Indonesia
NovelToon NovelToon

Terlempar Ke Zaman Kuno

Jia Li

Suasana di Rumah Sakit Huayuan malam itu berubah menjadi medan pertempuran hidup dan mati. Langkah kaki tergesa-gesa terdengar kacau, berpadu dengan suara sirine ambulans yang berhenti kasar di depan lobi. Suara roda brankar bergesekan nyaring dengan lantai, bersahutan dengan jeritan histeris dan derai air mata para korban kecelakaan beruntun.

Di tengah kekacauan itu, Jia Li, seorang dokter spesialis kardiotoraks, berlari sigap menuju ruang gawat darurat. Matanya menatap tajam pada seorang wanita dewasa yang baru saja diturunkan dari brankar. Dengan stetoskop di telinga dan jemari yang menekan dada pasien, ia memejamkan mata seolah 'melihat' detak yang tak kasatmata.

"Suara detak jantungnya sangat tidak beraturan, ada aliran darah yang tersumbat ke otot jantung," desis Jia Li, membuka mata dengan sorot tegas. "Suster, segera siapkan ruang operasi sekarang! Kita akan melakukan Operasi Bypass Jantung," titahnya.

"Baik, Dok!" sahut perawat dengan langkah seribu.

Tak lama kemudian, suasana tegang berpindah ke dalam ruang operasi yang dingin dan steril. Ruangan itu hanya diterangi cahaya terang dari Ceiling Mounted Lamp, menyorot meja operasi di mana peralatan bedah telah tertata rapi. Ahli anestesi, seorang asisten, dan beberapa perawat bersiap di posisinya masing-masing. Namun, asisten dokter Jia Li tiba-tiba menatap sang spesialis dengan raut khawatir.

"Dokter Jia Li... Anda baik-baik saja?" bisik asisten itu pelan, takut mengganggu konsentrasi. "Wajah Anda terlihat sangat pucat, Dok. Anda baru saja menangani 6 operasi hari ini."

Meski rasa pusing mulai menderanya akibat kelelahan yang luar biasa, Jia Li menoleh dan memberikan senyuman tipis yang menenangkan. "Aku baik-baik saja," jawab Jia Li mantap, mengatur napasnya. "Kelelahan ku bukan apa-apa. Nyawa pasien di meja ini jauh lebih penting. Kita lakukan operasinya sekarang."

"Baik, Dok! Persiapan anestesi selesai," lapor ahli anestesi.

Jia Li mengangguk. Ia meraih pisau bedah dan menatap bagian tengah dada pasien dengan tatapan tajam dan penuh perhitungan. Semua orang di ruangan itu menahan napas, bersiap membantu.

Sayatan pertama...

Sayatan tegas itu menembus kulit di bagian tengah dada. Suara monitor detak jantung berdengung nyaring di ruangan itu. Semua mata kini tertuju pada satu titik, fokus dan siap bertaruh dengan waktu demi menyelamatkan nyawa di hadapan mereka.

"Skalpel," kata Jia Li dengan nada suara yang terkontrol, memecah keheningan yang mencekam di dalam ruang operasi. Asisten bedah dengan cekatan menyerahkan instrumen tersebut ke tangan Jia Li yang terbalut sarung tangan steril. "Retraktor sternum, pasang perlahan. Kita harus membuka rongga dada dengan sangat hati-hati karena tekanan darah pasien terus berfluktuasi."

Suara monitor jantung beralih ritme, berbunyi bip-bip-bip dengan tempo yang semakin cepat dan tidak beraturan. "Dokter Jia Li, tekanan darahnya merosot tajam! 80/50 dan terus turun!" seru ahli anestesi dengan nada panik yang tertahan, matanya terpaku pada layar monitor vital. "Pasien mengalami syok kardiogenik, detak jantungnya fibrilasi!"

Jia Li tidak membiarkan rasa pusing di kepalanya mengacaukan fokusnya, meskipun keringat dingin mulai membasahi dahinya di balik masker bedah. "Tenang semua, jangan panik. Naikkan dosis epinefrin sekarang. Suster, siapkan mesin heart-lung bypass (CPB), kita harus mengalihkan sirkulasi darahnya ke mesin sebelum jantungnya benar-benar berhenti berdenyut," perintah Jia Li dengan tegas, suaranya menjadi jangkar ketenangan di ruangan yang mulai tegang itu.

