Bagi Aeros, riuh rendah suasana restoran bergaya kolonial di pusat kota malam itu, tak lebih dari sekedar polusi suara yang harus ia toleransi.
Di umurnya yang menginjak 28 tahun, ia tumbuh menjadi pria yang tenang, dingin, dan memiliki batasan yang tegas dengan orang lain.
Di sebelahnya, Riche—kakak perempuannya yang berusia 30 tahun—sesekali tersenyum getir, saat ibunya mulai menyinggung soal cucu, topik sensitif bagi Riche yang sudah menikah dua tahun namun belum dikaruniai anak. Aeros hanya menyesap teh hitamnya yang tanpa gula, matanya datar, enggan ikut campur dalam basa-basi keluarga.
"Kael, gimana rasanya kerja di perusahaan ayah sendiri?" tanya Ayah Aeros kepada Kael, anak dari sahabat lamanya.
Kael yang duduk di samping Mamanya tersenyum sopan. "Ya begitulah, Om," jawab Kael singkat.
Ia bekerja sebagai akuntan di perusahaan Papanya—Perusahaan logistik yang sudah berkembang pesat selama berpuluh tahun.
Pertemuan dua keluarga yang bersahabat sejak lama ini sudah menjadi rutinitas tahunan, namun pertemuan kali ini terasa spesial: menyambut kepulangan Sael, kembaran Kael yang baru saja menyelesaikan studinya di luar negeri.
"Sael juga pasti membuat Killian bangga di sana," timpal ibu Aeros lembut, membuat suasana meja makan sempat hening sejenak. "Di umurnya yang baru 22 tahun, ia sudah pulang sebagai lulusan hukum terbaik dan langsung ditarik ke firma besar."
Mendengar nama Killian kakak dari si kembar disebut, jemari Aeros yang memegang cangkir teh sempat tertahan di udara. Memori delapan tahun lalu, saat ia dan Killian masih sama-sama pemuda berusia 20 tahun yang penuh ambisi, mendadak berputar.
Kecelakaan tragis yang merenggut nyawa Killian dan menyisakan trauma mendalam bagi Sael, adik Killian yang saat itu masih berusia 14 tahun.
𝘊𝘦𝘬𝘭𝘦𝘬.
Pintu ruangan itu bergeser, fokus Aeros langsung terkunci pada figur yang melangkah masuk. Sael, gadis 14 tahun yang dulu ia lihat menangis hancur di pemakaman Killian, kini telah berubah menjadi wanita dewasa berusia 22 tahun yang sangat cantik.
Ia mengenakan kemeja satin hitam dengan 𝘵𝘸𝘦𝘦𝘥 𝘣𝘭𝘢𝘻𝘦𝘳, lengkap dengan sepatu hak tinggi. Terlihat anggun dan dingin.
Namun bagi Aeros, yang diam-diam memendam perasaan pada Sael sejak remaja, ia langsung menyadari, binar di mata Sael redup. Ada guratan kelelahan di sudut matanya.
"Maaf telat, Papa , Mama, Tante, Om, Kak Riche," ucap Sael, suaranya terdengar sedikit serak. "Tadi ada dokumen kasus yang harus diselesaikan di kantor."
"Nggak apa-apa Sael. Sini duduk, Nak," ujar Mama Sael, menunjuk kursi kosong yang tepat berada di seberang Aeros. "Kamu pasti capek, baru dua hari sampai rumah, langsung masuk kerja," lanjutnya seraya menepuk punggung putrinya pelan.
Sael melangkah ke tempat yang ditunjuk Mamanya, lalu pandangannya bertemu dengan Aeros untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun berpisah. Sael sempat terpaku, terkejut melihat sosok Aeros yang kini jauh lebih dewasa, Aeros hanya memberikan anggukan kecil yang sopan–gaya khasnya yang selalu menjaga jarak dengan lawan jenis.
Namun, begitu Sael duduk, tangan Aeros bergerak secara refleks. Di meja bundar yang berputar itu, Aeros menggeser teko berisi teh hangat ke dekat piring Sael, lalu menukar sup pembuka milik Sael dengan mangkuk baru yang uapnya masih mengepul.
Semua itu ia lakukan tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya, seolah itu adalah hal yang sudah biasa ia lakukan.
Sael sempat tertegun melihat pergerakan tangan Aeros. Ia membalas dengan memberikan senyuman tipis dan anggukan sopan.
