"Dasar sampah tidak berguna! Cepat bersihkan tumpahan kuah sup itu dari lantai! Jangan buat malu keluarga kami di depan para tamu!"
Suara lengkingan itu berasal dari Ibu mertuaku, Erika. Wajahnya yang penuh riasan tebal tampak menor dan menatapku dengan tatapan jijik yang sudah sangat akrab di mataku selama dua tahun pernikahan ini.
Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan emas kakek dari keluarga istrinya, keluarga besar Wijaya. Semua orang berkumpul di aula restoran mewah ini. Mereka mengenakan pakaian desainer ternama, berkilauan dengan perhiasan emas dan berlian. Sementara aku? Aku hanya mengenakan kemeja pudar seharga lima puluh ribu rupiah yang sudah kucuci ratusan kali.
"Maaf, Bu, saya tidak sengaja menyenggolnya tadi," jawabku pelan sambil berlutut di lantai, mengelap lantai yang kotor menggunakan tisu seadanya.
"Maaf? Kalau baju mahal menantuku yang lain sampai kena noda karena kecerobohanmu, kamu tidak akan bisa menggantinya bahkan jika kamu menjual ginjalmu sendiri, Adrian!" bentak Erika lagi, sengaja mengeraskan suaranya agar didengar oleh seluruh meja besar di aula tersebut.
Seketika, tawa meremehkan pecah dari para sepupu dan kerabat istrinya.
"Hahaha, lihatlah menantu kesayangan keluarga kita. Kerjaannya cuma bersih-bersih dan memasak."
"Kasihan sekali Kirana, wanita secantik dia harus punya suami berpenyakit dan miskin seperti Adrian."
"Kalau aku jadi dia, aku sudah lompat dari gedung karena malu!"
Aku mengepalkan tangan di bawah lantai. Rasanya perih, bukan karena lututku yang dingin menempel di lantai, tapi karena harga diriku yang diinjak-injak setiap hari. Aku terpaksa bertahan di keluarga ini hanya karena satu alasan: Kirana, istriku. Dia adalah satu-satunya orang yang memperlakukanku seperti manusia saat aku hampir mati kelaparan di jalanan dua tahun lalu.
Aku melirik ke arah Kirana yang duduk di meja utama. Dia hanya menunduk, menggigit bibir bawahnya dengan wajah memerah menahan malu. Dia tidak membelaku, tapi aku tahu dia juga tidak berdaya melawan tekanan keluarganya yang kejam.
Tiba-tiba, Kevin—menantu kaya dari anak pertama keluarga Wijaya—berdiri sambil memegang gelas anggurnya. Dia tersenyum sinis ke arahku.
"Eh, Adrian, kudengar ibumu di kampung sedang sakit keras dan butuh biaya operasi seratus juta minggu ini, ya?" tanya Kevin dengan nada berpura-pura simpati.
Aku tertegun, lalu mendongak. "I-iya, Kak Kevin. Dari mana Kakak tahu?"
Kevin tertawa meremehkan, lalu merogoh dompetnya dan mengeluarkan selembar uang seratus ribu rupiah. Dia melempar uang itu ke lantai, tepat di depan wajahku yang masih berlutut.
"Ini, ambil. Anggap saja sebagai modal awal untuk pengobatan ibumu. Tapi syaratnya mudah, merangkaklah seperti anjing dan gonggong tiga kali di depan semua tamu di sini. Kalau gonggonganmu bagus, aku akan pertimbangkan untuk meminjamkanmu sisa uangnya!"
Brakk!
Kirana tiba-tiba berdiri dari kursinya. "Kak Kevin! Itu sudah keterlaluan!" ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
"Keterlaluan apa, Kirana? Aku kan berniat baik ingin membantu suamimu yang pengemis ini," sahut Kevin santai tanpa rasa bersalah.
Mertuaku, Erika, langsung menarik tangan Kirana untuk duduk kembali. "Kirana, diam! Jangan membela si pembawa sial ini. Biarkan saja dia merangkak, toh uang seratus juta itu sangat penting untuk ibunya, kan? Dasar tidak tahu diuntung!"
Aku menatap lembaran uang seratus ribu di lantai itu. Pandanganku perlahan mengabur oleh amarah yang sudah mencapai puncaknya. Dadaku sesak, jantungku berdegup kencang hingga telingaku berdenging. Selama dua tahun ini aku mengalah, tapi hari ini mereka menghina ibuku yang sedang sekarat.
