Pak Karto tanpa tedeng aling-aling.
Damar terkekeh canggung sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ya begitulah, Pak. Namanya juga rumah tua, belum ada rezeki buat merenovasi."
"Bukan cuma belum di-renovasi, Mar, ini sih sudah kagak layak huni! Kalau ada angin kencang dari arah selatan, bisa roboh beneran itu rumah. Kasihan ibu kamu yang lagi sakit di dalam. Lu kagak ada niat benerin apa?" tanya Pak Karto dengan nada blak-blakan.
"Niat sih ada, Pak. Tapi ya uangnya dari mana? Buat makan sehari-hari sama beli obat Ibu saja sudah pas-pasan banget," jawab Damar sejujurnya.
"Ya makanya, kamu itu cari kerjaan yang bener di kota sana! Jangan mendekam di desa terus jadi kuli serabutan. Lihat anak-anak muda lain, pada merantau ke Jakarta, pulang-pulang bisa megang uang banyak, benerin rumah orang tuanya. Lah kamu? Dari dulu stuck di ujung sawah begini," omel Pak Karto memberi nasihat dengan gayanya yang kasar.
"Pernah kepikiran ke kota, Pak. Tapi siapa yang mau menjaga Ibu di rumah? Ibu kan sakit-sakitan, kagak bisa ditinggal sendirian," tutur Damar pelan, menyuarakan alasan utamanya selama ini tidak pernah meninggalkan desa.
Pak Karto menghela napas panjang, mengembuskan asap rokoknya yang tebal ke udara. "Ya repot juga sih kalau begitu... Tapi ya tetep saja, kamu harus mikirin keselamatan rumah ini. Tar kalau rubuh pas malam hari kan bahaya banget buat kalian berdua."
"Iya, Pak. Ini rencana sore nanti saya mau cari kayu bekas buat menopang tiang yang miring dulu," kata Damar.
"Yo wis, terserah kamu lah. Saya cuma mengingatkan saja sebagai tetangga. Awas ya, jangan sampai rumahmu roboh terus sampahnya berserakan ke sawah saya!" kelakar Pak Karto sambil terkekeh pelan.
"Tenang saja, Pak Karto. Tidak bakal sampai ke sawah kok," sahut Damar ikut tersenyum tipis.
"Dah ah, saya mau lanjut ke bendungan bawah. Jangan lupa itu tiang diganjal yang benar!" pesan Pak Karto sebelum kembali melangkah menyusuri pematang sawah.
"Siap, Pak Karto. Terima kasih peringatannya," balas Damar.
Sepeninggal Pak Karto, suasana di sekitar ujung sawah itu kembali hening. Hanya terdengar gema suara jangkrik dan gesekan daun padi yang tertiup angin sore. Damar kembali berjalan memutari gubuknya. Ia meneliti setiap sudut bangunan berdinding anyaman bambu yang kini warnanya sudah kusam kecokelatan.
Kondisi rumah ini memang sangat memprihatinkan. Atap genteng tanah liatnya sudah banyak yang pecah dan diganti seadanya dengan potongan seng tua yang berkarat. Di bagian belakang dekat dapur, dinding bambunya bahkan sudah berlubang besar hingga angin malam dan hewan liar bisa masuk dengan mudah jika tidak ditutupi dengan karung bekas.
Damar berjongkok di samping rumah, memegang tiang bambu utama yang menjadi tumpuan bangunan gubuk tersebut. Ketika ia menekan tiang itu sedikit saja, terdengar suara krek dari bagian atas sambungan kayu.
"Memang sudah parah banget ini..." bisik Damar pada dirinya sendiri.
Ia mengadah menatap langit sore yang mulai berubah warna menjadi jingga keunguan. Udara dingin perlahan-lahan mulai berembus turun dari pegunungan di kejauhan, menembus kaos tipis yang dikenakannya. Damar tahu betul, sebentar lagi malam akan turun dan suhu di ujung sawah ini bakal makin menusuk tulang.
Dengan helaan napas berat, Damar membetulkan kacamata tebalnya. Ia berbalik dan kembali berjalan masuk ke dalam gubuknya yang gelap dan sepi, bersiap-siap untuk mengambil parang tua demi mencari kayu ganjalan di pinggir kali sebelum hari benar-benar gelap.