"Asisten, bantu aku mengisolasi arteri mamaria interna untuk dijadikan graf penyumbat. Kita berkejaran dengan waktu, sel-sel otot jantungnya mulai mati karena kekurangan oksigen."

"Baik, Dok! Epinefrin masuk, mesin CPB siap dihubungkan," sahut perawat instrumen dan ahli anestesi hampir bersamaan, tangan mereka bergerak secepat kilat mengikuti ritme instruksi Jia Li.

Asisten bedah yang mengamati wajah Jia Li yang semakin memucat berbisik pelit, "Dokter Jia, Anda yakin masih kuat? Tangan Anda... sedikit gemetar saat memegang klem."

Jia Li menarik napas dalam-dalam melalui hidung, memaksakan pasokan oksigen masuk ke otaknya yang mulai kelelahan akibat sif malam yang panjang. "Aku tidak apa-apa, fokus pada bidang bedah mu. Jahitan pertama untuk kanulasi aorta dimulai sekarang. Jika aku lengah satu detik saja, wanita di atas meja ini tidak akan pernah bangun untuk melihat keluarganya lagi. Naikkan pencahayaan lampu ceiling, aku butuh visibilitas maksimum pada arteri koronernya yang menyempit."

Setelah berjuang selama 2 jam sebagai rekor waktu tercepat, operasi itu pun selesai. Semua mata berbinar, dan napas lega terhembus dari dada setiap tim medis yang bertugas.

"Anda benar-benar luar biasa, Dokter Jia Li. Operasi rumit seperti ini biasanya memakan waktu hingga 3 atau 6 jam, tapi Anda mampu menyelesaikannya hanya dalam 2 jam saja. Tidak heran jika Anda selalu menjadi dokter spesialis bedah terbaik di rumah sakit ini," puji asistennya dengan mata berbinar, yang di angguki kagum oleh seluruh perawat.

Dengan wajah yang masih pucat pasi dan peluh yang membasahi dahi, Jia Li hanya tersenyum tipis merespons pujian itu. "Terima kasih banyak atas kerja keras kalian dalam operasi ini. Tapi ingat, nyawa pasien selalu berada di tangan dokter, dan satu kesalahan kecil saja bisa berakibat fatal," ujarnya lembut namun tegas.

Jia Li pun melangkah keluar dari ruang operasi sambil perlahan melepas masker bedah hijaunya. Namun, baru saja ia melangkah keluar dari batas steril, udara segar langsung digantikan oleh ketegangan yang menyesakkan. Sebuah tamparan keras mendarat telak di pipinya.

PLAK!

Dunia seakan berhenti berputar. Jia Li tersentak mundur, tubuhnya gemetar hebat. Bekas tamparan itu terasa panas membakar pipinya, membuat pandangannya sedikit mengabur. Saat ia mengangkat wajah dan melihat siapa pelakunya, dunianya seolah runtuh. Ternyata di hadapannya berdiri keluarganya sendiri dengan sorot mata penuh kebencian.

"Anak tidak berguna!" teriak sang ibu histeris, menunjuk-nunjuk wajah Jia Li yang masih syok. "Kau menyelamatkan nyawa orang lain di dalam sana, sementara Kakakmu sekarat dan kritis di ruang UGD!"

Jia Li memejamkan matanya, menahan perih yang seolah merambat hingga ke ulu hati. "Ibu... Ayah..." panggil Jia Li lirih, suaranya tercekat. Kepalanya terasa jauh lebih sakit dari sebelumnya.

Alih-alih mereda, kemarahan sang ayah justru semakin memuncak. "Aku membiayai sekolahmu menjadi dokter tinggi-tinggi bukan untuk menyelamatkan nyawa orang asing, tapi untuk melindungi keluargamu sendiri saat mereka butuh bantuan! Tapi lihat apa yang kau lakukan?! Kau benar-benar anak yang tidak tahu diuntung. Beraninya kau menyelamatkan orang lain saat keluargamu sendiri sedang berjuang menahan rasa sakit di ambang maut," bentak sang ayah murka, menggelegar di sepanjang lorong rumah sakit yang sepi.