Kenapa... kenapa dunia ini begitu kejam pada orang miskin?! pekikku dalam hati dengan kepalan tangan yang bergetar hebat hingga kukuku menusuk telapak tangan sendiri.
Tiba-tiba, di tengah kebisingan tawa mengejek dari ratusan orang di aula tersebut, sebuah suara mekanis yang dingin dan bergema terdengar langsung di dalam kepalaku.
[Ding! Emosi kemarahan dan keputusasaan tuan rumah telah mencapai batas maksimal.]
[Syarat pengaktifan terpenuhi.]
[Memulai proses sinkronisasi...]
[10%... 50%... 100%!]
[Selamat! 'Sistem Penguasa Dewa' telah berhasil diaktifkan dan terikat sepenuhnya dengan jiwa Anda!]
Aku tertegun di lantai. Suara apa itu?
Sebelum aku sempat mencerna apa yang terjadi, suara digital itu kembali terdengar, membawa sebuah pemberitahuan yang membuat seluruh darah di tubuhku mendidih seketika.
[Misi Pertama Diaktifkan: Tamparan Balasan untuk Keluarga Wijaya.]
[Hadiah Misi Instan: Transferan tunai senilai 10 Miliar Rupiah telah dikirimkan ke rekening pribadi Anda sebagai modal awal!]
Bzzzt!
Tepat saat itu, handphone jadul di saku celanaku bergetar kuat. Dengan tangan gemetar, aku merogohnya dan melihat sebuah notifikasi SMS dari bank resmi masuk ke layarku yang retak:
"Rekening Anda dengan nomor akhir 8821 telah menerima transferan masuk sebesar Rp 10.000.000.000,00. Saldo Anda saat ini: Rp 10.000.012.500,00."
Sepuluh... sepuluh miliar?!
Aku perlahan berdiri tegak. Perlahan, kepalan tanganku melonggar, dan rasa minder yang mengikatku selama dua tahun ini runtuh seketika. Aku menatap Kevin, Erika, dan seluruh anggota keluarga Wijaya satu per satu dengan pandangan yang dingin dan tajam seperti mata seekor elang yang siap menerkam mangsanya.
Waktunya membalas dendam telah dimulai.
Seluruh aula mendadak hening selama beberapa detik saat melihatku berdiri tegak. Tatapan mataku yang biasanya lesu dan menunduk, kini berubah menjadi begitu tajam dan dingin. Beberapa kerabat keluarga Wijaya yang tadinya tertawa, entah kenapa tiba-tiba merasa merinding.
"Adrian? Kenapa kamu malah berdiri? Cepat merangkak dan ambil uang seratus ribu itu!" bentak Erika, ibu mertuaku, memecah keheningan dengan suara cemprengnya.
Kevin terkekeh, menyilangkan tangan di dada dengan angkuh. "Hmph, sepertinya menantu sampah kita ini mendadak punya harga diri. Ingat Adrian, tanpa uang seratus juta dariku, ibumu yang sekarat itu tidak akan bisa dioperasi minggu ini!"
Aku tidak membalas ucapan mereka. Alih-alih merangkak, aku justru melangkah maju. Sepatu usangku menginjak tepat di atas lembaran uang seratus ribu rupiah yang dilemparkan Kevin tadi, menggeseknya di lantai restoran hingga kotor.
"Adrian! Kamu berani menginjak uang dari Kak Kevin?!" pekik Kirana, istriku, campur aduk antara cemas dan terkejut melihat perubahan sikapku.
Aku menatap Kirana sekilas, melembutkan pandanganku sedikit. "Kirana, mulai hari ini, tidak akan ada lagi yang bisa merendahkan kita. Terutama bajingan ini," ujarku sambil menunjuk Kevin dengan daguku.
"Apa kamu bilang?! Bajingan?!" Wajah Kevin langsung memerah padam karena murka. Sebagai menantu kaya dari anak pertama yang selalu dipuji-puji, ini pertama kalinya dia ditunjuk-tunjuk oleh orang yang dianggapnya sekadar pengemis. "Dasar sampah! Pengawal! Seret bajingan miskin ini keluar dari restoran!"
Dua orang sekuriti berbadan besar yang berjaga di pintu aula segera melangkah maju ke arahku.