Matahari mulai condong ke arah barat, memancarkan sinar oranye keemasan yang menerpa alur sungai di pinggir desa. Damar berjalan menyusuri jalanan berkerikil sambil membawa sebuah parang tua yang sudah agak tumpul di tangan kanannya. Langkah kakinya membawanya menuju tepian kali, tempat di mana warga desa biasanya membuang sisa-sisa kayu bangunan atau tempat kayu-kayu hanyut tersangkut di antara bebatuan.
Ujung celana jinsnya yang ditambal sengaja ia gulung hingga ke betis agar tidak basah terkena air. Matanya yang terlindung di balik kacamata tebal terus menyapu semak-semak dan tumpukan sampah kayu di tepi sungai.
"Semoga saja ada kayu gelondongan yang masih kokoh. Kalau cuma dahan rapuh, mana kuat menahan beban tiang rumah," gumam Damar pelan pada dirinya sendiri.
Saat ia sedang asyik memilah-milah batang kayu di balik rimbunan pohon bambu, terdengar tawa renyah dan gelak tawa beberapa wanita dari arah belokan sungai. Suara itu cukup ramai, memecah kesunyian sore di tepi kali. Damar menghentikan langkahnya, menengok ke balik semak-semak untuk melihat siapa yang ada di sana.
Di sana, di atas batu-batu kali yang datar, tampak empat orang gadis muda desa tetangga yang selesai mencuci pakaian dan membersihkan diri. Mereka mengenakan pakaian santai yang rapi dan modis untuk ukuran anak desa. Salah satunya adalah Mawar, kembang desa yang memang terkenal paling cantik dan kerap jadi bahan perbincangan para pemuda.
Damar yang tidak ingin mengganggu mereka berniat mundur perlahan dan mencari kayu di tempat lain. Namun, nasib sial malah menghampirinya. Langkah kakinya menapak ranting kering hingga berbunyi cukup keras.
Krek!
"Eh! Siapa itu di balik semak-semak?!" teriak salah satu gadis berambut sebahu sambil menunjuk ke arah tempat Damar berdiri.
Damar terperanjat. Ia keluar dari balik semak-semak dengan canggung, sambil memegang parang dan potongan kayu kecil yang sempat ia ambil.
"Maaf, Mbak... Saya tidak bermaksud mengintip atau apa. Saya cuma lagi cari kayu bekas," kata Damar gagap, mencoba menjelaskan situasinya agar tidak terjadi salah paham.
Gadis-gadis itu saling pandang, lalu tatapan mereka tertuju pada sosok Damar dari ujung kepala sampai ujung kaki. Pandangan heran itu dengan cepat berubah menjadi tatapan geli dan jijik.
"Oalah, tak kirain siapa! Ternyata si Damar, anak ujung sawah itu," cetus Mawar sambil menyilangkan tangan di dada dan tertawa sinis.
"Astaga, Mar! Lu ngapain sih keluyuran di kali pakai bawa parang begitu? Penampilan lu sudah kayak orang gila tahu kagak?" sahut teman Mawar yang memakai baju merah, namanya Siska.
"Iya nih, kaget-kagetin orang aja. Mana bajunya kotor banget lagi, baunya sampai sini," timpal gadis satu lagi sambil memegangi hidungnya dengan gaya berlebihan.
Damar mencoba tersenyum, meski hatinya mulai terasa tidak nyaman. "Maaf ya, Mbak-Mbak sekalian. Saya cuma butuh beberapa batang kayu buat mengganjal tiang rumah yang mau roboh. Saya permisi cari di sebelah sana saja."
Namun, saat Damar hendak berbalik dan melangkah pergi, Mawar justru memanggilnya dengan nada mengejek.
"Sebentar dulu, Mar! Jangan kabur dulu dong!" panggil Mawar sambil melangkah mendekat, diikuti ketiga temannya.
Damar menghentikan langkahnya dan berbalik ragu-ragu. "Ada apa lagi, Mbak Mawar?"
Mawar menatap kacamata tebal Damar yang melorot, lalu menggeleng-gelengkan kepala dengan mimik wajah merendahkan. "Gue cuma heran saja sama lu. Lu tuh kagak sadar diri ya? Udah miskin, rumah mau roboh, penampilan kotor dan culun begitu, kok betah banget sih hidup?"