Setelah makan malam selesai, para orang tua tenggelam dalam obrolan bisnis dan nostalgia, sementara Riche sesekali tertawa kecil menanggapi gurauan ibunya.
Sael memanfaatkan kesempatan itu untuk bangkit dari kursinya, dengan alasan ingin mencari udara segar, ia pergi menuju balkon restoran.
Begitu pintu kaca balkon tertutup, suasana hening menyambutnya. Ia memejamkan matanya dan bersandar pada pagar pembatas balkon, membiarkan angin malam menyapu wajahnya.
"Kau tidak suka keramaian, atau kau hanya tidak suka berada di ruangan itu?"
Suara itu berat, tenang dan sangat familiar meski sudah tujuh tahun tidak ia dengar.
Sael membuka matanya. Sebuah senyum tipis, hampir tak kentara, terukir di sudut bibirnya saat ia berbalik dan mendapati Aeros sudah berdiri di belakangnya, hanya berjarak beberapa langkah. Pria itu kemudian bersandar pada pilar balkon dengan satu tangan di dalam saku celana, pandangannya lurus ke arah lampu-lampu kota yang berkelap-kelip di bawah.
"Keduanya," jawab Sael singkat. "Dan kau? Pemilik kafe yang sibuk tidak biasanya menghabiskan waktu dengan basa-basi keluarga seperti ini."
Aeros berbalik, menatap Sael dengan tatapan yang membuat gadis itu menahan napas sejenak. "Tiba-tiba aja aku ingin datang. Kenapa? Apa aku membuatmu tidak nyaman?" tanyanya.
Sael terdiam, bahunya sedikit menegang. "Enggak ... cuman pengin tanya aja."
"Jangan khawatir," lanjut Aeros, langkahnya mendekat. "Aku tahu batasanku, Sael, aku tidak akan bertanya apa yang terjadi di luar negeri ataupun tentang pria itu," ujar Aeros lagi.
Sael menoleh tajam, "Bagaimana kau bisa tahu?"
"Hm... Kael, saudara kembar mu itu terlalu banyak bicara," potong Aeros datar.
Sael tersenyum canggung. "Dia memang begitu dari dulu."
Aeros terdiam sejenak, angin malam menerbangkan sedikit rambut hitamnya. Ia lalu mengeluarkan ponselnya.
"Nomormu masih sama?" tanyanya sambil menyentuh ikon kontak.
"Aku sudah ganti nomor," jawab Sael.
"Masukkan nomormu," Aeros menyodorkan ponselnya.
Sael mengernyit, sempat ragu sebelum akhirnya menerima ponsel dari tangan Aeros dan mengetikkan deretan angka disana, setelah selesai ia mengembalikannya.
Setelah mendapatkan nomor Sael, sebuah senyum tipis tersungging di wajah Aeros.
"Makasih... Nanti kuhubungi, " ujar Aeros, wajahnya kembali datar, seraya pergi dari balkon dan meninggalkan Sael yang terpaku kebingungan di balkon.
Sore itu, langit mulai memperlihatkan tanda-tanda hujan. Sael baru saja menyelesaikan hari yang melelahkan di kantornya.
Saat ia melangkah keluar dari lobi gedung, suara bising kota menyambutnya dengan kasar. Ia berdiri di tepi trotoar, memijat pelipisnya yang berdenyut.
Harinya terasa sangat panjang dan desakan untuk segera sampai di rumah terasa seperti satu-satunya tujuan hidupnya saat ini. Ia bahkan tidak menyadari bahwa ia sedang berdiri terlalu dekat dengan tepi jalan, pikirannya masih berkelana pada tumpukan berkas di meja kerjanya.
Tiba-tiba, suara klakson panjang yang memekakkan telinga memecah udara. Dari arah samping, sebuah truk kontainer besar melaju kencang, mencoba menerobos lampu kuning yang hampir berganti merah.
BRAKK!!
Suara gesekan ban dengan aspal terdengar nyaring, diikuti oleh dentuman logam yang terhempas. Bagi orang lain, itu mungkin hanya kecelakaan kecil di persimpangan. Namun bagi Sael, dunia mendadak berputar di kepalanya. Suara itu adalah rekaman yang berulang di kepalanya selama delapan tahun.
Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan dirinya dan kakaknya Killian. Tragedi yang merenggut nyawa sang kakak, sekaligus menyisakan trauma mendalam dan cedera patah tulang di kaki kanannya.