"Membiayai?" tanya Jia Li lirih. Sebuah tawa getir hampir saja lolos dari tenggorokannya yang tercekat. Dia menatap kedua orang tuanya dengan tatapan kosong sekaligus hancur. "Aku bisa berada di posisi ini, memakai jas putih ini, dan bersekolah di universitas kedokteran terbaik karena hasil payahku sendiri melalui beasiswa penuh... Ibu, Ayah, kalian tidak pernah mengeluarkan sepeser pun uang untuk pendidikanku," kata Jia Li, suaranya semakin pelan, nyaris tenggelam oleh isak tangis yang dia tahan di ujung lidah.

Namun, pembelaannya sama sekali tidak didengar. Kata-kata makian baru terus meluncur dari bibir kedua orang tuanya.

Tidak berguna! Tidak berguna! Anak egois tidak berguna!

Kedua kata laknat itu terus berputar-putar di dalam kepalanya seperti gema yang tak kunjung usai, membuat kepalanya terasa sangat pening seolah-olah mau pecah saat itu juga.

Pertahanan mentalnya runtuh total. Bayangan di depannya, wajah marah ayahnya, telunjuk ibunya yang menunjuk-nunjuk, perlahan menjadi kabur dan buram. Telinganya berdenging hebat, membuat semua suara makian di sekitarnya hanya terdengar seperti bisikan samar yang menjauh.

Dunia seolah berputar terbalik. Sampai tiba-tiba, seluruh energi di dalam dirinya habis terkuras, dan dia tidak sanggup lagi menopang berat tubuhnya sendiri.

Bruk!

Kesadarannya tercabut paksa. Tubuh itu ambruk ke lantai koridor yang dingin. Semuanya gelap seketika.

Transmigrasi

Di Zaman Kuno. Kekaisaran Naga Langit. Paviliun Musim Semi.

Berkas cahaya matahari pagi menerobos masuk secara samar melalui celah tirai sutra yang bergoyang lembut ditiup angin. Di atas ranjang kayu berukir megah, Jia Li menggerakkan kelopak matanya yang terasa seberat timah, sebelum akhirnya berhasil membukanya sepenuhnya.

"Sssshhhh..." Jia Li meringis tertahan.

Tangan kanannya refleks naik mencengkeram pelipisnya yang berdenyut hebat, seolah-olah ada ribuan jarum yang menusuk kepalanya secara bersamaan. Dia berusaha keras untuk memposisikan tubuhnya terduduk, meskipun pandangannya masih berkunang-kunang dan dipenuhi bayangan kabur.

Namun, begitu siluet ruangan di sekitarnya mulai terfokus, jantungnya seakan berhenti berdetak. Pemandangan interior kamar yang sangat asing itu seketika merenggut seluruh rasa sakit dan menyentak kesadaran Jia Li sepenuhnya.

"Aku... di mana ini? Ini jelas bukan kamar peristirahatan rumah sakit tempat aku bertugas. Bukan juga kamar tidur pribadi di apartemenku. Lalu... tempat asing mana ini?" gumam Jia Li dengan suara serak yang bergetar hebat.

Kebingungannya kian memuncak saat dia menundukkan kepala untuk melihat tubuhnya sendiri. Pakaian yang melekat di kulitnya bukan lagi pakaian scrub, melainkan jubah berlapis-lapis dari kain sutra halus dengan potongan kuno yang sangat rumit—jenis pakaian sejarah yang hanya pernah ia lihat di drama-drama kolosal.

Ting!

Sebuah gaung suara mekanis yang jernih dan tak berwujud tiba-tiba menggema langsung di dalam kepalanya, memecah keheningan paviliun.

[Sistem Transmigrasi Berhasil Diaktifkan! Selamat pagi, Nona. Proses perpindahan jiwa telah berjalan dengan akurasi seratus persen. Saat ini, Anda telah resmi terintegrasi dan berada di wilayah teritorial Kekaisaran Naga Langit.] ujar suara itu dengan nada monoton namun berwibawa.