Damar menghela napas pelan, berusaha menahan emosinya. "Ya... mau bagaimana lagi, Mbak. Ini sudah jalan hidup saya. Yang penting saya tidak merugikan orang lain."
"Tapi mata kita yang rugi kalau melihat lu tiap hari, Mar!" sahut Siska disambut derai tawa teman-temannya. "Lu tuh harusnya berkaca. Udah umur segini kagak ada masa depan. Lu kagak berniat cari pacar apa?"
"Iya, Mar. Lu pernah kagak sih kepikiran mau mendekati cewek?" tanya teman Mawar lainnya sambil tersenyum mengejek.
Damar menundukkan kepalanya, menatap tanah basah di bawah sandal jepitnya. "Kagak pernah, Mbak. Saya sadar diri. Siapa juga yang mau sama pemuda miskin dan serabutan seperti saya."
Mawar melangkah makin dekat, menatap Damar dengan pandangan yang sangat menyakitkan. "Bagus deh kalau lu sadar diri! Lu tuh memang kagak pantas mendekati cewek manapun di desa ini, apalagi cewek seperti kita! Jangan sampai ya lu mimpi atau punya niat mendekati cewek, kasihan ceweknya nanti ketularan apes dan miskin kayak lu!"
"Betul banget itu, War!" Siska menimpali dengan semangat. "Siapa coba yang mau hidup di gubuk reyot dekat sawah sama cowok culun kayak begini? Mending jomblo seumur hidup daripada dapat yang modelan kayak Damar."
"Lagian, muka lu aja kusam begitu, Mar. Baju lu lecek, kacamata segede gaban. Lu mendekat lima meter aja orang udah males melihatnya," tambah Mawar tanpa perasaan, diiringi tawa terbahak-bahak dari teman-temannya yang menggema di tepi sungai.
Kata-kata itu terngiang berulang-ulang di telinga Damar. Sudah biasa ia dihina oleh bapak-bapak atau pemuda desa karena masalah pekerjaan, tetapi dipermalukan secara terang-terangan oleh sekelompok wanita sebayanya mengenai fisiknya dan kepantasannya sebagai seorang laki-laki terasa menusuk jauh lebih dalam. Rasanya ada luka yang tak berdarah, tetapi sangat perih di dalam dadanya.
Damar hanya bisa membetulkan posisi kacamatanya yang basah oleh sedikit peluh. Ia tidak membalas, tidak juga marah. Ia sadar, membalas ucapan mereka hanya akan membuat dirinya makin dipermalukan.
"Sudah kan, Mbak-Mbak sekalian? Kalau sudah selesai bicaranya, saya mau lanjut cari kayu lagi," ucap Damar dengan suara yang ditahan agar tidak terdengar bergetar.
Mawar mengibaskan tangannya dengan gaya acuh tak acuh. "Sana-sana gih! Pergi yang jauh, jangan dekat-dekat kita. Nanti bau lu nempel di baju bersih kita!"
"Hus, hus! Pergi sana, kuli rumput!" seru Siska sambil tertawa puas.
Damar tidak menjawab lagi. Ia membalikkan badan, memegang potongan kayu dan parangnya erat-erat, lalu melangkah menjauhi area sungai tersebut tanpa menoleh ke belakang sedikit pun. Tawa mengejek dari Mawar dan teman-temannya masih terdengar samar-samar ditelan angin sore, mengiringi setiap langkah kakinya yang terasa berat.
Damar berjalan terus menyusuri pinggiran saluran air hingga sampai di area semak-semak yang sepi. Di sana, ia menemukan dua batang kayu jati bekas yang cukup tebal dan masih keras. Ia berjongkok, lalu mulai memotong bagian-bagian kayu yang tidak terpakai menggunakan parangnya.
Tuk! Tuk! Tuk!
Suara parang yang menghantam kayu terdengar ritmis. Di tengah kesendirian itu, ucapan Mawar kembali berputar di kepalanya.
'Lu tuh memang kagak pantas mendekati cewek manapun... Kasihan ceweknya nanti ketularan apes dan miskin kayak lu!'