Napas Sael tercekat. Ia mencengkram tas kerjanya. Pandangannya mengabur, bayangan mobil kakaknya yang hancur, suara kaca pecah, dan aroma bensin yang mencekik kembali menyergap. Ia mencoba menarik napas, namun paru-parunya seperti menolak bekerja.
𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨. 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪, batinnya, namun tubuhnya mulai gemetar. Sael mencoba mundur selangkah, kakinya terasa lemas.
Tepat saat ia hampir limbung, sebuah tangan kokoh dan hangat menggenggam lengannya dengan kuat.
"Sael. Lihat aku," suara itu rendah dan familiar.
Sael mendongak dengan napas tersengal, matanya berkaca-kaca menatap Aeros yang berdiri di sana dengan setelan kasualnya.
"Kak Aeros," bisik Sael parau.
"Jangan lihat jalan, lihat aku aja," perintah Aeros pelan. Ia menarik Sael menjauh dari tepi jalan, membawanya ke balik dinding beton sebuah bangunan, membelakangi hiruk-pikuk lalu lintas.
Aeros membiarkan Sael bersandar di dinding. Ia berdiri cukup dekat untuk memastikan Sael tidak jatuh. Kemudian ia mengeluarkan botol air mineral dari tasnya, membukanya dan memberikannya kepada Sael.
"Tarik napas, Sael. Perlahan," ucap Aeros, suaranya datar namun menenangkan. "Ikuti ritme napasku."
Aeros menarik napas dalam secara perlahan, lalu menghembuskannya. Ia terus melakukan itu sampai napas Sael yang tadinya pendek dan cepat, perlahan mulai stabil.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan, begitu Sael membuka mata, ia melihat Aeros masih berdiri di depannya, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Sudah lebih baik?" tanya Aeros singkat.
Sael mengangguk pelan, menyeka peluh dingin di dahinya. "Maaf, Kak, aku tidak bermaksud ... "
"Tidak perlu minta maaf, Sael," potong Aeros.
Ia mengambil alih tas Sael yang terasa berat. "Mobilmu ada di mana?"
"Di parkiran kantor," jawab Sael pelan.
"Tidak," Aeros menggeleng. "Aku akan mengantar mobilmu ke rumahmu. Kamu ikut aku."
Sael baru saja hendak membuka suara untuk menolak, namun Aeros lebih dulu memberikan tatapan tajam. Tanpa menunggu persetujuan, pria itu langsung menarik pelan pergelangan tangan Sael, membimbingnya menuju motor 𝘮𝘢𝘵𝘪𝘤 besar miliknya yang terparkir di pinggir jalan.
"Mana kunci mobilmu?" tanya Aeros. Tangannya bergerak telaten memasangkan helm ke kepala Sael, lalu mengklik pengaitnya di bawah dagu gadis itu dengan lembut.
Sael hanya diam terpaku. Jarak yang begitu dekat membuatnya bisa mencium samar aroma parfum maskulin milik Aeros. Tanpa protes, tangannya bergerak merogoh tas, mengambil kunci mobil, dan menyerahkannya begitu saja.
Aeros menerima kunci itu, lalu beralih menaiki motornya. Setelah menyalakan mesin, ia menendang turun pijakan kaki penumpang dengan tumitnya. "Naik," titahnya singkat.
"Makasih, Kak..." Sael naik dengan hati-hati, memposisikan dirinya di jok belakang.
Dalam perjalanan Aeros tidak banyak bicara, saat motor melewati jalanan kota yang mulai diguyur gerimis, ia sesekali melirik spion.
Ia bisa melihat melalui pantulan kaca itu, bagaimana Sael mencengkeram jaket kulitnya dengan jemari yang masih sedikit gemetar.
Ia melambatkan laju motornya, memilih rute yang tidak terlalu ramai, dan sesekali memposisikan tubuhnya agar angin tidak langsung menerpa tubuh Sael.
Dalam keheningan di balik deru mesin, Aeros bisa merasakan napas Sael yang perlahan mulai teratur.
Ia menghentikan motornya di depan kafenya 𝘛𝘩𝘦 𝘘𝘶𝘪𝘦𝘵 yang sudah tutup dan membuka pintu dengan kunci cadangannya.
"Masuklah," ia membiarkan Sael masuk lebih dulu, aroma kopi dan kayu manis langsung menyambut penciuman Sael.
"Duduklah di sana," Aeros menunjuk kursi kulit yang menghadap taman belakang.