Jia Li tertegun, matanya mengerjap tidak percaya. "Kekaisaran Naga Langit?" ulang Jia Li, suaranya naik satu oktav karena rasa bingung yang luar biasa. "Apa maksudmu? Jangan bercanda! Siapa yang sedang berbicara di dalam kepalaku?!"

Suara sistem kembali berdenting tanpa memedulikan kepanikan Jia Li.

[Menjawab tuan rumah: Saat ini status sosial Anda di dunia ini adalah sebagai Putri dari Kaisar Lin Dong dan Selir dua. Atau, jika ingin menggunakan deskripsi yang lebih akurat berdasarkan data lokal: Anda adalah seorang putri mahkota Selir Dua yang keberadaannya selalu diabaikan, diremehkan, dan dianggap sebagai sampah.]

Mendengar kalimat yang begitu blak-blakan, Jia Li menarik napas dalam-dalam, berusaha menekan kepanikannya demi logika sebagai seorang wanita modern. "Tunggu, bicaralah dengan lebih jelas! Tolong jelaskan padaku dari awal karena aku benar-benar tidak mengerti situasi gila apa yang sedang menimpaku saat ini!" tuntut Jia Li dengan tegas.

[Menerima permintaan penjelasan. Identitas baru Anda di lini masa ini adalah Putri Lin Jia. Dunia kuno ini beroperasi penuh menggunakan hukum rimba yang berpusat pada sistem Elemen. Di mana seluruh umat manusia berlomba-lomba melatih energi spiritual demi meningkatkan kultivasi mereka sebagai seorang Elemental yang perkasa. Namun, tubuh yang Anda tempati sekarang dalam kondisi cacat. Anda tidak memiliki elemen apa pun alias tidak bisa berkultivasi.] penjelasan sistem terasa bagai hantaman telak bagi Jia Li.

Ting!

Sebelum Jia Li sempat memprotes takdir buruk itu, sistem dengan cepat melanjutkan kalimatnya.

[Namun, Tuan Rumah tidak perlu mengkhawatirkan hal tersebut. Sistem ini dirancang khusus untuk memandu dan memfasilitasi perjalanan Anda. Kami akan membantu Nona meretas batasan tubuh ini, mendaki puncak tertinggi sebagai Master Elemental legendaris, dan menjungkirbalikkan takdir masa depan yang tragis.]

[Sebagai hadiah penyambutan dan kompensasi awal, sistem akan menganugerahkan sebuah artefak tingkat tinggi yang sangat berguna untuk kelangsungan hidup Anda.]

Wushhh!

Tepat setelah kata terakhir dari sistem terucap, seberkas cahaya keemasan yang sangat menyilaukan mendadak berpendar di sekeliling leher Jia Li. Intensitas cahayanya begitu kuat hingga memaksa Jia Li menyipitkan mata. Saat cahaya itu meredup, sebuah kalung berdesain kuno dengan batu permata yang memancarkan aura murni telah melingkar manis di lehernya.

[Itu adalah Kalung Ruang Ajaib berskala tak terbatas. Di dalam ruang dimensi mandiri tersebut, Anda bisa melakukan apa pun yang Anda inginkan; mulai dari menanam tanaman herbal langka, mempercepat waktu latihan, hingga menyimpan benda tanpa batas waktu.]

[Selain itu, kami juga menyediakan fitur Sistem Pertokoan Antar-Dimensi. Melalui panel toko ini, Anda dapat membeli berbagai macam kebutuhan medis, senjata, hingga teknologi lintas zaman dari dunia modern yang akan sangat berguna untuk menghadapi intrik di kekaisaran ini,] kata sistem menutup penjelasannya yang panjang lebar, meninggalkan Jia Li yang kini menatap kalung di lehernya dengan binar mata yang mulai berubah menjadi penuh ambisi.

Brak!

Pintu kayu jati berukir megah di kamar itu terbuka lebar secara kasar. Sosok seorang gadis muda berpakaian pelayan khas kerajaan kuno melangkah masuk dengan nampan di tangan. Dia adalah Mei-Mei, pelayan pribadi sekaligus orang paling setia yang mendampingi Putri Mahkota Lin Jia sejak kecil.