Damar menghentikan ayunan parangnya. Ia terduduk di atas tanah, memandangi kedua tangannya yang kasar, penuh kapalan, dan berdebu tanah. Ia meraba wajahnya sendiri, menyentuh kacamata tebalnya. Memang benar apa yang mereka katakan. Penampilannya sangat jauh dari kata menarik. Tidak ada hal menarik dari seorang pemuda miskin yang hanya bisa memotong rumput dan mengangkut karung.
Airmata hampir saja menetes dari sudut matanya, tetapi Damar segera mengusapnya kasar dengan lengan bajunya. Ia menggelengkan kepala kuat-kuat.
"Kagak usah dipikirin, Mar... Mereka benar, lu memang kagak pantas buat siapa-siapa. Fokus lu sekarang cuma buat Ibu dan rumah," bisik Damar memotivasi dirinya sendiri dengan nada pahit.
Ia kembali mengangkat parangnya, memotong kayu itu hingga ukurannya pas untuk dijadikan tiang penyangga. Setelah mendapatkan dua batang kayu yang dirasa cukup kuat, Damar mengikatnya dengan tali rafia bekas yang ia temukan di jalan, lalu memikulnya di atas bahu kirinya.
Hari sudah benar-benar gelap ketika Damar berjalan kembali menuju gubuknya di ujung sawah. Langit malam tanpa bintang membuat suasana desa terasa makin sepi. Udara dingin berembus makin kencang, menembus pakaian tipis yang dikenakannya.
Langkah kakinya gontai. Beban kayu di bahunya tidak seberapa berat jika dibandingkan dengan beban pikiran dan rasa malu yang terpatri di dadanya. Namun, begitu ia melihat pendar cahaya lampu minyak dari balik celah dinding bambu rumahnya, Damar memaksakan diri untuk mengusap wajahnya dan menyunggingkan senyum tipis. Ia tidak ingin ibunya melihat raut wajahnya yang hancur.
"Kulanuwun, Bu... Damar pulang," panggil Damar sambil mendorong pintu rumah yang berderit.
Dari dalam kamar, terdengar suara batuk kecil ibunya yang disusul sahutan pelan. "Iya, Le... Sudah dapat kayunya?"
"Sudah, Bu. Dapet dua batang kayu bagus di dekat kali," jawab Damar sambil meletakkan kayu-kayu itu di teras depan.
Damar masuk ke dalam gubuk, meletakkan parangnya di dapur, lalu berjalan mendekati kamar ibunya. Ia melihat ibunya sedang menyalakan lampu tempel minyak tanah di atas meja kayu.
"Kok pulangnya agak malam, Mar? Ibu khawatir," kata Bu Rahmi sambil menatap wajah anaknya yang tampak sangat lelah.
"Tadi nyarinya agak jauh, Bu. Kayu yang bagus lumayan susah dicarinya," bohong Damar lagi, enggan menceritakan kejadian pahit yang baru saja dialaminya di sungai.
Bu Rahmi menatap anak tunggalnya itu dengan tatapan penuh kasih sayang. Ia bisa melihat ada sesuatu yang berbeda dari tatapan mata Damar malam ini, ada rasa sedih yang amat dalam yang berusaha disembunyikan di balik kacamata tebal itu.
"Kamu tidak apa-apa kan, Le? Wajahmu kok lesu sekali?" tanya Bu Rahmi penuh perhatian.
Damar membetulkan letak kacamatanya, lalu tersenyum selebar yang ia bisa. "Kagak apa-apa kok, Bu. Cuma agak capek saja. Besok pagi-pagi sekali Damar pasang kayunya buat ganjal tiang rumah kita."
Bu Rahmi mengangguk pelan, meski dalam hatinya ia tahu anaknya sedang menanggung beban yang berat. "Ya sudah, kamu mandi dulu sana, terus istirahat. Jangan dipaksa kalau capek."
"Iya, Bu. Ibu tidur lagi ya, biar batuknya tidak kumat," ucap Damar lembut.
Damar berbalik berjalan menuju dapur. Ia mengambil gayung dan berjalan ke gentong air di luar. Di bawah kegelapan malam dan dinginnya angin sawah, Damar menyiramkan air dingin ke wajah dan kepalanya, berharap air itu bisa membilas bersih rasa sakit hati dan rasa tidak berharga yang terus menghantuinya sejak sore tadi.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!