Sael menurut. Ia duduk dengan kaku, memperhatikan Aeros yang bergerak di balik meja bar.
Tak lama, Aeros meletakkan secangkir 𝘤𝘩𝘢𝘮𝘰𝘮𝘪𝘭𝘦 hangat dengan madu di hadapan Sael. Kemudian ia menyandarkan pinggulnya di meja bar, menatap Sael. "Minumlah."
Sael menyesap tehnya, "Terimakasih, Kak, aku tidak tahu harus bagaimana kalau kamu tidak ada di sana tadi."
Aeros menatap jemari Sael yang kini sudah berhenti gemetar. "Kebetulan aja tadi aku lewat sana."
Sael mendongak, menangkap basah tatapan Aeros sebelum pria itu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Yah ... pokoknya terimakasih," ucap Sael lagi.
Keheningan menyelimuti keduanya.
"Tujuh tahun ternyata waktu yang cepat, ya? Ada banyak hal yang berubah di kota ini," ujar Sael berusaha memecah keheningan. Ia sesekali memainkan pinggiran cangkir dengan jemarinya untuk mengusir canggung.
"Begitu ya? Tapi menurut ku, tujuh tahun itu waktu yang lama," sahut Aeros. Matanya turun memperhatikan gerak tangan Sael. "Kamu nggak nyaman?"
"Bukan begitu, kita udah lama banget nggak ketemu. Aku agak bingung harus bersikap gimana," jawab Sael.
"Kita mulai pelan-pelan aja, gimana kakimu sekarang? Udah mendingan?" tanya Aeros melirik kaki Sael.
Sael ikut melihat kaki kanannya. "Lumayanlah, tiga tahun lalu baru lepas pen, buat jalan sekarang udah nggak ada masalah," jawab Sael.
Aeros mengangguk paham, tampak lega mendengarnya.
Sael mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. "Interior kafenya bagus banget. Kenapa namanya 𝘛𝘩𝘦 𝘘𝘶𝘪𝘦𝘵?"
"Sebenarnya nggak ada alasan khusus, hanya suka aja dengan suasana tenang di kafe ini, dan sepertinya kata 𝘛𝘩𝘦 𝘘𝘶𝘪𝘦𝘵 cukup bagus buat menggambarkan suasana di kafe ini," jawab Aeros.
Sael mengangguk-angguk kecil, lalu menyesap kembali tehnya yang tinggal setengah.
"Kakak dari dulu memang kayak gitu, ya," ujar Sael, ingatan masa kecilnya mendadak berputar. "Aku masih ingat banget, waktu kita berdua lagi asyik baca buku di bawah pohon mangga, tiba-tiba Kael datang bawa mainannya yang bising. Berakhir Kakak usir karena mengganggu."
"Kamu masih ingat?" Aeros tersenyum tipis—sebuah pemandangan langka. "Sebenarnya dari kita bertiga, kayaknya memang enggak ada yang berubah. Apalagi si Kael itu."
"Tapi, kamu sendiri ingat enggak?" Aeros balik bertanya, tatapannya melembut. "Waktu kamu mengikutiku seharian cuma karena aku punya buku cerita baru? Kamu sampai kena marah Mamamu karena lupa mengerjakan tugas sekolah."
Sael tertawa kecil, pipinya agak merona mengingat kelakuan masa lalunya. "Ingatlah! Hari itu aku dihukum Mama, disuruh belajar dua jam berturut-turut. Parahnya lagi, cokelat kesukaanku malah dikasih ke Kael. Aku marah banget waktu itu, sampai mogok bicara sama Kael seharian."
Aeros tidak menanggapi dengan kata-kata, namun binar di matanya menunjukkan ia menikmati obrolan ini.
Mereka menghabiskan waktu hampir satu jam, menertawakan hal-hal konyol yang dulu pernah mereka lalui. Perlahan namun pasti, dinding canggung di antara mereka runtuh.
"Sering-seringlah mampir ke sini. Nanti aku kasih diskon khusus," ucap Aeros sembari menuangkan kembali teh hangat dari teko ke cangkir Sael yang mulai mendingin.
Sael menatap cangkirnya yang kembali penuh, lalu tersenyum canggung. "Maaf, Kak, karena keasyikan cerita, aku jadi banyak minum."
"Enggak masalah." Aeros berdiri, merapikan pakaiannya yang sedikit kusut. "Sudah siap pulang?"
"Ya." Sael menyesap tehnya untuk terakhir kali sebelum bersiap pulang.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!