Mata Mei-Mei seketika membelalak sempurna, dan nampan di tangannya hampir saja terjatuh saat melihat sang majikan kini sudah duduk bersandar di atas ranjang dengan mata terbuka. Dengan langkah lebar dan tergesa-gesa, Mei-Mei berlari mendekati ranjang, mengabaikan seluruh tata krama istana demi memastikan kondisi sang putri.

"Nona... Anda akhirnya sudah sadar? Syukurlah kepada Dewa-Dewi!" seru Mei-Mei dengan suara bergetar menahan tangis. Tubuhnya gemetar hebat saat dia berlutut di sisi ranjang. "Anda tidak tahu betapa kacaunya istana ini sejak kemarin. Yang Mulia Kaisar dan Selir Dua sangat mengkhawatirkan keadaan Anda... Bagaimana... bagaimana bisa Anda sampai tercebur ke dalam sungai yang deras itu, Nona? Tabib bilang Anda hampir kehilangan napas," kata Mei-Mei dengan wajah campuran antara lega yang luar biasa namun juga dipenuhi rasa khawatir yang mendalam.

Lin Jia hanya terdiam seribu bahasa. Dia menatap lekat-lekat wajah cemas pelayannya yang berlumuran air mata. Jiwa modernnya masih asing dengan sekelilingnya, sampai akhirnya sebuah suara mekanis kembali menginterupsi pikirannya.

Ting!

[ Sistem mendeteksi adanya kekosongan memori pada inang. Untuk sinkronisasi jiwa, sistem akan memberikan potongan ingatan yang terjadi pada Putri Mahkota Lin Jia sesaat sebelum insiden tenggelam, ]

Deg!

Kepala Lin Jia mendadak didera rasa sakit yang berdenyut tajam. Perlahan, sebuah visi visual yang asing namun terasa nyata terbentang di benaknya seperti proyeksi film. Dalam ingatan itu, Lin Jia yang asli sedang berjalan-jalan sendirian di tepi sungai belakang istana untuk mencari ketenangan.

Namun secara tiba-tiba, sebuah serangan angin kencang bermuatan energi magis menghantam punggungnya tanpa ampun, membuatnya kehilangan keseimbangan dan langsung terlempar ke dalam arus sungai yang dingin dan ganas.

Di tengah keputusasaan saat tubuhnya perlahan tenggelam, sayup-sayup terdengar suara tawa melengking yang meremehkan dari tepi sungai.

"Lihatlah jalang kecil itu! Sungguh percuma saja dia menyandang gelar sebagai Putri anak dari Kaisar, jika pada kenyataannya dia sama sekali tidak memiliki bakat Elemen! Di dunia yang menghormati kekuatan ini, dia tidak lebih dari sekadar pecundang tak berguna yang mengotori nama baik kekaisaran," cemooh sebuah suara tajam penuh kedengkian.

Dalam kilasan memori terakhir sebelum kegelapan merenggut kesadarannya, wajah tiga orang gadis bangsawan berpakaian mewah yang berdiri di tepi pembatas batu muncul dengan sangat jelas. Mereka tersenyum puas melihat tubuh sang putri terseret arus.

Ting!

Suara sistem kembali berbunyi, memecah visi masa lalu tersebut dan mengembalikan kesadaran Lin Jia ke dunia nyata, sementara matanya kini berkilat dingin dipenuhi kilatan dendam milik pemilik tubuh asli.

[ Identitas pelaku berhasil terdeteksi berdasarkan rekaman memori, ] lapor sistem dengan nada datar yang kini terdengar berbahaya.

[ Pelaku utama: Putri Mahkota Lin Ju, kakak tiri Anda sendiri yang lahir dari Permaisuri Agung. Target pendukung: Rong Hui, putri bangsawan kelas 2, dan Zhang Hana, putri dari keluarga bangsawan kelas 1. ]

Misi Pertama

"Aku baik-baik saja, Mei Mei. Hanya saja kepalaku sedikit sakit," kata Lin Jia sambil memijat pelipisnya perlahan, mencoba meredakan denyut aneh yang kian menyengat kesadarannya.

Mei Mei menghela napas lega, pundaknya yang semula tegang tampak sedikit rileks. "Syukur lah jika Nona baik-baik saja," kata Mei Mei dengan suara yang tulus.