Namun, sebelum mereka sempat menyentuh bajuku, aku merogoh handphone jadulku dan menekan tombol panggilan cepat. Panggilan itu ditujukan langsung ke nomor pribadi Manajer Utama Restoran Royal Jade—restoran bintang lima tempat kami berada sekarang—yang nomornya tiba-tiba muncul di daftar kontak handphone-ku secara otomatis berkat Sistem.
"Halo? Apakah ini Manajer Thomas?" tanyaku dengan suara tenang namun tegas.
"Benar, ini saya. Maaf, dengan siapa saya berbicara?" suara di seberang telepon terdengar sangat sopan.
"Saya Adrian. Saya baru saja mentransfer uang tunai ke rekening perusahaan restoran Anda. Saya ingin membeli seluruh gedung restoran Royal Jade ini sekarang juga, tunai," ucapku datar.
Suara di seberang sana sempat terdiam selama dua detik, lalu terdengar suara ketukan panik pada komputer. Detik berikutnya, suara Manajer Thomas berubah menjadi sangat gemetar dan penuh ketakutan yang luar biasa. "T-Tuan Adrian?! Anda... Anda adalah pemilik baru kami! Dana sebesar 50 miliar rupiah baru saja masuk ke rekening induk kami! Mohon maaf atas keterlambatan saya, Tuan! Apa perintah Anda?!"
"Aku ada di Aula Utama Lantai 2. Datanglah sekarang dan bawa kwitansi pembeliannya," jawabku langsung menutup telepon.
Hening.
Satu aula kembali terdiam, lalu detik berikutnya tawa paling keras sepanjang malam itu pecah. Kevin sampai memegangi perutnya karena terlalu banyak tertawa.
"Hahaha! Astaga, aku tidak kuat lagi! Adrian, kamu sudah gila ya karena tidak punya uang?!" ejek Kevin sambil menyeka air mata sudut matanya. "Membeli restoran Royal Jade? Tunai? Kamu pikir restoran bintang lima milik grup konglomerat ini harganya sama dengan semangkok bakso di pinggir jalan?!"
Erika ikut mencemooh sambil mengipasi wajahnya. "Kirana, lihat suamimu! Selain miskin, dia ternyata juga mengidap gangguan jiwa! Benar-benar memalukan keluarga Wijaya!"
Kirana hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua tangan, air matanya mulai menetes. Dia merasa suaminya sudah kehilangan akal sehat karena terlalu sering ditekan. "Adrian... cukup. Ayo kita pulang saja," bisiknya lirih.
"Pulang? Tidak, Kirana. Pertunjukan utamanya bahkan belum dimulai," ujarku sambil tersenyum tipis.
Brak!
Pintu aula utama tiba-tiba didorong terbuka dengan kasar. Seseorang berlari masuk dengan napas terengah-engah hingga jas hitamnya tampak kusut. Dia adalah Thomas, Manajer Umum Restoran Royal Jade yang wajahnya sangat dikenal oleh seluruh pengusaha di kota ini.
Kevin yang melihat Thomas langsung memasang senyum ramah dan berniat menyapa. "Oh, Manajer Thomas! Kebetulan sekali Anda ke mari, tolong usir—"
Plak!
Ucapan Kevin terputus karena Manajer Thomas sama sekali tidak memedulikannya. Thomas justru berlari melewatinya, lalu dengan gerakan super cepat, dia langsung berlutut dengan satu kaki di hadapanku, menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Hormat saya kepada Pemilik Baru Restoran Royal Jade! Ini adalah dokumen kepemilikan saham dan kwitansi resmi pembelian gedung atas nama Tuan Adrian!" ucap Thomas dengan suara lantang yang menggema ke seluruh sudut aula.
Semua tawa di ruangan itu terhenti seketika. Gelas anggur di tangan Kevin terlepas dan jatuh berdenting di lantai, pecah berkeping-keping. Wajah Erika yang menor mendadak pucat pasi seperti mayat.
Mereka semua tercengang, menatap draf dokumen resmi di tangan Thomas yang berstempel emas. Di sana tertera jelas nama lengkapku: Adrian Pratama.
Aula utama restoran yang tadinya bising oleh tawa ejekan, kini mendadak sunyi senyap seperti kuburan. Atmosfer di dalam ruangan ber-AC itu mendadak turun drastis, menyisakan hawa dingin yang mencekam di antara ratusan pasang mata yang hadir.