Namun, kelegaan itu hanya bertahan sedetik. Seketika gurat kecemasan yang mendalam kembali terlukis jelas di wajahnya. Jemarinya saling bertautan erat, menyiratkan keraguan yang besar untuk mengabarkan situasi genting saat ini.

"Nona... Mmm, i--itu, Nona..." suara Mei Mei terbata-bata, tatapannya beralih gelisah ke arah lantai yang dingin.

Lin Jia mengernyitkan dahi, merasakan ada sesuatu yang tidak beres dari gelagat pelayan setianya itu. "Apa ada masalah?" tanya Lin Jia tegas, mengintimidasi dalam ketenangan.

Mei Mei mengembuskan napas berat yang gemetar, lalu menunduk takut, tidak berani menatap langsung sepasang mata junjungannya.

"Kondisi Selir Dua semakin mengkhawatirkan, Nona... Saat mendengar dan melihat Anda terluka parah kemarin, kondisi tubuh Selir Dua semakin drop. Bahkan... bahkan beliau sampai muntah darah lagi pagi ini. Tabib istana yang memeriksa bilang tidak ada masalah atau penyakit aneh pada tubuhnya. Tapi, kenyataannya kondisi beliau sama sekali tidak membaik," kata Mei Mei lirih dengan nada pasrah, namun setiap katanya masih terdengar sangat jelas di telinga Lin Jia.

Sebelum Lin Jia sempat membalas ucapan Mei Mei, sebuah suara mekanis yang dingin tiba-tiba menggema, memantul di dalam dinding kepalanya.

Ting!

[Misi Pertama Aktif: Carilah penawar dari racun tersembunyi yang mengalir di tubuh Anda, Selir Dua, dan Pangeran Lin Tian untuk membangkitkan kembali Dantian Anda yang hancur.]

[Hadiah Misi: 50 Koin Emas Sistem dan Pemulihan Wajah (Kecantikan Sempurna).]

Lin Jia tertegun sejenak. Matanya menyipit menatap hamparan teks transparan yang melayang di udara, sebelum akhirnya kilatan tekad baru muncul di manik matanya. Ia langsung bangkit berdiri, mengabaikan rasa pusing yang sempat mendera.

"Antar aku menemui Ibu," titah Lin Jia tanpa bantahan, suaranya mengandung otoritas yang membuat ruangan terasa dingin.

Mei Mei tersentak sejenak, terkejut melihat perubahan aura Sang Nona yang mendadak begitu kuat dan dingin. Tanpa berani bertanya lebih jauh, ia segera membungkuk hormat. "Baik, Nona. Mari hamba hantar," katanya patuh.

Mereka berdua berjalan beriringan keluar dari kamar, melangkah mantap menuju Paviliun Bulan Sabit. Paviliun itu adalah tempat tinggal dari Selir Dua, ibu kandung dari Putri Mahkota Lin Jia yang kini kondisinya kian meranggas digerogoti waktu.

Sepanjang koridor batu menuju paviliun, beberapa prajurit istana yang berjaga tampak menundukkan kepala mereka saat Lin Jia melintas. Namun, penghormatan itu hanyalah topeng formalitas. Di dalam hati dan melalui lirikan ekor mata, mereka memandang rendah, meremehkan, bahkan mentertawakan Lin Jia. Bagi seluruh penghuni istana, putri mahkota ini hanyalah sebuah 'sampah' tak berguna yang lahir tanpa memiliki elemen magis sedikit pun.

Tawa sinis terselubung itu kian menjadi saat mereka melirik wajah Lin Jia yang tertutup kain. Separuh parasnya tampak sangat buruk dan rusak— akibat racun kronis yang selama bertahun-tahun secara diam-diam diberikan oleh Permaisuri yang kejam.

Racun itulah yang menjadi dalang utama di balik rusaknya jalur kultivasi Lin Jia dan kakak lak-lakinya, Pangeran Lin Tian, hingga membuat kakak beradik itu dicap cacat karena tidak bisa menguasai satu elemen pun di kekaisaran ini. Namun, mereka tidak tahu bahwa jiwa di dalam tubuh 'sampah' ini kini telah berubah total.