Kevin berdiri mematung di tempatnya. Matanya melotot lebar, hampir keluar dari rongganya saat menatap dokumen berstempel emas resmi yang dipegang erat oleh Manajer Thomas. Napasnya memburu, wajahnya yang tadi angkuh dan kemerahan karena puas tertawa, kini mendadak pucat pasi seperti kertas. Tangannya yang memegang sapu tangan sutra mulai gemetar tanpa bisa dikendalikan sama sekali.
"M-Manajer Thomas... Anda pasti sedang bercanda dengan kami semua, kan?!" suara Kevin bergetar hebat saat dia mencoba memaksakan sebuah tawa. Namun, suara tawa itu terdengar sangat garing, hambar, dan menyedihkan di tengah keheningan aula. "Sampah ini... maksudku, Adrian ini cuma menantu miskin dan tidak berguna di keluarga kami! Dia tidak punya pekerjaan, tidak punya latar belakang, bahkan tidak punya sepeser pun uang di tabungannya! Bagaimana mungkin orang seperti dia bisa membeli seluruh gedung mewah ini secara tunai?!"
Manajer Thomas tidak langsung menjawab. Dia perlahan berdiri tegak, membalikkan badannya, lalu menatap Kevin dengan pandangan mata yang begitu dingin, tajam, dan penuh dengan aura mengintimidasi. Sebagai orang yang bertahun-tahun mengelola restoran kelas atas dan biasa menghadapi para pejabat serta miliarder, Thomas tahu persis bagaimana cara menekan mental seseorang.
"Lancang sekali Anda! Siapa yang Anda sebut sampah?!" bentak Manajer Thomas dengan suara lantang yang menggelegar, membuat beberapa wanita di meja depan terlonjak kaget. "Dana segar sebesar 50 miliar rupiah sudah masuk ke rekening pusat perusahaan kami tepat satu menit yang lalu. Transaksi itu divalidasi langsung oleh sistem perbankan pusat dan dikirimkan dari rekening pribadi atas nama Tuan Adrian Pratama. Apakah Anda, seorang Kevin Wijaya, sedang merasa lebih tahu dan berani meragukan validitas hukum kepemilikan saham kami?!"
Mendengar angka 50 miliar disebut secara lantang dan jelas oleh otoritas tertinggi restoran tersebut, Erika—ibu mertuaku—merasa lututnya mendadak lemas seperti jeli. Dia hampir saja tersungkur ke lantai jika tangannya tidak cepat-cepat mencengkeram sandaran kursi ukir di dekatnya. Jantungnya berdegup kencang, memukul dadanya dengan telak. Pikiran Erika mendadak kosong melompong. Pikiran warasnya menolak kenyataan ini. Bagaimana mungkin? Lima puluh miliar? Adrian yang setiap hari menyapu lantai rumah, mencuci baju kotor, dan menerima caci maki tanpa perlawanan, ternyata memiliki uang sebanyak yang bahkan tidak bisa dihasilkan oleh seluruh bisnis keluarga Wijaya dalam lima tahun?
Di sisi lain meja, Kirana, istriku, perlahan menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air matanya yang tadi sempat menetes karena rasa malu yang mendalam atas kelakuan keluarganya, kini tertahan di sudut mata. Matanya yang indah bergetar hebat, menatapku seolah-olah aku adalah orang asing yang baru pertama kali dia lihat dalam hidupnya. Ada rasa tidak percaya, syok, dan ribuan pertanyaan yang berkecamuk di dalam benaknya.
"Adrian... kamu... apa yang sebenarnya terjadi? Dari mana kamu mendapatkan uang sebanyak itu?" bisik Kirana dengan suara yang sangat lirih, hampir tenggelam di tengah keheningan ruangan.
Aku tidak mengalihkan pandanganku pada Kirana. Aku sengaja menahan diri untuk tidak menjawabnya sekarang, karena fokus utamaku adalah menyelesaikan urusan dengan pria arogan di depanku ini. Aku mulai melangkah maju, mendekati Kevin yang masih mematung dan gemetar di tempatnya berdiri. Sepatu usangku sengaja melangkah dengan ritme yang lambat dan konstan, menciptakan ketukan sepatu yang terdengar seperti lonceng kematian di telinga Kevin. Setiap langkahku membawa tekanan batin yang luar biasa baginya.
"Bagaimana, Kak Kevin?" tanyaku dengan nada suara yang sangat datar, namun sarat akan ancaman yang tersembunyi. Aku berdiri tepat satu meter di depannya, menatap lurus ke dalam matanya yang ketakutan. "Tadi kamu bilang dengan sangat percaya diri, kalau aku mau merangkak di lantai ini dan menggonggong seperti anjing sebanyak tiga kali di depan semua tamu undangan, kamu akan berbaik hati meminjamkanku sisa uang seratus juta untuk biaya operasi ibuku yang sedang sekarat di rumah sakit, bukan?"
Kevin menelan ludahnya dengan susah payah. Tenggorokannya mendadak terasa sekering gurun pasir. Setetes keringat dingin berukuran besar mengalir bebas dari pelipisnya, melewati pipinya, dan menetes ke lantai. Bibirnya bergetar, namun tidak ada satu kata pun yang sanggup keluar dari mulutnya. Nyalinya sudah menciut habis.
"Sekarang..." Aku merogoh saku celana kainku yang sudah pudar. Aku mengeluarkan sebuah dompet kulit imitasi yang sudah terkelupas di sana-sini, mengambil selembar uang sepuluh ribu rupiah yang sudah lecek dan kotor, lalu menjatuhkannya dengan santai tepat di atas ujung sepatu kulit mahal milik Kevin.
Puk. Uang lecek itu mendarat dengan sempurna.
"Ini sepuluh ribu rupiah. Bagaimana kalau kita balik permainannya? Kamu yang merangkak di lantai ini, menggonggong tiga kali dengan suara yang keras di depan seluruh kerabat keluarga Wijaya, lalu setelah itu aku akan mempertimbangkan untuk melunasi seluruh utang tersembunyi perusahaan logistik milikmu yang kudengar sedang berada di ambang kebangkrutan minggu ini?" ujargu sambil menyunggingkan senyum tipis yang sangat dingin.
"Kamu...!" Kevin mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Wajahnya memerah padam karena merasa harga dirinya diinjak-injak di depan umum, terlebih oleh orang yang selama dua tahun ini dia anggap lebih rendah dari hewan peliharaan. "Adrian, jangan mentang-mentang kamu mendapatkan uang haram entah dari mana, kamu bisa berlagak sombong dan menghinaku di sini! Kamu harus ingat, keluargaku adalah mitra VIP emas di restoran Royal Jade ini selama bertahun-tahun! Kami punya hak hukum di sini!"
Aku tidak membalas ucapannya dengan amarah. Aku hanya terkekeh pelan, sebuah tawa meremehkan yang membuat Kevin semakin tersiksa. Aku memalingkan wajahku sedikit ke arah Manajer Thomas yang berdiri tegak di sampingku.
"Manajer Thomas."
"Siap, Tuan Adrian! Apa perintah Anda? Sampaikan saja, seluruh staf restoran akan mematuhinya secara mutlak," jawab Thomas dengan posisi membungkuk hormat sembilan puluh derajat, menegaskan kepada semua orang siapa bos yang sebenarnya di tempat ini.
"Mulai detik ini juga, batalkan secara sepihak semua keanggotaan VIP, emas, ataupun perak atas nama Kevin, Erika, dan seluruh anggota keluarga besar Wijaya tanpa terkecuali. Kembalikan sisa uang deposit mereka jika ada, dan potong dengan biaya kerugian moral," ujargu tegas. Aku kemudian mengangkat tangan kanan, menunjuk Kevin, Erika, dan beberapa kerabat sepupu yang tadi tertawa paling keras dan menghinaku menggunakan ujung jariku. "Dan satu lagi... Usir mereka semua dari restoranku sekarang juga. Keberadaan mereka di sini hanya mengotori udara dan merusak pemandangan mataku."
"Baik, dilaksanakan Tuan!" Thomas langsung berbalik badan, wajah ramah bisnisnya lenyap seketika, digantikan oleh ekspresi garang. Dia menatap puluhan sekuriti berbadan kekar yang sudah bersiaga di sekeliling aula. "Kalian semua tunggu apa lagi?! Dengar perintah Pemilik Baru Restoran! Seret Kevin dan Nyonya Erika keluar dari gedung ini sekarang juga! Mulai hari ini, masukkan nama mereka berdua beserta seluruh daftar keluarga dekatnya ke dalam daftar hitam permanen Restoran Royal Jade! Mereka tidak akan pernah diizinkan menginjakkan kaki di properti milik Tuan Adrian lagi!"