Langkah kaki mereka akhirnya berhenti di depan gerbang kayu kokoh Paviliun Bulan Sabit. Dua orang prajurit yang berjaga di depan pintu masuk segera menunduk setengah badan saat menyadari kehadiran sang putri. "Salam, Putri Lin Jia," ucap keduanya serempak dengan nada suara yang terdengar malas.

"Buka pintunya," perintah Lin Jia datar, matanya menatap lurus ke depan tanpa emosi.

Keduanya segera bergerak menarik pegangan besi dan membuka pintu besar itu lebar-lebar. Tanpa membuang waktu, Lin Jia melangkah masuk diikuti oleh Mei Mei di belakangnya. Pintu pun kembali tertutup rapat, mengunci udara dingin di dalam kamar Selir Kedua.

Begitu matanya menangkap pemandangan di atas ranjang, dada Lin Jia seketika berdenyut nyeri. Pemandangan itu sungguh menyayat hati. Sebagai seorang dokter genius dari dunia modern yang jiwanya bertransmigrasi ke tubuh ini, naluri medisnya langsung meronta-ronta melihat kondisi pasien yang begitu kritis.

Namun, jauh di lubuk hatinya yang terdalam, ada ikatan batin kuat yang bergejolak; dia benar-benar ingin melindungi wanita lemah di depannya ini sebagai seorang anak kandung.

Lin Jia mendekat dengan langkah tenang, lalu mendudukkan diri di tepi ranjang yang dingin. "Keringatnya terlalu banyak, ini bukan demam biasa," gumam Lin Jia cemas saat melihat butiran keringat dingin bercucuran deras dari dahi pucat Selir Kedua.

Dengan gerakan cepat dan terlatih, jari-jemari lentik Lin Jia langsung menempel pada pergelangan tangan sang ibu, meraba titik nadinya dengan saksama. "Detak nadinya sangat lemah dan tidak beraturan. Aku harus tahu jenis racun apa yang sedang menggerogoti tubuhnya sekarang juga," gumam Lin Jia lagi, alisnya bertaut rapat mencoba menganalisis gejala klinis di otaknya.

Ting!

Sebuah suara mekanis yang familier tiba-tiba menggema di dalam kesadarannya, bersamaan dengan munculnya layar holografis transparan yang hanya bisa dilihat olehnya.

(Nona, sistem mendeteksi kontaminasi toksin tingkat tinggi pada Selir Kedua. Silakan gunakan ruang ajaib medis Anda untuk melakukan pemindaian menyeluruh dan membantu Anda)

Mendengar petunjuk dari sistem, Lin Jia tahu dia tidak boleh membuang waktu dan membutuhkan privasi penuh tanpa ada gangguan dari luar. Ia menoleh ke arah pelayan setianya dengan pandangan mata yang sangat tajam dan serius.

"Mei Mei, aku minta tolong padamu. Tolong jaga pintu luar dengan ketat. Jangan biarkan siapapun—siapapun itu, tanpa terkecuali—masuk ke dalam kamar ini sebelum aku sendiri yang keluar membuka pintunya. Apakah kau mengerti?" titah Lin Jia dengan nada yang sangat tegas dan penuh intimidasi.

Mendengar perintah yang begitu mutasi dan tidak menerima bantahan, tubuh Mei Mei seketika menegak kaku. Ia bisa merasakan wibawa besar yang belum pernah ditunjukkan oleh Nona nya selama ini.

Mei Mei langsung menunduk dalam-dalam dengan penuh kepatuhan. "Baik, Nona. Hamba laksanakan. Nyawa hamba taruhannya untuk memastikan tidak ada satu lalat pun yang bisa menerobos masuk," kata Mei Mei tegas, sebelum akhirnya mengundurkan diri melangkah keluar untuk menjalankan titah sang Putri Mahkota.

Setelah pintu kayu besar itu kembali tertutup rapat dari luar dan bayangan tubuh Mei Mei tidak lagi terlihat, suasana kamar seketika berubah menjadi sunyi senyap.

Kini, di dalam ruangan yang temaram itu, tinggallah Lin Jia seorang diri bersama Selir Kedua yang masih memejamkan mata dengan tubuh lemah, bertaruh nyawa di ambang kematian.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!