"Apa?! Kamu tidak bisa melakukan ini padaku! Aku ini pelanggan kaya! Aku punya koneksi dengan pejabat kota!" teriak Erika histeris, suaranya melengking tinggi memecah aula saat dua orang sekuriti berbadan raksasa langsung mencengkeram kedua lengan atasnya dengan kasar. Riasan bedak mahalnya yang tebal mulai luntur oleh keringat ketakutan, membuatnya tampak berantakan.
"Lepaskan aku! Adrian, dasar menantu sialan, kurang ajar, durhaka! Kamu berani memperlakukan aku seperti ini?! Aku akan melaporkan tindakan kriminalmu ini kepada Kakek! Kakek tidak akan melepaskanmu!" teriak Kevin yang juga diseret paksa oleh tiga orang petugas keamanan. Jas desainer ternama seharga puluhan juta yang dia pamerkan sejak sore tadi kini tampak kusut masai, dan sepatu kulit mengkilapnya terseret-seret pasrah di atas lantai marmer.
Seluruh tamu undangan, kolega bisnis, dan kerabat jauh keluarga Wijaya yang masih berada di dalam aula hanya bisa diam membeku. Tubuh mereka kaku karena ketakutan yang luar biasa. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani mengangkat suara atau sekadar melangkah maju untuk membela Kevin maupun Erika. Mereka semua sadar, di depan kekuatan uang tunai puluhan miliar yang instan seperti itu, posisi sosial keluarga Wijaya tidak ada apa-apanya. Mereka takut jika mereka ikut campur, nama mereka juga akan terseret ke dalam daftar hitam dan menghancurkan reputasi bisnis mereka di kota ini.
Setelah aula akhirnya bersih dari suara teriakan destruktif mereka berdua, aku menghela napas panjang, merasakan beban berat yang selama dua tahun ini menghimpit dadaku perlahan-lahan menguap ke udara. Bersamaan dengan itu, suara digital mekanis yang dingin namun terdengar sangat nyaman kembali berdengung di dalam pusat kesadaranku.
[Ding! Misi Pertama: 'Tamparan Balasan untuk Keluarga Wijaya' telah berhasil diselesaikan dengan tingkat keberhasilan sempurna.]
[Evaluasi Kinerja Tuan Rumah: Sangat Memuaskan dan Tanpa Ragu!]
[Hadiah Tambahan Paket Pemula Diaktifkan: Keterampilan khusus 'Mata Penilai Dewa' telah ditambahkan dan disinkronisasikan sepenuhnya ke dalam sistem saraf penglihatan Tuan Rumah!]
[Fungsi Keterampilan: Tuan rumah kini dapat melihat status kekayaan asli, penyakit tersembunyi, serta rahasia terdalam orang lain hanya dengan satu kali tatapan langsung.]
Aku mengerjapkan mataku selama beberapa kali, merasakan sensasi hangat yang menjalar di sekitar area mata. Ketika aku kembali membuka mata dan melirik ke arah panggung utama restoran—di mana Bramasta Wijaya, sang kakek sekaligus kepala keluarga besar Wijaya sedang duduk mematung dengan wajah pucat kebiruan—sebuah panel layar semi-transparan berwarna biru muda mendadak muncul mengambang di atas kepalanya. Panel itu hanya bisa dilihat olehku.
[Nama Target: Bramasta Wijaya (Kepala Keluarga Wijaya)]
[Status Finansial: Kekayaan bersih Rp 45 Miliar (Sedang mengalami krisis likuiditas akut)]
[Status Kesehatan: Kanker Paru-paru Sel Kecil Stadium 3 (Mengalami penyebaran ke kelenjar getah bening. Sisa umur tanpa pengobatan khusus: 6 bulan)]
[Rahasia Tergelap: Sengaja menyembunyikan dokumen surat wasiat asli dari almarhum ayah Kirana. Surat wasiat tersebut sebenarnya menyatakan bahwa 60% saham seluruh perusahaan induk Wijaya Group jatuh secara mutlak ke tangan Kirana, bukan dibagi rata kepada anak-anaknya yang lain.]
Membaca baris demi baris informasi rahasia yang disajikan oleh Sistem secara akurat, sebuah senyuman dingin yang sarat akan rencana besar kembali terukir di wajahku. Informasi dari sistem ini bukan sekadar hadiah biasa, ini adalah senjata pemusnah massal yang bisa kuhancurkan untuk meruntuhkan seluruh dinasti keluarga Wijaya dalam sekejap mata.
Waktunya membongkar semua busuknya keluarga ini baru saja dimulai.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!